
Glekk …
Naz hanya bisa menelan saliva nya sendiri saat melihat nanas madu segar kesukaannya tengah dilahap oleh suami dan putrinya. Rasanya ia pun ingin memakannya walau hanya satu gigitan saja, namun ia tak mau jika sesuatu terjadi pada kandungannya yang ia sendiri belum tahu usianya berapa itu.
“Sayang, kamu kok cuma lihatin aja … yakin gak mau? Manis banget loh ….“ Arfin malah membuat Naz semakin ngeces.
“Iya Mangu … nanasnya manis, enak. Chaya aja syuka, ndak acem dan ndak gatel di bibil. Yumii ….” Cahaya pun ikut- ikutan ngabibita.
“Hufh, dasar kalian itu memang sekutu …. “ Naz mencibir ayah dan anak itu.
“No no no … Chaya bukan kutu! Kutu itu ndak sopan, Mangu!” Cahaya tak terima disebut sekutu, malah mengira dikatain kutu.
“Bukan kutu, Cahaya. Tapi sekutu.” Arfin mengoreksi.
“Syama aja Pagu, kutu itu kan hewan paling ndak sopan,” ucapnya sambil menggerutu.
“Semua hewan juga gak punya sopan santun, Cahaya. Beda sama manusia” Arfin menjelaskan.
“Tapi kan kutu paling ndak sopan, Pagu.” Cahaya sepertinya sangat membenci hewan yang biasanya hidup berkeliaran di rambut kepala.
“Emangnya kenapa?” tanya Arfin heran.
“Soalnya kutu itu suka injek- injek kepala olang. Injek kaki olang aja Magu bilang ndak sopan, ini injek kepala olang,” ucap Cahaya dengan polosnya.
“Hahahahahaha ….” Naz dan Arfin tertawa mendengar perkataan putrinya yang lucu dan menggemaskan itu.
**
Malamnya setelah shalat berjama’ah, Cahaya masih memanjatkan doa dengan kalimat yang sama. Saat akan tidur pun ia selalu bertanya kepada Magu nya mengenai sudah ada belum nya dedek bayi di dalam perutnya. Namun, Naz tak pernah menjawab iya atau tidak. Ia hanya tersenyum dan meminta Cahaya terus berdoa setiap hari.
Keesokan harinya saat Naz hendak melaksanakan shalat dzuhur, Cahaya hanya berdiam diri dan tak seperti biasanya yang selalu semangat untuk ikut shalat.
“Cahaya, ayok kita wudhu dulu … nanti shalat bareng Magu,” ajaknya pada sang putri.
“Ndak mau ….” Cahaya menolak.
“Loh, kenapa? Ini kan sudah masuk waktu shalat,” tanya Naz yang merasa heran.
“Chaya ndak mau shalat lagi, Chaya ndak mau doa lagi!” ucapnya yang masih sibuk dengan mainannya.
“Loh, kok begitu?” Naz kembali mempertanyakan alasan Cahaya.
“Abisnya Chaya minta dedek bayi, ndak dikasih telus syama Allah,” rupanya ia sudah lelah.
“Cahaya sayang … yang berdo’a sama Allah itu kan banyak sekali. Hmm, Cahaya ingat gak, kalau kita mau bayar belanjaan ke kasir di mall suka ngantri? Nah, yang berdoa sama Allah juga banyak yang mengantri seperti itu. Jadi Allah mengabulkannya satu persatu, enggak langsung semuanya. Cahaya ini kan anak Magu yang hebat dan kuat, jadi harus lebih sering berdoa nya supaya doa nya cepat dikabulkan,” ucapnya memberi pemahaman dan memberi semangat pada sang putri.
“Ndak mau … Chaya ndak mau doa lagi!” ternyata sudah tidak mempan lagi. Namanya juga anak kecil, apa- apa cepet bosan. Apalagi jika keinginannya tak kunjung dipenuhi, ngambek deh ujungnya.
Naz terkekeh mendengarnya, ia tersenyum lalu menghela nafas sejenak. “Cahaya, sayang … Magu mau ajakin main rahasia- rahasiaan mau gak?”
