Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Tatkala Si Ujang Tunduk Pada Si Imut


__ADS_3

Malam pertama biasanya terjadi di malam setelah dua sejoli yang saling mencintai dipersatukan dalam akad pernikahan dan dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri. Berbeda hal nya dengan yang dialami oleh pasangan Naz dan Arfin, yang akhirnya bisa menjalankan malam pertama mereka hingga bisa membobol gawang pertahanan sang istri setelah hampir dua bulan menikah. Rasa bahagia yang membuncah tengah dirasakan keduanya, beban berat yang selama ini bersarang di pikiran Arfin yang merasa takut akan penyakit impoten nya yang tak kunjung sembuh pun kini lenyap lah sudah.


Arfin tak hentinya mengucap syukur di dalam hatinya, karena akhirnya ia bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami untuk memenuhi nafkah batin kepada istri yang sangat di cintai nya. Naz pun sama bahagianya melihat suaminya yang sudah sembuh setelah melewati banyak perjuangan yang ia lakukan sampai rela menahan rasa sakit saat dilakukan pengobatan alternatif sebelumnya, walaupun kini Naz lah yang merasakan rasa sakit setelah gawang nya berhasil dibobol oleh si ujang yang menjadi bukti kejantanan suaminya.


Arfin yang merasa tak tega melihat istrinya terus meringis sakit dan perih, ia mengipas- ngipas milik Naz yang tengah resmi jadi sarang surgawi si ujang nya itu dengan menggunakan kipas dari anyaman bambu yang biasanya digunakan untuk mengipas sate.


“Te Sate,,,,, “. Ucapnya ala- ala tukang sate Madura yang membuatnya tertawa geli, sedangkan sang empunya malah cemberut dan melupakan rasa malunya karena miliknya kini tengah jadi tontonan sang suami. “kau sangat menggemaskan sayangku jika cemberut seperti itu”, Arfin tak hentinya melempar senyuman pada istrinya, sedangkan orangnya hanya mencebikan bibirnya saja tanda masih kesal. Arfin masih anteng dengan kegiatan mengipas nya.


“Sayang….”, Arfin memanggil Naz dengan lemah lembut.


“Hem….”, sahut Naz.


“Kamu sudah menamai milikku dengan panggilan si Ujang,,, lalu Aa menamai milik mu apa ya?”, tanya nya yang terus mengipas.


“Terserah”.


“Kalau dilihat dari wujudnya bagaimana kalau namanya si imut,, walau sebenarnya lebih seperti rawa- rawa,, tapi bentuknya lucu dan imut”, Arfin bicara sambil memperhatikan benda yang sedang dikipasi nya.


“Hahaha,,, masa namanya si imut?”, Naz tertawa geli.


“Kok malah ketawa, si imut nya jadi kegelian tuh kaya mau ikut ketawa,,, hahaha”, Arfin pun ikut tertawa.


“Apaan sih,,, Aa aneh- aneh aja ngasih namanya”.


“Emangnya kamu pikir nama ujang itu gak aneh apa?”, Arfin malah membalikan omongan Naz.


“Enggak lah,,, “.


”Ngomong- ngomong any way busway,,, apakah ini masih lama ngipasin nya?”, Arfin nampak sudah merasa pegal entah hidungnya terganggu dengan aroma sesuatu. haha


“Iya,, soalnya masih perih sama panas,, emangnya kenapa?”, Naz malah keasyikan dikipasin.


“Sayang,, kalau terlalu lama,, Aa bisa gak tahan ini,, nanti si ujang meronta- ronta pengen masuk lagi untuk bertemu si imut yang terlihat menggemaskan itu”, Arfin tersenyum tanpa melepaskan pandangannya dari benda yang dinamainya si imut itu.


Naz lalu merapatkan pahanya, karena takut jika suaminya akan menerkamnya lagi, ia menggerakkan kakinya hendak bangun, namun rasa sakit seakan menghalangi geraknya. “Hsssss,,, Awww,,,”.


