Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Permintaan Ayah


__ADS_3

Tok tok tok,,,,,, “Naz,,, buka jendelanya”, ucap seseorang dari balik jendela kamar tamu yang ditempati oleh Naz.


Naz merasa terkejut mendengar suara yang ia kenali itu, dan ia pun merasa ragu antara membuka jendelanya atau tidak.


Tok tok tok….. “Naz buka dong !”, ucapnya lagi karena ia melihat Naz yang masih terdiam dan hanya menoleh saja ke arah kaca jendela tersebut.


Naz menghela nafas kasar, “Ngapain lagi sih,,, pasti mau ngomong yang mesum- mesum lagi”, Naz menggerutu sambil melangkahkan kakinya berjalan ke arah jendela, kemudian ia menarik slot nya dan membuka jendela kaca kamar itu, “Ada apaan sih,, pakai ngetuk- ngetuk jendela segala,,?? Kan tadi kalian udah pamit”, tanya Naz sambil menggerutu kesal.


“Kunci motor gue ketinggalan,,, tuh di atas tempat tidur lo”, ucap Kiara sambil menunjuk pada kunci yang tergeletak di kasur. “Tolong ambilin ya calon manten”, ucapnya lagi sambil nyengir.


“Yaelah,, lo kan bisa balik lagi ke sini lewat pintu,, ini kok malah lewat jendela sih.. kayak mau ngajak gue kabur tahu gak".


“Abisnya malu sih,, kan kita udah pamitan, masa iya balik lagi,,, udah gitu masih banyak tamu di dalam,,, udah cepetan ambilin kenapa sih,,, gak usah banyak cincong”, Kini Kiara yang menjadi kesal.


“Iya,, iya,,,”, Naz kemudian langsung pergi mengambilkan kunci motor Kiara tersebut, lalu memberikannya pada Kiara, “Nih,,, udah?? gak ada yang ketinggalan lagi kan?”, tanya Naz lagi.


“Thanks,,,, emmm,,, gak ada deh kayaknya”, ucap Kiara yang menerima kunci motornya dari tangan Naz. “Eh,, ada yang lupa Naz,,,”, ucapnya lagi yang baru teringat sesuatu.


“Apa lagi sih??”, tanya Naz kesal.


“Itu,,, emmm,,, jangan lupa siapkan tenaga untuk malam pertama lo nanti, dan biar lo tahu caranya, lo tinggal nonton video blue aja,,, hahhahaa”, ucap nya tertawa lalu langsung ngacir.


“Kiara,,,,,, !!!”, teriak Naz geram lalu menghela nafas kasar, “Dasar punya sahabat otak nya pada koslet semua,,”, gerutu Naz merasa kesal.


Ceklek ,,,, “Dek,, bolehkah Ayah masuk?”, Pak Rizal yang sudah membuka pintu meminta izin untuk masuk.


“Masuk aja Ayah,,, kan pintunya udah dibuka”, ucap Naz terkekeh, kemudian ia berjalan ke dekat meja twalet untuk mengeringkan kembali rambutnya, sedangkan Ayahnya masuk dan duduk di pinggiran tempat tidur.


“Dek,, bisakah kita bicara sebentar?”, tanya Pak Rizal dengan nada lembut.

__ADS_1


“Tentu saja Ayah,,, “, Naz mengurungkan niatnya untuk mengeringkan rambut, kemudian menghampiri beliau dan duduk bersebelahan, namun tubuh mereka saling berhadapan.


“Dek,,, Ayah gak menyangka,,, putri kecil ayah kini sudah beranjak dewasa dan akan segera menikah,,,”, ucap beliau sambil membelai rambut Naz, “Jujur,, sebenarnya ini terasa berat bagi Ayah,,, namun Ayah sadar,, inilah resikonya kalau memiliki anak gadis, cepat atau lambat akan dibawa oleh seorang pria yang menjadi suaminya kelak,,,”, ucapnya kembali dengan berkaca- kaca.


“Ayah….”, Lirih Naz.


Pak Rizal mengulurkan kedua telapak tangannya ke hadapan Naz, “Tangan ini lah yang pertama kali menggendong mu saat mendiang Mira memberikan mu pada kami, dan sejak saat itu kamu sudah menjadi bagian dari hidup Ayah dan Bunda mu. Dengan bangga Ayah memberi mu nama Rheanazwa Eleanoor Harfi yang berarti gadis anggun nan cantik sebagai cahaya penerang dalam keluarga Harfi, terutama dalam kehidupan Ayah dan Bunda..... Kamu memberikan kebahagian pada kami dan menjadi pengobat kesedihan kami disaat kami baru saja kehilangan putri kami dulu. Ayah sangat menyayangi mu melebihi apapun di dunia ini, nak... sampai Ayah pernah berpikir, jika Ayah bisa merubah takdir, maka yang Ayah inginkan adalah kamu menjadi putri kandung ku, yang lahir dari rahim Bunda mu, karena sakit rasanya ada yang mengakuimu sebagai ayah kandung mu walau orang itu adalah kakak ku sendiri. Namun lambat laun Ayah sadar, itu hanyalah masalah biologis saja, karena sampai sampai kapan pun kamu tetap putri Ayah, putri kandung Ayah", ucap beliau sambil mengelus lembut pipi Naz yang sudah dibasahi air mata.


Grepp...


Naz langsung memeluk ayahnya, "Ayah...hiks hiks... aku juga sangat menyayangi Ayah...hiks hiks", tangis nya pun seketika pecah dipelukan sang Ayah.


