
Kania masih merajuk, dan masih Mengunci pintu kamarnya, sedangkan Tuan Carlos masih saja tetap membujuknya.
" Ayo dong Sayang! buka pintunya aku akan menceritakan semuanya, Mengapa aku terlambat pulang, dan tidak menghubungimu..." Tuan Carlos masih saja membujuk istrinya.
Karena tidak mendapat respon dari Kania akhirnya Tuan Carlos mencari cara lain yaitu dengan cara bersandiwara seakan kesakitan.
Hening sesaat..... kemudian tuan Carlos berteriak kesakitan.
"Aw... tolong!!! Ini rasanya sakit sekali ...." Tuan Carlos seakan merintih kesakitan.
Dan Kania yang sedang di dalam kamar merasa curiga mendengar teriakan dan rintihan suaminya.
Awalnya Kania tidak memperdulikannya karena ia tahu suaminya hanya bersandiwara.
Dan Kania yang sedang di dalam kamar merasa curiga mendengar teriakan dan rintihan suaminya.
Akhirnya Kania membuka pintu secara perlahan-lahan mengintip dari sela-sela pintu ingin memastikan apa yang terjadi sebenarnya kepada suaminya.
Dan Kania melihat Tuan Carlos meringkuk di lantai, sedang merintih kesakitan.
Dalam batinnya berkata " apa dia sungguhan" sebab Kania merasa tidak yakin dengan apa yang sedang dirasakan oleh Tuan Carlos.
Kania pikir Tuhan Carlos hanya sedang bersandiwara untuk membuatnya membukakan pintu kamar yang ia kunci.
Tapi setelah memperhatikan dengan seksama akhirnya Kania yakin bahwa Tuan Carlos tidak sedang bersandiwara.
Dengan rasa ragu Kania mencoba mendekat ke arah Tuan Carlos, untuk memastikan keadaan Tuan Carlos.
Setelah mendekat Kania menyentuh tubuh Tuan Carlos, kemudian iya bertanya " sayang kamu kenapa, Apa yang sakit?" dengan nada yang terdengar sangat cemas.
Lalu Tuan Carlos memperlihatkan luka di kakinya, itulah alasannya Mengapa Tuan Carlos telat pulang dan tidak memberi kabar kepada Kania.
Ya, di kaki Tuan Carlos, terdapat luka yang cukup dalam.
Melihat luka di kaki Tuan Carlos Kania sangat terkejut " Kenapa ini sayang, kok kakimu bisa terluka seperti ini?" tanya Kania dengan nada suara panik karena melihat luka itu.
Di hati tuan Carlos, Iya Malah tersenyum senang, sebab kania sangat mengkhawatirkannya, itu suatu bentuk perhatian menurut tuan Carlos.
Kania membantu membangunkan Tuhan Carlos, lalu memapahnya untuk duduk di sofa di ruangan itu.
Tuan Carlos masih memasang ekspresi wajah terlihat sangat kesakitan.
" Sayang! jawab pertanyaanku Kenapa kakimu bisa terluka seperti ini" tanya Kania ingin tahu yang sebenarnya.
Kemudian Tuan Carlos mulai menceritakan kejadian Mengapa iya bisa mendapat luka di kakinya.
Saat itu Tuan Carlos sedang meninjau proyek di luar kota, ketika ia sedang di atap gedung lantai lima yang akan dilakukannya proses pengecoran tiba-tiba iya terpeleset, lalu terpelanting.
Dan hampir menyebabkan iya jatuh ke dasar gedung. Tapi untungnya iya masih bisa berpegangan. Dan akhirnya nyawanya bisa terselamatkan, namun kakinya mendapatkan luka sebab terkena goresan besi-besi coran.
Luka itu lumayan dalam, karena menyebabkan robekan yang cukup dalam di bagian betis tuan Carlos. sehingga iya harus mendapatkan penanganan khusus. Tuan Carlos sampai harus di larikan ke rumah sakit, lukanya mendapat beberapa jahitan.
Headphone tuan Carlos terjatuh sehingga tak terselamatkan sebab hancur berserakan hingga berbentuk puing-puing saja, bagaimana tidak handphone itu terjatuh dari lantai lima dan beberapa kali terbentur benda keras yang membuat handphone itu semakin terpental sampai akhirnya mendarat di dasar gedung dan sudah tidak berupa lagi.
Pegawai berusaha memungut bagian-bagian dari handphone tersebut, tapi simcard nya tidak di temukan entah terlempar ke arah mana, sedangkan di sana tersimpan banyak nomor-nomor penting termasuk nomer telpon Kania.
