
Jadi karena itu kamu sampai kabur dari rumah, Naz?”, Terdengar suara dari arah belakang Naz yang sedang dipeluk oleh Arfin, kemudian Naz melepaskan diri dari pelukan Arfin, dan membalikan badannya. Orang itu pun menghampiri Naz dan Arfin.
“Sekarang Kakak baru menyadari, kalau kemarin kamu tiba- tiba menghilang setelah menjenguk Tante Rahmi,,,, Apalagi yang sudah dilakukan Tante Rahmi sama kamu, Dek? Apa dia menamparmu lagi seperti dulu?”, tanya Dandy dengan nada dan tatapan serius, sedangkan Naz hanya menggelengkan kepala lalu menunduk.
“Sebaiknya kita bicara di dalam, gak enak juga kan ngobrol sambil berdiri seperti ini?”,Arfin memberi saran.
“Tapi di dalam ada Mimih,, aku gak mau Mimih mendengar apa yang akan kita bicarakan, aku takut nanti Mimih jadi kepikiran sehingga bisa mempengaruhi kesehatannya ”, Naz menolak untuk ngobrol di dalam rumah.
“Mimih baru saja pergi bersama Bi Asih, katanya mau ke pengajian,, ayok kita masuk ke dalam”, ucap Dandy dan akhirnya mereka bertiga masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tengah.
“Sekarang kamu ceritakan apa yang terjadi kemarin”, titah Dandy pada adiknya itu, namun Naz hanya diam saja nampak bingung dan seolah takut akan suatu hal.
Arfin yang melihat itu merasa sudah kepalang tanggung Dandy mengetahuinya, sedangkan Naz hanya diam saja, lalu ia pun menceritakan semua yang terjadi saat Naz menjenguk Bu Rahmi sesuai yang diceritakan Mami nya pada nya.
“Apa,,, ?? Dek,,, Bunda harus tahu tentang hal ini”, ucap Dandy yang terkejut mendengar perlakuan Bu Rahmi pada Naz.
“Engak Kak,,, jangan beritahu Bunda,,, aku mohon,,, nanti Bunda bisa marah besar kalau tahu soal hal ini,, aku gak mau ada pertengkaran lagi dalam keluarga kita,, aku gak mau terus- terusan jadi biang masalah”, Naz memohon pada Dandy ,
”Aku memang sebuah kesalahan yang seharusnya tidak hadir dalam keluarga kalian, seharusnya saat itu aku ikut dengan Ibu sehingga tidak akan menyebabkan masalah di keluarga kalian, karena aku Opa dan Ayah bermusuhan lama, karena aku hubungan Papa dengan Tante Rahmi tak seharmonis dulu, karena aku Raline sering membuat masalah. Seharusnya aku memang tidak ada kak,,, seharusnya aku tidak lahir ke dunia ini hiks hiks”, ucap Naz terisak.
“Naz,,,, jangan bicara seperti itu “, lirih Arfin.
“Iya, Dek,,, kamu gak boleh bicara seperti itu, walau bagaimana pun kamu tetap bagian dari keluarga kami, tidak perduli siapa ayah dan ibu biologis mu, kamu tetap adikku, kamu tetap anaknya Ayah dan Bunda, kamu tetap cucunya Oma dan Opa juga Mimih, tidak ada yang biasa merubah semua itu dan kami semua sangat menyayangi mu, Dek…”, Dandy berusaha membesarkan hati Naz.
“Dek, mulai sekarang kamu jangan memperdulikan perkataan Tante Rahmi lagi, dia hanya menjadikan mu pelampiasan kemarahannya pada Om Syarief, dan sebaiknya kamu jangan pernah bertemu dengan Tante Rahmi lagi jika sekiranya itu hanya akan menyakiti mu”, Dandy pun berpikiran sama dengan Arfin.
Naz hanya menunduk dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, sesekali menghapus air matanya dengan telapak tangannya, lalu Arfin mengambilkan tisu dari atas meja untuk Naz kemudian ia duduk tepat di sebelah Naz dan menyodorkan tisu tersebut.
