
Nampaknya sudah menjadi hal lumrah bagi ibu- ibu jika bertemu pasti akan bergosip, tidak peduli dimana pun dan kapan pun, yang penting keinginan bergosip tersalurkan. Mau artis, tetangga, kenalan, bahkan siapa pun bisa jadi bahan omongan. Selain gossip ada hal yang bisa membuat ibu- ibu berheboh ria jika bertemu, yakni membahas soal urusan ‘ena- ena’ dengan menggunakan bahasa kiasan atau perumpamaan.
Sama halnya seperti Bunda Anita dan Mami Hindayanti yang membahas soal jarum suntik gede, padahal maksud mereka adalah ‘si jago’ peliharaan kesayangan mereka masing- masing, namun dalam pikiran Naz itu adalah jarum sungguhan yang ujungnya runcing dan saat ditusukkan pada kulit sakitnya luar biasa, tentunya dengan membayangkannya saja membuat Naz takut dan ngeri.
“Kamu mah ih ,,, udah gede juga masih aja takut sama jarum suntik,, gimana udah nikah nanti atuh, mangkaning nya bakalan sering disuntik sama jarum yang lebih gede eta teh Dek,”, ucap Bunda sambil terkekeh dan mengundang tawa Mami.
“Iya, Naz kamu harus dibiasakan jangan takut sama jarum,, bahaya kalau udah nikah gak suka jarum”, Mami yang cepat sekali konek ikut mengamini perkataan Bunda, dan mereka pun tertawa cekikikan.
“Hah,,, udah nikah bakal sering disuntik? Kalau gitu aku gak mau nikah,,,, iiihhhh”, ucap Naz yang masih lemas pun bergidik ngeri, karena teringat jarum untuk donor darah tadi yang sakitnya masih terasa di tangannya.
“Yasalam,, amit- amit kudu disuntik sama jarum yang lebih gede, tadi aja jarum segede gitu sakitnya luar biasa, serasa ingin menendang dan menghajar petugas yang menyuntikan tadi,, ihhh”, gumam Naz dalam hati sambil bergidik ngeri.
“Mami sama Bunda bicara apa sih, gak jelas banget”, protes Arfin kesal.
“Eh,,, lupa Mbak,, kalo disini ada yang punya jarum”, ucap Mami sambil melirik ke arah Arfin dan mereka berdua kembali terkekeh melihat ekspresi Arfin yang terlihat jengah, serta ekspresi Naz yang menatap ngeri pada Arfin.
“Kamu kenapa menatapku seperti itu, Naz?”, tanya Arfin heran saat melempar pandangan pada Naz yang masih terbaring.
Naz menggelengkan kepalnya, “Eng,,, enggak apa- apa,, aku cuma,,, aku cuma mau tidur aja kepala ku pusing”, ucapnya dengan gugup.
“Eh,, jangan tidur dulu,,kamu harus makan yang banyak, minum vitamin, sama minum obat penambah darah,, baru istirahat”, ucap Mami yang begitu perhatian pada Naz.
“Tadi aku udah makan biskuit sama minum susu kok Mami…. “, jawab Naz.
Tiba- tiba ponsel Mami berdering dan beliau langsung mengambilnya dari dalam tas, sedikit menjauh lalu mengangkat panggilan telepon itu. Setelah berbicara sebentar lalu Mami menghampiri Arfin, “Al,, kamu ke parkiran gih, sopir nungguin di sana, tadi saat Naz diambil darah, Mami meminta Bi Darmi membawakan makanan untuk Naz, katanya yang nganter sopir ”, ucapnya dan Arfin pun dengan segera melaksanakan titah Maminya itu.
“Naz,, makanannya sudah mau sampai, jadi kamu makan dulu ya”.
“Enggak ah Mami,,, Naz masih kenyang… lagian tadi juga kan udah makan di rumah Mami”, Naz tetap menolak.
“Kenyang gimana Naz, masa makan biskuit aja kamu kenyang,,,, tadi kan sesudah makan diambil darah, jadi nutrisinya terkuras habis,,,, pokoknya harus makan biar kamu gak lemas lagi ya,,, kan nanti suster mau ngasih kamu obat, dan sebelum minum obat harus makan dulu kan”, Mami terus membujuk.
