
Perjalanan dari panti menuju rumah Naz memakan waktu sekitaran setengah jam lebih, dan selama itu pula tidak ada percakapan di dalam mobil antara sepasang kekasih itu, dimana sang gadis tengah merajuk kerena ternyata setelah tiga bulan mereka berpacaran, sang gadis belum memiliki panggilan sayang yang khusus dari pria yang begitu dicintainya tersebut, dan selama ini hanya memanggil namanya saja seperti orang lain memanggilnya,,, Naz,,, kadang sesekali Arfin memanggilnya sayang. Namun bagi Naz itu bukanlah panggilan sayang yang khusus, karena orang tuanya juga sering memanggilnya dengan sebutan itu.
Naz yang tengah merajuk terus memejamkan matanya berusaha untuk tidur, namun rasa lelahnya kalah dengan rasa kesal yang ia rasakan, sehingga rasa kantuk pun tak kunjung mendatanginya. Akhirnya dia hanya pura- pura tidur kalo kata orang sunda mah peureum hayam.
Tak terasa mereka kini sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Naz. Arfin membangunkan Naz yang menurutnya sedang tidur, karena sejak Naz merajuk memalingkan wajahnya menghadap ke samping pada pintu mobil, Arfin tak bisa melihat jelas wajah kekasihnya itu.
“Sayang,,, bangun,,, udah nyampe”, Arfin menyentuh lengan Naz dan menggoyangkannya.
“Bangun apa? Orang aku gak tidur kok”, Naz menjawab dengan nada jutek.
“Oh,, jadi pacar tercintaku ini masih merajuk toh,,,, jadi kamu mau dipanggil apa sama Aa hem?”,tanya Arfin.
“Au ah gelap,,, “, Naz membuka pintu mobilnya masih dengan mode kesal ia pun keluar, “Aa gak usah mampir, aku mau langsung boci”, ucap Naz lalu menutup pintu mobil dan berjalan menuju pintu gerbang.
Arfin hanya bisa memandangi gadis kesayangannya itu sampai ia memasuki pintu gerbang rumahnya lalu kembali menutupnya, ia menghela nafas sejenak, “Sabar Arfin,,, namanya juga bocah, harus punya kesabaran extra kalo dia sudah ngambek begini”, ucapnya berdialog sendiri dengan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian ia melajukan mobilnya menuju jalan pulang.
Sesampainya di rumah, ternyata Nervan sudah ada di sana sedang duduk sambil menonton televisi di ruang tengah. “Tumben Abang pulang ke sini? “, tanya Arfin heran yang kemudian duduk di sofa panjang yang sama.
“Lupa password apartemen jadi balik ke sini”, Nervan menjawab ngasal.
“Hahaha,,, alasan aneh bin mustahil,,, gak jelas lo Bang,,, pasti ada sesuatu kan? Apa pacar- pacar Abang itu sudah tahu tempat tinggal Abang, makanya kabur kesini”, Arfin menebak- nebak lalu mengambil sebuah jeruk yang ada di atas meja lalu membukanya untuk dimakan.
“Enggak lah,,, gak ada yang tahu aku tinggal di apartemen, males banget disamperin perempuan ke sana, yang ada nanti bisa khilaf,,,”, jawabnya terkekeh, “Al,,, apa anak itu masih punya orang tua?”, Nervan menanyakan Nala.
Arfin tersenyum simpul merasa senang ternyata Nervan sudah mulai peduli terhadap Nala, “Anak yang mana Bang?”, tanya Arfin pura- pura tidak tahu sambil memakan jeruk nya.
“Anak yang mana lagi,,, ya yang tadi dibawa Naz ke mall “, ucapnya.
“Oh,,, Syanala maksudnya? Kenapa gak langsung nyebutin namanya aja sih, jadi kan aku gak bingung,, dia masih punya orang tua, tapi mereka sudah tidak bersama lagi semenjak ibunya mengandung Nala”, Jawab Arfin yang masih memakan jeruk sesekali melirik Nervan ingin tahu ekspresinya.
“Namanya Syanala?”, tanya Nervan heran.
