
“Selamat Bu,,, bayinya perempuan”, Dokter Sasmita memberi selamat dan memberitahukan jenis kelamin bayi yang baru lahir itu.
Naz yang nafasnya masih terengah- engah dengan air mata yang masih mengalir pun kini tersenyum bahagia mendengar suara tangisan malaikat kecilnya yang terasa begitu merdu di telinganya.
Arfin tak kuat membendung air matanya yang tumpah begitu saja, ia menangis haru karena benar- benar menyaksikan betapa besar perjuangan istrinya untuk melahirkan anaknya. Arfin terus menciumi seluruh bagian wajah istrinya yang basah dengan keringat itu.
“Terimakasih,, sayang,, terimaksih… kau sudah memberiku seorang putri”, ucapnya kemudian mencium kening Naz dengan cukup lama.
“Anak kita perempuan,, A,,, anak kita perempuan”, Naz mengulang kembali perkataan Dokter tentang jenis kelamin anak mereka.
“Iya sayang,, terimaksih,, sayang,, aku sangat mencintai mu..”, Arfin kembali mencium kening istrinya. Ia pun kembali menegakkan tubuhnya saat suster menghampiri Naz dari sisi sebrangnya.
Suster membantu membukakan baju Naz bagian depannya, lalu suster lain memberikan bayi yang sudah dibersihkan serta diperiksa kesehatannya, lalu ditempatkannya pada dada Naz untuk melakukan prosedur IMD atau inisiasi menyusui dini.
Naz tak hentinya mengulas senyum walau air mata terus mengalir saat sang bayi menempel di dada nya, bayi yang selama sembilan bulan ini terus digembolnya di dalam perut, kini terpampang nyata di hadapannya. Dan ia benar- benar bisa menyentuhnya sekarang, ia terus mengusap lembut kepala bayi mungilnya itu. Arfin pun mencium sang bayi bergantian mencium istrinya, dan kini ia memiliki dua bidadari cantik dalam hidupnya.
“Anakku,,, putriku,,, “, ucapnya dengan air mata bahagia yang terus mengalir.
“Anak kita sayang,,, putri kita,,,”, Naz meralat perkataan suaminya.
“Iya,, sayang,, putri kita,,, “, Arfin tak hentinya meneteskan air mata bahagia.
Bunda dan Bu Rahmi saling berpelukan dengan menangis haru, karena tidak menyangka putri mereka yang sejak pagi merasakan sakit akibat mules yang dirasakan hingga berjam- jam lamanya bahkan hampir menyerah di detik- detik akhir, kini sudah melahirkan bayinya dengan selamat dan menyandang status sebagai seorang ibu.
“Arfin,,, sekarang azani anak mu,,,”, titah Bunda.
Arfin menghapus air matanya, ia segera melantunkan suara azan di telinga kanan putrinya, kemudian ia beralih pindah tempat untuk menyuarakan iqomat di telinga kiri putrinya. Air mata terus berjatuhan, ia masih tak percaya jika kini ia sudah resmi menyandang status sebagai seorang ayah dari bayi mungil yang baru saja dilahirkan istrinya dengan penuh perjuangan.
Setelah IMD dan di azani, suster kembali mengambil bayinya, untuk dibersihkan keseluruhan, dan dipakaikan gelang bayi serta memakaikan pakaian bayi dan membalut bayinya dengan kain pernel.
“Lahir pukul 22:34,, panjang 51 cm dan beratnya 3320 gram,, jenis kelamin perempuan,, ”, Seorang suster membacakan tulisan yang ada pada data kelahiran bayi tersebut.
“Aku keluar dulu ya,, mau mengabari yang lainnya”, Arfin kembali mencium kening Naz, lalu beranjak pergi keluar ruang bersalin itu dan menemui para bapak- bapak dan Mami nya.
“Arfin,, gimana ibu dan bayinya selamat?”, Tanya Pak Rizal yang melihat Arfin baru keluar dari pintu ruangan bersalin.
“Alhamdulillah,, baik ibu ataupun bayinya selamat dan sehat,, bayi kami perempuan,,,”, ucapnya memberitahukan.