“Iyah atuh Dek,, kamu teh harus banyak makan,,, wayahna,, kan tadi teh kamu keluar darah banyak,,, “, Bunda ikut membujuk.
“Aku mau tidur aja ah biar nanti seger badannya", Naz masih kekeh.
“Oke silahkan wae tidur, gak usah makan,, nanti teh pas bangun tahu- tahu udah dipasang infusan, wassalam wae eta mah”, Bunda langsung mengeluarkan jurusnya dan Naz pun langsung menurut. Bunda pun membantu Naz untuk duduk.
Tak lama Arfin datang membawa goodie bag yang berisi makanan untuk Naz, lalu menyerahkannya pada Mami, “Nih makanannya Mi”, Arfin menyodorkan goodie bag tersebut dan setelah diterima oleh Mami kemudian Arfin pamit keluar soalnya perawat sudah mengingatkan yang menunggu pasien hanya dua orang saja.
Mami meletakan goodie bag di atas kasur, lalu dikeluarkanlah dua buah kotak makan beserta satu botol tupy berisi air minum.
“Taraaa,,,, ini ada beef steak sama bistik hati sapi yang sudah dipotong- potong beserta sayuran pendampingnya”, Mami memperlihatkan isi kotak makanan yang sudah dibukanya pada Naz, kemudian beliau mengambilkan sendok dan garpu dari dalam goodie bag tersebut. “Dokter bilang kamu harus makan- makanan yang banyak mengandung zat besi, jadi Mami tadi minta Bi Darmi membelinya dan meminta sopir mengirimkannya kemari, ,, Makan ya Naz,, biar kamu cepat sembuh,,, mau Mami suapin?”
“Makasih Mami,,,, “, ucapnya tersenyum sambil berkaca- kaca karena Mami nya Arfin begitu perhatian padanya.”Naz makan sendiri aja Mami”, Naz mengambil kotak makan yang ada di tangan Mami dan menaruhnya di atas lahunan nya yang digunakan sebagai pengganti meja.
“Nda,,, kok gak ada nasinya sih,, mana kenyang atuh?”, dasar Bunda mah orang Sunda kalo gak pakai nasi teh disebutnya bukan makan.
“Ih Bunda mah bikin malu aja, masa makan steak disanguan”, ucap Naz terkekeh lalu ia pun mulai memakannya dan tentunya terus diawasi oleh kedua emak- emak rempong itu supaya Naz memakannya sampai habis, dan jika ia minta berhenti maka ancaman infusan kembali dikeluarkan Bunda, akhirnya makanannya dibabad habis oleh Naz dengan perasaan kesal.
“Anak pintar,, sekarang minum ini ya”, Mami mengeluarkan botol tupy tadi dan memberikannya pada Naz.
“Ini apa Mami ?”, tanya Naz.
“Itu jus buah bit,,, bagus untuk penambah Hb,,,tenang aja udah dikasih madu kok, jadi pasti manis dan itu dijuicer jadi sudah tidak ada ampas nya,, ayo diminum sampai habis ya,,,”, ucap Mami menjelaskan bagaikan sales makanan.
“Terimakasih banyak ya, Nda… kamu perhatian sekali sama Naz”, ucapnya.
“Ya jelas dong,, dia kan calon menantuku gitu loh,, Oh iya Mbak,, berarti ini yang kedua kalinya dong kita besanan setelah Rezky dan Fatma ?”, ucap Mami.
“Hehehe,, iya yah aku juga baru ngeuh, Nda”, jawab Bunda.
“Bunda, ini minumnya sudah habis,,,”, Naz menyodorkan botol yang sudah kosong itu pada Bundanya, “Bunda,, gimana keadaan Mama sekarang?”, Tanya Naz yang teringat pada Mama nya.
“Tadi Ayah kamu teh bilang kalau Mba Rahmi sudah melewati masa kritisnya dan sudah dipindahkan ke ruang ICU karena perlu penanganan khusus, nanti teh kalau kondisinya terus membaik baru akan dipindahkan ke ruang rawat inap, sekarang mah kamu istirahat saja ya”, ucap Bunda menjelaskan lalu mengelus kepala Naz yang kemudian kembali berbaring. Bunda pun menyelimuti Naz, dan beliau keluar bersama Bu Hinda dengan membawa goodie bag yang berisi bekas makan Naz tadi.
