
Pusing, mual, muntah merupakan sebagian dari tanda- tanda wanita yang sedang hamil muda, namun itu tidak cukup untuk membuktikan seseorang hamil atau tidaknya, karena hal seperti itu pun banyak dialami oleh orang- orang pada umumnya baik itu laki- laki atau perempuan, anak- anak ataupun orang dewasa bahkan orang tua, entah itu karena masuk angin, entah itu karena penyakit yang di derita orang tersebut, entah itu karena salah makan atau keracunan makanan, ataupun karena alergi terhadap makanan atau bebauan tertentu.
Naz yang baru bangun tidur setelah perjalanan pulang merasakan mual hingga ia muntah- muntah di kamar mandi, Arfin yang merasa khawatir pun masuk ke kamar mandi dan menghampiri Naz yang membungkukan tubuhnya karena terus muntah- muntah di wastafel kamar mandi. Arfin mengusap kepala istrinya kemudian memijat pungguknya, namun ia malah ikut mual dan muntah saat itu juga.
Naz yang sudah berkumur kemudian membalikan badannya karena kakinya terasa basah yang ternyata terkena muntah suaminya, “Ih,, Aa jorok banget sih,,, muntah di kaki aku !!”. rengeknya.
Bukannya menjawab Arfin malah mendekat ke kloset lalu membungkukan tubuhnya dan muntah di sana. Sementara Naz mengambil shower untuk membilas kakinya serta menyiram dan membersihkan bekas muntah suaminya tadi. Setelah keduanya sudah merasa lega dan tidak mual lagi, mereka pun keluar dari kamar mandi.
“Ya Allah,,, pusing banget…”, Arfin berjalan sempoyongan dan langsung menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, “Gini ya rasanya terkena syndrome kehamilan simpatik pantesan waktu itu Aa lihat Arsen kayaknya tersiksa setelah ia muntah- muntah dulu”, Arfin teringat saat ia berkunjung ke rumah Bunda dan melihat Arsen nampak pucat setelah ia muntah- muntah.
“Aa gak usah ngarang, deh”, ucap Naz yang baru saja duduk di pinggir tempat tidur, melap wajah serta tangannya dengan handuk.
“Ngarang gimana sayang,,,? kamu kan yang hamil dan Aa yang muntah- muntah, apa namanya coba kalau bukan karena terkena syndrome itu?”, Arfin teringat dengan ucapan Bunda.
“Itu mah karena Aa gak kuat kali mencium bau muntah aku makanya Aa juga muntah- muntah, jadi bukan karena syndrome kehamilan simpatik”, Naz kembali menyangkal apa yang dikatakan suaminya.
“Kamu kok ngomong gitu sih sayang?”, Arfin yang masih terlihat lemas, mempertanyakan Naz yang sejak tadi seolah menyangkal kehamilannya.
“Ya karena aku gak hamil...”, Naz pun mengakui kebenarannya.
“Apa??”, Arfin yang terkejut langsung bangun layaknya seperti mayat bangkit dari liang kubur, karena tadi ia yang lemas dan lesu tiba- tiba saja kembali segar bugar mendengar perkataan Naz.
“Sayang,, kamu barusan ngomong apa? Aa gak salah dengar kan”, Arfin memastikan.
“A aku,,, aku gak hamil,,, “, Naz kembali mengulang ucapannya lalu menundukan kepalanya karena merasa bersalah dan takut akan kemarahan suamimya.
“Apa,,,??,,, kamu gak hamil? “, Arfin benar- benar terkejut mendengar nya, ia tertegun diam tanpa kata, raut kesedihan dan kecewa terlihat jelas di wajahnya.
“Lalu hasil tespack itu?? bagaimana bisa menunjukkan kalau hasilnya positif ”, Arfin mempertanyakan hasil tespack yang tidak mungkin bisa menunjukkan dua garis merah jika Naz tidak hamil.
“Itu,,, eng… itu tespack milik Raline”, Naz yang masih menunduk mengakui dengan terbata- bata.
