
Naz yang terkejut mengetahui Arfin yang sedang di panti membuatnya sangat sedih dan terluka, hanya menangis yang bisa ia lakukan saat ini untuk meluapkan kesedihannya.
“Huaaaaaaaaa… huaaaaaaa,,, tega kamu,, tega banget ninggalin aku sendirian di kafe untuk menemui Nala dan Kak Maira,,,huaaaaaaaaa”, Naz menggerutu sambil menangis.
Naz terus menangis meluapkan kesedihan dan rasa sakitnya sampai ia tertidur dengan memeluk bonekanya.
Suara deringan ponsel membangunkan Naz dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan yang terasa bengkak efek habis menangis, lalu ia mencari keberadaan ponselnya yang ternyata tertindih oleh bokongnya sendiri dan saat ia melihat nama si pemanggil Naz hanya membiarkannya saja tidak berniat mengangkat panggilan tersebut. “Ya ampun udah jam lima, aku belum shalat ashar”, ucap Naz saat melihat jam di ponselnya dan ia pun segera bangkit dari tidurnya bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kemudian ia melaksanakan shalat ashar. Setelah selesai shalat Naz berdoa dan memohon diberi petunjuk untuk menyelesaikan permasalah yang tengah dihadapinya.
Tok tok tok….. terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Naz, “Neng,, makan dulu, dari tadi siang kan belum makan,, nanti sakit maag nya bisa kambuh loh”, ucap Mba Iyem setengah berteriak dari balik pintu.
“Iya Mbak,,, sebentar lagi aku turun”, Naz membalas teriakan Mbak Iyem lalu ia melipat kembali mukena beserta sajadahnya dan disimpan di tempat asalnya. Naz pun bergegas keluar dari kamarnya turun menuju ruang makan.
“Neng, makanan yang tadi dibawa mau di angetin?”, tanya Mbak Iyem.
“Gak usah buat Mbak aja,, aku gak mau makan itu,, aku mau makan masakan Mbak aja”, ucap Naz sambil mengambil nasi dan lauk pauknya, “Penghuni rumah pada kemana Mbak kok sepi sih?”, tanya Naz.
“Belum ada yang pulang Neng,, tadi Ibu telepon nanti pulangnya malam karena lagi banyak orderan katanya,,, Neng, si Mbak perhatiin matanya kenapa kok bengkak gitu, Neng habis nangis ya?”, tanya Mbak Iyem.
“Ini karena kelamaan tidur aja Mbak kayaknya,,, hehe”, ucap Naz membuat alasan dan ia pun memakan makanannya sampai habis, tahu sendiri kan kalo sudah nangis Naz kehilangan banyak energi dan suka makan banyak, kemudian Naz mencuci piringnya bekas makannya dan kembali lagi ke kamarnya.
Berhubung Ayah, Bunda dan Dandy belum pulang, Naz pun shalat magrib dan isya di kamarnya saja tidak berjama’ah seperti biasanya di mushala. Naz masih memikirkan langkah apa yang akan dia ambil mengenai hubungannya dengan Arfin kedepannya.
Sejak sore Arfin terus menghubunginya baik itu lewat chat, telepon dan video call, namun Naz terus mengacuhkannya sampai ponselnya pun disenyapkan supaya tidak berisik. Sepertinya rasa sakit hati dan kekecewaan yang dirasakan Naz sudah terlalu dalam, walau ia memaksakan untuk tegar, namun air mata terus saja keluar tanpa henti.
Naz mematikan lampu kamarnya dan hanya menyalakan lampu tidur saja supaya dia disangka sudah tidur, karena dia tahu betul jika Naz susah dihubungi, Arfin pasti akan menghubungi Bunda atau pun Dandy meminta bantuan mereka.
Dan benar saja baru saja beberapa menit Naz mematikan lampu, tiba- tiba Dandy mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok,,, “Dek,, kata Arfin angkat teleponnya,, dia gangguin Kakak mulu nih,,,, “, Dandy berteriak dari balik pintu kamar Naz dengan ponsel yang temple di telinganya lalu kembali mengetuk pintu, “Dek,,, kamu udah tidur ya ?”, tanyanya lagi namun tak kunjung mendapatkan jawaban.