“Halasia?” tanya Cahaya bingung.
“Rahasia bukan halasia.” Naz mengoreksi.
“Lahasia itu apa?” Cahaya kembali bertanya.
“Rahasia itu sesuatu yang hanya diketahui oleh kita berdua, jadi Cahaya gak boleh bilang ke orang lain. Baik itu ke Pagu, ke mbak Retno ataupun ke mbak Jumin, bahkan ke pak Uje. Gimana, mau gak main rahasia?”
“Mau mau mau ….” Cahaya nampak antusias dan semangat.
“Baiklah … sebenarnya dedek bayi sudah ada di perut Magu." Naz berterus terang pada putrinya.
“Hah … Mana dede bayi nya mana?” Cahaya melihat kesana kemari.
“Dedek bayi nya di sini.” Naz mengusap perutnya yang masih rata.
Cahaya melihat ke arah perut Naz dengan raut wajah bingung dan bertanya- tanya. “Kok dedek bayinya ndak kelihatan?”
“Soalnya dedek bayi nya masih kecil banget. Nanti lama- lama perut Magu besar karena di dalamnya ada dedek bayi yang jadi besar juga," ucapnya menjelaskan.
“Kenapa dedek bayinya ndak kelual? Kan Chaya mau ketemu,” tanyanya lagi.
“Dedek bayinya keluarnya nanti setelah sembilan bulan di perut Magu. Jadi Cahaya harus sabar nungguin nya ya, sayang” Naz mengusap kepala putrinya.
“Jadi dedek bayi ndak bisa digendong syama Chaya sekalang?”
“Kalau masih di perut Mau belum bisa, tapi Cahaya bisa mengusapnya, menciumnya lewat perut Magu. Nanti dedek bayi nya senang di dalam sini, karena disayang- sayang sama Kaka Cahaya”
“Kaka Chaya?”
“Iya … Kalau Cahaya punya dedek bayi berarti Cahaya jadi seorang kakak yang harus menjaga dan menyayangi dedek nya," ucapnya lagi.
“Nanti jadi sepelti kak Los, kakaknya upin ipin?”
“Em … iya semacam itu. Tapi Cahaya nanti jangan galak- galak seperti kaka Ros ya, harus jadi kakak yang baik dan sayang sama adik-adiknya kelak. Ayok sini, usap- usap perut Magu, pasti dedeknya senang."
Cahaya lalu menempelkan tangannya pada perut Naz yang masih rata itu dengan perasaan ragu dan masih nampak bingung. Naz memegang tangan Cahaya dan menuntunnya untuk mengelus- elus perutnya. Ia tersenyum melihat raut wajah putrinya yang terlihat bingung itu.
“Cahaya ingat ya, ini rahasia kita berdua. Jadi jangan bilang pada siapa pun, termasuk pada Pagu. Soalnya kita akan memberi Pagu kejutan." Naz kembali mengingatkan.
“Iya.” Cahaya mengangguk.
Naz terlihat merasa lega, akhirnya ia bisa memberitahukan putrinya tentang kehamilannya, namun ia masih bingung memikirkan cara memberitahukannya pada sang suami.
**
Selama beberapa hari ini, Arfin nampak sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Ia selalu pulang malam karena lembur kerja, bahkan hari sabtu pun ia masuk kerja.
Jangankan untuk minta jatah, setelah mandi ia akan segera tidur, karena kelelahan. Dan itu membuat Naz tak memiliki kesempatan untuk memberitahukan tentang kehamilannya, karena ia takut suaminya marah jika memberitahukannya saat ia sedang kecapekan seperti itu. Ia pun hanya fokus pada tugasnya yang sudah mulai menyusun skripsi.
Hari minggu ini Arfin tidur seharian, setelah melewati hari- hari yang melelahkan. Cahaya yang sudah bisa menjaga rahasia pun diajak bermain oleh Naz agar tidak mengganggu istirahat Pagu- nya.
Setelah mengantar Cahaya tidur siang, Naz lalu masuk ke kamar dengan membawa nampan yang berisikan makan siang untuk suaminya. Namun, bukannya memakan makan siangnya, Arfin justru malah ingin memakan istrinya.
