
Arfin POV
Aku baru saja menutup sambungan Video Call bersama Naz, selain karena sudah larut malam, aku yakin Naz akan mempersoalkan komik yang belum sempat ku kembalikan ini. Ku ambil amplop dari dalam sampul dan ku keluarkan salah satu isinya, ku pandangi foto gadis tengil itu “Kau memang gadis yang unik, Naz”.
Sudah satu bulan ini aku tidak pernah bertemu dengan Naz, baik itu bertemu dengan sengaja ataupun tidak sengaja seperti yang terjadi sebelumnya. Perasaanku mulai hilang dan tak pernah memandangi foto nya lagi, karena ku sadari aku merasa tak pantas mendekati atau pun mendapatkan gadis cantik yang tengil itu.
Sampai pada suatu hari, aku sedang berada di proyek pembangunan perumahan yang sedang ku tangani menjadi tempat pertemuan kami kembali.
Flashback
Di Sana banyak anak- anak yang ternyata sedang menonton Bulldozer yang sedang meratakan tanah. Kemudian ada tiga anak kecil yang berlarian dan salah satu dari mereka tak sengaja menabrak ku dan menjatuhkan gulungan desainku. Anak itu jatuh tersungkur dan aku membantunya bangun, namun tiba- tiba ku dengar seseorang menghampiri.
“Maafkan adik- adik saya Pak” terdengar suara yang sepertinya ku kenal, dia langsung berjongkok di sampingku namun perhatiannya fokus pada anak yang ternyata lututnya terluka, dan tanpa rasa jijik karena kaki anak itu kotor oleh tanah, dia membersihkan lukanya menggunakan tisu basah yang dikeluarkan dari dalam tasnya.
Aku tidak bisa berhenti memandangi nya dari samping, ada rasa yang membuncah di dalam dadaku saat melihat gadis yang ku coba hindari selama sebulan belakangan ini. Sampai saat dia berbalik dan mata kami saling beradu membuat kami diam terpaku. Matanya begitu indah, tatapannya begitu teduh, membuat jantungku seakan berhenti berdetak.
“Kak Naz, ayo kita pergi, kan mau belajar” Suara seorang anak membuyarkan tatapan kami dan Naz menjawabnya dengan terbata- bata, ternyata dia pun sama gugupnya denganku. Kucoba untuk mengawali pembicaraan, “Naz,, kamu sedang apa disini?”
“ Itu kak,,,emmm,,,anu emm,,,aku mengajak ketiga anak ini untuk belajar bersama di teras belajar” Dia menjawab dengan gugup.
“Teras belajar?” tanyaku heran.
“Iya, itu tempat kami mengajar anak- anak jalanan yang memiliki keterbatasan ekonomi dan tidak bisa bersekolah” Dia mulai bicara dengan tenang.”Kak Arfin sendiri sedang apa disini” lanjutnya.
“Aku sedang jualan cilok disini” Aku pun menjawab ngasal untuk mencairkan suasana.
“Hah,, masa jualan cilok pakai pakaian rapi setelan kantoran dan pakai helm proyek bawa gulungan karton lagi, lebih mirip arsitek yang sedang mengawasi pembangunan” Dia pun tidak percaya dengan apa yang ku katakan. Ini pertama kalinya kami berdialog dengan nada santai berbeda pada saat di rumahnya , kami seperti saling sewot.
Aku berpamitan padanya untuk kembali bekerja, dia pun meminta maaf atas insiden tadi yang membuat desainku kotor, aku pun jadi teringat akan kejadian pertamakali kami bertemu di bandara dan memintanya untuk tidak mencontohkan itu pada anak didiknya.
Setelah aku dan Pak Hasan berjalan agak jauh meninggalkan mereka, Naz memanggilku kembali, ternyata dia ingin minta tolong agar aku menggendong seseorang, ku pikir dia memintaku untuk menggendongnya. Seandainya tidak ada Pak Hasan di sebelah ku, sudah ku lakukan menggendongnya ala bridal style, tapi ternyata dia meminta aku menggendong anak laki laki yang bernama Adi, yang terjatuh tadi karena tidak bisa berjalan.