“Gila lo ya,, kalo teriak ponselnya jauhin dong dari mulut lo,,, masuk semua suara teriakan lo ke telinga gue”, Arfin menggerutu kesal.
“Halo,,, Tuan Arfin yang terhormat,,, sepertinya adek gue udah tidur,, lampunya aja udah dimatiin dan gue teriak- teriak juga gak dijawab,, jadi sebaiknya lo juga tidur biar kalian bertemu di alam mimpi sana,,, “, ucap Dandy setengah kesal lalu ia pun menuruni tangga dan berjalan menuju ruang makan.
“Tumben jam segini udah tidur,,? biasanya juga tidur jam sembilan atau jam sepuluh malam”, tanya Arfin heran.
“Ya mana gue nyaho, suka- suka dia lah mau tidur jam berapa juga, masa iya orang udah ngantuk gue larang tidur,,, udah dulu ah gue mau makan nih, laper banget ,, bhay”, Dandy langsung memutuskan sambungan teleponnya.
***
Keesokan harinya setelah shalat subuh Naz menelpon Pak Udin untuk memberitahunya agar menjemputnya lebih pagi, dan ternyata Pak Udin bilang tidak akan menjemput Naz karena Arfin sudah menghubunginya semalam bahwa dia yang akan menjemput Naz. Mengetahui hal itu Naz langsung memikirkan sesuatu agar ia tidak perlu berangkat bersama Arfin, karena ia tidak ingin bertemu dulu dengan Arfin.
Jam setengah enam pagi Naz sudah bersiap dengan seragamnya dan ia langsung turun berjalan ke ruang makan, Naz mengambil nasi dan makan dengan telur mata sapi yang sebelumnya Naz sudah menelpon Mbak Iyem sebelum mandi tadi meminta dibuatkan telur mata sapi, ia pun sudah memesan taksi online.
“Dek,,, tumben jam segini udah siap gitu, udah sarapan pula?”, tanya Dandy yang hendak menyeduh kopi.
“Emm,,, ada tugas kelompok yang belum diselesaikan jadi musti pagi banget ke sekolahnya”, ucap Naz berbohong. ”Aku berangkat dulu ya Kak,,, assalamu’alaikum”, Naz menyalami Dandy lalu bergegas pergi keluar rumahnya karena sudah mendengar suara klakson mobil. Dan benar saja taksi online pesanannya sudah tiba, Naz pun langsung menghampiri dan menaikinya setelah memastikan itu taksi orderannya.
Naz tiba di sekolah jam enam kurang dan beruntung pintu gerbang baru saja dibuka. “Pagi banget Neng datangnya,,, “, ucap salah seorang penjaga sekolah sedangkan Naz hanya tersenyum saja lalu melewatinya berjalan menuju ke kelas nya. Setibanya di depan kelas Naz tidak masuk, ia malah duduk di lantai teras kelas menghadap ke taman sekolah yang ada kolam ikan hias nya lalu mengambil buku pelajaran dari dalam tas ranselnya dan membacanya. Setelah jam enam lebih, murid- murid pun mulai bermunculan datang.
***
Sedangkan di kediaman Naz, Arfin yang sudah berpakaian rapi baru saja tiba di depan pintu gerbang dan ia pun turun dari mobilnya yang diparkirkan di pinggir jalan. Arfin berjalan memasuki halaman rumah Naz dan saat sampai di depan pintu rumah ia langsung menekan tombol bel ,,,, ting nong….. dan setelah menunggu beberapa saat ada yang membukakan pintu dari dalam rumah, ”Assalamu’alaikum, Mbak Yem,,,”.
“Wa’alaikumsalam,,, Eh, Den Arfin,,, mau bertemu Neng Naz atau Den Dandy?”, tanyanya pada Arfin.
“Saya mau menjemput Naz dan mengantarkannya ke sekolah Mbak Yem,,, Naz nya sudah siap?”, Arfin mengutarakan maksud dan tujuannya datang sepagi ini.
“Neng Naz sudah berangkat setengah jam yang lalu Den,,, katanya ada tugas kelompok yang belum selesai dikerjakan, jadi berangkat nya pagi- pagi banget”, Mbak Iyem memberitakan.
“Oh gitu ya Mbak,, ya sudah kalau begitu saya pamit lagi aja ,,, terimakasih ya Mbak,,, assalamu’alaikum”, Afin yang merasa kecewa pun langsung bergegas pergi dan kembali menaiki mobilnya.
