Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Hari Pertama Kesiangan


__ADS_3

Ceklek ….


Naz bersama suaminya masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa tas belanjaan di kedua tangan Arfin. Ia menaruhnya di atas tempat tidur, kemudian duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Sedangkan Naz langsung mengambil dress dari dalam lemari dan mengganti pakaiannya dengan dress itu, kemudian ia mengirim pesan pada Dinda.


“Aa,,, aku punya sesuatu yang spesial buat Aa”.


“Apa itu?”, tanya nya tanpa melepas pandangan dari ponselnya.


“Aku beliin Aa piyama,, tapi aku pengen Aa memakainya sekarang”.


“Nanti malam saja sayang, pas Aa mau tidur,, kasih ke Mbak Jumin aja biar piyama nya di cuci dulu”, Arfin masih tak menoleh.


“Aahhhh,,, tapi anaking pengen lihat Pagu nya pakai baju ini sekarang”, rengek Naz.


“Iya,, iyaa,, sebentar”, Mendengar itu keinginan calon anaknya, ia pun tak berani menolak. Arfin menaruh ponselnya di atas sofa, ia kemudian berdiri dan menghampiri istrinya. Arfin membuka kemeja dan celana panjangnya. “Mana bajunya?".


“Nih,,,”, Naz menyodorkan piyama yang ia beli.


“Apa??,,, ihh,,, gak mau ah,,, apa- apaan harus pakai baju kayak begini,, gak mau,,, gak mau,,”, Arfin langsung menolak saat melihat piyama tersebut.


“Aaaahhh,,, tadi katanya mau,,, ayok pakai”, Naz memaksa.


“Gak mau sayang,,, itu motif nya kayak gitu ih”, Arfin terus menolak.


Naz mengusap perutnya, “Anaking sayang,, Pagu gak mau tuh nurutin kemauan kamu”, Naz mengadu pada sang janin dengan raut wajah sedih.


Arfin mendengus kesal, “Iya iya Aa mau pakai itu,, sini bajunya”, Arfin pun tak kuasa menolak karena ini sudah menyangkut si anaking.


“Dasar licik,, mau apa- apa kau menjual nama anak kita ih”, Arfin menggerutu sambil memakai pakaian itu.


“Ayok kita keluar, “, Naz mengajak suaminya keluar setelah melihatnya selesai berpakaian.


“Apa?? Enggak enggak,,, udah di sini aja,,, malu ah di luar lagi ada Dinda sama Johan,, Aa bisa diketawain nanti, sayang,,,”.


“Aaahhh,,, ayok,,, “, Naz merengek sambil menarik tangan suaminya dan ia pun akhirnya manut saja, walau sebenarnya merasa kesal dan malu pastinya.


Keduanya keluar dengan Naz yang membawa satu tas belanjaan di tangannya. Naz mengajak suaminya duduk di ruang tengah dimana Johan tengah duduk di sana, ia langsung membekap mulutnya menyembunyikan tawanya. Arfin pun duduk di sofa dan megambil salah satu bantal untuk dipegangnya, siapa tahu ada yang menertawakannya maka ia akan melempar orang itu dengan bantal tersebut.



Dinda datang bersama Mbak Retno dengan membawa cobekan berisi bumbu rujak yang belum diulek dan sepiring besar buah bengkoang dan manga muda yang sudah dikupas serta dipotong- potong. Keduanya langsung tertawa melihat Arfin.


“Hahahaha,,, Om Arfin lucu banget pakai baju kayak gitu,, jadi Papa Macan”, Dinda yang masih tertawa malah ngatain Arfin.


“Terus aja kalian tertawa, nanti aku lempar kalian pakai bantal- bantal ini”, Ancam Arfin kesal.


“Gak apa- apa Om,, orang bantalnya empuk,, paling nanti Johan bawa pulang,, hahaha”, Johan yang sejak tadi menahan akhirnya tak sanggup lagi dan ikut menertawakan Arfin.


Arfin kemudian berdiri, “Udah ya,, Aa mau ganti baju lagi,,,”.