“Kenapa sayang? Kamu mau ngapain?”, Arfin menghentikan kegiatannya.


“Aku mau ke kamar mandi, rasanya gak enak gini itunya berasa lengket”, Naz yang tubuhnya hanya dibalut selimut merasa tidak nyaman.


“Yasudah sini Aa gendong ya”, Arfin bangkit dan berdiri.


“Gak mau,,, aku malu,,, aku gak pake baju”, Naz menolak.


“Ngapain malu sayang,, Aa udah lihat semuanya juga”, Arfin terkekeh.


“Aaaahh,, ambilin dulu bajunya,,”, Naz malah merengek manja, Arfin pun mengambilkan baju Naz yang berserakan di lantai dan memberikannya pada Naz, ia pun langsung memakainya. Arfin menggendong dan membawanya ke kamar mandi, namun ia diminta menunggu di luar, dan setelah selesai, Naz kembali di gendong dan di bawa ke tempat tidur.


“Loh,,kok ada darah?? Aku kan belum waktunya mens?”, Naz merasa heran dan terkejut melihat bercak darah segar yang mengotori seprei tempat tidurnya.


“Itu karena si ujang sudah berhasil menerobos si imut untuk pertamakalinya makanya mengeluarkan darah,, “, Arfin memberi penjelasan.


“Oohh,,, pantesan aja sakit dan perih banget,,, sampai jalan aja rasanya sakit seperti ada yang mengganjal,,, “.


“Masa sih mengganjal? Kan si ujangnya udah di lepas gak nempel di situ”, ucapnya terkekeh, “Sebentar Aa ganti dulu ya seprei nya”, Arfin mengambil seprei baru dari dalam lemarinya kemudian ia mengganti seprei yang kotor dengan yang baru itu.


“Waktu itu aku lihat Raline jalannya kayak kesusahan gitu,, ternyata gini ya rasanya”, Naz teringat dengan Raline yang bilang kakinya sakit karena kepeleset di kamar mandi, padahal itu karena ulah Arsen.


“Ya beda lah sayang,, dia mah pasti lebih sakit, orang dia dipaksa, pastinya Arsen melakukannya dengan kasar,, beda sama Aa yang melakukannya dengan lembut”, Arfin yang sudah selesai memasangkan seperei malah membandingkan.


“Heleh,,,, tetep aja sakit”, cicit Naz, lalu Arfin mendekat ke arahnya.


“Emmm,,,, biar gak sakit gimana kalau diulangi lagi,,, biar terbiasa sayang, dan ukurannya pas gak sempit lagi”, bisiknya sambil tersenyum.


“Aaahhh,, gak mau,, ini masih sakit,,, besok kan kita mau ke Jakarta,, kalau aku gak bisa jalan gimana?”, Naz menolak dengan memberi alasan.


“Tapi sayang,,, tuh lihat si ujang udah bangun lagi,,, kasihan kan nanti kalau pundung gimana? Pas kita baru menikah dia kan pundung sampai harus diurut?”, Arfin menunjuk ke arah celana boxernya.


“Tapi kan si imut nya masih sakit,, emang Aa gak kasihan sama aku?”, Naz terus menolak dengan berbagai alasan.


“Cie,,, udah mulai manggil si imut,,,hehehe”, Arfin terkekeh mendengar nama pemberiannya mulai diterima oleh istrinya,


“Sayang, gak boleh loh nolak suami,, dosa itu,,, secelup saja ya,,,, Aa janji akan pelan- pelan”, Arfin terus membujuk dan merayu Naz dan akhirnya bersedia karena takut dosa.


Mereka kembali mengulangi pergulatan panasnya dan Arfin pun benar- benar melakukannya dengan lembut perlahan tapi pasti. Kini keduanya terkapar lemas dengan Naz yang menggerutu kesal karena suaminya sudah membohonginya yang bilang hanya akan secelup tapi malah lebih lama dari yang pertama. Arfin yang terkekeh merasa menang sudah berhasil ngibulin istrinya, lalu membawa Naz tidur di dalam pelukannya.