“Sudah, jangan menangis lagi,,, jangan sia- siakan air hanya matamu untuk menangisi yang tidak sepatutnya kau tangisi,,, ingatlah banyak orang di sekeliling mu yang sangat menyayangi mu dan ingin melihat mu bahagia,,,, jangan terus mengingat satu orang yang tidak menyukaimu karena itu akan menjadi satu titik pusat kesedihan yang akan merusak semua kebahagian mu dan meracuni pikiran mu,,”, Arfin memegang tangan Naz.
“Tapi sekarang Papa juga benci sama aku,,, baginya aku ini hanya pembuat masalah…. hiks hiks”, Naz kembali membahas soal Papa nya.
“Mana mungkin Naz,, selama ini Om Syarief sangat menyayangi mu”, Dandy merasa tidak percaya.
“Kamu tahu dari mana kalau Papamu benci sama kamu? Apa karena saat kamu pingsan di UGD beliau tidak menemui mu?”, tanya Arfin heran.
Naz menggelengkan kepalanya, “Bukan,,, kemarin saat aku keluar dari kamar rawat inap Mama, aku berpapasan dengan Papa….
Flashback….
“Dokter,,, dokter,,, keluarkan lagi darah yang sudah dia berikan padaku,, aku tidak sudi menerima darah dari anak perempuan iblis itu,,, huhuhu….. Pergi kau,,, pergi ,,, aku sangat membencimu”, Mama berteriak padaku lalu mendorongku hingga terjatuh. Aku pun langsung bangun dibantu oleh Mami dan langsung bergegas keluar, karena sudah tidak sanggup menahan rasa sesak di dadaku dan perkataan Mama yang seakan menggoreskan luka di hati ku dari setiap kata nya, pikirku tidak mungkin aku menangis di sana.
Aku keluar dengan berlari dan baru saja beberapa langkah aku bertubrukan dengan seseorang, yang ternyata adalah Papa.
“Rheanazwa, sedang apa kamu disini? Apa kau menemui Rahmi barusan? Saya kan sudah bilang pada Anita agar melarang mu untuk menemui Rahmi”, Papa berbicara dengan nada ketus tak seperti biasanya, dan ia pun kembali memanggilku dengan namaku lagi. Aku hanya diam membisu karena dadaku terasa semakin sesak.
Papa melihat ke arah pintu kamar 619 dari kejauhan karena mendengar suara teriakan histeris Mama yang cukup kencang dan pintunya terbuka ,”Itu kenapa Rahmi berteriak seperti itu? kamu bikin masalah apa lagi sih Naz? Apa kamu sengaja bilang kalau kamu yang sudah mendonorkan darahmu pada Rahmi, hah?? Saya kecewa sama kamu, Naz ", Papa seolah terus menyalahkan ku.
“Papa…. Aku,,, ”, ucap ku dan belum selesai langsung ditempas.
“Jangan panggil saya Papa… !! “, ucapnya dengan tatapan kemarahan lalu Papa langsung pergi begitu saja menuju ruang rawat Mama.
Aku berjalan dengan langkah gontai dan perasaan yang terguncang mendengar kalimat terakhir Papa, kaki ku rasanya tak menapak ke bumi, tubuhku serasa mati rasa, dadaku semakin sesak seakan sulit bernafas, bibirku seakan terkunci tak bisa mengucap apa pun hingga aku tak sadar sudah ada di dalam lift, yang ternyata saat aku berjalan baru saja beberapa orang keluar dari sana.
Saat lift terbuka di lantai besmen, aku langsung berlari ke parkiran mobil dan tidak tahu itu mobil siapa, aku duduk di sebelah mobil itu dan menangis sejadi- jadinya meluapkan kesedihan juga rasa sakit di dadaku,,, setelah beberapa saat datang seseorang yang ternyata pemilik mobil tersebut, lalu aku pergi mencari keberadaan Pak Udin, dan setelah itu aku pulang.