“Alhamdulillah,,,,”, semua mengucap syukur mendengar Naz dan bayinya baik- baik saja.
Mata Arfin tertuju pada Bu Hinda dan ia langsung menghampiri Mami nya, ia kemudian bersimpuh lalu memeluk kaki Mami nya,
“Al minta maaf Mi,,, Al selama ini banyak salah sama Mami,, Al sering membangkang Mami, Al juga pernah bentak Mami,, Al minta maaf Mi”, ucapnya berlinang air mata.
“Al,, jangan seperti ini, Nak… ayok bangun,, “, Bu Hinda mengusap kedua bahu Arfin, ia pun melepaskan pelukannya, bangun perlahan dan Bu Hinda langsung memeluknya.
“Maafin Al,, Mi,,, melihat perjuangan Naz,, Al sekarang tahu bagaimana Mami berjuang untuk Al.. bahkan Mami selalu memberikan semua yang terbaik untuk Al,, Mami melakukan apa pun untuk kebahagiaan Al,, tapi Al belum bisa ngasih apa- apa buat Mami,, Al bukan anak yang berbakti,, Al malah sering merepotkan dan menyusahkan Mami,, Al minta maaf Mi,,,”.
“Sudah AL,,, kamu gak perlu minta maaf,, setiap orang tua pasti akan berjuang memberikan semua hal terbaik untuk anak- anaknya, dan mulai sekarang perjuangan mu pun akan segera di mulai,,", Bu Hinda merasa tersentuh dan terharu melihat Arfin berperilaku seperti itu.
"Selamat ya Al,, sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang ayah,,, sudah jangan menangis,,, malu loh nanti sama anak mu”, bujuk Bu Hinda agar Arfin bangun dan berhenti menangis.
Arfin melepaskan pelukannya perlahan, kemudian ia mencium tangan Mami nya dan menghapus air matanya dengan sapu tangan yang ia ambil dari saku celana nya, ia baru ingat kalau memiliki sapu tangan.
Pak Latief menepuk pundak Arfin, “Selamat Al,,, akhirnya kamu sudah resmi jadi seorang ayah,,”, ucap beliau, Arfin pun langsung memeluk Papi nya itu.
“Terimakasih Pi,,,, “, ucapnya yang masih terisak.
Ia pun melakukan hal yang sama pada kedua ayah mertuanya yang memberikannya selamat.
Bu Rahmi keluar ruangan bersama perawat yang mendorong ranjang kecil yang di dalam nya terdapat bayi cantik yang baru saja dilahirkan Naz ke dunia ini.
“Wah,, ini cucu ku ya,,, cantiknya,,”, Bu Hinda melihat bayi yang tertutup kotak kaca tersebut, begitu pun ketiga kakek nya.
“Nanti bisa dilihat di ruang bayi ya,,”, suster pun melanjutkan perjalanannya ke ruang bayi dan diikuti oleh Bu Rahmi.
Tak berselang lama, pintu ruangan kembali dibuka dan kini susternya mendorong Naz yang menaiki kursi roda. Semua orang langsung menyambut dengan ibu muda tersebut dengan rona bahagia.
Bu Hinda segera menghampiri dan memeluk Naz, ”Selamat sayang,, kamu memang hebat, maaf ya Mami gak bisa menemani,, sudah overload yang masuknya,,,hehehe”.
“Gak apa- apa Mami,,, lagi pula tadi di dalam aku berisik,, bikin malu,,, hehehe”, Naz baru menyadari .
Semuanya saling gantian yang memberi ucapan selamat pada Naz, “Selamat sayangku,, kamu sudah resmi jadi Mahmud,,”, ucap Pak Syarief.
“Makasi Papa,,, Mahmud?? Apaan tuh”, Naz merasa aneh.
“Mamah muda,,, “, jawab beliau.
“Hehehhe,, kamu harus menagih hadiah mobil dari Opa”, Pak Syarief ngajarin malak.
“Hahahaha,,, iya ya… “, Naz yang masih terlihat lemas pun tertawa.
“Mas,, giliran ku dong,, jangan kelamaan nih”, Pak Rizal protes.
“Iya iya,,, “, Pak Syarief pun menyingkir.