“Ehhh,, gak boleh,,,”, Naz melarang, ia beralih pada adik sepupunya, “Dinda, kasih pesanan Kakak ke Om Arfin”, titahnya.


“Ini Om,,, “, Dinda memberikan cobekan yang berisi cabe rawit, sedikit kencur, dua gula merah, sedikit garam, sebiji asam, dan satu sendok makan kacang goreng.


“Apa ini?”, Arfin merasa heran.


“Aa bikinin bumbu rujak ya,, itu Mbak Retno udah motong buahnya”, ucap Naz.


“Apa,,,?”, Arfin terkejut.


“Iyaa,,, ayok dong,, aku pengen makan rujak, sejak tadi di mall,, makanya tadi waktu Aa lagi pilih – pilih baju, aku nelpon Mbak Retno buat beli manga muda sama bengkoang", Naz menjelaskan.


Mau gak mau Arfin pun menuruti keinginan istrinya, “Sayang cabe rawitnya satu aja ya,, ini kok banyak banget, nanti kamu bisa sakit perut”, Arfin yang hendak mengulek minta mengurangi cabai nya.


“Aaahh,, udah itu cuman 11 biji kok,,, kan harus ganjil biar gak sakit perut,, udah Aa ulek aja gih,,,”, Naz sudah tidak sabar ingin makan rujak.


“Mbak Retno sama Mbak Jumin pakai ini ya sekarang, sekalian tolong ambilkan air minum”, Naz memberikan dua kaos yang ia ambil dari dalam tas belanja yang ia bawa dari kamar tadi.


“Nggih, Non,,, “.


Arfin yang dengan susah payah mengulek bumbu rujak akhirnya selesai, dan setelah Mbak Retno dan Mbak Jumin datang dengan membawa air minum, Naz memberikan sedikit air pada bumbu rujak tersebut.


“Nih,, udah selesai,,, “, Arfin memperlihatkan hasil karyanya.


“Makasih,,, “, ucapnya pada sang suami,


“Johan, Mbak Jumin sama Mbak Retno pakai ini ya”, Naz memberikan bandana lucu pada ketiga orang itu dan satu kacamata pada Mbak Jumin.


“Hahahaa,,, rasakan kau Johan,,, tadi menertawakan ku”, Arfin tertawa puas.


“Wealah Non,,,masa kita pakai benda iki,,, isin toh Non”, Mbak Jumin protes.


“Iya Kak,, masa Johan pakai ginian,,,”, Johan pun sama.


“Iiiihh,, kalian gak boleh nolak,, ayok cepat pakai”, tegas Naz.


“Hahahahaha,,,, “, Arfin kembali menertawakan ketiga orang tersebut.


“Naz menatap suaminya yang masih tertawa,, Aa kesana gih ke dekat jendela,, difoto bareng mereka ya,,", titahnya pada sang suami.


" Dinda tolong fotoin mereka ya,, Kakak mau makan rujak dulu”, Naz pun duduk di sofa.


Sontak itu menghentikan tawa Arfin, “Sayang,, ngapain di foto segala,,?? Enggak- engak ah,,, nanti kamu posting lagi,,, “, Arfin menolak.


“Enggak ihh,, lucu- lucuan aja,,, udah sana gih”, Naz duduk manis dan mulai memakan potongan buah yang dicocolkan pada bumbu rujak buatan sang suami,


“Nyam,, nyamm,, enakk,,, Aa berbakat juga bikin bumbu rujak,,”, Naz makan sendirian sedangkan kelima orang itu sedang melakukan apa yang diperintahkan Naz tadi.



“Kak,, kata Mama wis beres pesanannya”, Dinda baru selesai mengambil foto.


“Oke,, makasih Dinda, ayok makan rujak,, enak banget loh".


Arfin yang sudah selesai difoto, menghampiri sang istri, “Sayang,,, udah ya,, Aa mau ganti baju,,, gerah mana gatel lagi belum dicuci bajunya”.


“Aaahhh,,, jangan,, Ayok ke rumah tante Ina”.


“Apa?? Jangan gila sayang,, masa Aa ke rumah Tante Ina pakai baju kayak gini”, Arfin semakin kesal.


