Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Naz Hilang.....


__ADS_3

Saat ini suasana di kediaman keluarga Naz berbeda dari hari biasanya, karena kehadiran Opa, Oma, Papa nya Naz, dan Raline, walaupun sebelumnya terjadi peristiwa yang mengharukan , kini mereka mulai mencair dan berbincang- bincang layaknya temu keluarga yang sudah lama tidak berjumpa. Seusai mereka melaksanakan shalat isya berjama’ah dilanjutkan dengan makan malam bersama, lain halnya dengan Naz yang memilih menyuapi Opa nya terlebih dahulu yang masih berada di dalam kamar tamu. Mereka seolah bernostalgia ke masa lampau, hanya saja bedanya dulu Opa yang sering menyuapi Naz dan sekarang sebaliknya Naz lah yang menyuapi Opa, dari keduanya terpancar raut kebahagiaan tanpa adanya rasa beban atau pun mengganjal di hati mereka.


Setelah makan malam dilanjut perbincangan di ruang tengah kemudian Pak Syarif dan Raline berpamitan pulang, sedangkan Opa dan Oma menginap sesuai permintaan Naz dengan alasan khawatir dengan kondisi Opa dan masih kangen dengan mereka berdua, padahal Naz dan Oma nya sering bertemu. Nyatanya Naz terus mengganggu Opa dan mengajaknya bercanda sambil bercerita banyak hal mengenai sekolah, hobinya dan sahabat- sahabatnya hingga jam 10 malam. Karena sudah mendapat ultimatum dari sang Bunda, Naz pun akhirnya bergegas ke kamarnya untuk tidur.


Semenjak berbaikan dengan Opa, Naz menghabiskan sisa libur sekolahnya menginap di rumah Opa nya dan mereka pun semakin dekat seperti dulu kala, tentunya itu membuat Raline merasa iri karena posisi cucu kesayangan kini sudah berpindah kembali kepada Naz. Raline selalu bersikap baik pada Naz jika di hadapan Papa, Opa dan Oma nya, lain halnya jika Naz sendirian ia selalu mengatakan kata- kata yang tidak mengenakan, tapi Naz selalu bisa mengatasinya.


Tak terasa waktu liburan sekolah telah habis, dan kini dimulailah tahun ajaran baru. Sebenarnya untuk murid baru kelas 1 SMA ini sudah mulai masuk empat hari yang lalu, dalam rangka pelaksanaan Masa Orientasi Siswa Baru, sehingga saat semua murid mulai masuk kembali proses pembelajaran tidak terganggu dengan MOS dan bisa belajar fulltime.


Naz yang baru menyelesaikan sarapannya langsung berpamitan dan menyalami Ayah, Bunda dan Dandy lalu bergegas keluar rumah untuk berangkat ke sekolah karena sudah terdengar bunyi klakson mobil sebanyak tiga kali yang menandakan Pak Udin telah datang menjemput. Setelah mengucapkan salam Naz langsung menutup pintu rumahnya dan berjalan dengan senangnya karena bisa kembali ke sekolah yang ia rindukan, namun saat membuka pintu gerbang raut wajahnya berubah seketika saat melihat orang berdiri di samping mobil jemputan nya dengan memegang pintu yang sudah dibukanya.


“Pagi cantik,, awali pagi mu dengan senyuman, jangan cemberut gitu dong, nanti cepet keriput kayak nenek gayung”,Evan yang melihat kedatangan Naz langsung menyambut.


“Bang Evan ngapain ke sini pagi- pagi buta gini?”, Naz bertanya dengan nada jutek.


“Ya mau nganter kamu sekolah lah cantik,, anggap saja ini sebagai proses PDKT menuju calon pacar”, Evan menjawab dengan santainya.


“Gak usah repot- repot Bang, aku biasa dianterin sama Pak Udin”, Naz menolak diantar Evan.


“Tungguin aja Pak Udin sampe lebaran onta juga gak bakalan datang kali”, ucapnya.


“Maksudnya?”, tanya Naz.


“Aku udah bilang sama Pak Udin kalau aku yang akan mengantarmu ke sekolah, jadi tugasnya cuman jemput kamu saja”, ucapnya santai.


“Apa..?? Bang Evan gak bisa berbuat seenak jidatnya gitu dong, yang mempekerjakan Pak Udin itu Papa, jadi Pak Udin hanya boleh mengikuti perintah aku sama Papa”, Naz nyolot.


