
Acara pertunangan yang digelar sejak pagi, berakhir sampai jam satu siang. Setelah Naz menyanyi, dilanjutkan dengan penampilan yang lainnya yang menyumbang lagu, tak terkecuali para orang tua dari kedua mempelai. Kemudian satu persatu para sanak saudara dari kedua belah pihak berpamitan pulang dan yang tersisa tinggallah Naz, Arfin dan para orang tua mereka.
Setelah selesai shalat mereka berkumpul di ruang tamu salah satu kamar hotel untuk membicarakan tanggal pernikahan Naz dan Arfin. Opa yang tidak bisa ikut musyawarah karena merasa kurang sehat sudah mewanti- wanti agar kedua putranya tidak memperebutkan tempat lagi dan pernikahan akan dilaksanakan di salah satu gedung miliknya yang jauh lebih besar dibanding ballroom hotel yang dipakai acara pertunangan tadi.
“Jadi bagaimana? Apa kamu sudah menentukan tanggal pernikahan anak- anak kita ini?”, tanya Pak Latief membuka pembicaraan.
“Kalau untuk bulannya aku dan Rizal sepakatnya bulan juni, jadi Naz sudah lulus dan punya waktu sebulan lah untuk masuk perkuliahan”, jawab Pak Syarief yang kemudian memandang ke arah Naz dan Arfin yang duduk berdampingan, ”Bagaimana menurut kalian, AL, Naz?”, tanya beliau.
“Kalau saya sih gimana Naz aja Om,, kalau dia siap, insya Allah saya juga siap”, jawab Arfin yang menoleh ke arah Naz yang duduk di sebelahnya itu.
“Emm,,, terserah kalian saja sih,,, eh tapi acara perpisahan sekolah bagaimana? Kan biasanya suka barengan sama pembagian raport adik kelas”, ucap Naz baru teringat.
“Gak apa- apa Naz,,, yang penting kamu sudah selesai UN dan sudah pelulusan sebelum menikah,,, kalau acara perpisahan kan bisa dihadiri walaupun kamu sudah menikah,,, lagian sekolah itu kan dibawah naungan yayasan milik Papi,,, tenang saja “, Ucap Pak Latief.
“Oh gitu ya,,, yasudah kalau begitu aku ikut gimana kalian saja”, Naz pun memasrahkannya pada para orang tua.
“Jadi dengan kata lain kamu setuju kalau pernikahannya di adakan bulan Juni, Dek?”, tanya pak Rizal memastikan.
Naz mengangguk, “Iya Ayah,,,”.
“Kamu yakin?”, tanya Pak Syarief.
“Iya Papa,,, Naz yakin”, jawab Naz lagi.
“Berarti kalian sudah siap ya menikah bulan Juni,,, hanya saja kita belum dapat tanggalnya,,, kalian maunya tanggal berapa?”, Pak Syarief kembali bertanya.
“Emmm,,, kalau bisa awal bulan saja Om,,,”, jawab Arfin.
“Jadi pas udah gajian ya, Al ? Hahahaha”, Tanya Pak Syarief bergurau.
“Hahaha,,, iya bisa juga Om,,, kalau awal bulan kan di kantor juga gak terlalu sibuk seperti akhir bulan,,, “, ucap Arfin.
“Bagaimana dengan yang lainnya?”, tanya Pak Syarief.
“Kita sih ikut saja kemauan anak- anak, yak kan, Pi?”, Bu Hinda ikut bersuara.
“Iya benar,,, tapi apakah cukup waktu persiapannya dalam waktu 5 bulan?”, tanya Pak Latief.
“Ya kalau misalkan kita sudah dapat tanggalnya, kita tinggal mencari WO yang bagus dan juga menyanggupi mempersiapkan acara dalam waktu 5 bulan, kalau soal gedungnya kan sudah ada”, jawab Pak Syarief.
