Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Nasib Hubungan Yang Baru Seumur Toge


__ADS_3

" Ini rupanya yang sudah berhasil mencuri hati cucu kesayanganku ya”, ucap Opa saat Arfin dan Naz baru masuk ke ruang kerjanya yang diantar oleh Oma yang kemudian mereka menghampiri Opa yang sedang membaca sebuah dokumen. Naz dan Arfin pun menyalami Opa secara bergantian, lalu mengucapkan selamat ulang tahun beserta doa- doa nya dan tak lupa memberikan bingkisannya pula kepada beliau. “Wah,, terimakasih ya, jadi merepotkan kalian”, ucap Opa.


“Enggak repot kok Opa,,, itu hadiahnya udah disediain sama Kak Arfin, jadi aku tinggal ngasih ke Opa”, ucap Naz yang baru saja menyerahkan kado ulang tahun kepada Opa nya.


“Terimakasih ya Arfin,,”, ucapnya sekali lagi, “Terus kado dari cucu kesayangan Opa ini mana?” Opa pun menagih, lalu Naz mendekat dan memberi ciuman pada kedua pipi Opa nya. Muachhh muachh… dan Opa nya pun dibuat terkekeh dengan ulah cucunya itu.


“Mari duduk,,, kita ngobrol- ngobrol santai, tidak usah tegang seperti itu Arfin, saya tidak akan menerkam kamu,,”, ucap Opa yang kembali terkekeh,” mau disini atau di sofa sana?”, Opa memberi pilihan, sementara Oma pamit keluar untuk membawakan mereka minum dan cemilan.


“Saya duduk di sini saja kalau begitu, Opa”, Arfin pun duduk di kursi yang ada di sebelah tempat duduk Opa. Kini mereka duduk bersebelahan di kursi kayu dan di depannya dilengkapi meja kayu pula, ternyata di ruangan itu furniture nya banyak yang berbahan dasar kayu jati, seperti lemari, rak buku, kursi, meja, seluruh figura foto yang dipajang pun semua terbuat dari kayu, kecuali sofa yang sedang di duduki oleh Naz sekarang.


“Kamu tahu Arfin,,, cucu Opa itu tukang menolak cowok dan sepertinya punya ajian ilmu tolak cinta,, cuma kamu yang berhasil menerobos hatinya, hebat ya”, Opa memulai percakapan lalu mengacungkan jempolnya, sedangkan Arfin hanya melemparkan senyuman, “Pernah ya waktu SD itu ada yang mengirimkan surat cinta padanya, dan Naz langsung mendatangi orang itu dengan bilang,, Kita ini masih kecil gak boleh cinta- cintaan,, dan anak lelaki itu menjawab,, kamu kan enggak kecil tapi gendut kayak buntelan kentut,,, hahaha”, Opa tertawa mengingat hal itu, “Dan saat pulang sekolah kebetulan Opa yang menjemputnya, Naz langsung menangis mengadu ke Opa kalau dia habis diberi surat cinta terus dikatain gendut kayak buntelan kentut karena cinta orang itu ditolak,, lalu Opa bilang saja kalau dia itu bukan gendut tapi subur makmur,,hahaha”, Opa dan Arfin pun tertawa.


“Ihh Opa,, apaan sih cerita kaya begituan,, bikin malu”, Naz yang duduk di sofa pun protes mendengar aib masa lalunya diceritakan pada sang kekasih.


“Gak apa- apa dong,biar tau sejarah awal mula kamu menolak cowok, Naz”, Opa menjawab protesan Naz, “ Kamu tahu gak kalau dulu badan Naz tidak sekurus sekarang?? Dulu itu dia gendut banget kayak artis cilik penyanyi bolo- bolo itu kalau tidak salah”,tambahnya lagi.


“Tahu kok Opa,,, justru pertama kali bertemu dengan Naz tujuh tahun yang lalu saat badannya masih bulet sebelum saya berangkat ke Amerika, makanya pas pulang ke Indonesia lagi merasa pangling dan saat bertemu juga sampai tidak bisa mengenalinya”, Arfin sudah mulai tidak canggung lagi berbicara dengan Opa.


