Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Si Tengil Pundung


__ADS_3

Udara di malam ini terasa dingin, namun nampak cerah terlihat dari banyaknya bintang yang bertaburan yang menghiasi indahnya langit malam, padahal siang tadi sempat turun hujan sekejap kemudian cerah kembali. Beruntung malam ini hujan tidak turun kembali, sehingga acara pesta BBQ bisa berjalan sesuai dengan rencana awal.


Dandy dan Nervan bertugas untuk memanggang daging BBQ beserta kawan- kawannya, Kiara dan Arini diberi tugas memplating makanan yang sudah matang nanti sambil menunggu duduk di bangku panjang yang terdapat meja di depannya, sedangkan Ruby dan Andes heboh merecoki Dandy dan Nervan dengan terus mengambil foto dan merekam kegiatan mereka.


Lain halnya dengan Naz yang duduk sendirian di salah satu kursi dari empat kursi yang berjarak sekitar enam meter dari mereka yang sedang memanggang, dilengkapi meja yang terdapat minuman kaleng, jus, dan bermacam- macam cemilan snack. Ia hanya menonton Dandy dan Nervan yang tengah memanggang yang direcokin terus oleh Ruby dan Andes yang membuatnya sesekali tersenyum geli, kemudian ia terdiam sejenak menghela nafas seolah membuang rasa yang menyesakan dadanya dan menundukkan pandangannya.



“Selamat ulang tahun sayang”, tiba- tiba ada yang berbisik di telinganya dari arah belakang yang tentu ia hafal suara itu, Naz langsung duduk tegak dan menolehkan pandangannya ke samping untuk melihat orang tersebut, namun ada rasa kecewa yang datang kembali di hatinya.


Naz pun berdiri mengeserkan kursi yang di dudukinya lalu memposisikan diri berhadapan dengan nya, “Aa,,,,,,hiks hiks hiks…”, ucapnya lalu menangis dan menghapus air mata dengan jemarinya.


“Iya,,, sayaang,,, “, ucapnya tersenyum, “Ehh kok malah nangis,,, tiup dulu lilinnya nanti keburu ketiup angin loh,, kan gak lucu,,,”, Naz pun meniup lilin yang ada di atas kue ulang tahun yang dibawa oleh kekasihnya itu dengan raut wajah cemberut dan air mata yang kembali mengalir, ”Nah,, sekarang boleh lanjut nangisnya”, ucapnya terkekeh sambil memegang kue dengan tangan kanannya.


“Ihhh,,, Aa jahat banget sihh,,, hiks hiks,, huhuhu “ ucap Naz sambil memukul dada Arfin yang berdiri di hadapannya itu dan Arfin pun menyimpan kue di atas meja yang ada di samping mereka.


“Sssstttt jangan menangis lagi,, nanti jadi jelek loh”, ucapnya sambil menghapus air mata Naz dengan menyapukan kedua jari jempolnya, Naz langsung memeluk Arfin.”Maaf sayang…. Aa minta maaf,,, Aa janji ini yang pertama dan terakhir kalinya Aa ngerjain kamu”, Arfin mengusap- usap kepala Naz yang masih terisak dipelukan nya.”Sssttt sayang udah ya jangan nangis lagi,, Aa punya sesuatu buat kamu, pasti suka”, ucapnya membujuk.


“Cie,,yang lagi berpelukan ,, seolah dunia milik berdua nih yee , lah kita- kita mah apa atuh,, kaum ghoib ”, teriak Ruby yang di sertai sorakan yang lainnya…. Uuuuuuu…… dan sontak itu membuat Naz dan Arfin saling melepaskan pelukannya.


“Udah berani lo ya peluk- peluk adek gue, Ar”, teriak Dandy yang sedang memanggang.


“Bukan gue yang meluk Dan, tiba- tiba gue dipeluk begitu saja,, ya pasrah aja gue mah sih ”, Arfin pun membela diri.


“Ihh,, apaan sih,,”, Naz langsung mencubit perut Arfin.


“Aduhhh,,,, sakit sayang,,, setelah dipeluk kok jadi di aniaya begini”, Arfin meringis kesakitan dan keluarlah protesan nya.


“Anjeerrr, maneh sayang- sayangan ka adi urang “, Dandy mengejek Arfin.


"Anjeerrr, lo sayang-sayangan ke adik gue".


“Teing ah, sirik aja maneh”, ucapnya dengan nada kaku seperti anak kecil yang belajar bicara.


" Gak tahu ah, iri aja lo".


“Teuing bukan teing ih ,,,Hhaha,, Aa jangan ngomong bahasa Sunda ih, geli dengernya”, Naz yang tadinya kesal jadi tertawa mendengar kalimat yang Arfin lontarkan.