“Apa,,,?? “, Arfin kembali terkejut.
“Iy iya,,, waktu aku ngambil charger dari laci kamar Raline, tanpa sengaja tespacknya kebawa karena kelilit di charger dan aku buru- buru saat ngambilnya”, Naz mengatakan kebenarannya.
“Lalu,, apa pusing, mual muntah mu juga pura- pura?”, Arfin terus bertanya.
Naz mengelengkan kepala nya, “Tadi aku beneran pusing dan mual itu pasti karena sakit maag ku kambuh dan aku belum makan apa- apa sejak pagi, ditambah aku terlalu berpikir keras untuk menjelaskannya padamu dan pada orang tua ku yang menganggap aku hamil,, Aku terus mencari cara untuk menjelaskannya tapi kalian malah semakin yakin kalau aku ini hamil,,, aku tak tega mengatakannya padamu, karena ku lihat Aa dan semuanya sangat bahagia saat mengira aku hamil, terutama Aa yang sampai menangis haru,,”, ucapnya yang terus menundukkan kepalanya.
“Dan kenapa tadi kamu makan mie instan pedas yang gak pernah kamu makan sebelumnya? Jika itu bukan karena ngidam lalu kenapa bisa seperti itu?”, Arfin terus mencerca Naz.
“Tadi kepala ku benar- benar terasa pusing, selain karena sakit maag juga terlalu keras berpikir, ditambah rasa kesal dan kemarahan tertahan yang sebenarnya ingin aku lampiaskan pada Felisha, makanya aku minta makanan pedas dan minuman dingin,,, ”, Naz kembali memberi penjelasan.
Arfin mengehla nafas berat dengan perasaan kecewa, ”Kenapa kamu tega membohongiku seperti ini Naz?”, lirihnya merasa sedih dan kecewa, kebahagiaan yang sempat membuncah di dalam dadanya hanya bertahan beberapa jam saja, kini ia kembali merasa takut jika dirinya tidak bisa memberikan keturunan pada istrinya.
“Maaf,,, “, hanya kata itu yang bisa ia lontarkan Naz yang juga sama halnya merasa sedih karena telah mnegecewakan suaminya.
“Kamu bukan hanya membohongiku, tapi seluruh keluarga,, aku yakin berita kehamilan mu sekarang ini sudah menyebar ke anggota keluarga yang lainnya yang tidak hadir di rumah Bunda tadi”, Arfin semakin merasa kesal.
“Aku minta maaf,,, aku tidak bermaksud membohongi kalian,,, aku juga kaget saat di kamar mandi hendak mengambil bedak ternyata ada tespack itu di dalam tas ku,,, dan saat Felisha membongkar rahasia mu di depan keluarga ku, aku langsung teringat pada tespack itu,, aku pikir satu- satunya cara yang bisa menyangkal semua perkataan Felisha ya dengan memperlihatkan tespack itu padanya,, tapi aku gak sadar kalau di sana sedang banyak orang,,, aku minta maaf,,, sudah mengecewakanmu,, aku benar- benar minta maaf”, lirihnya yang kemudian terisak.
“Lalu bagaimana kamu akan menjelaskan semua ini pada keluarga kita?”,Arfin mempertanyakan rencana Naz memberitahukan keluarganya, namun Naz hanya diam dan hanya suara isaknya saja yang terdengar.
“Kamu tahu,, setelah Felisha sudah mengatakan hal itu dan Mama mempertanyakan kebenarannya,, aku berpikir sejenak dan saat akan mengatakan yang sebenarnya kamu malah menyangkal apa yang Felisha katakan,,, lagi pula aku ini sudah sembuh jadi tidak mengkhawatirkan tanggapan keluarga mu”, tambahnya lagi.