Akhirnya akau bersedia menggendong anak yang bertubuh bongsor itu, layaknya menggendong ala kingkong menyusuri jalan gang. Di tengah perjalanan kepalaku terasa gerah dan aku meminta Naz melepaskan helm ku dengan melonggarkan pengunci di bagian belakang kepalaku, namun terjadi lagi insiden yang membuatnya memelukku dan kami saling bertatapan kembali.
Ya Tuhan,, aku sudah tidak bisa menahan perasaanku lagi, ingin sekali aku mengatakan “Naz, aku menyukaimu”, tapi yang keluar malah ”Naz, sekarang bukan hanya kepalaku yang gerah tapi tubuhku juga gerah dihimpit dua orang begini”. Sungguh aku tak punya keberanian sebesar itu, pertama kalinya aku mengakui jika aku ini memang pengecut.
Selang beberapa menit kami tiba di suatu bangunan yang ia sebut teras belajar. Naz dan dua bocah lainnya sampai lebih dulu. Sepertinya Naz marah karena insiden tadi helm ku jatuh tepat di dahinya, dan lama- kelamaan menjadikan dahinya benjol. Aku pun menurunkan anak kingkong itu, dan Naz kembali bicara ketus padaku, berbeda dengan sahabatnya, Ruby yang bicara ramah sambil tersenyum, bahkan dia memberikan ku air minum.
Tapi saat sahabatnya perhatian padaku, Naz terlihat kesal dengannya. “Apakah dia juga menyukai ku” gumam ku dalam hati.
Aku memperhatikan ruangan teras belajar dan kembali bertanya pada Naz seputar kegiatan yang mereka lakukan untuk mengajar anak- anak di sana, segala pertanyaan pun ku lontarkan demi untuk bisa berlama- lama dengannya. Dia sudah mulai bicara santai lagi denganku tapi tiba- tiba Pak Hasan meneleponku, dan aku pun teringat bahwa ini masih jam kerja. Aku pun berpamitan dan kembali ke proyek.
__ADS_1
Hari- hari berikutnya aku disibukkan dengan pekerjaanku di proyek padahal aku ingin sekali menemui Naz yang sekarang sudah seperti candu bagiku. Beruntung aku masih bisa bertemu dengannya walau hanya sebentar saat kami melaksanakan shalat di masjid yang tak jauh dari teras belajar. Namun saat hari Kamis dan Jumat aku tak menemukannya, saat ku tanya pada salah satu anak ternyata Naz sudah masuk sekolah kembali, kemarin mereka libur 3 hari jadi diisi dengan kegiatan mengajar.
Sabtu pagi ini aku sedang bersantai di rumah menikmati indahnya weekend karena bebas dari yang namanya kerja. Tiba- tiba aku mendapat telepon dari Pak Haris, Kepala Sekolah SMA ku dulu, mengundangku untuk datang ke sekolah. Aku pun mengiyakan, dan sekitar pukul 9 pagi aku tiba di sana. Kami pun berbicara cukup lama di Ruangan Kepsek hingga terdengar suara bel yang menandakan jam istirahat. Selang beberapa saat ada yang datang, dan Pak Haris pun berpamitan pergi sebentar, sepertinya sedang ada masalah.
Karena aku merasa bosan, aku keluar dari ruangan Kepsek, saat ku lihat ke arah samping ada seorang siswi berlari dan menuju arah samping ruang Kepsek, sepertinya dia tidak asing bagiku, dia mengikat rambutnya ke belakang dengan poni menutupi dahinya. Tiba- tiba terdengar anak itu menangis, aku coba menghampirinya berjalan ke samping ruang Kepsek, ternyata dia sedang menangis tertunduk memeluk kedua kakinya di balik tembok belakang.
“Dek, kamu kenapa,, ko nangis sendirian disini” Ucapku pada anak itu. Diapun mulai mengangkat kepalanya melihat ke arahku, dia mengucek- ucek matanya yang penuh air mata. Alangkah terkejutnya aku melihat wajah gadis yang sedang menangis itu “Naz kamu ke…..” belum selesai aku bicara, Naz langsung memelukku, dia menangis sejadi- jadinya membekam mulutnya di dadaku.
