
Naz yang terbaring lemas di atas sofa masih belum sadarkan diri, sementara para emak- emak yang berdiri di dekat sofa nampak heboh setelah mendengar keterangan dari Ruby bahwa Naz mengeluhkan eneg, mual dan pusing serta muntah- muntah saat mereka pergi ke toilet bersama.
“Apa???”, semua orang nampak terkejut dengan pernyataan Ruby tentang Naz, tak terkecuali sang suami, Arfin.
“Wah,,, Al,,, kamu tokcer juga ya”, Pak Latief berkomentar dari dekat pintu.
“Pantesan jadi suka kopi kamu Ar,, gadang terus ya,,,”, Pak Syarief pun ikut berkmentar.
“Tapi kok secepat ini ya?”, Bu Rahmi malah merasa heran.
“Aku juga dulu gitu atuh Mbak,,, persis seperti Naz,, saat nikah sama Mas Rizal dalam keadaan mens, eh bulan depan nya teh gak mens lagi, ternyata langsung hamil Rezki,, biasalah pengantin baru mah lagi hot hot nya, du kali juga masih gak berasa ", Bunda itukan berkomentar.
“Jangan- jangan Mbak Anita yang ngasih resep nya ya??,,, akhirnya nambah cucu lagi,, pantesan aja tadi pagi Naz kekeh pengen naik motor sampai merengek, sampai rambutnya yang udah dicepol berantakan, jadinya dibiarkan terurai saat acara, terus disuruh sarapan dulu, gak mau katanya gak selera, kayaknya lagi ngidam ya”, cerocos Bu Hinda.
"Zal, gimana keadaan Naz? ", tanya Bu Rahmi yang melihat adik iparnya sudah selesai memeriksa Naz.
“Asam lambung nya naik ini Mbak”, Pa Rizal memberikan diagnosanya setelah memeriksa dibagian perut Naz.
“Hah,,, jadi bukan hamidun?”, tanya Bu Hinda sedikit kecewa.
“Naon hamidun teh, Nda?”, Bunda malah balik bertanya.
“Hamil maksudnya, Mbak,, hehehe”, jawabnya terkekeh.
“Kalau mendeteksi awal kehamilan minimal pakai tespack atau untuk lebih jelasnya di USG,, emangnya Naz udah telat, Ar?”, tanya beliau pada Arfin, namun ia tak bergeming seolah sedang melamun karena masih terkejut.”Arfin,,,”, ucapnya lagi sambil menepuk pundak nya.
“Iya Ayah kenpa?”, Arfin yang merasa kaget malah bertanya balik.
“Apa Naz sudah telat?”, Pak Rizal mengulangi pertanyaannya.
“Telat apa, Yah?”, Arfin malah bertanya lagi karena nampak bingung.
“Telat datang bulan… ”, Pak Rizal memperjelas.
“Kalau gak salah mah dulu sehari sebelum menikah, berarti tanggal 3,, sekarang baru tanggal 29,,, belum atuh Yah,,, Naz mah belum telat,,, tapi kan mereka udah nikah hampir empat minggu,,, bisa aja atuh udah jadi,, kan setelah mens mah waktunya masa subur”, Bunda malah yang menjawab, karena melihat Arfin yang nampak bingung.
”Nita,, mana minyak angin nya?”, tanya Bu Rahmi.
“Bentar lagi kayaknya mah Mbak,,, tadi teh aku minta tolong ke Andes untuk membelinya ke apotek depan, soalnya aku enggak bawa”, jawab Bunda.
Andes masuk dengan nafas ngos- ngosan karena habis berlari kemudian menyerahkan kantong kresek yang ia bawa, “Ini Bunda,,, obat maag sirup sama minyak kayu putih nya,, dan ini kembaliannya”, ucapnya.
“Wah,,, terimakasih Andes,,, eh tapi kayaknya harus beli tespack deh”, Bunda kembali memberikan uang kembaliannya pada Andes.
“Siap… laksanakan Bunda”, Andes pun bergegas pergi untuk membeli tespack ke apotek tempat ia membeli obat dan minyak kayu putih tadi.
Bunda memberikan minyak kayu putih pada Bu Rahmi yang kemudian mengoleskannya pada pelipis Naz dan di ciumkan ke hidung Naz agar ia segera sadar.
“Mbak Nita,, gak salah tadi nyuruh Andes beli tespack?”, tanya Bu Hinda.
