Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Awas Ada Sule... Eh... Ada Penyusup !!


__ADS_3

Naz yang tengah berkunjung ke rumah Bundanya dengan diantarkan oleh Hardi sesuai permintaan suaminya, kembali keceplosan saat Bunda membicarakan kekonyolan Arsen yang ngidam nya aneh- aneh.


“Hahaha,, ngidam yang aneh,,, rasain tuh Kak Arsen kena karma akibat perbuatan bejatnya”, umpat Naz.


Bunda tiba- tiba berhenti tertawa mendengar perkataan Naz, “Perbuatan bejat apa maksud kamu, Dek?”, tanya beliau dengan raut wajah heran dan kaget.


Naz langsung membekap mulutnya, “Oh Emji,,,, kenapa aku bisa keceplosan lagi yassalam,,,,”, gumamnya dalam hati.


“Eng,,, eng,,, itu maksudnya Bunda,, eng,, kan Kak Arsen sampai berbuat sejauh itu hingga membuat Raline hamil gitu,, kan harusnya kalau gituan harus udah nikah kan, Bunda,, dia malah gak bisa nahan diri,,, eng,,, aku salah ngomong Bunda,, harusnya ngomong jahat tadi tuh kok jadi bejat ya, haduh ini bibir kok aneh ya,,, hehhehee”, Naz menjawab dengan gelagapan.


Bunda kembali merasa sedih mengingat hal itu, beliau menghela nafas panjang, “Bunda juga sangat menyesalkan kenapa hal ini teh bisa terjadi, tapi ya mau gimana lagi nasi sudah menjadi bubur, semoga untuk ke depannya teh Arsen bisa memperbaiki diri dan sikapnya. Bunda mah hanya bisa mendoakan supaya dia bisa menjadi imam yang baik bagi istri dan anaknya kelak”, Bunda nampak sudah menerima apa yang menimpa putranya itu, “Oh iya,, kamu teh mau nginep kan di sini?”.tanya beliau.


“Enggak Bunda,,, nanti saja kalau suamiku sudah datang jadi bisa nginep bareng dia di sini nya”. Naz menolak dan memberi alasan.


“Pasti karena Arsen ya?”, tebak Bunda..


“Heehehehe”, Naz hanya tersenyum canggung.


“Ayah mu sudah cerita kalau kamu dan Arfin sudah tahu tentang Arsen yang mencintai mu sampai Arfin memukul Arsen saat Bunda sakit dulu, karena Bunda melihat wajah Arsen babak belur saat itu,,, tapi syukurlah karena hal itu dia jadi sadar dan tak mengharapkan mu lagi,,”, Bunda memberitahukan Naz.


Sedangkan Naz terus mendengarkan perkataan Bunda dengan seksama dan harap- harap cemas sembari memperhatikan raut wajah Bunda. Ada rasa takut di dalam dirinya kalau Bunda mengetahui bahwa Arsen pernah berusaha melecehkannya yang tentunya akan membuat hubungan Bunda dengan kakak nya itu menjadi kembali renggang. Bahkan ia pun terus menjaga dirinya agar tidak keceplosan lagi, namun ia bisa bernafas lega ternyata Bunda tidak membahas soal itu dan artinya bunda belum mengetahuinya.


“Arsen tuh sejak masih kecil anaknya baik dan penurut banget sama Ayah dan Bunda,, dikira mah dia teh bakalan jadi anak bontot kami, tapi pas dulu Bunda hamil lagi, dia teh jadi bandel dan susah diatur kayak cari perhatian gitu dan takut gak disayang lagi sama kami katanya,, Tapi setelah punya adik, dia malah sayang banget sama kamu,, dan salahnya teh setelah dia tahu kamu bukan adik kandungnya dia malah jatuh cinta sama kamu, itu yang membuat kami menjauhkannya dari mu dan mengirimnya untuk tinggal bersama Mimih di Bandung”, ucapan Bunda terhenti sejenak.