Hatiku merasa teriris melihatnya menangis, sepertinya dia sedang merasakan sakit yang begitu dalam, “Siapa yang berani menyakitinya seperti ini, ingin rasanya aku menghajar orang itu saat ini juga” gumamku dalam hati sambil mengepalkan kedua tanganku.
“Tidak,,,,,,aku harus menahan amarahku, saat ini aku harus menenangkannya” aku hanya mampu berkata dalam hatiku, ku coba menghela nafas panjang untuk menstabilkan emosiku.
Setelah beberapa lama terdengar tangisannya mulai mereda, kucoba untuk memintanya melepaskan pelukannya, karena tidak etis rasanya berpelukan seperti ini di lingkungan sekolah, orang akan mengira aku sedang melecehkan murid disini. Dan Naz pun melepaskan pelukannya langsung tertunduk malu sambil minta maaf, aku hanya bisa tersenyum terus memandanginya.
“Arfin, sedang apa disini “ terdengar suara Pak Haris memanggilku, aku sangat terkejut namun untunglah acara pelukan sudah selesai. Aku menjelaskan mengenai apa yg ku lihat dan aku berinisiatif membawa Naz masuk ke ruangan Pak Haris. Saat ditanya permasalahannya Naz malah menangis minta izin pulang, aku tidak tega melihatnya dan meminta Pak Haris mengizinkannya dan aku pun menawarkan diri mengantarnya pulang.
Selama di perjalanan kami tidak bicara satu kata pun, sampai saat rambu lalu lintas menyala di bagian warna merah, Naz menunjuk salah satu mall dan merengek ingin ke sana. Awalnya aku menolaknya, karena alasan dia pulang adalah merasa kurang enak badan. Tapi dia kembali menangis, aku benar- benar tidak tega melihatnya menangis, akhirnya kami pun masuk ke mall itu. Menangis memang senjata wanita paling ampuh ya.
Karena saat itu kemejaku sudah basah bagian dadanya dan Naz juga masih memakai seragam pramuka, aku mengajak nya membeli pakaian untuk ganti, setelah itu kami pun pergi makan di salah satu Foodcort. Ku lihat dia sudah tenang dan ku beranikan diri menanyakan apa yang terjadi padanya di sekolah tadi, tapi dia malah menjawab ngasal. Tidak mungkin hanya karena berantem dengan temannya bisa sampai nangis bombay gitu. Pikirku mungkin dia tidak mau menceritakan permasalahannya pada orang asing.
Selesai makan Naz meminta untuk ke wahana permainan, namun saat berjalan dia seperti enggan berbarengan dengan ku, dia berjalan dengan cepat menuju lift tanpa menghiraukan ku yang berjalan terpincang- pincang berusaha dengan cepat agar bisa mengejarnya, bahkan saat berdiri di dalam lift pun dia seperti tidak mau dekat denganku, padahal di sana hanya ada empat orang saja. Aku sempat menyangka dia malu jalan dengan orang pincang sepertiku, tapi pemikiran ku salah setelah mendengar penjelasannya dan kata- kata bijak yang terlontar dari bibir manisnya.
Benar- benar gadis yang unik, saat di rumahnya dia adalah anak penurut pada orang tuanya, periang, dan suka bermanja ria, sedangkan saat bersama anak- anak didiknya dia adalah gadis dewasa yang begitu perhatian dan peduli pada muridnya. Dari cara bicaranya pun mampu menempatkan diri, kadang bicara ngasal, kadang bicara dengan nada jutek, kadang berbicara dengan manja, bahkan kadang dia berbicara bisa lebih bijak dari orang dewasa.
