
Jalanan ibu kota selalu dihiasi dengan indahnya kepadatan kendaraan yang sudah menjadi ciri khas dan sudah tidak menjadi tabu bagi orang- orang yang tinggal di sana, baik itu penduduk asli atau pun pelancong dari berbagai daerah yang mengadu nasib di ibu kota. Apalagi di hari libur, jika ingin bepergian harus berangkat lebih awal karena waktu jarak tempuh tentunya akan menjadi lebih lama dari biasanya. Sama halnya yang dialami Arfin, biasanya waktu yang diperlukan untuk melakukan perjalanan dari rumah orang tua Naz menuju rumahnya hanya 30 menitan saja,, kini setelah satu jam lebih ia baru bisa sampai ke kediaman orang tua nya.
“Huft,,, Jakarta memang selalu macet,, sepertinya memang aku lebih suka tinggal di Surabaya”, gumamnya saat masuk ke dalam rumah, ia berjalan menuju ke kamarnya.
“Darimana saja Al,,,? apa kamu pergi setelah shalat subuh tadi?”, Tanya Bu Hinda saat melihat Arfin berjalan hendak menuju kamarnya itu, “Sini gabung sama kita- kita”, ajak beliau yang sedang berkumpul di ruang tengah, dan Arfin pun menghampiri. Di sana ada Pa Latief yang sedang menonton berita di TV bersama sang istri yang juga duduk di sofa yang sama dengan Maira, sedangkan Nervan duduk di lantai sedang menemani putrinya, Syanala menggambar.
“Lagi gambar apa itu Nala?”,tanya Arfin yang kemudian duduk di sofa yang berbeda.
“Lagi gambal ayam ngoblol cama kucing”, jawab Nala yang sedang mewarnai hasil gambarnya yang terlihat aneh.
“Hahaha, lucu sekali,,, pasti diajarin gambar sama Papa yaa?”, ucap Arfin yang entah memuji atau mengejek saat melihat gambar Nala.
“Iya,,, kok Om Apin Ipin tahu?”, tanya Nala sambil menoleh pada Arfin.
“Sudah Om duga,,, soalnya Papa mu ini sejak kecil tidak bisa menggambar, dan saat di sekolah ada tugas menggambar suka minta tolong sama Om”, Arfin benar- benar mengejek Abangnya.
“Heh,,, diam kau,, jangan suka bongkar rahasia depan anakku”, ucap Nervan dengan tatapan tajam.
“Oh yaa,, mau tahu rahasia lainnya Nala?”, Arfin malah sengaja ingin mengerjai Abangnya itu.
“Halasia apa itu om?”, tanya Nala yang suka kepo.
“Rahasia Nala,, bukan halasia”, Maira mengoreksi perkataan putrinya.
“Oh hohoho,,, silahkan saja,, dan aku pun akan membongkar rahasia mu”, Nervan kini menyerang balik dengan berkata sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Arfin dan menatap sesuatunya Arfin
“Kau…….”, Arfin malah menjadi geram.
“Ehh,,, sudah sudah,, kalian itu udah pada tua juga masih aja suka ribut… “, Bu Hinda kemudian melerai.
“Dia yang mulai Mi,,,”, ucap Nervan.
“Sudah,,,, gak malu apa sama anakmu Bang,,, nanti kalau di menirunya bagaimana??”, Bu Hinda malah mengomeli Nervan.
“Iya iya Mi,,, “, Nervan kena skak Matt.
“Al,, kamu belum menjawab pertanyaan Mami tadi,,kamu darimana saja?”, Bu Hinda mengulang pertanyaannya.
“Tadi habis ada urusan dulu,,, Oh iya Mi,, aku mau minta tolong untuk mengatur pertemuan dengan keluarga Om Syarief dan Om Rizal”, Arfin langsung meminta bantuan.
“Pertemuan untuk apa AL?”, tanya Pak Latief yang nampak heran dan penasaran.
“Untuk melamar Naz secara resmi dan merencanakan pernikahan kami”, jawab Arfin.
“Apa,,,???”, ucap Bu Hinda, Pak Latief dan Nervan serentak.
“Iiiihhh,,, kalian bikin tadet aja,,, kan gambal Nala jadi lusak nih,,,”, Nala menggerutu kesal sedangkan ketiga orang itu nampak tidak menghiraukan keluhan Nala karena masih merasa terkejut.
