
Masih Flashback
“Naz,,, apa kamu berharap untuk kembali lagi bersamanya?”, tiba- tiba Tante Hinda melontarkan pertanyaan itu.
Aku terkejut mendengarnya, dan aku merasa malu untuk menjawabnya, karena sesungguhnya itu adalah keinginan terbesarku saat ini, namun ada rasa takut dalam diriku, takut akan penolakannya lagi, “Tapi Tante,,, Kak Arfin nya sendiri bagaimana?”, aku balik bertanya.
Tante Hinda pun mendadak terdiam, seolah tak mampu menjawab pertanyaan ku, beliau terlihat menghela nafas panjang, lalu tersenyum, “Jika kamu berharap untuk kembali bersamanya, Tante akan membantu mu, karena Tante tahu kalian masih saling mencintai satu sama lain dan hanya kamulah yang bisa membantu Arfin untuk sembuh,,, dia pasti akan melakukan apa pun demi memenuhi permintaan gadis yang sangat dicintainya,,, Akan tetapi, sebaiknya kamu pikirkan dulu baik- baik soal ini,, Tante juga tidak mau jika kamu terluka lagi dan berpikiran kalau Tante hanya memanfaatkan kamu, tapi sungguh niat Tante hanya ingin mempersatukan kalian kembali seperti dulu”, ucap Tante Hinda sambil menggenggam tanganku.
Aku terdiam merenungkan perkataan Tante Hinda, di satu sisi aku ingin kembali bersamanya dan membantunya untuk bisa sembuh, di sisi lain aku takut akan penolakannya lagi.
“Tapi Tante,,, aku ini kan seorang perempuan, masa iya harus mengejar- ngejar dia,, apa itu tidak terlalu memalukan? Aku takut kalau dia malah menolak”, ucapku berterus terang tentang yang aku pikirkan.
“Jika kamu bersedia, Tante punya rencana untuk kalian, yang justru akan membuat dia yang mengejar- ngejar kamu dan mengakui perasaannya serta semua kebohongannya selama ini,, bagaimana?”, Tante Hinda kembali menawarkan sesuatu yang membuat aku tergiur, tapi aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaan beliau, karena aku masih belum yakin.
“Tante tahu ini hal yang sulit bagimu, dan sebaiknya kamu pikirkan matang- matang supaya kamu tidak ada penyesalan kedepannya,,”, ucapnya tersenyum padaku, “Kalau begitu Tante pamit dulu ya,,, nanti kalau kamu sudah mengambil keputusan, kamu hubungin Tante saja,,,Maaf sudah menganggu waktu mu”, Tante Hinda pun mengakhiri pembicaraan kami dan berpamitan untuk pergi, kemudian beliau pun berdiri. “Oh iya,, Tante minta nomor kamu,,, ternyata nomor yang dulu sempat Tante hubungi, ponselnya ada di rumah Arfin”, ucapnya dan membuatku kaget.
“Hah,,, ponselku di rumah Kak Arfin? Maksudnya?”, tanyaku heran.
“Iya,, itu ponsel mu yang kembaran sama ponselnya Arfin ada di rumahnya,, dulu katanya ponsel kamu itu sempat ketinggalan di jok mobil saat kamu diantarkan pulang oleh sopir kantor,, itu lohh saat Tante menghubungi mu karena Nala menangis,,,, Dan saat ke kantor lagi sopirnya memberikan ponsel mu itu pada Arfin saat bertemu di kantor,, dari situlah Arfin selalu memutar rekaman video kebersamaan kalian saat di Bandung katanya ya”, Tante Hinda menjelaskan panjang lebar.
“Oh,, jadi ponselku itu ketinggalan di mobil,, aku pikir hilang dan terjatuh saat aku ke toko buku”, ucapku sambil mengingat- ingat.
“Iya,,, kalau begitu mana nomor mu yang sekarang? Nih masukin ke kontak ponsel Tante”, Tante Hinda menyodorkan ponselnya padaku, lalu aku pun memasukan nomorku dan menyerahkannya kembali pada beliau, “Terimakasih ya,,, udah di miscall yaa,, itu nomor Tante,, kalo begitu Tante pamit ya,,,”, ucap beliau, lalu aku pun mencium tangannya dan mengantarkan ke depan pintu.