“Kenapa ya Naz sepertinya menghindari ku terus dari kemarin,,, apa dia marah karena aku meninggalkannya begitu saja kemarin di kafe?”, Arfin berdialog sendiri lalu ia menyalakan mobilnya lalu melajukan nya menuju ke kantor.
Sesampainya di kantor Arfin langsung masuk ke ruangannya dan menyuruh OB membelikan sarapan untuknya, karena ia belum sempat sarapan saking semangatnya ingin mengantar Naz ke sekolah yang ternyata ini kali pertamanya yang ia lakukan setelah jadian dengan Naz, namun sayang seribu kali sayang ia terlambat, orang yang ditujunya malah sudah berangkat ke sekolah sebelum dirinya datang.
__ADS_1
Seusai sarapan, Dewi sang sekertaris pun telah tiba di kantor dan langsung menghampiri Arfin di ruangan kerjanya, kemudian mereka berdua berangkat bersama menuju proyek baru perusahaanya yang menempuh jarak kira- kira satu jam lebih. Mereka pun sampai di TKP lalu mengadakan brefing bersama tim lapangan, dan setelah itu mereka pun mulai bekerja.
Saat melihat jam tangannya Arfin teringat dengan sang kekasih pujaan hatinya, “Ternyata sudah jam sepuluh lebih, Naz pasti sedang ada di kantin”, Arfin berdialog sendiri kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana dan langsung mendial nomor kontak Naz.
Tuutt…… Tuuuut….. begitulah kiranya nada sambung yang terdengar di sambungan teleponnya.
"Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab, cobalah beberapa saat lagi,, sorry the number you are calling not answering, please try again”, Malah sang operator yang menjawab secara otomatis.
Arfin terus menelpon Naz hingga yang ke lima kali barulah diangkat.
“Hallo ,,, Assalamu’alaikum sayang,,, kok lama banget jawab teleponnya,,,? “, Arfin langsung menyapa.
“Wa’alaikumsalam….”.
“Sayang,,, kok suara kamu jadi berubah?”, Tanya Arfin heran.
“Maaf Den,,, ini sama Mbak Iyem,, hape Neng Naz ketinggalan dan tadi tergeletak di atas tempat tidurnya,,,".
“Oh iya kalo gitu Mbak,,, terimakasih,,, assalamu’alaikum”, Arfin langsung mengakhiri sambungan teleponnya setelah Mbak Iyem menjawab salamnya di seberang sana.
“Kenapa ini,, gak biasanya Naz teledor dengan ponselnya, biasanya kemana pun selalu membawa ponsel, bahkan saat BAB pun dia suka bawa ponsel,,, apa dia benar- benar sedang menghindari ku??,,, ahhh sudahlah,,besok kan aku libur kerja jadi bisa bertemu dengan mengantar jemput nya sekolah”, Arfin kembali bicara sendiri, lalu ia pun melanjutkan pekerjaannya lagi.
***
Sementara di sekolah jam pelajaran telah habis, karena hari ini hari jumat jadi selesai pembelajaran pukul 10:45 WIB, sehingga jam pulang sekolah lebih awal dari hari biasanya. Naz dan Ruby pulang ke rumah Kiara dengan menaiki taksi online sedangkan Kiara seperti biasa menunggangi motor kesayangannya. Sebenarnya ini salah satu siasat Naz menghindari bertemu dengan Arfin yang pastinya tidak akan menyerah setelah tadi ia gagal mengantar Naz berangkat ke sekolah.
Sesampainya di rumah Kiara, mereka bertiga langsung ke kamar Kiara sedangkan Andes pulang ke rumahnya dulu dan setelah pulang jumatan ia berjanji akan menyusul. Kiara menggelar karpet di lantai kamarnya untuk mereka duduk santai sambil ngobrol- ngobrol serta makan cemilan yang sempat dibeli Kiara di mini market saat perjalanan pulang tadi.
“Akhirnya bisa santai- santai seperti ini setelah hari yang melelahkan kebanyakan mengerjakan tugas otak gue sampe berasap tahu gak”, Ruby nyerocos sambil duduk selonjoran dan bersandar pada ranjang Kiara.
