
Akad nikah adalah acara inti dari seluruh rangkaian proses pernikahan. Akad nikah dimaknai sebagai perjanjian antara wali dari mempelai perempuan dengan mempelai laki-laki dengan dua orang saksi yang mencukupi syarat menurut syariat agama. Dengan adanya akad nikah, maka hubungan antara dua insan yang sudah bersepakat untuk hidup berumah tangga diresmikan di hadapan manusia dan Tuhan.
Dalam agama Islam, untuk prosesi pernikahan yang sah ada lima hal yang harus dipenuhi. Yaitu, adanya calon mempelai laki-laki, calon mempelai perempuan, wali dari mempelai perempuan, adanya dua orang saksi laki- laki, dan terakhir adalah ijab qabul. Kalau lima syarat di atas sudah dipenuhi, maka pernikahan sudah bisa dikatakan sah menurut agama. Tapi, pernikahan juga harus melalui pihak KUA agar sah di mata hukum. Prosesi akad nikah diawali dengan pembukaan pembacaan basmalah oleh penghulu, dilanjutkan khotbah nikah bisa oleh wali nikah, pemuka agama, ataupun oleh penghulu, kemudian ijab qabul, setelah dinyatakan sah dilanjutkan dengan doa nikah, dan yang terakhir penandatanganan buku nikah beserta dokumen dari pihak KUA oleh pengantin, wali dan dua orang saksi tersebut.
Pernikahan Arfin dan Naz yang sudah berlangsung sejak pukul 8 pagi, kini tengah memasuki acara inti, yakni prosesi akad nikah. Setelah Naz yang diiringi oleh para bridesmaid tiba di tempat akad nikah, lalu di sambut oleh Arfin, mereka pun duduk kembali bersama penghulu dan dua orang saksi di kursi yang sudah disediakan yang mengelilingi meja berbentuk persegi tersebut. Sedangkan di belakang pengantin berdiri ketiga sahabat Arfin, di belakang saksi mempelai wanita, berdiri Pak Rizal, Bu Rahmi dan Bunda yang menggunakan kursi roda, sedangkan di belakang saksi mempelai laki- laki, berdiri Pak Latief dan Bu Hinda, kalau fotografer berdiri semaunya untuk mendokumentasikan prosesi akad nikah.
Naz yang baru saja duduk sambil menunduk dan tersenyum setelah mendengar kalimat pujian dari calon suami yang sangat dirindukannya, kemudian menegakan kembali wajahnya lalu memandang ke arah Papa dan Ayahnya yang berdiri bersebelahan.
“Kenapa Papa yang tadi duduk jadi berdiri,, ? apakah ini yang dimaksud permintaan Ayah kemarin,, apa Ayah ingin menjadi wali nikah ku?? Semoga tidak terjadi perebutan lagi di sini”, gumam Naz dalam hati dengan perasaan cemas, namun saat melihat Papa nya duduk kembali, ia pun merasa tenang, lalu kembali menundukkan pandangannya. Namun berbeda dengan orang yang duduk di sebelahnya, ketegangan sudah mulai melanda dan keringat pun sudah mulai membasahi dahi, sesekali ia menghapus keringat dengan sapu tangannya.
Penghulu meminta satu kursi lagi untuk petugas KUA yang kemudian duduk di sebelahnya, lalu beliau membuka berkas yang di bawa oleh petugas KUA tersebut beserta surat nikah yang akan di serahkan seusai akad nikah nanti, “Nama mempelai wanita, Rheanazwa Eleanoor Harfi, usia 18 tahun, status gadis dan belum menikah, betul”, tanya penghulu.
Naz pun mengangguk, “ Iya”, jawabnya singkat dengan malu- malu.
“Apakah saudari menikah dengan paksaan ?”
“Tidak”.
“Nama mempelai laki- laki, Al Arifin Naufal Akbarsyah, usia 27 tahun, status belum menikah, betul?”, tanya penghulu lagi.
Arfin pun mengangguk, “Iy iya”, jawabnya dengan gugup.
“Apakah anada menikah kaena paksaan?”.
“Tidak”.