“Nala,,, ayok kita pindah ke kamar ya menggambarnya,, kan lebih enak kalau di meja belajar,,, yukk”, Maira mengajak Nala dan membereskan peralatan menggambarnya, karena pastinya keempat orang itu akan membicarakan hal yang penting, dan Nala pun mengikuti titah Mama-nya.
“Kamu gak bercanda kan Al?”, Bu Hinda kembali bertanya dalam keterkejutannya.
“Kau benar-benar ingin menikah ?? emangnya itu udah…….”, Nervan kembali menyinggung soal penyakit yang di derita Arfin, namun segera ditempas oleh sang Mami.
“Abang,,,,!!”, seru Mami sambil melotot pada Nervan.
“Al,, apa kamu serius? Naz kan masih sekolah, lagian umurnya juga masih belasan tahun,,,”, Pak Latif pun ikut mempertanyakan.
“Al serius,,, bukannya selama ini kalian mengharapkan hal ini,, kenapa malah jadi pada gak percaya?,,,, Papi juga nikahin Mami saat Mami baru lulus SMA,,, apa salahnya ?? lagian nikahnya juga enggak sekarang kali Pi,,, makanya Al minta Mami mengatur pertemuan dengan keempat orang tua Naz untuk membicarakan hal ini”,ucap Arfin mejelaskan panjang lebar sampai membahas masa lalu kedua orang tuanya.
“Al,,, kamu jangan main- main sama anak gadis orang, kamu harus pikirin matang- matang soal ini,,, Mami gak mau ya kalau sampai sekarang kamu bilang akan menikahinya tapi nanti kamu malah berubah pikiran lagi,,,“, Bu Hinda menasehati Arfin.
“Al sudah pikirkan hal ini,,, dan tadi Al sudah melamar Naz secara pribadi,, dia pun menerimanya dan bersedia menikah dengan ku,,, “, Arfin kembali memberitakan.
“Apa,,,??”, ketiga orang itu kembali terkejut.
“Intinya Mami atur pertemuan dengan keempat orang tua Naz, sekarang aku akan kembali ke Surabaya,, nanti aku balik ke sini lagi Rabu sore,,, jadi kalau bisa hari kamis pertemuannya, sebelum Naz masuk sekolah lagi… aku permisi mau bersiap dulu”, ucap Arfin yang kemudian beranjak meninggalkan ruang tengah tanpa memperdulikan mereka yang nampak masih penasaran dan ingin membicarakan hal ini dengannya.
“AL,,,, Arfin…!!”, seru Bu Hinda yang melihat Arfin melengos begitu saja, “ Ya ampun Pi,,, gimana anakmu itu ih”, Bu Hinda kemudian mengeluh pada suaminya.
“Yasudah,,, kita ikuti saja apa kemauannya,, mumpung dia sendiri yang meminta untuk menikah,,, selama ini kan kita memintanya untuk menikah gak pernah digubris…”, Pak Latief seolah langsung meng-ACC pengajuan dari putra bungsunya itu.
__ADS_1
“Iya Mi,,, anggap saja dia lagi kesurupan,, kalau kelamaan gak diturutin nanti dia keburu sadar”, Nervan ikut mendukung perkataan Papi-nya.
“Abang,,, kamu tuh ya kalo ngomong….”, ucap Bu Hinda yang melotot pada Nervan karena ucapan nyelenehnya, sedangkan ia hanya tersenyum puas setelah mengejek adiknya itu.
**
Siang beralih menuju sore, matahari pun seolah turun menenggelamkan diri untuk berganti peran dengan sang rembulan, padahal pada kenyatannya matahari hanya berdiam diri di titik pusatnya, rotasi bumi lah yang membuatnya seolah berputar dari timur ke barat.
Tok tok tok…… “Naz,,, itu ada Ayah sama Bunda mu, mau bertemu dengan mu katanya”, Bu Rahmi memberitahukan kedatangan mereka pada Naz.
“Iya, Ma,,, sebentar lagi aku turun, ganti pakaian dulu, baru habis mandi”, seru Naz dari dalam kamar.
“Yasudah Mama tunggu di bawah ya”, ucap beliau kemudian beranjak dan kembali ke ruang tengah dimana mereka tengah menunggu.
“Ada acara apa Mas mengundang kami kemari?”, tanya Pak Rizal yang merasa heran atas undangan makan malam dadakannya.
“Nanti juga tahu,,, sengaja Mas undang kalian sedari sore, biar kita bisa ngobrol dulu”, jawab Pak Syarief.
