
Sepulang dari klinik, Cahaya terlihat begitu gembira setelah mengetahui jika adik bayinya ternyata ada dua alias kembar. Sepanjang perjalanan di dalam mobil ia terus menyanyikan lagu- lagu dari serial upin- ipin yang hampir setiap hari selalu di tonton nya. Karena serial animasi si kembar dari Malaysia itu jam tayangnya sudah seperti minum obat, tiga kali sehari yakni pagi, siang dan sore.
“Sayang, Akha senang banget kayaknya mau punya adik kembar,” ucap Arfin pada sang istri yang duduk di jok sebelahnya nampak tengah melamun. Ia melirik, karena tak mendapat sahutan dari Naz. Arfin lalu memegang tangan istrinya. “Sayang, kamu lagi mikirin apa, hem?” tanyanya yang mampu membuyarkan lamunan Naz.
“Iy, iya kenapa?” tanya Naz gelagapan.
“Kamu lagi mikirin apa, sayang?” Arfin kembali mengulang pertanyaannya.
“Eng… enggak kok, aku cuman ngantuk aja,” ucap Naz seolah menyembunyikan sesuatu dari suaminya.
“Udah nyampe nih, setelah masuk kamu bisa langsung istrahat,” ucapnya lalu membunyikan klakson mobilnya, dan tak lama Uje pun membukakan pintu gerbang. Arfin pun memasukan mobilnya.
Arfin bersama istri dan anaknya turun dari mobil. Cahaya langsung berlarian masuk ke dalam rumah, karena sudah tidak sabat ingin menyebarkan kabar gembira yang baru didapatkannya.
Sementara Arfin mengantar istrinya masuk ke kamar, melewati Cahaya yang sedang bercerita pada kedua ART nya dengan antusias.
Naz duduk di atas tempat tidur masih dengan raut wajah bingung, nampak memikirkan sesuatu. Arfin pun duduk di sebelahnya, diusapnya kepala sang istri dengan lembut.
“Sayang, Aa perhatikan sepanjang perjalanan tadi kamu kok melamun terus? Lagi mikirin apa, hem?” Arfin kembali menanyakan hal yang sama.
Naz menghela nafas sejenak, lalu menunduk dan melihat ke arah perut yang kemudian diusapnya.
“Apa aku sanggup melahirkan dua bayi sekaligus?” tanyanya dengan perasaan cemas.
“Sayang … tadi kan dokter sudah menjelaskan, saat melahirkan anak kembar biasanya ada jeda waktu 20 sampai 30 menit dari bayi yang pertama dilahirkan ke bayi yang kedua, jika persaninan normal. Dan lagi, tadi juga kita diberi dua pilihan antara melalui proses persalinan normal atau SC. Tergantung kamu nya, mau pilih yang mana, dan yang penting kamu harus menyiapkan mental dan kondisi fisik yang fit,” ucapnya kembali mengingatkan akan perkataan dokter seusai pemeriksaan tadi.
“Kalau nanti terjadi sesuatu sama aku, Aa jaga baik- baik anak- anak kita ya, hiks hiks … Sayangi mereka dan ___” belum selesai Naz bicara, Arfin langsung menempelkan jari telunjuk pada bibir Naz yang sedang terisak.
“Ssssstttt … kamu jangan bicara seperti itu sayang. Kamu tuh bikin Aa takut tahu gak.” Arfin menghapus air mata Naz lalu memeluknya.
"Sayang, kamu jangan berpikir macam- macam. Dokter bilang kamu gak boleh stress, kalau kamu takut untuk persalinan normal, kita bisa pilih SC, kan.”
“Enggak … aku gak mau dioperasi, aku mau lahiran normal, hiks hiks,” ucapnya dengan air mata yang terus menetes.
“Kalau begitu, kamu harus yakin kalau kamu bisa. Aa akan selalu mendukung dan mendoakan keselamatan kalian bertiga. Kita akan sama- sama berjuang, sayang … Udah ya, jangan nangis lagi. Kamu kuat sayang, kamu pasti bisa,” ucapnya memberi semangat lalu mengecup pucuk kepala sang istri.
