Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Naz, Bisakah Kita Bicara ?


__ADS_3

Masih Flashback yassalam


“Hallo,,, Assalamu’alaikum,,, ada apa Mi?”, sapa ku.


“Wa’alaikumsalam,,, Al,,, Bi Darmih bilang kalau beberapa hari yang lalau saat Mami berangkat ke Surabaya, ada Naz datang ke rumah,,, dan dia menanyakan keberadaan mu”. Mami memberiku informasi yang mengejutkanku.


“Apa? Naz datang ke rumah? Terus Bi Darmih ngasih tahu keberadaan ku?”, tanyaku.


“Enggak,,, dia nggak ngasih tahu kok,,, cuman tadi saat Jeng Rahmi menghubungi Mami nanyain soal arisan, Mami iseng deh nanyain kabar Naz,, dan ternyata Naz sekarang lagi ada di Surabaya,, katanya dia ikut sama Ayah dan Bundanya menjenguk keponakannya Mbak Anita yang kecelakaan dan koma,, dan mereka berangkat dengan penerbangan pagi, katanya anak itu sedang tidak enak badan.. kemarin saja dia tidak masuk sekolah saat pembagian raport”.


“Oh,, iya Mi,, tapi aku tidak bertemu dengannya tadi di rumah duka atau pun di pemakaman,,, sudah dulu ya Mi,, Al lagi di Bank nih, nanti di lanjut lagi.. Assalamu’alaikum…”, ucapku mengakhiri sambungan telepon.


Aku masih terkejut mengetahui Naz ada di Surabaya, ada rasa bahagia karena setelah satu tahun lamanya aku tak pernah melihatnya secara langsung, biasanya hanya dalam foto dan di video lama saja, kabarnya pun tak pernah ku dengar setelah aku berada di Surabaya. Namun ada rasa takut pula yang kurasakan, takut akan melihat tatapan kebencian darinya.


“Naz ada di sini…?? Itu berarti Naz ada di rumah Pak Purnomo Aji…. tapi kenapa saat tadi aku di sana atau pun di pemakaman tidak melihatnya sama sekali? Apa dia bersembunyi untuk menghindari ku?”, gumam ku dalam hati penuh tanda tanya.


“Naz sedang sakit?? Apa mungkin dia sedang beristirahat di kamar…. astaga,,,, foto- foto di kamarku,,, pasti Bunda akan mampir ke rumah ku,, mungkin dia juga akan ikut,, enggak,, enggak,,, mereka gak boleh tahu kalau aku masih memajang foto- foto Naz”, pikirku dalam hati yang tiba- tiba berpikir jauh.


Aku menghubungi sekertaris ku, Dilara yang tidak lain adalah adiknya Dewi, untuk meminta tolong padanya, padahal aku tahu pasti dia sedang mengurus pekerjaanku ke Semarang bersama dua staff ku yang lainnya.


“Halo, Dilara…”.


“Iya hallo... kenapa Pak…?”.


“Tolong kirimkan foto mu yang menggunakan bingkai besar ke rumahku”, aku langsung mengeluarkan perintah.


“Hah,, untuk apa Pak,,, jangan bilang Bapak udah jatuh cinta sama saya,, hahhaa”.


“Kurang ajar kau,,, aku butuh untuk menakuti tikus di rumahku..”, ucapku bercanda.


“Dasar sepupu terkutuk kau,,, ogah gue ahh”, dia menolak.


“Heh,, ini masih jam kerja jaga bicara mu?”, ucapku mengingatkan.


“Hufh…. Iya iya Pak Bos buat apaan sih ah,, ini aku masih di Semarang,,, paling pulangnya juga sore sampai sana bisa malam kali”.


“Aku tidak mau tahu,,, kamu suruh orang untuk mengirimkan beberapa foto mu yang sendiri dan yang memakai bingkai besar satu,,, dan satu lagi,, kalau ada foto mu yang bersamaku di kantor atau di lapangan, langsung cetak dan pakaikan bingkai,, sekalian kirim ke rumahku”, titahku.