Aku menyenderkan tubuhku pada pintu yang masih terbuka dan terdiam sejenak memikirkan perkataan Tante Hinda yang akan membantuku untuk bersatu kembali dengan Kak Arfin, kemudian teringat sesuatu akan tujuanku datang ke kama ini. “Yassalam,,, Papa dan yang lainnya pasti menungguku di kolam renang”.
Aku pun kembali masuk ke dalam kamar untuk membawa ponsel dan power bank, dan saat aku melewati cermin, aku tak sengaja melihat mataku yang nampak agak bengkak dan merah, serta wajahku yang berantakan karena habis menangis tadi. Kemudian aku pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahku, namun mataku kelihatan sekali habis menangis dan tidak mungkin aku menemui mereka dalam keadaan seperti ini, pastinya akan timbul berbagai pertanyaan. Lalu aku teringat dengan kacamata hitam milik Dinda yang ada di dalam koperku, aku pun keluar dari kamar mandi dan mengambil kacamata itu dari dalam koper dan langsung ku pakai, setidaknya bisa menyembunyikan mataku yang carindul dari kedua orangtua dan kedua saudari ku.
Kemudian aku turun dan kembali ke kolam renang,,, syukurlah mereka tidak banyak bertanya dan mencurigai ku yang pergi terlalu lama,, cukup aku memberikan alasan ada urusan, mereka pun tak bertanya lagi.
Setelah selesai dengan kegiatan di kolam renang, walaupun aku tidak ikut nyebur karena tidak bisa berenang juga masih trauma setelah tenggelam kemarin, kami pun kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan setelah bersiap kami pun pergi jalan- jalan ke beberapa tempat wisata hanya untuk berfoto- foto doang, kemudian kami berbelanja oleh- oleh. Awalnya aku begitu menikmati kebersamaan kami, namun saat dalam perjalanan pulang ke hotel tempat kami menginap, aku teringat perkataan Tante Hinda dan terus memikirkannya. Bahkan saat sampai di hotel pun aku tak berhenti memikirkannya.
Kami mengemasi barang- barang karena akan segera pulang ke Jakarta dengan penerbangan dua jam lagi, namun saat akan menaiki mobil menuju Bandara, aku mengurungkan niat ku untuk ikut pulang. Aku meminta meminta izin pada orang tuaku,, awalnya mereka tak mengizinkan, namun aku terus merengek dan akan pulang bersama Bunda nantinya,, akhirnya mereka pun mengizinkanku.
Aku kembali ke lobi setelah mobil yang akan mengantar mereka ke bandara berangkat meninggalkan hotel. Aku menghubungi Tante Hinda, dan beliau bilang akan mengirim seseorang untuk menjemput ku dan bertemu dengan beliau di suatu tempat. Setelah menunggu beberapa saat Tante Hinda mengirim pesan, kalau yang menjemput ku sudah sampai di depan hotel, lalu aku berjalan keluar dengan menyeret koperku sambil melamun, “Apakah keputusan yang ku ambil ini sudah benar ? apa aku siap untuk bertemu dengannya lagi setelah kejadian kemarin? Argh,, kan aku sudah tahu kalau saat itu dia berbohong”, gumam ku dalam hati.
“Mbak,, awas,,, !!”, seseorang berteriak dan menarik tanganku kemudian kami terjatuh bersamaan.
“Aww,,,” aku meringis karena sikut ku terasa sakit lalu mengusap- usapnya. Terdengar seseorang pria memaki ku karena ia hampir menabrak ku dengan sepeda motornya, kemudian aku dan pria yang menolongku pun berdiri.
“Mbak gak apa- apa?”, tanya orang itu padaku.
“Enggak apa- apa mas,,, “, ucapku menunduk sambil mengusap- usap sikut ku yang masih terasa sakit, “Maaf maaf tadi saya sedang melamun,,,terimakasih Mas,, saya permisi”, ucapku pada kedua pria itu lalu aku beranjak pergi, dan setelah beberpa langkah berjalan, salah satu dari mereka kembali memanggilku.