“Iya,,, belum lagi senin depan kita akan menghadapi ujian semester, mulai dikurung di rumah deh gue, gak boleh keluyuran ntar sama Umi…”, Kiara pun ikut menggerutu sedangkan Naz dari tadi hanya diam dan sesekali tersenyum.
“Naz,,, lo kenapa sih diem aja,, gue perhatiin di kelas juga tadi lo banyak ngelamun sampe kena tegur guru,,, lo lagi ada masalah?”, Tanya Ruby dengan raut wajah serius.
“Masalah apaan ? kok gue gak tahu Ra?”, tanya Ruby heran lalu Kiara menceritakan masalah yang sedang dihadapi Naz soal Arfin, mantannya dan anak kecil yang bernama Syanala, “Apa…? O em ji ,,,, ini beneran?? Gue gak salah denger kan?,,, Tapi mana mungkin Kak Arfin bisa kayak gitu,,, ahh gue mah gak percaya Kiara”, Ruby sangat terkejut mendengar apa yang diceritakan oleh Kiara.
“Gue juga sama kayak lo,,, kaget dan gak percaya By,,,”, Kiara mengutarakan apa yang ia rasakan saat mendengar curhatan Naz tempo hari lalu ia memandang ke arah Naz, “Naz,, gimana lo udah bicara empat mata sama Kak Arfin membahas masalah itu?”, tanya Kiara penasaran.
Naz menggelengkan kepalanya sambil tertunduk, ”Tadinya kemarin gue mau membicarakan soal itu saat Kak Arfin jemput gue ke sekolah dan ngajak makan di luar, tapi belum sempat gue ngomong dia pergi gitu aja ninggalin gue di Kafe”, ucap Naz yang nampak menahan diri untuk tidak menangis.
“Hah,,, ninggalin lo di Kafe,, kok bisa?”, tanya Ruby heran.
“Waktu gue mau ngomong dia nerima telepon dari seseorang, lalu dia pamit pergi katanya ada hal penting yang membuatnya harus segera pergi, gue sedih banget waktu itu, karena gak bisanya dia ninggalin gue gitu aja untuk hal penting apa pun,,, dan setelah gue pulang, gue nelpon Bude Hafsah menanyakan kondisi kesehatannya karena gue belum sempat menjenguknya sepulang beliau dari rumah sakit,,, dan kalian tahu,, ternyata Kak Arfin sedang di panti karena katanya Nala sakit,,, hiks hiks,,,,”, Akhirnya Naz sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi.
“Naz,,,,”, lirih Ruby lalu berpindah duduknya ke sebelah Naz begitu juga Kiara sehingga Naz duduk di tengah- tengah mereka.
“Sakit banget hati gue By, Ra,,,, hiks hiks hiks”, ucap Naz yang menangis tanpa suara dan hanya sambil menunduk seolah menahan rasa sakit yang begitu mendalam karena hanya isakan nya yang terdengar sedangkan air matanya terus mengalir deras, Ruby langsung memeluk Naz dan Kiara mengusap- usap punggung Naz dengan raut wajah sedih.
Naz melepaskan pelukannya dari Ruby dan kembali berbicara, “Semalaman gue udah mikirin,,, dan gue udah mutusin untuk mundur, karena Kak Maira dan Syanala lebih membutuhkan Kak Arfin di sisi mereka,, daripada terus- terusan kayak gini, dia diam- diam menemui mereka dan mengabaikan gue, itu lebih menyakitkan,,, hiks hiks hiks”, ucap Naz sambil terus menghapus air matanya dengan tissue yang disediakan oleh Kiara.
“Naz,,, kita akan dukung apa pun yang terbaik buat lo,, tapi apa lo udah mikirin mateng- mateng tanpa menanyakan yang sebenarnya terjadi pada Kak Arfin?”, tanya Ruby penasaran.
“Iya Naz, Ruby benar,,, jangan sampai lo salah ngambil keputusan,, akan lebih miris jika ternyata setelah kalian gak bersama lagi dan dikemudian hari lo baru tahu kenyataan yang sebenarnya,,, apalagi jika ternyata kalian berpisah hanya karena salah paham,,, jangan sampai lo menyesal di kemudian hari Naz”, Kiara menasehati.
