
Satu tahun telah berlalu, dan banyak hal yang terjadi selama itu, diantaranya pernikahan Dandy dan Arini yang dilangsungkan secara megah dua bulan setelah putusnya Naz dan Arfin, juga seminggu kemudian pesta pernikahan Nervan dan Maira digelar secara besar- besaran, setelah akhirnya mendapatkan restu dari sang kakek yang awalnya tidak setuju. Namun dengan bujukan orang tua beserta kedua kakaknya Nervan, ditambah dengan kehadiran Syanala mampu meluluhkan hati kakeknya. Maira yang sudah bisa melihat lagi dengan donor mata dari almarhumah Bude Hafsah sampai sekarang pun belum tahu tentang hal itu, karena semua orang merahasiakannya, yang ia tahu hanyalah mendapat donor dari seseorang yang telah meninggal dan saat masih hidup beramanat ingin mendonorkan bagian dari organ tubuhnya untuk yang membutuhkan. Dan meninggalnya Bude Hafsah pun diberitahukan saat Maira sudah benar- benar sembuh pasca operasi setelah perban di matanya sudah dibuka.
Raline pun sudah bisa menerima Bu Mira sebagai Ibu kandungnya dan sering menemui beliau, bahkan sesekali menginap di rumah beliau. Apalagi setelah Bu Mira sakit- sakitan, Raline sering menginap di sana untuk merawat ibunya sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Itu membuat Raline merasakan kesedihan yang mendalam termasuk Naz. Baru saja Raline berkumpul dengan ibu kandungnya, namun harus berpisah lagi untuk selamanya, dan sekarang Raline juga Elsa menjadi anak yatim piatu.
Naz yang sudah kembali menjadi gadis periang dan kini sudah mulai belajar dewasa serta tidak kekanak- kanakan lagi, bahkan kini ia sudah pandai memasak karena sering diajarkan oleh Mama nya, namun sifat tengil dan manjanya masih saja ada, mungkin itu sudah mendarah daging. Sementara Arfin menghilang bak ditelan bumi, sepertinya ia mengikuti keinginan Naz agar agar tidak menampakan dirinya lagi di hadapan Naz, bahkan saat pernikahan Dandy, sahabatnya pun ia tidak menghadirinya, sama halnya saat Nervan dan Maira melangsungkan pesta pernikahan, Arfin tidak menghadirinya juga. Tidak ada yang mengetahui mengetahui dimana keberadaan Arfin selain keluarganya dan mereka pun seolah menutupi keberadaannya, walaupun yang bertanya adalah Pak Syarief atau pun Bunda Anita.
Naz yang semenjak naik ke kelas tiga sudah tinggal bersama orang tua kandungnya, karena Ayah dan Bunda yang selalu sibuk dengan pekerjaannya masing- masing, sedangkan Naz butuh pembimbing dalam belajarnya untuk menghadapi UN kelak. Dengan alasan itulah Bu Rahmi yang hanya seorang ibu rumah tangga meminta dan membujuk Bunda utuk mengizinkan Naz tinggal bersamanya, dan Naz pun memberikan syarat ia bersedia tinggal di rumah orang tua kandungnya itu asalkan Elsa juga diizinkan tinggal di sana, sehingga ia pun bisa belajar bersama Raline serta Elsa. Namun tetap seminggu sekali Naz pun suka menginap di rumah Bundanya.
Hari minggu ini Naz bersama ketiga sahabatnya berkumpul di rumah Kiara untuk mengerjakan tugas sekolah dan seperti biasa bertempat di gazebo teras samping rumah Kiara. Setelah selesai mengerjakan tugas, Kiara membawa keponakannya yang baru bangun tidur ke gazebo tersebut. Namun di saat kakaknya datang membawa keponakannya kembali, Kiara membahas kejadian yang menyebabkan kakaknya itu hampir keguguran satu tahun yang lalu, dan Kiara keceplosan kalau saat itu ia bertemu dengan Nervan yang ternyata sedang menunggui Arfin yang sedang sakit. Itu membuat Naz terkejut dan mengingat kembali kejadian satu tahun yang lalu.
“Sakit..?? dia sakit..? sakit apa Ra ??”, tanya Naz terkejut.
“Gue gak tahu Naz,,, cuman tahu dia sakit aja, dan saat itu sudah dirawat selama tiga hari kata Bang Evan,,, ehh sorry Naz,,, gue gak bermaksud ngingetin lo sama dia”, ucap Kiara merasa bersalah.
