
“SURPRISE……!! ”, semua orang bersorak bersama, mengejutkan Naz yang baru masuk ruang tengah tersebut.
Naz yang masih membekap mulutnya masih tidak percaya jika di ruangan yang sudah didekorasi sebagai pesta baby shower serba putih itu, ada keluarga dan para sahabatnya dari Jakarta serta keluarga Om Aji, Dilara, Lutfi, dan tentunya Arfin, sang suami.
Ia yang sebelumnya sudah menghapus air matanya kembali menangis karena terharu. “Aaaahhhh,,, kalian…. hhuhuhuhu”, Naz malah nangis lagi.
“Ehh,, kok nangis sih sayang,,, “, Arfin segera menghampiri istrinya.
“Nanaz……!!!”, teriak ketiga sahabatnya yang langsung menyerbu. Ruby dan Kiara langsung memeluk Naz dari kedua sisi tanpa memperdulikan keberadaan Arfin di sana, namun saat Andes hendak ikut memeluk Naz, Arfin dengan segera menarik tangan Andes.
“Heh,, mau ngapain,,, jangan berani memeluk istriku, kau”, ucapnya dengan nada tegas.
Andes menghentakkan kakinya karena merasa kesal sekaligus sedih,
“Aahhh,,, Kak Arfin jahara,,, kok aku doang yang dilarang?? Itu Ruby sama Kiara boleh memeluk Naz… kok aku gak boleh?”, protesnya.
“Karena kamu itu laki- laki,,, aku tidak pernah membiarkan laki- laki lain memeluk istriku, selain aku dan orang tua kami”, Arfin memperingatkan.
Ruby dan Kiara kemudian melepaskan pelukan mereka,
“Gue kangen banget sama lo, Naz,,, ternyata lo beneran hamil yaa,, jadi tina toon lagi lo ya”,Kiara mengusap perut buncit Naz.
“Iya,,, gak nyangka gue,, kirain lo masih nge-prank,,, hahaha”, Ruby pun ikut mengatai sahabatnya dan juga mengusap perut buncit Naz.
“Hai kalian... !! sini donk,, bawa bumil nya ke sini”, teriak Bunda,,, Ruby dan Kiara pun mendampingi Naz berjalan menuju meja yang sudah disediakan di acara baby shower nya itu. Arfin dan Andes mengikuti dari belakang.
Naz langsung disambut orang tua dan mertuanya, Naz mencium tangan dan memeluk mereka satu persatu.
Tiba- tiba datang seseorang yang mengenakan gaun berwarna merah, berdandan menor dengan rambut panjang terurai,
"Pak Bos,,, ini teh udahan kan,,? ini teh rambut palsu udah bisa dilepas belum? hareudang Pak Bos aduhh”, tanyanya pada Arfin.
Naz sangat terkejut sekaligus geli melihat penampilan orang itu yang ternyata adalah sopir pribadi sekaligus sekutunya,
“Kang Uje?? Jadi kamu yang tadi menyambut suamiku di depan?”, Naz tak menyangka yang ia kira wanita cantik karena dilihat dari kejauhan, ternyata adalah sopirnya yang didandani mirip pengamen bencong.
“Iya Neng bos,,, mereka semua teh pada jahat,,, masa Uje anu pohara kasepna disuruh nyamar jadi banci kaleng gini coba,, tumbal lagi tumbal lagi hamba,,.”, Uje menggerutu kesal mengadukan kekejaman panitia acara pada sang majikan.
“Hahahahaa”, semua orang termasuk Naz menertawakan Uje.
Acara baby shower yang bernuansa serba putih itu pun dimulai dengan Naz yang dipersilahkan meniup lilin yang baru saja dinyalakan di atas kue tart, acara potong kue dan dilanjutkan pada games yang dipimpin oleh Andes selaku host dadakan.
Games-nya yakni bagi para wanita balap makan biskuit yang dijadikan bubur bayi yang disajikan pada tempat makan bayi lengkap dengan sendok bayinya. Sedangkan para laki- laki lomba minum susu dari botol dot, dilanjutkan memasangkan popok pada boneka yang sudah disediakan berikut dengan cara menggendong bayi yang baik dan benar. Pokoknya acara baby shower tersebut dibuat seseru mungkin untuk menghibur bumil yang sudah mendekati HPL juga yang sudah dikerjai oleh suami dan para crew.