“Aaahhh,,, tapi kan itu maunya anaking”, Naz kembali mengusap perutnya yang menjadi senjata andalannya.


Arfin mendengus kesal, “Iya iya,,, sebentar Aa bawa kuci mobil dulu”.

__ADS_1


“Ngapain bawa kunci mobil segala,, orang biasanya juga kita ke sana jalan kaki”.


“Tapi malu sayang,, masa pakai baju kayak gini,,, bisa diketawain orang sekomplek, nanti bisa- bisa Aa viral lagi”.


“Yaudah aku jalan kaki sendiri aja,, sekalian mau nginap di sana seminggu”, keluarlah ancaman.


Arfin langsung mengelus dada nya, “sabar,,, sabar,,, sabar”, gumamnya dalam hati,


“Iya iya,,, kita pergi kesana berdua ya, sambil jalan kaki, tapi Aa ngambil topi dulu sebentar”, Arfin pun akhirnya setuju daripada istrinya pundung.


Keduanya pergi ke rumah Tante Ina dengan berjalan kaki, sementara sepupunya bersama Mbak Retno dipersilahkan makan rujak yang masih banyak karena baru dimakan sedikit oleh Naz. Arfin menggunakan topi dan kacamata hitam, ia berjalan sambil menunduk karena malu dilihat para tetangganya.


Setelah melewati tikungan ada lahan kosong dan disana terdapat pohon jeruk yang sudah berbuah.


“Aa,,, lihat itu, ada pohon jeruk,, kita ke sana yuk”, Naz menunjuk ke pohon tersebut lalu menghentikan langkahnya.


“Jangan sayang,,, itu yang punya nya orang batak, galak , berkumis baplang,item, serem , hidup lagi, ihhh”, Arfin bergidik ngeri.


“Amit- amit jabang bayi,,”, Naz mengelus perutnya, “Itu ada orang lain di sana,, aku pengen ke sana”, Naz kekeuh ingin ke tempat itu.


“Jangan sayang ihh,, lagian biarpun mau beli juga gak akan dikasih, apalagi minta buah nya”,Arfin sepertinya sudah tahu sifat pemilik pohon jeruk itu.


“Iiihh,, siapa yang pengen buahnya,, orang aku pengen difoto doang di sana,, ayok…”, Naz menarik tangan suaminya berjalan mendekati pohon jeruk tersebut, kemudian Arfin mengambil foto istrinya yang berpose di depan pohon tersebut.




“Hei,, sedang apa kalian,,, mau mencuri kau ya?”, teriak seseorang dari rumah yang ada di sebelah lahan ksosong tersebut yang merupakan pemilik lahan dan pohon jeruk itu.


“Enggak Pak,,, istri saya cuman pengen di foto di sini,, kami pamit dulu Pak, Assalamualaikum...”, Arfin menyahuti orang tersebut.


“Tuh kan Aa bilang apa,, ayok pergi”, Naz dan Arfin langsung pergi dari sana dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Sebenarnya kamu mau ngapain ke rumah Tante Ina?,, orang Dinda aja lagi di rumah kita”, Arfin penasaran.


“Kemarin kan aku main ke sana, Mimih nelpon ngobrol banyak sama aku,, pas semalam tiba- tiba aku pengen makan cendol buatan Mimih yang biasanya dibuatkan saat lagi kumpul keluarga,,, Aku nelpon Mimih gak diangkat, mungkin udah tidur, jadinya aku nelpon Tante Ina minta dibikinin cendol, kebetulan beliau bisa bikinnya karena suka bantuin Mimih kalau bikin cendol”, Naz menjelaskan.


“Oh,, gitu,, kenapa gak beli aja sayang,,, kan malu ngerepotin Tante Ina,,,”.


“Ya abisnya anaking pengennya cendol itu,,, kalo yang jualan disini mah es dawet,,, kemarin juga beli beda ah rasanya sama bikinan Mimih”.


Keduanya kini telah sampai di depan pintu rumah Tante Ina, Naz memencet bel dan dibukakan pintu oleh Om Aji yang menggendong Aliya, mereka langsung tertawa melihat penampilan Arfin.