“Aku cuma gak mau kalau sampai Aa malu dan mendapat hinaan dari keluarga ku karena soal penyakit mu itu, walaupun Aa sudah sembuh tapi Felisha tidak tahu kan? Dan hanya dengan cara itu aku bisa membuktikannya pada Felisha, dengan begitu keluarga ku tidak akan mempercayai apa yang dikatakan oleh Felisha tentang mu,, aku benar- benar minta maaf,, aku gak bermaksud untuk menyakiti perasaan mu atau pun membohongi mu,, aku hanya tidak suka jika ada orang lain yang menghina mu, walaupun itu orang tua ku sendiri,,, aku juga berharap Felisha tidak menganggu rumah tangga kita lagi,,”, ucap Naz yang terus terisak sembari menghapus jejak air mata yang terus mengalir dengan telapak tangannya.
Arfin tertegun mendengar istrinya yang ternyata melakukan hal itu demi menjaga nama baiknya di depan keluarganya, ia pun teringat saat Raline menyebutnya si picang, Naz sangat marah bahkan sampai menampar Raline. Namun rasa kecewa yang kini dirsakannya terlalu besar, ditambah rasa ketakutannya akan tidak bisa memiliki anak seolah kembali menghantui dirinya hingga membuatnya semakin sedih.
Ia mengusap kasar kepalanya, kemudian bangkit dari tempat tidur dan beranjak pergi meninggalkan kamarnya tersebut. Ia keluar dengan membanting pintu cukup keras hingga membuat Naz tersentak. Naz hanya berdiam diri dan terus menangisi kesalahannya, ia sadar jika Arfin pasti merasa terluka, kecewa, dan marah padanya.
“Dia pasti sangat marah,,, dia pasti sangat kecewa… maafkan aku,,, maafkan aku,,, hiks hiks “, Naz membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan terus menangisi kesalahannya hingga ia kembali tertidur.
**
“Non,,,, Non,,, “, Mbak Retno menggoyang goyangkan lengan Naz untuk membangunkannya, “Non,, bangun ini sudah jam lima sore,, Den Arfin bilang Non belum shalat”.ucapnya lagi.
“Emhhh,,,, iya Mbak,,,”, Naz membuka matanya perlahan, kemudian ia bangun lalu duduk.
“Dia dimana Mbak?”, Naz menanyakan keberadaan suaminya yang belum terlihat di dalam kamarnya.
“Sopo toh, Non? Den Arfin?”, tanya Mbak Retno dan Naz pun menganggukkinya, “Tadi setelah sahalat ashar Den Arfin pergi keluar, Non,,, dan setengah jam yang lalu nelpon minta si Mbak untuk menyiapkan makan buat Non, itu makanannya sama obat maag cair yang tadi dibelikan Den Arfin, si Mbak taro di meja situ”, ucapnya sambil menunjuk ke arah meja.
“Makasih ya Mbak,,,”, ucapnya yang kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.
“Nggih,,, Non sejak datang tidur terus yo?”, Mbak Retno memperhatikan wajah majikannya dimana matanya terlihat agak bengkak, yang dipikirnya kebanyakan tidur.
“Iya Mbak,,, tadi sempat bangun, tapi tidur lagi,, soalnya selama di Jakarta banyak kejadian yang sangat menguras pikiran,,, jadi otak ku lelah rasanya,, dan saat pulang ke sini pengennya bobo syantik aja,,, hehehe”, Naz terkekeh.
“Nggih Non,, si Mbak pamit kembali ke belakang yo..”, Mbak Retno pun keluar setelah Naz mengangguk.
Naz beranjak ke kamar mandi kemudian ia shalat, dan setelah itu ia duduk di kursi meja kerja suaminya dimana Mbak Retno menaruh makanan yang dibawakan nya tadi.
“Ternyata dia masih perhatian walaupun sedang marah pada ku,,, “, gumamnya tersenyum lalu ia pun memakan makanannya hingga habis, karena suaminya tahu betul jika Naz sudah menangis pasti dia akan kelaparan, ditambah tadi sarapannya yang kesiangan.
**
__ADS_1
Arfin baru pulang jam delapan malam, entah ia pergi dari mana, Naz yang sudah berbaring dan selimutan hendak tidur pun tak berani menanyakannya. Arfin yang menghadap ke cermin lemari pakaian tengah membuka satu persatu kancing kemejanya.