Memori Naz seolah kembali ke masa itu, saat ia bertemu dengan Arfin di pemakaman dan saat ia bertemu di danau,
"Dia sakit ?? sakit apa?,,, pantas saat itu dia terlihat pucat,,, Astaga,,, apa itu alasan dia,,?? Enggak,,, gak mungkin,,,, gak mungkin”. Naz bergumam dalam hati sambil membekap mulutnya dan menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan sendiri.
“Naz,,,, Naz,,,, lo gak apa- apa kan??”, Kiara menggoyang- goyangkan Naz yang nampak melamun.
“Naz,, lo baik- baik aja kan?”, Ruby pun ikut khawatir.
Naz membuyarkan lamunannya, "Ra,,, kenapa saat itu lo gak bilang sama gue,,, kalo dia lagi sakit?”.
“Ya,,,, Waktu itu gue mau ngasih tahu lo,,, tapi omongan gue kepotong karena Bunda manggil lo saat itu,, dan pas lo bilang lo mau besuk ke rumah sakit, gue pikir lo mau jenguk dia”, Kiara menjelaskan sambil mengingat- ingat.
“Gue sama sekali gak tahu Ra,,, waktu itu gue ke rumah sakit mau jenguk almarhum Bude,,,”, ucap Naz yang masih merasa terkejut dan tidak percaya, “Pantesan aja waktu itu dia terlihat pucat,,, apa mungkin itu alasan dia tiba- tiba ngejauhin gue? Apa itu alasan dia gak mau nikah sama gue? Apa dia sakit parah Ra??” Ucap Naz menerka- nerka.
“Udahlah Naz,, gak usah mikirin dia lagi,,, orangnya juga udah ngilang ini,,, lo gak usah inget- inget masa lalu lagi,, mending mikirin masa depan lo aja deh,,, apalagi besok kan ujian semester,,, lebih baik lo fokus aja kesitu deh”, ucap Ruby yang tidak ingin melihat Naz kembali terpuruk.
“Iya Naz,, lebih baik kita fokus aja buat ujian besok,,, lagian ini tugas laporan perjalanan study tour kita udah beres lebih cepat dan tinggal di print…jadi habis ujian nanti kita bisa senang- senang”, ucap Kiara.
Kemudian ponsel Naz berbunyi menandakan ada pesan masuk, yang ternyata dari Pak Udin, “Guys,,, gue pulang dulu ya, Pak Udin udah di depan”, ucap Naz yang kemudian memasukan laptop ke dalam tas laptopnya, lalu berpamitan pada ketiga sahabatnya dan orang tua Kiara, kemudian ia pun pulang bersama Pak Udin.
Selama di perjalanan, Naz terus memikirkan tentang hal tadi,
“Apa mungkin dia sakit parah? Makanya dia lebih milih ninggalin aku daripada aku sedih jika mengetahuinya? Lalu kemana selama ini dia menghilang?,,, apa dia sudah meninggal??,,, Arghhh gak mungkin,,, kalau dia meninggal pasti Kak Dandy dan Mas Hardi tahu,,,, Arghhh,,, kenapa sih aku harus mikirin dia lagi”, Naz bergumam dalam hati.
Selama satu minggu ini Naz fokus pada ujian semesternya, namun setelah selesai, ia kembali teringat dengan pemikirannya tentang Arfin, karena rasa penasaran seolah terus menghantui dirinya. Ia merasa bingung harus bertanya pada siapa, sedangkan para sahabat Arfin saja tidak ada yang mengetahui keberadaan Arfin. Tiba- tiba terlintas ide gila di pikirannya untuk pergi ke rumah orang tua Arfin.
Karena hari ini sudah tidak efektif belajar, Naz pun pulang lebih cepat dari sekolahnya.
“Pak Udin, kita gak langsung pulang ya”, ucap Naz pada sang sopir.
“Oh iya Non, lalu kita mau kemana ?”, tanya Pak Udin yang baru saja melajukan mobil.
“Emmm,,,, kita ke rumahnya Om Latief ya,,, Pak Udin tahu kan alamatnya?”, ucap Naz.
“Saya tahu Non,, iya siap,,, ”.
Sebenarnya di hati Naz ada rasa dag dig dug, malu dan takut untuk pergi ke sana, karena ini kali pertama ia ke rumah itu lagi setelah satu tahun tak pernah ke sana lagi. Jangankan untuk menginjakan kaki di rumah itu, berkomunikasi dengan Bu Hinda pun tak pernah ia lakukan, seolah putusnya hubungan dengan Arfin maka putus pula komunikasi dengan keluarganya, baik itu dengan Bu Hinda atau pun Nervan, kecuali saat lebaran enam bulan yang lalu dan itulah terakhir mereka bertemu.