“Kalau bisa mah pas hari libur atuh Mas,,, biar semua keluarga dan sanak saudara yang jauh teh bisa pada hadir”, Bunda mengemukakan pendapatnya.
“Iya Anita benar Mas,, ini kan momen langka, setelah kedua kakak perempuan ku, baru kali ini keluarga kita mengadakan pesta dari pihak pengantin perempuan”, Pak Rizal mendukung usulan istrinya.
“Iya,, kalian benar,,, sebentar,, aku lihat kalender bulan Juni dulu”, ucap Pak Syarief yang kemudian mengambil ponselnya kemudian membuka aplikasi kalender dan melihat- lihat tanggal di layar ponselnya, “Di minggu awal hari sabtu jatuh pada tanggal 3 juni,,,, ada nih yang tanggal merah hari senin tapi di akhir bulan “, ucap beliau sambil memperhatikan layar ponselnya, “Jadi gimana nih,, mau yang long weekend atau weekend biasa saja?”, tanya beliau pada semua orang.
“Kalo menurut saya mending ambil yang tanggal awal aja Om,,, soalnya kalau akhir bulan di kantor suka sibuk dan juga nantinya terlalu mepet untuk persiapan perkuliahan Naz”, Arfin tetap ingin awak bulan.
“Ah,,,kamu mah alesan saja,,, bilang aja pengen bulan madu lebih lama,,, hahahaha”, ucap Bu Hinda yang mengundang gelak tawa semua orang yang hadir di sana, sedangkan Arfin nampak salah tingkah.
“Oh,,, iya iya ngerti saya,,, hahaha”, ucap Pak Syarief yang juga ikut menertawakan Arfin, “Jadi fix ini awal bulan Juni ya?”, tanya beliau lagi memastikan.
“Kok hari sabtu sih Mas,,, gak hari minggu saja?”, Tanya Pak Rizal.
“Terserah itu,, mau hari sabtu atau pun minggu yang penting di awal bulan”, jawab Pak Syarief.
“Eh,,, ayah mah gimana sih,,kan kalau mau menikah itu sebelum hari H suka ada siraman dan pengajian dulu,, jadi ya mulai hari sabtu acaranya,, nanti akad nikahnya teh hari minggu,,, atau bagaimana ini,,, akad nikah sama resepsi mau di hari yang sama kah?”, Tanya Bunda.
“Mending sekaligus saja di hari yang sama, pagi akad siangnya langsung resepsi,, biar kita gak capek dua kali, pengantinnya juga”, Bu Rahmi pun ikut bersuara.
“Iya bener Jeng Rahmi,,, lebih baik seperti itu saja,,, belum nanti acara ngunduh mantu ya, Pi”,Bu Hinda pun setuju dengan usulan Bu Rahmi.
“Apa?? Acara ngunduh mantu?”, tanya Arfin.
“Iya lah,,, kamu kan anak laki- laki,,, jadi kita ngadain acara ngunduh mantu”, jawab Bu Hinda.
“Tuh apalagi kalau ada acara selanjutnya gitu mah,,, memang kapan acara ngunduh mantunya?”, tanya Bunda.
“Gak usah lah Mi,,, kan tamu undangannya juga sama saja itu itu aja,,, selain keluarga kedua belah pihak, pastinya kan yang diundang ke acara pernikahan kami, kolega Papi dan Om Syarief, juga rekanan Om Rizal,,, “, Arfin menolak usulan Mami-nya.
“Tapi kan kamu tuh anak paling bontot ,, masa iya gak ngadain acara ngunduh mantu”, Bu Hinda tetap kekeh.
“Bang Evan juga enggak ah Mi,,, “, ucap Arfin.
“Lah,,, tahun kemaren itu pesta pernikahan Nervan sama Maira kan sekalian ngunduh mantu ”, jawab Bu Hinda.
“Berarti Al gak usah,,, lagian kan kami sama- sama tinggal di Jakarta, dan tamunya itu- itu aja, Mi”, Arfin tetap menolak.