Arfin menghampiri Naz yang tengah duduk sendirian sambil makan kue,
“Kamu senang sayang dengan kejutannya?”, tanyanya mengusap kepalanya.
“Ihhh,,, Aa jahat banget sih, bohongin aku,,,”, gerutu Naz yang sudah dibuat sedih, marah serta jengkel.
“Maaf sayang,,, Mami dan ketiga sahabat mu yang maksa,, Aa sudah menolaknya berkali- kali,, karena gak mau bikin kamu sedih,, tapi mereka terus maksa dan memastikan kamu gak bakalan kenapa-kenapa katanya,, tapi Aa senang kamu terlihat bahagia dan menikmati acaranya,, ya walaupun tidak seluruh anggota keluarga datang,, apalagi Raline karena baru sebulan melahirkan,,”, Arfin memberi penjelasan, karena ia takut istrinya akan marah berlarut- larut padanya.
“Sebenarnya aku masih kesal sama Aa,,, tapi..Makasih ya,,, aku senang banget kok,, ya walaupun tadi sempat sedih dan jengkel,,,”, ucapnya yang sudah selesai menelan suapan terakhir kuenya.
“Berarti rencana Mami dan ketiga sahabat mu berhasil ya,,, dan kamu tahu,, mereka akan menginap di rumah kita sampai lusa”, Arfin memberi kabar gembira pada istrinya.
“Serius??”, tanya Naz antusias.
“Dua rius,, sayang…”, Arfin mengacungkan dua jari seperti orang sedang ber-suer ria.
”Itu sebagai syarat dari Aa sat menyetujui dan melibatkan diri dalam rencana mereka”, ternyata itu hasil barter.
“Uuunch,,,, makasihh, sayangku,,, aku senang banget,,“, Naz bangkit dari duduknya perlahan, ia menyimpan piring kue di atas kursi, lalu segera memeluk suaminya.
“Tapi Bunda sama Mami gak bisa nginep,, paling Mama aja katanya,”, Arfin kembali memberitahukan, Naz kemudian melepaskan pelukannya perlahan.
“Enggak apa- apa,, aku ngerti kok,, Bunda lagi seneng- senengnya ngurus cucu katanya,, soalnya kan cucu- cucunya yang lain pada di Amerika,, Mami juga bilang kalau yayasan nya mau menyelenggarakan acara,, hari ini mereka semua ada di sini pun, aku sangat sangat bahagia,,,”.
“Syukurlah kalau begitu,,, berarti anaking juga bahagia,,,”, Arfin mengusap perut sang istri, Arfin membungkukkan tubuhnya dan mencium perut buncit Naz yang tak hentinya mengulas senyum bahagia.
“Emmm,,, kalau semua ini ulah ketiga sahabatku, terus noda lipstik yang di kemeja Aa itu ulah siapa?”, ia mempertanyakan noda lipstik bentuk bibir temuannya.
Arfin kembali menegakkan tubuhnya, “Oh sayang,,, jangan ingatkan hal itu,, karena itu sangat menjijikan…”, Arfin seolah malas membahasnya.
“Jagan bilang itu noda lipstik dari bibir Uje?,, hahahaha”, Naz teringat sopirnya yang dipermak jadi banci kaleng.
“Bukan lah,,, itu lebih menjijikan lagi dong,,, najisss banget ih”, Arfin bergidik ngeri.
“Terus itu noda lipstik siapa? Apa Aa beneran deket- deketan sama perempuan lain sampai dia nyium kemeja Aa segala? Atau jangan- jangan dia nyium pipi Aa,, bahkan nyium bibir juga?”, Naz kembali merasa curiga.
“Astagfirullah,, enggaklah sayang,, seumur- umur Aa cuman ciuman sama kamu doang,, noda lipstik Itu ulah Aa sendiri,,, setelah melepas kemeja, Aa memakai lipstik yang dibelikan Dilara, terus menciumkannya pada kemeja Aa saat kamu udah tidur nyenyak… dan bibir Aa langsung dibersihkan”,ia pun akhirnya mengakui hal memalukan itu.