**


Keesokan harinya saat bangun Naz benar- benar kesulitan berjalan dan kembali di gendong saat akan ke kamar mandi lalu keduanya mandi bersama, namun saat keluar Naz memaksakan berjalan sendiri karena sudah berwudhu. Seusai berpakaian mereka pun shalat subuh berjama’ah.


Naz yang memakai baju serta celana panjang itu kembali ke naik ke atas ranjang, menyelimuti dirinya dan melanjutkan tidurnya karena masih mengantuk serta badannya terasa remuk redam. Kini gantian Arfin yang melayani istrinya, ia menyiapkan barang bawaannya untuk ke Jakarta, seusai itu ia pergi ke dapur hendak membuatkan sarapan untuk istrinya.

__ADS_1


Selang beberapa saat Arfin datang dengan membawa nampan yang berisi dua piring makanan untuk sarapan mereka berdua, lengkap dengan minumnya,, “Sayang,,, bangun,,, kita sarapan yuk,,”, Arfin membangunkan istrinya.


“Emhh,,, “, Naz membuka matanya dan setelah kesadarannya terkumpul ia bangkit lalu duduk bersama suaminya di atas tempat tidur.


“Nih minum dulu,,,”, Arfin memberikan segelas air putih hangat untuk Naz, dan ia pun meminumnya. Kemudian keduanya sarapan bersama dan seusai itu keduanya menghabiskan waktu di kamar, namun tidak ada siaran ulang kegiatan semalam, itu sebabnya Naz memakai baju dan celana panjang, agar tidak memancing hasrat suaminya lagi.


Sebelumnya mereka akan pergi ke Jakarta dengan penerbangan pagi, namun saat melihat kondisi Naz, Arfin menunda keberangkatan sehingga mereka berangkat ke Jakarta dengan penerbangan sore.


**


Sesampainya di Jakarta, Hardi menjemput mereka ke bandara dan membawa keduanya ke kediaman Pak Syarief.


Tak lama mereka pun sampai di rumah yang dalamnya sudah di dekorasi untuk acara lamaran Raline, keduanya disambut oleh orang tua Naz dan juga Raline, mereka pun bersalaman dan saling berpelukan. Mereka duduk bercengkrama sampai magrib, setelah itu Arfin dan Naz pergi ke kamar Naz yang berada di lantai dua. Keduanya berjalan perlahan dengan Arfin yang mengekor di belakang istrinya yang terlihat kurang nyaman saat berjalan, namun ia menolak untuk di gendong saat suaminya menawarkan diri , karena merasa malu dan tidak enak jika dilihat orang tua dan kakaknya.


Seusai makan malam bersama, sebagian ada yang kembali ke kamar, dan ada pula yang malah naik ke lantai dua untuk duduk santai di ruang tengah sambil ngobrol, karena di ruang tengah dan ruang tamu di bawah sudah di dekorasi untuk acara besok. Naz minta izin pada suaminya yang sedang ngobrol dengan Pak Syarief, Hardi dan Raka, untuk pergi ke kamar Raline, dan ia pun mengizinkannya.


Raline yang sejak tadi terus memperlihatkan rona kebahagiaanya di depan semua orang karena keinginannya sejak masih kecil yakni menikah dengan Kak Chen nya itu akan segera terwujud, namun Naz melihat gelagat aneh pada Raline yang seolah menyembunyikan sesuatu sehingga membuatnya penasaran ingin segera menemuinya untuk bicara empat mata.


Tok tok tok,,,


“Raline,, boleh kah aku masuk?”, seru Naz dari balik pintu.


“Masuk saja Naz,, gak dikunci kok”.


