
Seminggu telah berlalu seusai acara pertunangan pasangan dua sejoli Arfin dan Naz yang diselenggarakan di ballroom hotel milik Opa Harfi. Arfin yang kembali ke Surabaya pun benar saja sabtu ini ia tidak pulang lagi ke Jakarta. Namun mereka selalu berkomunikasi baik itu lewat telpon, video call atau pun hanya chat saja jika keduanya tengah sibuk, Arfin sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Naz sibuk dengan sekolahnya belum lagi di tambah bimbel seminggu 2x.
Sabtu ini Arfin ditemani sang Mami pergi ke sebuah rumah sakit untuk melakukan konsultasi dengan dokter yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Mereka masuk ke ruangan khusus untuk penanganan infertilitas yakni Fertility Center, kemudian mereka pun mendaftar. Setelah selesai mengisi formulir, Bu Hinda berbisik pada perawat yang bertugas untuk meminta bantuan jika akan memanggil Arfin yang dipanggil adalah nama Hindayanti, dengan mengatakan kalau anaknya itu takut kabur saat dipanggil untuk periksa karena pernah trauma dengan seorang dokter, yah memang terdengar konyol, tapi beliau terpaksa melakukan hal itu dan tentunya Arfin pun tidak tahu tentang hal itu.
Kini Arfin dan Bu Hinda tengah duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut untuk menunggu giliran periksa. Kebetulan dokternya pun sudah datang dan masuk ke ruangan periksa. Di sana juga terdapat beberapa pasien yang sedang menunggu.
“Mau berobat ya Bu??”, tanya seorang ibu- ibu pada Bu Hinda.
“Iya,,,”, jawabnya sambil tersenyum.
“Ke dokter siapa Bu?”, tanyanya lagi.
“Ke Prof. DR. Tisto Sudibyono ,SpOG(K) M.Kes”,jawab Bu Hinda.
“Oh,,, Iya, sama kalau gitu,,, Ibu atau Mas nya yang mau berobat?”,ibu itu terus bertanya.
“Saya mau konsultasi, dulu sempat operasi karena miom jadi mau konsul lagi,,, karena suami saya lagi sibuk jadi diantar sama anak saya, Bu,, hehe”, ucap Bu Hinda menjelaskan yang bukan sebenarnya.
“Oh,, anaknya,,, kirain adik nya”, ucap ibu itu terkekeh.
“Hehehe,,, orang- orang juga suka bilang begitu”, Bu Hinda merasa tersanjung seolah dia dikatakan masih muda, tapi entah ibu itu mengira Arfin sudah umuran.
“Ibu dari mana?”, tanya ibu itu lagi.
“Saya dari Jakarta, Bu”, jawab Bu Hinda.
“Wah,,, sama kalau begitu,, saya juga dari Jakarta,, ini anak saya sudah menikah 6 tahun masih belum punya keturunan, udah berobat kemana- mana tapi belum berhasil,, eh kata teman saya di sini dokternya bagus dan banyak yang berhasil, jadi kami jauh- jauh datang ke sini”, ibu itu menjelaskan padahal gak ada yang nanya dan gak ada yang mau tahu juga keleus.
“Oh,, gitu ya, Bu… dimana anaknya? Saya pikir ibu sendirian”, ucap Bu Hinda.
“Itu hape menantu saya ketinggalan di mobil dan sekalian mau beli minum katanya,,, tuhh mereka udah kembali”, ucapnya menunjuk ke arah sepasang suami istri yang baru saja masuk, kemudian beliau melambaikan tangannya dan mereka pun menghampiri, “Nah ini anak sama menantu saya”, ucapnya lagi.
“Loh,,, Tante Hinda,, kok Tante ada di sini?”, salah seorang dari pasangan tersebut menyapa dan terkejut dengan kehadiran Bu Hinda, Arfin yang sejak tadi serius dengan ponselnya pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah orang tersebut, kemudian ia pun kembali menunduk.