“Hhahahahaha,,,, Aa lucu banget sih,, sampai mau- mau nya memakai lipstik merah merona seperti itu “, Naz menertawakan kekonyolan suaminya.
“Daripada dicium orang lain,,, mending Aa sendiri yang melakukannya.. emang kamu rela apa Aa dicium sama perempuan lain?”,Arfin tahu benar istrinya itu sama seperti dirinya, pencemburu.
“Ya enggaklah,, enak aja,,, nanti aku bogem bibir Aa kalau berani begitu”,Naz mengangkat kepalan tangannya di depan wajah suaminya.
“Uhhh,,, tatut,,, “, Arfin malah mengejek sang istri nya yang menggemaskan itu.
Mereka pun melanjutkan hiburan dengan berbagai macam tingkah dan kelucuan mereka untuk menyenangkan hati sang bumil. Tentunya semua itu tak luput dari bidikan sang potographer yang mereka sewa untuk mengabadikan prosesi acara tersebut. Belum lagi yang selfie- selfie menggunakan kamera ponsel masing- masing.
Memang biasanya acara baby shower diadakan saat menginjak usia kehamilan tujuh bulan, macam tujuh bulanan ala kebarat- baratan. Namun Arfin memilih acara ini saat mendekati persalinan agar Naz merasa senang dan terhibur, setidaknya bisa mengurangi rasa degdegan serta rasa takutnya untuk menghadapi persalinannya nanti. Karena ia tahu betul kehadiran keluarga dan para sahabatnya akan membuat Naz merasa bahagia.
Setelah acara selesai dilanjut makan- makan lalu istirahat sejenak sambil ngobrol- ngobrol ringan, rombongan keluarga dari Jakarta segera bersiap untuk kembali pulang, karena mereka sudah di sana sejak kemarin. Mereka pun berpamitan dan berpelukan dengan Naz secara bergantian dengan pesan yang sama agar Naz harus berani, selalu tenang dan jangan takut untuk menghadapi proses persalinan nanti. Mereka diantarkan ke bandara oleh Lutfi, Om Aji, dan Uje dengan menggunakan tiga mobil.
Seperti yang dikatakan Arfin, Bu Rahmi dan ketiga sahabat Naz tidak ikut pulang bersama rombongan, karena mereka akan menginap selama dua malam sehingga mereka ikut pulang ke rumah Arfin.
“Selamat datang di istanaku, trio bontot menyebalkan”, ucap Naz saat ia membukakan pintu rumahnya setelah ia memutar kuncinya. Ia pun mengajak ketiganya masuk ke dalam rumah, Mama dan suaminya pun mengikuti dari belakang.
“Yaelah,,, pake menyebalkan segala,,, bukannya lo kangen banget sama kita- kita”, Ruby yang mengikuti langkah Naz protes saat dikatain.
“Iya,, di VC aja suka bilang miss u miss u,, ternyata hoax belaka, cihhh”, Andes pun ikut menghujati Naz.
“Iya,,, gue kangen sama kalian, dan semenjak gue nikah, kalian baru pertama kalinya datang ke sini,, gak menyebalkan gimana coba?”, Naz ternyata masih kesal pada ketiga sahabatnya yang sebelumnya tidak ikut mengantar kepindahannya, saat acara syukuran empat bulanan dan tujuh bulanan pun tidak hadir.
“Eh,, sorry ya,, gue udah pernah kali datang ke sini,,, waktu lo belum balikan lagi sama Kak Arfin”,Ruby punya alasan ngeles.
Keempatnya kini sudah sampai di ruang tengah,“Itu gak kehitung, Ruby, kan gue bilang semenjak gue nikah,,wle…”, Naz kemudian duduk di sofa sambil selonjoran.
“Mama ke kamar duluan ya,, gerah pengen mandi”, Bu Rahmi pamit pada Arfin dan keempat orang itu.
__ADS_1
“Iya Tante,, “, ucap Ruby, Andes dan Kiara bersamaan, Bu Rahmi kemudian memasuki kamar yang sudah beberapa kali beliau tempati saat berkunjung dan menginap disana.