Grep ,,,, Naz tiba- tiba memeluk suaminya dari belakang.
“Maaf,,,, maafkan aku,,,”, lirihnya membenamkan wajahnya ke punggung suaminya.
Arfin mengehntikan aktivitasnya lalu tersenyum, “Kalau gak mau gimana?”, Arfin malah sengaja hendak mengerjai istrinya.
“Aku akan terus meluk Aa kayak gini sampai Aa mau maafin aku”, ucap Naz dengan penuh keyakinan.
“Yakin?? Kalau sampai besok gak mau maafin gimana? Apa masih kuat memelukku seperti ini ?”.
“Kuat kok,,,”, Naz begitu yakin.
Arfin terkekeh mendengarnya, “Lepas sayang,,, Aa bau nih belum mandi”.
“Biarin,,, sebelum Aa maafin aku,, gak akan aku lepas”, Naz tetap kekeh, minta maaf kok maksa.
Arfin memegang kedua tangan Naz yang melingkar di perutnya, perlahan ia melepaskan tangan istrinya itu dan ia membalikan tubuhnya sehingga mereka berdiri saling berhadapan. Arfin menatap lekat wajah istri cantiknya yang malah menundukan kepalanya, ia memegang dagu Naz lalu menegakkan kembali kepalanya sehingga keduanya saling bertatapan.
“Aku yang minta maaf, karena baru menyadari betapa bodohnya aku yang tak bisa menghargai istriku yang luar biasa ini”, Arfin mencium kening istrinya kemudian memeluknya,
“Terimakasih,, selalu sabar menghadapi ku yang terkadang tak bisa memahami mu,, sedangkan kamu selalu bisa memahami dan mengerti keadaan ku,,, maaf karena telah memberimu beban pikiran tentang penyakit ku sebelumnya sehingga kamu sampai berbohong pada keluarga mu untuk menjaga nama baik ku”, ucapnya Arfin penuh penyesalan.
“Jadi Aa udah maafin aku? udah gak marah lagi?”, Naz mengambil kesimpulan dari sikap suaminya yang nampak sudah kembali seperti biasa lagi dengan perasaan harap- harap cemas.
Arfin melepaskan pelukannya dan menatap sang istri yang nampak malu dan ragu entah takut untuk memandangnya, “Siapa yang marah sama kamu, hem?”.
“Tadi Aa marah sampai membanting pintu”, ucapnya pelan.
“Iya memang Aku marah,,, tapi bukan sama kamu,,, tapi marah pada diriku sendiri yang hanya memikirkan diri sendiri dan tak bisa menghargai pengorbanan mu,, karena takut tidak bisa bersama mu dan merasa malu, aku sampai meminta mu untuk merahasiakan tentang penyakitku dari orang tua mu, sehingga membuat mu harus memendam sendiri dan menderita karena itu, padahal seharusnya aku berterus terang dari awal pada orang tua mu,,, maafkan aku sayang”, Arfin kembali meminta maaf.
Naz bernafas lega kemudian ia kembali memeluk suaminya, “Aa gak salah kok,, jadi gak usah minta maaf,,, kayak lebaran aja kita maaf maaf an,,, hehehe”, keduanya malah terkekeh, Arfin kemudian mencium pucuk kepala istri yang masih memeluknya itu.
“Aa..”, panggilnya.
“Hemmm,,,,”, sahut Arfin.
“Jadi kita udah baikan nih…?”, kepolosannya kembali muncul.
Arfin terkekeh mendengarnya,”Iya sayang,,, kita kan gak pernah musuhan,,hahaha,,, ", Arfin terwa renyah,
"Oh iya,, kamu udah minum obat maag nya kan?”, Arfin teringat kalau penyakit istrinya kambuh.
“Udah tadi dua jam setelah makan”.
“Emmm.. Aa akan mejelaskannya pada orang tua kita tentang penyakit ku dan insiden tespack yang menghebohkan itu”, Arfin berniat menyelesaikan kebohongan Naz, kemudian Naz melepaskan pelukannya.