“Selamat ya putri kecilku,, sekarang bontot kesayangan ayah sudah punya peri kecil”, Pak Rizal kemudian memeluk Naz.
“Makasih Ayah,,,".
"Semoga menjadi anak yang salehah dan berbakti pada orang tuanya kelak,,juga cantik dan baik hati sama seperti Mama nya”.Pak Rizal mendoakan sang bayi.
“Amiin…”.Naz dan Arfin mengaminkan.
“Asal jangan tengil aja,, Yah”,Arfin ikut berkomentar.
“Sepertinya tengil nya menurun juga,,, buktinya waktu ngidam putri-mu yang masih dalam perut Naz sudah sering mengerjai mu Al,,”, Bu Hinda ikut bersuara dan mengundang tawa semua orang.
“Selamat ya Naz,,, Papi senang sekali,, sekarang sudah nambah banyak cucu nya,, makin jadi aki- aki deh”, Kini giliran Pak Latief.
“Hehehe... makasih Papi".
“Sudah sudah,, ayok kita antar Naz ke ruangan, kasihan pasti ingin istirahat kan”, ucap Bunda yang kasihan melihat Naz nampak masih lemas tapi sudah dikerumuni orang tua dan mertuanya.
__ADS_1
Naz pun dibawa ke ruang rawat inap, di dorong oleh suaminya. Sebenarnya ia ingin sekali segera menggendong bayi nya, namun apalah daya peraturan di rumah sakit nya seperti itu, walaupun ia hanya akan dipisahkan beberapa jam saja, tetap saja merasa sedih. Sementara semua orang pergi melihat sang bayi ke ruangan bayi, walaupun hanya bisa melihatnya dari balik kaca saja.
Naz kini sedang berbaring di atas ranjang di ruang rawat inap VVIP, Arfin yang duduk di kursi sebelah ranjang tersebut dan menghadap pada Naz, terus mengusap kepala wanita yang sudah memberinya seorang putri itu. Ia tak hentinya mengulas senyum, tangannya menggenggam satu tangan istrinya..
“Apa masih sakit , sayang?”, Arfin masih mengkhawatirkan Naz yang sejak pagi merasa kesakitan.
“Enggak,,, pas bayinya keluar rasa nya plong banget,,, ", Naz yang sempat melamun karena ingin dekat dengan bayinya pun menjawab pertanyaan Arfin lalu tersenyum.
“Aa gak bisa bayangin itu sakitnya seperti apa, saat si ujang menembus keperawanan kamu aja susah masuk,, ini bayi segede gitu keluar dari si imut,, pasti sakit banget ya sayang?”, Arfin bergidik ngeri karena tak kuasa membayangkan betapa besar rasa sakit yang dirasakan Naz saat itu.
“Yang sakit itu mulesnya,, tapi saat mendengar suara tangisan bayi yang kemudian diletakan di dadaku, semua sakit yang ku rasakan sejak pagi langsung hilang seketika, aku senang banget putri kita lahir dengan selamat dan sehat tanpa kekurangan sesuatu apa pun”.
“Terimakasih sayang,,, kamu memang wanita yang hebat, kamu sudah membuat hidup ku menjadi sempurna, dengan kehadiran mu dan putri kita”, Arfin tak hentinya berterimakasih.
“Terimakasih juga,, karena Aa sudah membuat ku menjadi wanita sempurna,, menjadikan ku seorang istri sebagai pendamping hidupmu, juga membuat ku menjadi seorang ibu dengan mengandung dan melahirkan putri kita, buah cinta kita,, “, Naz menghela nafas panjang,.
“Aku sangat bahagia memiliki kalian berdua dalam hidup ku, anugerah terindah Yang pernah ku miliki,,”, Naz kemudian tersenyum, ia mengalihkan pandangan ke arah pintu, raut wajahnya berubah menjadi sedih.
“Loh,, kamu kok jadi sedih gitu, sayang? Kenapa hem?”.
Naz menghela nafas berat, “Kenapa bayi kita gak dibawa ke sini sekalian sih? Aku gak mau jauh- jauh dari nya,, aku sangat merindukannya”,keluhnya.