“Apa,,,? Yang benar saja… jangan gila donk Pak,,, buat apaan sih?”,tanyanya lagi.


“Pokoknya gue gak mau tahu sore ini sudah dikirim ke rumah,,, nanti gue kasih bonus,, kalo gak ..gue tahan gaji lo bulan ini…. ”,ucapku langsung mengakhiri sambungan telepon, karena aku tahu dia pasti akan segera melaksanakan tugas yang ku berikan.


Setelah urusan di Bank selesai, aku pun langsung pulang ke rumah diantar sopir kantor, kemudian ia kembali lagi ke kantor. Aku masuk ke rumah dan langsung menuju ke ruang makan, perutku terasa lapar karena seusai jumatan tadi aku belum makan siang, padahal ini sudah jam empat sore.


Aku pun duduk dan menuangkan air ke dalam gelas untuk minum, “Mbak Jum,, nanti tolong copot semua foto yang ada di kamarku, bereskan dan masukan ke gudang,,,”, ucapku lalu minum.


“Lho ,,, kenapa dicopot tho Den,,,? kan Nona cantik yang ada di foto sedang ada di rumah ini ?”.


Byur,,,, uhuk,,, uhuk,,, uhukk,,, aku menyemburkan air yang sedang ku minum dan langsung batuk- batuk karena tersedak.


“Wealah,,, hati- hati tho Den minumnya”.


Aku kembali minum untuk meredakan batuk ku, seusai minum aku langsung bertanya, “Mbak Jum bilang apa tadi?”.


“Hati- hati minumnya Den”, ucapnya.


“Bukan,, sebelum itu?”, aku mengoreksi.


“Kenapa fotonya dicopot Den” ucapnya lagi.


“Bukan,, setelah itu”, aku seperti bermain tebak- tebakan.


“Wealahh,, yang mana tho Den,,, si Mbak jadi bingung”, Mbak Jum pun dibuat pusing oleh ku.


“Tadi Mbak bilang Nona cantik yang ada di foto sedang ada di rumah ini,, maksudnya apa?”, tanyaku memperjelas.


“Iyo Den,,, Nona cantik itu ada di sini,, tadi datang sama Dinda,, ternyata Nona itu sepupunya Dinda tho Den dan orangnya lebih ayu dari fotonya,,,”, jawabnya.


“Apa,,,?? Naz ada di sini…?", tanyaku lagi.


Tolong ,,, tolong ,,,,


terdengar suara teriakan minta tolong dan suaranya seperti suara Dinda…


Tolong ,,, tolong,,,


“Aduh Gusti,, jangan- jangan Aliya kecebur kolam, Den”, ucap Mbak Juminten panik dan langsung berlari aku pun bergegas pergi menuju halaman samping, aku mempercepat langkahku, dan saat sampai di dekat kolam Dinda belum berhenti berteriak minta tolong lalu tanpa pikir panjang aku langsung menyebur ke kolam.


Betapa terkejutnya aku, saat melihat orang yang tenggelam di dalam kolam renang, “Naz… “, lirihku dalam hati. Aku langsung menolongnya dan mengangkat tubuhnya, kemudian aku membaringkannya di tepi kolam. Aku langsung naik dan duduk di samping Naz yang tergeletak tak sadarkan diri. “Naz,,, Naz ,, bangun Naz”, aku menepok- nepok pipinya untuk membangunkannya, namun ia tak kunjung sadar. Aku merasa panik dan takut terjadi sesuatu padanya, aku melakukan pertolongan pertama RJP dengan menekan dadanya, namun setelah beberapa kali ia tetap tidak sadar juga.


Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku benar- benar takut ia tidak bangun lagi, akhirnya aku memberinya nafas buatan, kemudian ia pun tersadar dan memuntahkan air kolam yang sempat tertelan olehnya.