Aku langsung masuk ke kamar melanjutkan menangis dan entah mengapa tiba- tiba terlintas olehku untuk pergi ke Bandung ingin menenangkan diri, tapi jika aku meminta izin pada Bunda, pasti tidak diperbolehkan, lalu MBak Iyem pamit pergi ke supermarket. Aku pun membawa beberapa pakaian dan dimasukan ke dalam tas ransel, aku juga membawa boneka teman tidurku. Lalu aku memesan taksi online untuk mengantarkan ku ke terminal bis.
Tadinya aku akan pergi lewat pintu depan, tapi ternyata dikunci, dan kuncinya dibawa oleh Mbak Iyem,, akhirnya ku putuskan pergi lewat pintu belakang dan keluar lewat pintu pagar samping.
Flashback off
“Dan saat sampai di sini aku bilang pada Mimih kalau aku ingin liburan di sini,,, “, ucap Naz sambil sesenggukan.
“Sayang,,,, “, lirih Arfin sambil mengusap kepala Naz.
“Kenapa Om Syarief bisa sampai bicara seperti itu ya? Apa dia dipengaruhi oleh Tante Rahmi dan Raline?", Dandy kembali bertanya- tanya.
“Aku juga gak tahu Kak, alasan Papa yang tiba- tiba berubah seperti itu,, hiks hiks”, jawab Naz yang terus menangis.
“Kalau menurutku, Papa mu itu hanya sedang emosi sesaat Naz,, mungkin karena Papa mu sangat mengkhawatirkan Tante Rahmi, apalagi saat itu beliau sedang kritis jadi Papa mu merasa takut kehilangan istrinya, jadi fokusnya hanya kepada kondisi Tante Rahmi… Mungkin Papa mu merahasiakan kamu sebagai pendonornya juga karena takut Tante Rahmi drop jika mengetahui hal itu, dan ternyata benar kan dia sampai mengamuk histeris”, Arfin melontarkan pendapatnya.
__ADS_1
“Iya Naz, Arfin benar,,, atau mending kita bicarakan hal ini pada Ayah, beliau kan ada di sana terus menemani Om Syarief, ya siapa tahu Ayah tahu penyebab sikap Om Syarief yang tiba- tiba berubah gitu”, Dandy memberikan saran.
“Gak usah Kak,,, nanti bisa jadi panjang urusannya,,, biarkan saja,,, mungkin benar kata Kak Arfin,, Papa hanya sedang emosi sesaat….”, ucap Naz yang masih sesenggukan namun ia sudah berhenti menangis.
“Yaudah,, kalau begitu daripada kamu sedih- sedihan terus mending kita pergi keluar yuk…”, Arfin mencoba menghibur Naz.
“Mau kemana? “, tanya Naz .
“Kemana saja terserah kamu….”, jawab Arfin tersenyum.
“Iya,, gue juga suntuk nih ", Dandy sepertinya ingin ikut.
“Idih siapa yang ngajak lo juga,, pede banget sih”, Arfin langsung mengejek.
“Masa iya kalian tega ninggalin gue sendirian disini,,, gimana kalo gue ada yang nyulik?”, ucap Dandy yang mengundang tawa Arfin dan Naz pun ikut terkekeh mendengarnya.
“Hahaha,,, siapa juga yang mau nyulik lo,,, rugi amat”, Arfin terus mengejek.
“Yaudah kalau gitu aku mandi dulu ya”, Naz berdiri lalu beranjak pergi ke kamar untuk membawa handuk dan pakaian ganti, karena di rumah Mimih kamar mandinya di luar kamar.
“Ya ampun,, kamu belum mandi ? pantesan tadi tuh ada bau apa gitu saat meluk kamu”, Arfin malah mengejek Naz yang sudah berlalu.
“Gak nyangka gue,,, lo itu ternyata kegatelan juga ya,, perasaan sering amat meluk adek gue”, Dandy mendapat celah untuk mengejek balik Arfin.