“Kok selama ini aku gak tahu kalau Naz ini anaknya Mbak Anita,, soalnya gak pernah lihat dia kalo kita sedang ngumpul?”, tanya Bu Hinda sambil berjalan keluar UGD.
“Waktu masih kecil kamu teh sering lihat Naz kok, eta tah yang suka dipanggil bolo- bolo sama kakaknya karena tubuh bongsornya yang mirip artis cilik yang gendut tea,, cuman ya emang semenjak kelas 5 SD dia mah tidak pernah mau ikut kumpulan keluarga, lebih suka diam di rumah aja,, dan kalau kumpulan nya di rumah juga dia mah mengurung diri di kamarnya,,, makanya pada pangling pas lihat dia sekarang”, Bunda menjelaskan.
__ADS_1
“Oh,, iya- iya aku ingat Mbak,,, yang dulu suka disuapin sama Pak Harfi ya kalo makan tuh,, bahkan waktu nikahan Rezky dan Fatma juga dia gak mau makan karena pengen disuapin oleh Pak Harfi, “, ucapnya terkekeh mengingat hal itu.
Mereka pun berjalan menghampiri para suaminya yang sedang menunggu di depan ruang ICU.
Setelah beberapa saat Bu Hinda dan Pak Latief pamit pulang karena mereka teringat cucu mereka yang tadi sempat ditinggalkan, sedangkan Arfin dan Bunda masih di sana untuk menunggui Naz yang sedang beristirahat di ruang UGD.
Setelah tertidur selama dua jam, Naz pun bangun dan ia langsung teringat pada Mama nya dan ingin melihatnya, karena sejak ia datang ke rumah sakit, sama sekali belum melihat kondisi Mama nya itu. Awalnya Bunda dan Arfin melarang karena Naz masih terlihat lemas, namun ia terus memaksa sampai menangis minta bertemu dengan Mama nya, dan akhirnya Naz diizinkan menjenguk dengan syarat harus memakai kursi roda dan harus ditemani Arfin, karena mereka khawatir Naz pingsan lagi.
Sebelum masuk Naz dan Arfin memakai pakaian khusus yang steril dengan penutup kepal beserta masker, dan tidak lupa mereka pun diharuskan mencuci tangan terlebih dahulu. Arfin mendorong kursi roda yang dinaiki Naz lalu masuk ke ruangan tempat Bu Rahmi dirawat.
Kini mereka berdiri di samping ranjang tempat Bu Rahmi terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat medis yang dipasang di beberapa bagian tubuhnya. Terdapat perban di kepala dan tangannya, luka lebam di wajahnya, dan melihat itu semua membuat hati Naz serasa teriris, ia tak kuat menahan air matanya yang mengalir begitu saja.
“Mama…. Hiks hiks”, lirihnya sambil terisak. “Kenapa Mama bisa seperti ini,,, hiks hiks,,Bangun Ma,,, bangun,,, hiks hiks ”, Naz membungkuk lalu mencium pipi Bu Rahmi, saat Naz hendak memeluknya, Arfin mencegahnya karena takutnya terkena alat- alat yang terpasang, “Mama cepat sembuh ya,, Naz sayang sama Mama,,,hiks hiks…”, ucapnya sambil terisak.
“Sudah yuk kita keluar,, tadi kan kata perawat, kita jangan terlalu lama disini,, ayo duduk lagi di kursi roda”, ucap Arfin dan Naz pun menurutinya meskipun dia sebenarnya ingin berlama- lama disana bahkan ingin menunggu sampai Bu Rahmi sadar, namun itu tidak diperbolehkan, dengan berat hati ia pun meninggalkan ruangan ICU tersebut bersama sang kekasih.
Setelah mereka keluar ruangan, Naz kekeh ingin menunggu di luar sampai Bu Rahmi sadar, namun Arfin terus membujuknya untuk pulang karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
“Rheanazwa, Arfin benar,, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat,, terimakasih sudah bersedia mendonorkan darahmu untuk Rahmi”, ucap Pak Syarief mendukung Arfin dan akhirnya Naz bersedia diajak pulang.
Setelah Arfin menyelesaikan administrasi dan menebus obat serta vitamin yang diresepkan dokter, kemudian ia mengantarkan Naz pulang, karena Bunda sedang mencari obat ke apotek lain yang dibutuhkan oleh Bu Rahmi karena di apotek rumah sakit stoknya sedang habis dan setelahnya akan tetap stay di rumah sakit menunggui Kakak iparnya itu.