“Nama Wali nikahnya Razan Syarief Harfi, dan saksi mempelai wanita bernama Andi Khairul Shaleh, saksi pihak laki- laki bernama Burhan Rahmatilah”, ucapnya lagi untuk mencocokan dengan data yang tertera.
“Iya,, betul Pak”, jawab Pak Syarief.
“Baiklah kalau begitu, sebaiknya kita latihan dulu sebentar sebelum melakukan akad yang sebenarnya supaya nanti tidak ada kesalahan, karena jika melakukan kesalahan sebanyak 3x maka akad nikah tidak bisa di lakukan hari ini,,,".
"Jadi begini ya nanti wali nikah nya akan mengucapkan ijab dan pengantin laki- laki mengucap qabul dengan dibimbing oleh saya, setelah dari pihak wali mengatakan Tunai, saudara Al Arfin langsung menjawab saya terima nikahnya,,,bla bla bla ,, paham,, “, tanya nya dan kedua orang itu mengangguk, kemudian penghulu pun mengucapkan kalimat yang akan dikatakan wali dan juga Arfin, setelah itu beliau meminta keduanya mengucapkan ulang apa yang telah beliau katakan tadi.
“Ananda Al Arifin Naufal Akbarsyah, saya nikahkan Ananda dengan putri kandung saya yang bernama Rheanazwa Eleanoor Harfi binti Razan Syarief Harfi dengan maskawin 500 gram emas batang dan seperangkat alat shalat dibayar tunai”, ucap Pak Syarief.
“Tunai”, ucap Arfin dengan lantang, sontak itu mengundang tawa orang- orang yang ada di meja akad beserta ketiga sahabat Arfin yang berdiri di belakangnya, beruntung ucapannya tadi belum memakai mikrofon.
“Bukan Tunai Mas AL arifin,, tapi ,,saya terima nikahnya,,, seperti yang saya katakana tadi”, Penghulu pun meralat.
“Tenang Ar,,, jangan tegang begitu,, kita juga semua tahu kalau lo beli maskawin nya tunai gak di cicil”, bisik Dandy sambil terkekeh.
“Iya lo Ar,,, itu lo ngomong Tunai apa Tonight? Akad aja dulu kan udah Abang ajarin,, soal nanti malam jangan dibayangkan dulu”, Bisik Nervan sambil cekikikan, sedangkan Arfin yang nampak tegang dan berkeringat terus menghapus keringatnya dengan sapu tangan.
“Kalau begitu kita ulang lagi latihannya ya”, ucap penghulu.
“Ananda Al Arifin Naufal Akbarsyah, saya nikahkan Ananda dengan putri kandung saya yang bernama Rheanazwa Eleanoor Harfi binti Razan Syarief Harfi dengan maskawin 500 gram emas batang dan seperangkat alat shalat dibayar tunai”, ucap Pak Syarief.
“Saya terima nikahnya Rheanazwa Eleanoor Harfi binti Razan Syarief Harfi dengan maskawin seperangkat emas dan alat shalat 500 gram tunai”, ucapan Arfin kembali mengundang tawa.
“Kebalik Mas Al Arifin,, seharusnya 500 gram emas dan seperangkat alat shalat,, “, penghulu kembali meralat.
Bu Hinda mendekati putranya, “Tenangkan dirimu Al,,, Tarik nafas panjang,,”, ucap beliau berusaha menenangkan, kemudian menoleh pada Nervan, “Abang,,, tolong ambilkan minum,,, kasihan ini adikmu saking tegangnya sampai gemetaran gini”. Titahnya.
“Gak usah Mi,,, aku sudah mulai tenang kok”, ucap Arfin dan kemudian penghulu pun kembali meminta mereka mengulangi ucapan ijab qabul nya, dan Arfin pun bisa mengucapkannya dengan benar.
“Baiklah,, karena sudah latihan, mari kita mulai prosesi akad nikah dengan ucapan basmalah bersama- sama, bismillahirahmanirrahim,,”, ucap beliau yang dibarengi yang lainnya, kemudian di lanjutkan dengan khotbah nikah oleh penghulu tersebut.