Dan parahnya lagi tuan Carlos tidak mengingat nomor isterinya. membuat ia kesulitan untuk menghubungi Kania.
Di tambah kondisi tuan Carlos yang tak setabil, setelah ia selamat di bantu para rekan nya dan para pekerja, tubuh tuan Carlos terasa melemas, dan kepalanya terasa pusing kunang-kunang. sebab merasa sangat syok dengan kejadian yang baru saja ia alami, luka robekan di bagian betis nya banyak sekali mengeluarkan darah.
Sehingga mengharuskan tuan Carlos dirawat di rumah sakit.
__ADS_1
Itulah mengapa Tuan Carlos telat pulang dan tidak bisa menghubungi Kania.
Tapi ketika kondisi Tuan Carlos membaik, Iya pun berusaha untuk segera pulang, sebab iya selalu teringat kepada Kania, terlebih dengan janjinya untuk mengantarkan Kania pergi melihat kondisi Alika di kota Alika.
Tuan Carlos juga memikirkan bahwa pasti Kania merasa khawatir, kecewa, kesal ,dan marah kepadanya.
Karena itulah saat dirasa kondisinya membaik, Tuan Carlos memaksa untuk segera pulang.
Dan ketika sampai di apartemennya Tuan Carlos melihat Kania sedang tertidur pulas.
Sejujurnya iya merasa sangat tidak tega, karena Tuan Carlos merasa telah mengingkari janjinya untuk mengantar Kania pergi melihat kondisi Alika.
...
Kania mendengarkan semua cerita Tuan Carlos, ketika mendengar dan melihat bukti-bukti yang ada, akhirnya Kania percaya dengan apa yang diceritakan oleh tuan Carlos.
Kania merasa menyesal telah terburuk sangka kepada suaminya.
Kemudian Kania memohon maaf kepada Tuan Carlos " Sayang maafkan Aku telah merajuk kepadamu, tanpa tahu apa yang sebenarnya telah terjadi kepadamu" ucap Kania dengan nada penuh penyesalan.
" Tidak sayang ini bukan salahmu, kau tidak perlu meminta maaf kepadaku, justru aku yang telah mengecewakanmu" ucap Tuan Carlos
Kania baru menyadari kondisi Tuan Carlos setelah melihat dan mendengar tentang kondisi hutan Carlos.
Kemudian setelah itu Kania membantu Tuhan Carlos untuk pergi ke kamar mereka, dengan memapah tuan Carlos yang berjalan pincang karena menahan rasa sakit akibat luka di kakinya.
Setelah sampai di kamar, Kania membantu tuan Carlos membersihkan diri.
Dan bergegas untuk beristirahat sebab waktu pun sudah larut malam.
.
.
Di meja mini bar yang ada di dapur di kediaman keluarga Rahardian, dengan kondisi ruangan yang gelap gulita.
Kebetulan saat itu Andi keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil air minum, kemudian ia melihat sosok yang sedang terduduk di meja tersebut.
Andi sempat berpikir bahwa sosok itu bukan manusia melainkan makhluk tak kasat mata.
Sebab terduduk seorang diri dalam kegelapan.
Andi merasa syok dengan pemikirannya yang menganggap ia telah melihat makhluk tak kasat mata, tapi iya berusaha memberanikan diri untuk mendekati sosok itu. Yang tak lain adalah Nina yang sedang termenung seorang diri dalam kegelapan.
Setelah Andi mendekat dengan jarak yang cukup dekat dengan sosok tersebut, Andi memasang ancang-ancang, bersiap melindungi diri dari ancaman bahaya, sambil berteriak " Hai siapa kamu!" Seru Andi dan memukul kepala dari sosok tersebut.
"Aaawww sakit...!" Pekik Nina sambil meringis kesakitan, yang berhasil terkena pukulan dari Andi tepat di kepalanya.
"Loh...!!! Ternyata hantu bisa kesakitan juga ya!!!" gumam Andi merasa heran mendengar pekikan suara Nina.
" Sialan lu Mas, masa aku dibilang hantu" seru Nina tidak terima dirinya dikatai hantu.
"Eeh... Memangnya kamu siapa?" tanya Andi bingung.
" Ini aku Nina ,,," jawab Nina dengan rasa kesal karena telah dipukul oleh Andi.
Kemudian Andi Nyalakan lampu dan barulah Andi melihat jelas bahwa sosok itu memang benar Nina.