“Mbak,,, mbak,,, tunggu,,,”, ucapnya dan aku pun menghentikan langkahku,, orang itu menghampiriku.
“Maaf,, apakah anda Mbak Rheanazwa?”, tanyanya.
“Iya,, saya,, ada apa ya?”, jawab ku, lalu bertanya.
“Saya Lutfi,,, dan saya diminta oleh Bu Hindayanti untuk menjemput lalu mengantarkan Mbak Rheanazwa menemui beliau,”, ucapnya memperkenakan diri serta mengatakan maksud dan tujuannya, namun aku tidak percaya begitu saja pada orang itu, “Kalau Mbak tidak percaya, ini silahkan lihat percakapan saya dengan Bu Hindayanti, dan beliau pun mengirim foto Mbak untuk memudahkan saya mencari Mbak disini”, ucapnya sambil memperlihatkan chatingan nya dengan Tante Hinda di layar ponselnya, barulah aku percaya.
“Baiklah,, saya kan ikut dengan Anda”, ucapku dan ia pun mengajak ku masuk ke dalam mobilnya, kemudian ia pun melajukan mobilnya.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, kami tiba di sebuah restoran dimana tempat Tante Hinda menunggu. Kami pun masuk lalu menemukan keberadaan Tante Hinda dan kami menghampiri beliau. Aku menyalami dan mencium tangan beliau, kemudian duduk di kursi sebelah beliaum sedangkan pria itu duduk berhadapan dengan kami hanya terhalang oleh meja.
“Terimakasih Naz,,,, Tante senang sekali,,, akhirnya kamu mengambil keputusan ini,,, ohh iya, orang yang menjemputmu itu namanya Lutfi, dia partner kerja sekaligus orang kepercayaan Arfin,, dan dialah yang akan membantu kita untuk menjalankan rencana nanti,,,”, ucap beliau memperkenalkan orang itu.
“Apa? Rencana? Rencana apa Bu? Sebelumnya Ibu tidak memberitahukan apa- apa pada saya?”, pria bernama Lutfi itu nampak terkejut dengan apa yang dikatakan Tante Hinda.
“Kalau saya ngomong dari awal, kamu pasti akan menolaknya,,, jadi lebih bail dengarkan saja apa yang akan saya katakan,, dan Lutfi perkenalkan juga inilah Rheanazwa yang membuat bos mu itu tergila- gila sampai hampir gila,, hahaha”, Tante Hinda pun memperkenalkan diriku pada pria itu.
“Kalo boleh tahu rencana apa Tante?”, tanya ku penasaran.
“Jadi gini,,, Tante berencana membuat Arfin cemburu supaya dia menyesal telah meninggalkanmu dan membuatnya mengakui semua yang disembunyikannya selama ini padamu, tanpa kamu harus mempertanyakannya lagi”, Tante mulai memaparkan rencananya.
“Membuat cemburu bagaimana maksudnya?”, tanyaku lagi.
“Jadi nanti kamu pura- pura dekat dengan Lutfi atau pura- pura pacaran dengan Lutfi”, ucap beliau.
“Apa???”, tanyaku bersamaan dengan pria yang bernama Lutfi itu.
“Jangan gila Bu,,, Arfin bukan hanya akan menendang saya dari perusahaan, bahkan dia akan membunuh saya,,,,, Aduh Bu,,, saya udah punya rencana mau menikah tahun depan,,, bisa bahaya kalo saya mati muda sebelum merasakan indahnya pernikahan”, Orang itu langsung memprotes.
“Iya Tante,,, apakah ini tidak terlalu ekstrim,,,? dan lagi Pak Lutfi ini kan orang kepercayaannya, berarti orang terdekatnya,,, dia pasti akan sangat marah bukan cemburu lagi,,, dulu saja Bang Evan sempat mendekati saya, sampai dihajar sama dia,,, apa tidak ada rencana yang lain?”, Aku pun ikut protes.