“Alhamdulillah… “, Aku bernafas lega melihatnya sadar, aku terus memandangi gadis yang sangat aku rindukan itu, ia pun membalas dan kami saling bertatapan seolah saling melepas rindu, ia memegang bibirnya lalu membuka matanya lebar- lebar,,,,


“Bundaaa,,,”, dia berteriak kemudian pingsan lagi.

__ADS_1


Aku sangat terkejut melihatnya, "Naz,, Naz,,, bangun Naz…”, aku berusaha membangunkannya, namun ia tak bergeming, akhirnya aku menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Dinda,, cepat beritahu Om Rizal dan Bunda Anita,,, juga bawakan pakaian ganti untuknya”, titah ku pada Dinda yang masih menangis karena melihat keadaan Naz, dan ia pun segera pergi.


Aku membaringakan Naz di atas sofa ruang tengah, dan terus berusaha membangunkannya, namun ia masih saja tidak sadarkan diri, “Kenapa kalian diam saja,,, cepat ambilkan handuk dan minyak angin”, aku berteriak kepada kedua ART ku karena merasa panik melihat kondisi Naz yang tak kunjung sadar.


Aku terus menepok- nepok pipinya, “Naz,, aku mohon bangunlah,,, jangan seperti ini,, jangan membuatku khawatir,,, bangun Naz,,bangun,,,,”, ucapku lalu menggenggam telapak tangannya dan menciumi punggung tangannya. Aku benar- benar takut terjadi sesuatu dengannya, kemudian kedua ART ku datang membawa dua buah handuk dan minyak angin. Yang satu menyelimuti tubuh Naz dengan handuk yang satu lagi mengeringkan rambut Naz yang basah, aku membalur lehernya dengan minyak angin dan dihisap kan ke hidungnya, namun tetap dia tak kunjung sadar.


Kemudian Om Rizal datang dan langsung memeriksa keadaan Naz, beliau juga datang bersama Bunda yang terkejut mengetahui keberadaan ku di sini, dengan menyeret sebuah koper. Setelah Om Rizal mengatakan Naz baik- baik saja, aku merasa sangat lega, dan aku membawanya ke kamar tamu lalu keluar karena Bunda akan menggantikan pakaian Naz yang basah dengan pakaian yang dibawa oleh Bunda.


Aku pun pergi ke kamarku untuk mandi lalu berganti pakaian. Seusai itu aku menurunkan foto- foto Naz yang terpajang di dinding kamarku, beruntung foto yang dikirim oleh orang suruhan Dilara datang di saat Bunda dan Om Rizal sedang menemani Naz di kamar. Kemudian mereka pun memasangkan foto- foto itu di dinding sesuai intruksi ku, sedangkan Mbak Jum dan Mbak Retno kutugaskan untuk menyimpan foto- foto Naz ke gudang dengan rapi dan hati- hati.


Lalu aku keluar menuju dapur untuk mengambil minuman hangat, rasanya tubuhku merasa tidak enak,, mungkin karena terlalu lama kedinginan akibat pakaianku yang basah kuyup, dan aku lupa kalau aku masih dalam masa pemulihan.


Saat sedang menikmati teh jahe hangat buatan Mbak Jum di meja makan, tiba- tiba Bunda datang menghampiri.


“Jadi kamu teh selama ini ada di Surabaya?? Meni hilang bagai ditelan bumi,, kirain Bunda mah kamu diculik kolong wewe, Ar”, ucapnya.


Aku terkekh mendengarnya, “Memangnya aku anak kecil yang hilang saat main ke hutan,,, Naz sudah sadar Bund??”.


“Belum,,, masih tidur nyenyak dia.... Eh tahu gak Dandy teh sangat murka sama kamu Ar,,, tega- teganya gak datang ke pernikahannya katanya teh… Gimana kabarmu Ar?”.