Ia nampak sangat merindukan belaian istrinya, yang tidak dirasakannya selama beberapa hari ini. Naz yang sempat ragu- ragu, karena ia teringat jika sedang hamil muda yang bahkan belum tahu usia kandungannya berapa minggu itu, disarankan agar tidak berhubungan dulu hingga usia kehamilan 4 bulan. Namun apalah daya, sang suami nampaknya sudah tidak kuasa menahan hasratnya.
Arfin pun mulai menggerayangi tubuh istrinya untuk melakukan pemanasan. Ia menciumi wajah istrinya, hingga mereka berciuman bibir. Namun kedua tangan Arfin terus meraba setiap inci bagian tubuh sang istri hingga pada bagian sensitifnya. Ia melucuti semua pakaian Naz, lalu bibirnya turun menciumi leher jenjang istrinya, hingga berujung pada dua gundukan gunung kembar Naz yang sudah tak terbungkus sehelai benang pun.
Ammm … mulutnya kini mulai melahap salah satu gunung kembar milik istrinya, lalu menyedotnya bagaikan bayi gede yang tengah menyusu pada induknya.
Fiuhhhh fruhh fruhh… Arfin melepaskan mulutnya dan nampak memuncratkan ludahnya.
__ADS_1
“Sayang, kok ada airnya?” tanyanya heran dan kaget. “Bukannya ASI Cahaya udah lama dilepas, biasanya gak ada airnya gini?”
Naz yang sedari tadi merem melek menikmati setiap sentuhan suaminya pun langsung membuka matanya lebar- lebar. “Hah?” ia pun sama terkejutnya.
Arfin yang hanya mengenakan celana boxer dan bertelanjang dada, kemudian pergi ke kamar mandi. Ia berdiri di depan wastafel lalu menyalakan air kran, kemudian berkumur- kumur untuk membersihkan sisa air yang tak sengaja terhisap dari salah satu gunung kembar milik istrinya.
Arfin menatap wajahnya di pantulan cermin dengan perasaan aneh dan heran.
Plukk … prakk …
Arfin tak sengaja menyenggol gelas melamine putih tempat menyimpan sikat gigi yang membuat sikat gigi miliknya, milik sang istri, serta putrinya jatuh berserakan di lantai kamar mandi. Salah satu sikat giginya sampai terlempar ke dekat belakang kloset.
Saat hendak mengambilnya, Arfin melihat sesuatu yang tersembunyi di sela- sela belakang kloset duduk.
Ia mengambil sikat gigi dan benda yang ditemukannya itu. Betapa terkejutnya ia melihat benda yang ia ketahui bernama tespack dengan dua garis merah yang terpampang di kolom tengahnya.
Ia membuang sikat giginya ke tong sampah yang ada di kamar mandi, lalu mencuci tespack tersebut. Ia kemudian keluar dari kamar mandi dan segera menghampiri istrinya yang baru saja selesai mengenakan pakaiannya.
“Apa maksudnya ini?” tanya Arfin dengan nada tegas sambil menunjukkan tespack yang dipegangnya pada sang istri. Ia berdiri berjarak sekitar satu setengah meter dari tempat istrinya duduk.
Naz sangat terkejut dengan benda yang diperlihatkan suaminya. Ia baru ingat jika tespack yang pernah dipakainya terjatuh di kamar mandi saat Cahaya tiba- tiba masuk, dan ia belum sempat mencari untuk membuang tespack itu.
Naz berdiri lalu diam membisu dengan pikiran yang yg tidak karuan, karena bingung harus mengatakan apa.
“Kenapa tidak dijawab? Aa yakin tespack ini bukan milik mbak Jumin atau Mbak Retno, kan.” Arfin kembali melontarkan pertanyaan dengan memberi tatapan tajam pada istrinya, karena tak kunjung mendapat jawaban.
Naz tetap diam dengan perasaan panik dan takut. Ia menghindari tatapan suaminya, lalu menundukkan kepalanya. Air mata tiba- tiba jatuh begitu saja dari kedua manik indah Naz.