“Dia teh sangat marah dan benci pada kami dan mengira kami teh gak sayang sama dia,, makanya dua minggu sekali kami selalu mengunjunginya tanpa sepengetahuan mu, Dek,,, sampai kami suka pura- pura lembur agar kamu gak curiga dan gak ikut kalau kami ke Bandung. Tapi dia kadang suka berontak terus sama kami, dan akhirnya dia teh bisa nurut bahkan gak berani pulang kesini karena kami ngancam akan menjodohkan mu dengan orang lain,, eh sekarang malah kejadian kayak gini”, sesal beliau.


“Maaf Bunda,, semua ini gara- gara aku,,, untuk melindungi ku yang hanya anak angkat, kalian sampai rela harus jauh dari anak kandung sendiri,, pasti itu sangat berat dan menyakitkan karena selama bertahun- tahun Ayah sama Bunda jauh dari Kak Arsen”, Lirih Naz merasa bersalah, bahkan ia pun masih mempersalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa Raline. Padahal bisa saja ia berpikir egois dan picik menganggap hal itu adalah keberuntungan baginya, karena jika malam itu ia yang berada di kamar tersebut, maka ia lah yang akan menjadi korban kebejatan Arsen dan ia tak akan bisa bersatu dengan lelaki yang sangat dicintainya yang kini sudah menjadi suaminya itu.


Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan nya, hidupnya akan benar- benar hancur, pernikahannya tak akan terjadi dan bahkan bisa saja ia sampai mengakhiri hidupnya. Namun sebagai seorang wanita dan sebagai saudara ia pun ikut merasakan penderitaan yang Raline rasakan. Ia hanya bisa berharap semoga Arsen bisa memperbaiki serta menebus kesalahannya dan bisa mencintai Raline juga membahagiakannya.


“Jangan bicara seperti itu atuh, Dek,,, sakit hati Bunda teh kalau ada yang bilang kamu ini anak angkat Bunda,, pokoknya sampai kapan pun kamu tetap anak kandung bagi ayah dan Bunda.. Dan lagi kami melakukan hal itu bukan untuk kebaikan mu atau pun Arsen semata, tapi untuk kebaikan kita semua,, karena walaupun kalian bukan saudara kandung, Ayah dan Papa mu itu kan saudara kandung dan dalam agama kalian adalah muhrim yang dilarang untuk menikah,, makanya dengan berbagai cara kami menjauhkan Arsen dari kamu bahkan memutus komunikasi kalian, yaa walaupun dulu sesekali kalian masih bisa telponan”.


Naz hanya tersenyum mendengar penjelasan dari Bunda nya tersebut


Hardi yang sejak tadi menerima telpon di luar, kini ia masuk ke dalam rumah, kemudian menghampiri Bunda dan Naz yang tengah duduk di ruang tamu.


“Naz,, Mas mau ke kampus,, barusan ada telpon kalau ada meeting dadakan, dan para dosen yang lain sudah pada on the way ke kampus,, kamu mau Mas antar pulang dulu atau mau ikut ke kampus?”, ucapnya memberitahukan dan memberi pilihan.


“Hardi,, Naz mah ditinggal di sini aja,, kasihan atuh kalau dibawa ke kampus mah dia gak ada yang kenal,, lagian Bunda masih kangen sama si bontot ini,,”, cegah Bunda.


“Eng,,, tapi Bunda…”, Hardi nampak mencemaskan sesuatu.


“Sudah berangkat aja sana ke kampus,,, Kalau soal Arfin mah nanti biar Bunda yang ngomong sama dia”, Bunda sudah paham dengan apa yang dikhawatirkan Hardi. Ia pun merasa lega karena ia tahu Bunda pasti akan menjaga Naz dan tidak akan membiarkannya Arsen berbuat macam –macam padanya seperti yang ditakutkan oleh Arfin. Hardi pun berpamitan pada keduanya dan beranjak pergi.


“Bunda,, Ayah kemana?kok aku gak lihat sejak datang tadi?”, tanya Naz.


“Ayah kamu mah pagi- pagi sekali sudah berangkat ke rumah sakit,,, biasalah ada operasi dadakan”


,


Bukk,,, bukkk…


“Suara apa itu, Dek?”, Bu da nampak terkejut.