“Mampoos,,, kenapa musti ketemu sama mereka di sini sih,,, padahal gue udah sengaja berobat di Surabaya biar gak ketemu orang yang kenal", gumam Arfin dalam hati.
“Eh,,, kamu,,, emmmm,,,”, ucap Bu Hinda mengingat- ingat.
“Saya Sinta Tante,, dan ini Dino suami saya,, kami teman sekolah nya Arfin dan Nervan,,”, ucapnya mengingatkan.
“Oh,, iya,, iyaa, Sinta dan Dino,, teman SMA nya Arfin dan Nervan ya", Bu Hinda pun baru ingat.
“Hai Ar,,, lo ada di sini juga”, sapa Dino yang melihat Arfin lalu menghampiri dan duduk disebelahnya.
“Eh,, lo Dino,,, lo ngapain di sini?”, tanya Arfin basa-basi.
“Gue mau konsultasi di sini,, lo tahu kan gue sama Sinta udah lama nikah, tapi belum punya momongan,,, ya kita coba ikhtiar ke sini, katanya dokternya bagus dan banyak yang berhasil,, lo sendiri ngapain di sini?”, Dino balik bertanya.
“Arfin lagi nganter Tante mau konsultasi,,”, Bu Hinda langsung nyamber.
“Loh,,, Tante sakit apa? Sampai ke Fertility Center”, tanya Sinta heran.
“Dulu kan Tante pernah kena miom,,, dan sekarang mau konsultasi ke dokter,,”, ucapnya menjelaskan.
“Oh,, gitu ya Tante,, semoga hasilnya baik- baik saja", ucap Sinta lagi.
"Amiin....", ucap Bu Hinda mengamini.
“Eh,,, denger- denger katanya lo udah bertunangan ya,,, kapan nih rencana nikahnya?”, tanya Dino pada Arfin.
“Iya,,, insha Allah awal Juni,,, nanti lo dateng ya”, jawab Arfin.
“Siap,,, nikahnya di Jakarta kan?”, tanyanya memastikan.
“Iyalah di Jakarta,, masa iya di Afrika,,, calon gue kan orang Jakarta bukan orang negro,,, haha”, Arfi malah bercanda.
“Hahha,,, iya gue juga tahu,, lo mau nikah sama adiknya Dandy kan,,, gile lo si Nadine ngejar- ngejar lo sejak SMA,, ehh ternyata lo sukanya sama anak SMA,,, dasar AADB Lo", ucapnya mengejek.
“Ya namanya juga jodoh,,, gak bisa di tebak,, gue juga gak nyangka,,, apaan tuh AADB?”.
“Aki Aki Doyan Bocah..hahaha ".jawab Dino lalu tertawa.
"Sialan Lo,,,",umpat Arfin.
"Oh iya,,,gue kok gak lihat lo sih waktu di nikahan Dandy? Di nikahan Nervan juga lo gak ada,,, kemana aja lo selama ini? Doyan amat ngilang dari permukaan", Tanya Dino lagi.
“Pasien atas nama Ibu Hindayanti Akbarsyah”, tiba- tiba suster memanggil.
“Eh,, saya sudah dipanggil ,,, permisi yaa,, ", ucap Bu Hinda, lalu menoleh pada Arfin, "ayo Al,,, temenin Mami”,ucapnya lagi.
“Iya Mi,,,,,”,ucap Arfin, “Gue tinggal dulu ya”, ia pun pamit pada temannya, kemudian suster pun mempersilahkan mereka masuk ke ruang periksa, dan mereka pun duduk berhadapan dengan dokter di meja kerjanya.
“Bapak Al Arifin Naufal Akbarsyah,,, di sini Bapak mengalami disfungsi ereksi akibat pernah mengalami kecelakaan 8 tahun yang lalu,,, loh kenapa baru konsultasi sekarang?”, Tanya dokter sambil melihat catatan medisnya Arfin.
“Sebenarnya anak saya ini sudah pernah berobat dan teraphy selama empat bulan pasca kecelakaan 8 tahun yang lalu itu, Dok,, cuman belum membuahkan hasil, jadi tidak pernah melakukan pengobatan lagi, karena sebentar lagi mau menikah jadi anak saya ini mau berobat lagi”, malah Bu Hinda yang menjawab.