“Jangan,,, gak usah, sayang”, Naz malah melarangnya.
Arfin mengerutkan dahinya karena merasa heran, “Loh kenapa?”.
“Biarkan saja mereka beranggapan begitu”, ucap Naz dengan santainya.
“Tapi kan kamu gak hamil sayang,, kalau kita gak bilang yang sebenarnya, mereka bisa sangat marah pada kita karena sudah menipu mereka”, Arfin memberi pemahaman.
“Tapi kan gak akan ketahuan ini, mereka nganggapnya aku lagi hamil muda, jadi kita gak usah ke Jakarta dulu sebelum aku beneran hamil”, Naz malah memberikan ide konyol untuk melanjutkan kebohongannya.
“Hahh?? Maksudnya? Sampai beneran hamil?”, Arfin merasa bingung dan heran.
“Iya,,, mudah- mudahan aja aku bisa segera hamil,,, jadi sepertinya kita harus lebih gesit bikin anaknya,,, hehehe”, Naz tersenyum malu mengatakan hal tersebut.
“Hahahaha,,, apakah ini kode, hem,,?”, Arfin mencolek pipi istrinya yang membuatnya merona karena malu, “Jadi harus berapa kali sehari supaya bisa membuatmu cepat hamil?”, tanya nya menantang.
“Ihhh,,, apaan sih,,, jangan banyak- banyak tau,,, justru kalau aku baca di mbah gugel katanya jangan terlalu sering biar cepet hamil,, jadi harus menghitung masa subur aku dulu, terus melakukannya dua hari sekali atau tiga hari sekali gitu", Naz menjelaskan prosedur yang ia baca di mbah gugel.
“Hahh…?? Kok gitu”, Arfin kembali merasa heran.
“Iya,,, soalnya sperm yang bagus itu yang keluar setelah rentang dua atau tiga hari dari yang keluar sebelumnya katanya", Naz kembali memberi penjelasan.
“Berarti sekarang gak bisa main dong?”.
“Loh kenapa?”, Naz kini yang merasa heran lalu cemberut.
Arfin terkekeh melihat Naz yang nampak memberenggut, “Kan tadi katanya dua atau tiga hari sekali,, dan tadi pagi kan kita udah,, berarti lusa donk baru bisa main lagi”.
“Aaaahhh,,, mulai besok aja ya programnya”, rengek Naz yang merasa tidak rela jika malam ini si imut nya tidak bisa bertemu si ujang.
“Hahahaha,,, ya ampun sayang kamu kelihatan banget mupeng nya,, gak ada gengsi- gengsi nya tahu gak”.
Naz yang ditertawakan suaminya malah makin cemberut, “Biarin,,, emmm,,, Mupeng itu apaan sih?”.tanyanya heran.
“Muka pengen, sayang,,, hahahaha”, Arfin kembali tertawa.
“Dihh,,, emangnya Aa gak pengen??”, Naz malah balik bertanya, karena suaminya itu doyan menurutnya.
“Enggak tuh…”, Arfin pura-pura.
__ADS_1
“So jual mahal”, Naz mencebikan bibirnya, “Yaudah kalau gak mau mah aku mau bobo aja, babhay… “, Naz berdadah ria dan melengos begitu saja, namun Arfin menarik tangan Naz, ia langsung menggendong dan membawanya ke tempat tidur untuk memenuhi keinginan istrinya itu.
**
Keesokan harinya seperti biasa setelah bangun,mandi dan shalat, Naz pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan dan menjalankan rutinitas kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Arfin yang sudah berpakaian rapi kemudian sarapan bersama istrinya sebelum ia berangkat kerja.
“Nanti siang mau dimasakin apa?”, tanya Naz saat mereka sudah selesai makan.
“Apa aja boleh,,”, Arfin kemudian minum, “Oh iya sayang, kita kan mau program supaya cepat punya anak, lebih baik kita konsultasi aja ke dokter kandungan, biar lebih tepat kalau langsung ke ahlinya”, Arfin memberi usulan.
