
Karena tubuh Bu sari lemah tak bertenaga, ia sampai kesulitan untuk berjalan, meskipun di bantu oleh Fitri.
Setelah berhasil keluar dari dalam villa, Kemudian sudah terlihat supir taksi online yang sedari tadi sudah menunggu, tapi tiba-tiba tubuh Bu sari limbung dan terjatuh karena Fitri sendiri tidak bisa menahannya Bu sari tidak sadarkan diri.
Melihat ibunya seperti itu, Fitri berteriak histeris " Ibu... bangun Bu, ibu kenapa Bu?" Pekik Fitri.
Supir taksi online segera menghampiri, dan memeriksa denyut nadi Bu sari, dan memang masih terdapat denyut nadinya.
sopir taksi online itu segera memangku Bu sari dan memasukannya ke dalam mobil.
Fitri masih histeris, melihat kejadian itu.
"Jangan culik Ibu ku, mau kau bawa dia kemana...!" Teriak Fitri.
Sopir taksi online itu terlihat panik bukan main, karena di tuduh akan menculik orang.
"Waduh kok begini ceritanya, bisa babak belur saya di keroyok warga, jika wanita ini berteriak seperti ini." Gumam sang supir yang bernama Faisal.
Dalam benaknya ia sedang terkena jebakan perampokan ia pikir Bu sari dan Fitri akan merampoknya.
Tapi ia berusaha untuk menenangkan Fitri.
"Tenang nona... Saya tidak akan menculik ibu anda, saya akan menolongnya, kita, saya dan anda akan membawanya ke klinik terdekat sesuai alamat pesanan ibu Anda."
Tapi Fitri tetap saja berteriak histeris dan malah menyerang Faisal dengan memukulinya.
Saking bingungnya Faisal sampai berteriak, "Tolong,,, tolong, saya kena rampok...!" Teriak Faisal berharap ada orang yang menolongnya.
Sedangkan Fitri terus saja histeris, sambil memukuli Faisal.
Faisal sendiri tidak melawan ia hanya melakukan pergerakan untuk melindungi dirinya. sebab ia tidak tega melawan seorang wanita, meskipun wanita itu sedang menyerangnya.
mendengar keributan, warga sekitar langsung berhamburan menghampiri Fitri dan Faisal.
Faisal langsung berlari ke arah warga yang baru saja tiba menghampirinya
"Tolong,,, jangan dengarkan wanita ini, dia yang menyerang saya duluan, saya supir taksi online, yang di pesan atas nama Bu sari, tapi tiba-tiba ibu itu pingsan, dan saya ingin segera menolongnya membawa ibu itu segera masuk ke dalam mobil, tapi wanita ini menuduh saya akan menculik ibunya." Faisal menjelaskan kepada warga tentang kejadian yang sebenarnya.
Karena Faisal takut jadi sasaran bulan-bulanan warga.
Tapi semua warga percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Faisal, sebab mereka tau kejiwaan Fitri memang terganggu.
"Kamu tenang dulu, wanita ini memang sakit, jadi melihat mu membawa ibunya ia pikir kamu akan menculiknya." Salah satu warga menjelaskan kejiwaan Fitri.
"Oo pantes saja jika begitu!" Seru Faisal merasa lega ia tidak di salahkan atas segala keributan yang terjadi.
"Pak, Bu lalu bagaimana ini, sedangkan ibunya sudah berada di mobil saya dan belum sadarkan diri." Ucap Faisal meminta pendapat kepada warga, karena ia pun mengkhawatirkan kondisi Bu sari.
Salah satu warga berusaha menenangkan Fitri terlebih dahulu, dengan mencoba berbicara seperti Bu sari berbicara kepada Fitri.
"Fitri nak, tenang ya! Ibu mu sedang sakit, kita harus segera membawanya untuk di obati, kita ikut ibumu ya jangan takut ada ibumu di dalam mobil dia sedang tidur, kamu jangan berisik kasih ibu mu nanti terganggu." Ibu Susi menenangkan Fitri dengan mengelus dan memeluknya dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut.
Seperti yang selalu Bu sari lakukan kepadanya, membuat Fitri melunak dan menuruti semua ucapan Bu susi.