“Astagfirullah,,, Andes teh kan laki- laki ya,, gimana atuh ? nanti teh dia bakalan malu”, Bunda baru menyedari.
“Biarin aja Bunda,, lagian si Andes kan laki- laki setengah jadi”, ucap Ruby terkekeh.
“Emhhhh….”, Naz mulai tersadar.
“Sayang,,,, kamu udah sadar?”, tanya Arfin yang sejak tadi memegang tangan Naz sambil duduk di lantai sebelah sofa tempat Naz terbaring.
“Emmmh,,, aku dimna ini? Bukannya tadi lagi di restoran?”, Naz yang masih mengumpulkan kesadarannya terlihat bingung meliht di sekelilingnya.
“Ini di ruangan manager restoran, tadi kamu pingsan makanya dibawa ke sini”, ucap Bu Rahmi yang sama juga duduk di lantai bersebelahan dengan Arfin.
Naz kemudian hendak bangun, lalu di bantu oleh Mama nya, dan ia pun kini dalam posisi duduk di sofa, Mama nya pun ikut duduk di sampingnya. Karena sofa itu muat untuk tiga sampai empat orang, Bu Hinda pun ikut duduk di sebelah Naz, sehingga Naz diapit oleh Mama dan mertuanya. Arfin pun bangun lalu ia duduk di kursi yang satunya lagi yang hanya terhalang oleh meja bersama ayah mertuanya, sementara Bunda pergi ke luar.
“Naz,, apa kamu masih pusing?”, tanya Bu Hinda saat melihat Naz memijat pelipisnya, Naz pun hanya mengangguk.
“Ruby bilang tadi kamu muntah- muntah di toilet,, Apa sekarang kamu masih mual sayang?”, tanya Bu Rahmi, dan Naz pun hanya mengangguk.
“Tuh kan bener Jeng,,, Naz mau ngasih kita cucu”, Bu Hinda nampak senang sekali.
“Hah??? Apa?? Cucu ?? Maksudnya?”, Tanya Naz yang nampak bingung.
“Iya,,, sayang,, berarti kamu sedang hamil,,, tokcer juga suami mu ya”, ucap Bu Hinda.
“Hah,,?? Hamil?”, Naz yang masih bingung merasa terkejut, ia menoleh ke Mama dan Mami nya secara bergantian, lalu ia melirik ke arah suaminya yang duduk di seberang meja.
“Itu gak mungkin Ma, Mami,,, kami kan baru menikah, belum genap satu bulan malah,, mana mungkin Naz hamil secepat itu?”, Arfin yang sejak tadi nampak terkejut dan bingung pun kini membuka suara.
“Bisa aja kan kalian pas malam pertama Naz lagi masa subur,,, jadi langsung tokcer, iya kan?”, Bu Hinda sangat berharap.
“Ini Dek,, minum dulu obat maag nya, Ayah mu bilang asam lambung mu naik dan ini minum teh manis hangat, biar mualnya berkurang”, Bunda memberikan segelas teh hangat pada Naz yang beliau bawa, Naz pun menerimanya dan meminumnya.
“Bunda,,, iiihhh,,, kenapa Bunda gak bilang kalau tespack itu alat tes kehamilan?”, Andes menggerutu kesal saat baru sampai dengan membawa tespack pesanan Bunda.
“Maaf Andes,, Bunda teh lupa kalau kamu teh anak laki yang masih dibawah umur,, hahaha,,,”.
“Emangnya kenapa, Andes?”, tanya Bu Rahmi.
“Tadi kan aku ke apotek bilang Mbak beli tespack satu dengan suara agak kencang,,, ehh ternyata ada Mami sama Papi aku di apotek itu lagi nebus obat buat Eyang yang sakit,,, rumah aku kan di sekitaran sini,,, ehh,, aku langsung dimarah- marahin sama mereka, dikira aku udah menghamili anak gadis orang, aku udah jelaskan eh mereka gak percaya,, tuh mereka ada di depan mau lihat siapa yang aku hamili katanya,,, kan itu fitnah,,, lagian yang menghamili Naz kan bukan aku,, tapi suaminya,,, ehh tunggu,, emangnya Naz hamil ya Bunda, Tante?”, Andes bicara dengan nada manja alay lalu ia pun menyadari hal tentang Naz dan baru mempertanyakannya.
“Emangnya kamu bisa menghamili cewek, Andes?”, tanya Pak Syarief sambil menahan tawa.