“Hehehe,, baru saja berpisah beberapa menit,,, Sabar,, nanti juga dibawa ke sini,,,”, Arfin menghibur istrinya.
“Aa kok gak ke sana lihatin anak kita?”. Naz merasa heran seolah Arfin kurang peduli pada bayi mereka.
“Ngapain,,?? orang Aa udah lihat sejak ia lahir tadi, bahkan Aa udah mencium dan mengazani nya, lagian orang tua kita lagi pada di sana,, sedangkan kamu sendirian di sini,, Aa lebih milih nemenin kamu aja,,,”, Arfin mengusap kepala istrinya, ia mencium kening Naz .
“Terimakasih sayang,,”, Entah ini ucapan yang keberapa puluh kalinya ia ucapkan pada Naz semenjak bayi nya lahir ke dunia.
“Aa dari tadi bilang gitu terus,, gak bosan apa ya?”,
“Meskipun Aa mengucapkan terimakasih ribuan kali pun tak kan cukup untuk pengorbanan mu yang begitu besar, Aa gak tahu harus berbuat apa untuk membalas semua kebaikan mu, sayang”.
Arfin mencium punggung tangan istrinya.
“Jadilah seorang suami dan seorang imam yang baik bagi kami, aku dan putri kita,, selalu menyayangi kami dan menjaga kami,, itu semua sudah cukup”, ucap Naz tersenyum.
“Tentu saja,, tanpa diminta pun itu sudah menjadi tugas ku,, menjaga dan mencintai kalian,, dua bidadari cantik ku,, kamu istirahat ya sayang,, dari kemarin malam tidur mu gak nyenyak,,”.
“Aku gak ngantuk,, ditambah aku belum bertemu lagi dengan putriku,, mana bisa aku tidur tanpa melihatnya di samping ku,, ”, ucap Naz kembali murung.
Ceklek…. Terdengar suara pintu terbuka dan derap langkah yang masuk ke dalam.
“Gimana keadaan mu sekarang , Dek?”, tanya Pak Rizal.
“Alhamdulillah udah plong Yah,,, mulesnya udah hilang,,,”.
“Tentu saja mulesnya sudah hilang,, kan yang berontak pengen keluar dan menyebabkan kamu mules sudah lahir,,, hehehe.... ", ucap beliau terkekeh. Pak Rizal menghela nafas sejenak,
"Ayah masih tidak menyangka,, sekarang putri kecil ayah sudah punya seorang putri”.
“Jangankan Ayah,,, aku saja masih belum percaya, saat hamil saja serasa mimpi ada makhluk kecil di dalam perut ku, apalagi saat ia bergerak- gerak dan kini ia sudah benar- benar nyata hadir di dunia ini,, tapi,, kenapa aku harus dipisahkan dengan putri ku begini sih, Yah” ,Naz kembali protes.
”Kamu tenang saja ,, Bunda dan Mama mu terus menjaga dan mengawasi bayi mu di depan ruang bayi sana,, katanya takut ada yang nukar”,ucap Pak Rizal terkekeh.
“Iya benar,,, eh sayang,, kamu makan dulu ya,, itu makanan yang dibawakan Mbak Retno sudah di meja,, tadi kan tenaga mu sudah terkuras habis nanti kan kamu mau ngasih Asi ke bayi kita” .
“Iya,, Dek,, kamu harus banyak makan, nanti kan bakalan disedot sama bayi mu,,,”, Pak Rizal pun menyuruh makan.
“Iya,, rasanya perutku yang sudah langsing lagi ini lapar banget”, ucap Naz dengan pede nya.
Arfin pun menyiapkan makanan untuk Naz, dan kemudian menyuapinya.
Setelah dua jam, bayi Naz akhirnya dibawa ke ruangan Naz untuk diberikan ASI. Naz merasa sangat bahagia, bayi yang sangat ia rindukan selama dua jam itu akhirnya datang juga. Naz pun duduk di tempat tidurnya, Bu Rahmi mengambil bayi mungil itu dari tempat tidurnya dan memberikannya pada Naz.