“Apa…??? Tuh kan Bu,,, kakaknya saja sampai dihajar,, apalagi saya yang cuman bawahannya,,, benar- benar dibunuh saya nanti, Bu”, ucapnya malah menjadi takut.
__ADS_1
“Aduh,,, kalian tuh ya,, saya sudah memikirkan matang- matang tentang hal ini,, tenang saja Lutfi saya akan melindungi kamu, lagian yang mempekerjakan kamu itu kan suami saya, jadi Arfin tidak akan bisa memecat kamu walaupun kamu di mutasi ke sini untuk menjaganya. Saya janji kalau ini berhasil, saya akan memberikan bonus buat kamu,,, pokoknya kamu tenang saja dan ikuti aturan mainnya, ok”, Tante Hinda terus meyakinkan Pak Lutfi.
“Bener ya Bu,,, saya aman,,, Arfin gak akan melukai saya sedikit pun?”, tanyanya meyakinkan.
“Iya,, saya pastikan,, ya paling kamu di omelin sama dia paling parah mungkin di tonjok,,, hahaha”, Tante Hinda malah menakutinya.
“Tuh kan Bu,,, saya gak mau ah,, saya takut,,, Arfin kalau sudah murka sangat menyeramkan, udah kayak singa ngamuk”, ucapnya yang jadi menolak.
“Terserah kamu sih,,, kalau kamu menolak saya akan minta suami saya memecat kamu tanpa pesangon sepeser pun,, memangnya gak sayang apa sudah kerja di perusahaan suami saya selama 5 tahun dipecat gitu aja?”, ancaman pun akhirnya dikeluarkan.
“Ya Tuhan, ini mah maju kena mundur apalagi,, nyungseb,,,, huft,,, iya deh saya brsedia Bu,, tapi bener ya saya aman?”, akhirnya dia menyerah dan megikuti rencana Tante Hinda, mungkin pikirnya daripada dipecat mending dihajar... yassalam ibu dan anak sama- sama suka ngancam.
“Iya”, jawab Tante Hinda.
“Saya gak akan dipecat kan Bu?”, tanyanya lagi.
“Iya”.
“Saya dapat bonus mobil kan Bu?”, Pertanyaan jebakan.
“Iya”.
“Yess,,, dapat bonus mobil”, berhasil menjebak.
“Enak saja,,, ini sih pemerasan namanya,, enggak engak enggak,,, saya akan kasih kamu 50 juta kalau berhasil,, lumayan kan buat nambah- nambah beli maskawin kamu nanti”, Tante Hinda ngegas saat menyadari ia dijebak.
“Tambahin dikit ngapa, Bu?”, tawar menawar kayak dipasar.
“50 juta atau tidak sama sekali”, Tante Hinda langsung menegaskan, seperinya tidak mau terjebak kedua kalinya.
“Oke oke,,, siapp,,,, cuman pura- pura deket aja kan?”, Dia terus bertanya yasalam.
“Iya,, lagian kalo dekat beneran Naz juga gak akan mau kali,, orang Naz cintanya cuman sama anak saya,, awas aja kalau kamu berani deketin Naz beneran,,, bukan Arfin yang akan membunuhmu,, tapi saya sendiri,,, khrekk”, ucap Tante Hinda sambil melotot dan melintaskan tangan ke lehernya seolah memotong leher.
“Oke Bu Boss”, ucapnya lagi.
Mereka terus berbicara berdua seolah tak menghiraukan keberadaanku dan meminta pendapatku,
“Tahu gitu tadi aku gak usah ikutan ketemuan disini dengan mereka”, aku menggerutu dalam hati.
Aku berpikir sejenak mengenai rencana yang agak gila itu juga dampaknya terhadap Kak Arfin, “Emmm,,, Tante,, aku takut hal ini akan menyakiti perasaannya,, apalagi aku pura- pura dekat dengan orang kepercayaanya,, itu akan melukai hatinya”, ucapku yang tak tega harus menyakitinya lagi setelah mengetahui penderitaanya selama ini.