“Iiihh,,, Om apaan sih,,, Andes kan belum menikah,, kata Mami belum boleh kayak gitu,,, ”, Andes kembali menjawab dengan nada manja.
“Iya sih belum menikah,, apaan itu udah nonton film blue yang cover kasetnya doraemon”. Ucapan Ruby mengundang tawa semua orang.
“Rif, kita keluar saja, kasihan takutnya Naz kepanasan kalau di sini terlalu banyak orang, nampaknya dia sudah membaik,, kita serahkan saja sama ibu- ibu,,,nanti kita tunggu hasilnya”, Pak Latief mengajak Pak Syarief keluar, mereka pun kembali ke meja tempat mereka makan sebelumnya, Pak Rizal pun ikut serta.
__ADS_1
“Des,,, kita juga keluar yuk,,, itu Kiara dari tadi pengenn kesini ketahan sama Raline katanya, dia ng’chat gue nih”, Ruby pun mengajak Andes keluar lalu berpamitan pada Naz dan para emak- emak nya. Kini di ruangan itu tinggalah Naz, suaminya, ketiga ibunya serta seorang pelayan yang stay di sana.
“Ayok Naz Mama antar ke toilet untuk di tespack”, ajak Bu Rahmi.
“Aku gak hamil Mama,,, ngapain juga musti di tespack?”, Naz menolak.
“Kata siapa kamu gak hamil? Itu ciri- cirinya kok kayak yang lagi hamil muda”, Bu Hinda masih kekeh dengan perkiraannya.
“Aku udah pernah di tespack kok, dan hasilnya negatif”, Naz meyakinkan mereka.
“Apa,,?? Kapan??”, tanya Mama dan Mami nya serentak.
“Waktu sebelum nikah”, Naz menjawab jujur.
“Apa,,,??”, ketiga emak itu kembali terkejut.
“Astagfirullah,,, jadi kalian teh dulu pacaran udah sejauh itu? pantesan atuh pengen buru- buru nikah,,, kamu teh udah sering Bunda nasehatin atuh Dek,, kalo pacaran teh harus tahu batasan”, cerocos Bunda.
“Arfin…!!!”, Bu Hinda langsung menatap tajam pada putranya dan itu membuatnya semakin bingung.
“Jadi karena itu kalian minta cepat- cepat menikah?”, Bu Rahmi kembali melontarkan pertanyaan karena terkejut mendengar pengakuan Naz.
“Naz,, kamu beneran pernah di tespack sebelum menikah? Kapan itu?”, Bu Hinda memastikan.
“Iya,,, Aa juga tahu kok, Mi,,, aku kan bareng sama Aa ke klinik Bidan Ningrum yang ada di komplek perumahan tempat tinggal Mama”, jawab Naz, “Emmm,,,, kalau gak salah sebulan setengah sebelum menikah, Mi “, tambahnya lagi.
“Hahh?? Apa??”, Bu Rahmi kembali dikejutkan.
“Astagfirullah Adek,,, kamu teh bikin malu, jangan- jangan gossip yang beredar soal kehamilan kamu teh berasal dari komplek tempat tinggal Mbak Rahmi kalau gitu mah atuh”, Bunda mengira- ngira.
“Naz,, ngapain kamu di tespack di sana? Emang gak bisa beli sendiri apa?”, Bu Rahmi menggerutu kesal.
“Ya untuk mengetahui hamil atau enggaknya, Ma”, jawab Naz yang semakin merasa bingung dengan tanggapan keluarganya.
“Arfin,,, kamu bener- bener ya !!”, Bu Hinda sudah mengeluarkan tanduknya karena merasa geram pada anaknya dan malu pada keluarga Naz.
“Astagfirullah,, kalian teh benar- benar gak bisa dipercaya,,, disuruh jaga diri, malah gak bisa nahan diri, padahal atuh sebentar lagi teh kalian menikah waktu itu teh, kenapa main uji coba segala atuh ya ampuun”, Bunda nyerocos sambil memegang dadanya.
“Kalian kenapa sih kok kaget gitu?”, Tanya Naz heran.
“Iya,, kalian pada kenapa sih,, kayaknya pada bertanduk semua?”, Arfin pun bertanya karena merasa heran apalagi dengan tatapan kemarahan dari Mami nya.
“Gimana kami gak kaget dan marah,,, kalian sebelum menikah udah berani tidur bersama”, Bu Rahmi bicara ketus.
