Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ternyata Dia Ayahnya Syanala


__ADS_3

Syanala gadis kecil yang baru berusia dua setengah tahun itu nampak sudah kelelahan bermain dan akhirnya menyudahi kegiatannya di playground lalu mengajak Mina menghampiri Maira yang tengah duduk sendirian di kursi panjang dengan beberapa tas belanjaan yang disimpan di sebelahnya.


“Mama,,, Nala cape,,, mahu minyum,,, “, Nala memegang tangan Maira sambil memeluk boneka baru nya dan meminta minum.


“Sini, Tante ambilkan minumnya ya,,, “, Mina mengambil botol minum yang ada di dalam tas gendong Nala, lalu membukakan tutup botolnya dan memberikannya pada Nala, kemudian Nala pun meminumnya, “Mai,,, Naz kemana ? bukannya tadi dia bersama mu di sini ?”, tanya Mina yang tidak melihat keberadaan Naz.


“Tadi sih bilangnya mau ke toilet,,, tapi sudah lama kok belum kembali ya,, ??”, Maira malah balik bertanya.


“Mungkin dia sedang sakit perut kali ya,, sebentar aku coba menghubunginya, takutnya dia kenapa- kenapa ”, Mina mengambil ponsel dari dalam tas nya lalu mencari nomor kontak Naz kemudian menelponnya, baru saja ia menempelkan ponsel ke telinganya Naz datang menghampiri mereka. “Naz,, kamu dari mana aja,,?? Aku menelpon mu,, ehh malah nongol”, Mina mematikan sambungan telponnya lalu bertanya pada Naz yang baru kembali.


“Tadi aku habis dari toilet, terus ketemu seseorang ,, eh jadi ngobrol deh,, maaf ya Kak, aku tadi lama ninggalin Kak Maira sendirian di sini”, ucap Naz yang menoleh pada Maira, “Nala udah selesai mainnya??”, tanya Naz pada Nala.


“Syudah Kakak,, Nala cama poneka syudah cape main telus,,, Nala mahu pulang”, ucapnya dengan bahasa cadelnya.


“Oke,, baiklah tuan putri yang cantik”, ucap Naz tersenyum, “Ayo Kak kita pulang,, “, Naz mengajak Mina dan Maira untuk pulang juga dan mereka pun bangkit dari duduknya dengan membawa hasil belanjaan. Naz membawa sebagian tas belanjaan sambil menuntun Nala, sedangkan Mina membawa tas belanjaan lainnya sambil menuntun Maira meskipun ia berjalan dengan bantuan tongkat untuk orang tuna netra tapi tetap Mina tidak bisa membiarkannya berjalan sendiri.


Mereka kini telah berada di dalam mobil setelah Pak Udin menjemputnya, Naz memilih duduk di depan di samping Pak Udin, sedangkan Mina, Maira dan Nala duduk di jok penumpang. Sepertinya Naz mulai menghindari dekat dengan Maira padahal saat berangkat ia duduk bersama Maira dan Nala di belakang.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, mereka pun tiba di panti dan ternyata Nala tertidur pulas, sepertinya karena kelelahan bermain sehingga Mina tidak tega membangunkannya, lalu mereka pun turun. Naz yang melihat Mina nampak kerepotan akhirnya ia membantu menggendong Nala yang masih tidur, lalu mereka pun masuk dengan dibantu Pak Udin membawakan barang belanjaannya, sedangkan Mina menuntun Maira.


Naz membawa Nala dalam gendongannya masuk ke kamar dan diikuti oleh Maira dibelakangnya karena ia sudah mulai hafal letak kamarnya, lalu Naz menidurkan Nala perlahan di tempat tidur dan ia pun melepaskan sepatu Nala. Sepertinya Nala merasa tidurnya terusik dan merubah posisi tidurnya ke samping kiri lalu kembali lagi terlentang dan tangannya terus bergerak meraba- raba seolah mencari sesuatu.