“Sebelumnya pengobatan apa saja yang sudah pernah dilakukan?”, tanya dokter.
“Dulu sih disuruh menjaga pola makan agar makan- makanan yang sehat dan bergizi seimbang, rutin berolah raga, istirahat yang cukup dan pemeriksaan rutin seminggu sekali,, Karena belum juga mendapatkan hasil, lalu sempat disuntik injeksi sampai terapi hormon, namun tetap tidak membuahkan hasil, sampai dokter menyarankan untuk operasi untuk menanamkan alat atau mengkonsumsi obat tapi harus disertai hubungan intim,, Namun saat itu anak saya belum menikah makanya ia menolak, dan dokter mengatakan dia tidak akan bisa sembuh,, Makanya anak saya ini menyerah dan tidak mau berobat lagi,,, tapi sekarang karena akan segera menikah makanya dorongan keinginan untuk sembuh sangat besar, Dok”, Bu Hinda menjelaskan panjang lebar.
“Oh iya ,,, Begini ya Bu,, untuk melakukan pengobatan pada penderita disfungsi ereksi ini memang memerlukan beberapa tahapan yang disesuaikan dengan penyebab disfungsi ereksi tersebut. Seperti yang ibu katakan tadi, proses pengobatannya memang seperti itu, tapi dari menjaga pola makan dan hidup sehat hasilnya memang agak lama, bisa sampai bertahun- tahun malah,, Ibu juga mengatakan anak ibu pernah mengalami kecelakaan dan menyebabkannya menderita disfungsi ereksi,, ada kemungkinan saluran pembuluh darah yang tersumbat sehingga aliran darah yang seharusnya mengalir ke daerah sensitive putra anda tidak berjalan lancar dan untuk mengetahui sumbatan nya terjadi di sebelah mananya sebaiknya dilakukan pemeriksaan ultrasonografi, apa sebelumnya sudah pernah?”, tanya dokter.
“Iya sudah pernah, Dok”, jawab Arfin.
“Baiklah, mari kita lihat cek lagi”, Dokter mengajak Arfin untuk diperiksa di tempat tidur pasien dengan melakukan pemeriksaan menggunakan alat ultrasonografi.
Setelah selesai, lalu Arfin diperkenankan duduk kembali di kursi yang sebelumnya ia tempati.
"Dari hasil pemeriksaan barusan, saya lihat tidak ada penyumbatan pembuluh darah, berarti ada penyebab lain, apa anda pernah mengkonsumsi obat- obatan terlarang?”, tanya dokter.
“Tidak pernah , Dok”, jawab Arfin pasti.
“Merokok?”
“Tidak”, Arfin menggelengkan kepala.
“Ada riwayat diabetes dari kelurga anda?”.
“Tidak ada, Dok”.
__ADS_1
“Apa anda pernah mengalami depresi?”.
“Saya pernah mengalami depresi mayor satu tahun yang lalu, Dok ?, jawab Arfin jujur.
“Seberapa parah kecelakaan yang anda alami dulu?”
“Saya sempat mengalami kelumpuhan dan bahkan kaki saya sampai pincang, Dok”.
“Menurut kesimpulan saya, disfungsi ereksi yang anda alami bisa karena faktor psikis, akibat dari kecelakaan yang anda alami, anda terlalu memikirkan kondisi anda dan mengetahui anda terkena disfungsi ereksi ditambah dokter mengatakan anda tidak bisa sembuh sehingga membuat mental anda semakin down sampai membuat anda stres, itu sangat berpengaruh sehingga pengobatan apapun yang anda lakukan akan terhalang. Jadi sebaiknya anda melakukan terapi psikis dan disertai olahraga rutin misalkan dengan yoga sehingga bisa membuat pikiran ada rilex dan menghilangkan stress, pola makan juga harus tetap dijaga”, jelas dokter.
