Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda

Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda
BAB - 241


__ADS_3

Dokter Tasya beserta tim medisnya langsung membawa Alika ke ruang IGD, dan langsung mengecek kondisi Alika apa yang menyebabkan Alika seperti itu.


Setelah keluar hasil dari seluruh pemeriksaan, barulah di ketahui apa penyebab Alika mengalami hal demikian.


Setelah beberapa waktu, Dokter pun keluar dan menemui Romi yang sedang menunggu dengan cemas di depan ruang IGD.


Melihat Dokter keluar dari ruangan Romi langsung menghampiri.


"Bagaimana dengan kondisi istri saya Dok?" Tanpa basa-basi Romi langsung menanyakan keadaan Alika.


Dokter terlihat tersenyum, membuat perasaan Romi menjadi lebih tenang.


Pasalnya jika begitu Alika pasti baik-baik saja, menurut pemikiran Romi.


Dan benar saja, Dokter malah memberi ucapan selamat kepada Romi, "Selamat tuan Romi, istri anda ternyata sedang mengandung memasuki Minggu ke tiga." Kemudian Dokter memberi tau.


Romi sungguh terkejut mendengarnya "Apa Dok! istri saya hamil lagi?" Romi bertanya meyakinkan ucap Dokter.


"Iya tuan." Jawab Dokter menegaskan.


"Alhamdulillah!!!" Romi sungguh bersyukur dengan apa yang telah tuhan berikan kepadanya, Romi berpikir bahwa ini sebuah berkah baginya.


Tak lama Tasya pun keluar dari dalam ruangan, setelah menemani Alika, Tasya ingin memanggil Romi agar menemui Alika.


"Selamat ya kak Romi, kakak mau punya Dede bayi lagi!" Ucap Tasya memberi semangat kepada Romi.


"Terimakasih Tasya."


"Bagaimana kondisi istri saya saat ini Dok?" Tapi Romi masih mengkhawatirkan kondisi Alika.


"Alhamdulilah,,, istri Anda baik-baik saja, hanya saja istri anda harus banyak istirahat, jauhkan dari hal apa pun yang membuat perasaannya tertekan, karena itu sangat berpengaruh kepada kondisi ibu dan sang janin." Saran dari Dokter.


"Iya Dok! terimakasih."


Kemudian Dokter mempersilahkan Romi untuk menemui istrinya.


Sedangkan Tasya, menghubungi seluruh keluarga untuk memberikan kabar yang membahagiakan tersebut.


Ketika Romi menemui Alika, Alika masih terkulai lemah, tapi Alika sudah sadar.


"Honey!" Seru Romi.


"Iya m'y honey!" Sahut Alika.


"Kamu sudah tau?" Romi ingin memastikan Apa Alika sudah tau tentang kondisinya.


"Tenang apa?" Alika belum mengetahuinya.


"Kamu sedang hamil lagi." Romi memberi tau Alika.


"Apa!" Seru Alika.


"Iya honey, Askara akan punya dede bayi." Romi sungguh antusias sekali.


Tapi Alika merasa tidak percaya Mendengarnya.


"M'y honey Dede Askara juga kan masih bayi!" Alika tidak yakin, karena usia askara pun baru menginjak 6 bulan.


"Ya tapi di perut mu sudah ada seorang Bayi lagi!" Romi meyakinkan Alika.


Alika terlihat bingung entah harus senang atau harus bersedih, ekspresi wajah Alika datar, sabab Alika memikirkan Askara yang masih bayi, dan anak punya Dede bayi lagi.


Perhatian dan kasih sayang Alika akan terbagi, sedangkan askara masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari alika secara full.


Romi tau apa yang di pikirkan dan yang di rasakan oleh Alika.


Romi menggenggam tangan Alika, "Honey kamu jangan khawatir, kita akan menyayangi keduanya, mereka tidak akan kekurangan perhatian dan kasih sayang dari kita, asal kamu sehat kita pasti akan melaluinya bersama." Romi menenangkan pikiran Alika.

__ADS_1


Alika mencoba menerima dan tersenyum kaku kepada Romi.


Tidak lama kemudian keluarga Alika masuk, ke dalam ruangan, ingin melihat kondisi Alika yang sudah lebih baik.


"Alika, Romi selamat ya nak!" Bunda Tiya sungguh bahagia akan mendapat cucu lagi.