“Aa juga ke kamar duluan ya, sayang,, “Arfin pamit pada istrinya yang sedang duduk santai di sofa, “Oh iya,, Kamar kalian sudah disiapkan oleh Mbak Retno,, nanti tinggal masuk saja ya,, saya duluan”, ia pun pamit pada ketiga sahabat Naz.
“Kamar kita dimana ini?”, Tanya Kiara yang melihat Bu Rahmi sudah masuk ke salah satu kamar yang ada di rumah itu.
“Kiara sama Ruby di kamar depan, kalau Andes di situ tuh”, Naz menunjukan letak kedua kamar untuk ditempati sahabatnya selama menginap di rumahnya. Ketiganya yang membawa tas ransel segera beranjak pergi menuju kamar tersebut, namun Naz langsung menghentikan langkah ketiganya.
“Hei,, kalian mau kemana?”, Tanya Naz dengan nada ketus.
“Ya mau ke kamar lah, oneng… kemana lagi..”, Ruby menoleh lalu melapor.
“Siapa yang ngizinin kalian pergi ke kamar sekarang?”, Naz kembali bertanya.
“Kita ini capek dari kemaren kurang istirahat karena nyiapin pesta kejutan buat lo,, jadi sekarang mau bobo ciang, tuan putri”, ucap Kiara.
“Enak aja,,, sini sini,,, kalian harus dapat hukuman karena udah ngerjain gue”, Rupanya Naz masih punya dendam kesumat pada ketiga sahabatnya yang sudah mengerjainya itu.
“Loh,,kan ngerjain juga terus menyenangkan mu, Naz”, Andes mengelak.
“Enggak bisa,, pokoknya kalian harus tetap dihukum”, Naz tetap kekeuh ingin membalas mereka.
“Yaelah,,, emang hukuman apa sih?”, Kiara malah nantang.
“Pijitin gue…”, Naz menyebutkan hukuman dengan entengnya.
“Andes,, lo aja gih,, tangan gue pegel”, Ruby malah melimpahkannya pada Andes.
“Iya Des,, lo aja yang mijitin Naz”, Kiara pun setuju dengan usulan Ruby.
“Hello,,, every badeh,,, kalian mau aku digantung sama suaminya Naz? tadi aja mau meluk gak boleh,,apalagi ini mijat,, nanti dikira aku meraba- raba gimana gitu,, mending kalian aja deh yang sama- sama peyempuan,,, Aku ke kamar dulu babay,,,”, Andes yang selesai nyerocos langsung pergi begitu saja ke kamar.
“Udah cepet sini ih,,,”, Naz sudah tidak sabar, kedua sahabatnya pun mendekat padanya, “Kiara mijatin kaki gue,, Ruby mijat pundak sama kepala gue,,,”.
“Hufh,,, nyesel deh gue nginep di sini”, Ruby yang mulai memijat menyesali keputusannya.
“Emberan.. mana kita sampai bolos kuliah dua hari kedepan” , Kiara pun ikut menyesalkan.
“Udah,, kalian gak usah banyak ngeluh,,,",
Mereka pun dengan terpaksa perintah Naz dengan berat hati sambil terus ngedumel…
”Yang ikhlas donk,,”, ucap Naz.
“Iya,, iya,, bawel lo”, Cicit Ruby.
“Hmmm,,, enak banget….”, Naz nampak menikmati pijatan kedua sahabatnya.
Setelah beberapa saat Naz pun merasa ngantuk karena keenakan dipijat, ia pun meminta kedua sahabatnya menghentikan hukuman yang diberikannya. Naz bangkit lalu beranjak pergi ke kamarnya, kedua sahabatnya pun pergi ke kama yang sudah disiapkan untuk mereka tempati.
**
Malam nya seusai makan malam, Naz ikut ngumpul bersama ketiga sahabatnya di kamar tamu yang ditempati Ruby dan Kiara dengan pintu kamar terbuka, karena di sana juga ada Andes. Mereka bercanda gurau dan saling bertukar cerita satu sama lainnya, soal perkuliahan, soal percintaan, dan lain sebagainya. Bahkan kini Andes yang sudah memiliki calon gebetan malah menjadi bulan- bulanan mereka.
“Kok gue gak percaya si Andes deketin cewek”, ucap Naz.
“Malah gue pikir dia mau deketin cowok, Naz”, ejek Ruby.