“Oh,, jadi begitu ya Dok… apa tidak bisa diberikan obat gitu dok?”, tanya Bu Hinda.
“Lebih baik dilakukan terapi psikis dengan menemui ahli psikologis, dan melakukan yoga serta menjaga pola makan dulu Bu,,, kalau itu masih belum berhasil , baru saya akan resepkan obat,, jika masih belum berhasil juga bisa dilakukan pompa vakum bahkan sampai operasi penanaman alat , Jadi proses pengobatannya itu memang bertahap, Bu,,, tapi kalau untuk pemberian obat itu sebaiknya setelah anak anda ini menikah,, karena untuk mengetahui reaksi dari obat tersebut terhadap ereksi atau tidaknya pada organ vital putra anda, ya dengan melakukan hubungan intim”, Dokter kembali menjelaskan.
“Tapi,, apakah saya bisa sembuh, Dok?”, tanya Arfin penuh harap.
“Itulah pertanyaan yang bisa menyebabkan anda stress, rasa ketakutan tidak bisa sembuh, itu memang manusiawi sih, tapi kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa, tetap yang menentukan adalah Yang Maha Kuasa, namun kita harus tetap optimis, karena tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan,, tanamkanlah di dalam diri anda bahwa anda bisa sembuh, sehingga akan ada dorongan besar dari diri anda agar berusaha sekuat tenaga berjuang untuk sembuh,, yakinlah”, ucap dokter memberi motivasi.
“Iya , Dok”, ucap Arfin tersenyum.
“Terimakasih, Dok”. Ucap Bu Hinda yang kemudian berdiri dan bersalaman dengan dokternya secara bergantian dengan Arfin, lalu mereka pun keluar dari ruangan tersebut. Beruntung setelah dirinya, Dino dan Sinta masuk, sehingga ia tidak perlu berhadapan lagi dengan kedua teman sekolahnya itu yang pastinya akan mengajaknya terus mengobrol. Setelah menyelesaikan administrasi, mereka pun pulang.
Kini keduanya sudah berada di dalam perjalanan menuju ke rumah Arfin,
“Al,,, ingat kata dokter tadi, kamu jangan stress, jangan banyak pikiran, dan yakinlah bisa sembuh,,, kamu harus semangat,, jika tidak untukmu sendiri, maka semangat lah untuk calon istrimu, Naz”, ucap Bu Hinda menyemangati.
“Iya, Mi…”, jawab Arfi singkat sambil menyetir.
“Pantesan aja tadi Mami tiba- tiba pengen minta ke suster saat kamu dipanggil agar memakai nama Mami,, eh ternyata kita malah ketemu dengan teman sekolah mu,,, dan untunglah Mami punya alasan penyakit Mami yang dulu,,”, ucap beliau lagi.
“Hehe,,, iya,,, makasih ya Mi…”.
“Oh iya Al,,, apa kamu juga mau coba pengobatan alternatif?”, tanya Bu Hinda.
“Alternatif yang kayak gimana Mi?”, Arfin malah balik nanya.
“Itu katanya ada tuh yang suka mengobati impoten namanya Mak Erot kalau gak salah, tapi dengan di urut itu-nya katanya”, Bu Hinda pun menjelaskan.
“Ih,,, gak mau ah Mi,, masa iya ntar punya Al diurut sama emak- emak,, mending sama Naz aja “, Arfin langsung menolak.
“Astaghfirullah Arfin,, kamu itu udah gak waras ya,,, meskipun Naz itu anaknya masih polos dan sudah jadi calon istri kamu,, bukan berarti kamu bisa seenaknya nyuruh dia megang- megang punya kamu ih,,, jangan jadi laki- laki murahan deh kamu tuh,,",Bu Hinda malah ngegas.
“Hahaha,,, ya gak sekarang juga kali Mi,, ya nantilah kalau sudah menikah”, Arfin malah tertawa.
“Oh,, kirain”.
“Al belum segila itu, Mi”, ucapnya sambiI terus melajukan mobilnya.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di rumah Arfin. Mami langsung ke dapur sedangkan Arfin masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan ternyata saat dibuka ia mendapat pesan dari calon istrinya.