" Oalah...! Kamu rupanya, bikin Sport jantung aja...!"
" Aku kira kamu hantu!" ucapan Andi.
__ADS_1
" Sembarangan kamu Mas" Nina tidak terima.
" Ya lagian ngapain duduk sendiri malam-malam dalam kegelapan, Ya wajarlah aku sangka kamu hantu, orang serem begitu" ucap Andi tidak ingin di salahkan.
" Tapi kepalaku kan sakit dipukul sama kamu mah..!" ucap Nina dengan nada merajut.
" Ya maaf, maaf" jawab Andi merasa kasihan kepada Nina.
" Aku nggak butuh kata Maaf darimu" Ucap Nina.
" lalu mau apa!" Andi merasa curiga Nina akan meminta sesuatu.
"Aku pengen ketemu sama Alika, pengen melihat kondisinya, Kania katanya mau kesana, boleh ya aku ikut dengan Kania untuk menjenguk alika...!" Nina mengutarakan keinginannya sambil memelas kepada Andi agar Andi mengizinkannya.
"Apa..." Pekik Andi.
"Kenapa harus sama kania...!"
"Lalu...?" Nina merasa bingung ucapan Andi tidak melarang atau membolehkan dirinya untuk ikut bersama Kania.
"Kamu ikut sama aku...!" Andi
"kemana...?" Nina masih bingung.
"Ya,,, menjenguk alika lah...!" Seru Andi.
"Beneran..." Nina meyakinkan jawab dari Andi.
"Ya..." Jawab Andi menegaskan.
Seketika itu Nina merasa kegirangan dan refleks memeluk Andi, sambil berucap "Terimakasih mas...!".
Andi hanya memaku tercengang menerima perlakuan dari Nina entah mengapa iya merasakan perasaan yang aneh dalam dirinya saat ini memeluknya.
"Hay... apa-apa kamu!" kemudian Andi menegur sikap Nina, Andi sengaja melakukan hal itu untuk menepis perasaan yang ia rasakan.
Dan seketika itu membuat Nina terpaku dan salah tingkah menyadari tingkahlaku nya yang memeluk Andi.
"Ma- maaf mas...!" Ucap Nina terbata sebab merasa canggung.
" Jangan senang dulu kamu,,, Aku melakukan ini Bukan semata karena mu,,, ya aku memang mau ke sana! karena kamu meminta ingin ikut Ya sudah ikut sekalian...!" Andi berbicara dengan nada jutek, sebab Andi tidak ingin Nina salah paham. Karena Nina telah berani memeluknya.
" Jadi gak usah ge'er" Sambungan Andi mengingatkan Nina.
Nina hanya diam mematung dan menundukkan kepalanya.
Merasa sedih mendengar ucapan Andi, yang terasa begitu menyakitkan di hatinya.
"Maaf kan saya mas...!" Gumam Nina.
Kemudian Andi berlalu dari hadapan Nina, untuk mengambil air minum sesuai tujuan awalnya.
Lalu Andi kembali melintasi di depan Nina untuk kembali ke kamarnya, dan Hanya melihat ke arah Nina sekilas, tanpa berucap sepatah kata pun.
Menyadari itu, Nina merasa kaku dengan perasaan tidak menentu, rasa sakit hati, rasa malu karena telah melakukan tindakan bodoh karena telah memeluk Andi sebagai tuannya. Ya, memang tidak seharusnya Nina melakukan hal itu.
Nina sampai kesulitan untuk menelan salivanya.
"Ya,,, tuhan bodoh sekali kamu,,, kenapa melakukan hal seperti itu... Sadar diri dong kamu Nina...!" Gumam Nina sambil menepuk jidatnya, setelah kepergian Andi, karena Andi sudah berlalu ke kamarnya.
Tapi hati Nina merasa sangat sedih, dan sakit hati dengan ucapan dan sikap Andi kepadanya.
__ADS_1
"Padahal tuan Romi juga sering sekali memarahiku, tapi aku tidak pernah sesedih dan sesakit ini!" Gimana Nina lagi.
"Ini lah nasibku, jauh berbeda dengan mu Alika, hidup mu (alika) selalu di kelilingi orang-orang yang menyayangi mu, sehingga hidup mu penuh cinta , perhatian dan kasih sayang... Sedangkan aku, keluarga ku sendiri saja tidak pernah memperdulikan perasaan ku...!" Nina membandingkan hidupnya dengan hidup Alika.