“Maaf … “ hanya satu kata itu yang dapat ia lontarkan yang diiringi isak tangis.
“Maksudnya? Maaf untuk apa?” tanya Arfin masih dengan nada tegas, meminta penjelasan.
Tangan Naz mengusap perutnya yang masih rata. “Aku hamil … “ ucapnya terisak mengakui apa yang telah ia sembunyikan selama seminggu ini.
Arfin menghela nafas berat seolah menahan diri agar tidak membentak istrinya. “Sejak kapan kamu tahu kalau kamu hamil?” tanyanya lagi yang mulai merasa kesal.
“Se seminggu yang lalu, saat aku merasa tidak enak badan ….” ucapnya dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya.
“Kamu hamil dan tidak memberitahuku sama sekali?" tanyanya semakin kesal. "Lalu siapa saja yang sudah tahu tentang kehamilan mu?” Arfin terus menginterogasi istrinya yang tengah menangis dan nampak ketakutan sambil menundukkan kepalanya.
“Mbak Jumin dan Cahaya … maafin aku, hiks hiks,” jawabnya lalu kembali meminta maaf. “Jika Aa tidak menginginkan anak ini, biar aku saja yang akan merawat anak ini sendiri, hiks hiks …. “ ucap Naz dengan berderai air mata.
Arfin berjalan mendekat pada istrinya dengan terus menatap istrinya yang masih menunduk. Saat berdiri tepat di hadapannya, Arfin lalu berlutut dan menatap perut istrinya yang masih rata. Ia meletakan telapak tanyanya pada perut Naz, lalu mengusapnya dengan lembut.
“Hai, sayang … Magu kamu itu jahat. Masa Pagu gak dikasih tau tentang keberadaan mu di dalam sini … Pakai bilang mau merawat kamu sendirian segala lagi,” ucapnya pada sang jabang bayi, lalu ia mencium perut istrinya.
Naz kembali dikejutkan dengan sikap dan perkataan Arfin yang tiba- tiba nada bicaranya berubah menjadi lembut, tidak setegas sebelumnya yang menunjukkan menahan amarah.
“Aa … Aa gak marah aku hamil lagi?” tanya Naz lalu menghapus jejak air mata dengan telapak tangannya.
“Enggak,” jawabnya singkat tanpa menoleh pada istrinya dan ia malah kembali mengelus perut Naz.
“Terus kenapa tadi Aa ngomongnya kayak marah gitu?” Naz kembali bertanya dengan raut wajah yang berubah menjadi kesal, karena merasa telah dikerjai oleh suaminya.
Arfin menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya, kemudian ia kembali membuka matanya, lalu berdiri dan menatap sang istri. “Karena Aa kesal, kamu hamil kok gak bilang sama Aa. Itu kan hasil kerja keras Aa, malah ngasih tahu mbak Jumin sama Cahaya aja … Memangnya yang hamilin kamu siapa? pakai takut segala bilang ke Aa,” cerocos Arfin meluapkan kekesalannya.
“Bu -bukannya Aa bilang kalau Aa gak mau punya anak lagi, aku takut Aa gak mau nerima anak ini,” ucapnya sambil mengelus perutnya.
Arfin kembali menghela nafas panjang. “Ya ampun sayang … anak itu rezeki, masa udah dikasih sama Allah, Aa menolaknya … Aa memang sempat berpikir untuk tidak punya anak lagi, karena gak tega dan gak mau melihat mu harus kesakitan lagi saat melahirkan, bukan karena hal lain,” ucapnya panjang lebar.
“Jadi gak marah kalau aku hamil lagi?” tanya Naz memastikan.
“Tentu saja tidak, sayang … Aa malah senang kita akan punya anak lagi. Tapi … kali ini lahirannya melalui operasi Cesar saja ya, biar gak kesakitan seperti saat melahirkan Cahaya” Arfin mengajukan permintaan.
“Engak, A … pokoknya aku pengen melahirkan secara normal, dan Aa harus mendukung itu ….” Naz menolak permintaan sang suami.
“Tapi, sayang … Aa gak sanggup dan gak tega lihat kamu kesakitan kayak dulu lagi.” Arfin nampaknya masih trauma melihat istrinya yang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan buah hatinya.