“Oh,,, yasalam,, apakah ini hal yang tepat,,,,? malu banget sebenarnya harus menanyakan hal ini pada Tante Hinda,,, tapi daripada aku terus kepikiran dan menerka- nerka yang tidak- tidak,,, mungkin ini lebih baik”, gumam Naz dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, Naz tiba di depan pintu gerbang rumah Pak Latief. Seperti biasa penjaga gerbang menanyakan identitas beserta tujuan datang ke rumah itu untuk bertemu dengan siapa, dan setelah diberitahukan barulah sang penjaga membuka pintu gerbangnya dan membiarkan mobil yang ditumpangi Naz itu masuk. Dan saat itu mobil Naz berpapasan dengan mobil yang hendak keluar.
Naz keluar dari mobilnya dan melangkahkan kakinya menuju teras rumah. Rasa deg-degan, nervous, takut, gelisah bercampur menjadi satu, bayangan masa- masa itu kembali hadir di ingatannya, masa dimana pertama kali ia dibawa ke rumah ini oleh Arfin tanpa tahu ini rumah orangtuanya, masa dimana ia diterima dengan baik oleh kedua orang tuanya, masa dimana ia belajar memasak dengan Mami nya Arfin. Senyuman pun solah menghiasi langkah- demi langkah yang ia lalui, Namun, rasa sedih pun muncul kala ia teringat saat terakhir kali dia ke rumah ini yang mengingatkannya tentang kejadian itu yang membuatnya seakan berat melangkah. Ia sempat berhenti saat hampir menginjakan kakinya di teras, namun ia kembali ingat dengan tujuannya.
“Tenangkan dirimu Rheanazwa,,, jangan baper,,, kau sudah tidak ada hubungan apa- apa lagi dengannya,,, ingatlah tujuanmu datang ke sini hanya untuk minta penjelasan, agar rasa penasaran mu bisa terjawab dan kau bisa merasa tenang “,ucapnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri. Naz menarik nafas panjang, lalu ia pun melanjutkan langkahnya, dan setelah sampai di depan pintu, ia pun menekan bel pintu rumah itu dengan tangan yang bergetar.
Ting nong,,,, ting nong,,,,, setelah dua kali ia memencet bel, kemudian ada yang membukakan pintu.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum Bi Darmi”, ucap Naz sambil tersenyum.
“Wa’alaikumsalam,,,, Non,,, Nona Naz,,,”, Bi Darmih menjawab salam dan merasa terkejut dengan kedatangan Naz.
“Bibi kenapa? Kok melihatku seperti melihat hantu begitu?”, tanya Naz merasa heran.
“Ahh,,, enggak apa- apa Non,,, mari silahkan masuk”, ucapnya mempersilahkan, dan Naz pun melangkah masuk ke dalam rumah tersebut, kemudian dipersilahkan duduk di ruang tamu. Naz terus menghela nafas panjang seolah menstabilkan perasaannya yang seolah terus terbayang masa lalu saat di rumah itu.
“Sebentar ya Non,,, Bibi ambilkan minum,,,,”, ucap Bi Darmih.
“Eh,, Bi,,, gak usah repot- repot,,, aku kesini mau bertemu dengan Tante Hinda, apa beliau ada?”, Tanya Naz.
“Nyonya... Emm,,, anu,,, emmm,,, Nyonya baru saja pergi setelah menerima telpon”, jawabnya terbata- bata.
“Pergi?? Apa mobil yang tadi berpapasan denganku?... kalo boleh tahu Tante Hinda pergi kemana ya Bi?”, tanya Naz lagi.
“Ma.. maaf Non,, Bibi tidak tahu”, jawabnya dengan gugup.
Naz yang melihat gelagat Bi Darmih yang aneh semenjak ia datang, ia pun merasa curiga, “Bi,,, kalau boleh tahu Kak Arfin sekarang ada dimana?”, Naz memberanikan diri menanyakan keberadaan Arfin.
“Sa,, saya,,, anu Non,,,saya tidak tahu, Non”, ucapnya dengan terbata- bata.
“Bi,,, Bibi jangan bohong,,,”, ucap Naz yang melihat Bi Darmih nampak gugup seperti itu, “Kalo Bibi gak mau ngasih tahu keberadaannya,,, kalo gitu tolong Bibi jawab dengan jujur,,, apa dia baik- baik saja? atau dia sedang sakit”, tanya Naz lagi.