Naz menghela nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan perasaan dan pikirannya yang kacau balau. Ia menanamkan keyakinan pada dirinya, untuk menguatkannya dalam menghadapi persalinan kelak.
“Aku pasti bisa, aku pasti bisa … kita akan berjuang bersama, anak- anakku ....” gumamnya dalam hati sambil mengusap- usap perut buncitnya. Ia pun berhenti menangis.
Arfin perlahan melepaskan pelukannya dari sang istri yang sudah berhenti menangis dan terlihat kembali tenang. “Kamu yang tenang ya, kita banyakin berdoa. Aa akan selalu ada disamping mu, mendukung mu, juga menjagamu dan anak- anak kita. Jangan mikir yang aneh- aneh lagi, ya. Yakinlah kalau kamu dan bayi kembar kita akan baik- baik saja, sehat terus dan diberi keselamatan saat melahirkan nanti”, ucapnya kemudian mencium kening istrinya.
“Amiin …. Terimakasih, A ….” ucap Naz menggenggam tangan suaminya sambil tersenyum.
“Nah, gitu dong, senyum … kan tambah cantik.” Arfin pun ikut tersenyum.
“Gombal ….” cicit Naz lalu melepaskan genggaman tangannya.
“Geuleuh ya di gombalin? Hehehe … Kamu emang cantik, sayangku. Bidadari paling cantik yang hanya dimiliki oleh Aa seorang.” Arfin malah sengaja terus menggombali istrinya.
“Aa apaan sih.” Naz mencubit perut suaminya.
“Aww … kamu tuh ya, hobi banget nyubit Aa, ih.”
“Biarin, abisnya Aa nyebelin gombal mulu kek si deni cagur.”
“Bedalah, gantengan Aa kemana- mana kali.”
“Dih, malah narsis ….” Naz mengejek suaminya.
“Emang kenyataanya gitu sayang … Hhahaha … oh iya, sayang … Nanti Aa akan minta Dilara mencarikan pengasuh dari yayasan untuk si kembar ya, supaya kamu gak kewalahan ngurusin tiga anak sekaligus.”
“Iya, Aa atur saja.” Nampaknya sekarang Naz membutuhkan jasa pengasuh.
“Emm, minggu lalu saat Aa ke Jakarta, Papi meminta agar Aa kembali ke Jakarta untuk mengurus perusahaan di sana. Katanya abang keteteran ngurusin sendiri, sedangkan Papi sudah ingin pensiun, karena sering merasa kelelahan. Aa belum memberi jawaban karena ingin membicarakannya dulu sama kamu, dan semalam Papi menanyakan tentang keputusan Aa … Gimana menurut kamu?” Arfin meminta pendapat sang istri.
“Kalau aku sih terserah Aa aja, aku dan anak- anak akan ikut bersama Aa dimana pun Aa tinggal. Walau sebenarnya aku sudah betah sih di sini, tapi di sana kan bisa lebih dekat dengan keluarga kita. Cahaya juga pasti akan merasa senang dekat dengan para kakek- nenek dan sepupu- sepupnya.” Naz nampaknya setuju jika mereka kembali ke Jakarta.
“Baiklah, kalau begitu nanti Aa bicarakan lagi dengan Papi.”
“Terus perusahaan di sini gimana?” tanya Naz.
“Mungkin akan kembali ke awal sebelum Aa mengambil alih perusahaan cabang disini. Aa akan memberikan tanggung jawab pada om Aji dengan bantuan Lutfi, katanya dia mau nikah sama orang sini, jadi gak mau pindah ke Jakarta. Dan Aa akan tetap memantau kinerja mereka dari kantor pusat. Mungkin sebulan sekali atau dua kali Aa tengokin ke sini.”
“Lalu, kapan kita akan pindah? Jangan mendadak ya ngasih tahunya, kita kan butuh persiapan segala macamnya. Belum lagi KTP sama KK kita kan udah orang sini,” ucap Naz memberi saran.
“Aa juga masih mikir- mikir, kayaknya gak dalam waktu dekat ini deh. Setelah kamu melahirkan dan wisuda saja kayanya, jadi kita gak perlu bolak- balik sini, kasihan kan anak- anak kalo digiring kesana- kemari. Masalah surat pindah mah gampang, nanti Lutfi yang urus.”