“Kalo gitu Aa gak usah ikut ke ruang bersalin aja, biar gak melihat proses melahirkannya.”
“Eh, mana ada … Aa ini kan suami kamu, masa gak nemenin kamu lahiran.” Arfin tak terima.
“Yasudah, kalau gitu dukung aku buat lahiran normal. Jangan nyuruh cesar cesar mulu, deh!” Naz menegaskan.
"Kan biar kamu nya gak merasa sakit, sayang.” Arfin masih kekeuh membujuk Naz.
“Aa, kata bunda tuh melahirkan cesar saat prosesnya aja gak sakit, tapi setelah biusnya habis akan merasa kesakitan. Aa bayangin aja perut dibedah kayak gitu. Mana penyembuhannya lama lagi. Kalau normal kan recovery-nya cuman 40 hari, kalau cesar setelah bertahun- tahun pun suka ngerasa sakit di bekas bedahnya. Jadi Aa lebih suka kalau aku ngerasain sakit kayak gitu?” Naz mengutarakan alasannya ingin tetap melahirkan secara normal.
“Hah … masa sih?” Arfin merasa tak percaya.
“Iya, kata bunda gitu. Kan bunda udah pernah cesar saat melahirkan putrinya yang meninggal. Dan perlu Aa tahu, libur bercintanya aja bisa sampai tiga atau empat bulan, emang kuat?” Naz malah menakuti suaminya.
“Apa- apaan itu? masa lama banget nyiksa si ujang nya?” Arfin mulai goyah.
“Soalnya kan luka bekas bedahnya pasti sakit kalau kegoyang- goyang. Kalau maksain enak di Aa gak enak di aku dong ….” Ucap Naz dengan nada kesal.
Arfin mendengus kesal, lalu berpikir sejenak. “Ya sudah kalau gitu kamu mending lahiran normal saja” Akhirnya Arfin mendukung keinginan sang istri.
“Nah gitu dong … kan kalau di dukung gini enak, dan gak usah ribut di ruang bersalin nantinya.”
Naz tersenyum penuh kemenangan, karena akhirnya sang suami bisa mendukungnya untuk bisa melahirkan secara normal. Ia tahu persis suaminya itu doyan syekali main kuda- kudaan, sehingga tidak akan kuat jika harus menahannya sampai berbulan- bulan gitu.
“Oh iya, omong- ngomong sudah berapa minggu usia kandungan mu, sayang?” tanya Arfin kembali ke pembahasan kehamilan yang disembunyikan istrinya.
“Gak tahu … hehehe ….” Naz hanya nyengir.
“Apa? Kok bisa? Bukannya sudah seminggu yang lalu kamu tahu kalau kamu lagi hamil?” Arfin yang terkejut kembali mempertanyakan. “Kalau Aa gak nemuin tespack ini, kamu berarti kamu gak akan akan pernah periksa ke dokter?” Arfin terus nyeroscos.
“Aku belum periksa ke dokter, karena masih bingung mencari cara untuk memberitahukannya sama Aa,” ucap Naz berterus terang.
“Ya ampun, sayang … kamu pikir Aa ini suami yang kejam apa … Mau ngasih tahu kehamilan mu saja sampai takut segala. Orang yang menghamili kamu itu Aa. Kalau kamu hamil dari pria lain, wajar takut juga.” Arfin merasa terkejut sekaligus kesal, seolah istrinya tidak mementingkan kondisi janin di dalam kandungannya.
“Ih amit- amit deh hamil sama lelaki lain, ditidurin Aa aja aku sudah kewalahan, apalagi nambah satu laki ….” Naz malah bicara ngelantur lalu bergidik ngeri.
“Hahaha … Kalau gitu ayok sekarang kita pergi ke dokter kandungan,” ajaknya.
“Ini kan hari minggu, mana ada dokter yang praktek. Besok saja ya.”
“Bener juga ya … kalau gitu kita lanjutkan saja yang tadi ya.” Arfin baru teringat pada pergulatan yang hampir mereka lakukan tadi.