“Gak tahu Bunda”, Naz menggelengkan kepalanya, kemudian suara itu terdengar lagi. “Kayaknya dari belakang Bunda”, tebak Naz.


“Ayok kita ke sana”, ajak Bunda, kemudian keduanya beranjak pergi ke arah belakang, dan benar saja suara itu berasa dari dapur, ”Arsen,,,!! Kamu teh lagi ngapain atuh,, kenapa ini kedondong nya malah dilempar ke lantai?”, Bunda menggerutu kesal melihat kedondong yang berserakan di lantai yang kemudian dipunguti lagi oleh Arsen satu persatu dan dimasukan pada keranjang plastik tempat buah.


“Kan lebih enak kayak gini sebelum dimakan,, kedondong nya dibanting ke lantai terus dicuci lagi,, baru dimakan,,, biar manis”, Arsen kemudian mencuci kembali kedondong tersebut, sedangkan Naz dan Bunda duduk di meja makan.


“Sejak kapan yang namanya buah kedondong teh rasanya manis?? Biar dibikin manisan juga kecutnya teh masih berasa,, ihh meni bikin ngareuy,,, matak linu kana gigi”, Bunda bergidik ngeri.


Arsen duduk dan menyimpan kedondong di atas meja dan disana sudah ada bubuk cabe yang dicampur garam dalam sebuah piring kecil, “Maksudnya gak se-asam kalau langsung dipotong pakai pisau,, Bunda”, Arsen menunjukan kedondong yang akan di makan olehnya, “Tuh kan kalau udah pecah gini tinggal di gigit”, Arsen menggigit kedondong yang sudah ia cocolkan pada bubuk cabai yang sudah dicampur garam itu.


“Emm,,, enak,,, coba deh, Dek,,,”, Arsen menawarkan pada Naz.


“Gak mau ah takut sakit perut,, “, tolak Naz dengan nada jutek.


“Beneran nih gak mau,,, enak banget loh,,, dulu kan kita suka nyuri kedondong dari pohon punya Pak Cakra itu,,, “, Arsen terus ngabibita.


“Iya,, tapi yang suka makan kedondong itu Raline, bukan aku,,,“, ucapnya mengingatkan Arsen, sedangkan ia hanya mencebikan bibirnya lalu melanjutkan makan kedondong nya.


Naz yang melihat hal itu membuatnya merasa sedih, “Dia kayaknya gak suka kalau aku menyebut nama Raline,,, apa dia masih belum bisa menerima Raline yang sebentar lagi akan menjadi istrinya?? bahkan Raline sekarang sedang mengandung anak nya,,,, semoga saja lambat laun dia bisa membalas perasaan Raline yang begitu besar padanya”, gumam Naz dalam hati.


“Arsen,,, kamu teh mandi dulu gih,, nanti tolong antarkan kebaya ke rumah Oma,, soalnya Bunda mau ke butik sama Naz”, titah Sang Bunda.

__ADS_1


“Oke ,,, “, Arsen yang sudah selesai makan kedondong nya, bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi.


“Bunda,, ngapain kita ke butik?”, Naz merasa heran.


“Ah iya,, Bunda teh lupa belum bilang,, Bunda teh minta orang butik membuatkan kebaya untuk acara pernikahan nanti, tapi cuman Bunda sama anak menantu juga Oma saja, karena waktu yang mepet dan segala serba dadakan, jadi gak sempat untuk membuat banyak pakaian seragaman seperti saat pernikahan mu. Makanya teh anggota keluarga lainnya hanya diberitahu warna tema yang akan digunakan di pernikahan nanti agar mereka memakai pakaian dengan warna yang senada sesuai tema,,, “, Bunda menjelaskan.


“Oh gitu ya,,,”, Naz hanya ber oh ria.


“Iya,,, itu juga untung di butik baru ngeluarin kebaya rancangan baru dan warna nya teh sesuai dengan tema pernikahan Raline dan Arsen,, jadi tinggal bikin dua buah lagi dan semuanya sudah selesai,, Bunda mandi dulu atuh ya,,nanti kita ke butik”, Bunda pamit .