“Terserah gimana baiknya Aa aja dan nanti aku akan menjelaskan perlahan pada Cahaya, supaya dia gak kaget kalau mendadak dikasih tau akan pindah.”
“Iya, sayang … terimakasih ya, kamu memang sangat pengertian,” ucapnya mengusap kepala sang istri.
“Oh iya, kalau di Jakarta kita mau tinggal dimana? Kan belum punya rumah? Apa tinggal di rumah Mami?” Naz baru ingat kalau mereka hanya memiliki rumah di Surabaya saja, dan setiap mudik mereka akan menginap secara bergilir di rumah ketiga orang tuanya.
“Aa juga sudah memikirkan hal itu. Setelah Papi mengutarakan keinginannya, Aa pergi ke suatu tempat dan tiba-tiba terpikir mencari lahan untuk dibangun rumah. Terus cari- cari info deh, dan kamu tinggal bilang aja pengen rumah seperti apa, nanti Aa buatkan desainnya. Jadi bisa bangun rumah dulu di sana sambil menunggu kepindahan kita, gimana? Apa kamu setuju, sayang?” Ternyata Arfin sudah berpikir ke arah sana.
“Emang, gak bisa beli rumah jadi aja gitu? Kan di Jakarta banyak perumahan” Nampaknya Naz tak mau ribet.
“Enggak, Aa pengen bikin rumah yang sesuai dengan keinginan mu seperti rumah ini yang dulu Aa bangun dari gambar mu yang aneh itu,” ucapnya menolak membeli perumahan.
“Hahaha, aneh kok bisa sesuai keinginan aku gini?” Naz malah tertawa.
“Kan Mami yang menjelaskan detail rumah impian seseorang dari gambar yang hanya tampak depannya saja,” Arfin masih ingat sejarahnya ia membangun rumah saat dulu putus dengan Naz.
“Ya ya ya baiklah. Aku akan menggambar lebih aneh lagi, yang hanya tampak gentengnya saja kalau gitu, hahaha.” Naz malah berniat menguji keahlian suaminya.
“Boleh saja, asal deskripsinya jelas.” Arfin menerima tantangan sang istri.
“Hahahaha … kamu memang selalu mempermudah ya.” Naz memuji suaminya.
“Tentu saja, hidup itu jangan dibikin sulit, belibet, dan rumit lah.”
"Terus rumah ini?" tanya Naz.
"Rumah ini akan tetap disini, susah kalo dibawa pindah," jawabnya terkekeh.
"Maksudnya mau dijual apa gimana?"
__ADS_1
"Akan tetap jadi rumah kita, nanti sewaktu-waktu berkunjung kesini."
Ceklek …
Terdengar suara pintu terbuka yang membuat Naz dan Arfin melihat ke arah pintu.
“Pagu … Magu ….” seru Cahaya yang kemudian berlari menghampiri kedua orang tuanya.
“Ada apa Akha?” tanya Arfin.
“Tadi kan Akha udah kasih tau mak Eno, mak Jumjum, sama pak Uje kalau Akha mau punya dede bayi dua kembar. Terus mau dikasih nama upin- ipin, tapi … dedek bayinya laki- laki apa perempuan sih?” Cahaya baru mempertanyakan jenis kelaminnya sekarang.
Arfin dan Naz terkekeh mendengar ucapan putrinya yang selalu banyak tanya dan cerewetnya minta ampun itu.
“Magu sama Pagu juga belum tahu jenis kelamin dedek bayi yang masih di dalam perut Magu ini,” ucapnya sambil mengusap perut buncitnya.
“Jadi, Akha gak bisa kasih nama upin- ipin sama dedek bayi nya, nanti Pagu sama Magu mencari beberapa nama ya, untuk dedek bayi nya. Dua nama untuk kembar laki- laki, dua nama untuk kembar perempuan, dan dua nama untuk kembar laki- laki dan perempuan,” ucapnya panjang lebar.
