Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Harus Mandi Kembang 7 Rupa


__ADS_3

Suasana ruang keamanan di kantor Akbarsyah Group itu nampak mencekam, kedua pria yang berprofesi sebagai penjaga keamanan itu salah satunya nampak ketakutan dan harap- harap cemas setelah Naz selesai menelpon kekasihnya menggunakan ponsel salah satu penjaga keamanan tersebut, yang ternyata nama kekasih Naz di ponsel itu adalah BOS,, yakni bos yang ada di perusahan tersebut. Sedangkan kedua wanita yang merupakan karyawati di perusahaan tersebut yang menuduh Naz maling nampak penasaran dengan pria yang sudah dihubungi oleh Naz dan memandang remeh pada Naz karena penampilannya yang memakai sandal jepit serta tadi membawa kantong kresek hitam.


“Heran gue,,, kok gadis ini cantik- cantik tapi maling ya?”, ucap salah seorang wanita berbisik pada temannya.


“Mungkin dia kekurangan duit kali,,, atau lagi nyari mangsa ke sini”, wanita yang memegang tas Naz pun ikut berkomentar.


“Hei,, jaga ya mulut anda,,, memangnya saya gak dengar apa yang kalian bicarakan”, ucap Naz sewot karena merasa kesal udah dituduh yang tidak – tidak dan kedua wanita itu pun langsung diam dengan tersenyum sinis.


Sedangkan kedua petugas keamanan pun nampak sedang berbisik pada temannya yang terlihat gelisah dan nampak terus mengelap dahinya karena terus mengeluarkan keringat.


“Lo kenapa sih,,, ?”, tanya temennya.


“Ini gawat ….”, jawab orang itu berbisik.


“Gawat apanya,,?”, tanya temannya lagi.


“Celaka kita,,, celaka ini ”, jawabnya lagi dan setelah beberapa saat tiba- tiba ada orang yang datang dan membuka pintu dan ternyata itu adalah Arfin yang baru saja datang ke pos keamanan.


“Naz,,, “, ucapnya dari pintu masuk lalu menghampiri Naz yang sedang duduk dan ia pun duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan Naz dan hanya terhalang oleh meja.


“Pak Al Arifin”, ucap kedua wanita yang berdiri di dekat meja itu pun terkejut.


“Sayang,,, kamu lama banget sih,, aku udah bete di sini”, ucap Naz dengan nada manja karena melihat keempat orang tadi nampak ketakutan.


“Kok kamu bisa ada di sini ?”, Arfin bertanya dengan lembut.


“Tadi aku udah bilang ke resepsionis supaya menghubungi mu dan memberitahukan kalo aku ada di lobi”, jawab Naz.


“Dewi,,, tadi resepsionis ada yang ngasih tahu gak kalo Naz menungguku di lobi?”, tanya nya memanggil sekertaris nya yang berdiri di depan pintu.


“Gak ada Pak Bos,,,,”, jawab sang sekertaris.


“Berapa lama kamu nunggu di sana sayang?”, Arfin kembali bertanya pada Naz.


“Setengah jam lebih,,,, aku sampe pegel nungguin katanya nanti dikabari, tapi gak kunjung ada kabarnya”, jawab Naz dengan polosnya.


“Dewi,,, pecat resepsionis nya sekarang juga “,Arfin kembali berteriak pada sekertaris nya.


“Oke bos,,,”, Dewi sang sekertaris pun mencatat apa yang dikatakan oleh bos nya itu.


“Terus kenapa kamu bisa ada di pos keamanan ini, sayang,,, bukannya tadi kamu bilang menunggu ku di lobi?”, Arfin kembali bertanya.


“Sayang,,, tadi tuh aku kesal mau nanyain lagi ke resepsionis,, eh ada yang menabrak ku sampai jatuh, lalu orang itu pergi setelah membantu ku bangun,,, terus masa aku dikira maling,,, tuh lihat tangan aku merah- merah gini dipaksa diseret kesini?”, Naz menjelaskan sambil memperlihatkan pergelangan tangannya yang nampak merah.