Saat pelaksanaan khotbah nikah, Naz terus meneteskan air mata dan terus diseka pula dengan tisu yang sejak tadi dipegangnya, rasa haru dan degdegan bercampur menjadi satu, ketiga ibu pengantin yang menyaksikannya pun sama halnya, mereka meneteskan air mata karena terharu.
Setelah selesai, penghulu pun melanjutkan ke acara selanjutnya yaitu pengucapan ijab dan qabul, “Silahkan wali nikah bersama mempelai pria tangannya bersalaman untuk mengikrarkan ijab dan qabul”, ucap belau, kemudian Pak Syarif megulurkan tangannya di atas meja, dan Arfin pun melakukan hal yang sama dengan tangan yang bergetar, tangan mereka pun bersalaman.”Ingat ya Mas Al Arfin, setelah wali nikah mengataan tunai, Maz Al harus segera mengatakan saya terima nikahnya, tidak boleh ada jeda,, jika mampu ikrar qabul bisa dilakukan dengan satu tarikan nafas”, setelah diangguki oleh keduanya, penghulu pun mendekatkan mikrofon ke mulutnya wali, sedangkan mikropon untuk Arfin dipegang oleh Nervan.
“Yang tenang ya Arfin,, Tarik nafas panjang dulu”, Bu Hinda kembali menenangkan putranya.
“Ananda Al Arifin Naufal Akbarsyah, saya nikahkan Ananda dengan putri kandung saya yang bernama Rheanazwa Eleanoor Harfi binti Razan Syarief Harfi dengan maskawin 500 gram emas batang dan seperangkat alat shalat dibayar tunai”.
“Saya terima nikahnya Rheanazwa Eleanoor Harfi binti Razan Syarief Harfi dengan maskawin 500 gram emas batang dan seperangkat alat shalat dibayar tunai”, Arfin menucapkannya dengan satu tarikan nafas secepat kilat, kemudian ia langsung menghela nafas panjang.
“Bagaimana saksi, sah?”, yanya penghulu.
“Sah”, jawab kedua saksi.
“SAH…..”, ucap penghulu pada mikropon dengan suara menggelegar dan didengar oleh semua orang yang hadir.
__ADS_1
“Alhamdululah,,,,”, semua orang mengucap syukur.
Arfin langsung berdiri, “Yesss”, ucapnya sambil mengangkat lalu menarik tangannya yang mengepal seolah ia baru meraih suatu kemenangan, sontak itu mengundang gelak tawa semua orang yang menghadiri acara akad nikah tersebut.
“Arfin,,, duduk,,, bikin malu aja ih”, bisik Mami kesal.
Arfin yang baru menyadari kekonyolannya, kemudian duduk kembali sambil nyengir karena malu, sedangkan Naz terus menundukan kepalanya, entah menyembunyikan tawanya, entah itu karena merasa malu.
“Yassalam,, apa yang dia katakan semalam emang benar,,,, dia benar- benar gila, manaudah terlanjur jadi suami”, gumam Naz dalam hati.
“Astaga,, seorang Arfin bisa gesrek juga kelakuannya”, Hardi menggelengkan kepalanya.
“Mohon hadirin di harap tenang,, karena akan dilanjutkan dengan doa nikah”, ucap penghulu kemudian salah seorang ustad membacakan doa nikah dan setelah selesai di aminkan oleh semua orang.
Acara pun dilanjutkan dengan penandatanganan dokmen oleh pasangan pengantin, wali, dan dua orang saksi, serta penandatanganan surat nikah yang kemudian diserahkan kepada kedua mempelai. Setelah itu acara diserahkan kembali kepada MC, kedua mempelai pengantin diminta berdiri, kemudian pengantin laki- laki menyerahkan mas kawin kepada pengantin wanita, dilanjutkan dengan tukar cincin, dan semua itu terus diabadikan oleh fotografer.
“Cium tangan suaminya”, ucap sang fotografer saat Arfin sudah menyematkan cincin pada jari manis tangan Naz, setelah mencium tangan Arfin kemudian Naz menyematkan cincin pada jari manis tangan Arfin, ”cium istrinya Mas”, ucapnya lagi.