“Enggak”, Jawab Naz dan Arfin serentak.
“Apa?? Enggak? Terus kalo gak gituan ngapain Naz musti di tespack segala?”, tanya Bu Hinda yang sangat kesal.
“Ya ampun,,, masa kalian tidak tahu,, itu salah satu persyaratan saat kami akan mendaftarkan pernikahan ke KUA, tadi juga Papi bilang saat di panggung, kalau tidak percaya tinggal mengecek ke KUA disana ada surat keterangan medis yang menyatakan Naz tidak sedang dalam keadaan hamil saat akan menikah, dan itu carannya dengan di tespack, Mami”, Arfin yang merasa tidak habis pikir dengan pikiran egatif para emak- emak pun akhirnya memberi penjelasan.
“Ooohhh,,,, begitu”, ucap trio emak serentak, kemudian mereka bernafas lega.
“Iya ih,, kamu mah Dek, kalo ngomong teh suka gak jelas, harusnya teh yang lengkap biar kita gak salah paham”, Bunda masih nyerocos.
“Yasudah kalau begitu, ayok Mama antar kamu ke toilet, buat di tespack”, ajak Bu Rahmi lagi.
Naz memandang ke arah suaminya dan melihat ekspresinya, “Ya ampun Mama, kan itu hasil tespack dulu negatif, dari situ juga kan udah ketahuan,, ngapain di tespack lagi”, tolak Naz.
“Itu kan sebelum kamu menikah atuh Dek hasil tespacknya juga, kan sekarang kamu udah hampir sebulan menikah, pastinya udah sering wikiwik suit swiww atuh kan?? Kamu terakhir mens kapan?”, tanya Bunda.
“Emm,,,, waktu berangkat ke Surabaya”. jawab Naz sambil mengingat- ingat.
“Tuh kan apalagi,,, berarti udah tiga minggu,, dan kamu juga mengalami pusing dan mual muntah seperti orang hamil muda pada umumnya”, Bu Hinda tetap kekeh pada perkiraannya.
“Udah yuk,, biar gak penasaran di tespack lagi”, Bu Rahmi pun berdiri dan mengajak Naz ke toilet, yang kebetulan di ruangan itu ada toilet pribadi.
Naz pun akhirnya memenuhi permintan trio emaknya rempongnya itu, ia pergi ke toilet diantar Mama nya dengan membawa tespack dan satu akua gelas yang tersedia di atas meja untuk digunakan gelas plastiknya sedangkan airnya dibuang. Kemudian Naz masuk dan melakukan sesuai prosedur cara pakai tespack yang diterangkan Mama nya, tak lama ia pun ia keluar membawa tespacknya dan menyerahkannya pada mereka.
Ketiganya memperhatikan dengan seksama tespack yang dipegang oleh Bu Rahmi untuk melihat hasilnya. Dan eng ing eng,,, hasil tespacknya satu garis alias negatif.
“Yah,,, negatif”, ucap ketiganya serempak.
Naz yang sudah merasa baikan pun akhirnya dibawa keluar dari ruangan tersebut di boyong oleh suaminya dan kembali ke meja makan untuk makan pesanan mereka yang beberapa waktu alau sudah datang dan beruntung belum dingin, mereka pun mekan bersama dengan kehebohan dari para ibu- ibu rempong beserta ketiga sahabat Naz.
Seusai makan- makan, mereka pun bubar barisan untuk pulang dan tentunya kali ini Naz dilarang naik motor, sehingga motornya dibawa oleh sopir Pak Latief, sedangkan Arfin menggantikan sopir itu mengendarai mobil. Setelah beberapa saat mereka pun sampai di rumah, dan Naz pun langsung pergi ke kamarnya diminta untuk berisitirahat.
**
Siang telah berganti malam, hari yang cukup melelahkan sudah terlewati. Naz bersama suami dan mertuanya seusai makan malam kemudian bercengkrama di ruang tengah, dan setelah itu mereka pun kembali ke kamar masing- masing.
Arfin dan Naz kini tengah duduk selonjoran di ranjang sambil menonton televisi.
Sebelah tangan Arfin merangkul Naz dan membawa Naz ke dalam pelukannya, “Sayang,,,”, panggilnya pelan sambil mengusap lengannya.
“Hemmm,,,”.
“Aa perhatikan kok kamu sejak pulang makan di restoran tadi diam terus? Apa kamu masih sakit?”.