My Naz
“Aa,,, konsultasinya udah?”
“Gimana kata dokternya?”
Arfin hanya membaca pesan tersebut tanpa niatan membalasnya, namun ia langsung menghubungi Naz lewat sambungan video call sambil duduk selonjoran di atas tempat tidurnya.
“Hahaha,,,, wa’alaikumsalam calon istriku”, jawab Arfin sambil tertawa.
“Kok ketawa sih?”, tanya Naz heran.
“Abis kamu ngomongnya lucu”, Jawa Arfin.
“Yee,, aku emang lucu dari dulu kali,,,”, Naz ketularan narsis.
“Lagi dimana itu? kok kayaknya ramai gitu?",tanya Arfin
“Lagi di mall”, jawab Naz.
“Bukannya ada jadwal bimbel? Kok malah keluyuran ke mall?”, tanya Arfin heran.
“Bimbelnya nanti jam 2 Aa, aku bukan keluyuran gak jelas kok, abis nyari buku ke Gramedia,, ya sambil nungguin waktu bimbel,, kita main dulu di sini,, lagian kan ini baru setengah satu, dan tempat bimbelnya gak jauh dai sini”, Naz pun melapor.
“Oh,,, gitu,,, terus sama siapa ke sana nya?”, tanya Arfin.
“Biasa sama trio bontot, tapi mereka lagi ke wahana permainan”, jawab Naz.
“Tumben kamu gak ikutan,,, biasanya suka dijajal semua wahana permainan”, tanya Arfin yang kembali merasa heran.
“Enggak ah capek,, mau duduk syantik aja sambil nungguin mereka, lagian kan harus belajar jadi orang dewasa,, soalnya sebentar lagi mau nikah dan bakal jadi seorang istri”.
“Cie,,, yang udah dewasa”, Arfin malah menggoda.
“Iya,,, Gede wadul kasasaha,,, hahaha”, jawab Naz ngasal
“Hah,, apaan tuh artinya?”, tanya Arfin bingung.
“Itu mah plesetan aja dalam bahasa sunda,,, yang artinya banyak bohong ke semua orang”, jelas Naz.
“Ihh,, jangan atuh,, masa kamu jadi pembohong”.
“Bukan gitu,,, maksudnya itu plesetan becandaan doang Aa sayang”, Naz kembali menjelaskan.
“Oh,, kirain,,”.
“Oh iya,, gimana tadi konsultasinya, lancar?”, tanya Naz.
“Iya gitu deh,,,”, jawab Arfin dengan wajah yang agak lesu.
“Kok kayak gak semangat gitu jawabnya? Aa gak kenapa- napa kan?”. tanya Naz khawatir.
“Enggak kok,,, “.
“Terus gimana kata dokternya?”, tanya Naz lagi.
“Ya gitu,, sama aja sih kayak dulu,,, harus menjaga pola makan agar makan makanan yang sehat dan bergizi seimbang, olahraga rutin macam yoga gitu biar sekalian relaxacy pikiran, jangan stress,, malah disarankan terapi psikis”, ucapnya menjelaskan.
“Oh gitu,,, gampang atuh A kalo gitu mah,,, kenapa gak dari dulu?”, Naz malah meremehkan.
__ADS_1
“Justru karena gampang jadi sembuhnya lama,,, kalo gak berhasil juga nantinya disarankan operasi katanya”.
“Hah,,, operasi?? Emang gak bisa kalau minum obat gitu?”.
“Dokter bilang bisa minum obat, tapi sebaiknya setelah menikah,, sekalian terapi nya dibantu istri”.
“Oh,,, yasudah atuh,,, nanti aja kalau kita sudah menikah”.
“Tapi,,,,,”, ucap Arfin.
“Tapi kenapa Aa?”, tanya Naz.
“Tapi,,, gimana kalau nanti setelah menikah pun Aa tetap gak sembuh- sembuh?”, tanyanya dengan harap-harap cemas.