“Emmm,,, kenapa gak ke Kak Dandy aja,, dia kan spesialis kandungan juga,, biar gratis konusltasinya,, alias cap nuhun,, hahaha”, Naz malah memberi saran untuk cari yang gratisan.
“Nanti ketahuan dong kalau kamu belum hamil,,, lupa ya kalau Dandy itu anaknya Bunda?”, Arfin mengingatkan Naz tidak mau membongkar kebohongannya.
“Eh iya ya hehehe,,, terus mau ke dokter mana dong? Apa mau ke dokter yang menangani Aa sebelumnya?”, Naz kembali memberi saran.
“Jangan ahh,, Aa pengennya yang nanganin kamu nanti dokter perempuan,, gak rela lah masa kamu entar dipegang- pegang sama laki- laki lain, apalagi nanti dia bakalan melihat si imut,,, karena cuma Aa yang boleh lihat,,, Nanti lah Aa minta Dilara untuk mencarikan dokter kandungan yang terbaik di kota ini yang pasti harus seorang perempuan, dan Aa akan minta dijadwalkan hari sabtu nanti”, Keposessif-an nya mulai keluar lagi.
“Iya iya,, terserah Aa aja deh,, oh iya… kemarin Aa pergi kemana?”, Naz kembali bertanya saat membereskan bekas makan mereka.
“Kemarin sepulang dari apotek, Om Aji nelpon ngajakin ketemuan di lokasi projeck baru, takutnya ada yang gak sesuai harapan Aa,, Saat pulang dari sana kita kemagriban di jalan, terus mampir ke masjid, eh disana ketemu sama kakak tertua nya Om Aji yang ternyata seorang Dekan di kampus tempat kuliah mu nanti, terus kita pergi makan bersama makanya pulang agak malam”. Arfin menjelaskan kepergiannya kemarin.
“Oh,, pantesan,, kirain keluyuran kemana”.
“Ya ampun bahasanya keluyuran, kayak anak muda aja”, Arfin terkekeh lalu mengambil ponsel dari saku celananya.
“Hahaha,, akhirnya mengakui juga kalau sudah tua”, Naz malah menertawakan, kemudian Mbak Retno muncul dari arah dapur, “Mbak,, tolong ini bawa ke dapur ya”, Naz menunjuk piring dan gelas kotor yang sudah ia bereskan, Mbak Retno pun segera melaksanakan titah Naz dan kembali ke dapur.
“Maksudnya anak muda anak sekolahan yang suka nongkrong dan keluyuran gitu,, Aa mah masih muda dong belum tua,, buktinya semalam aja kuat dua ronde, mau nambah satu ronde lagi kamu nya malah minta ampun karena sudah K.O,,,”, Arfin kemudian bangkit dari duduk nya dan membawa tas kerja yang tadi disimpannya di kursi yang berbeda kemudian ia beranjak pergi dan didiringi oleh Naz.
“Abisnya Aa ngancam mulu.. nanti dosa,,, nanti dosa kalau nolak suami, sebal”, Naz terus meladeni obrolan mesum suaminya sambil berjalan menuju pintu depan.
“Kan dua hari mau puasa jadi semalam dibikin SKS”.
“Kayak mata kuliah aja dihitung pake SKS segala”, Naz terkekeh mendengarnya.
“Beda dong artinya”, Arfin masih tak berhenti bicara.
“Emang apa?”, tanya Naz penasaran.
“Sistem kebut semalam,, hahahaa,, “, Arfin tertawa renyah dan tak terasa mereka kini sudah di depan pintu, Arfin pun membuka pintu dan keduanya keluar,
“Udah ah,, Aa berangkat dulu nanti ngomongnya tambah ngaco, ada meeting pagi soalnya,,, ”, ucapnya mengusap- usap kepala istrinya.
“Dih,, siapa juga yang mulai,,, wle”, Naz malah mengejek dengan menjulurkan lidahnya.