“Anggap saja ini sebagai pembalasan karena dia juga sudah menyakitimu dengan berpura- pura pacaran dengan orang lain,,, terkadang jika kita ingin menyadarkan seseorang, harus bisa tega padanya, Naz”, Tante Hinda terus meyakinkanku.
“Tapi Tante, gak baik jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan lagi,, walaupun dia pernah menyakitiku tapi aku tidak mau membalas menyakitinya,, selama ini dia sudah sangat menderita, Tante”, ucapku lalu menundukkan kepala.
Tante Hinda tesenyum dan mengusap kepalaku, “Sekarang Tante tahu kenapa Arfin begitu mencintai kamu dan sulit untuk melupakan mu,,, karena kamu benar- benar berhati lembut dan tulus ,, itulah alasan Tante begitu yakin bahwa kamu akan memaafkan Arfin dan kembali lagi padanya,,, karena Raline saja yang selalu menyakitimu sejak kecil mampu kamu maafkan,,, juga Jeng Rahmi yang tak pernah bersikap baik padamu pun kamu memaafkannya,,,,, Tenang saja Naz, kita tidak akan menyakiti Arfin,, kita hanya akan membuatnya cemburu hingga ia akan kembali berjuang untuk mendapatkanmu, karena perlu ada orang ketiga untuk menydarkannya agar ia mengungkapkan semua yang disembunyikan darimu, percayalah,,,”, ucap beliau mengangkat wajahku lalu mengelus pipiku sambil tersenyum, dan aku pun mengagguki permintaanya serta menyetujui rencananya.
“Baiklah,,, sudah deal ya semuanya,, nanti saya akan atur pertemuan kalian seolah tidak sengaja,,, tapi untuk kapan waktunya saya akan mengabari kalian lagi,,, soalnya saya harus segera ke Bandara karena Arfin tahunya saya kesini dengan penerbangan sore,, padahal sejak pagi sudah ada di sini,,, hehe… oh iya Lutfi, tolong kamu antarkan Naz ke rumahnya Pak Purnomo Aji, Naz ini keponakan istrinya,, dan sekarang kamu ambil dulu mobilmu dari parkiran ya, jadi nanti Naz tinggal naik di depan”.
“Baik Bu,,, saya permisi”, Pak Lutfi pun bergegas melaksanakan perintah Tante Hinda.
Setelah kepergian Pak Lutfi, Tante Hinda kembali berbicara padaku, “Naz,, bolehkah Tante meminta sesuatu dari mu?”.
“Emmm,,, apa Tante?, aku balik bertanya.
“Tolong kamu rahasiakan penyakit Arfin dari siapa pun, termasuk dari kedua orang tua mu,, karena itu adalah aibnya,,, “, ucap Tante Hinda penuh harap.
Aku mengangguk sambil tersenyum, “Iya Tante,,, aku gak akan bilang ke siapa- siapa kok”, ucapku yakin.
“Dan satu lagi,,, jangan panggil Tante lagi ya,,, panggil Mami kayak dulu lagi,,,”, ucapan beliau membuatku senang dan serasa tidak ada jarak padi diantara kami.
“Iya,, Tan,,, ehh Mami,,, hehe”, ucapku mulai memanggilnya Mami.
“Terimakasih sayang,,, “, ucap beliau yang kemudian memelukku, “Semoga rencana kita berhasil, dan kamu bisa bersama lagi dengan pria yang kamu cintai itu, Naz.”,, ucapnya lagi, lalu melepaskan pelukannya dariku, dan kami pun berpisah di depan restoran tersebut, aku pulang ke rumah om Aji diantarkan Pak Lutfi, sedangkan Mami pergi ke bandara naik taksi.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, kami tiba di depan pintu gerbang rumah Om Aji dan aku pun segera turun dari mobil, “Terimakasih Pak Lutfi”, ucapku tersenyum.
“Sama- sama,,, jangan panggil Bapak ih,, kesannya saya sudah tua,,, panggil Mas Lutfi saja ya”.