“Yasudah Mami,,, acara ngunduh mantunya sederhana saja di rumah kita,, jangan seperti acara pernikahan,,, jadi mengundang keluarga, sanak saudara dan para tetangga saja ”,Pak Latief mengusulkan jalan tengah.
__ADS_1
“Iya benar Nda,,, mending gitu saja atuh,,, dulu juga waktu Rezki nikah sama Fatma juga aku ngadain acaranya begitu, jadi aku mah ngadain acara pengajian di rumahnya setelah acara pernikahan, sekalian ngunduh mantu dan memperkenalkan menantu kami pada para tetangga karena mereka berdua teh menolak diadakan pesta lagi,, ribet katanya teh harus di rias lagi pakai baju pengantin dan ini itu”, ucap Bunda.
“Aku setuju sama Bunda, Mi,,, mending gitu aja”, Arfin akhirnya bersedia, namun dengan usulan Bunda.
“Tapi Mami pengennya acra pengajiannya sebelum kamu menikah Al,,, jadi mendoakan kamu supaya diberi kelancaran dan kemudahan saat menikah dan berumah tangga nanti.”, ucap Bu Hinda.
“Iya,,, pengajiannya tetap diadakan sebelum akad nikah,,, nanti kalau Mami kekeh pengen ngunduh mantu, acaranya sederhana saja di rumah,, gak usah di gedung- gedung dan pakai baju pengantin lagi”, ucap Arfin memberi syarat.
Bu Hinda menarik nafas kasar, “Yasudah lah gimana kamu aja,,, “, Ucapnya pasrah.
“Jadi ini fix ya berarti pernikahannya dilangsungkan hari minggu tanggal 4 Juni?”, Tanya Pak Syarief memastikan dan semua orang yang hadir di ruangan tersebut pun mengangguk dan menyetujuinya.
“Kalau begitu nanti teh kita bagi- bagi tugas ya Mbak Rahmi untuk persiapan pernikahan Naz”, ucap Bunda pada kakak iparnya yang kemudian diangguki oleh Bu Rahmi.
“Aku tugasnya apa dong?”, tanya Naz.
“Kamu mah gak usah mikirin persiapan pernikahan, biar kami saja selaku orang tua yang mengurus,, kamu mah belajar aja dan fokus saja sama UN,,, kan sebentar lagi teh pasti sudah mau mulai Try Out ,,, dan satu lagi,, kamu teh harus selalu menjaga kesehatan,,, inget gak boleh telat makan, kamu teh kan punya penyakit mag”,ucap Bunda panjang lebar.
“Iya, Bunda mu benar sayang,,, “, Bu Rahmi pun mendukung perkataan Bunda, dan setelah itu acara musyawarah pun berakhir karena sudah mendapatkan keputusan, kemudian mereka beranjak pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk pulang setelah saling bersalaman. Karena mobil Pak Syarief penuh dengan hantaran yang dibawa Arfin dan keluarganya saat acara pertunangan tadi, jadi Arfin mengantarkan Naz pulang sekalian berpamitan karena sorenya akan kembali ke Surabaya.
“Aa kok masih gak percaya ya kalau kita akan segera menikah,, ini masih serasa mimpi”, ucapnya sambil menyetir, “Awww,,,”, Arfin meringis kesakitan, “Kamu kok malah nyubit tangan Aa sih? Sakit tau”, ucapnya protes.
“Kan buat membuktikan kalau Aa itu gak sedang bermimpi,,,, dan ini adalah kenyataan alias Real Life,,, hehe”, ucap Naz terkekeh.
“Dasar kamu ya,, suka nyari- nyari kesempatan buat KDRT,,,”, ucapnya sambil mendelik.
“Hahaha,,,, uluh- uluh Aa- ku sayang,,, sini aku cubit lagi… “, Naz malah sengaja ingin menjahilinya.
“Enggak.. enggak ah,,,”, Arfin langsung menolak.