“Ayah,,, Bunda…. !! teriak Naz sambil berlari lalu menghampiri mereka, memeluk kemudian mencium tangan keduanya secara bergantian, “Tumben sore- sore gini main ke sini?”, tanya Naz merasa heran.
“Papa sengaja menundang mereka untuk makan malam bersama,,, tapi ada yang akan kita bicarakan dulu, makanya diminta datang masih sore,,, dan Papa persilahkan Nona Rheanazwa memberitahukan duduk perkaranya pada ayah dan bunda-mu”, Ucap Pak Syarief seolah memberikan sambutan selaku pembawa acara.
“Soal perkara apa, Pa?”, tanya Naz bingung.
“Soal apa yang kamu katakan tadi siang yang mengejutkan Papa dan Mama”, jawab Pak Syarief.
Naz berpikir sejenak, "Oh,,, itu toh”. Naz baru paham.
“Ada apa ini teh,,? kok kayak main tebak- tebakan gini?”, tanya Bunda merasa bingung dan heran.
“Emmm,,,, jadi gini,,, tadi pagi Kak Arfin melamar ku dan mengajak ku menikah,, terus aku menerimanya dan bersedia menikah dengannya”, Naz kembali memberitakan.
“Apa,,,???”, tanya Ayah dan Bunda Naz serentak karena merasa terkejut.
“Menikah? Kamu mau menikah”, tanya Pak Rizal memastikan pendengarannya dan Naz hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Dek,,, kamu teh masih sekolah dan sebentar lagi UN, masa mau menikah aduh,,, tanggung atuh Dek,,, masa anak pinter putus sekolah karena mau menikah,,, gak ada gak ada ahh...”, Bunda langsung nyerocos.
“Bukannya kamu mau kuliah? Kan kamu sering tanya- tanya ke Bagas kakak kelas mu yang tinggal di sebrang rumah kita itu soal UI dan jalur masuk ke sana,, kok jadi mau menikah sih , Dek?”, Pak Rizal kembai mempertanyakan.
“Kan aku masih bisa kuliah Yah, walaupun sudah menikah,,,”, Naz menjawab hal yang sama seperti pada Papa dan Mama nya.
“Tapi kamu teh masih terlalu muda atuh, Dek,, masih belasan tahun,,, memangnya kamu pikir berumah tangga itu gampang?”, Bunda pun seolah tak bisa terima.
“Lah,,, kan Bunda sendiri yang mempertanyakan pada Kak Arfin soal keseriusannya menjalin hubungan sama aku,,, yang dia membuktikan ucapannya”, Naz meningatkan Bunda tentang apa yang terjadi di Surabaya saat mendengar pembicaraan beliau dengan Arfin.
“Iya,, tapi kan gak secepat ini juga atuh main ngajak nikah gitu aja,,, apa jangan- jangan,,,??”, ucapan Bunda sempat terhenti karena memikirkan sesuatu.”Dek,, kamu jujur sama kami,, apa kamu udah di apa- apain sama Arfin sampai pengen nikah secepat ini?”, Bunda malah jadi curiga.
“Enggak,,,”, Jawab Naz dengan raut wajah bingung.
“Bener kamu teh gak pernah diapa- apain, Dek??”, Bunda menguang kembali pertanyaannya.
“Diapa- apain gimana maksudnya, Bunda? Orang semenjak dari Surabaya aku baru ketemu Kak Arfin lagi tadi pagi pas dia melamar aku,, kan Bunda sendiri yang bilang ke dia kalau belum memberikan jawaban soal pertanyaan Bunda, dia gak boleh menghubungi ataupun menemuiku”.
“Jadi gimana ini, Mas? Bagaimana mungkin Naz menikah dalam waktu dekat, selain usianya masih terlalu muda, masih labil dan dia juga anak yang manja”, tanya Pak Rizal pada kakaknya.
“Ya mau bagaimana lagi,,, Naz sepertinya sudah bulat ingin menikah,, karena tadi pun kami sudah mencoba mencegahnya, tetap tidak bisa,,,, malah sekarang Mas jadi takut setelah mendengarkan pertanyaan Anita barusan,,, daripada terjadi sesuatu yang tidak diharapkan lebih baik mereka segera di sah kan saja…. lagi pula kita sudah mengenal Arfin sejak dia masih kecil malah,, anak- anak kita kan bersahabat dengannya ”, jawab Pak Syarief.