" Iya Bunda terimakasih." Sahut Romi.


Alika hanya tersenyum menimpali Bundanya.


Karena mereka semua membawa Askar bersama mereka.


Romi segera mengambil putranya lalu membawanya mendekati Ibunya yaitu Alika.


Alika langsung merentang tangannya ingin memeluk dan mencium putranya.


Begitu juga Askara, putra kecil itu langsung meronta ingin segera beralih merasakan dekapan sang Ibu.


"Ibu janji selamanya akan tetap memberikan yang terbaik untuk mu nak, meskipun adikmu akan segera hadir bersama kita." Ucap Alika sambil mencium putranya.


Semua ikut terharu mendengarnya terutama Romi.


Ikut memeluk putra beserta istrinya.


Karena kondisi Alika sudah membaik, jadi Alika di perbolehkan untuk pulang, tidak di haruskan untuk menjalankan rawat inap.


.


.


.


Mama Ranti, papa Bagas, dan adik-adik Romi pun ikut hadir berasa mereka di rumah sakit, ketika mendapat kabar tentang Alika dari Tasya.


Mereka semua langsung meluncur menuju kota Alika, kebetulan Kania dan tuan Carlos pun sedang berlibur di tanah air.


Andi dan Nina pun baru saja kembali dari kota Nina, setelah Nina membereskan semua masalahnya, atau masalah keluarganya di sana, kemudian Nina memutuskan ikut kembali bersama Andi.


Di pagi hari dua keluarga berkumpul di rumah Alika dan Romi, mereka sungguh sangat bersukacita akan mendapat anggota keluarga baru, yang sebentar akan hadir di antar mereka.


Merek memberi dukungan kepada Alika untuk tidak memikirkan hal-hal buruk, mereka meyakinkan semua akan baik-baik saja, dan mereka semua akan selalu bersamanya.


Di saat suasana sedang berbahagia seperti itu, tiba-tiba Fitri datang untuk menemui Alika dan Romi


tanpa rasa malu.


"Assalamualaikum..." Fitri memberi salam tapi ia sudah nyelonong masuk rumah.


"Walaikumsalam...!" Sahut semua orang, termasuk Romi dan Alika semu menoleh ke arah Fitri yang sudah mendekat ke arah mereka.


"Fitri!" Seru Alika.


Sedangkan Romi tidak Sudi lagi melihatnya.


"Mau ngapain lagi kamu datang ke sini?" Tanya Romi kepada Fitri, tanpa melihat ke arah Fitri.


"Aku ingin melihat keadaan Alika!" Jawab Fitri dengan santai.


"Alika baik-baik saja, kamu jangan khawatir!" Seru Nenek Diah yang merasa geram setelah mendengar cerita dari Romi dan Alika, tentang apa yang di lakukan oleh Fitri, untuk menjebak Romi.


"Ya Alika baik, bahkan dia telah memberikan satu kebahagiaan lagi untuk kami, semua karena Alika sekarang sedang mengandung lagi." Ucap mama Ranti menegaskan kebahagiaan yang mereka semua rasakan.


"Apa..." Pekik Fitri sungguh terkejut mendengarnya.


"Harusnya aku yang mengandung anak tuan Romi saat ini Alika, bukannya kamu lagi dan lagi, dasar perempuan Maruk!" Fitri membatin kesal mendengar ucapan mama Ranti.


Tapi Fitri berusaha bersikap biasa saja dan bahkan ia bersandiwara ikut merasa bahagia mendengar kabar itu.

__ADS_1


Fitri mendekati Alika hendak memeluk Alika, bermaksud ingin memberi ucapan selamat kepada Alika.


Tapi Romi mencegahnya dengan Romi langsung berdiri di depan Alika membelakangi Fitri untuk menjadi batas agar Fitri tidak mendekati Alika.


Kemudian Fitri mengurungkan niatnya.


"Fitri" Seru Romi.


"Iya tuan!" Sahut Fitri.


"Kebetulan kamu di sini, dan seluruh keluarga juga sedang berkumpul, kemaren kamu meminta saya untuk menjatuhkan talak kepada mu, Sebenarnya kemarin pun saya sudah ingin melakukannya, tapi di sini, saat ini, di saksikan seluruh keluarga, dengan senang hati, dengan sesadar-sadarnya saya jatuh talak tiga kepadamu, dengan begitu saya sudah tidak punya tanggung jawab apapun terhadap mu." Dengan lantang Romi menalak Fitri.