“Yaelah Dan,,, gue gak macem- macem kali,, itu juga meluk buat nenangin adek lo kalo lagi sedih,, lagi sadar mah dia nya juga gak mau”, Arfin memberi penjelasan takutnya Dandy mengira yang tidak- tidak padanya, kemudian Arfin pun beranjak meninggalkan Dandy di ruang tengah menuju ke kamar untuk mengambil kunci mobil serta berganti baju yang dibawakan Naz sebelumnya. Lalu ia pun keluar untuk memanaskan mesin mobilnya sembari menunggu Naz bersiap- siap.
Setelah semuanya siap, mereka bertiga berangkat menuju tempat favorit Naz yang suka ia kunjungi di saat ia sedang sedih, yakni ke sebuah mall yang ada roller coaster di dalam wahana permainannya. Namun sebelum itu Arfin mengajak ke BEC untuk membelikan Naz handphone baru, sesuai petunjuk arah dari gugel maps.
Sesampainya di sana mereka pun turun dan masuk ke kawasan BEC, di sana terdapat banyak konter dengan berbagai macam merk handphone.
“Dek,,, beli hape nya yang paling mahal ya,, jangan sungkan- sungkan,, pacarmu itu duitnya banyak,, udah gak muat rekeningnya juga untuk menampung uangnya,, jangan tanggung- tanggung porotin aja”, Dandy memberi ajaran sesat pada adiknya itu, sedangkan Arfin hanya terkekeh mendengar ucapan Dandy itu.
“Kakak ini apaan sih malah ngajarin aku yang gak bener,,, emangnya aku cewek matre apah”, Naz malah sewot pada Kakak nya itu.
“Emang bener Dek,,, pacarmu itu duitnya banyak,, hasil kerjanya di Amerika saja bisa sampai kebeli mobil ferarry California,,, apalagi sekarang kerja di kantor bokap nya sebagai obos”, Dandy terus memuji Arfin.
“Yasalam,,, eh iya kok aku baru inget, Aa mobil ferarry mu kemana? kok gak pernah dipakai lagi ?,, waktu aku maen ke rumah Aa juga gak ada", tanya Naz.
“Dijual “, jawab Arfin singkat.
“Buat bikin sekolah teras belajar untuk anak- anak jalanan”, jawab Arfin yang kemudian ponselnya berdering dan ia mengangkatnya dengan sedikit menjauh dari Na dan Dandy.
“Apa?”, Naz terkejut mendengarnya, “Kenapa dia sampai menjual mobilnya demi membeli tanah itu dan membangun sekolah untuk anak jalanan?”, Tanya Naz pada Dandy.
“Naz,,, pacarmu itu kalau mau ngasih sumbangan atau mau bantu orang gak pernah minta sama orang tua nya, dia bakalan ngasih dari hasil keringatnya sendiri,,, dulu juga dia sering ikut balapan karena mau bantu orang yang kesusahan, jadi hadiah balapannya digunakan untuk itu”, Dandy menjelaskan.
“Ya Allah,,, dia baik banget,, sampai mobil yang diidamkannya sejak lama dan baru dimiliki beberapa bulan dari hasil jeripayah nya sendiri rela ia jual demi membantu anak- anak jalanan itu”, Gumam Naz dalam hati sambil terus memandangi kekasihnya yang masih berbicara di telpon itu, dengan tersenyum bahagia.
"Dek, gimana ceritanya kok hape mu bisa hilang?", tanya Dandy penasaran.
"Aku kan lagi dengerin musik pakai earphone, terus ketiduran,, eh pas bangun kok musiknya udah berhenti, dan ternyata pas dilihat ponselnya udah gak ada di tanganku, dicari di tas sama di jok bahkan ke kolong jok juga dak ada, tapi kalau dompet aman karena aku simpan diantara pakaian di dalam ransel,,", Naz menjelaskan.
"Ya ampun Dek... lain kali kamu jangan pergi sendirian gitu deh kalo mau naik bis tuh..", ucap Dandy, kemudian Arfin yang sudah selesai kembali menghampiri mereka, lalu mengajak berkeliling mencari HP baru untuk Naz.