“Oh ya,,, ternyata Opa ketinggalan banyak informasi rupanya,,, kamu harus menceritakan bagaimana bisa sampai mengenalinya kembali”, Opa ternyata kepo juga. Arfin pun menceritakan awal bertemu dengan Naz di bandara, lalu kembali bertemu sampai dilempar kue, dan banyak lagi yang ia ceritakan, tapi hanya bagian yang lucunya saja sedangkan part Naz sedih atau menangis tidak ia ceritakan. Dan obrolan pun berlanjut dengan menanyakan pengalaman Arfin saat kuliah dan bekerja di Amerika, sampai membahas hal- hal konyol yang membuat mereka tertawa dan semakin akrab.


Suasana ruang kerja Opa yang biasanya sunyi karena hanya dokumen dan buku yang selalu menemani beliau di sana, kini nampak gaduh dengan celotehan dan obrolan dua pria beda generasi itu yang disertai canda tawa dari keduanya. Arfin yang sejak berangkat dari rumahnya sudah merasa gugup dan tegang seolah akan melamar anak gadis orang padahal hanya kunjungan biasa saja sekedar berkenalan sekalian memberi ucapan dan bingkisan di haru ulang tahun Opa dari sang pujaan hatinya, kini pun merasa lega karena Oma dan Opa menyambutnya dengan tangan terbuka dan ia pun rupanya merasa cukup mudah untuk mengakraban diri.


“Kemana ini yang ngambil minum dan cemilan kok belum muncul- muncul, ya,?? Tidak tahu apa kalau kita berdua sudah kehausan kebanyakan bicara dan tertawa”, tanya Opa yang kembali mengundang tawa.


“Iya,, aku aja penonton setia yang dianggap goib juga merasa capek mendengar kalian gibahin aku dan terus menertawakan ku, hhhmmhh”, ucap Naz sambil mencebikan bibirnya karena merasa kesal, sedangkan kedua pria beda generasi itu malah menertawakan Naz.


Ceklek…. Terdengar suara pintu terbuka. Munculah seseorang dari balik pintu dan masuk ke dalam ruangan, ia mengedarkan pandangannya kemudian berhenti di satu titik saat melihat Naz duduk di sofa dan berjalan ke arahnya dengan tanpa melepaskan tatapannya kepada Naz. Setelah tepat berdiri di hadapan Naz ia langsung memegang tangan Naz dan menariknya bangkit dari duduknya, “Rheanazwa, ayok pulang,,, SEKARANG!!”, ucapnya dengan penuh penekanan lalu menyeret Naz yang nampak ketakutan dengan menarik tangannya secara paksa, mereka pun berjalan menuju pintu keluar.


Opa langsung bangkit dari duduknya, “Rizal,,, ada apa dengan kamu?”, Tanya Opa yang kemudian menghentikan langkah Pak Rizal.


“Maaf Pah,, saya harus membawa Naz pulang, ada yang perlu kami bicarakan, dan sangat penting”, jawabnya.


“Kamu kan bisa ngomong baik- baik, gak usah diseret begitu kasihan itu Naz tangannya kesakitan karena cengkraman mu”, Opa menegur putra bungsunya itu.


“Maaf Pah,, kami permisi,, ayo Naz”. Ucapnya pamit lalu berjalan menuju keluar, Naz pun sempat memandang sekilas kepada Opa dan Arfin lalu menundukkan pandangannya dan pergi bersama ayahnya.


Naz terus berjalan dengan lengan di cengkram dan terus ditarik oleh Ayahnya sampai mereka masuk ke dalam mobil. Kemudian Ayahnya Naz melajukan mobilnya menuju jalan pulang ke rumahnya, selama di perjalanan tidak ada percakapan diantara keduanya, Ayah konsentrasi menyetir dengan raut wajah kesal sedangkan Naz hanya menundukkan pandangannya dengan perasaan yang tidak karuan.


“Bagaimana ini,,,,? Ayah kelihatannya marah banget sama aku,,, apa mungkin Ayah sudah tahu tentang aku dan Kak Arfin…? tapi darimana Ayah tahu coba?,,,, arghhhhh,,, bagaimana ini nasib hubunganku yang baru seumur toge ini,,, bisa- bisa amblas “, Naz hanya mampu menggerutu dalam hati.


Setelah beberapa saat mereka pun sampai di rumah, “ Ayo turun,, kita bicara di dalam”, ucap Ayah dengan nada ketus lalu keluar dari dalam mobilnya yang sudah terparkir di halaman depan, kemudian ia berjalan memasuki rumahnya dan diikuti oleh Naz di belakangnya. “Duduk….”, Ayah menyuruh Naz duduk di kursi tamu,dan ia pun menurutinya. Naz duduk sambil menundukkan pandangannya dengan kedua tangannya saling berpegangan karena merasa ketakutan, sedangkan Ayahnya dalam posisi berdiri.