“Dandy yang mulai loh,, kok Aa yang disalahin”, ucapnya memelas.


“Heh,, gak sopan lo ,,, panggil gue Kakak Dandy”, Dandy kembali berteriak.


“Najees banget “. Arfin menolak mentah- mentah.


“Kurang ajar lo,,, udah mah macarin adek gue tanpa izin, sekarang gak mau panggil gue Kakak,, jangan harap dapat restu dari gue”, Dandy terus mengutarakan kekesalannya.


“Bodo amat,,, orang adek lo nya juga mau,,,, wle”, Arfin yang mau kalah malah mengejek dengan menjulurkan lidahnya.


Saat mendengar percakapan konyol antara Arfin dan Dandy, mendengar kata restu Naz langsung teringat dengan Ayah yang belum memberikannya restu,


”Yasalam,,, aku baru ingat soal Ayah,,, bagaimana ini,,, Kak Arfin malah ada di sini sedangkan Ayah ada di dalam, kalau ketahuan Ayah bagaimana,,bisa- bisa Ayah bicara langsung pada Kak Arfin untuk memutuskan hubungan kami”, gumam Naz dalam hati.


“Hai,,, ko malah ngelamun,,, kenapa pertanyaan Aa gak di jawab…? Lagi ngelamunin siapa sih kan Aa udah ada di sini, hem”.Arfin bertanya sambil mengusap- usap kepala Naz.


“Iya,,, apa tadi,, Aa nanya apa,,, ?”, Naz malah balik bertanya.


“Kamu kenapa,,,? kamu mikirin apa sampai pucat gitu,, ayo duduk dulu”, Arfin menggeser kan kursi untuk di duduki oleh Naz.


“Eng enggak,,, aku ,,, aku cuma,,,, aku lapar,, dari tadi siang belum makan”, Naz menjawab dengan gugup lalu duduk.


“Hah,, kok bisa sih?,, kamu kan punya penyakit maag,,, Aa ambilin makanan ya ke dalam,,, disini cuman ada minuman kaleng, jus sama snack doang,,,”, Arfin hendak melangkahkan kakinya tapi tangannya ditarik oleh Naz.


“Eng enggak usah,,, Aa enggak usah ke dalam,,, disini aja…”, Naz mencegah Arfin masuk ke dalam karena takut Arfin akan bertemu dengan Ayahnya.


“Kenapa emangnya,,, ? masih kangen ya,,, ”, ucapnya tertawa jahil.


“He em,,,, “, Naz mengangguk dengan malu- malu.


“Ah iyaa,, Aa baru ingat,,, ini kue ulang tahunmu belum dipotong loh,, makan ini mau?”, Arfin baru teringat akan kue tart yang dibawanya tadi.


“He em ,,mau,,,”, Naz pun mengangguki nya.


“Eh,, tapi gak ada pisaunya,, aku ke dalam dulu ya ngambil pisau ke dapur…”, Arfin kembali memiliki alasan untuk masuk ke rumah.


“Jangan,,, em gak usah Aa,, gak usah pakai pisau”, Naz pun terus menghalangi niatnya agar tidak masuk ke dalam rumah.


“Terus pakai apa dong? masa iya langsung dicomot pakai tangan,,, gak lucu sayang, kamu kan bukan tikus,,, kamu kenapa sih megangin terus? Aa gak akan kabur kok sayang,, beneran deh… “, Arfin menatap Naz dengan terheran- heran, “ Yasudah Aa pinjam pisau aja dari yang lagi manggang itu ya”, setelah Naz mengangguki nya Arfin pun berjalan menuju tempat pemanggangan yang berjarak 6 meter dari tempat mereka duduk.


“Ngapain lo ke sini,,, udah selesai acara kangen- kangenan nya?”, Dandy langsung nyinyir.

__ADS_1


“Adek lo kelaperan tuh belum makan dari siang,, udah ada yang matang belum?”, Arfin melihat- lihat makanan di sana.


“Anjeer,,, gila lo ya,,, udah terang- terangan sekarang ya”,Nervan menggelengkan kepala.


“Ngapain sembunyi- sembunyi, dia kan bukan simpanan gue,, jadi terang- terangan ajja kali”, Arfin menjawab dengan santainya.


“Norak lo,, mentang- mentang baru punya pacar”, Nervan terus saja mengejek Arfin.


“Gak usah sirik deh, cewek lo banyak ya,, gue mah cuman satu,,”, ucapnya tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya,” Gak ada pisau bersih apa ya, itu kayaknya pisau abis dipakai motong sayuran sama daging ya,, aku pinjem garpu aja ya ,”, Arfin membawa sebuah garpu, “Kalian masak aja yang rajin ya,, “, ucapnya mengejek.