Evan langsung menghampiri Naz dan memegang tangannya lalu menariknya memaksanya masuk ke dalam mobil yang sejak tadi pintunya sudah dibukakan, “Sudah ayo masuk, nanti kamu bisa kesiangan di hari pertama masuk sekolah, kan gak lucu”, Naz pun dengan terpaksa bersedia masuk diikuti Evan masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian pengemudi lalu ia pun melajukan mobilnya, berangkaat.


Sepanjang perjalanan Naz tidak bicara sepatah kata pun karena masih merasa kesal dengan Evan, sedangkan orangnya hanya senyam- senyum sendiri sesekali melihat ke arah gadis pujaan hatinya itu, “Kamu kalau cemberut gitu makin cantik tahu gak, aku makin gemas”, ucapnya saat mobil yang dikendarainya sampai di depan gerbang sekolah. Naz pun langsung turun dan mengucapkan terimakasih dengan nada juteknya, “Naz,, kau membuatku semakin penasaran, dari sekian banyak wanita yang ku dekati, cuman kamu yang tidak tergoda dengan pesonaku,,sepertinya aku harus berjuang keras untuk mendapatkan hatimu”, Evan berdialog sendiri sambil melihat Naz memasuki gerbang sekolah, lalu ia pun kembali melajukan mobilnya.


“Wahh,, akhirnya setelah tiga minggu hiatus kita bisa masuk sekolah kembali”, Ucap Ruby dengan senangnya yang kini sedang bersama Andes dan Kiara.


“Hai Naz,,,,akhirnya kau datang juga”, teriak Andes melambaikan tangannya menyapa Naz yang baru terlihat, Naz pun langsung menghampiri mereka dan berpelukan bagaikan grup teletubies yang tengah berhasil melaksanakan misinya.


“Gue kangen banget sama kalian,, kecuali sama lo Ra”, ucap Naz setelah melepaskan pelukannya, kemudian Andes dan Ruby memberikan oleh- oleh pada Kiara dan Naz, tentunya mereka juga saling bertukar oleh- oleh.


“Gue juga gak kangen sama lo oneng,, bosen malahan ketemu mulu”, Kiara tak mau kalah.


“ Eh, ko tumbenan lo datangnya gak sepagi biasanya Naz, apa karena udah jadi seniorita ya sekarang?, terus kenapa tadi datang- datang muka lo asem gitu?”, tanya Ruby yang merasa heran.


“Tadi ada sedikit perdebatan pas mau berangkat, sangat menyebalkan tahu gak”, ucapnya kesal.


“Kenapa,,,?? Lo bertengkar sama Bunda atau sama Kak Dandy,, kalo sama Ayah mah gak mungkin dong, beliau itu kan sekutu berat lo?”, ucap Ruby.


“Bukan,,, gue tuh sebel sama Bang Evan, dengan seenak jidatnya aja menyabotase Pak Udin, jadi dia deh yang nganterin gue ke sini tadi?”.


“ Wah, kayaknya dia makin gesit deketin lo deh Naz”, Kiara menggoda.


“Hati- hati lohh,, dari sebel bisa jadi demen”, Andes pun ikut menggoda.


“Apaan sih lo jangan ngarang deh, kan kata lo gue harus milih salah satu gak boleh dua- duanya”. ucap Naz kesal.


“Ahaaaa,,, jadi keputusan lo milih Kak Arfin dong, jangan- jangan lo berharapnya yang nganterin lo itu Kak Arfin ya”, Kiara sang sekutu Arfin sotoy.


" Apaan orangnya aja lagi di Surabaya udah beberapa hari ini", ucap Naz keceplosan.


" Cie,,, hafal banget keberadaan sang Pangerannya", Ruby mendapat celah menggoda Naz.


“Eh, ayo kita lihat papan pengumuman, di sana dipampang list pembagian kelas”, Naz malah mengalihkan pembicaraan dengan mengajak ketiga sahabatnya dan merekapun berdesak- desakan untuk melihat list pembagian masing- masing kelas, dan saat dilihat ternyata kali ini Ruby satu kelas bersama Naz yaitu di kelas 2IPA 1, sedangkan Andes 2IPA2, dan Kiara 2IPA3.

__ADS_1


“Yee ye ye,, kita satu kelas Naz”, Ucap Ruby senang sambil jingkrak- jingkrak dan Naz pun sama senangnya.


“Ih,, gue cemburu deh,, gurunya gak adil banget sih,,,”, Andes menggerutu manja sambil menghentakkan kakinya karena kesal.