“Gak mau ah, orang Aa udah bikin aku nangis dan gak peduli aku udah banjir air mata juga.” Naz merasa kesal pada sikap suaminya.
__ADS_1
“Masih untung Aa gak marah- marahin kamu, cuman ngerjain dikit doang biar kamu ngaku.”
“Dih … dasar menyebalkan … pokoknya selama sebulan gak bakal dapat jatah,” ucap Naz yang melengos begitu saja menuju pintu untuk keluar dari kamarnya.
“Apa?” Arfin terkejut mendengar hukuman yang diberikan istrinya, ia kemudian mengejar Naz yang sudah membuka pintu dan hendak keluar.
“Tunggu, kamu gak bisa dong ngasih hukuman selama sebulan. Itu penyiksaan namanya … Emangnya kamu gak takut dosa apa nganggurin suami sebulan?” Arfin mengeluarkan senjata andalannya membawa- bawa dosa.
Naz mendengus kesal mendengar kata itu selalu dijadikan ancaman oleh suaminya. “Aa … inget gak kata dokter saat aku hamil Cahaya dulu?”
“Soal apa?”
“Selama trimester pertama kehamilan, kita dilarang untuk berhubungan. Jadi pilih mana? manjain si ujang atau keselamatan calon anak kita?” Naz oun tak mau kalah memberi suaminya ancaman.
Arfin pun tercengang mendengarnya. Ia terdiam nampak mencerna perkataan istrinya, sampai Naz pergi pun ia tak menyadarinya.
**
Malamnya seperti biasa Naz menidurkan Cahaya di kamarnya. Setelah Naz selesai membacakan cerita, Cahaya lalu mengusap perut Magu-nya untuk menyapa sang adik.
“Dedek bayi, sekalang syudah malam. Ayok kita tidul ya, kita baca doa syama- syama,” ajaknya lalu ia pun mulai membaca doa dengan mengangkat kedua tangannya dan dibimbing oleh Naz.
“Bismillahilohmaanilohiim … bismikaallohumma ahya wabismika amuut, aamiin …“ Cahaya mengusapkan kedua telapak tangan pada wajahnya. Ia kembali mengusap perut Magu- nya.
“Dedek bobo juga ya, muach,” ucapnya lalu mencium perut Magunya.
“Ekhm … Pagu kok gak dicium sih?” Arfin tiba- tiba datang dan mengagetkan Cahaya.
“Ssssssttt … Dedek jangan sampai Pagu tau, ya. Kan kita lagi main halasia." Cahaya berbisik pada perut Naz, kemudian kembali menegakkan tubuhnya.
“Halasia? Maksudnya Rahasia?” tanya Arfin sambil mengoreksi. “Main rahasia apa, hem?” tanyanya lagi pada sang putri, kemudian ia mengelus perut Naz. “Hai, kamu sama kakak-mu lagi main rahasia apa?” Arfin bertanya pada si jabang bayi.
“Ops … Jadi Pagu syudah tahu kalau dedek bayi sudah datang ke pelut Magu?”
“Tentu saja … kamu ini kecil- kecil udah main rahasia- rahasiaan sama Pagu ya, hem.”
“Hehe … Magu yang ngajak main halasia, katanya mau ngasih kejutan.”
“Oh, ya … dan Pagu pun terkejut ,” ucapnya seolah mengejek. “Cahaya mau ketemu sama dedek bayi gak?”
“Mau mau mau … tapi, kan kata Magu dedek masih kecil dan masih di pelut Magu. Jadi belum bisa ketemu.”
“Kan ada alatnya di tempat dokter, jadi nanti Cahaya bisa melihat di layar komputernya Bu dokter.”
“Hah … doktel?” tanyanya terkejut.
“Iya, ketemu Bu Dokter," jawab Arfin.
“Tapi, nanti Chaya ndak dikasih obat pait, kan?” tanyanya seolah trauma bertemu dokter.
“Engak dong sayang, kan cuman mau periksa Magu dan dedek bayi di perut Magu.” jelas Arfin.
“Chaya mau Chaya mau … ayok sekalang kita ke bu doktel,” ajaknya antusias.