Sepanjang perjalanan Naz terlihat melamun seolah memikirkan sesuatu.
“Hei,,, kenapa melamun? Lagi mikirin apa? Aa kan ada disebelah mu ini", tanya Arfin sambil menggoda.
“Kok aku ngerasa ada yang aneh ya sama Papa,,, gak biasanya dia memanggilku dengan sebutan namaku”, ucap Naz yang merasa heran dan bertanya- tanya.
“Loh,, memang apanya yang salah? Emangnya kamu pengen dipanggil si tengil?”, tanya Arfin terkekeh.
“Bukan gitu A,,, biasanya Papa tuh manggil aku dengan sebutan sayang,,, dan bahkan tadi Papa kayak gak peduli sama keadaanku, waktu aku lagi di UGD aja Papa gak nyamperin aku sama sekali”, keluh Naz.
“Mungkin Papamu sangat mengkhawatirkan kondisi Tante Rahmi, makanya beliau tidak mau beranjak dan tetap menunggui Tante Rahmi”, Arfin mencoba berfikir positif.
“Iya juga ya,,, mungkin karena itu,,,”, ucap Naz yang kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu memainkan ponselnya, “Wah,,, ni makhluk bertiga lagi pada liburan “, ucapnya sambil melihat status WA ketiga sahabatnya itu.
“Kenapa kamu gak liburan ? emang pengen liburan kemana hem?”, tanyanya.
Setelah beberapa saat, mereka pun tiba di rumah Naz dan Arfin pun mengantarkannya sampai ke dalam kamarnya karena khawatir Naz jatuh saat menaiki tangga. Sesampainya di dalam kamar Naz langsung duduk di tempat tidurnya untuk beristirahat, sedangkan Arfin duduk di kursi meja belajar Naz.
“Aa ngapain di situ?”, tanya Naz.
“Lagi duduk,,, “, Arfi menjawab seenaknya.
“Iya maksudnya kenapa masih disini?”, Naz memperjelas pertanyaannya.
“Kan lagi nungguin kamu, siapa tahu kan kamu butuh apa- apa”, Jawab Arfin sambil memainkan ponselnya.
“Udah Aa mendingan pulang aja deh,, lagian kan aku nya juga mau tidur gak usah ditungguin, aku ini kan bukan bayi”, Naz meminta Arfin pergi.
“Jadi maksudnya kamu ngusir Aa?? Tenang aja kok Aa gak akan macam- macam selagi kamu tidur, paling cuman satu macam”, ucapnya terkekeh.
“Dih udah ada niatan lagi,,,, udah sana sana pulang !”, Naz mengusir.
“Niatan apa sih sayang,,, orang satu macam nya itu cuman main game di hape”
“Udah ah,, sana pulang,,, atau nunggu di bawah aja gih,,, gak enak kan kita berduaan di kamar begini,,”, Naz terus mengusir Arfin karena ia merasa takut terjadi hal aneh lagi setelah beberapa kali hanya berduaan dengan Arfin dalan satu ruangan.
“Yasudah Aa tunggu di bawah aja, nanti kalau butuh apa- apa telepon saja ya,, sekarang kamu istirahat,”, Arfin pun mengalah daripada terus berdebat dan waktu istirahat Naz terganggu.
Arfin jadi kuncen untuk kekasihnya itu hingga malam hari, setelah makan malam dan memastikan Naz sudah meminum obat dan vitaminnya serta mengantarkannya kembali ke kamarnya, Arfin pun pamit pulang dengan segala pesan- pesan pada Naz yang tidak boleh turun sendiri, kalo butuh apa- apa panggil Mbak Iyem, kalau mau ke toilet minta di antar, BLA BLA BLA sekian sekian sekian,,, bahkan ia meminta Mbak Iyem menemani Naz di kamarnya.
Setelah Arfin pulang, Naz pun berbaring di tempat tidurnya hendak tidur, “Dasar orang itu,, kalo aku lagi sakit perhatian banget sampai cerewet nya melebihi Bunda,,, “, ucapnya tersenyum bahagia, lalu ia pun tidur.