“Iya, namanya Syanala, katanya dia baru sebulan di panti bersama ibunya yang tidak bisa melihat, makanya Naz suka main dengan Nala, dan kemarin kali kedua Naz mengajaknya jalan ke mall,, kasihan anak itu sejak lahir bahkan sejak dalam kandungan pun tidak pernah mendapat kasih sayang dari ayahnya,, dan Abang tahu, dia pernah memanggilku dengan sebutan Papa karena aku pernah beberapa kali bermain dengannya, itu membuat Naz marah dan mengira kalo Syanala itu anakku,,, hahaha”, Arfin tertawa mengingat Naz saat mengatakan hal itu dan ia pun terus memperhatikan ekspresi Nervan.
“Apa,,,?? Maksudmu ibunya Nala itu buta? Apa karena itu suaminya meninggalkannya? Jadi dia memanggil Papa pada setiap pria yang memberinya perhatian? Kasihan anak itu,,, “,Nervan semakin kepo.
“Iya ibunya Nala buta dan karena itulah dia meninggalkan suaminya karena tidak ingin menjadi beban untuk suaminya, dan setelah pergi dia baru tahu kalau dia sedang mengandung”, Arfin membeberkan sedikit demi sedikit.
Nervan menundukkan pandangannya karena seolah merasa tersentuh dan sedih mendengar kisah Nala,
"Kenapa perasaan ku seperti ini,, kenapa rasanya sakit mendengar cerita tentang anak malang itu, ibunya buta dan ayahnya tidak ada,,, “, lirihnya dalam hati.
“Maaf Bang, aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya padamu, aku harap perlahan kau bisa dekat dulu dengan Nala agar bisa membuat mu bersatu kembali dengan Humaira juga anak kalian”, Arfin berdialog dalam hati saat melihat Nervan menundukkan kepalanya dan seolah sedang melamun.
“Kenapa Abang tanya- tanya soal Nala? Jangan bilang Abang sudah bosan pacaran dengan wanita dewasa jadi mengincar anak kecil, hahaha”, Arfin malah menggoda nya.
“Kurang ajar kau,,, memangnya kau pikir abang mu ini paedofil apa… “, Nervan langsung ngegas karena tidak terima seolah disangka paedofil oleh Arfin.
“Terus kenapa Abang tanya- tanya soal Nala,,,? Apa Abang berniat mengadopsi nya?”, Arfin terus mancing- mancing.
“Dia kan bukan anak yatim piatu, dan lagi pula tadi kau bilang dia tinggal bersama ibunya di panti, mana bisa aku mengadopsinya”.
“Ya bisa saja Abang mengadopsi Nala beserta ibunya kan ,,, hahaha”, Arfin langsung berdiri dan hendak ngacir karena Nervan sudah mengambil bantal sofa untuk melempar Arfin, ia pun bergegas pergi meninggalkan ruang tengah, “Kalo Abang kangen sama Nala, nanti ku kirimkan foto mu yang sedang bersamanya tadi di mall”, teriak Arfin dan ia pun pergi menuju kamarnya.
Malamnya sekitar jam 8 malam Arfin menghubungi Naz dengan panggilan videocall.
“Hallo Asslamu’alaikum bidadari cantikku,,, “, sapa Arfin dengan melempar senyuman termanisnya saat Naz menerima sambungan videocall nya.
“Wa’alaikumsalam “, Naz menjawab salam dengan ekspresi masih jutek.
“Uluh- uluh,,, ternyata pacarku yang cantik ini masih ngambek yaa,, jangan lama- lama dong ngambeknya, nanti aura kecantikannya meredup”, Afin malah menggombali Naz.
“Biarin,,, meredup juga masih banyak yang naksir”, ucap Naz yang langsung membuat Arfin menghentikan senyumnya.
“Oh ya,,,, banyak yang naksir ya,,, coba saja kalau mereka berani mendekati mu, akan berakhir seperti wali kelas mu itu, bahkan bisa lebih parah”, Arfin bicara dengan nada mengejek.
“Dasar kriminal”, cicit Naz.
“Kau yang membuatku seperti itu sayang”, Arfin terus menggoda.
“Diih,,, malah nyalahin aku,, prett ahh”, Naz pun masih mode jutek.
“Hahaha,,,, udah ah jangan ngambek terus dong… jadi pacarku yang cantiknya bagai bidadari yang turun dari kayangan ini ingin mendapat panggilan sayang apa hem??”, tanya Arfin.
“Terserah,,, “, Naz menjawab singkat seolah memberi wewenang penuh pada Arfin untuk menentukan.