“Kenapa kita gak tahu dedek nya laki- laki atau perempuan? Kan kita suka lihat di tempatnya bu dokter.” Cahaya ternyata memang jeli orangnya.
Naz dan Arfin saling beradu pandang. “Iya, tapi kan kita belum bisa lihat jenis kelaminnya. Jadi tahu nya pas dedek bayi lahir nanti.” Arfin turut memberi penjelasan.
“Lahir itu apa? Lebaran ya? yang suka maaf maaf- an itu,” tanya Cahaya bingung, karena kata lahir sering ia dengar dari orang- orang yang bersalaman saat perayaan hari lebaran ‘mohon maaf lahir dan batin’.
Naz dan Arfin kembali tertawa. “Saat dedek bayi keluar dari perut Magu, itu namanya lahir dan proses keluarnya dinamakan melahirkan. Jadi nanti tahu dedek nya laki- laki atau perempuan setelah Magu melahirkan dedek bayinya,” ucap Naz menjelaskan.
“Terus kapan dedek nya lahir?” tanya Cahaya tak sabaran.
“Nanti sekitar tiga bulan lagi,” jawab Naz tersenyum.
“Oh iya iya, satu dua tiga … segini kan?” ucapnya sambil menghitung dengan jari tangannya lalu menunjukkan 3 jari pada kedua orang tuannya. Mereka pun mengangguk lalu tersenyum melihat putrinya yang sudah mulai benar dalam menyebutkan angka sesuai dengan jumlah jari yang ditunjukannya.
“Hore … hore … dedek bayi kembar sebentar lagi akan lahir, hore ….” teriaknya sambil jingkrak- jingkrak.
Cahaya terlihat sangat gembira dan kedua orang tuanya pun melihatnya sangat senang.
**
Saat hari senin tiba, Cahaya kembali bersekolah dan kini ia melarang Magu nya untuk mengantarkannya. Ia menyuruh Magunya beristirahat dan menjaga dedek bayi kembar yang masih di dalam perut Naz, sementara ia diantarkan oleh Pak Uje dan Mbak Retno.
Setelah Cahaya berpamitan dan menyalami Magunya, ia langsung beranjak pergi keluar rumah. Saat ia baru keluar dari pintu, ia melihat sesuatu di atas teras, kemudian terlintas ide jahil di kepala nya. Ia mengambil kotak pensil dan mengeluarkan isiannya, lalu menyimpan sesuatu yang baru ia temukan ke dalam kotak pensil tersebut.
“Non, lagi apa?” tanya Mbak Retno yang baru keluar.
“Ada deh, rahasia.” Ucapnya tersenyum jahil.
“Yasudah, ayok kira berangkat,” ajaknya kemudian mereka pun menaiki mobil dan langsung berangkat ke sekolah.
Setibanya di sekolah, Cahaya langsung menemui kedua sahabatnya.
“Hai teman- teman, Chaya mau punya dedek bayi kembar loh,” ucapnya memberitakan dengan antusias.
“Kembar itu apa?” taya Aqila.
“Kembar itu dedek bayi yang di perut Magu ada dua,” ucap Cahaya dengan mengangkat dua jari nya.
“Emm … boleh, tapi jangan dibawa pulang ya.” Cahaya beranggapan kalau bayi itu seperti mainan bisa dipinjamkan.
“Aku setiap hari suka berdoa supaya bisa punya dedek bayi, tapi kok belum ada juga?” ucap Sam curhat.
“Magu bilang yang berdoa sama Allah itu ngantri, jadi yang dikabulkan satu- satu. Kamu jangan menyerah dan harus sabar ya, Samprot,” ucap Cahaya.
“Gak mau ah, Aku malah dimarahin sama papa- mama."
“Kok berdoa jadi dimarahin, sih?” tanya Aqila.
“Soalnya aku berdoanya sambil teriak- teriak supaya cepat dikabulkan."
“Hahaha, pantas saja kamu dimarahi papa sama mama kamu, disangkanya kamu orang gila yang teriak- teriak di tengah jalan kemarin, hahaha.” Aqila malah mengejek dan menertawakan Sam.