Naz kemudian membuka pintunya dan masuk ke kamar Raline, yang ternyata ia sedang makan mangga muda yang dicocolkan ke bumbu rujak pada cobekan kecil dengan segelas kopi hitam di samping piring potongan mangga tersebut, sambil duduk lesehan di karpet, Naz pun mengampirinya.


"Ya ampun Raline,, malam- malam gini kok makan rujak,, emang gak takut sakit perut apa?”, ucapnya lalu ia pun ikut duduk.


“Namanya juga lagi ngidam,,, dari tadi pengen banget,,, untung aja Bi Surti dapat mangga muda nya tadi sore dari toko buah setelah keliling- keliling sampai magrib katanya,, cobain deh,,, enak loh”, Raline menawarkan.


“Enggak ahh,, takut sakit perut,, pantesan aja tadi aku perhatiin kamu makan nya sedikit, rupanya mau menyantap ini toh.. ”.


“Iya,, aku gak terlalu selera makan dan akhir- akhir ini pengennya yang aneh- aneh,,, ah kamu,, biasanya juga kamu suka makan pedas, kok jadi penakut?”, Raline yang sudah selesai makan rujak kemudian menyeruput kopi hitam.


“Iya aku suka pedas,, tapi makan pedesnya siang hari gak malam- malam begini juga kali,, emang aneh kamu tuh,, makan rujak itu minumnya kopi hitam ”, Naz terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


“Aku juga merasa aneh, padahal sebelumnya aku gak suka sama sekali sama kopi hitam,, hahaha”.


Naz menghela nafas panjang, “Raline,,, aku senang, akhirnya kamu sama Kak Arsen akan menikah,, apa kamu bahagia?”.


Raline tersenyum, “Ten tentu saja Naz,, aku sangat bahagia”, Raline menjawab nampak gugup.


“Raline,,, aku mengenal mu sejak kita masih kecil,, kita tumbuh bersama,, aku sangat mengenal mu,,, apakah ada sesuatu yang mengganjal di hati mu? Jika kamu punya masalah, jangan dipendam sendiri,, aku siap mendengar keluh kesah mu, kita ini saudara,, kamu bisa menceritakannya padaku, mungkin aku bisa membantu meringankan beban pikiran mu,, karena aku tahu kamu tak berani bilang pada Mama kan? Kamu pasti tak mau membuat Mama mengkhawatirkan mu kan?”.


“Raline, jangan berkecil hati, Kak Arsen tidak membenci mu,,, aku yakin Kak Arsen juga mencintai mu”, Naz mencoba membesarkan hati Raline.


“Enggak Naz,, bukankah dia bilang dia mencintai mu bukan sebagai adiknya tapi seperti lawan jenis pada umumnya, dan dia mencintaimu sejak dia tahu kamu bukan adik kandungnya”, Raline merasa dirinya tak berarti bagi Arsen.


“Kamu salah Raline,, orang yang Kak Arsen cintai itu adalah orang yang selama ini selalu membantunya dan sampai rela berkorban untuk nya, dan orang itu adalah kamu, bukan aku,,, dia bilang mencintaiku karena ternyata dia salah mengira saja”, Naz memberi penjelasan atas kesalah pahaman Arsen selama ini.


“Maksud mu?”, Raline merasa bingung.


“Iya,, jadi selama ini Kak Arsen mengira kalau aku yang selalu membantunya dan sampai rela berkorban untuknya saat ia sedang sakit bahkan saat ia tenggelam di kolam renang itu,, padahal yang melakukan semua itu adalah kamu, bukan aku,, ia pun terkejut saat mengetahuinya,,, jadi sebenarnya dia mencitai kamu, Raline”, Naz memperjelas ucapannya.


“Apa?? Jadi kamu mengatakannya pada Kak Chen?”, Raline merasa terkejut rahasia yang selama ini mereka berdua simpan ternyata sudah dibongkar oleh Naz.