“Dadah babay,, kita udah gak sekelas lagi Andes anak mami yang manja maximal,, jadi gue gak usah jadi pengawal lo lagi kalo lo digangguin orang, hahahhaa”, Ruby malah mengejek.


“Gak apa- apa lah sekarang kan kelas kita tetanggaan, jadi mau apa- apa gampang karena deket gak kaya dulu pajauh huma”, Naz mencoba melerai kekonyolan kedua sahabatnya, dan tak terasa mereka telah sampai di depan kelas, keempatnya pun memasuki kelas masing- masing dan untuk menempati bangku barunya.


Bel sekolah pun berbunyi dan semua murid beserta guru- guru berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin. Setelah rangkaian pelaksanaan upacara selesai barisan pun dibubarkan dan semua murid memasuki kelas masing- masing diikuti dengan guru, kemudian proses pembelajaran pun dimulai.


Waktu telah menunjukan pukul 10:00 WIB dan tibalah saatnya jam istirahat, stelah guru meninggalkan kelas murid- murid pun mulai bertebaran, ada yang ke perpustakaan, ada yang makan di kelas karena membawa bekal dari rumah, ada yang ke lapangan, ada yang ke masjid sekolah, dan banyak lagi kegiatan lainnya sedangkan tempat yang selalu dipenuhi saat jam istirahat tentunya kantin sekolah, bahkan tak jarang yang membeli jajanan kaki lima yang biasanya sudah nongkrong di depan gedung sekolah di pinggir jalan.


Naz dan ketiga sahabatnya seperti biasa jajan di kantin dan beruntung masih kebagian tempat duduk lalu membagi tugas, Ruby dan Naz seksi pesanan makanan, Andes seksi pesanan minuman sedangkan Kiara seksi keamanan yang menjaga tempat duduk agar tidak diisi murid lain.


Setelah makanan dan minuman terpampang di meja mereka, tanpa menunggu lama mereka langsung makan sambil sesekali berceloteh bercanda saling mengejek.


“Neng, ini pesanan es cendolnya”, seorang pedagang cendol datang mengantarkan pesanan Ruby.


“Makasih ya mang,, “, ucap Ruby sambil tersenyum,,”eh tunggu mang,, ngomong- ngomong suka nerima pesanan untuk acara hajatan gak?”


“Iya neng, cendol elizabet saya ini menerima pesanan untuk hajatan, kalau neng berkenan bisa menghubungi saya”, jawabnya.


“Yasudah saya minta nomor kontaknya yang bisa dihubungi ya”, Ucap Ruby lalu merogoh sakunya dan ternyata dia lupa membawa ponsel,”Woy,, pinjem ponsel dong bentar, ponsel gue di dalam tas di kelas”, Ruby minta tolong sahabatnya dan Naz lah yang menyodorkan ponsel,” Oke Mang sebutin nomernya ya”, kemudian Ruby mengetik nomor yang disebutkan oleh tukang cendol itu, ”Oh iya, dengan Mang siapa ?”.


“Nama saya Ipin neng”.


“Edaass,, si Mang jauh- jauh dari Malaysia kesini buat dagang cendol?”, Tanya Andes.


“Mamang mah asli dari Tasikmalaya orang Sunda tulen, bukan dari Malaysia atuh”, jawabnya dengan logat Sunda.


“Oh kirain dari Malaysia kembarannya Upin adiknya kak Ros”, ucap Naz sambil cekikikan.


“Gila lo By, bener- bener ganjen lo ya, Mang cendol pun diembat mentang- mentang dia masih muda”, Kiara menggelengkan kepala melihat kelakuan Ruby.


“Lo yang gila Ra, mana ada gue naksir sama si Mang Ipin itu, yayang Akmal gue mau dikemanain?”, Ruby menyangkal dengan ketus.


“Lah itu apaan maksudnya minta nomor dia segala dengan modus pesanan buat hajatan, kan kedua kakak mu udah pada nikah,,hayo ngaku?”, Andes ikutan kepo.


“Wah, apa jangan- jangan lo jadi mau nikah sama sepupu kakak ipar lo yang di Surabaya itu ya”, Naz pun ikut menerka- nerka.


“Astaga naga,, kalian semua itu gak ada yang waras satu pun, dan lo Naz, mana ada gue mau nikah sekarang aja baru kelas 2 SMA,, helloh apa kata tetangga ,,,”, Ruby langsung sewot.