Naz begitu menikmati setiap wahana permainan yang ia jelajahi, tawa riang terpancar dari raut wajahnya yang berbanding terbalik saat dia menangis tadi, hal ini memang bisa menghibur dirinya dan melepaskan kesedihannya. Saat aku memainkan capit boneka, aku berhasil mendapatkan salah satu boneka tedy bear berwarna pink muda, Naz meloncat- loncat kegirangan lalu meminta boneka itu untuknya. Ternyata hal sesederhana ini bisa membuatnya bahagia, dan aku senang bisa melakukan hal itu untuknya.
Selama hampir dua jam kami di wahana permainan, waktu sudah menunjukan setengah tiga sore dan kami pun pulang setelah Naz mengganti pakaiannya lagi dengan seragam pramuka.
“Kenapa kamu ganti baju lagi Naz” Tanyaku penasaran.
“Biar bunda gak curiga, hehe” Dia menjawab sambil cengengesan.
Aku menertawakan ulahnya itu yang ternyata dia takut ketahuan bolos oleh Bundanya, ditambah lagi dia tidak bisa menghubungi Bunda karena ponselnya mati yang kemudian di charger di mobilku. Di tengah perjalanan adzan ashar berkumandang, aku pun membelokan mobilku ke masjid untuk melaksanakan shalat, karena tidak baik menunda- nunda waktu shalat. Setelah itu aku melajukan kembali mobilku menuju ke rumah Naz, tapi Naz minta berhenti di depan rumah sebelumnya tidak pas di depan gerbang rumahnya, kami seperti pasangan backstreet yang takut tertangkap basah oleh bunda.
Setelah Naz keluar dari mobilku, aku pun kembali melajukan mobilku untuk pulang setelah melewati hari yang indah bersamanya. “Terimakasih Naz, untuk hari ini,,, kau benar – benar memporak porandakan perasaan ku seperti roller coaster, rasa sedih saat melihatmu menangis terobati dengan tawa kebahagiaanmu “ Gumamku dalam hati.
Saat aku hendak keluar dari komplek perumahan tempat Naz tinggal, aku melihat ponsel Naz masih di charger di mobilku, akhirnya aku memutar balik kan mobilku dan kembali ke rumah Naz. Aku memberhentikan mobilku di samping gerbang, saat ku ambil ponselnya entah apa yang merasuki ku aku ingin membukanya. Ku nyalakan tombol di sisi kanan ponsel untuk menghidupkannya, kulihat foto pemandangan sebuah danau sebagai foto wallpaper ponselnya, ternyata dia tidak mengunci layar ponselnya.
Hal pertama yang ku lalukan adalah mengetik nomor ku di ponselnya lalu melakukan panggilan miscall, setelah panggilannya masuk ke ponselku, aku mengakhirinya. Saat aku hendak menghapus riwayat panggilanku, tiba- tiba terlintas di pikiranku untuk menyimpan nomorku di kontak ponselnya. Aku mengetik namaku di ponselnya, ahh lalu ku hapus lagi dan dengan isengnya ku namai diriku dengan nama Tukang Cilok di kontak ponsel Naz.
Aku keluar dari mobilku dan berjalan ke arah gerbang, saat membuka pintu gerbang aku mendengar suara seorang wanita.
__ADS_1
“Kak Arfin,,,,,” Teriaknya memanggil namaku.
Aku menghentikan langkahku dan melihat ke arah samping “Ruby…” ucapku.
“Kak Arfin mau ke rumah Naz juga?” Tanyanya menghampiriku dengan menggendong tas ransel dan juga membawa tas ransel satu lagi di tangannya, ku yakin itu tas milik Naz.
“Iya “ Jawabku singkat, kami pun berjalan berbarengan masuk ke halaman rumah Naz.
“Oh,,, ada keperluan apa Kak,,,? Biasanya Kak Dandy belum pulang jam segini” Dia menanyakan tujuanku datang ke rumah Naz, karena dia tahu nya aku temannya Dandy, bahkan dia pun tau kalau Dandy belum pulang.
“Ini mau balikin ponsel Naz yang ketinggalan di mobilku tadi” Jawabku dan kulihat dia mengerutkan dahinya merasa heran. Sepertinya dia ingin bertanya kembali, namun langkah kami terhenti saat mendengar suara bunda yang terdengar sedang marah di dalam rumah, terlihat pintu depan pun sedikit terbuka.