“Cium apanya?”, Arfin bertanya seperti orang polos entah bego.
“Cium keningnya saja Mas,, kalau cium yang lain itu nanti malam saja”, ucapan sang fotografer mampu mengundang tawa semua orang yang mendengarnya, kemudian Arfin menempelkan bibirnya ke mahkota siger sunda karena siger tersebut menutupi kening Naz.”Tahan sebntar Mas”, ucapnya lagi lalu mengambil beberapa gambar, “Iya,, bagus,, sekarang perlihatkan cincin ditangannya”, jepret jepret,,”satu lagi tolong tunjukan buku nikahnya dan dipegang oleh masing- masing”.
Setelah prosesi akad nikah selesai, pasangan pengantin diperkenankan turun dari altar tempat akad nikah dan berdiri membelakangi para tamu di damping bridesmaid dan pemegang payung di belakangnya lalu dilanjutkan acara saweran tentunya dengan berbagai kupon dorprize yang disertai nyayian kawih sunda dari seorang sinden,,, wurr,,, wurr,,,. Seusai itu dilangsungkan acara pelepasan balon ke udara secara bersama- sama.
Selanjutnya MC mengintruksikan pengantin untuk memasuki gedung dan duduk di pelaminan di dalam sana, namun hanya pengantin pria yang pergi bersama para orang tua kedua belah pihak dan diiringi bridesmaid sampai ke teras gedung tersebut dan membuat semua orang bertanya- tanya termasuk pasangan pengantinnya.
“Kok gini sih? Kan kami sudah sah menjadi suami istri,, kenapa masuk ke gedungnya terpisah?”, tanya Arfin.
“Sudah ikuti saja instruksi MC,, ini permintaan Ayah,, kalian hanya terpisah sampai depan gedung saja,, nanti masuknya berdua kok”, Pak Rizal menjelaskan, dan Arfin pun menuruti beliau, kemudian ia pun berjalan dengan diiringi bridesmaid menuju depan gedung, lalu berhenti dan Arfin berbalik sedangkan para bridesmaid berjejer di pinggir. Naz yang sedang berdiri memandang ke arah suaminya yang tengah berdiri menunggunya, tiba- tiba digendong ala bridal style oleh ayahnya dan membuatnya terkejut. Beliau berjalan perlahan kemudian Naz mengalungkan tangannya pada leher beliau, padahal di usianya yang sudah tidak muda lagi pastilah ini merupakan hal berat bagi beliau.
“Jadi ini permintaan Ayah ?”, tanya nya berbisik.
“Iya,,, karena dengan tangan ini Ayah menerima mu dulu dari mendiang Mira,, dan dengan tangan ini lah Ayah akan menyerahkan mu pada suami mu”, jawab beliau.
“Aku sangat menyayangimu ayah”, ucap Naz sambil meneteskan air matanya.
“Jangan menangis, nanti makeup mu luntur”, ucap beliau melepaskan pelukan putrinya, dan Naz pun menghapus air matanya dengan tisu, kemudian Arfin melanjutkan menggendong Naz sampai masuk ke dalam gedung diiringi oleh para orang tua keduanya serta para bridesmaid, juga diikuti rombongan keluarga dari kedua belah pihak.
Saat sudah melewati pintu masuk gedung, MC pun menghentikan mereka, untuk ke acara selanjutnya yaitu upacara adat sunda ‘Mapag Panganten’ yang dipimpin oleh paman lengser bersama si Ambu dengan bicara Bahasa sunda dan gaya serta tingkah mereka yang lucu, disertai tarian dari empat penari jaipong bergantian dengan dua penari payung pengantin diiringi kawih sunda oleh sinden dengan musik repertoar gamelan degung.
Setelah itu pasangan pengantin digiring berjalan diatas red karpet sampai naik ke panggung pelaminan bersama orang tua kedua mempelai, setelah di atas panggung dilanjutkan acara sungkem kepada para orang tua dengan kalimat puitis yang di suarakan oleh kedua MC dan membuat pengantin serta orang tua kedua mempelai kembali menangis haru, Pak Rizal bersama Bunda pun ikut serta dalam acara tersebut, sehingga orang tuanya berjumlah 3 pasang.