“Kenapa kamu bohong sama Ayah?”, tanyanya dengan tatapan tajam.


“Maaf Yah…”, hanya kata itu yang terlontar dari mulut Naz.

__ADS_1


“Maaf kamu bilang,,,,?? Kamu sudah berbohong pada Ayah dan Bunda, kamu menyembunyikan hal ini dari kami berdua sedangkan keluarga sudah mengetahuinya,, apa kamu benar- benar menganggap Ayah ini hanya Ayah angkat kamu hah?”, nada bicara sudah mulai tinggi.


“Enggak gitu Yah,,, aku gak berniat membohongi kalian, tapi aku….", belum selesai Naz menjawab langsung dipotong oleh Ayahnya.


“Lalu apa ini maksudnya?”, Ayah memperlihatkan sebuah foto di layar ponselnya yang memperlihatkan Naz sedang duduk berdua bersama Arfin sambil tersenyum bahagia di tempat bowling, dan Naz langsung terkejut melihatnya. “Kemarin kamu izin pergi ke mall bersama ketiga sahabatmu bukan,,,, lalu kenapa kamu ada di tempat bowling dengan Arfin,, sejak kapan di mall yang kamu tuju ada area bowling nya, hah?”, Ayah masih mode esmosi.


“Ayah,,,, dapat foto itu dari mana?”, tanya Naz heran.


“Tentu saja dari grup chat keluarga Harfi,,, kalau saja Raline tidak mengirimkan foto ini ke grup, Ayah tidak akan mengetahui kebohongan kamu,,, dan Ayah terlihat konyol karena seluruh keluarga sudah mengetahui hubungan mu dengan Afin, sedangkan Ayah dan Bunda yang tinggal satu atap dengan mu tidak mengetahuinya sama sekali. Dan juga Ayah baru tahu ternyata saat Ayah memintamu menjauhi Arfin, malam nya kamu malah pergi makan malam dengan Arfin, iya kan?? Kamu benar- benar tidak menganggap ku sebagai Ayahmu lagi,,, tidak mau mendengarkan kata- kataku lagi“, Emosi sudah memuncak.


“Maaf Yah,,, aku minta maaf,,, aku gak bermaksud seperti itu“, ucap Naz yang sudah tidak bisa membendung air matanya dan kini terus mengalir membasahi pipinya.


“Ayah melakukan itu juga demi kebaikan kamu Naz,, Ayah cuma tidak mau jika suatu saat kamu bernasib sama seperti Salma, gadis sebatang kara yang Ayah ceritakan padamu tempo hari, yang berhubungan dengan kakaknya Arfin lalu dipisahkan oleh keluarganya yang tiba- tiba menghilang dan sampai sekarang tidak ada yang tahu keberadaanya”.Ayah menghela nafas panjang sejenak, “Ayah minta putuskan hubunganmu dengan Arfin..”, ucapnya dengan tegas.


Naz hanya menunduk dengan ari mata yang terus mengalir deras tanpa menjawab perkataan terakhir Ayahnya, ia pun bangkit dari duduknya dan langsung pergi berlari ke kamarnya sambil membekap mulutnya.


“Naz,,, ayah belum selesai bicara”, Ayahnya berteriak.


“Zal,,, sudahlah,,, biarkan Naz, dia butuh waktu untuk menyendiri,,,”, ucapnya ,,” Mas sudah mendapat pernyataan dari Arfin bahwa ia akan memastikan apa yang menimpa Salma tidak akan terjadi pada Naz”, Pak Syarief yang tiba- tiba datang langsung berkomentar.


“Maksud Mas Syarief apa?”, Tanyanya heran.


“Mas sebelumnya sudah berbicara dengan Arfin sebelum mereka menjalin hubungan, karena kita menghawatirkan hal yang sama dan kamu tidak usah khawatir mengenai Latief dan Hinda , lagi pula mereka itu kan besan mu juga Zal, ini bukan yang pertama kali nya anak kalian menjalin hubungan. Naz dan Arfin itu baru pacaran masih tahap pengenalan dan belum mau menikah, biarkanlah mereka dan berikan kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain, aku juga sudah mewanti- wanti Arfin untuk menjaga Naz dan menjaga dirinya agar tidak terjadi hal yang macam- macam”, ucap Pak Syarief menasehati adik bungsunya itu.