“Kejadian kemarin sudah meyakinkan gue Ra,,, apalagi saat Bude bilang Nala yang sejak semalam demam tinggi terus mengigau memanggil Kak Arfin lalu setelah dia datang kondisi Nala membaik dan Nala tidak mau lepas dari gendongan Kak Arfin,,, apa coba itu namanya kalo bukan ikatan batin,,, hiks hiks hiks,,, “.
“Semua keputusan ada di tangan lo Naz,,, jika itu memang bisa bikin lo gak sedih lagi, kita akan mendukung keputusan lo,,, gue juga pernah ngerasain gimana beratnya mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan sedangkan perasaan gue masih sangat besar pada cowok itu,, tapi lambat laun seiring berjalannya waktu gue bisa ngelupain dia, dan lo juga pasti bisa seperti itu Naz,,, memang awalnya akan terasa berat dan menyakitkan,, tapi daripada lo tersiksa seperti ini akan lebih menyakitkan lagi,,, jika itu adalah jalan keluar terbaik buat lo, maka lo bisa memilih untuk mundur,,, “, ucap Ruby ikut menasehati.
“Naz,,, sifat lo yang suka lebih mikirin perasaan orang lain ternyata masih melekat di diri lo,,, tapi mudah- mudahan dengan memilih jalan ini bisa membuat lo bahagia di kemudian hari, karena niat lo sangat mulia yaitu untuk memberikan kebahagian buat orang lain,,, gue bangga sama lo”, ucap Kiara terharu, ia pun malah ikut menangis dan ketiga sahabat itu pun berpelukan bagai Teletubbies dengan tangis mengharu biru dari ketiganya.
“Makasih banyak,,, kalian emang sahabat terbaik gue,,,,hiks hiks hiks”, ucap Naz setelah mereka saling melepas pelukannya.
“Kok kita jadi termehek- mehek gini ya,,,”, ucap Ruby sambil menghapus air matanya dengan tisu.
__ADS_1
“Iya sama gue juga jadi ikutan sedih,,,”, Kiara pun mengambil tisu untuk menghapus air matanya.
“Terus langkah apa yang akan lo ambil untuk melaksanakan niatan lo ini Naz”, tanya Ruby.
“Sejak kemarin sore gue udah mulai menghindarinya, gak buka chat dia, gak ngangkat telepon dan video call nya, juga tadi pagi dia yang niatan ngenterin gue ke sekolah pun berhasil gue hindari dengan berangkat lebih pagi,,,”, Naz menghela nafas sejenak lal kembali melanjutka pembicaraannya,
“Senin depan kan kita ujian semester, dan itu akan gue jadiin alasan supaya dia tidak menghubungi atau menemui gue dulu, yaa mungkin gue anggap ini sebagai pelatihan buat diri gue sendiri agar terbiasa menjalani hari- hari tanpa nya, tanpa suaranya, tanpa bicara dengannya, tanpa chat dari nya, tanpa bertemu dengannya,,, supaya kedepannya gue bisa terbiasa hidup tanpanya”, Kali ini Naz menghela nafas berat seakan mengeluarkan rasa sesak di dada nya.
“Naz,,, awalnya memang akan terasa berat,, tapi kita yakin lo akan bisa melalui ini semua,,, kita akan selalu ada buat lo,,, kalo perlu kita akan nginep lagi kayak dulu supaya lo gak merasa sendirian mengahadapi ini semua”, ucap Ruby.
“Gak usah By,,, gue gak mau nyusahin kalian,, nanti kalo gue butuh temen curhat pastinya gue bakal lari ke kalian kok”, ucapnya tersenyum dan mereka pun kembali berpelukan untuk menguatkan Naz.
***
Malamnya Naz memberanikan diri menelpon Arfin dan memberitahukannya bahwa dia akan melaksanakan ujian semester di sekolahnya sehingga meminta Arfin untuk tidak menemui atau menghubunginya dulu, karena setiap ujian Bunda akan melarang Naz bermain ponsel agar bisa konsentrasi belajar, meski awalnya Arfin keberatan namun setelah Naz memberinya penjelasan lagi dan mengingatkan janjinya pada orang tua Naz untuk tidak mengganggu sekolah Naz, akhirnya Arfin bersedia menuruti permintaan Naz.