Seusai sungkeman dilanjutkan dengan acara foto pengantin dan juga foto bersama keluarga dan sanak saudara, kemudian masuk ke acara ucapan selamat dari keluarga, sanak saudara dan para tamu undangan yang sudah mulai berdatangan dan mengantri untuk bersalaman dengan pengantin serta orang tua kedua mempelai, mereka pun diperkenankan untuk menikmati hidangan prasmanan beserta disert yang tersedia di stand- stand yang ada di acara pernikahan tersebut diiringi lagu- lagu romantis yang dilantunkan oleh wedding singer di atas panggung di sebelah panggung pelaminan.
Semakin siang antrian semakin panjang dengan tamu yang terus berdatangan, ada yang memberi kado yang di serahkan di meja penerima tamu adapun yang memberi amlpop yang dimasukan ke dalam kotak tong khusus dari duplex yang atap tengahnya sudah dilubagi untuk memasukan amplop ke dalamnya. (Amplop isinya duit ya pemirsah).
Saat Adzan dhuhur pengantin dibawa ke ruangan khusus untuk berganti pakaian, dan kali ini Naz memakai gaun modern dengan riasan mahkota di kepalanya, sedangkan Arfin menggunakan stelan jas dengan dasi kupu- kupu di lehernya. Arfin selesai lebih dulu, kemudian ia melaksanakan shalat dzuhur lalu makan sambil menunggu Naz selesai berganti pakaian, lalu Arfin menyuapi Naz makan, setelah itu mereka berdua kembali naik ke pelaminan dan di sana antrian tamu sudah banyak lagi.
Bisanya Naz atau pun Arfin akan ikut bernyanyi jika ada acara pesta di keluarganya, namun kali ini mereka seolah tidak punya kesempatan, karena banyaknya tamu dan jika senggang pun dipakai untuk pengambilan gambar oleh sang fotografer, dan begitulah setelah pengantin kembali berganti pakaian pun tamu masih saja berdatangan. Berbeda dengan keluarganya yang tampak menikmati pesta dan ikut menyumbangkan lagu, bahkan jika ada anggota yang menyanyi, maka para tetua akan memberinya saweran.
Pesta pernikahan yang digelar berakhir pukul empat sore, semua orang kembali ke hotel begitu juga pengantin baru yang telah diberikan kartu akses untuk masuk ke kamar pengantin di hotel tersebut.
“Nih,,, buat kamar pengantin,,, spesial udah dirias sedemikian rupa”, Hardi memberikan kartu akses tersebut, “Dan ini kunci mobil dari Nervan”, ucapnya lagi sambil memberikan kunci.
“Terimakasih kakak ipar yang baik hati,,, gak sekalian di sopirin gitu,,, “.
“Yaelah,,, lo nyetir ke hotel sebelah aja gak bakalan sampai nguras tenaga apalagi ngabisin tenaga lo,, adik ipar sayang”, ucapnya dengan nada julid, kemudian Arfin pun beranjak pergi bersama Naz yang sudah terlihat sangat lelah. “Heh,, tunggu dulu…”, seru Hardi yang menghentikan langkahnya keduanya.
“Apalagi sih?”, tanya Arfin kesal.
“Salim dulu dong sama kakak ipar”, Hardi menyodorkan tangannya.
“Najiss lo,,, “, ucap Arfin ketus, “Ayok sayang,, kita pergi”, kemudian mereka beranjak pergi meninggalkan Hardi dan menuju parkiran di luar.
Pak Rizal datang menghampiri, “Hardi,, apa kamu melihat Arsen?”.
“Arsen?? Enggak,,, emangnya kenapa, Om?”.
“Sejak pagi Om tidak melihat keberadaannya,, saat Om mengetuk pintu kamarnya pun gak dibuka, tapi telponnya aktif”.
__ADS_1
“Mungkin dia masih tidur Om”.
“Masa sih,, dia biasanya bangun subuh kok”.