“Siapa yang berani nyeret kamu ,,hem,,,?” Arfin bertanya dengan lembut.


“Tuh,,, mereka”, ucap Naz menunjuk kedua orang penjaga keamanan dan mereka langsung menunduk ketakutan karena Arfin menatap mereka dengan tatapan tajam.


“Sayang,,, kamu kenal tas itu kan?”, Naz menunjuk tas yang dipegang salah satu wanita yang menuduhnya maling.


“Tentu saja,,, itu hadiah ulang tahun mu,,, aku sendiri yang memesannya langsung dari Amerika”,Arfin menjawab setelah melihat tas yang ditunjuk oleh Naz.


“Tuh kan bener itu punya aku,,, mereka bilang aku maling tas itu, sayang ”, ucap Naz mengadu.


“Siapa yang sudah berani bilang kamu maling, sayang ?”, tanya Arfin dengan raut wajah marah sedangkan keempat orang tadi terus menunduk ketakutan karena melihat wajah Arfin yang nampak menahan amarah yang sebentar lagi akan membludak.


“Mereka berdua”, Naz menunjuk kedua karyawan wanita yang sekarang sedang ketakutan, ”Bukan cuman itu,, mereka juga tadi bilang kalau aku ini sedang mencari mangsa datang ke kantor ini,, mereka sudah benar- benar menghinaku”, ucap Naz yang terus mengadu.


Brakk… Arfin langsung memukul meja di hadapannya lalu ia berdiri, “Berani sekali kalian menuduh pacarku ini maling di perusahan ku sendiri,,, dan mengatakan hal yang tidak pantas padanya,,, kalian pikir kalian siapa hah?”, Arfin berteriak kepada kedua wanita itu, “Apa kalian ingin aku merobek mulut kalian itu?”, Arfin semakin emosi.


“Dan kalian,, sebagai penjaga keamanan tentunya kalian harus bisa membedakan yang mana maling yang mana bukan,,, “, Arfin berjalan mendekati penjaga keamanan lalu menarik kerah salah satu penjaga keamanan itu, “Kau tahu,, aku tidak pernah melukai anggota tubuh dari pacarku sampai ujung kuku pun aku menjaganya,,, tapi, kau berani sekali menyeretnya hingga tangannya merah seperti itu,,, “, bugh,,, satu pukulan mendarat di wajah penjaga keamanan itu.


Kemudian Arfin beralih pada satu penjaga lagi lalu kembali menarik kerah baju penjaga kemanan itu, “Dan kau juga sama lancangnya seperti teman mu itu “, bughhh,,,, ia pun terkena bogeman Arfin.


Naz langsung menghampiri Arfin dan memegang tangannya, “Aa udah,,, jangan pukul mereka lagi,,, “, ucap Naz yang melihat wajah Arfin yang masih dipenuhi amarah.


“Bos,,, rapat dewan direksi akan dimulai lagi, sebaiknya anda segera kembali ke ruang rapat”, Dewi mengingatkan Arfin.

__ADS_1


“Ini belum selesai, setelah selesai rapat suruh mereka ke ruangan ku,,, “, titahnya pada Dewi lalu Arfin memandang ke arah Naz yang tengah berdiri di sampingnya sambil memegang lengannya, “Sayang, kamu ikut Dewi dan tunggu aku di ruangan ku,, aku akan melanjutkan rapat dulu dan setelah itu aku akan manemui mu, okay”, ucapnya dengan lembut lalu Naz pun mengangguki nya, kemudian Arfin pun pergi meninggalkan ruang keamanan tersebut.


“Ayo Nona ikutlah dengan ku,,,”, ucap Dewi pada Naz.


“Tapi,,, itu tas ku kak,,, “, Naz menunjuk tas yang dipegang wanita tadi.


“Herni, kembalikan tas nya pada pemiliknya,,, jangan suka ngaku- ngaku barang orang,,,”, ucap Dewi dengan nada tegas.