“Emm,,, anu Non,, Den Arfin baik- baik saja, Non tidak usah khawatir”, Bu Darmin terus menjawab dengan gugup.
“Bi,, tolong Bibi jawab dengan jujur,,, dari tadi Bibi terlihat gugup seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh saya ketahui,,, iya kan??”, tanya Naz yang lalu berdiri menghampiri Bi Darmih.
“Eng,,, enggak ko Non”, jawabnya lagi.
“Bi,, tolong saya mohon,,, Bibi pasti tahu sesuatu kan,,,?? Bi,, apakah Kak Arfin sakit?”, Naz kembali menanyakan keadaan Arfin, namun ia tak mendapatkan jawaban dari Bi Darmih yang malah menundukan wajahnya dan diam membisu seolah merasa takut, lalu Naz memegang kedua tangan Bi Darmih, “Bi,,, tolong jawab, apa benar Kak Arfin sakit?? Dia sakit apa Bi?? Dia menderita penyakit apa Bi?”, tanyanya hingga tak terasa air mata pun jatuh membasahi pipinya. ”Bi,,, tolong jawab…hiks hiks”, ucapnya sambil terisak.
“Iy iya Non,,,”, Bi Darmih akhirnya menjawab karena tak tega melihat Naz menangis dan Naz merasa terkejut mendengarnya.
“Maaf Non,, Bibi tidak tahu Den Arfin sakit apa”, Kali ini Bi Darmih menjawab tanpa rasa takut dan gugup.
“Bibi jangan bohong lagi… hiks hiks,,, aku mohon kasih tahu aku dia sakit apa Bi,,, hiks hiks”, ucap Naz terus memohon.
“Bibi bersumpah, Bibi gak tahu Den Arfin sakit apa,,,, hanya saja,,,”, ucapannya terhenti sejenak.
“Hanya saja apa Bi?? Hiks hiks,,, hanya saja apa?”, Tanya Naz sambil menggoyangkan tangan Bu Darmih.
“Hanya saja Bibi pernah dengar kalau Nyonya bilang pada Den Arfin kalau itu baru vonis dokter dan dokter itu bukan Tuhan yang bisa menentukan segalanya”, ucap Bi Darmih dan Naz pun melepaskan tangan Bi Darmih,,, ia menjatuhkan dirinya ke kursi sambil membekap mulutnya karena sangat terkejut mendengar jawaban Bi Darmih.
Hatinya begitu sakit mendengarnya, rasa sesak pun semakin terasa di dada,, tubuhnya terasa lemas mendengar kata ‘vonis dokter’ ,, dan yang ada di pikiran Naz, jika seperti itu, kemungkinan Arfin menderita penyakit parah, air mata pun terus mengalir deras disertai isakan rasa sakit.
Penyesalan yang mendalam kini ia rasakan, saat teringat bagaimana ia bicara terakhir kalinya dengan Arfin hingga ia mengatakan Arfin seorang pembohong yang tega mempermainkan dirinya, ia mengatakan sangat membenci Arfin, dan ia pun teringat perkataannya supaya Arfin tak menampakan diri lagi dihadapannya. Ia terbayang dengan wajah pucat Arfin yang terus menunduk dan terus mengucapkan kata maaf padanya.
“Betapa bodohnya aku,,, kenapa aku tidak bisa menyadari jika saat itu wajahnya terlihat pucat karena ia sedang sakit,,, hiks hiks… aku sudah menyakitinya,,, dia pasti sangat terluka dengan perkataan ku,,, hiks hiks,,,aku memang bodoh,, aku memang bodoh,,, huhuhuhu,,,, “, Naz merasa bersalah dan tangisnya pecah seketika.
"Seharusnya aku menanyakan alasannya dan meminta penjelasan darinya,, tapi aku malah menunggu dia untuk menjelaskan dan menyimpulkan sendiri tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya,,, huhuhuhu,,,,hiks hiks hiks,,,”.
“Non, Den Arfin melakukan itu supaya Nona tidak sedih di kemudian hari”, ucap Bi Darmih.
“Sekarang dia dimana Bi?? Tolong kasih tahu aku Bi,,, hiks hiks”, Naz kembali memegang tangan Bi Darmih.
“Bibi Minta maaf,,, Bibi benar-tidak bisa memberitahukan keberadaanya,,, yang pasti Den Arfin disana baik- baik saja”, jawabannya tetap sama.