Hardi mengedarkan pandangan kesana- kemari lalu bicara dengan pelan, ”Sebenarnya aku melihat Arsen semalam mabuk berat Om,, dan aku menemukan dia di depan pintu kamar Naz sambil merancau gak jelas, untung dia tidak mengganggu Naz dan membangunkan semua orang,, dan aku langsung membawanya ke kamar ku”.
“Astagfirullah ,, anak itu,,,”.
“Mungkin ia masih belum bisa melupakan Naz secepat itu Om,,, makanya dia masih belum rela melihat Naz menikah”.
**
Pasangan pengantin baru sampai di parkiran hotel di lantai bawah, keduanya turun dari mobil.
“Aduh,,,, “, Naz mengaduh saat melangkah setelah keluar dari mobil.
“Kenapa sayang?”, Arfin langsung menghampiri.
“Kaki aku pegal banget,,, seharian berdiri mana pakai high hells lagi”, keluhnya sambil meringis, kemudian Arfin langsung menggendongnya ala bridal style lagi sampai mereka sampi di depan pintu kamar yang sesuai dengan kartu akses yang ada pada mereka. Naz menempelkan kartunya, lalu pintu pun terbuka, mereka masuk dengan Arfin yang masih menggendong Naz. Ia berjalan perlahan dengan menyeret salah satu kakinya yang ternyata lantainya dipenuhi taburan bunga mawar merah, begitu pun dengan tempat tidurnya. Kamar itu benar- benar didekorasi penuh dengan bunga.
“Sayang,,, udah turunin aku,,, Aa juga pasti capek kan”,pinta Naz, dan Arfin pun menurunkan Naz tepat di sebelah ranjang.
“Tadinya Aa mau membaringkan kamu di ranjang pengantin kita ini sayang”, ucap Arfin yang kemudian memeluk Naz, “terimakasih sayang, sudah bersedia menjadi istriku dan menjalani hidup bersama ku”, ucapnya lalu melepaskan pelukannya perlahan.
Naz malah menundukan kepalanya dan terlihat malu- malu, Afin kemudian mengecup kening Naz, lalu tangannnya menyentuh dagu Naz dan mengangkat nya hingga mereka berdua beradu pandang. Arfin membelai wajah gadis yang sudah menjadi istri sah nya tersebut dengan lembut dan tatapan penuh cinta. Diusap nya bibir Naz yang mengenakan lipstik nude dengan jemarinya, ia merengkuhkan kepala dengan sedikit memiringaknnya semakin mendekat, keduanya saling memejamkan mata, kemudian ia mengecup bibir Naz.
Sebuah kecupan saja membuat keduanya merasakan gelenyar aneh dalam diri mereka, tak hanya kecupan, ia pun mulai mencium bibir Naz yang baginya terasa manis dengan penuh kelembutan meski seperti ada keraguan saat Naz membalas ciumannya. Satu tangan Arfin merengkuh pinggang Naz sehingga merapat ke tubuhnya, sedangkan satu tangannya lagi menangkup leher Naz, memiringkan wajahnya dan memperdalam ciuman mereka. Gelenyar panas menjalari sekujur tubuh keduanya.
Naz yang mulai menikmati tidak tahu harus berbuat apa, karena ciuman suaminya membuat kepalanya terasa pusing setelah menahan nafas selama itu, lalu dia mendorong dada Arfin dengan dua kepalan tangannya. Pagutan bibir mereka terlepas dan Arfin pun menjauh, mata mereka yang tertutup perlahan terbuka, Arfin menatap sayu wajah Naz yang memerah. Nafas mereka sama- sama menderu tajam, berlomba- lomba menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Tatapan Arfin turun pada bibir merekah Naz yang memerah akibat ciumannya, kemudian mendekat lagi pada tubuh Naz, “Sayang,,,”, bisiknya dengan nada mendesah.
Naz membuka matanya lebar- lebar karena Arfin sudah mendekatkan wajahnya lagi hendak mengulangi adegan tadi, lalu Naz mencoboba melangkah untuk menjauh darinya, namun Arfin dengan segera menarik tangannya hingga jatuh ke pelukannya, “Mau kemana sayang,,, kita baru mulai pemanasan”.