“Hehehehe,,, iya,, maaf,,, lagi pula dia harus tahu yang sebenarnya, untuk membuka matanya,,, kamu jangan bersedih lagi dan jangan mikir yang aneh- aneh, yang penting sekarang Kak Arsen sudah tau semuanya tentang apa yang selama ini kamu lakukan untuknya, dan aku yakin kalian pasti akan bahagia bersama anak kalian juga nantinya,,”, Naz meyakinkan Raline dan menggenggam kedua tangannya.


“Terimakasih Naz,, sekarang aku merasa lega, setidaknya aku tahu kalau dia tidak membenciku, aku hanya bisa berharap ia akan bisa menerima pernikahan ini dan juga anak yang ada dalam kandunganku, walau awalnya dia menikahi ku karena terpaksa”.


“Aku yakin lambat laun Kak Arsen akan luluh dan mengakui perasaannya pada mu, apalagi dengan kehadiran anak kalian”, Naz tersenyum kemudian memeluk Raline selama beberapa saat, lalu melepaskannya kembali, “Oh iya,, udah berapa minggu usia kandungan mu?”.


“Sudah hampir delapan minggu,, ya pokoknya seusia dengan pernikahan mu,,hehehe,,, waktu Om Rizal dan Kak Dandy ke sini membicarakan permasalahanku tempo hari, aku langsung dibawa ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku, dan saat itu sudah 4 minggu”.


“Oh,, gitu ya,, eng,,, Mama bilang acara pernikahannya mau diselenggarakan di rumah ini ya? Kenapa gak di gedung aja?”, tanya Naz penasaran.


“Akhir- akhir ini aku cepat kelelahan, lagian kan Papa sama Mama baru saja menggelar pesta besar, aku gak enak juga nantinya malah bikin mereka malu dengan pernikahan dadakan ku ini,,, jadi mending di rumah saja,,, aku pengennya sederhana saja, tapi Papa sama Mama kekeh pengen ngadain pesta, ya walau yang diundang hanya keluarga dan sanak saudara dekat aja, juga para tetangga komplek sini, untung saja WO mu yang kemarin itu temennya Mama dan lagi free job sebulan kedepan jadi bisa ngadain pesta dadakan yang hanya dikasih waktu 3 minggu,, dia bilang Mama sangat kejam membuat mereka kerja keras bagai kuda,, hahahaa”, mereka pun tertawa dan setelah Naz melihat Raline yang sepertinya sudah plong, ia pun ia pamit untuk kembali ke kamarnya.


**


Keesokan harinya saat sebelum acara hingga acara lamaran yang dihadiri keluarga dan sanak saudara dekat itu selesai, Arfin terus mengekori istrinya kemana pun ia pergi, sehingga membuat Naz agak risih.


“Aa kok dari pagi ngikutin aku terus ih?”, Naz protes.


“Soalnya Aa khawatir kamu jatuh,, itu jalannya masih gak nyaman gitu”.


“Ya ampun,, emangnya aku ini anak bayi yang baru bisa berjalan apa,, Aku bisa jaga diri kok”.


“Gak,, pokoknya Aa akan terus jagain kamu”, Arfin kekeh.


“Yassalam,, terserah sajalah,,”, Naz mendengus kesal.

__ADS_1


“Udah yuk ah kita siap- siap,, kan mau balik lagi ke Surabaya, lagian udah pada bubar”, Ajak Arfin yang sudah ingin pulang.


“Padahal aku masih betah di sini… baru juga kemarin sore sampai,, ehh sekarang mau pulang lagi”, keluh Naz.


Arfin mendekatkan bibirnya ke telinga Naz, “Di sini si ujang gak berani nyundul si imut,,, banyak orang soalnya”, bisiknya, Naz malah mencubit perut suaminya, “Aww,,, sakit sayang”, Afin meringis.


“Dasar mesum”, Naz kemudian melengos begitu saja menuju kamarnya.