Tiba- tiba Keisya yang baru datang menghampiri mereka, dan ketiganya menatap tidak suka pada Keisya. Dia malah menjulurkan lidah tanda mengejek.
Cahaya mengambil kotak pensil dari dalam tasnya, lalu membukanya dan melempar sesuatu yang diambilnya tadi di teras rumahnya.
“Aaaaakk … Mama … tolong ada kecoa!!!” Keisya berteriak sambil lari di tempat karena kecoanya terus merayap di tubuhnya kesana kemari sampai ke rambutnya.
“Hahahhahaha ….” Cahaya bersama kedua temannya menertawakan Keisya yang berteriak ketakutan sampai menangis.
Tak lama guru datang dan melihat ada kekacauan di kelas, beliau langsung membantu Keisya menyingkirkan kecoa yang ada di tubuhnya. Sang guru menyuruh Cahaya dan kedua temannya meminta maaf, kemudian memberi hukuman kepada mereka.
Semenjak itu Keisya tidak pernah berani mengganggu Cahaya lagi, karena takut diberi kecoa lagi.
**
Arfin semakin hari semakin perhatian pada istrinya, namun tak seposeseif saat hamil Cahaya dulu. Ia ingin membuat Naz merasa nyaman dan enjoy agar tak merasa takut memikirkan proses persalinannya nanti.
Arfin sering pergi ke Jakarta dua minggu sekali, karena hanya pergi dua hari, ia tak pernah mengajak istri dan anaknya. Apalagi kandungan Naz yang sudah semakin besar dan Cahaya pun saat diajak ikut oleh Arfin selalu menolak, dengan alasan tak mau meninggalkan Magu nya sendirian.
**
Hari berganti hari, kini kandungan Naz tengah memasuki minggu ke 39. Ia sudah mempersiapkan diri, setiap pagi pergi berjalan- jalan mengelilingi komplek, mengikuti senam ibu hamil, dan juga mempersiapkan mentalnya karena tetap ingin melahirkan melalui proses persalinan normal.
“Magu, Akha pengen jadi cicak supaya bisa jalan- jalan di dinding tanpa jatuh,” ucapnya saat sedang bermain lalu memeluk dinding seolah ingin merangkak pada dinding itu.
“Gak bisa dong sayang, Akha kan manusia bukan hewan seperti cicak,” ucap Naz.
“Loh, kok Akha belum siap? Katanya mau ke supermarket bareng nena?” tanya Arfin.
“Emangnya Pagu mau ikut? Kok udah pakai baju bagus?” Cahaya malah balik bertanya.
“Tentu saja perginya sama Pagu, kan pak Uje nya tidak masuk kerja karena ibunya di kampung sedang sakit. Kalau nena pergi sendiri nanti nyasar."
“Nena gak pergi sendiri kok, kan sama Akha sama mak Eno juga. Jadi gak akan ada yang culik, kan nena bukan anak kecil- kecil. Kalau Pagu ikut, nanti yang jaga Magu siapa?” tanya Cahaya.
“Kan ada Oma sama Mbak Jumin di rumah," jawab Arfin.
__ADS_1
“Ayok kita ke kamar Akha, Magu bantu ganti baju,” ajak Naz lalu menuntun putrinya dan beranjak pergi ke kamar Cahaya.
Baru saja dua langkah, Cahaya tiba- tiba berhenti karena melihat sesuatu di bawah kaki Naz.
“Ih, Magu kok sudah besar pipis di celana sih? Magu bilang Akha kalau mau pipis harus ke kamar mandi,” ucap Cahaya seolah mengejek Naz.
Ia pun menghentikan langkahnya, dan benar saja di lantai tepat ia berdiri terdapat cairan yang mengalir dari kakinya. “Loh, kok ada air?” Naz merasa heran.
“Ya ampun, Naz … kayaknya kamu sudah pecah ketuban itu.” Bu Rahmi yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri Naz.
“Hah, pecah ketuban? Berarti mau melahirkan?” tanya Arfin yang merasa terkejut.
“Aduh, perutku mules ….” Naz mengaduh sambil mengusap perut buncitnya, namun sang suami bukannya menghampiri malah diam mematung, sepertinya dia syock.