“Hahhahaha,,,”, Naz malah tertawa kemudian menggandeng lengan Arfin dan menyenderkan kepalanya ke bahu Arfin.” Aa….”,ucapnya.
“Hemmm…. Kenapa?”, ucapnya tanpa menoleh.
“Enggak,, manggil aja kok”, jawab Naz.
“Ih,, dasar,, kamu ya,,,”, ucapnya terkekeh.”Oh iya sayang,,, kamu kenapa tadi pas masuk ke ballroom kelihatannya lesu banget,,,? Padahal sebelumnya kan kamu semangat banget kita mau bertunangan”.
Naz menghela nafas sejenak, “Tadi tuh waktu aku di kamar dapat telpon dari Mimih, katanya beliau sakit jadi gak bisa hadir di acara pertunangan kita, sedangkan uwa- uwa dari Bandung bahkan Tante Ina dari Surabaya aja datang,,, padahal kan Mimih senang banget pas tahu kita udah berhubungan lagi”, ucap Naz dengan nada sedih.
“Oh gitu,,, kirain kamu nyesel dan gak mau bertunangan sama Aa,, makanya pas kamu bilang gak bisa, Aa langsung nyangka kamu berubah pikiran jadi gak mau nikah sama Aa”.
“Mimih sakit apa emang? Apa sudah dibawa ke dokter”, tanya Arfin.
“Katanya lututnya sering sakit, Mimih bilang itu karena faktor U,,, udah di bawa ke dokter sebelumnya sama Wa Andi,, katanya harus banyak istirahat", jawab Naz.
“Sukurlah kalo sudah dibawa ke dokter,,,, smoga bisa cepat sembuh Mimih nya.... oh iya... Aa juga tadi gak lihat Arsen,,, apa dia juga gak datang ke sini?”, tanya nya lagi.
“Iya,,, amiin.. Kak Arsen gak datang karena dia harus jagain Mimih, tapi gak apa- apa lah, dia bahkan gak tahu kalau kita menjalin hubungan lagi, apalagi soal pertunangan kita”,jawab Naz
“Kenapa? Apa dia masih gak suka sama Aa? Apa perlu Aa menemuinya untuk meyakinkannya soal keseriusan Aa sama kamu?”,tanya Arfin.
“Gak usah lah,,, nanti aja dikasih tahu pas kita mau nikah,,, jadi dia gak akan banyak protes”,ucap Naz.
“Dia sayang banget sama kamu ya? sampai gak rela kayaknya kalau kamu punya cowok”, tanya Arfi merasa heran pada Arsen.
“Ya gitu deh,,, tapi dia lebih ke over protektif,,, aku kadang suka kesal,,, bahkan dulu dia yang nyuruh aku berpenampilan culun kalo ke sekolah,,, katanya biar gak sembarangan cowok yang deketin aku, terus dulu dia sering ngingetin aku akan statusku yang anak Ibu sama Papa, sehingga dia bilang takut kalau aku punya cowok, cowok itu gak bisa nerima statusku, makanya aku gak boleh punya cowok”.
“Wahh,,,sampai segitunya,,, itu sih sama aja dia malah bikin mental kamu down,, sampai kamu menutup diri dari siapa pun karena status mu saat itu,,, Jangan- jangan dia sayang sama kamu bukan sebatas kakak sayang pada adiknya”, ucap Arfin mengira- ngira.
Naz lalu menegakkan duduknya lagi, “Ihhh,,, Aa jangan ngaco deh kalau ngomong,,, dia over protektif itu sejak aku masih kecil,,, karena aku ini adik perempuan satu- satunya dan adik kesayangannya”.
“Iya iya deh,,, Emang dia gak pernah ke Jakarta?".