“Iya Mas Lutfi,, saya masuk dulu,,, sekali lagi terimakasih”, ucapku lalu ia pun kembali melajukan mobilnya, sedangkan aku memasuki pintu gerbang, di depan rumah aku bertemu dengan Bunda dan mengajaku kembali ke rumah Kak Arfin, sebenarnya aku sempat ragu, dan akhirnya aku bersedia.
Saat di rumah Kak Arfin aku sengaja bersembunyi karena merasa belum siap bertemu dengannya, namun gara- gara aku kehausan tengah malam dan dalam kondisi masih memakai mukena pergi ke dapur untuk minum, eh malah kepergok sama dia,, dikira maling lagi. Tiba- tiba jiwa usil ku meronta- ronta dan aku pun menakutinya dengan berpura- pura jadi kuntilanak dengan wajahku di bedaaakin tepung maizena yang ada di kulkas, namun naas aku malah didatengin hantu beneran, dan langsung lari ke kamarku dalam keadaan gelap karena semua lampu dimatikan, kecuali di luar rumah. Ternyata tanpa ku sadari Kak Arfin pun malah bersembunyi di ranjang ku, dan kami sama- sama terkejut. Tiba- tiba aku ingat pembicaraanku dengan Mami, kalau dia akan membuatku tersiksa di ranjang,,, hahaha. Jadilah ketahuan kalau aku ada di rumahnya.
Selama dua hari aku bangun subuh lalu beberes dan masak, kemudian paginya langsung ke rumah Om Aji dan kembali lagi sore, lalu memasak lagi untuk si dia yang kucinta, ea ,,, Dan Mami menjalankan rencananya untuk malam rabu ini. Mami menyuruh Mas Lutfi mengantarkan dokumen pada Arfin dan memintaku mengantarkan minuman dan kue padanya, dan saat itulah rencana dimulai.
Entah mengapa aku pun begitu menikmati sandiwara itu saat melihat raut wajahnya yang memerah karena cemburu, bahkan setelah kepulangan Mas Lutfi, aku mengacuhkan dan tak memperdulikannya yang ingin bicara denganku, aku pun masuk ke dalam kamar. Mami yang sempat pura- pura masih membuat kue padahal sudah ada di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Kak Arfin.
__ADS_1
Setelah bebrapa saat, tiba- tiba Mami mengirimkan ku pesan.
Mami Camer
“Target sudah mulai memakan umpannya,, sekarang dia ada di depan pintu kamar mu,,, Mami akan menelpon mu dan kamu bicara dengan keras ya biar dia bisa dengar,, dan buat seolah- olah kamu sedang bicara dengan Lutfi, oke😉”
Aku
“Oke 👌😉”
Aku cekikikan sendiri dan Mami langsung menelponku.
“Hallo,,, Assalamu,alaikum,, dengan siapa ini”, ucap ku pura- pura.
“Hihihihihi,,, tinggikan suaramu”, Mami cekikikan tapi suaranya terdengar seperti sedang berbisik- bisik.
“Oh,, iya,, iya”, aku pun menambah volume suaraku.
“Mami lagi ngeliatin dia dari dari balik pintu yang sedikit dibuka, kayaknya dia keinget terus deh sama kejadian tadi”, ucap Mami masih berbisik.
“Hahaha,,, oh ya,,, masa sih sampai keinget terus gitu?”, ucapku tertawa.
“Iya,,, sudah terpancing dia, tadi udah mau pergi tuh, tapi balik lagi, kayaknya dia penasaran dengar kamu ketawa tadi”, Mami si pengintip terus melapor.
“Ternyata aku bisa bikin penasaran ya”, ucapku lagi.
“Iya dong,,,ini baru awalnya saja dia sudah kebakaran jenggot,, gimana nanti kalau kita sudah masuk ke tahapan selanjutnya”, Mami ternyata berbakat jadi sutradara.
“Iya betul juga sih harus bertahap,, perlahan tapi pasti,,, ternyata menyenangkan juga ya,, hehehe”, ucapku membayangkan raut wajah si dia yang kesal.
“Iya lah,,, nyiksa orang cemburuan tuh sangat menyenangkan,, tuh tuh dia sampe menempelkan telinganya ke pintu kamar mu untuk menguping lebih jelass kayaknya”, mami kembali melapor pergerakan si dia.