"Ayah lebih menyayangi mu, dek... terimakasih sayangku... selama 18 tahun ini kamu sudah menghiasi hari- hari kami dengan penuh kebahagian karena memiliki mu, melihat mu tersenyum dan bercanda ria, melihatmu berebut sesuatu dengan kakak mu sampai kamu merengek meminta pembelaan Ayah, bahkan melihat mu sering menjahili kakak- kakak mu,,, Dan itu tidak akan terjadi lagi di setiap harinya, karena mulai besok kamu akan berganti kepemilikan,,, mulai besok imam dalam keluarga mu sudah berganti,,, mulai besok kamu akan dibawa oleh suami mu, nak.", ucap beliau dan tak terasa bulir bening pun jatuh membasahi pipi beliau.


"Jadilah seorang istri yang baik, berbakti dan patuh terhadap suami mu, sama seperti kamu patuh dan berbakti pada kami orang tua mu, Ayah percaya bahwa Arfin adalah lelaki yang tepat untuk menjadi imam mu,,, Ayah yakin dia akan selalu menjaga dan membahagiakan mu sehingga Ayah bisa merelakan mu untuk nya... Ayah hanya bisa mendoakan semoga kalian bahagia dalam menjalankan mahligai rumah tangga,,, semoga sakinah , mawadah, warrahmah, langgeng selamanya", lanjutnya memberi petuah dan mendoakan sang putri sambil terus mengusap- usap kepala Naz.


"Aamiin.... makasih Ayah... hiks hiks... aku akan selalu menyayangi Ayah sampai kapan pun,,, karena mulai besok yang berubah hanyalah status ku yang menjadi seorang istri serta tempat tinggal saja,, tapi sampai kapan pun aku tetaplah anak Ayah sama Bunda,,, hiks hiks...", ucap Naz di sela tangisannya.


"Iya Ayah... aku juga akan selalu merindukan Ayah,,, ", ucap Naz mengangguk sambil berlinang air mata.


Pak Rizal perlahan melepaskan pelukannya, kemudian beliau menghapus jejak air mata yang membasahi kedua pipi Naz, "Dan satu lagi.. kalau Arfin berani menyakiti mu,, langsung laporkan pada Ayah,, walau dia hanya mencubit mu yahhh,,,",,ucap beliau terkekeh disela tangisannya dan membuat keduanya tertawa dengan wajah sembab dan air mata yang sudah mulai berhenti mengalir.


"Ayah sengaja menemui mu kemari karena Ayah tidak ingin melihat tangis kesedihan besok di hari pernikahan mu,,, Ayah hanya ingin melihat rona kebahagiaan yang akan terpancar dari wajah cantik Putri kecil ku ini yang akan dirias bak putri kerajaan di dalam dongeng,,, lagi pula acara tangis sedih nya kan sudah tadi saat sungkeman siraman,,, dan sebaiknya sekarang kamu bersiap,, karena kita akan berangkat ke hotel yang ada di sebelah gedung pernikahan mu",


"Iya Ayah.. semua keperluan dan barang- barang ku sudah disiapkan kok di dalam koper, tapi katanya kebaya sama gaun pengantinnya nanti malam diantarkan ke hotel"


"Oh iya.. putri kecil ku,,,, Ayah mempunyai sebuah permintaan untuk besok,,,"


"Apa itu Ayah??",

__ADS_1


"Emmmm... nanti sajalah Ayah kasih tahu besok pagi deh... sudah sana keringkan lagi rambut mu itu,,, Ayah keluar dulu ya mau siap- siap juga", ucap beliau lalu mengusap lembut kepala Naz sambil melempar senyuman, kemudian beranjak pergi meninggalkan Naz.


"Ayah....!!", panggil Naz saat Ayah nya barubsaja memegang pegangan pintu, kemudian beliau menoleh.


"Iyaa... kenapa ?", tanya beliau.


"Jangan panggil aku putri kecil lagi,,, kan aku sudah dewasa,,,", ucap Naz lalu memonyongkan bibirnya.


"Walaupun kamu sudah punya banyak anak ataupun sudah tua nanti,, bagi Ayah kamu tetaplah putri kecil Ayah,,, tidak akan berubah jadi Putri besar,,, walaupun kamu waktu kecil bertubuh besar dan chuby....", ucap beliau terkekeh.


"Iihh.. Ayah.... ", Naz malah semakin cemberut dan membuat sang Ayah tertawa geli melihatnya, kemudian beliau pun keluar dari kamar Naz.


Naz kembali mengeringkan rambutnya, sambil bercermin dan tersenyum bahagia seolah membayangkan pernikahannya yang akan digelar besok dan tidak sabar ingin bertemu dengan calon suami yang sangat di rindukannya karena sudah dua Minggu tak bertemu bahkan tak mendengar suaranya pula.



Namun senyumnya seketika hilang saat ia mengingat perkataan Ayah nya tadi yang meminta sesuatu darinya, ia mematikan hairdryer nya dan meletakkannya di atas meja twalet, lalu duduk di kursi depan meja tersebut,


"Permintaan apa ya yang dimaksud ayah,,, ?", tanya nya dengan berdialog sendiri, kemudian ia teringat suatu hal yang sempat di bicarakan saat pertemuan sebelum acara pertunangan,


"Oh ya ampun,, apa jangan- jangan,,,,,?? ", ucap Naz tak melanjutkan perkataan yang ada di pikirannya karena merasa tidak percaya.


-------------- TBC -----------------


*************************


Monmaaf baru up... sedikit pulak... dari kemarin othor lagi ngurusin adik yang sakit di RS... blm sempet nulis lagi, pikirannya lagi gak bsa fokus🙏🙏(etdah curhat dikit)


Happy Reading..... 😉🤩

__ADS_1


Jangan luva tinggalkan jejak mu.....🤩


Tilimikicih.. Aylapyu oll....😘😘😘


__ADS_2