Aku tersenyum dan membayangkan ekspresi wajah Dandy saat marah- marah yang suka bicara dengan bahasa Sunda kasar, "Yang penting kan kado nya sudah dapat Bunda,,, Ya beginilah .. kabarku baik dan tanpa kekurangan suatu apa pun,,, Om Rizal kemana Bund?".


“si Om pulang dulu ke rumah Ina,, mau jemput Mimih ke bandara sama Johan,,,”.


“Oh gitu,,, Mimih kesini sama Arsen?”, tanyaku.


“Enggak,, sama Kang Andi, kakak nya Bunda juga istrinya, Teh Lisna … Arsen lagi sibuk bimbingan skripsi, sebentar lagi sidang katanya jadi gak bisa datang ke sini,,, oh iya ini teh Rumah kamu Ar?”.


“Bukan ,,, ini rumahnya Mbak Juminten,, aku numpang disini.. hahhaa”.


“Ih,, pikasebeleun nya,, ditanya bener- bener malah bercanda kamu mah ka kolot teh,,, masa iya rumah Mbak Jum, itu di ruang tamu dipampang foto mu dengan keluarga”.


“Hahaha,,, itu Bunda tahu,,, “.


“Kok bentukannya kayak rumah yang diidamkan sama Naz ya,,, hmmmm,,, kalian memang sehati ya”.


“Hahh,,, masa sih Bunda?”, tanyaku kaget.


“Iya,,, Naz tuh pernah bilang kalau dia teh pengen punya rumah kayak gini rumah minimalis tapi cukup besar,,, hanya satu lantai tapi besar serta atapnya tinggi dan ada 5 kamar di dalamnya, kalau dua lantai mah kehidupannya kayak masing- masing katanya. Terus ruang tamu dan ruang tengah pengennya teh yang lebih besar dari rumah Bunda, katanya biar bisa ngumpul bareng keluarga setiap hari sehabis makan malam atau saat hari libur untuk quality time. Katanya teh pengen ada taman yang ada kolam renangnya, satu tapi kedalamannya ada dua, jadi si kolam teh dibagi dua, yang dalam buat yang dewasa dan yang dangkal buat anak- anak, padahal mah modus eta mah soalnya dia teh gak bisa berenang,,, dasar anak itu”, ucap Bunda panjang lebar lalu terkekeh.


“Apa?? Mana mungkin ini..?? kenapa yang dijelaskan Bunda sama dengan yang dijelaskan Mami padaku ? apa jangan- jangan sketsa rumah yang aku temukan di laci kamar Mami itu Naz yang menggambarnya?", gumam ku dalam hati.


“Ar,,, Arfin,, ih kama mah malah ngelamun,,, nanti kesambet loh,,, “.


“Ah,, gak usah,,, nanti Bunda malah ngerepotin kamu , Ar.".


“Gak apa- apa Bund, kayak sama siapa aja,,, kamarnya masih pada kosong kok,,, baru satu yang aku tempati doang, sekalian aja Mimih sama kakaknya Bunda juga bisa nginap di sini, nanti aku minta kedua ART ku menyiapkannya”, ucapku lagi.


“Yasudah atuh kalau kamu memaksa, terimakasih ya,,, kalau gitu Bunda ke rumah Ina dulu ya,, ngasih tahu sekalian ngambil pakaian Bunda”, ucapnya kemudian pamit.


Setelah magriban aku ke kamar Naz untuk melihat keadaanya, namun ia masih tertidur pulas, dan aku tak tega membangunkannya. Aku duduk di tepian tempat tidur tepat disamping ia berbaring dan terus memandanginya seolah melepas rinduku selama setahun ini, karena jika sudah bangun aku tak tahu apakah dia masih mau bertemu denganku. “Saat tertidur pun kamu begitu cantik”, ucapku yang terus tesenyum memandanginya dengan mengusap- ucap kepalaya dan aku teringat kejadian tadi,


“Apa dia pingsan karena aku sudah memberinya nafas buatan?”, gumamku dalam hati lalu aku terkekeh, karena itu pertama kalinya aku melakukan itu.