“Lah,, yang dia deketin kan cewek jadi- jadian juga kali”, Kiara tak mau kalah mengejek.
“Ihh,, kalian tuh jahara banget,, aku ini kan cowok normal,, cuman ya agak manjalita aja,,”, protes Andes.
“Apa iya yahh,, apa karena itu, makanya dia kayak gak mau dideketin sama aku”, Andes merasa ciut.
“Lagian lo deketin cewek yang suka ikutan karate club,, tomboy abis lagi orangnya,, lah lo apaan,, gue ribut sama geng cewek aja lo bantuin jambak doang.. ”, Kiara malah membuat Andes makin down.
“Ya terus,, gimana dong caranya biar dia suka sama aku?”, Tanya Andes polos.
“Cie,,,, hahahaha”, ketiganya malah menertawakan Andes.
“Ihhh,,, kalian tuh ya .. malah nyorakin,,,,”, gerutu Andes.
“Hahaha,,, abisnya dari tadi nyangkal mulu,, eh sekarang ngaku, dan minta saran,, noh minta diajarin sama Ruby yang banak pengalaman,,, jadi Suhu dia”, ucap Naz.
“Lo mau minta gue ajarin?”, tanya Ruby sambil menyulurkan tangan dengan menelungkupkan telapak tangannya, “Salim dulu donk sama Suhhu”.
“Hahahaha,, najis banget lo By,,,”, Kiara geleng- geleng kepala.
“Iya,,, ihh ngapain salim sama mak lampir”, Andes malah ngatain.
“Jangan gitu, Des,,, biarpun mak lampir tapi selalu mengerti lo”, ucap Kiara.
“Eh tadi Kiara bilang lo deketin cewek tomboy yang jago karate.. kalau gitu lo ikut di karate club yang sama dengan tuh cewek”, Naz memberi saran.
“Hah,, karate,,? Berkelahi dong,,,,? Emmmm,,, kalau ikut gituan nanti kuku aku bakalan kegores- gores atau patah gak ya? tangan aku bakalan kasar gak ya”, Andes benar- benar anak mami.
“Gak akan Des,, gue jamin”, ucap Kiara yakin.
“Serius?", tanya Andes.
“Iya,, serius,, kuku lo gak akan patah atau kegores- gores,, palingan minimal lo patah tulang”, ucap Kiara.
“Hhaahahhahaha”, semua orang menertawakan Andes.
“Itu sih lebih parah,,,”, cicit Andes.
“Hssshhhh,,, aww”, Naz terdengar meringis, lalu mengusap perut buncitnya.
“Kenapa Naz?”, tanya Kiara.
“Anak gue nendang,,, kayaknya dia juga ikut menertawakan lo deh, Des”, ucap Naz.
“Wahh,,, itu gimana rasanya Naz? sakit gak?”, tanya Ruby penasaran.
“Enggak sakit,, cuman kalau gerakannya kuat suka terasa ngilu gitu,, makin ke sini gerakannya makin sering,, tapi kata dokter kalau dia akti itu bagus,, “.
“Gak bisa ngebayangin gue,, dalam perut ada yang gerak- gerak gitu,,, emang wanita itu ajaib ya.. ”, ucap Ruby.
“Emangnya laki- laki gak ajaib apa? Kan kalau bukan karena laki- laki,, mana mungkin bisa ada bayi dalam perut wanita”, Andes protes.
“Wuhhhhh… dasar lo, korban video biru,, tahu aja cara laki- laki menghamili wanita”, Kiara ngatain.
“Hehh,, itu tuh edukasi tahu,,, biar udah nikah nanti gak kaget, dan udah tahu caranya”, Andes tak mau kalah.
“Cihhh,,, mending prakteknya sesudah nikah,, gimana kalau pas abis nonton video biru lo jadi merangsang,,?? yee…”, ucap Ruby.
“Hahahahhaa…..", ketiganya kembali menertawakan Andes.
__ADS_1
“Lagi pada ngomongin apa nih,, kayaknya seru banget,,”, Arfin tiba- tiba datang dan masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka itu.
“Ini nih Kak Arfin,, Andes lagi otewe punya gebetan”, jawab Ruby.