“Hahahha,,, Om jadi macan”, Aliya kemudian minta diturunkan.


“Pantesan personil trio macan keluar satu, ternyata mau digantikan sama kamu ya Ar,, mari masuk”, Om Aji yang masih tertawa mempersilahkan keduanya masuk. Naz yang sudah tidak sungkan langsung mencari keberadaan Tantenya bersama Aliya masuk ke dalam menuju dapur, sedangkan Om Aji mengajak Arfin duduk di ruang tamu.


“Yah,,, beginilah korban istri ngidam, Om…”, Arfin membuka topi dan kacamata hitam nya.


“Harus banyak sabar menghadapi istri hamil tuh,,, kamu masih beruntung, dulu Om sampai disuruh pakai daster dan memasukan balon ke dalam dasternya selama seharian penuh di rumah, katanya biar merasakan seperti wanita hamil,, hahaha”.


“Hahaha,,, parah banget Om,, untung gak disuruh keliling komplek pakai kayak gituan”.


“Ya begitulah,, wanita hamil itu suka aneh- aneh kemauannya, tapi ya kita sebagai suami berkewajiban memenuhi keinginan mereka, karena pastinya tubuh mereka mengalami ketidaknyamanan selama sembilan bulan menggembol bayi di perutnya… Perjuangan wanita hamil itu tidaklah mudah, apalagi waktu melihatnya kesakitan saat melahirkan, Om saja sampai nangis dan bersujud pada Ibu Om,, karena menyadari betapa besarnya pengorbanan dan perjuangan seorang ibu,, belum lagi saat menyusui, jika bayi nangis tengah malam bisa sampai bergadang,, Apalagi istri mu masih sangat muda, Ar,,, kamu harus extra sabar dan perhatian “.


“Iya, Om,, “, Arfin mengangguk.


“Oh iya Om,, kalau tidak salah Kakaknya Om itu Dekan ya di kampus tempat kuliah Naz nanti?”, tanyanya teringat saat bertemu dengan beliau tempo hari.


“Iya benar,,, tenang saja, Om sudah menitipkan Naz padanya, apalagi dia sekarang kan sedang hamil, jadi Om minta dispensasi agar Naz tidak mengikuti kegiatan berat selama ospek, karena kamu bilang dia bersikeras ingin mengikuti ospek”, Om Aji begitu perhatian pada keponakannya.


“Terimakasih banyak Om,, aku mohon maaf,, sering merepotkan Om dan Tante”, Arfin merasa tak enak hati.


“Lah kamu ini kayak sama siapa aja toh,, kita ini kan keluarga,, jangan sungkan begitu toh”.


Obrolan mereka pun berlanjut ke bahasan pekerjaan mengenai project yang sedang ditangani perusahan tempat keduanya bekerja. Tak lama Tante Ina datang membawakan dua gelas es cendol buatannya untuk mereka.


“Makasih Tante,,, oh iya, Naz dimana ya?”.


“Tuh dibelakang, lagi makan cendol udah gelas kedua,, mana gak mau pakai gelas kaca malahan pengen pakai cup minuman jus, untung tadi Aliya habis jajan jus yang dekat minimarket di depan, jadi dipindahin tempatnya,,, udah gitu dia mau makan cendolnya aja tanpa gula, susu atau santan,,, ya Tante juga merasakan sih dulu waktu hamil tuh suka pengen yang aneh- aneh”, ucapnya terkekeh lalu kembali ke belakang.


Arfin dan Om Aji menyantap es cendol yang memang pas dimakan di siang hari dengan cuaca panas yang memberikan efek gerah, sehingga menyegarkan tenggorokan mereka. Setelah menghabiskan es cendolnya, Arfin mencari keberadaan Naz untuk mengajaknya pulang, yang ternyata ia sedang duduk santai, ia pun menghampirinya.



“Sayang,, sudah selesai belum?”.


“He em,,,,”, Naz mengangguk.


“Kita pulang yuk,, bentar lagi dzuhur,, “,ajaknya.


