Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Papa.....


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak Naz menemukan beberapa bukti yang menunjukan bahwa Evan merupakan Anas yang selama ini ia nantikan, namun ia selalu mencoba menghindari bertemu dengannya dan belum bisa menerimanya entah karena masih belum merasa yakin atau kah karena ada pria lain yang sekarang telah mengisi kekosongan hatinya, jika Evan menelpon ia akan mengangkatnya tapi hanya ngobrol sebentar untuk saling bertukar kabar saja basa- basi, jika mengirim pesan Naz hanya akan membalas dengan singkat saja, masih untung dibalas juga ya.


Lain halnya sikapnya terhadap Arfin justru berbanding terbalik, mereka malah semakin dekat walaupun sempat dua hari Arfin enggan menghubunginya karena merasa kesal, Naz yang saat itu berjanji akan menjenguknya dan mengantar kepulangannya dari rumah sakit tidak jadi dengan alasan malu bertemu orang tua Arfin karena ia yang menyebabkan Arfin sakit. Walaupun sudah seminggu tidak bertemu karena kesibukan Arfin di kantor, mereka selalu berkomunikasi. Gregetan ih kapan berani menyatakannya sih, euh.


Pagi ini Naz sudah berdandan rapi karena sudah janjian dengan Kiara akan berkunjung ke teras belajar untuk bersilaturahmi dengan anak- anak jalanan yang sudah mereka rindukan. Karena rumah mereka berlawanan arah, jadi mereka janjian bertemu di TKP saja, seperti biasa Naz diantar oleh Pak Udin sedangkan Kiara menunggangi motor sporty kesayangannya. Saat diperjalanan Naz mendapatkan pesan dari Arfin.


Kak Arfin


“Neng, siang ini ada acara gak?”


Naz


“Apaan sih nung nang neng neng ih, geli tau dengarnya 😒”


Kak Arfin


“Gadis Sunda kan dipanggilnya Neng”


“Itu kan tulisan berarti di baca, bukan di dengar 😜”


“Harusnya geli deh bacanya 😁”


Naz


“Iya iya deh Pak Guru 🙄"


Kak Arfin


“Gimana, ada acara gak?”


Naz


“Kalo siang gak tahu sih,,”


“Sekarang lagi on the way teras belajar kangen sama anak-anak udah lama gak ketemu”


Kak Arfin


“Oh jadi sama aku gak kangen nih?”


Naz


“enggak tuh 😝”


“orang tiap malam nongol di video call”


Kak Arfin


“Kan beda rasanya Naz”


Naz


“Kalo video call rasa strawberry”


“Kalau ketemu rasa melon gitu maksudnya? 😂”


Kak Arfin


“Nanti siang aku jemput ke teras belajar ya, kita makan siang bareng”


“Gak ada penolakan”


Naz


“Oke, tapi di traktir ya sepuasnya 😁”


Kak Arfin


“Iya, nanti aku kasbon dulu ke kantor”

__ADS_1


Naz


“Uwuw segitunya 😪”


Kak Arfin


“Kamu kan makannya banyak Naz, jadi harus nebelin dulu dompet 😂”


Naz


“Iya iya, ntar sama restorannya borong sekalian”


“Biar Kak Arfin bangkrut 😂“


Kak Arfin


“😂😂🤣🤣”


Saat Naz mengetik balasan chat tiba- tiba ada panggilan telepon dari Elsa dan langsung mengangkatnya , “Hallo assalamu’alaikum Elsa, gimana kabarnya?”.


“Wa’alaikum salam Kak, kabarku baik, tapi,,,tapi Eris masuk rumah sakit Kak”, jawabnya dengan nada sedih.


“Apa.. di rumah sakit mana?”, Naz terkejut mendengarnya.


“Di rumah sakit yang dulu Eris dirawat, Kak", Jawabnya.


“Yasudah, Kakak segera ke sana ya sekarang, Assalamu’alaikum”, Naz lalu menutup sambungan teleponnya setelah Elsa menjawab salamnya, "Pak kita gak jadi ke teras belajar, kita ke rumah sakit ”, Naz meminta Pak Udin untuk mengganti arah tujuannya dan ia pun mengirim pesan pada Kiara kalau dia tidak jadi ke teras belajar karena Eris sakit. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah sakit tujuan, Naz segera turun dan berlari menuju ruang UGD rumah sakit tersebut.