“Iy iya Bu Dewi,,,, “, ucapnya lalu mengembalikan tas itu pada Naz, “Saya minta maaf mba,,, tolong saya mohon jangan biarkan Pak Al Arifin memecat kami”, wanita yang bernama Herni itu meminta bantuan Naz.


“Kalian sudah tahu sendiri bagaimana Pak Al Arifin bukan,,, jika dia sudah mengeluarkan keputusan, tidak ada satu pun yang bisa menariknya kembali, termasuk bos besar “, Dewi mengingatkan , “Ayok Nona, ikut dengan saya”, ucapnya lagi pada Naz dan ia pun mengangguki nya.


Saat Dewi dan Naz hendak keluar dari ruang keamanan tiba- tiba datang seorang yang berseragam satpam bersama seorang wanita berseragam OB. “Maaf Bu,,, saya berhasil menangkap orang yang mencurigakan di parkiran,,, ternyata dia OB yang baru seminggu bekerja di sini,,, saya mendapat laporan kalau ada yang mencuri tas Bu Herni dan memasukannya ke dalam kantong kresek hitam, dan ini kantong kresek hitam yang dibawanya, Ibu boleh periksa ini”, Satpam tersebut menjelaskan panjang lebar dan menyerahkan kantong kreseknya kepada Herni, dan ternyata iya, itu adalah tas nya yang hilang.


“Nah, Herni,,, sekarang kamu sudah menemukan pelakunya ya kan,, dan bukan pacar bos ini yang mencuri tas mu,,, “, Dewi langsung berkomentar lalu pergi meninggalkan ruang keamanan itu bersama Naz dan mereka berjalan lalu menaiki lift menuju lantai 9. “Mari,, saya antar ke ruangan Pak Bos”, Dewi mengajak Naz masuk ke ruangan Arfin. “Nona bisa menunggu sambil duduk di sofa itu, saya permisi dulu mau meminta OB membawakan makanan dan minum untuk Nona, nanti kalau butuh apa- apa ruangan saya ada di sebelah, atau bisa menekan intercom nomor 01 untuk memanggil saya,, saya permisi dulu ya,,, “, ucapnya lalu meninggalkan Naz sendirian di dalam ruang kerja Arfin.


“Hufh,,, akhirnya bisa sampai ke sini juga setelah mengalami banyak hal,,, yasalam,,, seperti mau naik level di games online saja banyak hambatan segala,,,”, Naz berdialog sendiri lalau duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Tak lama seorang OB membawakannya beberapa jenis makanan ringan kemasan dan juga minum serta jus alpukat kesukaannya. Kemudian Naz pun memakannya satu persatu sambil bersantai ria memainkan ponsel dengan duduk selonjoran di sofa.


Setelah beberapa saat Naz menunggu, tiba- tiba terdengar suara beberapa orang pria dari luar, entah apa yang di pikirkan nya Naz langsung pergi bersembunyi di bawah meja kerja Arfin.


Ceklek ,,,, terdengar suara pintu dibuka dari luar, kemudian masuklah empat orang pria ke dalam ruangan tersebut. Mereka membicarakan hasil rapat tadi dan memuji kinerja Arfin yang sudah berhasil mengatasi perusahaan cabang Surabaya dengan cepat.


“Sudah ku bilang, putra mu ini sangat berbakat,, sepertinya menuruni bakat mendiang kakeknya, Om Akbarsyah sang pendiri perusahaan ini”, ucap Pak Syarief memuji Arfin.


“Ya ya ya,,, kau benar,,, berarti langkahku memaksanya pulang dari Amerika sudah sangat tepat,,, dia dan Abangnya sekarang sudah bisa diandalkan”, Pak Latief pun ikut memuji kedua putranya.


“Ah,, kalian ini terlalu berlebihan,,, Bang Evan tuh yang hebat,,, bisa semakin mengembangkan perusahaan ini”, ucap Arfin merendah.


“Ya ,, kita berdua harus saling bahu membahu untuk kemajuan perusahaan,,, sebaiknya mari kita duduk, kursi di ruang rapat tadi sepertinya membuatku sangat pegal”, Evan pun ikut berkomentar dan mengajak ketiga pria yang baru masuk itu untuk duduk di sofa. “Wah,,, kita sudah disuguhi makanan ringan rupanya ya”, ucap Nervan melihat beberapa makanan ada di atas meja.