“Sekarang kan sudah malam, jadi kita perginya besok. Sekarang Cahaya bobo dulu ya, biar besok seger mau ketemu dedek bayi,” ucapnya lalu sang putri pun segera menarik selimutnya dan menyelimuti tubuhnya dari ujung kaki hingga dada.
Cahaya memejamkan matanya, lalu Arfin dan Naz menciumnya secara bergantian. Dan setelah Cahaya tidur, mereka pun beranjak pergi meninggalkan kamar putri mereka.
**
Keesokan harinya sejak bangun tidur, Cahaya sudah bersemangat karena akan bertemu dengan dedek bayinya.
Arfin pun sudah meminta Dilara untuk membuatkan janji dengan dokter Sashmita, dan ternyata prakteknya pukul satu siang. Sehingga Cahaya merasa sedih dan kecewa karena harus menunggu lagi sampai nanti siang.
Namun, saat Naz membujuknya dengan mengajaknya menonton film Barbie yang baru saja diunduh nya dari sebuah situs internet, barulah ia kembali ceria lagi.
Naz memindahkan file nya pada flashdisk, lalu menontonnya di layar televisi bersama sang putri setelah suaminya berangkat kerja.
**
Sebelum dzuhur Arfin sudah ada di rumah, sehingga ISOMA pun dilakukan di rumahnya bersama istri dan anaknya. Setelah makan siang, mereka bertiga pergi ke klinik tempat praktek dokter Sashmita SpOG.
Sesampainya di sana, mereka tak perlu menunggu lama karena mendapat antrian pertama. Ketiganya pun masuk ke ruang periksa setelah perawat memangil nama Naz.
Cahaya sebenarnya merasa takut jika bertemu dokter, karena baginya dokter itu menakutkan dan suka memberinya obat pahit. Namun demi bertemu sang adik, ia rela melawan rasa takutnya. Walaupun semenjak turun dari mobil hingga masuk ruang periksa, ia terus minta digendong oleh Arfin.
Saat melakukan pemeriksaan USG, ternyata kandungannya sudah berusia 5 minggu, dan janinnya baru sebesar biji wijen. Ibu dan janinnya pun dikatakan dalam keadaan sehat.
Cahaya merasa sedih dan kecewa, saat tahu dedek nya yang ternyata masih sangat kecil dan belum sebesar adiknya Nala. Namun, Arfin dan Naz terus memberinya pemahaman, bahwa lama- lama dedek nya akan besar juga asalkan Cahaya sabar menunggu.
“Cahaya sebentar lagi jadi seorang kakak, nanti mau dipanggil apa?” tanya Arfin pada putrinya yang sudah kembali ceria dan duduk di jok belakang mobil sambil memainkan ponsel mainannya.
“Cahaya mau dipanggil kakak, mbak atau teteh?” Naz memberikan pilihan.
“Ndak mau !” seru Cahaya menolak.
“Terus mau dipanggil apa dong?” Naz mempertanyakan keinginan Cahaya.
“Chaya mau dipanggil Akha, sepelti upin ipin manggil kakaknya,” ucapnya mengutarakan keinginannya.
“Oh jadi manggilnya Akha Cahaya, gitu?” tanya Arfin memastikan.
“Bukan Pagu … tapi panggil Akha!”
“Apa mau dipanggil seperti sultini poiin yang minumnya sampai satu galon itu?” Naz memberi saran pada putrinya.
“Yang mana? Artis mana itu?” tanya Arfin heran.
“Itu artis sejagad emte ente, hahaha.” Naz malah tertawa.
Arfin nampak bingung mendengar ucapan istrinya yang tidak meyakinkan itu. “Dipanggil apa emang?”
“Akha Kudett,” jawab Naz.
“Apaan itu kudett?” tanya Arfin lagi.
“Kurang update kayaknya,” Naz menjawab ngasal.
“Waduh,,, jangan atuh, Yank … Jangan pakai kurang updet nya,” protes Arfin.
“Iih … Chaya mau panggil Akha aja!” Cahaya pun ikut protes.
__ADS_1
“Baiklah, Akha ….” Ucap Naz dan suaminya barengan.
“Betul betul betul ...."