“Enggak apa- apa kok A,,, aku udah baikan, kan udah minum obat lagi tadi sebelum makan”.
“Apa kamu masih kepikiran soal pembicaraan Mami, Mama sama Bunda tadi saat di restoran?”.
Naz menghela nafas panjang, “Apa Aa gak mau kalau kita punya anak?”, tiba- tiba pertanyaan itu dilontarkan.
“Apa?? Maksudnya gimana sayang?”, Arfin malah seolah bingung dengan pertanyaan istrinya.
“Tadi aku perhatikan Aa kayaknya gak suka saat mendengar kalau ketiga ibu kita bilang aku hamil”, Naz mengutarakan apa yang dirasakannya dan teringat ekspresi suaminya saat itu.
__ADS_1
“Bukan begitu sayang,, Aa cuman kaget dan bingung dengan perkiraan mereka,,, tentu saja Aa ingin kita bisa memiliki anak,, Aa kan dulu pernah bilang kalau pengen punya banyak anak, karena banyak anak kan banyak rezeki juga”, Arfin memberi penjelasan.
“Ohh,,, aku pikir Aa gak mau kalau aku hamil”, Naz merasa lega ternyata ia salah mengira.
“Ya enggak lah sayang,,, Aa tuh ngebayangin kalau kita punya anak yang lucu- lucu, kalau perempuan cantik kayak kamu,, kalau laki- laki ganteng kayak Aa”, Arfin tersenyum membayangkannya.
“Kalo kebalik gimana?”, tanya Naz.
“Maksudnya ?”. Arfin merasa tak paham.
“Kalau ternyata saat kita punya anak perempuan ternyata wajahnya mirip sama Aa, kayak Nala gitu mirip Bang Evan, kalau punya anak laki- laki wajahnya mirip sama aku gitu”, Naz memperjelas perkataannya.
“Ya gak apa- apa lah,,, yang penting mereka sehat dan pastinya lucu- lucu, kan kita ini bibit unggul, cantik dan ganteng,, asalkan jangan seperti Andes aja”.
“Dasar narsis,,, apaan sih Aa,, masa anak kita kayak Andes,, ngaco deh, emang Aa rela kalau anak kita mirip orang lain?”, tanya Naz sambil terkekeh.
“Ya enggaklah,, enak aja,, Aa yang bikin Aa yang kerja keras, tiba- tiba mirip orang lain,, nanti Aa gorok orangnya”.
“Hahahaha…. Lagian Aa tadi pakai bilang anak kita jangan kayak Andes”.
“Maksudnya sikapnya jangan kayak Andes,, dia dibilang cowok tapi lembek,, dibilang cewek punya batang juga, gak jelas gitu”.
“Hahahha,,, ihh Aa jahat ,,, menghina sahabatku… dia itu biarpun cowok lembek tapi baik banget, dan kalau udah marah sisi kecowok an nya keluar tau”.
“Kamu ih,,, malah muji- muji cowok lain di depan Aa”.
“Yaelah,,, sama Andes aja cemburu,, katanya Andes mah gak jelas,,,,”.
“Ya tetep aja kan casing nya cowok,,, oh iya,, kita tiga hari lagi nih di Jakarta,,, mau kemana aja sayang?”.
“Emmm,,, kemana ya?? Emm,,, pengen main ke danau, ke kedai dimsum Haji ipeh, ke rumah Opa, terus nginap di rumah Bunda”, ucapnya mengutarakan keinginannya.
“Okelah kalau begitu,,, sekarang kita tidur ya,, udah malam nih”, ajak Arfin kemudian mematikan televisinya.
“Nala kemana ya? kok aku gak lihat sejak pulang tadi?”, Naz tiba- tiba teringat sama bocah lucu itu.
“Ya mereka pulang ke rumah nya lah sayang, udah yuk ah tidur,, Aa ngantuk banget”, ajaknya lagi kemudian Arfin mematikan lampu kamarnya dan mereka pun tidur.
**
Keesokan harinya Arfin memenuhi keinginan istrinya, setelah mereka sarapan, Arfin mengajaknya berkunjung ke rumah Opa nya Naz, dan disana mereka disambut dengan baik, walaupun kesehatan Opa kurang begitu baik. Keduanya cukup lama di rumah Opa, mereka ngobrol- ngorol ringan, sama halnya seperti kedua oang tua mereka, Opa dan Oma pun meberikan wejangan pada keduanya dalam menjalankan biduk rumah tangga, bahkan sampai Opa mengatakan agar mereka tidak menunda memiliki anak dan berharap agar masih diberi umur agar bisa melihat cicit dari cucu kesayangannya lahir.