“Pernah beberapa kali sih,, kalo dulu jarang banget karena dia aktif di organisasi di kampusnya, jadi jarang punya waktu luang,, tapi semenjak aku tinggal di rumah Mama, dia sering pulang ke sini, kalo lagi libur kuliah sebulan sekali dia pulang,, cuman gak lama paling 2 hari, soalnya kan Mimih gak ada yang nemenin,, tapi kalau ada Kak Arsen di rumah Bunda aku gak boleh nginep di rumah Bunda”.
“Loh kenapa?”, tanya Arfin heran.
“Gak tahu,,, Bunda yang larang,,, paling cuman main sampe sore aja, terus pulang”, jawab Naz dengan mengedikkan bahunya, “Oh iya,,, kita jalan dulu yuk sebelum pulang”, ajaknya.
“Maaf sayang,,, Aa gak bisa,,, soalnya harus balik ke Surabaya nanti sore”.
“Yahh,,, kok udah mau balik lagi aja,,, aku kan masih kangen”, ucapnya dengan nada manja.
“Besok kan Aa harus kerja sayang,, harus tambah gesit kerjanya biar bisa ngumpulin uang buat beli maskawin dan kawan- kawannya,,, hehehe”, ucapnya terkekeh, “Oh iya,,, kamu pengen maskawin apa untuk nikah nanti?”.
“Emmm,,, gak tahu,,, emang biasanya apa kalo orang- orang nikah?”, Naz malah balik bertanya.
“Ya biasanya sih kalau gak salah perhiasan dan seperangkat alat solat gitu,,, tapi ya itu tergantung permintaan calon mempelai wanita nya, nantinya kan kamu yang akan memakainya, gak mungkin kan Aa ngasih maskawin rantai motor, kan gak lucu kalau kamu pakai itu,, hahaha “, ucapnya bergurau.
__ADS_1
“Sekalian aja kalung dari kaleng bekas susu pske tali rapia,,, hahaha….”, Naz malah semakin menimpali candaan Arfin.
”Memangnya Aa ini tukang rongsok,,, hahaha”.
“Terus kalau Aa arsitek, aku harus minta gedung tinggi gitu sebagai maskawin nya?”, tanya Naz.
“Hahaha,,, lama atuh bikinnya gedung tinggi mah sayang,, pernikahan kita bisa- bisa dipending gara- gra kamu minta mas kawin gedung tinggi,,, Aa kan bukan sangkuriang yang bisa membuat perahu besar dalam waktu semalam dan membuat gunung tangkuban perahu dengan sekali tendang, Aa juga bukan Pangeran Bandung Bondowoso yang bisa membuat 999 candi dalam waktu semalam”,ucap Arfin membandingkan dirinya dengan tokoh dalam dongeng.
“Hahaha,,, gini nih kalau punya calon suami yang umurnya udah tuir,, perumpamaan nya suka bawa nama- nama dari dongeng zaman romawi kuno”, Naz malah mengejek.
“Kurang ajar kamu ya ngatain Aa udah tuir,, Aa kan masih muda,,, ganteng begini juga ih”, Arfin malah memuji dirinya sendiri.
“Idih narsis,,,, meuni kepedean”, Naz kembali mengejek.
“Itu fakta,,, buktinya karena ketampanan Aa kamu sampe klepek- klepek sama Aa,,, kata Mimih juga kan Aa mah si Kasep alias si Ganteng,,, noh nenek- nenek aja tahu kalau Aa ganteng”, Arfin semakin narsis.
“Itu karena Mimih matanya udah rabun,,, wlee”, Naz pun terus mengejek.
“Jadi maksud kamu Aa ini jelek,, hem,,?”.
“Enggak kok,,,”, jawab Naz nyengir.
“Tuh kan, Aa ngaku ganteng kamu gak terima malah Aa dibilang narsis,,, ditanya Aa jelek,,, jawabnya enggak,,, gimana sih", Arfin malah protes.
“Iya enggak salah lagi maksudnya”,Naz
melengkapi jawabannya.
“Awas ya kamu berani amat bilang Aa jelek”, Arfin mendelik.