__ADS_1
Faisal memperhatikan cara Bu susi membujuk Fitri, dan Faisal pun merasa lega karena akhirnya Fitri bisa di bujuk oleh salah satu warga.
Bu Susi mengantar Bu sari ke klinik, untuk memeriksakan kondisi Bu sari.
Fitri duduk di belakang bersama ibunya yang Fitri tidur kan kepala nya di pangkuannya, meskipun sudah tidak menangis tapi terlihat guratan kesedihan di wajah Fitri, ia seakan takut sekali kehilangan ibunya.
Sedangkan Bu Susi duduk di depan di samping kemudian yaitu di sebelah Faisal.
Sesekali Faisal melihat Fitri di balik kacang spion, mengapa hati Faisal begitu kasihan melihat Fitri, seakan tidak tega melihat wajah sendunya.
Kemudian Faisal bertanya kepada Bu Susi, " Bu memang tidak ada keluarga mereka yang bisa di hubungi.?
"Saya kurang tau, setau saya mereka tinggal di sana hanya berdua, Bu sari ini ART di sana dan karena pengabdiannya, maka tuannya memberikan villa itu kepada Bu sari untuk tempat tinggal Bu sari, saya tidak tau tuannya sekarang tinggal di mana." Jelas Bu Susi.
"Lalu anak ibu ini Kenapa Bu!" Faisal bertanya tentang Fitri.
"Setahun saya gadis ini awalnya normal, tapi karena di tinggalkan Ayahnya meninggal dunia, jadi di depresi, sebab dari bayi dia di asuh oleh ayahnya, ibunya bu sari ini sibuk bekerja mengabdi kepada tuannya, maka dari itu tuannya memberikan villa miliknya kepada Bu Sari, setelah Bu sari pensiun." Bu susi kembali menjelaskan
"Oo begitu ya Bu, kasihan sekali gadis ini, masih muda cantik lagi tapi mengalami depresi." Faisal menyayangkan kondisi Fitri.
" Ya namanya juga nasib, siapa yang tau, siapa yang ingin terkenal nasib malang." Bu Susi menimpali ucapan Faisal.
Sedangkan Fitri hanya diam walaupun ia mendengarkan diri sedang di ghibah kan.
Tidak lama kemudian mereka sampai ke klinik tujuan mereka.
Bu sari Langsung di turunkan dari mobil, dan segera di bawa oleh perawat ke ruang perawatan, Bu sari langsung mendapatkan penanganan, meskipun di sana hanya klinik tapi peralatan kesehatannya cukup lengkap.
Dokter yang bertugas memanggil keluarga Bu sari untuk menjelaskan kondisi Bu sari yang sedang kritis, mereka tim medis sudah melakukan yang terbaik, tapi tubuh Bu sari belum bisa merespon reaksi obat atau tindakan yang dokter berikan kepadanya.
Dokter pun menyerahkan keputusan kepada pihak keluarga, jika ingin membawa Bu sari ke rumah sakit yang lebih besar untuk perkembang kesehatan Bu sari, dokter mempersilahkannya.
Sedangkan Faisal dan bu Susi bukanlah keluarganya, mereka hanya mengantarkan saja, dengan begitu mereka tidak bisa mengambil keputusan selain membiarkan Bu sari untuk di rawat di sana.
...
Karena waktu sudah malam Bu Susi harus segera pulang karena ia pun punya keluarga yang harus ia rawat.
"Nak Faisal, maaf yah saya harus segera pulang." Dengan berat hati Bu Susi pamit pulang.
"Iya Bu silahkan, tapi maaf ya Bu saya tidak bisa mengantarkan ibu pulang." Jawab Faisal.
"Ya tidak apa-apa, Tolong kamu jaga Bu sari dan putranya ya, jika gadis itu histeris, kamu cukup lakukan seperti yang saya lakukan tadi kepada nya, ibunya pun selalu seperti itu jika berbicara dengannya, dan memang harus seperti itu cara berkomunikasi dengannya." Bu Susi memberi tau Faisal takut kemungkinan buruk terjadi kepada Fitri.
"Iya Bu..." Jawab Faisal mengerti.
"Kamu tidak apa-apa kan saya tinggalkan?" Bu Susi memastikan.