Setelah berganti pakaian, Naz dan Arfin berpamitan untuk pulang ke Surabaya, namun sebelum itu, mereka mengunjungi kedua orang tua Arfin terlebih dahulu sebelum berangkat ke Bandara. Tak lama keduanya pun berpamitan pada kedua orang tua Arfin, padahal Mami nya masih kangen sama Naz dan meminta mereka menginap, namun keduanya menolak karena esoknya Arfin banyak kerjaan di kantornya.


**


Kini keduanya telah sampai di rumah mereka yang di Surabaya, mereka langsung pergi ke kamar setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Keduaya duduk berebelahan di sofa yang terdapat di kamar tersebut.


Naz menyenderkan tubuhnya di pelukan suaminya yang duduk bersandar ,“Aa,, boleh gak kalau nanti aku ke Jakarta seminggu sebelum pernikahan Raline?”.


“Enggak boleh,,,”, tolak Arfin.


“Aaahh,,, kan aku pengen terlibat dalam persiapan pernikahan Raline”, Naz merengek manja.


“Semingu itu terlalu lama, sayang,, tempo hari aja kamu ninggalin Aa sehari semalam, Aa gak bisa tidur karena terus- terusan gelisah mikirin kamu,, apalagi ini seminggu,, udah nanti kita bareng aja ke sana nya dua hari sebelum hari H saja ya”, Arfin memberi alasan penolakannya.


“Aaahhh,,, please ya,,,, enam hari sebelum hari H”, Naz terus merengek.


“Gak boleh,,,”, Arfin tetap menolak.


“Lima hari dehhh”, Naz mengajak negosiasi dengan mengurangi jumlah harinya.


“Enggak sayang,,, sekali enggak tetap enggak,,,”, Arfin mempertegas larangannya.”Lagian dulu kamu bilang mulai perkuliahan akhir Juli ini, berarti dalam inggu ini kan?”, Arfin mengingatkan.


“Aku salah lihat jadwal,, akhir juli itu batas akhir daftar ulang kalau gak salah, mulai kuliahnya september, jadi masih ada sebulan lebih aku nganggur nya, jadi boleh ya pulang duluan”, Naz terus memohon.


“Enggak,, titik…”.


Naz mendengus kesal, “Iya deh”.


Naz yang nampak kesal kemudian memikirkan sesuatu untuk membujuk suaminya itu. Ia tersenyum licik saat sudah muncul ide konyol di kepalanya. Ia memainkan jemari di dada suaminya, kemudian ia membuka kancing kemeja suaminya satu persatu dan tangannya mengerayangi dada suaminya itu dengan sentuhan lembut yang membangunkan hasrat naluri kelelakian suaminya.


Naz menciumi dada bidang suaminya, kemudian beralih ke leher dan memberi beberapa tanda merah di sana, Arfin yang terkejut nampak menikmati setiap sentuhan istrinya itu, namun Naz tak melanjutkannya, ia malah bangkit dan berdiri, Arfin pun menarik tangan Naz yang hendak akan melangkah pergi.


“Mau kemana hem? lanjutkan apa yang sudah kau mulai sayang”, ucapnya dengan tatapan ingin dibelai.


Naz tersenyum lalu menarik tangan suaminya sehingga ia bangkit dari duduknya. Kini keduanya berdiri berhadapan, ia pun melakukan titah suaminya yang sudah mulai terlena dengan apa yang ia lakukan tadi. Naz kembali meraba dada suaminya lalu mendekat dan mengecup bibir suaminya, kecupan itu pun beralih menjadi ciuman panas dengan tangan Naz yang terus mengerayangi tububuh suaminya, hingga ia melonggarkan sabuk untuk melepaskan celana yang dikenakan suaminya.