“Iya aku tahu sejak sepuluh tahun yang lalu mereka besan ku dari putra pertama ku yang kini tinggal di Amerika, tapi setelah hal yang menimpa Salma, aku takut jika Naz berhubungan dengan putra mereka,, aku tidak ingin suatu hari Naz akan terluka,,, dan lebih baik diakhiri sebelum semuanya terlalu jauh dan perasaan mereka terlalu dalam, Mas”.Pak Rizal masih bersikukuh.


“Ternyata Naz sudah berpacaran dengan Arfin,, dan yang kemarin kita lihat foto gadis yang bersama Arfin itu adalah Naz,,, “, ucap Pak Rizal.


“Hah,, masa sih?? Ih Ayah yang bener atuh kalo ngomong teh?”, Bunda terkejut mendengar nya.


“Tanya aja sama Mas Syarief”, ucapnya menoleh pada sangat kakak.


“Iya Anita,,, dan suami kamu yang menyebalkan ini malah menyuruh mereka putus, aneh”, ucap Pak Syarief menatap kesal pada adiknya.


Bunda Anita terkejut dan menatap tajam kepada suaminya, ”Kenapa atuh nyuruh mereka putus??”, tananya dengan nada ketus. ”Ayah gak tahu apa kalo Arfin sudah banyak memberikan perubahan besar pada Naz,, Naz sekarang teh lebih periang, ceria, dan gak pernah sedih dan terpuruk seperti dulu lagi,, awas aja kalo nyuruh mereka putus lagi,, Ayah gak akan dapat jatah dari Bunda… permisi”, Bunda berkecak pinggang lalu melengos begitu saja bergegas pergi ke kamar Naz. Senjata andalan pun dikeluarkan, yess.


Pak Rizal hanya bisa diam mematung keheranan sekaligus merasa kesal karena diserang oleh dua orang sekaligus dari kubu yang berlawanan dengannya, sedangkan Pak Syarief tersenyum penuh kemenangan karena Naz sudah mendapat banyak dukungan dan adiknya kini hanya seorang diri sebagai pihak penentang, “Dengerin tuh,,, ntar gak dapat jatah loh,, Mas permisi pulang dulu,, assalamu’alaikum adik kesayangan”. Ucapnya sambil terkekeh lalu berjalan menuju pintu keluar.


“Wa’alaikumsalam”, jawabnya ketus.


Sementara di kamar Naz,, Bunda baru saja masuk ke kamar dan melihat puteri kesayangannya itu sedang tengkurap menyembunyikan wajahnya dibalik bantal sambil menangis di tempat tidurnya. Huhhuhuhu,,, hiks hiks hiks,, huhuhuhu,,,, begitulah suaranya kira- kira.


“Dek,,, sayang,,, jangan gitu dong nangisnya,, nanti kamu bisa kehabisan nafas”, ucap Bunda menghilangkan lengan Naz.


“huhuhu,,,hiks hiks,,, huhuhu,,, Ayah jahat, Bunda,,,”, ucap Naz disela tangisannya.

__ADS_1


“Enggak,,, Ayah mah gak jahat ah,, Ayah mah sayang banget malah sama kamu,, dia teh peduli sama kamu dan gak mau kalau kamu teh disakiti orang lain, cuman sekarang caranya yang kurang tepat,,, sini atuh ngobrol sama Bunda nya jangan sambil tengkurap gitu,, Bunda kayak ngomong sama bayi gede”, ucap Bunda meminta Naz bangun, dan Naz pun bangkit lalu duduk,, ”Astagfirullahalazim,,,,itu teh air mata udah bercampur sama ingus, geleuh ih wajah kamu teh kelihatan caludih banget,, lap dulu gih “.


Sroookk,,, suara sang ingus yang ditarik kembali ke dalam goa nya, lalu Naz mengelap wajahnya menggunakan baju yang dipakainya yang ia tarik bagian bawahnya dan ia menunduk. “Naz,, kamu teh jorok banget ya ampun ,,, itu mengelap air mata sama ingus pakai baju gitu, ih gareleuh teuing,, itu tisu ada di meja atuh neng”, Bunda malah protes dan mengomeli Naz.


“Biarin,, yang dekat aja karena tisunya kejauhan”, ucap Naz sambil Sesenggukkan.