“Ibu,, Elsa,, gimana keadaan Eris?”. Naz menghampiri Ibu Mira dan Naz yang tengah berpelukan.


“Naz, dokter bilang penyakit jantung Eris sudah kronis harus segera dioperasi, hiks hiks”, Bu Mira menjelaskan kondisi Eris diiringi isak tangis.


“Ya Allah,,, Eris,, Bu, kalau begitu minta dokter untuk segera melakukan tindakan operasi”, Naz memberi saran.


“Tapi, biayanya sangat besar Naz, Ibu gak sanggup bayar hiks hiks”, Bu Mira sangat sedih dan hanya bisa menangisi ketidakberdayaannya.


“Bu, ibu tanda tangan saja, soal biaya biar aku yang urus, kasihan Eris Bu, dia sangat menderita”, Naz memegang tangan Bu Mira.


“Bu ini darurat, sekarang yang terpenting Eris bisa sembuh, tolong Bu aku mohon”, Naz terus memaksa.


“Iya Bu, kasihan adek”, Elsa pun ikut bicara.


Dan akhirnya setelah dibujuk Bu Mira bersedia menerima bantuan dari Naz, mereka pun segera ke tempat pendaftaran untuk mendaftarkan tindakan operasi Eris, di sana dijelaskan segala macam prosedur yang akan dilakukan lalu mengenai persetujuan, tindakan operasi ,perawatan dan rincian biaya . Setelah membaca rincian Bu Mira pun menandatangani surat pendaftaran dan surat persetujuannya. Sedangkan Naz menjauh sebentar untuk menelpon seseorang, kemudian ia pun kembali ke pendaftaran dan membayar uang muka ke kasier, dan operasi pun dijadwalkan.


Eris melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan sebelum tindakan operasi lalu dibawa ke ruang perawatan sambil menunggu karena operasinya dijadwalkan empat jam lagi, ia sudah dalam keadaan lemah dengan infus di tangannya, di hidungnya dipasang selang oksigen, dan di dadanya dipasang alat pendeteksi detak jantung. Naz , Elsa dan Bu Mira nampak sedih sekali melihat keadaan bocah yang masih berusia 5 tahun itu terbaring lemah tak berdaya, mereka pun duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu karena Naz mengambil kelas VIP. Kemudian Kiara datang setelah sebelumnya menerima pesan dari Naz dan menanyakan alamat rumah sakit tempat Eris dirawat.


Beberapa saat kemudian perawat membawa Eris ke ruang persiapan operasi diikuti oleh Bu Mira Naz dan Kiara, sedangkan Elsa ditinggal di ruangan. Naz terus menenangkan Bu Mira yang nampak tegang dan takut serta terus menangis, mereka bertiga pun menunggu di depan pintu ruang operasi dan duduk di kursi yang disediakan di sana.


“Bu yang tenang ya, kita berdoa sama Allah supaya Eris baik- baik saja”, Naz memegang tangan Bu Mira dan menenangkannya.


“Ini semua salah Ibu, Naz,,,,, karena dosa- dosa ibu di masa lalu, Eris yang harus menanggung semuanya, ini semua gara- gara Ibu,,, hiks hiks”, Bu Mira terus menyalahkan dirinya sendiri.


“Bu, udah Bu,,, Ibu harus tenang jangan seperti ini ,,yakinlah Eris akan baik- baik saja dia pasti sembuh”, Naz terus meyakinkannya.


“Sebenarnya dokter sudah menyarankan operasi sejak dua bulan yang lalu saat Eris dirawat, tapi ibu tidak sanggup membayar biaya operasinya dan memilih berobat jalan, dan sekarang penyakit jantungnya sudah semakin parah, hiks hiks hiks,,,”, Bu Mira menceritakan hal yang ia sembunyikan dari Naz.


“Astagfirullah Ibu,, kenapa gak pernah bilang sama aku”, Naz kaget mendengar hal itu.


“Ibu sudah sangat malu terus merepotkan mu dan keluargamu, sedangkan ibu sudah sangat jahat sama kamu Naz, tapi kamu selalu baik sama kami, ibu malu ibu sangat malu, maafkan ibu Naz,, maafkan ibu”, Bu Mira bangkit dari duduknya dan berjongkok dihadapan Naz untuk meminta maaf, tapi Naz membangunkan Bu Mira dan memeluknya.