“Iya Bund,,,”.Naz mengangguk.


Naz kini ditinggal sendirian di ruang makan, ia melihat kedondong yang masih di letakan di atas meja, kemudian ia mencoba mengambil satu dan mengikuti cara yang Arsen lakukan tadi, mencocolkan nya ke campuran cabe bubuk dan garam lalu ia menggigitnya.


“Emmm,,, enak juga ternyata,,, pedas asem asin,,,”, gumamnya lalu melanjutkan memakan kedondong itu lagi dan tanpa terasa ia sudah menghabiskan dua buah kedondong, sekarang ia sudah mengambil buah yang ketiga.


“Hei,,, katanya gak suka,,, takut sakit perut,,, kok dimakan juga”, suara Arsen membuat Naz terkejut.


“Cuman nyicipin aja kok”, Naz masih dalam mode jutek.


“Nyicipin kok habis dua buah gitu,,, belum itu yang dipegang,,, Kakak aja cuman habis satu setengah”, Arsen malah mengejek.


“Biarin aja sih ,, gak usah ikut- ikutan Pak Cakra,, pelit”, ketus Naz.


“Tumben suami mu itu gak ngekorin”, Arsen basa-basi.


“Di kan kerja, masa iya tiap hari ngekorin aku terus,, mau dikasih makan apa aku nanti kalau dia bolos kerja mulu,,, Kakak sendiri kenapa gak kerja? Bukannya ikut mengelola bisnis perhotelan Opa?”, Naz malah membalikan pertanyaan.


“Disuruh cuti sama Bunda,,”, Arsen memberitakan.


“Oh,,”, jawab Naz dengan santainya.


“Kok cuman Oh”, Protes Arsen.


“Terus harus ngomong apa?”, ketus Naz


“Kamu jutek banget sih, Dek,, terlihat menggemaskan tahu gak”, Arsen tersenyum lebar.


Mendengar hal itu membuat Naz terkejut, padahal Naz sudah berusaha bersikap normal seperti tidak pernah ada masalah diantara keduanya, tapi saat Arsen berkata seperti itu seolah ia sedang menggoda Naz, “Apa- apaan dia ngomong kayak gitu,,,,?? Mbak Iyem kemana sih,, Bunda lagi, mandinya lama amat,, ini kalau Kak Arsen macam- macam gimana,, nyesel aku gak ikut Mas Hardi tadi,,, gini nih kalau gak nikutin omongan suami, jadi kualat gini kan”.


Naz berdiri dengan deru nafas gusar seolah rasa takut dan rasa sesak menjadi satu, tangannya mendadak gemetar, ia menatap tajam pada Arsen yang melangkah untuk kembali mendekat pada Naz.


“Jangan berani- berani menyentuh ku !!!”, seru Naz dengan mengangkat jari telunjuk yang diarahkan pada Arsen.


“Dek,, kamu salah paham,,, Kakak cuma……”, Arsen belum selesai menjelaskan malah disamber oleh Naz.


“Jangan mendekat …..!!”, Naz berusaha menghentikan langkah Arsen.


“Dek,, Kakak cuma membantu mu membersihkan bubuk cabe yang ada di tepian bibir mu,,,”, Arsen berusaha menjelaskan.


“Apa pun alasannya jangan pernah berani menyentuhku !!”, seru Naz dengan menahan amarah.


Naz mengambil tas nya kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang makan, ia berlari lalu masuk ke kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin dengan kedua tangan yang bertumpu pada wastafel, kemudian memutarkan kran dan mengambil air dari kucuran kran tersebut dan membersihkan dan menggosok dengan tangan mulutnya yang tadi di sentuh oleh Arsen dengan air mata yang terus mengalir.


Bayangan kejadian itu terus muncul di kepalanya, padahal selama ini ia sudah berusaha keras melupakan dan menghapus peristiwa itu dari memorinya, karena ia tak ingin rumah yang selama ini menjadi tempat ternyaman yang menyimpan banyak kenangan indah dan memberinya kebahagian sejak ia lahir, malah menjadi tempat yang tak ingin ia datangi. Cukup dengan ia tak ingin masuk lagi ke kamar nya, ia tak ingin melukai hati orang tuanya jika tidak pernah datang ke rumah mereka lagi.