“Wah,, seriusan,,, yang bener ah,,aku gak percaya ah”.
“Sudah dulu ya, nanti Mami bisa ketahuan lagi ngintipin dia yang juga lagi ngintip,, hahaa”, ucap Mami yang langsung mematikan sambungan telponnya.
Otak jahil ku kembali meronta-ronta, aku pun mendekat ke arah pintu kamar yang belum dikunci, lalu aku membuka secara mendadak dan menariknya hingga dia ikutan terdorong masuk sampai jatuh tersungkur karena tubuhnya yang menempel ke pintu. Sesungguhnya aku ingin tertawa sambil jingkrak- jingkrak, namun aku menahannya dan pura- pura marah padanya karena sudah mengintipku.
Lalu Mami datang pura- pura menanyakan apa yang terjadi, dan beliau menyalahkan Kak Arfin sampai mengancamnya agar tidak menyakitiku, kemudian ia pun beranjak pergi ke kamarnya dengan raut wajah marah karena sampai menjebredkan pintu kamarnya. Aku dan Mami saling berpandangan dan tersenyum puas.
Flashback off
“Begitulah duduk perkaranya, Aa sayang”, ucapku yang selesai menceritakan semuanya pada Kak Arfin.
Dia melepaskan lengannya yang sempat melingakar di pinggangku yang duduk bersebelahan dengannya lalu merenggangkan tubuhnya dariku ,“Jadi kalian semua sudah merencanakannya untuk mengerjaiku? Kalian benar- benar,,,,,”, dia sudah mulai nge’gas dan aku langsung memotong perkataannya.
“Eits,,, eits,,, udah janji kan gak akan marah”, ucapk mengingatkan janjinya sebelum aku bercerita, kemudian dia menghela nafas kasar dan membuang muka ke arah kanannya seperti sedang merajuk.
“Ihh,, ngambek,,, jeyek banget kalo ngambek gitu ihh”, ucapku merayu sambil mencolek pipinya, namun ia tak bergeming,, “Sayang,,, iihh,, kan udah janji gak akan marah,,,”, aku terus membujuknya.
“Yaudah deh kalo Aa masih marah gini, mending aku pulang aja”, kini aku yang merajuk pura- pura pundung. Aku menurunkan kedua kaki ku dari atas ranjang dan hendak turun, namun ia malah menarik tangan ku dan kini posisi kami saling berhadapan.
“Mau kemana hemmm,,,??”, ucapnya menyentuh lalu mengangkat dagu ku.
“Mau menemui Mas Lutfi diluar, minta diantar pulang”, ucapku mengomporinya.
“Berani kamu ya menemuinya,,, aku akan menghukum mu,,,”, dia menatapku dengan tajam.
“Oh ya,, menghukum apa?”, ucapku melepaskan tangannya dari daguku.
“Yakin ingin tau hukumannya?”, tanyanya lagi merangkul pinggangku.
“Apa?”, tanyaku menantang, kemudian dia kembali menyentuh dan mengangkat dagu ku, matanya terus menatap mataku yang membuatku seolah terhipnotis terhanyut dalam suasana, jemari nya menyapu bibirku dengan lembut, perlahan wajahnya mendekat ke wajahku, semakin mendekat dan lebih dekat, ia pun memiringkan wajahnya, dag dig dug jantungku seakan berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang, aku membulatkan kedua bola mataku saat wajahnya hanya berjarak satu centimeter dari wajahku.
“Sedang apa kalian?”, suara itu mengejutkan kami berdua, dan aku pun langsung mendorong tubuhnya agar menjauh dariku, kemudian aku langsung turun dari ranjang dan berdiri tegak pura- pura memberesakan rambutku sambil melempar senyuman pada duo satpam cantik itu.
---------------- TBC -------------
***********************
Gagal maning gagal maning,,,,,,
Happy Reading,,,,
Jangan luva tinggalkan jejakmu….
Tilimikicih,, aylapyu oll….
__ADS_1