Setelah beberapa saat berkeliling mencari ponsel, akhirnya dibelilah sebuah Iphone yang sama persis dengan milik Arfin yakni Apel Iphone 11 pro 511, awalnya Naz menolak karena ingin membeli merk dan tipe yang sama dengan ponsel miliknya yang hilang, namun Arfin tetap memaksa, dengan alasan biar couple an katanya.
Beruntung semua kontak di ponsel Naz disimpan dalam akun gmail nya sehingga aman dan masih utuh, sedangkan untuk kartu lama nya belum bisa diurus karena harus membuat surat kehilangan dari kantor polisi, sehingga Naz menggunakan kartu provider baru untuk sementara.
***
Kini mereka telah berada di TSM Bandung, sebelum mereka ke wahana permainan, mereka makan siang terlebih dahulu lalu shalat, dan setelah itu barulah mereka membeli tiket lalu masuk ke wahana permainan. Seperti biasa Naz menaiki wahan extrim dan mengajak serta Dandy dan Arfin, yang awalnya Dandy terus menolak, namun setelah dibujuk oleh Naz juga di ejek oleh Arfin akhirnya mau juga.
Pertama mereka menaiki perahu gunung yang dinaikan dulu keatas dengan perlahan, dan diturunkan dengan express.
“Astagfirullohaladziim, dada gue serasa mau copot Ar”, keluh Dandy saat selesai menaiki perahu tersebut.
__ADS_1
“Dih,, Kakak cemen banget sih, baru segitu aja udah keok”, Naz mengejek Dandy.
“Sampai- sampai ngomong aja gak jelas banget, masa iya dada mau copot,,, yang ada juga jantung kali yang mau copot”, Arfin pun ikut mengejek.
Kemudian mereka menaiki vertigo dan Giant Swing, saat naik Dandy lebih parah berteriak- teriak tidak jelas, membuat Naz dan Arfin terus menertawakannya,
“Haduh…. Pusing banget kepala gue… perut gue eneg,, kok kayak mabok kendaraan inih… Dek, beli pop mie dicengekan “, Dandy terus menggerutu sambil sempoyongan.
“Mana ada popomie yang pakai cabe rawit di sini, Kak,,,, kenapa gak sekalian aja disanguan, hahaha”, Naz tak henti-hentinya mengejek Dandy.
“Hahaha,,, Pa Dokter diajak main ginian langsung oleng,,, harusnya tadi tuh lo sebelum naik minum antimo dulu ,,,”, Arfin senang sekali mengejek melihat penderitaan Dandy.
“Kita salah juga A,,, harusnya kita naik wahana yang ringan dulu buat pemanasan, ini kita langsung ke yang extrim,,, jadi Kak Dandy shock”, ucap Naz.
“Iya… mending kita naik yang santai aja dulu yuk… tapi kita beli minum dulu, kasihan Dandy sampai pucat gitu“, ajak Arfin yang kemudian ke membeli minuman segar untuk dirinya dan Naz, sedangkan untuk Dandy, ia membeli kopi kemasan botol.
Setelah itu mereka kembali ke wahana permainan dan Naz mengajak mereka naik sebuah kereta odong- odong yang berjalan mengitari sebuah ruangan.
“Wahana ringan sih ringan Njir,,, tapi gak usah naik ginian juga kali,, apaan ini menyusuri dunia bolang,, kayak anak TK aja”, Dandy malah protes.
“Iya ih sayang,,, kok kamu ngajak naik ginian sih,,, “, Arfin juga ikut protes.
“Kan buat mengobati shock Kak Dandy dulu, A”, ucap Naz mengelak.
Setelah selesai ngebolang, Naz mengajak mereka naik kereta lagi, namun kali ini mereka memasuki dunia lain, “Sayang, awas ya kamu jangan bikin malu kayak di pasar malam itu saat kita masuk rumah hantu”, Arfin memperingatkan Naz.
“Hahaha,,, Aa masih ingat aja ih,,, tenang aja disini hantunya cuma bayangan pantulan dari dari layar doang gak ada orang yang nyamar- nyamar gitu, lagian kan kita naik kereta jadi kayak tour aja", ucap Naz menjelaskan.