Cukup lama aku terus memandanginya sampai terdengar adzan isya, barulah aku keluar dari kamarnya dan meminta Mbak Jum memasak sup untuk Naz jika dia bangun nanti makanya sudah siap, sementara aku pergi shalat.


Setelah beberapa saat aku mendengar suara Bunda yang terdengar kaget, aku pun langsung menghampirinya ke kamar Naz yang pintunya sudah terbuka. Dan ternyata ia sedang duduk di lantai, katanya ingin keluar kamar tapi tak bisa berjalan. Kemudian aku menawarkan bantuan padanya, tapi dia menolaknya dengan bicara ketus.”Ternyata dia masih membenciku”, pikirku dalam hati.


Ia berusaha berjalan dipapah oleh Bunda, namun malah terjatuh lagi, aku merasa tidak tega melihatnya, aku pun menghampirinya dan berjongkok lalu menggendongnya, kemudian membaringkannya di atas tempat tidur. Ia masih bersikap jutek dan bicara ketus padaku dan itu rasanya sangat menyakitkan.


Naz menceritakan kronologi jatuhnya dia yang menyebabkan kakinya terkilir hingga ia tenggelam,, “Pantas saja dia bisa tenggelam, ternyata karena kakinya terkilir, padahal tinggi badanya lebih tinggi dibanding kedalaman kolam”, gumamku dalam hati. Lalu aku membantu memijat kakinya, namun dia malah semakin jutek dan aku tidak tahan melihatnya, aku pun lebih memilih pergi meninggalkan kamarnya, kemudian meminta Mbak Retno membawaknnya makan serta balsem untuk dioleskan pada kakinya.


Di kamar aku terus memikirkan sikap Naz tadi padaku, ternyata sangat menyakitkan menerima kebencian dari wanita yang sangat ku cintai, selain hatiku yang sakit tubuhku pun serasa meriang. Aku berusaha tidur, namun baru sekejap terbangun lagi, karena kepala ku terasa pusing, tubuhku serasa tidak enak dan meriang, aku terus gelisah hingga dini hari aku merasa haus dan lapar, dan aku baru ingat sejak siang belum makan. Aku berjalan menuju dapur dengan sempoyongan menyusuri ruangan yang gelap sambil meraba- raba,, entah sudah sampai mana aku merasa hilang keseimbangan lalu aku tergeletak tak sadarkan diri di lantai.


Flashback off


"Maafkan aku Naz,,, aku terpaksa melakukan ini, agar kau lebih mudah melupakanku", lirihku dalam hati sambil memandangi fotonya di ponselku.


Author POV


Tok tok tok,,,, Mbak Jum mengetuk pintu kamar Naz, “Non,, bolehkah si Mbak masuk?”, ucap Mbak Jum dari balik pintu.


“Masuk aja Mbak,,”, jawab Naz memberi izin, kemudian Mbak Jum masuk dengan membawa nampan erisi makanan untuk Naz.


“Iki Non, dimakan makan siangnya, mumpung masih anget”, ucapnya.


“Makasih ya Mbak,,, nanti saya makan,, simpan saja dulu”, ucapnya sambil sesenggukan.


“Non abis nangis ya? Non kenapa tho?”, tanyanya.


“Gak apa- apa Mbak,,, saya mau shalat dulu ya udah setengah dua ternyata”, ucap Naz lalu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, dan saat ia keluar ternyata Mbak Jum masih ada di kamarnya, Kok Mbak masih di sini?”, tanya Naz heran, kemudian ia pun berpamitan pergi keluar dari kamar.


“Aduh,,, kok Nona belum makan ya,,, Den Arfin pasti gak akan makan juga kalau Nona belum selesai makan”, ucap Mbak Jum bingung, dan setelah setegah jam Mbak Jum kembali lagi ke kamar Naz dengan membawa buah apel yang sudah dikupas dan dipotong,

__ADS_1


“Parmisi Non,, ini buahnya,, tadi si Mbak Lupa”, ucapnya setelah memasuki kamar Naz, “Non,, kok belum makan?”, tanya nya setelah melihat isi nampan masih utuh dan Naz malah berbaring seperti sedang melamun.