“Iya,,, “. Naz bangkit kemudian keduanya berpamitan pada Om dan Tante nya, dan kembali pulang ke rumah mereka, Arfin pun kembali memakai topi dan kaca mata hitamnya.


Sesampainya di rumah Arfin langsung masuk ke kamar. Ia membuka pakaian yang menurutnya memalukan itu dan bergegas mandi karena merasa gatal efek memakai baju baru tanpa di cuci dulu. Sedangkan naz langsung nyungseb ke tempat tidur, karena semenjak hamil ia memiliki hobi baru yakni tidur, nempel dikit ke bantal langsung *****.


Arfin yang sudah selesai shalat tak tega membangunkan istrinya, untuk menyuruhnya shalat, ia beranjak meninggalkan kamar nya untuk ke dapur mengecek makanan yang dibuatkan kedua ART nya untuk makan siang, dan ia berniat membawakannya untuk sang istri.


“Sayang,,, bangun,,, ini udah jam satu, kamu belum shalat loh,,, ayok bangun sayang,,, Aa bawain makan siang nih buat kamu…”.


“Emhhh,,,, “, Naz membuka matanya perlahan dan setelah kesadarannya terkumpul barulah ia bangkit dan segera ke kamar mandi, setelah itu ia shalat dan kembali ke tempat tidur.


“Mau makan sekarang?”, tanya Arfin dan Naz pun mengangguk.


“Suapin,,, “, pintanya dengan manja, Arfin pun tak berpikir panjang dan langsung mengabulkan keinginan istrinya.


“Makan yang banyak ya,, biar kamu sama anaking sehat terus”.


“Aa udah makan?”, Naz yang baru selesai mengunyah baru ingat pada suaminya.


“Kamu aja dulu, AA mah gampang".


“Yaudah sini biar aku makan sendiri, Aa juga makan gih,, nanti sakit kalau telat makan”, Naz meminta piring makannya.


“Gak apa- apa orang belum lapar, kan tadi abis makan es cendol”.


Naz merasa tidak enak pada suaminya yang begitu sabar menghadapinya yang terkadang mood nya suka berubah- ubah, “Maaf ya, aku ngerepotin Aa terus”,Naz tiba- tiba menangis.


“Eh,, sayang kok nangis,, “, Arfin menyimpan piring makan Naz ke atas meja, ia menghapus jejak air mata Naz dengan jemari nya, “Sssttt,,, jangan nangis sayang, kasihan nanti anaking juga sedih loh, kamu itu istriku, ibu dari calon anakku yang merupakan tanggung jawab ku,, Aa gak pernah merasa direpotin kok,,”, Arfin mengecup kening istrinya, “Udah yaa,,, jangan nangis,,, lanjutin lagi makannya”.


Naz menggelengkan kepalaya, “Aku udah kenyang,,, “.


“Yasudah kalau sudah kenyang,,, mau lanjutin tidurnya lagi?".

__ADS_1


“Gak mau,, nanti aku gendut kalau abis makan langsung tidur,, kalau gendut nanti aku jelek, gak menarik lagi,, nanti Aa gak sayang lagi sama aku”.


Arfin terkekeh mendengarnya, “Siapa bilang,,, mau kamu seperti apa pun Aa tetap sayang dan cinta sama kamu,, juga sama anaking yang di dalam sini”, Arfin mengelus perut Naz, dan ia pun kembali tersenyum.


**


Malam nya saat hendak tidur, entah mengapa Naz yang biasa mengganti pakaian dengan baju tidur, ia malah memakai kemeja kerja suaminya yang tentunya ukuran kemeja itu kedodoran di tubuhnya. Arfin yang merasa aneh dan heran pun tak melarangnya, ia hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat hal itu.


Akan tetapi, walaupun ia tak protes sama sekali, ia malah mendapat kejutan yang kurang mengenakan, saat naik ke ranjang dan hendak tidur, tidak ada hujan tidak ada angin, justru Naz malah tidak mau tidur dengannya. Ia pun dengan berat hati mengikuti permintaan istrinya, tapi saat hendak pergi ke kamar tamu untuk tidur di sana, Naz malah melarangnya dan meminta Arfin tidur di sofa yang ada di dalam kamarnya itu. ia pun manut saja.