“Emangnya kenapa gitu Ar?”, Tanya Dandy penasaran.
“Dulu kan gue pernah ngajak Naz ke pasar malam,, adek lo ini menaiki semua wahana yang ada di sana. Nah pas memasuki rumah hantu, bukannya takut Naz malah mengisengi hantu jadi- jadian yang ada di sana mulai dari pocong yang diinjak kakinya, kuntilanak yang dijambak rambutnya yang teryata adalah rambut asli, bahkan suster ngesot pun diseret- seret oleh Naz sampai kita berdua diusir dari rumah hantu itu, jadi malah hantunya yang takut sama Naz”, ucapnya terkekeh mengingat masa itu.
“Hahaha,,, gila ya kamu Dek, iseng mu itu sudah mendarah daging”, ucap Dandy.
“Makanya saat itu gue malu banget, seumur- umur baru pertama kali diusir petugas wahana permainan kayak gitu, dulu sebandel- bandelnya gue kalo masuk rumah hantu gitu paling cuma ngejek hantu jadi- jadiannya gak sampai kayak gitu”, Arfin menambahkan.
Kemudian mereka pun memasuki wahana lainnya yang masih ringan- ringan, dan kemudian sebagai penutup, Naz mengajak kedua pria itu untuk naik roller coaster.
“Aaaaaa,,,,, Allohuakbar,,,, emakk,,, anjiir,,,, setan,,,,jangawarong,,,, najis aing moal deui- deui,,, emaakk”, Teriak Dandy saat naik roller coaster.
Setelah mereka turun, Dandy tidak berhenti menggerutu kesal karena merasa dikerjai terus- terusan diajak naik wahana extrim yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan, sedangkan Naz dan Arfin malah terus menertawakannya. Lalu mereka menuju mushola untuk shalat ashar, kemudian mereka keluar dari wahana permainan untuk pergi berbelanja, karena Dandy dan Arfin tidak membawa pakaian ganti.
Mereka pun pulang seusai makan malam dengan ponsel ketiganya dalam keadaan mati karena lupa tidak ada yang membawa powerbank. Selama di perjalanan mereka membicarakan kejadian konyol di tempat permainan tadi, apalagi Dandy yang duduk di belakang terus menjadi bahan bully-an sepasang kekasih itu.
"Kapok gue... kapok... gak mau lagi naik begituan", gerutu Dandy.
Setelah beberapa saat mereka pun sampai di kediaman Mimih, dan saat akan memasukan mobil Arfin mengurungkan niatnya, karena di sana sudah terparkir sebuah mobil, akhirnya mobil Arfin diparkirkan di pinggir jalan depan rumah Mimih.
Ketiganya pun turun dari mobil dengan masih mengejek Dandy, Naz terus tertawa saat memasuki pintu pagar lalu berjalan menuju teras.
“Dan,,, kok kayak kenal ni mobil”, ucap Arfin yang memperhatikan mobil tersebut sambil berjalan ke teras.
“Bukan kenal lagi,,, kenal banget malah,,, haha,, ayok ahh tuh si tengil udah mau di depan pintu”, ucap Dandy tertawa.
Mereka pun hendak masuk ke dalam karena ternyata pintunya tidak dikunci.
Ceklek.... Naz membukakan pintu dengan Arfin dan Dandy yang mengekorinya dari belakang. Betapa terkejutnya Naz melihat orang yang sedang duduk di ruang tamu.
"Naz.... putriku... ", ucapnya lalu berdiri dan berjalan menghampiri Naz, namun ia tampak terkejut juga takut lalu berjalan mundur dan bersembunyi dibalik tubuh Arfin seolah meminta perlindungan.
------------ TBC ----------
************************
Nah loh Naz,,, mau ngomong apa kamu hayoooo....
Happy reading...😉
jangan luva tinggalkan jejak mu....🙏
__ADS_1
like, komen, rate bintang 5 dan vote....🤩
Terimakasih banyak 😘