“Sepertinya kita juga harus memikirkan matang- matang soal hal sebesar yang menyangkut masa depan Naz ini,,, jangan mengambil keputusan terburu- buru”, Ucap Pak Rizal.
“Kalian kenapa sih kayaknya gak setuju kalau aku mau menikah sama Kak Arfin? Kami saling mencintai dan sudah lama saling mengenal satu sama lain,,, untuk apa berlama- lama pacaran kan ujung- ujungnya bakalan nikah juga,,, Emangnya salah kalau ingin menikah muda?? Mama juga kan bisa melanjutkan kuliahnya setelah menikah…”, ucap Naz merasa kesal dan kecewa, keempat orang tua Naz hanya dian dan saling beradu pandang melihat putri mereka yang sepertinya sudah ngebet ingin menikah.
“Tadi siang kamu bilang Arfin akan menemui kami,,, kalau begitu suruh dia kesini sekarang juga, mumpung kami sedang berkumpul di sini”, titah Pak Syarief.
“Kak Arfin nya gak ada,, dia udah berangkat ke Surabaya, katanya besok banyak pekerjaan, tapi hari Rabu juga dia akan kembali lagi dan akan menemui Papa, Mama, Ayah dan Bunda untuk membicarakan hal ini,,”, ucap Naz.
“Permisi,, maaf Bu,, ada telpon dari Bu Hinda,, katanya beliau suda menelpon ke hape Ibu tapi tidak aktif”, Tiba- tiba Bi Surti datang menghampiri Bu Rahmi, kemudian beliau pun beranjak pergi untuk menerima panggilan dari Mami-nya Arfin itu.
**
Hari Kamis telah tiba, hari dimana telah disepakati untuk pertemuan keluarga antara orang tua Arfin dan orang tua Naz yang bertempat di kediaman Pak Syarief. Sejak subuh Naz membantu Mama dan ART nya untuk memasak dan membuat beberapa makanan lainnya di dapur. Bunda yang menginap di sana pun turut membantu.
__ADS_1
Setelah semuanya beres, mereka pun bersiap- siap karena Naz mengatakan kalau Arfin bersama orang tuanya sudah dalam perjalanan. Setengah jam kemudian mereka pun tiba dengan membawa beberapa buah tangan dan kedatangannya pun disambut hangat oleh sang tuan rumah. Kemudian dipersilahkan duduk di ruang tamu yang terdapat dua set kursi tamu yang sudah di gabungkan sehingga semua kursi menghadap dua meja yang dirapatkan.
Selain keempat orang tua Naz, Oma dan Opa nya pun turut hadir untuk ikut berdiskusi, walaupun Opa sedang tidak begitu sehat, namun beliau tak mau ketinggalan soal pembahasan lamaran dan pernikahan cucu kesayangannya, sehingga beliau memeaksakan diri untuk hadir.
Setelah semua berkumpul duduk di ruang tamu dengan meja yang sudah di penuhi dengan beragam suguhan berupa minum, kue- kue, dan makanan lainnya, kemudian mereka pun mulai ke pembahasan.
“Aduh ini saya bingung pakai bahasa formal apa bahasa santai saja yaa?? Jadi ikut deg degan saya, soalnya ini pertama kalinya buat saya,,, ”, ucap Pak Latief membuka obrolan memecah keheningan.
“Santai aja bro, belum mau akad nikah ini”, Pak Syarief menimpali ucapan sahabatnya yang terlihat tegang itu.
“Oke baiklah,,, langsung pada intinya ya,, gak usah berkenalan karena kita sudah saling mengenal, hehe,,, ", ucap Pak Latief, lalu menghela nafas sejenak, untuk mengurani ketegangannya, ”Jadi begini, tujuan kami datang ke sini untuk membicarakan hubungan antara putra bungsu saya, Arfin dengan adinda Rheanazwa yang menurut pemaparan putra saya ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius. Malahan tanpa sepengetahuan kami ternyata Arfin sudah melamar Naz secara pribadi dan Naz pun sudah menerimanya,, sehingga kami ingin mendiskusikan hal ini dengan keluarga Naz,,, Karena tidak mungkin saya membiarkan Arfin pergi ke sini seorang diri, takut pingsan sebelum bicara dengan kalian dan sesungguhnya saya juga gemetaran ini,, serasa saya yang mau melamar istri muda di depan istri saya sendiri,,, haha“, ucap Pak Latief menjelaskan sambil menghapus keringat di dahinya dengan sapu tangan yang dipegangnya dan kalimat terakhirnya mampu mengundang tawa semua orang.