“Yasudah lah terserah kamu wae lah meh gampang,,, “, ucap Bunda lalu memandangi Puteri nya sejenak, “Dek, jadi kamu teh udah berpacaran sama Arfin? Kenapa gak bilang sama Ayah Bunda?”, proses interogasi dimulai.


“Waktu itu aku mau bilang sama Bunda, tapi Ayah keburu datang dan aku mengurungkan niatku karena takut Ayah marah”, ucapnya di sela sesenggukan nya.


“Kenapa emangnya kamu sampai takut ketahuan sama Ayah segala atuh?”, tanya Bunda heran, lalu Naz pun menceritakan apa yang dibicarakannya dan sang ayah sebelum ia pergi makan malam dengan Arfin sampai Naz menolak cintanya,dan barulah saat setelah pertunangan Dandy mereka jadiannya. Naz pun menceritakan apa yang didengar dari Ayahnya kalau beliau mengetahui hal itu dari grup chat keluarga karena Raline mengirimkan fotonya saat bersama Arfin.


“Ya ampun,,,, ya iya lah Ayah marah,, Bunda juga rasanya teh pengen marah sama kamu, tapi ga tega lihat wajah kamu yang udah berantakan gitu“, Bunda terdiam sejenak menatap lekat putrinya yang duduk berhadapan dengannya ,” Dek, Ayah teh lebih marah karena tahu hal itu dari orang lain,, Ayah mu itu orang yang sangat baik, tapi kalau keras kepalanya sudah muncul akan sulit diatasi, apalagi kali ini benar- benar merasa tersinggung, sudah mah dibohongi, tahunya dari orang lain pula, kamu tahu sendiri kan saat Ayah bersitegang dengan Opa sampai tujuh tahun,,, karena mereka sama- sama keras kepala,,, jadi sebaiknya salah satu dari kalian mengalah dulu”, ucap Bunda menasehati.


“Iya,,, aku minta maaf Bunda,,, tapi masa iya hubunganku yang baru seumur toge sudah harus kandas sih Bunda”, lirih Naz.


“Hhahaa,,, ada juga seumur jagung atuh ih,,, kamu mah suka ngada- ngada seumur toge segala”, Bunda malah tertawa.


“Emang iya kan, proses pertumbuhan dari biji kacang hijau menjadi toge kan lima sampai tujuh hari,, dan hubungan kami baru aja menginjak hari ke tujuh, hiks hiks,,, malang bener sih nasibku, Bunda”, Ucap Naz yang kembali meneteskan air mata.


“Udah jangan nangis lagi ahh,,,, sebaiknya kita biarkan Ayah tenang dulu, dan sementara ini kamu mengalah break dulu aja ya, nanti Bunda akan coba bicara pelan- pelan biar Ayah mu bisa menerima dan memberi kalian berdua kesempatan untuk tetap menjali hubungan”, ucap Bunda memberi solusi.


"Jadi aku beneran harus putus ini,,,? hiks hiks", tanya Naz sambil menangis.


" Bukan gitu,,, maksudnya teh gmn atuh nya jelasinnya,, kalian tetap pacaran tapi jangan ketemuan atau jalan bareng dulu gitu sampai situasinya aman terkendali ", Bunda menjelaskan.


“Iya deh Bunda,,,, nanti kucoba,, lagian kan Kak Arfin kerja di Surabaya jadi kita pasti gak ketemu seminggu ini,,, tapi jangan lama-lama ya Bunda merayu Ayah nya", ucap Naz merengek.


" iya iya,,,, paling lama sebulan", ucap Bunda ngasal.


" Hahh...itu lama bangett ", Naz protes.


" Iya iya iya dehh,,, secepatnya atuh Bunda usahain,,, ", ucap Bunda terkekeh.


"Makasihh ya Bunda,,, aku sayang banget sama Bunda”, Naz langsung memeluk Bunda nya.


“Tapi Bunda sayang biasa aja tuh gak pake embel- embel banget segala”, ucap Bunda terkekeh.


aaaaahhhhh ....


------------- TBC --------------


***************************


kenapa Aa gak membuntuti Naz saat dibawa paksa oleh Ayahnya,,,?? kok malah Papa Syarief yang datang...???

__ADS_1


happy Reading 😉😉


jangan lupa tinggalkan jejakmu... 😍😉🙏


__ADS_2