Naz terus menangis sambil membekap mulutnya agar tak bersuara. Rasa takut seolah terus menghantui dirinya, ia takut Arsen akan berbuat macam- macam lagi padanya, ia takut jika Bunda mengetahui tentang peristiwa itu, ia takut suaminya akan murka jika mengetahui hal ini dan melarangnya untuk mengunjungi orang tua nya lagi. Berbagai pikiran negatif mulai bermunculan di benaknya.


Naz teringat dengan perkataan suaminya tempo hari saat melarangnya pergi sendirian ke rumah Bunda, ‘Jika Aa jauh dari mu, Aa takut tidak bisa menjaga dan melindungi mu’,,, kini ia merasa sendirian dengan ketakutannya dan tak tahu minta perlindungan pada siapa.


“Aa,,,,, “. Lirihnya pelan dengan mata terpejam yang terus mengeluarkan air mata, namun percayalah sebenarnya ia ingin berteriak sekencang mungkin untuk memanggil suaminya itu agar ia segera datang menjemputnya dari tempat yang kini terasa menakutkan baginya. Namun sayang, suaminya tak punya Om Jin yang bisa membantunya berpindah tempat dari Surabaya ke Jakarta hanya dengan sekali petikan jari,, Tring.... dan juga ia tak memiliki kantong ajaib seperti Doraemon yang salah satu alatnya ada pintu kemana saja.


Tiba- tiba ponselnya berdering diiringi dengan getaran yang menandakan ada panggilan masuk. Naz menghapus jejak air mata dengan kedua telapak tangannya, ia segera mengambil ponsel dari dalam tas nya, dan saat dilihat di layar ponsel itu tertera nama suaminya yang menghubunginya lewat sambungan videocall.


Naz tersenyum melihatnya seakan ada ikatan batin entah itu telepati yang terhubung dengan suaminya. Ia menggerakan jemarinya untuk menggeser tombol yang berwarna biru dengan gambar bentuk kamera video di layar ponselnya. Namun gerakannya terhenti saat ia tanpa sengaja melihat penampakan dirinya di cermin yang nampak berantakan karena habis menangis.


“Enggak,,, aku gak bisa bicara dengannya dengan kondisi seperti ini,,, dia akan banyak bertanya dan pasti akan sangat murka jika sampai mengetahui apa yang baru saja terjadi hingga membuat ku menangis sperti ini”, gumam Naz dalam hati, namun ponselnya terus berdering.


“Haduh,,, ini musti gimana,,,? Kalau video call pasti kelihatan habis menangis, kalau telpon biasa juga pasti kedengaran dari susara bindeng ku kalau aku habis menangis”,


Naz kembali bergumam dalan hati dengan perasaan bingung harus berbuat apa, sementara ponselnya terus berdering karena Arfin terus menghubunginya.


Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim suaminya pesan.


Naz

__ADS_1


“Jangan telpon atau VC,, aku lagi di kamar mandi nih”


My Huby


“Masih di rumah Bunda?”


“Cepat pulang ya,, perasaan Aa gak enak”


Naz


“Iya masih,, Bunda mau ngajakin aku ke butik, mau ngambil kebaya untuk dipakai di pernikahan Raline nanti”


My Huby


“Tapi kamu gak kenapa- napa kan, sayang?”


“Sama siapa ke butik nya?”


“Bukan sama dia kan?”


Naz


“Enggak kok,, aku baik- baik saja”


“Ke Butiknya sama Bunda kok,,, kalau dia disuruh Bunda nganterin kebaya ke rumah Oma”


My Huby


“Yasudah hati- hati ya”


“I love you”


😘😘😘😘😘😘


Naz


“Iya,,,”


“I love you too"


😘😘😘😘😘


“Maaf Aa,, aku udah bohong,, aku gak mau kalau kamu mengkhawtirkan ku,, setidaknya aku sekarang sudah merasa tenang setelah kamu menghubungi ku,,, terimakasih selalu ada untukku”, Naz berdialog sendiri sambi memandangi foto suaminya yang terpampang di layar ponselnya.