“ Hahaa,,, santai- santai jangan tegang begitu,,,”, ucap Pak Syarief tertawa geli melihat sahabatnya yang bersikap tidak biasanya, setelah berhenti tertawa Pak Syarief pun mulai berbicara, “Sebelumnya saya ucapkan terimakasih karena Arfin sudah beretikad baik bersama kedua orang tua datang kemari untuk membicarakan perihal hubungan Arfin dan Naz,, Sebenarnya saya juga sangat terkejut saat Naz mengatakan kalau Arfin sudah melamarnya, sedangkan seperti yang kalian ketahui bahwa putri kami ini masih sekolah dan umurnya masih sangat muda baru menginjak 18 tahun, jadi saya ingin menanyakan bagaimana maksud dari lamaran Arfin tersebut ?”.
Arfin yang juga terlihat tegang kemudian menghela nafas panjang untuk menetralkan kegugupannya, “Begini Om, Tante, Bunda, Opa, Oma,,, seperti yang sudah dikatakan Naz saya memang sudah melamarnya secara pribadi, karena saya benar- benar mencintai Naz dan ingin menjadikannya sebagai teman hidup saya,,,, Saya juga menyadari kalau Naz masih sekolah dan tidak akan memaksanya untuk menikah secepatnya, saya akan menunggu hingga Naz benar- benar siap untuk menikah dengan saya,, maka dari itu saya ingin berdiskusi mengenai hal ini, karena walau bagaimana pun kami tidak bisa memutuskannya hanya berdua saja dan harus melibatkan orang tua kami”, ucap Arfin memaparkan.
“Begini Al,,, Naz ini kan masih sangat muda dan masih labil juga, terkadang bersikap manja atau kekanak- kanakan, takutnya ia tidak bisa mengimbangi mu dan akan merepotkan mu jika menikah terlalu dini,, Om berharap jika pun Naz akan berumah tangga saat dia harus benar- benar siap dan sudah dewasa, karena pastinya setiap orang berharap menikah itu sekali seumur hidup”, Pak Rizal ikut bersuara.
“Saya sudah sangat mengenal Naz, Om,,, bahkan kami saling mengenal sejak Naz masih kelas 5 SD, walapun hubungan kami sempat terputus selama satu tahun, tapi tidak ada yang berubah dengan sifat anak Om itu, dimata saya Naz adalah gadis yang luar biasa, hatinya begitu baik dan tulus, selalu perduli dengan orang lain tanpa memperdulikan perasaannya sendiri, walaupun dia sering jahil dan itu yang membuat saya begitu mencintai purti Om. Usia bukan parameter bagi seseorang disebut dewasa atau tidak, mungkin di mata Om Naz adalah anak kecil yang manja, kekanak- kanakan karena ia adalah putri kesayangan Om,, tapi sebenarnya ia sudah bisa bersikap dan berpikir layaknya orang dewasa, ia bisa menyesuaikan dan memposisikan dirinya saat ia sedang berhadapan dengan siapa, apa itu dengan teman sebayanya atau dengan orang yang lebih tua, bahkan Naz sudah memiliki naluri keibuan,,”, Arfin mengemukakan pendapatnya tentang seorang Rheanazwa yang begitu dikaguminya.
Semua orang tersenyum mendengar pemaparan Afin tentang Naz, “Kamu tahu sendiri kan kalau Naz masih sekolah dan setelah lulus Naz ingin melanjutkan pendidikannya,,, seandainya jika kami mengizinkan kamu menikahi putri kami setelah lulus SMA,, apa kamu akan mengizinkannya untuk tetap melanjutkan pendidikannya?”, Pak Rizal kembali bertanya.
“Tentu Om,, saya akan mendukung apa pun keinginan Naz selagi saya mampu memenuhinya dan selagi itu adalah hal positif untuk kebaikannya, Jika setelah menikah Naz ingin kuliah, saya tidak akan menghalanginya dan akan mendukungnya untuk meraih cita- citanya,, hanya saja……. “, ucapan Arfin tiba- tiba terhenti.
“Hanya saja apa Al?”, tanya Pak Syarief heran.