“Apa kau sedang ada tamu Al,,,, “, Tanya Pak Latief.


“Iya sih,, harusnya dia ada di sini,,, tapi kemana ya,, sebentar aku hubungi Dewi dulu”, Arfin melangkah menuju meja kerjanya lalau ia duduk di kursinya dan menekan intercom, “Dewi,,, kemana tamu ku?”.


“Awww,,,,, “, terdengar suara orang berteriak dari kolong meja kerja Arfin dan Arfin pun langsung terkejut mendengarnya lalu bangun dari duduknya dan berjongkok mencari keberadaan suara tersebut.


“Hehehe,,,, ngumpet”,Naz menjawab dengan cengengesan.


“Ya ampuun,,, ayo keluar,, kamu kaya anak kecil aja pakai ngumpet di kolong meja segala”, Arfin meminta Naz untuk keluar dari persembunyiannya dan Naz pun keluar dari sana.


Jedukkk,,,, “Aduhh,,, kepala ku sakit,,,”, Naz meringis.


“Ya ampun,,, hati- hati dong Naz”, ucap Arfin lalu mengusap- usap kepala Naz yang kejeduk meja tadi.


“Loh,,, Naz,,, kamu kok ada di sini??”, Tanya Pak Syarief.


“Em,,, anu itu Pa,,, emmm”, Naz hanya bicara terbata- bata gak jelas.


“Itu Om,,, kami berencana mau makan siang bareng, jadi saya minta dia datang ke sini”, Arfin yang menjawab mewakili kekasihnya itu yang terlihat gugup dan salah tingkah.


“Maksudnya apa ini,,,?? kau mengenal gadis yang bersama Arfin itu?”, Pak Latief bertanya dengan ekspresi yang nampak kebingungan.


“Iya,,, itu anakku,, dan ternyata dia berpacaran dengan putra bungsu mu”, ucap Pak Syarief dengan santainya.


“Apa,,,??”, Pak Latief nampak terkejut lalu Arfin membawa Naz menemui Papi nya itu untuk mengenalkannya.


“Yassalam,,, aku bilang belum siap bertemu Mami nya Kak Arfin,,, bukan berarti aku sudah siap untuk bertemu dengan Papi nya juga kali,,, sia- sia gue ngumpet di kolong meja tadi, malah tangan gue sakit ke injek Kak Arfin dan kepala gue kejeduk meja,,, haduhhh,,, gimana ini”, Naz menjerit dalam hatinya.


“Naz,,, perkenalkan ini Papi ku”, Arfin memperkenalkan Naz pada Pak Latief, dan ia pun menyodorkankan tangannya lalu mencium tangan Papi nya Arfin tersebut.


“Sepertinya kita pernah bertemu”, Pak Latief memperhatikan wajah Naz dengan seksama.


“Dia itu salah satu murid di sekolah milik yayasan mu,,, dan tahun ini dia menjadi juara umum saat kenaikan kelas kemarin”, Pak Syarief menjelaskan, “Sayang kok kamu pakai sandal jepit?”, Tanya Pak Syarief heran saat melihat kaki Naz.


“Itu Pa,,, tadi aku pergi ke toilet masjid seberang sebelum kesini, eh pas keluar sepatu ku ada yang nyuri,,, jadi aku beli sandal aja di warung dekat masjid itu,, hehe”, Naz menjawab seadanya dan Papa nya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


“Oh,,, iya,,, ingat sekarang,,, kamu salah satu anak berprestasi ya,, dan kita pernah bertemu di atas panggung”, ucap Pak Latief teringat, “Kok gak pernah bilang kalau anakmu sekolah di sana, Rief?”, tanyanya heran.

__ADS_1


“Dia sendiri yang minta,, orang dia masuk sekolah nya juga lewat jalur beasiswa murid berprestasi,,, katanya aku tidak boleh turun tangan,, dia ingin masuk karena kemampuannya bukan karena nama keluarganya,,, dan sepertinya nanti kuliah juga seperti itu”, Pak Syarief menjelaskan.