Bu Rahmi menggandeng tangan Naz, “Arfin, kok kamu malah bengong sih? Ayok cepat kita bawa Naz ke rumah sakit!” seru Bu Rahmi.
“Iy iya Ma, ayok kita ke rumah sakit." Arfin mulai merasa tegang.
“Magu kenapa? Kok mau dibawa ke rumah sakit?” tanya Cahaya cemas.
“Magu mau nemuin bu dokter dulu ya sebentar … Akha dirumah saja ya sama mak Eno,” ucap Naz sambil menahan rasa sakitnya, karena ia tak mau membuat putrinya khawatir.
“Akha ikut ….” rengek Cahaya.
“Naz kenapa?” tanya Bu Hinda.
“Dia sudah pecah ketuban dan sudah mules juga, harus segera dibawa ke rumah sakit," ucap Bu Rahmi.
“Ya ampun … ayok cepat bawa ke rumah sakit, biar Cahaya Mami yang jagain,” ucap Bu Hinda, kemudian beliau melihat ke arah Cahaya yang memegang tangan Magu nya.
“Akha kan mau pergi ke supermarket sama nena, ini nena sudah siap. Ayok kita pergi, katanya pengen beli pensil warna sama buku gambar yang banyak,” bujuk beliau.
“Iya, Akha mau. Magu hati- hati ya, jagain dedek bayi kembar.” Untunglah Cahaya masih bisa dibujuk.
Arfin segera membawa Naz ke rumah sakit ditemani Bu Rahmi setelah kedua ART nya memasukan tas perlengkapan bayi dan Naz dalam dua tas yang sudah disiapkan sebelumnya. Dengan perasaan tegang dan tidak karuan, terpaksa Arfin menyetir sendiri, karena sang sopir tengah cuti.
Naz kini nampak tenang tidak seperti saat akan melahirkan Cahaya dulu yang berteriak- teriak. Ia terus menahan rasa sakit karena mules nya yang terus- terusan dengan menghela nafas panjang beberapa kali dituntun oleh Bu Rahmi.
Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit ibu dan anak, Naz langsung dibawa masuk ke UGD. Setelah diperiksa, Naz segera dibawa ke ruang bersalin karena sudah pembukaan delapan. Arfin dan Bu Rahmi terus menemani Naz dan menenangkannya yang nampak merasa takut, walau ini merupakan kedua kalinya ia melahirkan.
“Kamu bisa sayang, kamu pasti bisa … kamu harus kuat demi anak- anak kita,” ucap Arfin menyemangati sang istri yang sudah siap ngeden.
“Ayok Bu, dorong bayinya, kepalanya sudah kelihatan ….”
“Eunghhhh …. Hufh hufh hufh … eunghh ... eunghhh ....”
Oek .. oek … oek …
“Selamat bu, bayinya laki- laki,” ucap sang dokter, kemudian suster yang sudah membersihkan bayi dengan lap handuk lembut segera meletakan bayinya pada dada ibunya untuk melakukan prosedur IMD.
Senyum bahagia dan haru terpancar dari raut wajah Naz dan Arfin saat melihihat bayi mereka. Arfin menciumi istri dan bayinya secara bergantian, lalu mengazani sang anak disertai linangan air mata bahagia.
Persalinan kali ini sangatlah cepat dibandingkan melahirkan Cahaya dulu. Selain karena Naz sudah berpengalaman, juga adakalanya setiap persalinan yang dialami seorang ibu dalam beberapa kali persalinan suka berbeda- beda.
Setelah beberapa saat, bayinya kembali diambil oleh suster untuk dibersihkan keseluruhan, dipakaikan gelang bayi serta memakaikan pakaian dan membalut sang bayi dengan kain pernel. Dan setelah ditimbang beratnya 3kg panjang 51cm.
Naz pun kembali merasakan mules, dan ia berjuang lagi untuk melahirkan bayi yang satunya lagi.
Sama seperti yang pertama, ia hanya membutuhkan waktu 15 menit. Dan setelah bayinya lahir, dilakukan prosedur yang sama. Namun bayi yang sama- sama berjenis kelamin laki- laki itu beratnya 2,8kg dan panjang 50cm.