“Ehh,,, jangan ngomong gitu,, baru juga konsul sekali udah putus asa gitu,,, jangan menyerah sebelum berjuang sayang,,, gak ada penyakit yang gak bisa disembuhkan,,, Aa yang yakin aja Aa pasti bisa sembuh, aku selalu mendukung dan mendoakan untuk kesembuhan Aa”, ucap Naz menyemangati.
“Terimakasih sayang…”, ucapnya tersenyum.
“Udah Aa ikutin aja saran dokter,, terus jangan banyak pikiran juga, biar proses penyembuhannya bisa lebih cepat,, jangan lupa berdoa juga”.
“Iya Bu Haji,,,,hehehe”, ucapnya terkekeh, "Kamu tahu gak? Masa Mami nyaranin aku berobat ke alternatif katanya ke Mak Erot terus nantinya dipijat- pijat sama Mak Erot itu”.
“Ihh,,, kok Aa mau sih dipijat sama nenek- nenek,,, emang dipijat apanya?”, tanya Naz penasaran.
“Hahaha,,, gak usah tahu lah,,, kamu gak akan ngerti”, Arfin seolah malu membahasnya.
“Dih,,ngapain ngomong sama aku kalo akunya gak akan ngerti,,, dasar”, ucapnya ketus.
“Hahaha,,, nanti juga ngerti”.
“Oh iya,,, Mama udah dapat WO untuk pernikahan kita nanti,,, terus katanya nanti kita ikut meeting sama pihak WO nya,, terus udah dapat desainer juga buat baju pengantin,, jadi nanti kita ke tempat desainer itu juga,,, kalau untuk seragam keluarga Bunda yang handle”, Naz melapor.
“Wahhh,,, sudah mulai persiapan rupanya….”. ucapnya tersenyum.
“Iya dong,, mereka semangat sekali, kita aja yang mau nikahnya santai aja kayak di pantai,, hahaha”, ucap Naz.
“Hahaha,,, iya bener,,, ",
“Emmm,,, Aa kata Mama nanti tema nya mau warna apa?”, tanya Naz.
“Terserah kamu aja”, jawab Arfin.
“Kalau aku maunya pink silver,, sesuai warna kesukaan aku, terus kalau akad aku pengen pakai adat sunda sama kayak nikahan Teteh Indri waktu di Bandung dan nanti ada upacara adat nya gitu,,, kalau untuk resepsi pengen pakai baju gaun princess ,,uchhh lucunya kayaknya”, ucapnya sambil membayangkan.
“Iya terserah kamu aja”, jawab Arfin.
“Terus nanti kalau ganti baju nya mau berapa kali?”
“Terserah kamu aja”,
“Emm,,, terus nanti kalau foto prewedding nya aku pengen di taman danau, karena di sana tempat yang banyak kenangan untuk kita,,, sebenarnya sih aku pengen akad nikah kita dilangsungkan di tepi danau,,, tapi gak mungkin deh kayaknya,,,nanti berabe,, belum lagi kalau hujan,, jadi yaudah di gedung aja deh biar sekalian resepsi”.
“Iya terserah kamu aja”.
“Emm,, kalau souvernir nya mau apa?? Kalau aku pengennya yang ada ukiran nama kita nya atau ada foto kita nya,, atau yang gimana ya A?”, tanya Naz lagi..
“Iya, terserah kamu aja”, jawab Arfin.
“Iiihhh,,, terserah terserah mulu,, Aa gak kreatif banget sih,,, ngusulin apa gitu,,ngasih masukan gitu,, ini kan pernikahan kita bukan cuman pernikahan aku”, Naz merasa kesal.
“Ehh,,, iya maksudnya Aa itu setuju sama semua usulan kamu”, jawab Arfin merasa kaget dengan keluhan Naz.
“Ya beda atuh setuju sama terserah mah ihh,, kalau setuju berarti mendukung sepenuhnya, kalau terserah mah ngambang antara iya dan tidak,, dan nanti pas pelaksanaannya malah diprotes”, Naz semakin kesal.