“Wah,,, bagus itu,,, pemikiran anak yang mandiri,,,, kamu rupanya satu tipe dengan Arfin ya,,, masuk sekolah ataupun perkuliahan selalu lewat jalur murid berprestasi,,,, gak nyangka ya,, kita bakal besanan, Rief,,”, ucap Pak Latiief pada sahabatnya itu.


“Wah,,, wah,,, ini mah tinggal akad dong ya,,, kedua orang tua udah pada setuju begini”, Nervan ikut berkomentar dan membuat kedua sahabat itu tertawa, sedangkan Naz dan Arfin nampak salah tingkah, “Sudah hampir setengah dua belas ini, sebaiknya kita bergi jumatan sebelum azan berkumandang”, Nervan mengingatkan kalau hari ini hari jumat dan para lelaki muslim menjalankan shalat jumat berjamaah di masjid, kemudian mereka pun bergegas keluar ruangan dan bertujuan shalat jumat di masjid seberang sana, sedangkan Naz kembali ditinggal sendirian di ruang kerja Arfin.


“Akhirnya mereka pergi juga,,,, tanganku gemetaran terus,,, ternyata begini ya rasanya kalo ketemu sama orang tua pacar,,, bagaimana nanti aku kalau bertemu Mami nya,,, yasalam,,, apakah mereka bisa menerima ku,, bisa saja kan tadi Om Latief bercanda seperti itu karena ada Papa,,, awalnya aja beliau sangat terkejut saat tahu aku ini pacarnya Kak Arfin,,,,huft,,", Naz berdialog sendiri lalu menghela nafas kasar sambil duduk selonjoran di sofa.


Setelah pulang jumatan Arfin mengajak Naz untuk makan siang bersama Papi dan Pak Syarief juga dengan Nervan, namun Naz menolaknya dengan alasan malu dan nervous kalau harus makan satu meja dengan Papi nya Arfin, karena takut Naz akan kabur lagi maka Arfin pun mengikuti keinginan Naz dan lebih memilih untuk makan siang berdua saja ke tempat yang dikehendaki oleh Naz dengan syarat Naz tidak akan mengajaknya makan pete lagi.



Akhirnya mereka pergi ke restoran makanan korea kesukaan Naz, seperti biasa memesan makanan hotpan & BBQ.


“Aa,,,, emm,,, aku boleh minta sesuatu gak?”, Tanya Naz saat baru saja selesai makan.


“Minta apa?? “, tanyanya.


“Em,,, Aa jangan memecat pegawai Aa yang tadi bermasalah sama aku ya,,, hehe”, ucap Naz sambil nyengir kuda.


“Mereka itu udah seenaknya sama kamu, apalagi yang dua karyawati itu, udah nuduh maling terus ngatain kamu seenak jidatnya aja,,, tadi Dewi bilang maling yang sebenarnya udah ketemu kan,,, jadi ya tinggal mecat mereka”, ucap Arfin dengan santainya.


“Gak usah sayang,,, tadi aku ngadu sama kamu karena aku lagi kesel banget,, udah mah sepatu aku ada yang nyuri, terus ditubruk maling sampe dikira maling, entahlah hari ini aku mengalami banyak kesialan,,, sepertinya nanti malam harus mandi kembang tujuh rupa deh”, Naz bicara ngelantur.


“Hahaha,,,, kamu kayak orang jaman prasejarah saja pakai mandi kembang segala,,, aku bantu mandiin mau?”, Arfin menawarkan diri.


“Cihhh,,, mau lo,,, enak bae,,, yang ada malah nambah kesialanku nantinya”, Naz malah bicara dengan ketus, “Kembali lagi ke topik pembicaraan,, jangan pecat mereka ya please,,, kasihan kan zaman sekarang ini sudah cari kerja,, jangan cuman gara- gara aku, Aa mecat mereka,,, nanti Aa dikira gak professional lagi,, yaa”, Naz masih membujuk.