Mereka pamit setelah shalat ashar dan Naz mengajak Arfin untuk pergi ke taman danau.
Sesampainya di sana, mereka duduk di bangku tepi danau. Keduanya memandang ke arah danau, kemudian memejamkan mata sambil menghela nafas panjang bebebrapa kali, seolah ingin melepas beban yang ada di pikiran atau di hati mereka.
“Meskipun sudah ada yang berubah, tempat ini masih terasa indah dan nyaman untuk menenangkan pikiran, sepertinya jika sudah menua pun aku akan tetap menukai tempat ini dan sesekali akan berkunjung ke sini,,, tapi entah beberapa tahun ke depan tempat ini masih sama atau tidak”, ucap Naz sambil tersenyum.
Arfin pun tersenyum pada istrinya, “Tempat ini menyimpan banyak kenangan untuk kita ya, makanya kamu tidak mau melupakan tempat ini”.
“Iya,,, dulu juga saat masih SD aku suka main ke sini sama ketiga sahabatku sambil menunggu jemputan pulang,, orang yang pertama mengajak ku kesini adalah Mama, beliau dulu suka datang ke sini, katanya untuk menenangkan pikiran dan aku baru tahu di dekat sekolah ada tempat seperti ini,, tempat ini pula yang membuat ku bisa bertemu dengan mu”, Naz menoleh ke arah suaminya.
Arfin duduk mendekat pada istrinya,”Sayang,,,, “, tiba- tiba Arfin mendaratkan sebuah ciuman pada bibir ranum istrinya, dan ia pun membalasnya. Setelah beberapa saat Naz pun melepaskan pagutan mereka.
“Udah ah,, malu,, nanti ada yang lihat”, Naz tersenyum malu.
“Biarin aja,, orang kita ini suami istri”, Arfin berusaha menciumnya lagi, namun Naz menghentikannya.
“Iya,,, tapi kan ini di tempat umum ihh”,ucapnya nampak masih malu, kemudian Arfin melingkarkan tangannya pada pinggang Naz dan pandangan mereka kembali ke danau.
“Aa…”, panggil Naz.
“Iya”,,,
“Apa janji kita saat dulu awal pacaran masih berlaku?”, Naz bertanya tanpa mengalihkan pandangannya yang menatap lurus ke danau.
“Maksudnya? Janji kita yang mana?”, Arfin nampak heran dan bingung.
“Janji agar kita saling terbuka dan tidak boleh ada yang disembunyikan lagi diantara kita”, Naz mengingatkan perkataan Arfin dulu yang memintanya berjanji seperti itu.
Deg ,,, Arfin yang merasa terkejut tiba- tiba terdiam mendengar perkataan istrinya itu, ia menundukan kepalanya seolah ia memang tengah menyembunyikan sesuatu dari istrinya.
Hening ,,, itulah kini yang terjadi diantara keduanya yang tak saling berucap, hanya hembusan nafas berat yang terdengar, seolah ada beban berat yang dipikul keduanya.
Arfin nampak memikirkan sesuatu, ia meghela nafas panjang beberapa kali, “Sayang sebenarnya aku……. “, belum selesai Arfin berbicara, tiba- tiba ponsel Naz berdering, ia pun mengambil ponsel dari dalam tas nya kemudian mengangkat panggilan tersebut.
Mereka berbicara sebentar lalu mengakhiri sambungan telponnya, “Aa,,, kita ke rumah Mama yuk”, ajak Naz yang nampak khawatir kemudian bangkit dari duduknya.
“Memangnya ada apa?”, tanya Arfin heran.
“Aku gak tahu, tapi tadi Mama minta aku ke rumah, dan Mama bicaranya sambil nangis,, aku khawatir terjadi sesuatu sama Mama,,, ayok kita kesana sekarang”. ajaknya lagi, Arfin pun bangkit dari duduknya.
Mereka beranjak pergi meninggalkan danau dan setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Arfin pun melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya.
------------------ TBC ----------------
**************************
Sabal sabal sabal pemirsah…… wkwkwkwkw
Happy reading…. 😉
Jangan luva tinggalkan jejak mu, like komen rate itang 5, vote hadiah dst…😉
__ADS_1
Tilimikicih alapyu oll,,,,😘😘