Naz menghela nafas panjang beberapa kali untuk menenagkan dirinya sendiri, kemudian ia membasuh muka nya dengan air kran, lalu wajahnya dikeringakan menggunakan tisu yang ia ambil dari dalam tas nya. Ia memakai bedak dan memoleskan lipstik di bibirnya.


Setelah benar- benar merasa tenang ia pun keluar dari kamar mandi. Dan ternyata Bunda sudah menunggunya di ruang tengah. Naz bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa- apa dan Bunda pun nampaknya tidak menaruh curiga sama sekali. Mereka pun langsung berangkat ke butik milik Bunda.


Sesampainya di butik, keduanya disambut hangat oleh karyawan disana dan Bunda langsung membawa Naz ke dalam untuk memperlihatkan kebaya yang sudah dibuatkan khusus untuknya. Naz pun dipersilahkan untuk mencobanya terlebih dahulu dan masuk ke ruang ganti.


Setelah urusan keduanya selesai di butik tersebut, Naz membawa kebaya nya yang dimasukan kedalam godie bag. Mereka pun beranjak untuk pulang, namun ditengah perjalanan, Naz mengajak Bunda nya untuk mampir ke kedai dimsum yang berada di dekat sekolahnya, Bunda menuruti kemauan Naz walaupun harus berputar arah, dan mereka makan dimsum di tempat. Naz yang sudah kekenyangan mengajak Bunda nya pulang karena ponselnya mati kehabisan baterai, dan mereka pun pulang kembali ke rumah Bunda.


Sesampainya di rumah, Naz langsung mengeluarkan charger nya lalu masuk ke kamar tamu dan mencharger ponselnya yang sudah kehabisan baterai.


“Dek,,, kok kamu teh malah masuk ke kamar tamu, bukannya ke kamar mu sendiri? Emangnya gak kangen dengan kamar mu itu? Bunda sama ayah aja kalau lagi kangen sama kamu teh suka tidur di kamar kamu, Dek”, tanya Bunda heran.


“Eng,,, ya spontan aja Bunda,, ini kan paling dekat dengan ruang tamu, yasudah masuk ke sini aja,, kalau ke kamar ku kan harus naik tangga dulu, sedangkan mataku sudah mengantuk ini”, Naz memberi alasan.


“Yasudah atuh,,, kamu tidur aja di sini,, Bunda mau ke toko kue dulu ya ngambil pesanan,,, soalnya besok kan keluarga dari Bandung sudah mulai berdatangan”, ucapnya pamit.


“Iya Bund,,,”, Naz mengangguk dan Bunda pun meninggalkan Naz lalu menutup pintu kamar. Naz berbaring di tempat tidur dengan posisi menyamping dengan tas yang disimpan di sebelahnya, dan ia pun tertidur.


***


Ceklek ,,,, terdengar suara pintu terbuka, dan suara itu adalah pintu kamar tamu yang sedang digunakan Naz untuk beristirahat. Derap langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arah tempat tidur dimana Naz tengah tertidur lelap. Ia semakin mendekat dan kini tengah berdiri di samping tempat tidur itu. Ia melihat tas Naz yang sudah berada di ujung ranjang dan hampir tejatuh, ia pun segera mengambilnya kemudian meletakannya di atas meja samping tempat tidur tersebut.


Ia pun kembali menghampiri Naz, ia menatap lekat Naz dengan jarak yang begitu dekat. Tangannya membelai rambut Naz dengan perlahan, kemudian beralih mebelai pipinya. Naz yang merasakan ada sentuhan, menggeliat dan membuka matanya perlahan. Dan saat melihat seseorang tepat di depan wajahnya yang begitu dekat, ia terperanjat langsung membuka matanya lebar- lebar karena ada penyusup yang masuk ke kamarnya.


----------------- TBC -------------------


******************************


Happy Reading,,,,,😉😍🤩


Jangan luva tinggalkan jejakmu..😉

__ADS_1


Tilimikicih,,, aylapyu oll….😘😘😘


__ADS_2