“Hemmmmm,,,, bagaimana kalo dipanggil sayang?”, pengajuan pertama.
“Gak mau,,, itu mah pasaran,, lagian orang tua ku juga suka memanggilku dengan sebutan itu”, Naz menolak.
__ADS_1
“Kalo Ayang gimana?”, pengajuan selanjutnya.
“Gak mau,,, itu panggilan sayang Akmal ke Ruby, yang manggilnya Ayang Mby”, Naz kembali menolak.
“Kamu kan manggil aku Aa, gimana kalo Aa manggil Ade atau Dede?”.
“Aaaahh,, gak mau,, nanti kita dikira adik- kakak bukan pacar,, lagian di rumah aku dipanggil adek ih”. Naz teringat dua wali kelasnya yang mengira Arfin adalah kakaknya.
“Kalo gitu my love aja ya?”.
“Iiihhhh ,,, gak mau ah,,, itu kan merk seprei”.
“Oh my god,,, terus manggil apa atuh? My darling?”, Arfin sudah mulai jengah.
“Gak mau,, itu nama salah satu merk eyeliner".
“My honey?".
“Gak mau,,itu salah satu merek madu “.
“My queen?”.
“Iiihh,,, gak mau,, itu merk springbed,, Aa sebenernya mau ngasih nama panggilan apa mau promosi dagangan sih? Dari tadi kok nyodorin merk dagangan mulu,, sekalian aja katel, panci, kompor, termos, parutan sebutin semua”,Naz malah menggerutu kesal.
“Hahahha,,, terus apa atuh? Tadi katanya terserah,, tapi kok semua di protes mulu,,,, panggil Neng Rhehe mau?”, Arfin mulai pusing dibuatnya.
“Enggak”. tolak Naz.
“Neng Elea?”.
“Enggak ihh,, kesannya niru Bang Evan yang manggil nama tengah kak Maira”. Naz terus protes.
“Nyai atuh mau? Kan orang sunda mah ciri khasnya kalo gak Neng ya Nyai,,, Nyai Rhehe, Nyai Elea, Nyai Noor?, Arfin benar- benar pusing.
“Aaaahhh,,,, gak ada yang bener ih kamu mah”, Naz malah marah.
“Haduh Ya Allah,,, puyeng gini ya,,,, Aa harus manggil apa atuh Chayang?”, Arfin pun menyerah.
“Nah itu aja boleh,, tapi jangan pake ‘ng’ coba”, akhirnya ada yang terpilih.
“Manggil apa maksudnya?”, tanya Arfin heran.
“Itu Aa tadi manggil chayang,,, hilangin huruf ‘ng’ nya,, coba deh”, ucap Naz ingin mengetes.
“Kan itu juga cahaya cuman dihilangkan huruf A nya satu biar agak beda gitu,, fix ya mulai sekarang Aa gak boleh manggil namaku lagi cuma boleh manggil aku Chaya…”,ucap Naz.
“Baiklah Chaya sayaaang…. Oh iya besok kan hari minggu, besok pagi kita jalan ke taman kota yuk besok kan CFD ”, ajak Arfin.
“Emmm,,, boleh,,, eh,, gimana kalo aku ngajak Nala lagi biar dia ketemu lagi sama Bang Evan, supaya mereka makin dekat”, Naz menyarankan.
“Boleh juga,, sepertinya Abang sudah mulai menyukai Nala, tadi juga dia nanya- nanya soal Nala”, Arfin pun menyetujuinya.
“Wah,, bagus dong langsung ada kemajuan ternyata,,, yasudah kalo begitu aku udah ngantuk, mau bobo lebih awal biar besok seger, dadah Aa,,, selamat malam dan selamat tidur,, I love you … assalamu’alaikum”, ucap Naz mengakhiri percakapan.
“Wa’alaikumsalam,,, I love you too,, mimpi in Aa yaa”.
“Dih,,, bosen ntar kalo siang malam ketemu mulu,, hahaha”, Naz langsung mematikan sambungan video call nya sebelum Arfin ngomel.
***
Keesokan harinya, jam enam pagi Naz yang memakai kaos dan celana training disertai jaket sudah berangkat ke panti naik taksi online, karena Pak udin sedang sakit sehingga tidak masuk kerja. Naz tiba setengah jam kemudian, dan ia pun langsung masuk ke panti yang ternyata anak- anak sedang pada opsih, ada yang membersihkan rumah ada pula yang membersihkan halaman dan mencabut rumput- rumput liar.