“Kampret lo”, ucap Dandy kesal.


Arfin kembali menghmpiri Naz dengan membawa sebuah garpu di tangannya, lalu ia duduk kembali di kursi yang bersebelahan dengan Naz. Arfin membelah kue nya dengan sedikit kesulitan karena menggunakan garpu dan hasilnya pun semerawut, potongannya seperti apapun yang penting bisa dimakan.


Arfin mengambil potongan kue dengan garpu , “ Aa suapin ya,,,aaakkk”, Arfin menyodorkan kue ke depan mulut Naz.


“Aku makan sendiri aja ah,, malu dilihatin mereka”, ucap Naz sambil melempar pandangan ke team pemanggang.


“Biarin aja, mereka kan ngakunya juga kaum ghoib,, ya anggap saja begitu, mereka tidak terlihat tapi hanya terdengar,,,, buka mulutnya aaaakk”, ucapnya tetap memaksa menyuapi.


“Ahh,,, gak mau,, itu Kak Dandy ngelihatin kesini”, Naz tetap menolak.


“Biarin aja dia lihat kesini, dia kan punya mata, sayang ,,, udah cepetan aaakk,,,”, Arfin terus memaksa dan Naz pun tetap menolak, “Oh kamu gak mau disuapin pakai tangan ya,, apa mau disuapin pakai bibir, hem..??”, ucapnya tersenyum jahil dan ia pun mendapatkan pelototan dari Naz, “Ih sayang jangan melotot gitu,, serem tahu kayak suzana bangkit dari liang kubur,,hahahha,,, ayo buka mulutnya aaakk”, akhirnya Naz bersedia disuapi sambil medelikan matanya dengan tatapan kesal pada Arfin.


“Aa lama- lama kayak Bang Evan ih,,”, ucap Naz yang baru saja menelan kue yang sudah dikunyah nya.


“Ya enggak lah,,, emang kamu mau Aa punya pacar banyak kayak dia?”, tanyanya iseng.


“Awas aja kalo berani,,, aku akan mematahkan lehermu”, Naz bicara sambil melintaskan telunjuknya seolah menggorok lehernya.


“Uhhh,,, serem,,, Aa takut”, ucapnya terkekeh, “Aaaak lagi”, Arfin kembali menyuapi Naz sampai beberapa suapan lagi, saat suapan kelima Naz menolaknya.


“Udah Aa,, aku udah kenyang,, gak mungkin kan aku menghabiskan kue tart ini semuanya, yang ada nanti akau gendut”, ucapnya.


“Iya nanti gendut kayak buntelan kentut lagi yak”, ucapnya terkekeh mengingat perkataan Opa tempo hari dan itu membuat Naz memonyongkan bibirnya, “Jangan cemberut gitu ih gemas itu,, nanti Aa cium loh, hahaha”, Arfin malah tertawa karena melihat Naz langsung merubah ekspresinya karena takut dicium, lalu Arfin menuangkan jus ke dalam gelas kosong yang tersedia di nampan di atas meja, “Nih minum dulu,,,”, ia pun menyodorkan gelas tersebut pada Naz dan langsung diminumnya, “Aa punya sesuatu buat kamu”.


“Apa?”, tanya Naz yang baru selesai minum.


“Tuh di belakang mu”, Arfin menunjuk ke arah belakang Naz yang terdapat sebuah kandang hewan.


Naz menoleh ke belakang yang berjarak sekitar dua meter dari tempat duduknya, dan ia pun berdiri lalu menghampiri kadang tersebut. “ Wahhh,,,, kucingnya lucu banget,,, boleh aku mengeluarkannya dari dalam kandang ini ?”, Tanya Naz yang kemudian diangguki oleh Arfin, dan ia pun mengeluarkan dan langsung menggendongnya.”Uuunchh,, lucu banget…”.


“Ahhhh,,, seriusan? Ini buat aku?”, tanya Naz antusias.


“Tentu,,,, itu kucingku, karena aku sering ke Surabaya jadi dia terlantar,, makanya aku kasih dia buat kamu aja, biar ada yang merawat”, Arfin pun menjelaskan asal muasal kucing itu.


“Hah,, maksudnya aku jadi Baby sitter kucing gitu?”, tanyanya heran.


“Hahaha,,, pemilik baru lebih tepatnya,, kalo Baby sitter aku harus menggaji kamu dong..”, ucap Arfin terkekeh.


“Jadi ini kado ulang tahunku?”, tanyanya lagi.