Naz melepaskan diri dari pelukan suaminya, “A a a aku,, aku gerah,,, badan ku rasanya sudah lengket”.
“Gerah,,,?? Kamu sudah tidak sabar ingin membuka baju mu, sayang”.
“Yasalam,,,, masa ini teh mau sekarang,, aduhhh jangan atuh,,, nanti saja lah aku belum siap Aa”, jerit Naz dalam hati.
Arfin kembali mendekatkan wajahnya pada Naz untuk kembali menciumnya, namun saat bibirnya hendak mengenai bibir Naz, terdengar suara deringan ponsel yang mampu membuyarkan gejolak gairah yang sudah mulai membara.
“Shittt,,,, siapa sih yang mengganggu”, gerutu Arfin dengan kesal, lalu ia mengambil ponsel dari saku celananya dan mengangkat telpon yang ternyata dari Abang nya.
Naz bisa bernafas lega, namun tangannya terus dipegang oleh Arfin seolah ia tak boleh beranjak sedikit pun sampai Arfin selesai bicara di telpon.
“Maaf sayang Aa ke bawah dulu sebentar,,, “, ucapnya lalu mencium pipi Naz kemudian ia beranjak pergi.
“Hufh,, selamet,,, selamet,,, yasalam,,, jantungku rasanya mau copot,, gini ternyata ya rasanya ciuman,, tapi enak sih,, hihihi”, Naz bicara sendiri lalu cekikikan sambil memegang bibirnya.
Naz mengedarkan pandangannya, dan ternyata ada dua koper di dekat lemari pakaian, dan salah satu adalah miliknya. Naz membuka koper dan mengambil handuk kimono serta toner pembersih make up beserta kapasnya. Naz berjalan ke depan meja laci yang di atasnya di temple cermin di dinding, ia pun membuka tutup botol toner lalu membasahi kapas dan digunakan untuk membersihkan wajahnya.
Setelah seluruh wajah dan kelopak matanya selesai dibersihkan dari make up, tonernya habis, dan saat Naz melihat sesuatu diatas meja tersebut berbentuk kotak berwarna hitam dan diberi pita,
“Hah,, apa ini?”, kemudian Naz membuka pita dan membuka kemasannya,
“Oh,, ini tisu basah toh,, kebetulan banget,,, bisa menghapus lipstick mate yang menempel di bibir ku ini,, tapi kok beda dari biasanya?”, Naz membuka plastik kemasan di dalamnya lalu menggunakan tisu basah itu untuk membersihkan lipstick dari bibirnya, karena agak sudah hilang, Naz terus mengelapkan tisu itu pada bibirnya hingga lipstiknya benar- benar hilang. Setelah itu Naz membuka gaun nya lalu ke kamar mandi dan mandi dengan air hangat.
Saat ia keluar, suaminya langsung menghampirinya, “Kok mandinya gak nungguin Aa dulu sih? Kan kita bisa mandi bareng, sayang”, ucapnya dengan suara menggoda.
“A,,,, enghh,, A”, tiba- tiba Naz tidak bisa membuka mulutnya untuk berbicara.
“Sayang kamu kenapa? Jangan becanda,,gak lucu”. Ucapnya, lalu Naz memegang bibirnya yang terasa kebas sambil menggelengkan kepalanya, kemudian Naz melihat ponsel di tangan Arfin lalu merebutnya, dan mengetik di kolom pesan.
“Bibir aku kebas, mengeras seakan jontor dan aku gak bisa ngomong”
“Hah,,, masa sih,,, kamu abis ngapain,, ? masa iya abis ciuman jadi gitu?”, tanya Arfin heran setelah membaca Naz menggelengkan kepalanya.
“Tadi aku menghapus lipstick pakai tisu yang ada di meja”
Arfin lalu melihat tisu tersebut, yang bertuliskan Magic Power Tissue, “Astagfirullah,,, ini bukan tisu basah biasa, sayang,,, “, ucap Arfin terkejut.
-------------- TBC ----------------
__ADS_1
*************************