Saat Naz masuk ke dalam dia langsung mendapat omelan dari Maira karena membelikan Nala banyak mainan dan boneka, karena ia merasa malu dan tidak enak serta takutnya Nala jadi kebiasaan pengen ini itu, sedangkan ia tidak mampu membelikannya. Naz pun meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Kemudian ia minta izin kembali untuk membawa Nala jalan- jalan ke taman kota, namun sayang Nala masih tidur. Naz pura- pura numpang ke toilet padahal ia diam- diam masuk ke kamar Maira untuk membangunkan Nala.
“Nala sayaang,,ayo bangun,,, “, Naz berbisik ke telinga Nala, namun ia tidak merespon karena masih tidur nyenyak. Lalu Naz dengan jahilnya mengambil selimut bayi Nala dengan menarik dari pegangan Nala kemudian melipat selimut itu, sehingga Nala terusik tidurnya dan tangannya terus meraba- raba mencari keberadaan selimutnya.
Naz berbisik lagi, “Nala,, ayo bangun,,, kita kan mau ketemu Papa…”, mendengar itu Nala langsung membuka matanya, “Ketemu Papa”, tanya nya dengan suara serak dan mata yang masih mengantuk. “Ssssssttt,, jangan berisik,, kita akan main ke taman untuk ketemu Papa, tapi jangan bilang siapa- siapa ya,, sekarang Nala bangun dan temui Mama bilang mau mandi,, jangan bilang dibangunkan sama Kaka ya”, Nala yang masih ngantuk pun menjadi bersemangat karena akan bertemu dengan Papa nya lagi, ia turun dari tempat tidur, lalu keluar kamar dan menemui mama nya, sedangkan Naz pergi ke kamar mandi karena tiba- tiba perutnya merasa mulas, kualat kamu Naz.
“Mama,,,, “, ucapnya menghampiri Maira yang sedang duduk di kursi tamu, “Nala sayang,,, tumben sudah bangun sepagi ini?“, Maira merasa terkejut dengan kedatangan putrinya yang biasanya bangun agak siang, kalo kata ibunya suka bangun jam 8 pagi.
“Mama mau mandi”, Nala langsung menjalankan perintah Naz.
Naz yang sudah selesai dari kamar mandi kembali duduk di kursi tamu bersama Maira menunggu Nala yang sedang dimandikan oleh Mina di kamar mandi lain, setelah selesai mandi dan berpakaian Naz kembali meminta izin untuk membawa Nala ke taman kota dan Nala pun merengek ingin ikut, akhirnya Maira pun mengizinkan.
Naz menyuapi Nala makan sambil menunggu Arfin yang sedang di perjalanan untuk menjemput mereka. Dan beruntung setelah Nala menghabiskan makanannya Arfin pun datang, lalu mereka pun berangkat. Saat di perjalanan Naz mewanti- wanti pada Nala agar memanggil Papa nya dengan panggilan Om Evan, karena mereka sedang main rahasia- rahasiaan jadi tidak boleh memanggil Papa dan Nala pun menuruti apa yang dikatakan Naz saking senangnya akan bertemu dengan Papa nya itu.
Sesampainya di taman kota, banyak sekali orang- orang yang joging dan anak- anak yang bermain, karena di sana juga ada beberapa permainan anak dan berbagai macam jajanan kaki lima. Naz bersama Arfin yang menggendong Nala dari parkiran berjalan menuju taman. Saat sudah masuk kawasan taman, Nervan sedang duduk sendiri sambil meminum air mineral, dan saat Nala melihatnya ia langsung minta turun dari pangkuan Arfin dan berlari menghampiri Nervan. Gayung pun bersambut, Nervan senang sekali bisa bertemu dengan Nala dan langsung memeluk anak itu lalu menggendongnya.