***
Keesokan harinya, sejak pagi Naz merengek ingin menjenguk Bu Rahmi, namun terus dilarang oleh Bunda karena Naz harus banyak beristirahat dan Bunda pun terus menemaninya seharian di rumah, memastikan Naz beristirahat dan meminum obatnya supaya benar- benar pulih.
Naz yang tak habis akal, ia pun menghubungi Arfin untuk meminta tolong diantarkan ke rumah sakit, namun sang kekasih yang biasanya selalu menuruti keinginannya itu pun mengatakan hal yang sama seperti Bunda, melarangnya pergi dan menyuruhnya banyak istirahat serta minum obat, seolah mereka itu sudah bersekongkol.
__ADS_1
Akhirnya mau tidak mau Naz pun menuruti titah sang Bunda karena beliau terus mengawasinya, sepertinya takut ia kabur, karena Bunda sudah sangat hafal tabiat puteri bontotnya yang super tengil itu. Naz pun hanya berdiam diri di rumah, hanya makan, minum obat serta tidur layaknya seperti orang sakit pada umumnya, “Hari ini semua orang menyebalkan !”, umpat Naz kesal.
Dan itu berlangsung selama dua hari, sampai hari minggu. Tentunya sang kekasih selalu mengunjunginya dan menemani pasien tahanan tersebut, karena Bunda pergi selama beberapa saat untuk menjenguk Bu Rahmi.
***
Hari Senin ini Naz sudah terlihat sehat dan segar, bahkan setelah diperiksa oleh Ayahnya pun Naz sudah dinyatakan sembuh. Naz yang merasa senang kembali merengek ingin menjenguk Bu Rahmi ke rumah sakit. Awalnya Bunda masih melarang karena beliau dan Ayah serta Dandy tidak bisa mengantarkannya karena akan pergi ke rumah orang tua Arini untuk membicarakan soal persiapan rencana pernikahan Dandy dan Arini. Namun Naz terus merengek dan meminta diantarkan oleh Pak Udin saja. Akhirnya dengan terpaksa Bunda mengizinkan Naz pergi karena tidak tega melihatnya selama tiga hari ini murung terus karena ingin pergi ge rumah sakit. Kemudian Naz pun segera bersiap- siap dan menghubungi Pak Udin.
Selama di perjalanan Naz terus tersenyum bahagia sambil memegang sekeranjang buah yang sebelumnya sudah ia beli dari toko buah, karena akhirnya ia bisa menjenguk wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Mama itu.
Setelah beberapa saat ia pun tiba dan langsung masuk ke dalam rumah sakit, ia pun berjalan menuju lantai 6 ruangan VVIP tempat Bu Rahmi dirawat sesuai dengan yang diberitahukan oleh Bunda sebelumnya. Naz menanyakan letak kamarnya pada seorang perawat, lalu ditunjukan lah. Kemudian ia pun kembali berjalan menuju kamar itu, dan saat sampai di depan pintu, ternyata pintunya sedikit terbuka, akhirnya Naz masuk tanpa mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum,,, “, sapa nya sambil mengedarkan pandangan yang ternyata tidak ada siapa pun di sana, termasuk pasiennya pun tak ada di tempat tidurnya.”Kok gak ada siapa- siapa ya? apa aku salah masuk kamar?”, gumam Naz yang kini berdiri di dekat tempat tidur pasien.
Ceklek ,,, terdengar suara pintu terbuka dan Naz pun menoleh ke arah suara itu yang ternyata berasal dari arah kamar mandi. Muncul Bu Rahmi yang di tuntun oleh Raline yang keluar dari kamar mandi.
“Ma,,,, Tante,,,”, sapa Naz dengan tersenyum, namun Bu Rahmi tak menghiraukannya dan ia beranjak dipapah oleh Raline menuju tempat tidurnya.
“Ngapain lo kesini?”, Tanya Raline sambil berjalan dan melirik sekejap pada Naz.
“Aku mau menjenguk Tante”, jawab Naz.
“Ergh,,,,”, Bu Rahmi meringis dan memegang keningnya sepertinya merasa pusing, lalu Naz menghampirinya untuk membantu memapahnya takutnya beliau jatuh.
“Tante gak apa- apa”, ucap Naz khawatir sambil memegang tangan beliau.
“Lepas,,,, jangan sentuh saya“, Bu Rahmi langsung melepas kan tangannya dari genggaman Naz dengan kasar meskipun masih merasa lemas dan menopang kan tangannya pada tepian ranjang, kemudian beliau dibantu duduk oleh Raline.