Arfin terus menikmati setiap sentuhan istrinya yang tiba- tiba menjadi agresif itu tanpa melepaskan pagutan bibir keduanya, hingga tak terasa Naz sudah melepaskan celana jeans suaminya, dan kini Arfin hanya memakai celana boxer serta kemeja yang semua kancingnya sudah dibuka oleh Naz. Ia berjalan mundur dan Arfin pun mengikuti setiap langkahnya tanpa melepas pagutan keduanya, hingga samapi di samping tempat tidur.


Arfin terkesiap setelah tangan Naz menyelusup ke dalam celana boxernya dan mulai menyentuh si ujang serta memainkannya hingga membangunkan si ujang yang sedang tertidur, dan kini pun hasratnya sudah naik ke ubun- ubun. Mereka saling melepas pagutannya, dengan deru nafas yang membara antara keduanya, Naz sedikit memutar lalu mendorong suaminya ke atas tempat tidur yang membuat Arfin tersenyum bahagia, namun senyum itu seketika sirna saat Naz berlari dan masuk ke kamar mandi dan terdengar Naz mengunci pintu kamar mandinya.


Arfin yang sudah diliputi gairah sampai ke ubun- ubun pun terkejut melihat Naz yang malah lari bukannya ikut dengannya ke tempat tidur, kemudian ia pun bangkit dan mengejar Naz.


Breg breg breg,,,


“Sayang,,,, buka pintunya,, ngapain kamu malah ke kamar mandi? Ayok kita lanjutkan,, si ujang udah siap tempur ini,,, ”, Arfin menggedor pintu.


“Gak mau,, kalau aku gak diizinin pulang lebih awal, aku gak bakalan biarin si ujang main sama si imut lagi”, teriak Naz dari dalam kamar mandi.


“Apa- apaan ini... kenapa kamu jadi ngancam? Jangan kayak gini dong sayang ,,, Aa udah gak kuat ini ayok buka pintunya”, Arfin terus menggedor.


“Biarin,,, pokoknya kalau gak diizinin, si imut mau di segel sampai dua minggu ke depan”, teriak Naz memberi ancaman lagi.


“Jangan gitu dong sayang,,, semalam Aa tersiksa enggak bisa bercinta dengan mu karena di rumah Mama lagi banyak orang,, apalagi ini sampai dua minggu,, bisa pusing kepala Aa, sayang,, ayok dong keluar,, kita tuntaskan apa yang kamu mulai tadi ih”, Arfin yang sudah tahan terus memohon.


“Gak mau,,, kasih aku izin dulu,, baru aku buka pintunya”, Naz tetap pada pendiriannya.


“Iya,, iyaa,,, Aa izinin tapi cuman tiga hari,, sekarang ayok buka pintunya, sayang please”, Terpaksa Arfin pun mengiyakannya dari pada hasrat tak isa terpenuhi.


“Enggak mau,, pokoknya lima hari”, Naz terus bernegosiasi, tidak tahu kalau suaminya udah sekarat wakwaw.


“Empat hari udah deal ya,,, cepat buka pintunya sayang,,, Aa udah gak tahan ini, ihhh”.


“Janji dulu,,, baru aku keluar”.


“Astagfirullah,, banyak amat sih syaratnya,,,Iya ,, iya janji,,, udah cepetan ih keluar, ya ampun ini kepala rasa nya udah mau pecah, hasrat Aa udah di ubun- ubun gini, sayang…”, Arfin yang sudah merasa tersiksa terus meminta Naz keluar.


Di dalam kamar mandi Naz tersenyum penuh kemenangan karena cara liciknya berhasil, “Tatkala si Ujang sudah tunduk pada si Imut, apa pun keinginanku yang mustahil bisa dikabulkannya juga, terimakasih imut ku, kau telah menolongku kali ini”, gumamnya dalam hati sambil cekikikan.


----------------- TBC ---------------


***************************


Happy Reading…..

__ADS_1


Jangan luva tinggalkan jejakmu like, komen, vote , hadiah, dst…


Tilimikicih aylapyu oll…


__ADS_2