Setelah proses persalinan selesai, dokter memasangkan kb IUD pada Naz sesuai permintaannya saat checkup kandungan terakhir dan memilih kb yang akan digunakannya. Ia memutuskan untuk memilih IUD, agar tidak kelupaan lagi seperti saat minum pil kb sebelumnya.
Kini Naz sudah dibawa masuk ke dalam ruang perawatan di temani oleh Bu Rahmi.
“Selamat ya sayang, bayi kembar mu laki- laki dan dokter bilang keduanya sehat. Kamu benar- benar hebat, Nak.” Bu Rahmi mengucapkan selamat sambil mengusap- usp kepala putrinya, lalu mencium kening sang putri.
“Makasih, Ma ....” ucapnya tersenyum. “Aa kemana, Ma?” tanyanya yang tak melihat keberadaan sang suami.
“Arfin sedang mengantar kedua putra mu ke kamar bayi. Mama sudah menghubungi Hinda, dia sedang dalam perjalanan ke sini besama Cahaya dan Mbak Retno. Cahaya mendengar percakapan nena nya saat sedang telpona sama mama, dia langsung nangis minta dibawa kesini pengen ketemu dedek bayi katanya,”
“Hhehe, setiap hari dia terus menanyakan kapan dedek bayi lahir. Pastinya sekarang dia senang sekali,” ucap Naz.
“Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk si kembar? Sebaiknya sudah ada sebelum kakaknya memberi nama mereka upin- ipin."
Naz terkekeh mendengar perkataan mamanya. “Iya Ma … kita udah siapkan tiga pasang nama kok.”
Tak lama Bu Hinda, Cahaya dan Mbak Retno pun tiba di rumah sakit dan segera masuk ke ruang rawat inap Naz. Cahaya yang sangat bersemangat untuk bertemu dengan adik- adiknya, kini nampak sedih karena tak melihat keberadaan si kembar di ruangan tersebut.
Karena terus menangis, ia pun dibawa oleh Arfin ke ruang bayi untuk melihatnya dari balik dinding kaca ruangan tersebut. Barulah setelah dua jam kedua bayinya sudah bisa dibawa ke ruangan tempat Naz berada.
Arfin menggendong kedua bayinya, dan memperlihatkannya pada Cahaya.
“Akha juga mau gendong, sini mau gendong dedek bayi ….” ucapnya sambil jingkrak- jingkrak.
“Belum boleh sayang, Akha kan masih kecil jadi belum boleh gendong dedek bayi,” ucap Arfin.
“Aah, Pagu jahat … itu kan dedek bayinya Akha. Kan Akha yang minta sama Allah ….”
“Sini, Akha aja yang digendong sama nena,” Bu Hinda pun menggendong Cahaya agar ia bisa melihat jelas bayi yang sedang digendong oleh Arfin.
“Kok dedeknya bobo sih? kan Akha mau main sama dedek.” Cahaya mengeluh.
“Dedek bayinya masih kecil, jadi belum bisa main sama Akha, nanti kalau sudah beberapa bulan, baru bisa diajak main sama Akha.” Naz yang duduk di ranjang pasien memberi penjelasan.
“Tadi di mobil Nena bilang dedek bayinya laki- laki ya … jadi namanya Upin ipin kan, Pagu?” tanya Cahaya.
“Enggak sayang, Pagu sama Magu udah menyiapkan nama buat dedek bayi nya,” ucapnya yang kemudian kembali meletakan kedua bayinya pada ranjang bayi dengan bantuan Bu Rahmi.
“Namanya siapa?” tanya Cahaya.
“Yang ini, abangnya. Namanya Keanu Arnaz Akbarsyah,” ucapnya menunjuk bayi yang pertama dilahirkan Naz. “Nah yang ini adiknya, namanya Kenan Nazar Akbarsyah.” Arfin menujuk bayi yang satunya lagi.
“Jadi dedek bayinya abang dan adik? Bukan upin dan ipin?” tanya Cahaya.
__ADS_1
“Iya, jadi kalian Abang, Adik dan Akha. Biar semuanya dari A.” ucap Bu Hinda.