“Oke baiklah,,, aku hanya akan menurunkan jabatan mereka saja,,, tapi kalo petugas keamanan aku bingung diturunkan jadi apa?,, apa jadi OB saja ya mereka berlima itu?”, Arfin merasa bingung memberi mereka hukuman apa.


“Gak usah sayang,,, potong gaji mereka saja sedikit atau membersihkan toilet kantor gitu ,, jangan diturunkan jabatan kan kasihan,,,mereka juga pasti harus menghidupi keluarganya kan… lagian kan penjaga keamanan udah dihajar sama Aa,,, itu juga sudah cukup menghukum mereka”, ucap Naz panjang lebar.


“Baiklah sayangku,,, “, ucapnya tersenyum.


“Makasih sayaang,,, kamu udah ganteng juga baik banget sihh,,, aku makin cintaaaa sama Aa”, ucap Naz sambil tersenyum semanis mungkin memandang kekasihnya yang duduk berhadapan dengannya itu.


“Oh ya… ?? apa semua wanita seperti itu ? kalau sudah dituruti maunya jadi suka menggombal?”, Arfin malah menggoda Naz.


Naz langsung merubah raut mukanya, “Dihh,,, yaudah ahh ku tarik lagi kata- kata ku,,, “, Ucap Naz kesal.


“Hahaha,,, jangan begitulah sayang,,, aku suka kalau kamu udah mengeluarkan rayuan atau gombalan,,, kelihatan banget kalau kamu itu sayang banget dan tergila- gila sama Aa,,,”, ucap Afin dengan penuh percaya diri.


“Yasalam,,,, jijay banget sihh,,, tingkat kepedean mu itu sudah melebihi batas wajar tahu gak”, Naz malah semakin kesal dibuatnya sedangkan Arfin malah terus tertawa melihat raut wajah Naz yang cemberut dan menggerutu bagai bebek betutu.


Setelah selesai makan Arfin langsung mengantarkan Naz pulang, kemudian ia kembali lagi ke kantornya karena sudah masuk jam kerja lagi, dan ia pun memenuhi keinginan kekasihnya untuk tidak memecat lima orang yang terlibat mengerjai Naz mulai dari resepsionis, dua kawyawati, dan dua orang penjaga keamanan tersebut hanya diberi sanksi saja yaitu potong gaji dan diberi hukuman setiap pulang kerja harus membersihkan toilet yang ada di kantor selama tujuh hari kerja.


Hari sudah mulai sore, para pegawai kantoran pun sudah habis jam kerjanya dan pada pulang ke rumah masing- masing, kecuali yang memiliki tugas lembur. Arfin pun pulang bersama Nervan ke rumah mereka karena sang Mami terus merengek meminta Nervan untuk tinggal lagi di rumah dan meninggalkan apartemen nya, tapi itu tidak dikabulkannya, Nervan hanya bersedia meninap sementara saja dan tidak mau pindah lagi ke rumah.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mereka berdua tiba di rumah dan langsung di sambut kedatangannya oleh Mami mereka yang terlihat begitu senang melihat kedua putranya pulang bersamaan.


“Nah gitu dong,,, anak- anak Mami yang ganteng ini bisa akur terus,,, janji ya kamu Abang harus tinggal di sini”, ucap sang Mami setelah membukakan pintu untuk kedua putranya itu.


“Gak janji Mami,,, tergantung situasi dan kondisi,,, “, Nervan menjawab seenaknya.


“Baiklah- baiklah,,, situasi dan kondisi akan Mami ajak kompromi kalau begitu”, ucap Mami terkekeh dan membuat kedua putraya itu menertawakan perkataan Mami tersebut.


“Arfin,,, sepertinya kita harus bicara,, “, terdengar suara bariton dengan nada tegas yang membuat Arfin, Nervan beserta Mami terkejut dengan kehadirannya.


----------------- TBC -----------------


*********************************



Happy Reading…….


jangan lupa tinggalkan jejak mu,,, like ,komen, rate bintang5, dan vote.... terimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2