Tengah malam, Arfin terbangun saat ia menggerakan tangannya ia menyentuh sesuatu. Ia perlahan membuka matanya, ternyata istrinya tidur sambil duduk di lantai dengan kepala yang bersandar pada sofa tempat ia tidur. Kesadarannya pun terkumpul seketika, ia langsung bangkit dan duduk.



“Sayang,,, kok kamu tidur di sini?”, Arfin menepok pipi Naz, namun ia tak bergeming, kemudian Arfin menggendong istrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur. Ia menyelimuti Naz, dan saat ia hendak kembali ke sofa, Naz menarik tangannya.


“Aaaahh,,, jangan pergi,,, bobo sini aja”, ucapnya yang masih memejamkan matanya.


“Ini beneran apa dia ngigau ya?”, gumam Arfin yang merasa heran, “Yasudahlah,, dia ini yang minta,,”, Arfin pun kembali tidur bersama istrinya di atas ranjang mereka.


**


Keesokan harinya, pagi-pagi Naz minta salad tapi ingin buatan suaminya, sepertinya calon anak mereka ingin terus mengerjai ayahnya, benar- benar fotokopi emaknya, si tukang jahil. Arfin segera melaksanakan titah istri tercintanya, ia membuatkan salad dan setelah jadi, ia pun mengajak istrinya untuk makan salad bersamanya.




Hari ini baik Naz atau pun Arfin tidak pergi kemana-mana, ia tak mau istrinya kecapek-an karena besok pagi sudah mulai ke kampus. Keduanya hanya menghabiskan waktu di rumah saja, dengan Arfin yang terus melayani istrinya.


**


Weekend pun berakhir, tibalah saatnya Naz pertama kalinya ngampus sebagai mahasiswi baru, namun baru saja hari pertama ia sudah kesiangan karena setelah shalat subuh malah tidur lagi. Ia malah marah- marah pada suaminya yang tak membangunkannya, padahal Arfin sejak jam 6 pagi terus membangunkannya, dia nya saja tidur udah kayak kebo.


Jam delapan pagi ia baru sampai di kampus, bahkan sarapan pun ia lakukan di dalam mobil saat perjalanan tadi sambil mendengar kan Naz mencium tangan istrinya dan Arfin mencium kening Naz.


“Jangan lari atau pun jalan cepat,,, inget ,, kamu lagi hamil, sayang”, Arfin kembali mengingatkan Naz saat ia turun dari mobil yang dimasukan ke area kampus, karena ia tak tega membiarkan Naz berjalan dari pintu gerbang.


“Iya,,, Assalamu’alaikum”, Naz pun beranjak pergi.


“Wa’alaikumsalam,, hati- hati”, Arfin kemudian memutar kendarannya untuk keluar dari area kampus lalu melajukan kembali mobilnya menuju ke kantornya.


Naz berjalan menuju aula kampus tempat berkumpulnya semua mahasiswa baru untuk mengikuti ospek, setelah ia bertanya letak aula tersebut pada salah satu mahasiswa disana. Ada rasa takut yang melandanya karena ia datang terlambat.


“Kamu mahasiswi baru ya?”, tanya salah seorang mahasiswi yang memakai name text Panitia.


“Iy ,, iya Kak”, jawab Naz sambil menunduk.


“Semua mahasiswa di kampus ini harus disiplin, baru pertama kali masuk saja sudah terlambat”, cerocos nya.


“Saya minta maaf, Kak,,, saya janji tidak akan mengulanginya lagi”, ucap Naz.


“Ada apa ini?”, tanya seorang dosen yang baru datang hendak masuk ke dalam aula.


“Ini Pak,, ada mahasiswi baru, datang terlambat”, ucapnya melapor.


“Rheanazwa….”, panggilnya.


“Iy iya Pak”, sahut Naz melirik sekilas.


“Ochi,, biarkan dia masuk,,, dia keponakan saya”,ucapnya kemudian masuk.