Nala diajak oleh Nervan ke tempat permainan anak di sana, sedangkan Naz mengajak Arfin mencari pedagang ketoprak, karena ia belum sempat sarapan. Mereka di sana sampai jam setengah sebelas lebih, hari pun sudah mulai panas karena awan yang sejak tadi menyembunyikan matahari kini telah berpencar, dan mereka pun memutuskan untuk pulang. Tapi Nervan malah mengajak mereka makan ke sebuah restoran, yang ternyata tadi pagi dia belum sempat sarapan, sehingga makan pagi dan makan siang dirapel. Mereka pun berangkat dengan formasi Naz satu mobil bersama Arfin, sedangkan Nervan satu mobil bersama Nala yang tidak berhenti berkicau dan bernyanyi sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Seusai makan, Naz dan Arfin mengantarkan Nala pulang, padahal Nervan minta mengajak Nala ke rumah agar bisa bermain dengannya sampai sore, namun Naz menolaknya karena merasa tidak enak pada Maira jika mengajak Nala pergi terlalu lama.
***
Hari senin ini Nervan meminta Arfin untuk mengajak Naz makan siang bersama mereka, juga meminta membawa serta Nala. Karena hanya untuk makan siang saja, Naz pun bersedia karena dia pikir tidak akan lama, sehingga sejak jam sepuluh pagi Naz sudah di panti bermain bersama Nala, dan satu jam sebelum makan siang ia minta izin mengajak Nala keluar dengan alasan untuk mencari makan. Dan mereka pun dijemput oleh Arfin, kemudian dibawa ke restoran untuk makan bersama Nervan, Naz dan Arfin seolah menjadi mak comblang pasangan backstreet, hanya saja bedanya ini pasangan ayah dan anak.
Nala pun makan dengan lahapnya disuapi oleh Nervan, seusai makan Nala berpindah duduk ke pangkuan Nervan lalu bercerita dengan kata- kata cadelnya, “Om,,, kemalin ada anak nakal jahat cama Nala, telus dia bilang kalo Mama Nala buta, telus Nala nangis, telus Nala peluk Mama,,, ”, Nala mengadu pada Papa nya.
“’Oh ya,,, ada yang nakal sama Nala, nanti Om jewer kuping mereka ya biar gak jahatin Nala lagi”, Nervan meladeni pengaduan Nala.
“Holeee,,, Om nanti jadi powel lenjel ciatt ciatt ciatt … eh tapi Nala syuka nya cama sepilipemen”, Nala merasa senang dengan menggerak- gerakkan tangannya yang dikepalkan seolah sedang belajar meninju.
“Sepilipemen itu siapa Nala?”, tanya Nervan heran.
“Itu Om yang manucia bala- bala yang walna melah bilu”, ucapan Nala sontak membuat ketiga orang itu tertawa
“Mungkin yang dimaksud Nala itu Spiderman si manusia laba- laba Bang, bukan manusia bala- bala,,, hahaha,,, Nala kalo bala- bala mah temennya mendoan, cireng, bakwan, gehu dan pisang goreng”, Naz yang sedari tadi hanya menyimak bersama Arfin, menjelaskan dan mereka kembali tertawa.
“Oopsss…”, Nala membekap mulutnya,”, iya laba- laba hehehe,, Om om buta itu apa cih?”,Nala teringat perkataan anak nakal itu.
Nervan, Naz dan Arfin malah saling bermain mata karena bingung harus menjawab apa, lalu Nervan mencoba menjelaskan pada Nala karena menurutnya tidak baik jika berbohong pada anak sekecil Nala, bisa- bisa menjadi contoh yang tidak baik baginya kelak, “Emmm,, buta itu tidak bisa melihat, jadi yang dilihatnya hanya gelap saja “.
“Tapi Mama bica melihat Nala, syuka bicala cama Nala, syuka peluk Nala, syuka usap lambut Nala, Mama bilang Nala cantik milip plinces, tapi mama endak tau walna, Nala pakai baju pink Mama bilang putih, Nala pakai baju melah Mama bilang kuning”, celoteh Nala menceritakan tentang Mamanya sambil memainkan dasi Nervan. Ia menatap lekat anak yang duduk di pangkuannya itu dengan tatapan sendu lalu memeluk Nala dan menciumi pucuk kepalanya berkali- kali, yang membuat Naz dan Arfin sebagai tim nyimak terharu melihatnya.
“Aa,,kenapa sih Bang Evan harus menerangkan segala buta itu apa,, padahal bilang aja kalo buta itu hantu,,, kan ada tuh buta ijo temennya kolor ijo”, Naz berbisik di telinga Arfin.