“Terus lo mau pesan cendol buat hajatan apa coba?”, tanya Kiara.


“Itu kan Kakak gue mau ngadain acara tujuh bulanan, dan dia pengen ada minuman es cendol di menu nya, gitu loh sodara- sodara”, Ruby menjelaskan.


“Ohh,, gitu toh”, Naz, Andes dan Kiara menjawab serentak.


“Yuhuuu,,,oh iya Naz nih ponsel lo, thanks ya,,gue udah kirim nomor Mang Ipin itu ke nomor gue”, Ruby mengembalikan ponsel Naz.


Mereka pun telah selesai melahap habis jajanannya, kemudian bergegas kembali ke kelas karena jam istirahat sudah hampir habis, saat mereka tengah berjalan ada suara yang memanggil dari arah belakang mereka.


“Rheanazwa…”, suara teriakan itu menghentikan langkah empat sekawan itu lalu menoleh ke asal suara tersebut, kemudian balik kanan, ”Rheanazwa tunggu, ibu ada perlu sama kamu”, ucapnya menghampiri Naz dan ketiga sahabatnya dan mereka pun menyalami gurunya itu.


“Iya Bu, ada yang bisa saya bantu”, Ucap Naz dengan sopan.


“Itu loh omongan ibu tempo hari saat ibu meminta nomor ponsel kakak kamu, masih inget gak? Ibu serius itu gak main- main”, Ucapnya to the poin.


“Kakak saya yang mana Bu?”, Tanya Naz heran.

__ADS_1


“Itu yang ngambilin raport kamu, yang ganteng itu loh, siapa namanya itu Pin Pin gitu namanya aduh lupa”, Ucapnya sambil mengingat- ingat sebuah nama.


Naz yang mendengar ucapan Bu Riyanti langsung membulatkan matanya karena terkejut lalu raut wajahnya berubah menjadi kesal sedangkan ketiga sahabatnya membekap mulut masing- masing terlihat menahan tawa. Tiba- tiba terlintas sesuatu di pikirannya saat melihat ponsel di genggamannya. “Oh iya Bu, kakak saya ada tiga laki- laki semua,,nomer siapa tadi namanya Bu?”.


“Siapa ya namanya tuh Pin Pin gitu belakangnya, aduh Ibu lupa”, ucap Bu Yanti ragu- ragu.


“Bang Ipin maksudnya”, Naz malah balik bertanya.


“Nah iya,,itu kayaknya deh”, Bu Yanti mengiyakan.


“Oh iya iya, jadi Ibu minta nomor Bang Ipin?”, Naz malah kembali bertanya.


“Iya, boleh kan?”, Bu Yanti berharap.


“Iya boleh,, nomor Bang Ipin kan Bu?”,Naz kembali bertanya untuk memastikan.


“Iya nomor Bang Ipin”, Bu yanti menjawab dengan yakin dan Naz pun memberikan nomer yang ia sebutkan dengan melihatnya dari ponselnya. ”Terimakasih banyak Rheanazwa cantik, ibu permisi dulu ya”, setelah mendapat yang diinginkannya Bu Yanti pun pamit undur diri.


Sedangkan ketiga sahabat Naz yang sudah tidak kuat sedari tadi menahan tawa akhirnya tertawa terbahak- bahak melihat kelakuan Naz setelah Bu Yanti sudah tak terlihat lagi.


“Anjayy,, gila lo Naz,, hahahhaa”, ucap Kiara sambil memegang perutnya sambil tertawa.


“Gue suka gaya lo Naz,, hahhaha”, Ruby pun berkomentar di sela- sela tertawanya.


“Keren sekali,, ternyata takut juga kamu ya kalo kak Arfin di embat orang”, Andes apalagi paling heboh komentarnya.


“Hahaha,, Rheanazwa dilawan”, Naz membanggakan diri sendiri, ”Udah- udah yuk ah kita masuk ke kelas”, Ajaknya.


Jam istirahat pun telah usai dan semua murid yang berada di luar kelas dan bertebaran dimana- mana segera memasuki kelas masing- masing dan melanjutkan mata pelajaran selanjutnya. Setelah dua jam pelajaran berakhir, kemudian mata pelajaran pun berganti begitu pula dengan pengajarnya, ya seperti diketahui untuk guru pengajar di SMP dan SMA setiap guru memegang satu mata pelajaran.