“Emm,, bisa dibilang begitu”, Arfin menjawab dengan santainya.


“Permisi,,, apakah acara suap- suapan nya sudah selesai?”, Ruby datang menghampiri mereka, " Wahhh lucunya kucing ini,,, ", ucapnya saat melihat kucing di gendongan Naz.


“Gak ada acara suap- suapan Ruby,, hanya aku yang menyuapinya,, dia tidak menyuapiku”, ucap Arfin yang kedengarannya menyindir.


“Orang Aa nya juga gak minta , wle”, Naz malam mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya.


“Hahaha,,, itu artinya lo gak peka Naz”, Ruby malah mengejek sahabatnya itu.


“Tuh,, Ruby aja paham,,,”, Arfin merasa mendapatkan sekutu fron pembelanya.


“Ya iyalah Ruby mah udah berpengalaman,, pacaran aja dari kelas 6 SD,,”, Naz membongkar rahasia Ruby.


“Woww,,, “, ucap Afin tercengang..


“Yee,, itu mah jangan dihitung atuh namanya juga Cinta Monyet ”, Ruby menyangkal.


“Terus kalo sekarang Cinta Kingkong gitu?”,Naz malah ngaco.


“Sekalian aja Cinta Gorila”, ucap Ruby yang nampak kesal..


“Ternyata pacarmu masih family Simpangse ya Ruby,,hahahaha”, ucap Arfin tertawa dan diikuti oleh Naz yang menertawakan Ruby.


“Arghh,, kalian berdua memang pasangan koslet,,, udah yu ah Naz kita nyalain kembang api , nih gue udah bawa sama koreknya”, Ruby baru teringat tujuannya menghampiri Naz untuk mengajaknya bermain kembang api.

__ADS_1


“Dapat dari mana itu kembang api?? Gak sekalian beli petasan?”, tanya Naz.


“Itu si Andes beli kembang api,,, gue udah bilang sama dia supaya beli petasan sama mercon,,, eh pas datang cuman ada kembang api doang dengan alasan suara petasan sama mercon takut bikin jantungan sama merusak telinga”, Ruby menjelaskan. ”Ayo kita ke sebelah sana”, Ruby mengajak Naz agak menjauh dari tempat duduknya tadi, menuju lahan yang masih kosong tanpa kursi.


Ruby dan Naz memegang satu batang kembang api lalu dinyalakan lah korek hingga apinya menyulut ujung kembang api dan menyala lah,, Naz memainkan kembang api sambil menggendong kucing yang awalnya kucingnya anteng, jadi terlihat takut melihat kembang Api, “Uluh uluh… kamu takut yaa,,,?? Gak apa- apa ,, tenang saja ini bukan bom”, ucap Naz berbicara pada kucing yang sedang di gendongnya.




Ternyata kucingnya tetap ketakutan dan mulai berontak, akhirnya Naz melepaskan kucing itu, yang ternyata pergi menghampiri Arfin yang tengah duduk memperhatikannya, “Ternyata kucing itu mau mengadu ke tuannya,, hahaha,, lucunya”, ucapnya tertawa.



Saat sedang asyik bermain kembang api, Naz melihat Ayah muncul dan berjalan menuju meja tempat Arfin berada,, ,, “Ayah,,, gimana ini,,, kenapa Ayah menghampiri Kak Arfin”, gumam Naz dalam hati dengan raut wajah ketakutan., ia pun segera menghampiri ke sana dan sang Ayah sudah duduk di salah satu kursi yang satu meja dengan Arfin.


“A,, ayah,,,,”, Naz menyapa dengan gelagapan.


“Iya,, kenapa”, tanya Ayahnya.


“Emm,,, emmm,,, ayah ngapain di sini?”, tanya Naz basa- basi.


“Ayah juga mau ikutan pesta BBQ dong,, kan tuan rumah di sini masa iya gak nimbrung, ayo sini duduk”, Ayah menunjuk salah satu kursi yang masih kosong, “Kamu kenapa kok tegang gitu sayang?”, tanyanya heran.


“Em,,,enggak kok,,, biasa aja,,, hehehe”, Naz malah cengengesan.


“Arfin,,, kamu ngomong apa sama anak bontot kesayangan saya ini, sampai dia takut sama saya?”, Ayah bertanya seolah sedang menyelidiki.


Deg ,,, Naz yang sedari tadi sudah merasa takut dan sekarang malah bertambah takut, “Aduh,, ayah pasti nyuruh dia mutusin aku,,, yasalamm,,, bagaimana ini,,, tamatlah riwayat percintaanku ini, sudah melewati umur toge sekarang mau seumur bayam hidroponik,,” gumam Naz dalam hatinya.