"Ya tidak apa-apa Bu, kalau bukan saya siap lagi yang akan menjaga mereka di sini." Jawab Faisal lagi.
Kemudian Bu Susi menghampiri Fitri yang duduk termenung seakan sedang meratapi hidupnya.
"Nak Fitri, ibu pulang dulu ya, nanti ibu kesini lagi." Bu Susi pamit kepada Fitri.
__ADS_1
dengan ekspresi wajah Sendu Fitri menganggukkan kepalanya, tanda bahwa Fitri mengiyakan ucapan Bu susi.
Dengan berat hati Bu susi berlalu meninggalkan mereka di klinik.
Faisal menatap Fitri, lalu Faisal beranjak dari sana berniat akan pergi.
Tapi Fitri menghentikan langkahnya, "Mau kemana?" Tanya Fitri seakan tidak ingin di tinggalkan.
Faisal begitu senang mendapat respon dari Fitri, ternyata Fitri mengharapkan kehadirannya, ternyata Fitri juga menyadari keberadaannya, meskipun sedari tadi Fitri hanya diam seribu bahasa.
Seperti yang di ucapkan oleh Bu Susi bagaimana cara berkomunikasi dengan Fitri, Faisal pun mengikuti cara itu.
Dengan lemah lembut Faisal berucap, "Dek Fitri tunggu sebentar ya di sini, saya akan membeli makanan dan minuman dulu, saya lapar, dek Fitri lapar tidak?"
Fitri menggelengkan kepalanya memberi jawaban bahwa ia tidak merasa lapar.
"Tapi saya lapor dan haus, saya pergi dulu ya sebentar nanti saya pasti balik lagi." Ucap Faisal.
Kemudian Fitri mengangguk, masih dengan ekspresi wajah sendu bahkan lebih sendu dari sebelumnya.
Sebenarnya Faisal tidak ingin meninggalkan Fitri sendiri tapi ia tetap harus pergi.
Setelah di tinggalkan Faisal seorang diri Fitri terlihat menitipkan air mata.
Sesungguhnya hatinya sangatlah rapuh, ia sudah tidak tau lagi harus berbuat apa, ia menatap tubuh ibunya yang tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur.
"Bu apa ibu juga aku meninggalkan ku, lalu dengan siapa nanti aku hidup Bu!" Gumam Fitri lirih.
...
Setelah selesai dengan pekerjaannya, sesuai niatnya Romi mencoba menghubungi Bu sari, berkali-kali Romi menghubungi Bu sari tapi sama sekali tidak mendapat jawaban dari Bu sari, bagaimana tidak, Bu sari sedang tidak sadarkan diri, di tambah handphonenya pun tertinggal di villanya.
Romi merasa resah gelisah, tidak mendapat jawaban dari Bu sari, Romi merasa ada sesuatu yang telah terjadi kepada Bu sari, sebab tidak seperti biasanya Bu sari seperti itu.
Sekesal-kesalnya Bu sari kepada Romi tidak pernah Bu sari mengabaikan panggilan telepon darinya.
Lalu Romi memerintahkan yunas agar pergi ke villa Bu sari untuk mengecek keadaan Bu sari, mencari tahu kebenaran mengapa Bu sari mengabaikan panggilan telepon darinya.
Yunas segera bergegas menuju villa Bu sari sesuai perintah dari Romi.
Sedangkan Romi sendiri segera pulang ke rumahnya, setelah seharian bekerja kini waktunya Romi membagi waktunya untuk istri dan anaknya.
...
Di villa Bu sari keadaan terlihat gelap gulita, melihat itu Yunas merasa curiga.
"Apa villa ini kosong, kemana perginya Bu sari?" Gumam yunas merasa heran.
Tapi yunas tetap mendekat mencoba memencet bel berkali-kali namun memang tidak mendapat respon sama sekali.
"Sepertinya villa ini benar-benar kosong." Akhirnya yunas meyakini kecurigaannya.
Yunas keluar dari pintu gerbang, dan mencoba mencari warga untuk ia bertanya, menanyakan keberadaan Bu sari, siapa tau ada yang tau kemana perginya Bu sari, pikir yunas.
__ADS_1