“Hanya saja,, setelah menikah nanti saya akan membawa Naz turut serta bersama saya tinggal di Surabaya, Om… Karena tempat saya bekerja dan tempat tinggal saya di sana,,, Kalau pun Naz ingin kuliah, pastinya dia harus kuliah di Surabaya, dan jika Naz bersedia, saya akan mencarikan universitas terbaik di sana”, Ucap Arfin tanpa rasa ragu, kemudian Pak Syarief dan Pak Rizal saling beradu pandang.
“Bagaimana menurutmu Zal?”, tanya Pak Syarief pada adiknya.
“Syarief,,, tanyakan juga pendapat cucuku ini,,, yang mau menikah kan dia, bukannya Rizal”, Opa yang duduk berdampingan dengan Naz ikut buka suara dan membuat semua orang kembali tertawa.
“Kalu di mah gak usah ditanya Pa,,, dari kemarin juga kekeh pengen nikah”, malah Bunda yang menjawab Opa.
“Iya tuh Pah,,, malahan dia langsung ngambek saat kami minta memikirkannya matang- matang,, dia malah bilang gini ‘pokoknya aku mau nikah’,,, dikira minta nikah itu sama kali Pah sama minta dibeliin hape baru”, Bu Rahmi pun ikut menimpal ucapan Bunda, dan membuat semua orang kembali tertawa, sedangkan Naz hanya menundukan kepalanya karena malu, berbeda dengan Arfin yang tersenyum bahagia sambil terues memandangi kekasih hatinya yang terus menunduk.
“Yassalam,, apaan sih Mama sama Bunda bikin malu aja”, gumam Naz dalam hati.
“Yasudah kalau begitu,,,karena keduanya sudah ngebet pengen nikah, kita tinggal mencari hari baiknya saja untuk mengesahkan hubungan mereka”, ucap Pak Latief memberi kesimpulan.
“Ya mau bagaimana lagi,,, sebenarnya ini masih terasa berat untuk kami,,, tapi melihat keduanya udah ngebet gitu, jadi gak tega mau menunda- nunda juga,,, jadi mau kapan ini akad nikahnya?”, tanya Pak Syarief.
“Wahh,,, nantang ini mah ,,, “, ucap Bu Hinda terkekeh.
“Mas,,,, Nantilah akadnya setelah Naz lulus SMA,,, kalo bertunangan dulu mah gak apa- apa”, ucap Bu Rahmi mengemukakan pendapat.
“Gimana Al menurut mu? Kapan kita akan melaksanakan lamaran resmi pada Naz sekalian kalian bertunangan?”, tanya Pak Latif pada anaknya, namun Arfin tak bergeming malah saling memandang dengan Naz sambil tersenyum bahagia, kemudian Pak Latief menepok pundak Arfin, “Heh.... !!”,,
“Iya Pi,,, saya terima nikahnya Rheanazwa Eleanoor Harfi…”, Arfin menjawab dengan lantang dan sontak membuat semua orang tertawa.
“Ih,, kamu ya,,, Papi nanya apa kamu jawabnya apa,, bikin malu,, sempet- sempetnya kamu melamun disaat seperti ini,,, ”, Bu Hinda berbisik menggerutu kesal pada Arfin yang nampak menggaruk tengkuk kepalanya pdahal tidak gatal karena merasa malu.
“Hahaha,,, kamu melamunkan sedang akad nikah ya, Al,,, sini atuh sambil salaman sama Om biar terasa nyata”,Pak Syarief mengulurkan tangannya seolah mengajak Arfin bersalaman, padahal mereka duduk berjauhan dan membuat gelak tawa kembali memenuhi ruang tamu tersebut.
“Saya tidak setuju jika Naz menikah dengan Arfin !!”, tiba- tiba terdengar suara baritone seseorang yang terlihat baru masuk dari pintu depan, dan membuat semua orang terkejut dengan kehadiran orang itu yang dengan lantangnya bicara seperti itu.
------------ TBC ---------------
***********************
Ya ampun Aa Arfin meni udah gak sabaran banget pengen akad nikah,,, untung acara pertemuannya tidak mengundang penghulu,,, bisa jadi sah itu,,, 😂😂
Siapa noh kemarin yang nanyain gantungan,, ini hamba pakai lagi gantungannya lagi ahh,, sayang kalo lama- lama dianggurin,,,, 🤭😂
Heppi reding😉
Jangan luva tinggalkan jejak mu like, komen yang ramai, rate bintang 5, 😉😘
vote hadiah seikhlasnya,,,,😘
Tilimikicih,,, aylapyu oll 😘😘😘
__ADS_1