Naz terus menenangkan Bu Mira yang perlahan mulai menghentikan tangisannya, dan mereka duduk bersebelahan menunggu jalannya operasi.


Satu jam sudah berlalu sesekali Bu Mira berjalan mondar- mandir sambil melihat ke pintu ruang operasi yang diatasnya ada lampu merah menyala, kemudian duduk kembali dengan gelisah, sedangkan Naz nampak membacakan doa- doa dengan memelankan suaranya dan Kiara tengah memainkan ponselnya.


Ting Ting ,,drttt drttt,,, terdengar suara ponsel dan bergetar pula dari dalam tas Naz, ia pun mengambil dan membukanya.


Kak Arfin


“Naz, kamu dimana?”

__ADS_1


“Aku sudah di teras belajar”


“Kok gak ada siapa- siapa?”


Naz


“Maaf Kak, aku gak jadi ke sana, tadi Elsa menelepon kalau Eris masuk rumah sakit dan sekarang sedang dioperasi”


Kak Arfin


“Di rumah sakit mana?”


Naz


“Rumah sakit yang dulu Eris sempat dirawat Kak”.


Setelah menunggu beberapa lama terlihat lampu di atas pintu ruang operasi padam, kemudian ada seseorang yang memakai pakaian steril khas pelaksana operasi yang merupakan dokter yang menangani operasi Eris.


“Keluarga atas nama pasien anak, Eris”, Dokter itu mengeluarkan suara bariton nya.


Naz dan Bu Mira menghampiri, “Saya Dok,, saya ibunya Eris”, Bu Mira menjawab sambil menepuk dadanya pelan.


“Bu, mohon maaf sekali, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain, putra ibu, Eris tidak bisa bertahan dan sudah meninggal dunia”, Ucapnya sendu.


Bu Mira sangat syock mendengarnya ia tidak bergerak hanya diam mematung tanpa berbicara satu kata pun.


Naz menghampiri dokter dan memegang kedua lengannya “Dokter, dokter bohong kan ? adik saya Eris pasti baik- baik saja kan di dalam?”, Naz terus menggoyang- goyangkan lengan dokter itu dengan air mata yang terus bercucuran,”Dokter tolong katakan kalau itu gak bener Dok, Eris baik- baik saja kan Dok , Eris baik- baik saja“.


“Naz udah Naz, yang sabar, ini semua sudah takdir, yang ikhlas Naz”, Kiara mencoba menenangkan Naz dan melepaskan tangannya dari lengan dokter.


“Mohon maaf sekali lagi, kami tidak berhasil menyelamatkan nyawanya, tolong bersabar, ini sudah menjadi takdir dari yang maha Kuasa”.


“Tidaaaakkkkk,,,Eris,, jangan tinggalkan Ibu,, maafkan ibu Nak “, Bu Mira langsung menjatuhkan dirinya ke lantai,”Huaaaaa huaaaaa,,,Eris jangan tinggalkan Ibu nak,,, huaaa huaaaa”, Bu Mira bersimpuh di lantai, Naz kemudian menghampirinya dan memeluknya sambil menangis.


“Bu Mira, Naz, ayo bangun,, tenangkan diri kalian”, Kira mencoba menenangkan keduanya yang masih menangis, dan tiba- tiba Bu Mira pingsan,, Mereka pun meminta tolong perawat untuk menolong Bu Mira, kemudian Bu Mira dinaikan ke kursi roda dan dibawa ke UGD ditemani Kiara, sedangkan Naz masih di depan ruang operasi menunggu jenazah Eris keluar dari ruang operasi. Naz duduk di kursi tunggu sambil tertunduk menangis,”Eris,,,,,”, Lirihnya.


“Naz,,,”, Tiba- tiba ada yang memegang pundak Naz.


“Kak Arfin,,,”, Naz langsung memeluknya,,”Huaaaaa,,,huaaa,, Eris udah gak ada Kak,, Eris udah meninggal,,,huaaaaa?”, Naz menangis di pelukan Arfin.


“Yang sabar Naz, jangan seperti ini, ikhlaskan Eris, agar dia bisa tenang yaaa, sudah- sudah”, Arfin menenangkan Naz dan mengusap- usap kepalanya.