“Ya terus Aa harus gimana?”, tanya Arfin bingung.
“Gak tahu ah,,, mikir aja sendiri”, ucap Naz lalu memutuskan sambungan video call-nya karena merasa kesal…. Tut tut tut,,,,
“Loh,, ko dimatiin sih??”, ucapnya bertanya- tanya kemudian Arfin kembali menghubungi Naz , namun tidak diangkat, sampai beberapa kali pun tidak diangkat, setelah 10 kali, ponsel Naz jadi tidak aktif sehingga tidak bisa dihubungi, “Yah,,, dia malah ngambek lagi, mungkin dia lagi PMS kali ya”, Arfin berdialog sendiri.
“Kenapa Al… ?”, tanya Bu Hinda menghampiri dan membuat Arfin terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba.
“Eh ,,Mami ngagetin aja,,, kapan masuknya?”, tanyanya heran.
“Tadi waktu kamu lagi sibuk nelpon berkali- kali,, sampai Mami buka pintu juga kamu gak nyadar,, ada apa?”, Tanya beliau yang kemudian duduk di tempat tidur Arfin.
“Ini,, Naz tiba- tiba ngambek”, ucapnya terus terang.
“Ngambek kenapa? Pasti ada alasannya kan?”, selidik Bu Hinda.
“Iya sih Mi,, tadi dia bahas soal persiapan pernikahan,, terus dia minta pendapat Al, dan Al jawabnya terserah kamu aja tiap dia nanya,, terus dia ngambek langsung nutup sambungan video call-nya,, ehh di hubungi lagi malah gak diangkat- angkat, sampai hape nya gak aktif”, ucapnya menjelaskan.
“Oh,, gitu toh,,, wajar itu kalau menjelang pernikahan emang suka banyak godaan,,, kamu harus pinter– pinter menyikapinya dan harus ekstra sabar karena di sini kamu jauh lebih dewasa dari calon istrimu,, mungkin dia lagi terserang virus Bridezilla” ,Ucap Bu Hinda.
“Hah,, virus Bridezilla,,,?? Virus macam apa itu Mi? Apa itu berbahaya? Ko Al baru denger nama virus macam itu?”, tanya Arfin kaget.
“Bridezilla itu istilah lainnya sindrom pra-nikah, biasanya calon pasangan yang akan menikah merasa pusing, perasaannya sensitif sehingga tingkat emosionalnya meningkat saat menjelang pernikahan, karena tentunya mempersiapkan pernikahan itu bukan hal yang mudah, makanya kalau ada yang bikin kesal pasti akan marah- marah gak karuan seperti Godzilla,,,”, Bu Hinda menjelaskan.
“Oh,, gitu ya Mi,, Al pikir dia lagi PMS makanya ngambek- ngambek gitu,,,”, Arfin mengira- ngira.
“Makanya kamu harus sabar,, kalau dia marah- marah kamu harus bisa meredamnya dengan bersikap lembut, jangan ikut- ikutan tersulut emosi,, kalau dua- duanya terserang bridezilla bisa- bisa batal nanti rencana pernikahan kalian”, Bu Hinda memberi nasehat.
“Iya Mi,, makasih ya Mi”, ucap Arfin tersenyum.
“Hemmmm,,, yasudah sana shalat dulu gih,, terus kita makan siang bareng,, Mami tunggu ya di meja makan”, ucap beliau yang kemudian berdiri dan beranjak pergi meninggalkan kamar Arfin.
“Iya Mi,,,, “, ucapnya lalu bangkit dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi.
------------------- TBC -----------------
*****************************
Sudah mau mulai persiapan pernikahan nih,,,, mulai emoci emoci,,,
sabarr... gantungan lagi dipinjam tetangga,,, nanti siap pasang lagi...🤭✌️
Hapy Reading😉🤩
Jangan luva tinggalkan jejak mu,, like, komen, rate bintang 5, vote , hadiah😉😘🤩
__ADS_1
Tilimikicih,, ayapyu all…😘😘😘