Bagai di sambar petir perasaan Fitri mendengar dan menerimanya kenyataan tentang hal ini.


Tak di sengaja dan tidak di sadari air mata Fitri mengalir begitu saja.


"Maafkan Atas semua kesalahan saya tuan, Alika dan semuanya, saya sungguh menyadari bahwa saya hanya menjadi beban untuk kalian semua." Fitri berbicara sambil menangis.


Sesungguhnya tidak ada yang merasa simpati kepadanya mengingat semua yang telah Fitri lakukan.


Tapi bunda Tiya mencoba menenangkan dengan mengelus punggungnya.


"Semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari tuan Romi, yang mencintai mu sepenuh hatinya, cobalah buka hatimu untuk orang lain, bunda yakin kamu bisa bahagia dengan pasangan baru nanti." Bunda Tiya menyemangati Fitri.


Fitri hanya mengangguk.


Dia sana tidak satupun orang yang menganggap kehadiran Fitri.


Sebab mengingat kejiwaan Fitri, dan tingkah-tingkah Fitri yang sering membahayakan orang lain, membuat semua orang seakan menjaga jarak dengannya.


Fitri merasa sedih, 'Ibu aku kalah lagi, kapan aku bisa merasa menang Bu' Gumam Fitri dalam hati.


Sesungguhnya Alika merasa tidak tega melihat Fitri, ingin sekali Alika mendekat dan berbicara dengan Fitri, tapi Romi sungguh melarangnya, Alika hanya bisa patuh dengan apa yang Romi katakan.


"Jangan pernah bersimpati lagi terhadap Fitri, karena dia tidak tau berterima kasih, di kasih hati malah minta jangan." Itu yang Romi katakan kepada Alika agar tidak memperdulikan Fitri.


Dengan langkah gontai dan tanpa pamit terlebih dahulu, Fitri pergi meninggalkan semua keluarga, karena dia bukan siapa-siapa di sana.


Saat Fitri melewati pintu pagar rumah Romi, ada seorang lelaki menyapanya.


"Hay, kamu Fitri bukan?" Tanya orang itu.


"Iya saya Fitri, anda siapa ya, dan ada perlu apa?" Jawab Fitri dan balik bertanya.


"Perkenalkan saya Robert!" Ya, orang itu Robert.


Robert selalu mengintai pergerakan keluarga Romi, ia selalu mencari celah atau cara untuk menghancurkan Romi karena Robert ingin sekali balas dendam kepada Romi.


"Ada perlu apa ada dengan saya?" Fitri kembali bertanya karena merasa curiga.


Robert tersenyum mendengar pertanyaan Fitri.


"Saya sepupu Romi, mama saya adik dari papa Bagas, papanya Romi." Robert memperkenalkan siapa dia sebenarnya.


"Lalu kenapa tidak langsung masuk saja kedalam, jika anda ingin berkunjung?" Tanya Fitri tidak mengerti.


"Saya seperti mu Fitri, tidak di terima di keluarga mereka, saya terbuang karena keangkuhan dan kesombongan mereka, terutama tuan muda Romi Rahardian, lelaki yang sangat kamu cintai dan kagumi, tapi apa yang kamu terima, dia hanya menganggap mu tidak lebih dari sebuah sampah, padahal apa yang telah Ibu mu lakukan untuknya, setidaknya dia bisa menghargai mu untuk menghormati almarhum Ibu mu, yang telah mengabdikan hidupnya untuk merawat tuan muda yang sombong itu." Robert mempengaruhi Fitri.


Fitri hanya mematung mencerna semua ucapan Robert dan memang benar Begitu kenyataannya menurut pikiran Fitri.


"Lalu apa maksudnya anda mengatakan itu semua kepada saya?" Fitri kembali bertanya.


"Ha,,, ha,,, ha,, pertanyaan bagus, aku ingin menawarkan kerjasama kepada mu." Ucap Robert.


"Kerjasama...!" Seru Fitri belum mengerti.


"Ya, kerjasama untuk melawan Romi dan menjatuhkannya." Robert sangat berambisi untuk hal itu.

__ADS_1


"Kesakitan mu sama seperti yang aku alami jadi aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan, maka dari itu ayo lah kita bersama-sama menghancurkan Romi." Robert semakin menggebu-gebu.


__ADS_2