“Kak,, Nala kok tidurnya gitu ya, seperti sedang gelisah”, Naz bertanya kepada Maira karena merasa heran.


“Oh,, ya ampun, Nala kalau tidur harus pakai selimut bayi nya,,, Naz boleh kah aku minta tolong mengambilkan selimut Nala di dalam lemari plastik di samping lemari kayu ”, Maira yang duduk di tepi tempat tidur meminta bantuan Naz dan Naz pun bergegas ke tempat lemari yang disebutkan Maira, lalu mencari keberadaan selimut Nala itu. “Selimutnya berwarna pink dan ada tutup kepalanya berbentuk topi kelinci”, Maira memberitahukan ciri- ciri selimut Nala.


Naz membuka satu persatu laci lemari kecil itu, saat membuka laci kedua teratas Naz menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut seolah menjadi bukti kebenaran perkataan si Embe dan Nadine padanya.



“Ternyata benar,,, Kak Maira adalah mantan pacarnya Kak Arfin”, gumam Naz dalam hati saat melihat foto kebersamaan Arfin dan Maira, seakan ada rasa sakit yang ia yang timbul di dalam hati nya, walau sebenarnya yang namanya mantan adalah masa lalu apalagi itu terjadi tujuh tahun yang lalu jauh sebelum Naz mengenal Arfin.


“Naz,,, gimana ada selimutnya?”, tanya Maira yang tidak mendengar suara Naz membuka laci atau bicara lagi padanya.


Naz merasa terkejut dengan suara Maira yang memanggilnya dan membuyarkan lamunannya, lalu ia membuka laci ketiga dan ia pun menemukan selimut yang dimaksud,,“Iy iya Kak,,, ini ada,,, “, jawabnya sambil mengambil selimut itu dari dalam laci, kemudian ia kembali ke tempat tidur untuk menyelimuti Nala.


“Nala yang malang,,, kasihan sekali kamu belum pernah bertemu dengan Ayahmu,,, “, Naz kembali bicara dalam hatinya sambil mengusap- usap kepala Nala yang sekarang tidurnya lelap seolah merasa nyaman karena sudah diselimuti.


“Nala sekarang tidurnya nyenyak banget ya, gak guling- guling lagi Kak,,, “, ucapnya pada Maira.


“Iya,,, entahlah,,, mungkin karena sejak bayi memakai selimut itu, dia jadi tidak mau lepas kalau mau tidur, dan tadi pagi selimutnya baru dicuci,, sepertinya setelah kering dan dilipat langsung dimasukan ke dalam laci lemari kecil itu oleh Ibu sebelum pergi ke rumah sakit tadi siang,,, “, Maira menjelaskan,, “Naz,,,, terimakasih banyak ya untuk semuanya,,, “, ucapnya lagi.


“Sama- sama Kak,,, oh iya tadi aku gak sengaja melihat ada foto Kak Maira bersama empat orang lainnya di laci,,, apa itu foto lama?”, tanya Naz mulai kepo.


“Ayok,,, kita ngobrolnya di luar, takutnya Nala bangun, soalnya kalo dia belum kenyang tidurnya nanti suka rewel,,, “, Maira mengajak Naz keluar dari kamarnya dan mereka pun berjalan bersamaan menuju ruang tamu, lalu mereka duduk di kursi yang ada di sana,,, “, Oh iya,, tadi kamu menanyakan foto ya,,, foto yang mana, Naz?”, tanya Maira.


“Iya Kak,,,, itu foto Kak Maira yang berlima sepertinya sedang di pantai, yang beberapa orang memakai baju putih “, Naz mendeskripsikan foto itu pada Maira.


Maira menghela nafas sejenak lalu ia kembali berbicara, “Itu foto saat ada salah satu teman SMA ku merayakan ulang tahunnya di pantai, dan kami menginap di vila nya di sana, waktu itu kami baru selesai UN,,, ”, Maira menjawab dengan raut wajah sedih namun ia masih bisa tersenyum.