“Nanti sebelum makan siang, sopir jemput ke sini ya,, “, Arfin kemudian mencium kening istrinya dan Naz mencium punggung tangan suaminya, “Assalamu’alaikum”, ia pun pamit dan naik ke dalam mobil yang sudah siap berangkat.
“Wa’alaikumsalam,, hati- hati “, Naz mengantar keberangkatan suaminya sampai mobilnya terlihat keluar dari pintu gerbang, barulah ia kembali masuk ke dalam rumah.
Begitulah rutinitas keseharian pasangan suami istri setiap pagi nya, siangnya Naz akan pergi ke kantor suaminya untuk makan siang bersama dan kadang ia menunggu suaminya sampai selesai kerja, atau akan pulang duluan lalu main ke rumah Tante Ina.
**
Lima hari telah berlalu, dimana setiap harinya Naz selalu menerima telpon dari anggota keluarganya baik itu orang tua, mertua, Opa, Oma, Mimih, dan kakak serta adiknya, yang menanyakan kabar dan kehamilannya dengan segala wejangan ini itu ,gak boleh ini harus itu dan lain sebagainya yang bisa membuat kepalanya pusing. Makanya Naz selalu pura- pura ingin beristirahat agar si penelpon mengakhiri pembicaraannya walau baru bicara sebentar, karena ia tak ingin jika harus berbohong lagi pada keluarganya, dan ia pun tahu mereka pasti memahami jika wanita hamil itu perlu banyak istirahat.
Selain itu, Naz dan Arfin pun benar- benar melakukan metode agar cepat hamil sesuai dengan informasi yang di dapat oleh Naz dari mbah gugel, yakni berhubungan dua hari sekali. Beruntung Arfin masih bisa diajak kompromi, walau sebenarnya setiap malam tangannya selalu geranyangan kesana kemari yang membuat Naz kesal.
Seperti yang diketahui, Naz yang jahilnya minta ampun dengan sengaja tidur memakai lingerie atau tidak memakai Bra di saat bukan jadwal untuk eng ing eng. Tentu saja itu membuat Arfin pusing kepalang karena istrinya malah sengaja menggodanya, lebih tepatnya menyiksanya.
**
Sabtu ini sesuai yang sudah dijadwalkan, Arfin dan Naz akan berkonsultasi ke dokter kandungan hasil pencarian sang sekertaris yang selalu disuruh ini itu oleh Arfin. Karena jadwalnya jam satu siang, jadinya pagi ini setelah sarapan mereka bersantai ria duduk di ruang tengah dan sibuk dengan ponsel masing- masing. Naz tengah chating bersama ketiga sahabatnya yang baru mengetahui kabar kehamilannya, lebih tepatnya kehamilan bohongan, sementara Arfin sedang membaca beberapa email di ponselnya.
Ting nong ,, terdengar suara bel berbunyi.
Keduanya masih anteng memainkan ponsel masing- masing, dengan Naz yang dibuat kesal oleh ketiga sahabatnya, hingga terdengar suara bel yang dipencet berkali- kali yang tandanya belum ada yang membukakan pintu pun, mereka tidak menyadarinya.
“Sayang, Mbak Retno sama Mbak Jumin pada kemana? Mereka gak dengar apa kalau ada yang mencet bel?”, tanya Arfin yang baru sadar dengan bunyi berisik itu.
“Eh iya,, lupa,, Mbak Jumin lagi ke pasar kalau Mbak Retno tadi aku suruh ke minimarket beli pembalut, soalnya stok di lemari udah habis,, aku ke depan dulu ya mau bukain pintu”, Naz beranjak pergi setelah Arfin menganggukinya.
Ceklek ,,, Naz membuka pintu setelah memutar kuncinya.
“Surprice…… !!”.
Naz benar- benar terkejut dengan kehadiran tamu yang tak terduga di kediamannya, ia membulatkan kedua bola matanya dengan mulut yang ternganga.
-------------- TBC --------------
**********************
Happy Reading…..😉
Jangan Luva tinggalkan jejak mu,,,😉😍
Aylapyu oll,,, Tilimikicih,,,,,😘😘
__ADS_1