***
Seminggu telah berlalu, pelaksanaan ujian semester pun telah berakhir dan Arfin pun memenuhi janjinya untuk tidak menghubungi dan menemui Naz selama itu. Naz sudah mulai terbiasa menjalani hari- harinya tanpa Arfin dan memang benar kata Ruby awalnya sangat berat dan menyakitkan untuknya, namun kini ia sudah mulai terbiasa.
Arfin yang sudah sangat merindukan Naz ternyata masih tidak bisa menghubungi bahkan menemui Naz walau ujian nya sudah selesai. Selama beberapa hari ini Naz terus saja menghindarinya, ponselnya masih tidak aktif, berangkat sekolah lebih pagi dan sepulang sekolah ia akan pergi ke rumah Kiara dengan menaiki taksi dan pulang ke rumahnya menjelang magrib, karena selama itu Arfin selalu berusaha mengantarkannya ke sekolah dan menjemputnya, namun tidak pernah berhasil seolah Naz sedang main kucing- kucingan dengannya.
Setelah selesai makan malam Naz akan diam di kamar dengan lampu yang dimatikan agar dikira sudah tidur, walau sebenarnya ia belum tidur karena Arfin setiap malam menelpon Dandy untuk meminta tolong untuk bicara dengan Naz.
***
Arfin pun merasa frustasi dengan Naz yang terus menghindarinya, sehingga beberapa hari ini ia melampiaskan kekesalannya kepada pegawainya padahal mereka hanya melakukan kesalahan kecil, tapi Arfin akan memarahinya habis- habisan.
Dan terkadang setelah masuk ke ruang kerjanya dia sering melamun atau meratapi kesedihannya.
Sabtu sore ini Arfin pergi ke rumah Naz dan saat dibukakan pintu oleh Mbak Iyem, dia bilang kalau Naz tidak ada di rumah, tapi dia tidak percaya dan menerobos masuk lalu naik ke lantai dua, dan benar saja ia menemukan Naz yang baru saja keluar dari kamar mandi, namun ia langsung berlari masuk ke kamarnya saat melihat Arfin baru selesai menaiki tangga.
“Naz,,,, “, Arfin melangkah hendak menghampiri Naz yang berlari ke kamarnya.
Ceklek ,,, Blam,,, Naz masuk ke kakamrnya lalu kembali menutup pintu dan menguncinya.
Tok tok tok ,,, “Naz ,,, buka pintunya,,, kita perlu bicara,, kenapa kau terus menghindariku seperti ini”, ucap Arfin sambil terus mengetuk pintu kamar Naz.
Naz tidak menjawab dan malah menangis di balik pintu.
“Apa yang harus ku lakukan,,,, apa ini memang sudah saatnya,, kenapa rasanya begitu berat,,, apakah ini adalah akhir dari kisah ku bersamanya?”. Lirih Naz dalam hatinya sambil membekap mulutnya karena tak ingin suara tangisannya terdengar oleh Arfin.
Tok tok tok ,,, “Naz,, sayang,, aku mohon buka pintunya,, aku sangat merindukan mu,,,aku tidak bisa berhenti memikirkan mu,, ayo kita bicara diluar”, Arfin masih berusaha membujuk Naz membuka pintu walaupun ia tak mendapat jawaban.
“Naz,,, apa salahku sampai kau terus menghindariku seperti ini,,, ayolah sayang buka pintunya,, kalo enggak aku akan mendobrak pintunya”, ucap Arfin mengancam.
Ceklek …. Naz membuka pintunya perlahan dan setelah terbuka Naz memberanikan diri menatap pria yang amat dicintainya itu yang tersenyum bahagia karena hapir dua minggu tidak bisa menemui Naz.
“Aku mau kita putus,,,, “, ucap Naz dengan nada tegas, sontak itu membuat Arfin sangat terkejut dan senyumnya pun hilang seketika, ia hanya diam mematung seolah mendapatkan goncangan yang begitu dahsyat yang meluluh lantahkan hatinya.
Blam ,,,, Naz langsung menutup pintunya kembali.
"Semua sudah berakhir,,, hiks hiks hiks... ini yang terbaik untuk kita,,,, maafkan aku,,,, ", lirih Naz pelan.
------------- TBC -------------
**********************
Akankah Arfin menerima keputusan Naz,,, ??
__ADS_1
Happy Reading…..
Silahkan berbahagia para hetters Aa,,,,