“Aku gak ngomong gitu ih, itu mah Aa ngaku sendiri,,, wlee”, Naz malah mangkir.
“Udah udah ah,,, makin ngelantur kemana- mana,,, Jadi maskawin nya pengen apa?“, Arfin mengulang pertanyaan sebelumnya.
“Emmm,,,, nanti deh dipikir- pikir dulu”,jawab Naz.
“Okelah kalau begitu,,, nanti kalau udah ada jawabannya,, kasih tahu Aa ya”, ucapnya.
“Oke,,,, oh iya,, kata Mami Aa mau teraphy ya?”, tanya Naz.
“Iya,,, nanti di Surabaya,, makanya nanti Aa jarang pulang”, jawab Arfin.
“Kenapa gak disini aja sih?”, tanya Naz lagi.
“Kan kalo di sini, Ayah kamu sama Dandy praktek di beberapa rumah sakit, aa malu kalau ketemu sama mereka pas lagi berobat atau teraphy,, makanya lebih milih di Surabaya,,, kan di sana gak ada yang kenal”, ucap Arfin menjelaskan.
“Iya deh dimana aja berobatnya,, aku doa-in semoga cepet sembuh ya,,, Emmm,,, Kalo Aa jarang pulang kita gak ketemu dong?".
“Amiin,,, hehehe,, biarpun kita jarang ketemu, kan bisa video call sayang”.
“Iya,, tapi kan beda rasanya”, ucap Naz lalu cemberut.
“Paling dua minggu atau sebulan sekali Aa pulangnya,,, tapi kan nanti kalau udah nikah kita bakal ketemu setiap hari,,, ", Arfin menoleh sekilas pada Naz, "jangan cemberut gitu dong sayang,,, Aa suka gemas pengen nyium kamu tahu gak kalo udah di monyong- monyongin gitu bibirnya,,”,ucapnya mencolek dagu Naz lalu terkekeh.
“Iihh... Dasar mesum,,,”, ketus Naz.
“Hahahahaha”, Arfin malah tertawa.
Setelah beberapa saat mobil yang dikendarai oleh Arfin pun tiba di depan rumah kedua orang tua Naz,, kemudian ia menghentikannya, namun tidak memasukannya ke dalam, hanya di depan pintu gerbang saja.
“Kok gak masuk?”, tanya Naz heran sambil membuka seatbelt-nya.
“Maaf ya sayang, Aa nganternya sampai sini aja ya,,, mau langsung pulang dan siap- siap terus ke bandara”, ucap Arfin.
“Oh yaudah,,, nanti kabarin aku ya kalau udah nyampe,,,”, ucap Naz yang sudah membuka pintu dan hendak keluar, namun ia mengurungkan niatnya lalu mendekat ke arah Arfin dan berbisik padanya, “I Love you much more,,, muachhhh”, ucapnya lalu mencium pipi Arfin, kemudian ia bergegas keluar dari mobilnya, dan setelah meutup pintu mobilnya Naz langsung berlari memasuki pintu gerbang sambil dengan senyum cengengesan karena merasa malu.
Sedangkan Arfin hanya diam mematung, seolah tak percaya Naz sudah mencium pipinya, ia mengelus pipinya sendiri, “Apa barusan Dia mencium ku?”, gumamnya dalam hati, dan senyum pun kembali terukir dari bibir manis nya, lalu ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum karena merasa tak habis pikir, “Dia kesambet setan mana,,,?”, ucapnya terkekeh, kemudian ia melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya.
------------ TBC --------------
*********************
Ehh Nanaz mah , dicium gak mau malah dia sendiri yang nyosor yassalam,,,, untung Bunda gak lihat,,,wkwkwk
Maskawin apa ya kira- kira yang akan diminta oleh Naz?,,,
Heppi Reading😉🤩
Jangan luva tinggalkan jejakmu, like komen vote hadiah😉😘
__ADS_1
Tilimikicih,,, aylapyu oll…😘😘😘