“Gak ngomong apa- apa Om,,, cuman minta maaf sudah mengerjainya”, Arfin menjawab dengan santai.


“Bohong Yah,, ngomongnya udah sayang- sayangan tuh sampai suap- suapan malah”, Dandy yang menghampiri mereka untuk menyerahkan makanan hasil panggangan nya yang sudah jadi dan di plating oleh kekasihnya pun ikut nimbrung bicara.


“Oh,, yaa,,, “, ucap Ayah sambil memandang Naz dan Arfin secara bergantian seolah meminta penjelasan, sedangkan keduanya nampak salah tingkah karena malu.


“Hehehe,,, tadi saya lihat wajah Naz pucat Om, dan ternyata katanya belum makan dari tadi siang, jadi saya suapin dia makan kue ini”, Arfin menjelaskan.


“Loh,, sayang,, kamu itu gak boleh telat makan, nanti sakit maag mu bisa kambuh loh”, Ayah mengingatkan Naz akan penyakitnya, “Terimakasih ya Arfin,, ternyata kamu benar- benar perhatian sama anak saya”, ucapnya tersenyum.


Naz malah merasa heran dengan perkataan Ayahnya pada Arfin.


“Terimakasih juga Om sudah mengizinkan saya menjalin hubungan dengan putri kesayangan Om ini”, ucap Arfin yang membuat Naz merasa terkejut.


“Dan kamu harus tetap ingat untuk memenuhi janjimu itu”, Ayah kembali mengingatkan.


“Siap komandan”, ucap Arfin terkekeh.


“Ini,,, maksudnya apa… kalian….??”, Naz akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak tadi membuatnya penasaran.


“Dia belum tahu Ar?”, Ayahnya Naz bertanya kepada Arfin dan orangnya malah menggelengkan kepalanya sambil nyengir.


“Tahu tentang apa, Yah?”, Naz semakin penasaran.


Pak Rizal pun terkekeh melihat Naz yang terlihat bingung, “Jadi, Sabtu seminggu yang lalu Arfin dan kakaknya datang menemui Ayah dan Bunda, menjelaskan beberapa hal dan Arfin meminta maaf karena udah macarin kamu tanpa seizin kami, dan ia juga minta izin agar bisa tetap berhubungan dengan kamu, tapi Ayah memberikannya syarat yang sama dengan yang Papa kamu ajukan padanya”,Ayah pun menjelaskan.


“Jadi,, berarti sehari setelah ulang tahun Opa dan setelah kejadian itu Ayah sudah memberikan izin?? Kenapa Ayah sama Bunda gak ngasih tahu aku?”, Naz merasa kaget dan kecewa.


“Karena Arfin yang memintanya untuk tidak memberitahukan mu dulu,, katanya dia dan ketiga sahabatmu mau ngerjain kamu karena kamu sebentar lagi ulang tahun”, Ayah bicara dengan polosnya sedangkan Arfin yang sudah mengedipkan mata sebagai kode nampak tak dihiraukan.


Naz menghela nafas kasar, “Kalian,,,, kalian semua memang menyebalkan….”, ucapnya dengan nada kesal, lalu Naz bangkit dari duduknya dan berlari masuk ke dalam rumahnya.


“Naz…. “, Arfin memanggilnya namun Naz tidak menggubrisnya.”Dia pasti marah banget Om”, ucapnya dengan terus memandangi Naz sampai ia masuk ke dalam rumah.


“Jadi, Naz benar- benar belum tahu apa- apa??”, Pak Rizal pun terkejut dengan apa yang terjadi,,, “Maaf Arfin,, Om tidak tahu kalau Naz akan semarah itu, Om pikir tadi kamu bilang sudah minta maaf karena sudah mengerjai nya, kamu sudah bilang segalanya ", ucap Ayah.


" Belum sampai situ, Om,,, ", ucap Arfin dengan nada sendu.


"Arfin,, sebaiknya kamu samperin dia,, kalo dibiarkan jika si tengil sudah semarah itu akan sulit untuk dibujuknya ", Ayah memberi saran.


Arfin pun nampak terdiam seolah memikirkan cara untuk membujuk kekasihnya yang sedang murka itu, lalu ia tersenyum jahil sepertinya sudah menemukan cara untuk membujuk gadis tengil kesayangannya itu.


------------- TBC ---------------


*********************************


Happy Reading......


Jangan lupa tinggalkan jejakmu..... 🥰😍😉

__ADS_1



Dapat salam dari Aa ganteng buat para reader...... 😘😘😘


__ADS_2