“Gak baik kalo bohong sama anak kecil”, ucap Arfin yang berbisik pula.
“Emang selama beberapa hari ini kita ngapain,, kan bohongin dia, wle?”, Naz mengingatkan.
“Iya, tapi kan bohongnya demi kebaikan, lagian cuman soal jangan panggil Papa aja, karena nunggu waktu yang tepat”, ucap Arfin tak mau kalah.
“Sama aja kan namanya bohong juga”, Naz pun kekeh.
“Iya- iya Chaya sayang,,,, “, Arfin pun mengalah.
Karena waktu jam makan siang sudah habis, Nervan dan Arfin kembali ke kantor, sedangkan Naz kembali ke panti diantarkan oleh sopir yang sebelumnya mengantarkan Nervan ke restoran.
Tak lupa Nervan pun membeli makanan untuk anak- anak panti yang nantinya dibawakan oleh Naz. Kegiatan makan siang bersama ini pun berulang hingga tiga hari.
***
Hari kamis ini Nervan berulang tahun dan Arfin mengajak Naz beserta Nala untuk datang ke kantor sejak pagi untuk memberi Nervan kejutan, karena setiap ulang tahunnya ia selalu merasa sedih karena setelah melahirkannya sang ibundanya meninggal, jadi untuk menghiburnya Arfin berinisiatif menghadirkan Nala yang selama beberapa hari ini sudah sangat dekat dengan Nervan.
“Aa,,, Bag Evan nya kemana? Kok gak nongol- nongol sih udah jam sembilan gini?”, tanya Naz yang sudah stay di kantor bersama Nala sejak setengah delapan pagi di ruangan kerja Nervan.
“Gak tahu,,, biasanya kalo ke makam mama nya gak lama gini,, masa iya dia ketiduran di sana kan gak mungkin,,”, Arfin pun merasa heran.
“Kasihan,, kayaknya Nala sudah mulai jenuh itu, dari tadi nanyain Bang Evan terus”, ucap Naz yang melihat Nala sedang mencorat- coret buku gambarnya dengan crayon yang ia bawa.
Ceklek ,,,, terdengar suara pintu terbuka dan munculah Nervan dari balik pintu dengan wajah yang nampak kesal dan tengah menahan amarah.
“Om Evan”, Nala yang melihat kedatangan Nervan langsung menyudahi kegiatannya lalu berlari menghampiri Evan kemudian memeluk kakinya.
“Lepaskan,,, !! “, ucapnya pada Nala sambil memelototinya, Naz dan Arfin dibuat kaget melihatnya.
“Om,,,,” lirih Nala memanggil lalu mengangkat kepalanya menatap mata Nervan.
“Lepaskan Nala !!”, Nervan kembali menyuruh Nala melepaskan pelukan pada kakinya sambil menggoyangkan kakinya, sedangkan Nala malah semakin erat memeluk kaki Nervan.
“Lepaskan Syanala !!”, Nervan berteriak dan melepaskan tangan Nala dengan kasar dari kakinya hingga tubuh Nala terdorong dan jatuh.
“Nala ,,!!”, teriak Naz dan Arfin berbarengan, mereka bergegas menghampiri Nala.
“Huaaaaaaaaaaaaa,,,,,,, Huaaaaaaaaa….. Om jahat,,,,, huaaaaaa”,Nala langsung menangis histeris dan Naz pun langsung menggendongnya.
“Lo kenapa sih Bang?”, Tanya Arfin dengan nada kesal.
“Pergi kalian semua dari sini,,,, tinggalkan ruangan ini sekarang juga !! ”, seru Nervan dengan nada tegas sambil menunjuk ke arah pintu.
"huaaaaaaaaaaa...... Papa Jahat.... huaaaaa", Nala menangis semakin kencang, lalu Arfin mengajak Naz yang menggendong Nala keluar dari ruangan Nervan.
"Apa Bang Evan selalu begitu setiap di hari ulang tahunnya?", tanya Naz yang kasihan melihat Nala yang menjadi pelampiasan kemarahan Nervan.
Arfin yang masih syock hanya diam tanpa kata, lalu membawa mereka masuk ke ruangannya.
---------------- TBC -----------------
****************************
__ADS_1
Happy Reading....
jangan lupa tinggalkan jejak... komen seramai- ramainya ,, like, vote, dan rate bintang 5