Naz terus menangis di pelukan Arfin kemudian ada seorang perawat yang mengatakan bahwa jenazah Eris sudah di ruang pemulihan pasca operasi dan Naz pun diperbolehkan masuk, mereka pun masuk dan menemui Eris untuk yang terakhir kalinya, Naz melangkah gontai sambil dirangkul Arfin mendekati jenazah Eris yang sudah ditutup kain putih, perlahan Naz membuka kain yang menutupi wajahnya Eris, “Eris,,hiks hiks hiks”, Naz yang hendak memeluk Eris dicegah oleh Arfin.


“Naz, jangan meneteskan air mata pada jenazah,, jika ingin memeluknya hapus dulu air matamu”, Ucap Arfin pelan. Kemudian Naz menghapus air matanya dan memeluk Eris serta menciumnya untuk yang terakhir kalinya, dan menutupkan kain putihnya kembali. “Sudah Naz,,, jangan menangis lagi,,ikhlaskan dia, yakinlah ini jalan terbaik yang diberikan Allah untuk Eris, dan sekarang ia tidak merasakan sakit lagi, jangan menangis lagi, biarkan dia pergi dengan tenang”, Arfin mengelus kepala Naz dan ia pun mengangguk.


Pihak rumah sakit kemudian mengurusi jenazah Eris untuk dimandikan serta dikafani, sedangkan Naz dan Arfin mengurus administrasi dan mengurusi untuk kepulangan jenazah ke rumah duka, lalu mereka kembali ke ruang rawat inap dimana Naz meninggalkan Elsa sendirian di sana, Elsa nampak sedang tidur di sofa. Naz membangunkannya perlahan dan memberitahukan bahwa Eris sudah tiada sedangkan Bu Mira masih pingsan di ruang UGD, Elsa pun menangis histeris dan ditenangkan oleh Naz, setelah tenang Naz meminta Elsa menghubungi tetangga dan sanak saudaranya untuk memberi tahukan berita duka ini.


Setelah semuanya selesai, jenazah dibawa pulang ke rumah duka dengan ambulan, sedangkan Naz, Elsa ,dan Bu Mira yang sudah siuman namun masih syok mengikuti menggunakan mobil Arfin, dan Kiara tentunya menyusul menaiki motornya. Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh warga sekitar beserta Pak RT dan seorang Ustad, kemudian jenazah di shalatkan di dalam rumah oleh warga dipimpin Pak Ustad. Para pelayat dan sanak saudara dekat pun mulai berdatangan termasuk dari keluarga Naz, setelah persiapan pemakaman usai Jenazah dibawa menuju ke tempat pemakaman dengan menggunakan keranda diiringi keluarga dan tetangga yang melayat.


Naz dan Elsa terus membopong Bu Mira yang terus menangis berjalan menuju pemakaman, sesampainya di sana jenazah pun dimasukan ke liang lahat dan Bu Mira kembali menangis histeris, “Eris,,,, maafkan ibu Nak,, maafkan ibu,,huaaaaa”.


“Mir, sudah Mir,,yang ikhlas, supaya Eris bisa pergi dengan tenang”, Kakak perempuannya Bu Mira mencoba menenangkan dan merangkulnya, sedangkan Naz terus memeluk Elsa yang sama- sama menangis dan sambil terus menghapus air matanya.


Pemakaman pun selesai dan di akhiri doa bersama yang dipimpin oleh Pak Ustad setempat, para pelayat berpamitan satu persatu, dan kini tinggal Bu Mira beserta kakaknya, Naz, Kiara, Elsa, Dandy, Bunda, Ayah dan Arfin yang ada di pemakaman. Mereka pun membacakan surat Yaasin bersama- sama untuk mendoakan almarhum. Seusai itu mereka pun berdiri hendak meninggalkan peristirahatan terakhir Eris, tiba-tiba datang seseorang memakai stelan jas hitam dan berkacamata hitam pula dengan membawa buket bunga menghampiri,


“Saya turut berduka cita atas meninggalnya putramu, Mira”, ucapnya sambil membuka kacamata dan semua orang memandang ke arah suara tersebut.


“Papa…..”, Ucap Naz.


--------------- TBC ---------------


**********************************


Mari kita buka sedikit demi sedikit siapa orang tua Naz sebenarnya,,,,,


Bonus Up untuk kaliaan reader tercintaahh😍😘


Happy Reading 😉🥰

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu,😉


like, komen, rate bintang 5 dan vote.... 😉


__ADS_2