“Wah,, masa,,, gebetannya cewek apa cowok, Des…”, tanya Arfin.
“Tuh kan Kak Arfin juga menanyakan hal yang sama”, Ruby merasa ada pembela.
“Besok saja kalian lanjutkan obrolannya ya,, ini udah jam sembilan lebih,, Bumil nya harus segera istrirahat dan gak boleh tidur kemalaman”, Arfin ternyata datang untuk mengajak istrinya beristirahat.
“Oke,,,, “, ucap ketiganya serentak.
“Yasudah,, gue duluan ya,,,”, Naz bersama suaminya beranjak keluar lalu masuk ke kamar mereka.
“Aku ke kemar mandi dulu ya, kebelet,,”.
“Iya,, hati- hati, sayang,,,”.
Setelah bererapa saat, Naz pun keluar dengan tangan kanan yang mengusap perut, sedangkan tangan kirinya menahan pinggang.
“Kok lama sayang?”, Arfin baru selesai bebenah seperti biasa meletakan beberapa bantal untuk Naz tidur, agar ia merasa nyaman.
“Pengen pup tapi, gak keluar”, Naz terus mengusap perutnya.
“Loh kenapa? Perasaan dari pagi kamu makan buah sama sayur,,malahan gak makan nasi”, Arfin merasa heran.
“Enggak tahu,, besok aja lah”.
“Yasudah,, kita tidur yuk”, Ajaknya dan Naz pun naik ke atas tempat tidur dan berbaring di tempat yang sudah dibenahi Arfin.
Seperti biasa Arfin mengajak bayi dalam perut Naz bicara yang diakhiri ucapan selamat malam, ia pun mengelus- elus perut buncit istrinya hingga ia tertidur.
Beberapa kali Naz terbangun dan pergi ke kamar mandi, hingga subuh tiba ia kembali ke kamar mandi, dan kemudian shalat berjama’ah bersama suaminya.
**
Setelah sarapan bersama, Arfin buru- buru pergi karena mengejar waktu untuk meeting di luar. Ternyata baru diketahui ada sedikit perubahan data, akhirnya ia meminta Uje ikut dengannya menggunakan mobilnya, jadi ia bisa mengerjakannya saat di perjalanan.
“Sayang,,, Mama pergi ke pasar dulu ya sama Mbak Jum,, mumpung masih pagi dan sayurannya pasti masih segar,, sekalian Mbak Jum mau beli bumbu- bumbu yang sudah pada habis katanya,,”, Bu Rahmi yang sudah rapi berpamitan pada Naz.
“Oh iya Ma,, semalam Mbak Jum udah bilang kok, dan tadi aku udah ngasih uang belanjanya… tapi Ma,, Uje nya ikut sama Aa,,, Mama gak apa- apa nyetir sendiri?”, tanya Naz.
“Enggak usah,,, Mama naik taksi online saja,, takut nyasab ahh,,, biar gak usah ribet parkir segala macam,,, hehehe.. ”, Bu Rahmi menolak membawa mobil, kemudian memeriksa ponselnya," Mama pergi dulu ya, itu taksinya sudah ada di luar ", beliau pun pamit.
“Yasudah,, hati- hati ya Ma”, ucap Naz.
Naz kemudian bangkit dan ia masuk ke kamar mandi, sementara ketiga sahabatnya pergi ke ruang tengah untuk menonton televisi .
Setelah beberapa saat ia pun ikut bergabung, namun 20 menit kemudian, ia kembali ke kamar mandi, dan itu terjadi empat kali.
“Naz,, lo kenapa sih? Perasaan dari tadi bolak balik ke kamar mandi terus deh”, tanya Kiara merasa aneh.
“Perut ku mules,, pengen pup,, tapi gak keluar- keluar”, Naz terus mengusap perutnya lalu duduk.
“Ohh,,, Apa,,,,? mules? Lo mules Naz”, Kiara terkejut.
“He eum…”, Naz mengangguk.
“Tunggu.... lo mules pengen pup tapi gak keluar,,, loh kayak kakak gue dulu itu pas mau lahiran”, Ruby teringat pengalaman kakaknya.
“Apa,,,??”, Kiara kembali terkejut.