“Hahh,,, keponakan dari Hongkong,,, kenal aja enggak”, Gumam Naz dalam hati.


“Baik, Pak,,, “.


“Sudah sana masuk,,, jangan diulangi lagi,,, bukan berarti karena lo keponakan Dekan kampus ini, lo bisa seenaknya”, orang yang bernama Ochi itu bicara ketus. Dan tanpa disadari sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua.


“Terimakasih, Kak”, Naz kemudian masuk ke dalam Aula, dimana di pangung sana ada Bapak- bapak yang sedang bicara dengan menggunakan mikropon, nampaknya salah satu pengisi acara.


Naz mengedarkan pandangan mencari kursi kosong, setelah menemukannya ia pun duduk di sana menikuti jalannya acara.


Selama mendengarkan pemaparan dari pengisi acara tentang pengenalan kampus dan segala macamnya, Naz terus saja menguap, sepertinya karena sudah terbiasa sering tidur, membuatnya cepat mengantuk. Dan akhirnya masuk waktu dzuhur, dan tibalah saatnya jam istirahat.


Naz yang masih belum mengenal siapa pun hanya celingukan sendiri, ia pergi ke kantin untuk makan karena sepertinya anaking-nya sudah merasa lapar. Ia melihat- lihat makanan yang ada di kantin, namun sepertinya ia tak berselera.


“Bu, saya beli roti sama jus alpukat tanpa gula ya”, ucapnya memesan makanan dan ia memilih roti coklat keju yang ada di etalase. Tak lama jus nya pun sudah selesai dibuat.


“Iki Mbae,, jus alpukat”, menyodorkan satu cup jus beserta sedotan dan kantong kreseknya.


“Jadi berapa Bu,, ?", tanya Naz.


“26 ribu, Mbae”, jawabnya.


Naz membuka resleting tas nya untuk mengambil dompet, namun ia tak menemukannya. Ia mencari di dalam tas nya, dan tetap tak menemukannya.


“Yassalam,, dompet ku ketinggalan,, kayaknya di tas yang dipakai ke rumah sakit deh,,, “, gumam Naz dalam hati.


“Mmmm,,, maaf Bu,, kayak nya saya gak jadi beli,, dompert saya ketinggalan di rumah”, ucapnya.


“Wealah iki gimana toh, Mbae?”.


“Kalo gak punya duit ya gak usah jajan toh Mbak”, Ochi tiba- tiba nyamber.


“Berapa semuanya Bu Nur?”, tanya seseorang yang datang setelah Ochi.


“26 ribu, Mas”, sang pemilik warung menjawab, kemudian pria itu menyodorkan uang untuk membayar roti dan jus yang Naz pesan tadi.


“Jangan Kak,, saya tidak mau merepotkan”, Naz menolak bantuan orang yang tak dikenalnya.


“Kamu mahasiswi baru yang kesiangan itu kan,,? kamu ambil saja karena saya tidak mau nanti panitia kerepotan kalau ada mahasiswi yang pingsan karena kelaparan”, ucapnya.


Naz berpikir sejenak, jika ia hanya sendiri mungkin masih bisa menahan lapar, tapi ia tak tega membuat anaking- nya kelaparan.


“Terimakasih, Kak,, nanti saya ganti,,, “, Naz mengambil kantong kreseknya lalui ia pergi meninggalkan tempat itu. Ia berjalan menuju masjid kampus yang sepintas sempat ia lihat sebelum ke kantin tadi. Ia duduk di teras masjid, karena di dalam nampaknya masih banyak yang shalat.


Naz memakan rotinya dengan lahap, karena tadi pagi hanya sarapan sedikit, kemudian ia meminum jus nya hingga habis.


“Ternyata kamu masih doyan makan seperti dulu ya, Buntelan Kentut”, ucap orang itu terkekeh.


Naz langsung membulatkan kedua bola matanya, “Kurang ajar ngatain gue buntelan kentut, perasaan gue gak segendut itu deh….”, Naz menggerutu kesal dalam hatinya, kemudian ia mengarahkan pandangan pada orang itu.


-------------- TBC ---------------

__ADS_1


__ADS_2