Saat aku hendak ingin masuk, Ruby menarik tanganku dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda aku tidak boleh masuk. Terdengar bunda melontarkan beberapa pertanyaan dan terdengar membentak Naz. Walaupun aku tahu yang memarahinya itu Bundanya Naz, tetap hatiku merasa sakit mendengarnya sedangkan aku hanya bisa berdiam diri saja tak berdaya seperti orang bodoh.
Tiba- tiba Ruby menerobos masuk tanpa pikir panjang aku pun mengikutinya dari belakang.
“Cukup bunda,cukup,,,kasihan Naz,, Bunda tidak tahu apa yang dialami Naz tadi” Ruby berteriak memotong omongan Bunda, dan langsung menghampiri Naz yang tengah duduk tertunduk memeluk erat boneka seperti orang ketakutan, tapi terlihat dia tidak menangis.
“Kmu tidak usah melindunginya Ruby, Naz sudah ketahuan bolos dan pergi bersama laki- laki di jam sekolah”. Deg….. perkataan Bunda seperti busur panah yang ditancapkan ke dadaku, “Akulah penyebab Naz dimarahi oleh Bunda hingga dia ketakutan seperti itu, kenapa tidak terpikir olehku sebelumnya menghubungi Bunda kalau Naz sedang bersamaku” aku hanya bisa menggerutu kebodohan ku dalam hati.
Aku hanya bisa berdiam diri di belakang sofa panjang yang di depannya Bunda sedang berdiri dan terus berdebat dengan Ruby. Naz yang masih tertunduk beberapa kali mencoba menghentikan Ruby dengan memegang tangannya, tapi Ruby terus berusaha mengatakan kejadian yang Naz alami di kelasnya hingga kalimat itu terlontar “Orang itu bilang Naz anak pungut dan dipungut dari tong sampah” Duarrrr…. Perkataan Ruby bagaikan suara petir di siang bolong, tubuhku bergetar seakan rasanya lemas aku menopang kan diri pada bagian belakang sofa, Bunda pun terkulai lemas duduk di sofa di hadapanku terdengar isak tangisnya.
Ruby terus menceritakan penderitaan yang Naz alami sejak dia masih sekolah dasar dan mengetahui kalau dia bukan anak kandung Bunda, sampai Naz marah pada Ruby dan mengangkat kepalanya memandang ke arah Bunda. Karena aku berdiri tepat berada di belakang Bunda duduk, dia pun melihat ke arahku dengan mata membulat, sepertinya dia terkejut melihat keberadaan ku. Dia langsung lari pergi ke kamarnya.
Aku melangkah ke hadapan Bunda dan menyodorkan ponsel Naz untuk dikembalikan, dan aku pun mengatakan bahwa aku yang pergi bersamanya ke mall. Bunda langsung menangis histeris sampai beberapa saat dia pingsan, untungnya Dandy pas pulang kerja dan langsung ditangani. Naz yang di panggil Ruby setelah beberapa saat di kamarnya pun muncul kembali memeluk bunda, dan mereka saling bermaafan.
Aku di sana cukup lama, setelah makan malam aku langsung pamit pulang.
Setibanya di rumah, aku langsung masuk ke kamarku lalu mandi dan berganti pakaian. Aku duduk santai di kasurku dengan membaca komik, namun entah mengapa bayang-bayang Naz terus melintas di pikiranku “Ya Tuhan,,, apa aku sudah benar- benar gila,,,” Gumam ku dalam hati.
Ku putuskan untuk menelpon Naz, lama sekali setelah panggilan ketiga kalinya baru diangkat. Setelah beberapa saat mengobrol dia menutup sambungan telepon mungkin karena kesal aku terus menggodanya. Lalu di sambung Video Call sampai jam setengah 11 malam.
----------------------_- TBC ------------------------
********************************************
Maaf kepanjangan curcornya aa Arfin....
Happy Reading
Jangan lupa tinggalkan jejakmu...
__ADS_1
Terimakasihh..... 😘😘😘