Kali ini di kelas 2IPA1 yakni tempat Naz dan Ruby berada, mata pelajaran terakhirnya yakni pelajaran Kesenian dan ada yang berbeda kali ini, Guru nya memboyong murid kelas 2IPA1 menuju ruang musik. Mereka pun memasuki ruang musik dan duduk di kursi yang tersedia di sana. Di ruang musik ini tempatnya kedap suara yang pastinya ber-AC ya, di sana terdapat beberapa alat musik tradisional dan modern. Gurunya pun menjelaskan mengenai pengertian seni musik dan macam- macamnya, sampai menjelaskan beberapa alat musik modern dan alat musik tradisional. Kemudian sang Guru memberikan tugas kepada muridnya untuk menuliskan nama- nama alat musik tradisional beserta daerah asalnya yang ada di Indonesia, dan harus dikumpulkan sebelum jam pelajaran selesai.


Saat Naz hampir selesai mengerjakannya perutnya terasa mulas, entah karena makan jajanan yang pedas atau karena kualat sudah mengerjai Bu Yanti, “ Bu, saya boleh izin ke kamar kecil”, ucapnya sambil mengacungkan tangan.


“Silahkan, jagan lama- lama ya, sebentar lagi jam pelajaran selesai”, Bu Guru pun mengizinkan Naz, dan ia pun segera keluar dari ruang musik itu sambil membawa buku dan bolpoin nya karena tugasnya belum selesai. Naz berlari agar segera sampai ke toilet, dan sesampainya di sana ia langsung masuk, didalam Naz duduk sambil mengerjakan tugas. Naz memang gokiel.


Setelah beberapa saat Naz keluar dari toilet, “Lega rasanya,,, urusan beres tugas pun beres, kau memang jenius Naz”, ucapnya membanggakan diri sendiri. Naz berjalan menuju kelasnya, saat sampai di sana, teman- temannya sudah membawa tas dan langsung menghampiri, “ Hai, kok kalian sudah mau pulang? Bu Tika mana?”, tanyanya heran.


“Lo amnesia ya kelamaan di toilet, kan Bu Tika di ruang musik, yang sudah menyelesaikan tugas dan menyerahkannya pada Bu Tika diperbolehkan kembali ke kelas, lagian tadi bel pulang sekolah udah bunyi kali”, Ruby yang sudah bersiap pulang menjawab pertanyaan Naz.


“Astaga,, gue lupa kalo tadi kita di ruang musik”, Naz menepuk jidatnya lalu langsung balik kanan dan bergegas menuju ruang musik.


“Naz,,, gue pulang duluan ya,, Kakak gue minta dibeliin mie ayam soalnya”, Ruby berteriak dan kemudian ia bergegas pulang.


Karena bel tanda pulang sekolah telah dibunyikan semua kelas pun dibubarkan, murid- murid pun beriringan berjalan menuju pintu gerbang, dan adapun yang menuju ke tempat parkiran kendaraan bagi yang membawa kendaraan tentunya untuk pulang ke rumah masing- masing.


Siang telah berganti sore, namun cuaca masih nampak cerah berbeda dengan apa yang di rasakan Bunda yang nampak berawan gelap bermuram durja sambil mondar- mandir memegang ponsel di teras rumahnya sesekali melirik ke pintu gerbang, “Kemana dia, sudah ashar begini belum juga pulang, bahkan tidak mengabari sama sekali”, ucapnya kesal, dan tiba- tiba ada terdengar ada suara mobil berhenti di depa gerbang kemudian tak lama setelah itu ada yang membuka pintu gerbang dan berjalan menghampiri Bunda. “Arfin, kamu tuh kalau mau pergi ngajak Naz bilang dong sama Bunda”, ucap Bunda dengan nada ketus sambil berkecak pinggang, sedangkan Arfin merasa terkejut baru saja tiba sudah kena semprot.


“Pergi sama Naz? Enggak kok Bunda”, jawabnya dan merasa heran.” Aku baru saja sampai dari Surabaya dan langsung kesini, memangnya Naz gak ada Bunda?”, Arfin malah balik bertanya.


“Hah,,, terus Naz kemana atuh, dari tadi belum pulang dan susah dihubungi,,aduh masa iya Naz hilang,,Ayaaahhh,,,”, Bunda berteriak karena panik.


---------- TBC ----------


**********************


Naz kamu teh kemana atuh,,, hemmm... ulah siapa ini yang suka muncul tiba-tiba...


Happy Reading😉🥰

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu😉😍


__ADS_2