“Apa dia di rumah sakit??”, tanya Naz.
“Bukan Non,,, Bibi minta maaf,, Bibi benar- benar tidak bisa memberitahukan keberadaanya,, Den Arfin sendiri yang meminta untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun… yang pasti Den Arfin dalam keadaan baik- baik saja,,, “, ucapnya sambil menunduk, “Dan Bibi minta supaya Nona tidak memberitahukan siapapun kalau Nona mendapat informasi dari Bibi,,, nyonya pasti akan marah,,, mungkin sebaiknya Nona lupakan saja Den Arfin,,, itu yang terbaik untuk Nona”,ucapnya panjang lebar.
__ADS_1
Naz menghapus air matanya dengan kedua telapak tangannya, lalu ia berdiri, “Kalo gitu saya pamit pulang Bi,,, terimakasih ,, maaf saya sudah mengganggu pekerjaan Bibi,,, Assalamu’alaikum”, ucapnya yang kemudian beranjak pergi setelah Bi Darmih menjawab salamnya.
Selama dalam perjalanan pulang Naz terus menangisi penyesalannya yang begitu mendalam, Naz berharap bisa mengetahui keberadaan Arfin dan bertemu dengannya, “Kenapa kau menyembunyikan duka mu dariku,, sementara kau selalu memintaku untuk berbagi kesedihanku dengan mu,,, kau dimana... kau dimana ,,,hiks hiks hiks”, lirihnya.
Sejak mengetahui hal itu Naz mencoba mencari tahu keberadaan Arfin, ia meminta bantuan Hardi untuk menanyakan keberadaan Arfin kepada Nervan, karena ia merupakan sahabatnya jadi tidak akan menimbulkan kecurigaan, namun tetap saja tak menghasilkan informasi apapun, Nervan benar- benar menutupinya walau itu dari sahabatnya sendiri.
Dengan terpaksa Naz menceritakan semuanya kepada Papa dan Mama nya soal alasan kandasnya hubungannya dengan Arfin, kemudian ia pun menceritakan bahwa Arfin sedang sakit. Mereka sangat terkejut mendengar semua penjelasan Naz, dan ia memohon bantuan pada kedua orang tuanya itu untuk mencari keberadaan Arfin dengan alasan ia ingin meminta maaf karena selama beberapa hari ini ia terus dihantui rasa bersalah.
Awalnya kedua orang tua Naz menolak dan malah menyarankan supaya Naz melupakan Arfin saja, karena mereka takut jika suatu hari nanti justru Naz akan merasakan kesedihan jauh lebih besar dan menyakitkan dibanding sekarang. Namun Naz terus memohon bahkan sampai mengancam akan pergi sendiri mencari keberadaan Arfin yang entah dimana itu, akhirnya kedua orang tua nya bersedia membantu.
Bu Rahmi yang satu geng arisan dengan Bu Hinda mencoba mengorek informasi dengan berpura- pura menanyakan kabar semua anak- anaknya, termasuk kabar Arfin, namun tetap tidak mendapatkan informasi keberadaan Arfin. Pak Syarief pun sama, tidak mendapatkan info apa pun dari sahabatnya yang merupakan Papi nya Arfin itu. Naz sudah merasa putus asa karena sudah beberapa hari berusaha tetap tak kunjung mengetahui keberadaan Arfin, bahkan ia menghubungi Rezki, kakaknya yang tinggal di Amerika lewat sambungan video call pun sama halnya tidak mendapatkan informasi.
Hari ini hari pembagian raport di sekolah, Naz tidak pergi ke sekolah karena merasa kurang enak badan, sehingga Mama nya pergi sendiri ke sekolah tanpa Naz. Ia hanya tiduran saja di kamarnya, “Kamu dimana sih ?? susah banget nemuin nya,,, serasa mencari jarum di tumpukan jerami tahu gak…”, uccap Naz sambil melihat foto Arfin yang sempat ia simpan di email-nya dulu.
Tiba- tiba ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
“Hallo, assalamu’alaikum Bunda”, sapa nya.
“Wa’alaikumsalam,,, Dek, Mama mu bilang kamu sakit ya,,, sakit apa lagi atuh dek? Kok kamu mah akhir- akhir ini jadi ririwit?”, Bunda nampak mengkhawatirkan putrinya yang sudah tak tinggal bersamanya itu.
“Enggak apa- apa ko Bunda,,, cuman udah beberapa hari ini kurang tidur aja,, jadi sekarang pengennya tiduran,,, ini juga baru bangun,, tadi abis sarapan tidur lagi“, jawab Naz.