“Jangan- jangan kamu mules karena mau melahirkan Naz”, Andes menyimpulkan.
“Hah,, masa sih ?”, Naz terkejut dan bingung mendengarnya, “Aduh,, perut gue mules lagi”, Nan mengusap perutnya.
“Hah,,, mules lagi?? wahh beneran ini mah,, kayaknya lo mau lahiran Naz,, guys ayo cepat kita anatar Naz ke rumah sakit”, Ruby menjadi panik.
“Iya ayok ayok…”, Kiara pun sama halnya.
“Mau naik apa kita ke rumah sakitnya,, sopir gue gak ada,, aduh gimana ini perut gue mules”, Naz juga menjadi panik.
“Yaelah Naz,, sopir lo gak ada tapi kan ada mobil noh di depan,, si Kiara bisa nyetir”, ucap Ruby.
“Ayok ayok ,,, kita bawa ke rumah sakit…”, Kiara semakin panik.
“Tunggu,, minta Mak Retno ambilkan perlengkapan pakaian bayi di kamar bayi sebelah kamar gue”, titah Naz.
Ruby segera memanggil Mbak Retno dan mereka pun membawa pakaian bayi yang sudah dipacking pada dua tas yang tersedia di sana.
“Ambilin tas sama ponsel gue di kamar gue,, itu kunci mobil ada di laci”, titah Naz lagi yang sedang duduk di sofa sambil menahan mules yang disrasakannya. Andes membantu mengambilkannya.
“Gue ganti baju dulu, masa keluar pakai kolor gini,, kalian bawa Naz ke mobil ya”, Kiara bergegas ke kamarnya unuk berganti pakaian, Ruby pun mengikutinya karena ia juga mau ganti baju.
Andes mengambil kunci mobil lalu keluar, di ikuti oleh Mbak Retno membawakan tas Naz dan juga tas perlengkapan bayi.
Setelah memasukan tas ke dalam bagasi, Mbak Retno membukakan pintu gerbang lalu masuk ke dalam mobil bersama Andes, keduanya duduk di jok penumpang.
Tak lama Kiara yang berlari keluar rumah bersama Ruby langsung masuk ke dalam mobil, Kiara menyalakan mesin mobilnya, kemudian melajukan mobilnya.
Kini mobil yang dikendarainya sudah keluar komplek perumahan dan memasuki jalan raya.
“Naz,, ke rumah sakit mana ini?”, Tanyanya tanpa menoleh ke belakang, “By,,lo nyalain google maps,, gue kan gak tahu jalan “.
“Siap,,,”, Ruby mengeluarkan ponselnya lalu membuka google maps.
"Naz rumah sakit apa namanya?”, tanya Ruby, namun tak mendapatkan jawaban. Ia pun menengok ke belakang,” Naz, kita mau ke rumah sakit man___ ehh Naz mana?”, Ruby yang terkejut tidak melihat keberadaan Naz tak melanjutkan perkataannya.
Andes dan Mbak Retno mengarahkan pandangan kesana kemari sampai ke jok belakang,,
“Loh Naz mana, Mbak?” Andes malah balik bertanya.
“Lah,, ndak tahu toh,, kirain tadi sama Mbak Kiara dan Mbak Ruby “, Mbak Retno pun tak tahu.
“Loh,, kan kita tadi ganti baju dulu, terus langsung ke mobil, kirain Naz sama kalian tadi masuk ke mobil“, Ruby malah kembali melempar.
“Tadi kan kita bawa tas Naz dan tas perlengkapan bayi,,, kirain Naz sama kalian,,,",Andes ternyata salah mengira.
"Oh ya ampun... Naz ketinggalan",Andes menepok jidatnya.
“Apa???”, cekiiiittttt…. Kiara langsung menginjak rem mandadak.
“Astaga naga,, gimana sih kalian ini?,,, kenapa Naz ditinggal? yang mau melahirkan kan dia,, kalian semua pada gila apa ya”, Kiara langsung marah- marah.
“Kita semua panik Ra,, jadinya Naz ketinggalan di rumah kayaknya ", ucap Andes dengan polosnya.
" Andessss ....!!!!!! ", Kiara dan Ruby meneriaki Andes karena keaal.
__ADS_1
----------- TBC -----------
Happy Reading....