“Raline, suruh dia pergi, Mama gak mau melihatnya ada disini”, pintanya pada Raline.
“Heh,, lo dengar sendiri kan,, cepat pergi sana”, seru Raline sambil menunjuk ke arah pintu.
“Kamu ngusir saya, Raline”, tanya seseorang yang berdiri di depan pintu yang ternyata tadi tidak ditutup lagi oleh Naz.
“Eh,, Ta Tante,,, ma maksud saya bukan Tante, tapi dia”, ucap Raline gugup sambil menunjuk ke arah Naz, lalu beliau menghampiri.
“Bagaimana keadaan mu sekarang Jeng Rahmi? Apakah sudah membaik?”, tanya Bu Hinda.
“Alhamdulillah, sudah membaik,, terimakasih sudah datang menjenguk”, jawab Bu Rahmi.
“Alhamdulillah kalau begitu”, ucapnya sambil menyimpan parsel buah yang dibawanya diletakan diatas meja untuk makanan pasien bersebelahan dengan parsel yang dibawa Naz.
“Sayang, kamu sudah membaik?”, Bu Hinda bertanya pada Naz.
“Alhamdulillah, Mami”, jawab Naz tersenyum.
“Raline.. kamu itu harusnya berterimakasih pada Naz, karena dia sudah mendonorkan darahnya untuk Mama kamu sehingga nyawanya bisa tertolong”. Ucap Bu Hinda dengan nada kesal.
“Apa? Dia yang mendonorkan darahnya untuk ku? Bukannya Raline yang mendonor?”, Tanya Bu Rahmi terkejut sambil menunjuk ke arah Naz.
“Tentu saja Naz yang sudah mendonor, saya meyaksikannya sendiri,, anak Jeng yang bernama Raline itu malah bersembunyi dirumah dan tidak kunjung datang karena takut untuk mendonor,, anak macam apa itu?”, Bu Hinda memberitakan.
“Gak,,, gak mungkin,, gak mungkin dia,,,, ”, ucapnya memegang pelipisnya dengan menoleh pada Naz. ”Kenapa harus dia,,, ? aku tidak sudi darahnya mengalir di tubuhku,,, ! ..dokter,,, dokter,,, keluarkan lagi darah yang dia berikan padaku,, aku tidak sudi menerima darah dari anak perempuan iblis itu,,, huhuhuhu”,Bu Rahmi yang masih duduk di ranjang berterik histeris, lalu dipegangi oleh Raline untuk menenangkan. Naz pun ikut menghampiri untuk ikut menenangkannya, namun Naz malah di dorong oleh Bu Rahmi sampai terjatuh ke lantai “Pergi kau,, pergi,,, aku sangat membencimu,, pergi….”. bentaknya menunjuk pada Naz yang terduduk dilantai.
Naz dibantu bangun oleh Bu Hinda, kemudian ia beranjak pergi keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang sedih, hatinya serasa tercabik- cabik mendengar perkataan yang Bu Rahmi lontarkan.
" Keterlaluan kamu Jeng,,, bukannya berterima kasih malah memarahi anak itu yang rela membahayakan dirinya sendiri untuk menyelamatkan nyawa Jeng Rahmi, dia juga melawan rasa takutnya terhadap jarum suntik, karena rasa sayangnya pada Jeng", ucap Bu Hinda kesal, " Saya permisi ! ", serunya lalu pergi hendak mengejar Naz, dan saat keluar dari pintu, beliau berpapasan dengan Pak Syarief yang nampak kesal, sehingga mereka pun tak bertegur sapa.
" Dasar tidak tahu berterima kasih,,, kalau bukan karena pertolongan Naz, dia pasti sudah Goodbye wassalam,,,, ", Bu Hinda menggerutu kesal sambil berjalan, lalu ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Naz, namun tak menemukannya.
---------------- TBC -----------------
****************************
Ihhhh... Bu Rahmi kamu itu menggemaskan syekali,,, ternyata Raline itu menuruni sifat ibunya...yasalam....
Happy Reading...😉
Jangan luva tinggalkan jejak mu .... komen, like, ratebintang 5, dan vote....🤩😉
__ADS_1
Terimakasih semuanya 😘