“Aku belum lapar Mbak,,, “, jawab Naz.


“Non kan belum makan, nanti kalau telat makan bisa sakit dan kalau makannanya sudah dingin jadi kurang enak”, bujuk Mbak Jum, namun Naz masih tidak menyentuh makanannya, kemudian Mbak Jum kembali keluar.


“Aduh,,, gimana tho iki,,,, Den Arfin belum makan juga belum minum obat,,, mereka ini kalau bertengkar ternyata merepotkan. Dan terus saja setiap setegah jam sekali Mbak Jum datang ke kamar Naz dengan pura- pura memberikannya teh panas lah, memberikan pudding lah, dan yang terakhir ia meminta bantuan Dinda untuk membujuk Naz makan. Dan kali ini alasannya adalah ada telepon dari Dinda karena ponsel Naz tidak aktif.


Akhrinya setelah menerima telepon dari Dinda, Naz bersedia makan karena mendapat ancaman dari sang Bunda.


Mbak Jum pun langsung mendatangi majikannya dan melaporkan bahwa Naz sedang makan, barulah Arfin juga memakan makanannya yang sudah dingin alias gaaleun itu.


Seusai makan, Naz pergi ke dapur mengantarkan bekas makannya, dan saat itu pula ia melihat Mbak Jum membawa nampan berisi bekas makan dari kamar Arfin.


“Mbak,,, kak Arfin baru makan?”, tanya Naz


“Iy iya Non”, jawab Mbak Jum gugup.


“Hah,, itu dari dzuhur tadi baru makan?”, tanyanya lagi.


“Iya Non”.


Naz memperhatikan piring bekas makan Arfin, “Mbak,, itu kayaknya nampan makanan yang aku bawa tadi untuknya, iya kan?”, tanya Naz yang memperhatikan bekas plateng dan pemilihan piring yang berbeda- beda bentuknya itu.


“Iy iya Non”, jawabnya.


“Apa,, makanan itu kan sudah dingin, bagaimana bisa dia makan itu?”.


“Anu Non, emmm,,,, Den Arfin tidak mau makan kalau Non belm selesai makan”.


“Apa?? Kenapa Mbak gak bilang dari tadi?”, tanya Naz kaget,”Tunggu,,, Apa itu sebabnya tadi Mbak terus keluar masuk kamarku?”.


“Iy iya Non,,, karena si Mbak ingin menetahui Non sudah menghabiskan makanannya atau belum”, Mbak Jum mengakuinya, kemudian Naz langsung bergegas ke kamar Arfin tanpa mengetuk pintu.


“Apa kau tidak diajarkan sopan santun? Main masuk kamar orang seenaknya”, ucap Arfin kesal melihat Naz tiba- tiba masuk saat dia baru keluar dar kamar mandi, lalu ia duduk di tempat tidur.


“Sampai kapan kau akan berpura- pura seperti ini?”, Tanya Naz.


“Berpura- pura apa?”, tanya Arfin.


“Berpura- pura tidak memperdulikan ku, berpura- pura tidak menyukai keberadaanku, berpura- pura menyakitiku, dan berpura- pura kalau wanita itu adalah pacarmu”, ucap Naz menunjuk salah satu foto yang ada di kamar Arfin.


“Aku tidak berpura- pura,,, aku hanya mengikuti keinginanmu,,, bukankah kau sangat membenciku dan tidak ingin melihat ku lagi?,,, jadi tidak salah kan jika aku menghindari mu,,,, lalu kenapa kau masih ada di sini?”, ucap Arfin dengan nada ketus, “Dan masalah wanita di foto itu,,,,,, dia wanita yang aku cintai,, dialah alasanku meninggalkan mu,,, di wanita yang lebih baik darimu, lebih dewasa dan tidak kekanak- kanakan, sehingga membuatku lebih nyaman,,,, makanya aku membawanya dari Jakarta untuk bekerja dengan ku di sini, agar kami tidak berjauhan”, ucap Arfin dengan memandang salah satu foto yang terpampang di dinding kamarnya itu.