Kini sang bayi berada di dalam gendongan ibunya, Naz tak hentinya mengulas senyum dengan pandangan yang tak mau lepas dari putri mungilnya itu. Ia memperhatikan setiap inci wajah bayi yang baru dilahirkannya dengan susah payah. Air mata haru kembali menetes, ia masih tak percaya jika yang ada di pangkuannya itu adalah anaknya sendiri. Begitu pun dengan Arfin yang berdiri di samping ranjang, ia terus memandangi bayi mereka. Naz menciumi wajah bayi nya, hingga ia menangis kencang.
Oek,, oek,,,oek,,,
“Eh,,kok nangis,, uhh,, cup cup,, cup,, sayangku,, jangan nangis??”, Naz merasa bersalah membuat bayinya menangis..
“Dia lapar, Dek,, sok atuh kasih ASI- nya,,,”, ucap Bunda.
“Hah,, ASI?”, Naz merasa heran.
“Iya,,, itu buka baju mu sebelah,, kasih ASI ke bayi mu”, Bunda mengajarkan cara mengASIhi.
“Sini Mama bantu, buka”, Bu Rahmi menawarkan diri.
“Jangan Ma,,, aku malu,,”, Naz menolak.
“Gak usah malu atuh,, ayok,, kasihan itu bayi mu nangis terus,,”, celetuk Bunda.
Naz akhirnya bersedia dibantu Mama nya membuka sebelah dada baju yang seperti kimono itu, Naz pun menyodorkan put*ing nya ke mulut sang bayi sesuai instruksi Bunda dan Mama nya, dan bayi yang sedang menangis itu langsung melahap dan menyedotnya, beruntung ASI nya sudah keluar.
“Hsshhhhh…..”, Naz meringis.
“Gak apa- apa, sayang,, pertama kali memang agak sakit,, tapi lama- kelamaan gak berasa kok,, justru kalau gak dikasihkan ASI nya,, payud**ara mu malah akan merasa sakit”, ucap Bu Rahmi.
“Woah,,, nyedotnya kenceng amat, Dek… kayaknya bapak nya juga gitu ya,, hahaha”, Perkataan Bunda mengundang tawa semua orang yang ada di ruangan tersebut.
“Arfin,, kamu duduk di sini,, itu anak mu nyedotnya kencang takut diminta sama kamu kali", Pak Syarief malah menggoda Arfin dan mengundang tawa semua orang.
“Sabar, Al,,, dua tahun puasa nge-dot,, hahahaa”, Pak Latief malah menimpali candaan sahabatnya.
“Oh iya,, omong- ngomong,,, kalian sudah punya nama belum untuk bayi lucu ini?”, tanya Bu Hinda yang juga menyaksikan Naz tengah memberi ASI.
“Udah dong Mi,,”, ucap arfin dengan pede-nya.
“Siapa namanya?", Bu Rahmi ikut penasaran.
“Cahaya Sang Anas", Arfin menyebutkan nama Putri ya..
“Hah,,, Cahaya Sang Anas?”, tanya Bunda.
“Iya, Bunda…..”. Arfin mengangguk.
“Tunggu,, Sang Anas situ kan nama panggung mu kalau lagi balapan dulu?”, tanya Pak Latief.
__ADS_1
“Iya,, dan Cahaya nama lain dari Naz”, jawab Arfin.
“Hah,,, ?? kan namnya Rheanazwa Eleanoor Harfi,,, di sebelah mana cahaya nya?”, Bu Hinda merasa bingung.
“Eleanoor itu artinya cahaya, Nda”, Bunda menjelaskan.
“Oh,,, gitu ya,, jadi nama anak kalian ini adalah gabungan dari nama kalian gitu?”, Bu Hinda memastikan.
“Iya , Mami….”. Arfin mengiyakan.
“Aa yakin mau ngasih nama anak kita dengan nama itu?”, Naz merasa heran dan bertanya-tanya.
“Iya,, apa kamu keberatan, sayang?”, tanya Arfin, Naz menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Kenapa Cahaya Sang Anas,, emang gak cari nama yang kekinian?”, tanya Pak Syarief.