“Jangan suka gadang- gadang atuh, Dek,, kalo ada tugas mah ya kerjakan siang atau sore, jangan malam- malam,,, dan itu tuh jangan keseringan main hape sampe larut malam,,, kan gini nih jadinya,,, ehh bentar ya ini ada pesan dari Ina”, Bunda membuka pesan chat dari adiknya,
“Astagfirullah,,,, innalilahi,,,,”, ucap Bunda kaget saat membaca pesan itu.
“Ada apa Bunda? Tante Ina kenapa?”, tanya Naz panik.
“Dek,,, Ayunda anaknya Ina mengalami kecelakaan tadi pagi saat berangkat ke sekolah”, Bunda memberitahukan isi pesan dari adiknya itu.
“Innalillahi,,, terus gimana keadaannya Bunda?”, tanya Naz khawatir.
“Bentar,, Bunda tutup dulu teleponnya ya,, mau nelpon Tante mu dulu”, ucap Bunda yang juga panik.
“Iya, Bunda,,, nanti kabarin aku ya”, ucap Naz.
“Iya,, Assalamu’alaikum….”, Bunda kemudian mengakhiri percakapan mereka.
“Wa’alaikumsalam,,, Bunda”, jawab Naz lalu menutup teleponnya.
Setelah menunggu beberapa saat, Bunda kembali mengabari kalau Ayunda mengalami luka parah dan saat ini sedang koma, sehingga Beliau berniat untuk pergi ke Surabaya, dan Naz pun memaksa ingin ikut. Bunda terus melarangnya namun ia mengancam akan pergi sendiri ke Surabaya kalau tidak diajak, akhirnya Bunda mengajak Naz ikut serta dan Bu Rahmi pun mengizinkannya walau merasa khawatir karena Naz sedang tidak enak badan. Namun bukan Naz namanya kalau tidak punya 1001 cara untuk mendapatkan izin dari Mama nya itu.
Naz, Bunda bersama Pak Rizal berangkat ke Surabaya dengan penerbangan pukul 06.30 pagi, mereka pun sampai di Surabaya satu setengah jam kemudian. Dan saat mereka baru sampai, Bunda mendapat pesan kalau Ayunda sudah meninggal, dan sekarang sudah dalam perjalanan ke rumah duka untuk disemayamkan. Naz pun memesan taksi online utuk mengantarkan mereka ke rumah Tante Ina, adiknya Bunda.
Setelah menempuh perjalanan selama setegah jam, mereka sampai di kediaman Tante Ina yang sudah mulai ramai didatangi pelayat. Mereka masuk dan langsung menghampiri Tante Ina yang sedang menangis histeris. Bunda langsung memeluk adik bungsunya itu untuk menenangkannya, sedangkan Pak Rizal menghampiri Pak Purnomo Aji, suaminya Tante Ina yang juga sedang menangisi kepergian putri keduanya itu. Sementara Naz membuntuti Bundanya dan duduk di antara ketiga anak Tante ina yang lainnya, lalu memeluk adiknya Ayunda yang terus menangis untuk ikut menenangkannya, padahal ia sendiri merasa sedih.
Tiba- tiba ada orang yang baru datang dan saat orang itu menyapa Om dan Ayahnya, suaranya itu serasa tidak asing di telinga Naz. Saat ia mengalihkan pandangannya pada orang tersebut, betapa terkejutnya dia melihat orang itu.
“Kak Arfin,,,,,, “, lirihnya tersenyum haru dan ia terus memandangi pria yang sedang berbicara dengan Om dan Ayahnya itu. Pria yang selama satu tahun ini jauh darinya, namun masih bersemayam di hatinya, pria yang beberapa hari ini selalu dicaritahu keberadaannya, pria yang mengajarkannya cara menguatkan diri, pria yang mengenalkannya indahnya arti sebuah cinta, dan baru ia sadari bahwa ia sangat merindukan pria itu meskipun statusnya kini adalah mantan kekasihnya.
"Akhirnya aku menemukan mu... sang mantan pacar", gumam Naz dalam hati sambil tersenyum.
----------- TBC ----------
********************
Akhirnya ketemu juga jarumnya,,,, ehh pemilik jarum ,,, oppsss….
Happy Reading😉
__ADS_1
Jangan luva tinggalkan jejakmu,,, like, komen, vote, rate bintang 5...😉👌
Terimakasih banyak,,,,, love u all…😘😘