Naz langsung membekap mulutnya merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia tak mampu berkata- kata, kemudian ia langsung beranjak pergi meninggalkan kamar Arfin, ia berlari menuju kamarnya dengan linangan air mata, tanpa menghiraukan Mbak Jum yang ada di ruang tengah depan kamar Arfin, bahkan rasa sakit di kakinya pun tak dirasanya.


Ia menangis sejadi- jadinya di kamar mandi seolah ia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya selama ini. Rasa sakit yang ia rasakan terlalu dalam dan ia terus menangis untuk meluapkannya hingga beberapa saat lamanya.


Setelah mendapatkan pesan dari Mama nya, ia menghentikan tangisannya dan mencuci wajahnya, kemudian ia membereskan barangnya dan pergi meninggalkan rumah Arfin.


Kedua orang tua Naz beserta Raline, dan Elsa baru saja keluar dari kediaman Tante Ina untuk berpamitan, berbarengan dengan datangnya Naz, lalu mereka pun pergi bersama menuju hotel berbintang 5 untuk menginap di sana. Naz bersikap seolah tidak terjadi apa- apa dan bercanda ria bersama kedua saudara perempuannya. Mereka bertiga pun menempati kamar yang sama, seperti biasa sebelum tidur mereka saling bertukar cerita sedangkan Naz hanya menjadi pendengar saja, arena tak mungkin ia menceritakan apa yang dialaminya.


Keesokan harinya setelah sarapan, ketiga gadis itu berenang di kolam renang terbuka yang ada di hotel tersebut, lebih tepatnya Raline dan Elsa yang berenang, sedangkan Naz hanya bermain air saja karena tak bisa berenang, sedangkan kedua orang tuanya memperhatikan mereka saja sambil duduk di kursi santai pinggiran kolam.


“Kak Nanaz,,, fotoin kita dong”, ucap Elsa yang baru saja nyebur ke kolam bersama Raline.


“Kakak gak bawa ponsel,,, kamu bawa gak?”. tanya Naz.


“Enggak,,, kak Raline juga sama,,,”, jawab Elsa.


“Pa, Ma,,, bawa pnsel gak?”


“Mama gak bawa,,,”.


“Papa bawa,, tapi barusan mati “.


“Yahhh,,, sama aja bo’ong itu mah,,, yasudah aku ke kamar dulu ngambil ponsel,,,”, ucap Naz yang kemudian meminta kartu ases yang sebelumnya di titipkan pada Mama nya.


“Sekalian ambil power bank ya sayang”, ucap Pak Syarief.


“Oke,,, “, ucap Naz yang kemudian pergi mennggalkan mereka berjalan menuju kamar mereka yang terletak di lantai 14, tentunya dengan menggunakan lift.


Setelah sampai di kamar Naz bergegas mengambil ponsel dan powerbank miliknya, kemudian ia pun langsung beranjak pergi untuk kembali ke kolam renang. Namun saat ia membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya ia melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


“Naz,,, bisakah kita bicara? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan sama kamu”, ucap orang itu dengan tatapan serius.


“Maaf,,, sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi”, tolak Naz.


“Tapi ini sangat serius,, mengenai hal yang sebenarnya yang harus kamu ketahui, saya janji setelah ini tidak akan ada pembicaraan tentang hal ini lagi”, ucapnya lagi.


Naz sambil menghela nafas panjang, "Baiklah silahkan masuk".


------- TBC -------


Mohon maaf kemarin othor sibuk, jadi baru sempat up, semoga bisa double up...

__ADS_1


Telimakacihh ...love U all😘😘😘


__ADS_2