“Enggak Pa,,, Naz pernah bilang pada ku agar aku mencari nama yang memiliki arti yang baik dan bagus, supaya nama anak kami bisa menjadi doa untuknya dan untuk kami sebagai orang tua nya,, Cahaya itu sangat penting dalam kehidupan, tidak akan ada siang jika tidak ada cahaya matahari, malam tidak akan indah tanpa cahaya bulan dan bintang, dunia akan terasa gelap tanpa adanya cahaya. Dan itulah kenapa aku memilih nama Cahaya untuk anak kami,, agar dia bisa menjadi cahaya yang menerangi kehidupan kami, melengkapi hidup kami dan menjadi sumber kebahagiaan kami, bahkan untuk semua orang yang berada disekelilingnya”, Arfin menjelaskan arti nama anaknya.
Naz tersenyum bahagia mendengar pemaparan Arfin tentang arti dari nama yang ia berikan untuk bayi mereka.
“Dan bukan hanya itu, Cahaya Sang Anas ini juga adalah nama yang mempertemukan kami, sehingga kami bisa saling mengenal, saling mencintai dan bahkan sampai menikah. Mungkin kalian tahu nya kami bertemu saat aku masih baru pulang dari Amerika,, tapi sebenarnya kami bertemu saat sebelum aku berangkat ke Amerika dan Naz masih SD waktu itu,, Kami kembali bertemu di dunia maya, Naz menggunakan nama Eleanoor dan aku lebih suka memanggilnya Cahaya, sedangkan aku menggunakan nama sang Anas,, Sejak saat itulah kami dekat dan saling mengenal satu sama lain”., Arfin kembali memberi penjelasan betapa berartinya nama itu baginya dan sang istri.
“Wahh,, ternyata ada sejarahnya toh,, “, Ucap Pak Rizal.
“Iya,,, agar kami selalu mengingat nama itu, maka aku berikan nama itu pada anak kami, karena nama itu sangat berarti bagi kami, begitupun putri kami ini,, tapi karena aku ingin ada singkatan nama kami nya, jdi namanya akan ditulis Cahaya Sang Anaz,,, Cahaya Arfin dan Naz.. tapi kan tetap bilangnya Cahaya sang Anas”.
“Kalau orang Sunda mah manggilnya Cahaya Sang Anaj dong”, celetuk Bunda yang kembali mengundang tawa.
Karena malam sudah sangat larut, bahkan sudah pukul satu dini hari, para orang tua pun pulang ke rumah Bu Hinda untuk beristirahat, Naz hanya ditemani oleh suami dan juga Mama nya di rumah sakit.
Setelah bayinya tidur dan kembali di tidurkan di kasur bayi khusus, Naz pun diminta untuk tidur. Mama nya tidur di sofa sedangkan Arfin menghampiri Naz yang masih memandangi bayi yang diberi nama Cahaya itu. Ia ingin terus menemani istrinya, berada di sisinya, walau harus berbagi tempat tidur yang sempit itu.
“Aa,,,”, panggil Naz.
“Hmmmm”, sahut Arfin.
“Terimakasih,,”ucap ya.
“Untuk apa?,, “ Arfin merasa heran.
“Sudah memberi nama putri kita Cahaya Sang Anaz”, Naz mengutarakan.
“Hehehe,, Aa pikir kamu gak akan setuju?”.
“Bagaimana mungkin,, nama itu sangat berarti dalam hidupku,, yang begitu banyak merubah hidupku,,”...
“Terimakasih juga dulu kamu selalu setia menantikan ku”, Arfin kemudian mencium kening Naz..
“Apa kalau kita punya anak lagi , Aa akan memberi nama Be Smile?”, Naz teringat mainan yg pernah di diberikan Arfin padanya.
“Enggak,,,”, Arfin menjawab tegas.
“Kenapa?”, Naz merasa heran.
“Aa gak mau punya anak lagi,, kita sudah punya Cahaya saja sudah cukup, sudah sangat melengkapi hidup kita”.
“Katanya mau punya banyak anak, karena banyak anak banyak rezeki.. ini kan baru satu”, Naz mengingatkan perkataan suaminya tempo hari.
“Iya,, kalau dulu mikirnya gitu,, tapi setelah melihat mu yang nampak mengalami ketidaknyamanan saat hamil dan saat akan melahirkan begitu kesakitan,, Aa gak mau punya anak lagi,, Aa gak sanggup melihat mu kesakitan seperti itu,, Jika bisa, ingin rasanya Aa saja yang menanggung rasa sakit mu itu,, Aa yang ingin punya anak, tapi ternyata Aa malah menyakiti mu,,, Bagi Aa,, kita punya Cahaya saja sudah cukup”. Arfin bicara panjang lebar.
“Hamil dan melahirkan itu sudah menjadi kodratnya wanita, mungkin karena ini hal pertama bagiku, makanya shock saat merasakan sakit seperti itu,, jadinya heboh,, tapi setelah lahir, semua rasa sakit pun hilang,, malah jadi pengen punya anak lagi”. Naz malah ketagihan ternyata.
“Kita bertiga sudah cukup sayang,, Aa kamu dan Cahaya.. titik”. Arfin tetap pada pendiriannya.
“Salah,,, Pagu Magu dan Cahaya”,,Naz meralat.
“Iya,, sayang Pagu- Cahaya -Magu…”, Arfin mencium kening Naz dan mereka pun tidur dengan posisi saling berpelukan dengan membawa perasaan bahagia.
Cinta memang unik, terkadang berada di luar nalar manusia, dan untuk mendapatkannya secara paten pun butuh perjuangan dan pengorbanan yang tak sedikit. Begitupun yang dialami kedua pasangan Arfin dan Naz, mereka bisa bersatu tidak dengan semudah itu, namun mereka harus melewati banyak cobaan dan rintangan yang berat hingga mereka bisa sampai di puncak kebahagiaan yang kini mereka rasakan. Ditambah dengan kehadiran malaikat kecil yang semakin menambah kebahagiaan dan melengkapi kehidupan rumah tangga mereka, yakni Cahaya Sang Anaz. Mereka pun hidup bahagia menjadi keluarga kecil yang utuh dan saling melengkapi satu sama lain, Pagu- Cahaya-Magu….
---------------- TAMAT-----------------
****************************
Happy Reading.........
Alhamdulillah,,,, akhirnya bisa selesai juga sebelum lebaran,,, 🤭
Terimakasih banyak kepada para Reader terkeceh yang selama hampir delapan bulan ini selalu setia membaca dan menanti up kisah Arfin dan Naz yang satu episodenya selalu panjang ulala syaubella….saya masih tidak menyangka, karya recehan saya ini ternyata masih ada yang mau membacanya… hhihihihi….
Terimakasih juga atas semua dukungannya, like komen vote hadiah dan rate bintang nya. Berapa pun besar kecilnya itu semuanya begitu berarti buat saya, dan mohon maaf saya tidak bisa membalasnya satu persatu,, semoga Allah mambelas semua kebaikan kalian semua dengan pahala yang berlipat ganda,,,Amiin..🤲🤲
Terimakasih kepada para pendukung yang membuat saya memberanikan diri untuk menulis hasil halusinasi acak kadut ini yang entah dapat dari mana ide nya…
Mohon maaf apabila dalam penulisannya masih banyak kesalahan yan tidak sesuai dengan aturan PUEBI,,, Tulisan dan bahasanya masih rancu, karena nulisnya semau gue… Bahasa yang digunakan pun banyak campuran ya, seceplosnya saya aja,, hehehe…
Mohon maaf juga sering menggantung cerita dan bikin tebak- tebakan, yang membuat kalian jadi penasaran,,, tapi alhamdulilah masih hidup,, jadi gak mati penasaran ya,,,wkwkwkwk
Mohon maaf apabila ada kesaman Nama dan karakter, namun ini hanya Fiktif belaka dan tidak diangkat dari kisah nyata siapa pun,,, ya … paling ada lah ya sedikit- sedikit pengalaman lucu orang- orang di sekliling yang saya selipkan untuk menambah kelucuan saja,,,🤭
Saya dan segenap keluarga besar Cahaya Sang ANAS mengucapkan,,,,
Terimakasih
Teirmaksih
Terimakasih
Terimaksih
Terimakasih
Yang tak ada ujungnya,,,,😘😘😘😘😘
Aylapyu oll,,, pokoknya…😘😘😘😘😘
Mohon Maaf Lahir dan batiin...,.🙏🙏
__ADS_1