Ting ting,,,, Drtttt drrrtt,,, terdengar suara ponsel disertai getaran dari dalam tas Naz yang menandakan ada pesan, keudian Naz mengambil ponsel dari dalam tas selempangnya lalu ia membuka nya, ternyata ada pesan dari sang pujaan hati.


Aa


“Sayaaang,,, “


“Lagi dimana?”


“Bunda bilang kamu belum pulang ke rumah sejak pulang sekolah”


“P”


“P”


“P”

__ADS_1


“P”


“Kok gak bales,, lagi sibuk ya?”


“P”


“P”


Naz


“Lagi main di Panti dari sepulang sekolah”


“Bentar lagi pulang kok”


“Hadeuh,,, ini juragan kalo chat nya gak langsung di balas hobi banget spam”,Naz menggerutu pelan.


“Pacarnya ya Naz ?”, Tanya Maira.


“Hehe,, iya Kak,,, “, Naz menjawab sambil cengengesan karena membayangkan bagaimana ekspresi Maira jika tahu bahwa pacar Naz adalah mantan kekasih Maira, “Emm,,, Kak Maira dulu waktu SMA pernah pacaraan juga kah,,,? kata orang kalau masa- masa SMA itu masa dimana anak ABG mulai mengenal yang namanya jatuh cinta,, hehehe”, Naz ternyata masih penasaran pada Maira dan Arfin.


Maira tersenyum mendengar pertanyaan dari Naz, “ Iya,,, memang orang sering bilang begitu,, tapi memang kenyataanya tak sedikit yang mengalami hal itu, termasuk aku,,,, “, Maira menjawab iya dengan secara tidak langsung.


“Apa pacar Kak Maira saat SMA ada di foto yang tadi aku lihat?”, Naz malah semakin kepo.


Maira kembali tersenyum, “Iya dia ada di sana ,,, karena dia yang memaksa ku untuk ikut ke pesta itu,,,, sebenarnya aku tidak begitu suka dengan yang namanya pesta,,, namun dia berhasil mendapat kan izin dari Bude dengan segala cara dan bantuan ketiga sahabatnya untuk membawaku ke pesta itu”.


“Ketiga sahabatnya,,,, ?? berarti memang benar pria yang baru saja ia ceritakan adalah Kak Arfin,,, kok nyesek ya rasanya “, gumam Naz dalam hati.


“Jadi Kak Maira pacaran sama teman sekolah ya?”, tanya Naz pura- ura tidak tahu.


“Iya …. “, Maira menjawab lalu tersenyum seolah mengingat masa- masa indah nya yang telah terlewat, “Dulu,,, yang terpikir oleh ku hanya belajar dengan sungguh- sungguh karena aku bisa masuk ke SMA itu dengan jalur beasiswa, jadi aku harus mempertahankan prestasiku,,, Namun saat aku naik ke kelas tiga dia menyatakan perasaannya padaku yang katanya sudah ia pendam semenjak kelas satu,,, entah itu bualan atau kenyataan,, tapi dia bisa menaklukan hatiku dengan kegigihan dan kesungguhannya, walau sebenarnya kami bagaikan langit dan bumi yang tak mungkin untuk bersatu, karena dia orang berada, sedangkan aku hanya seorang anak panti asuhan yang hidup dengan belas kasihan dari orang lain”, ucapnya lalu menundukan pandangannya lalu menghela nafas sejanak.


“Tapi cinta merubah segalanya,,, dia meyakinkan ku dengan cintanya dan kami pun tetap berhubungan,,, dia benar- benar menjaga, melindungi dan selalu ada di saat aku membutuhkan sandaran untuk berkeluh kesah, dia juga selalu memberiku rasa nyaman saat bersamanya yang tak pernah aku dapatkan dari orang lain,,,, bahkan saat dia kuliah di luar negeri sedangkan aku kuliah di sini pun kami tetap menjalin hubungan jarak jauh kalau bahasa gaulnya LDR,,, dan itu berlangsung sampai kami sama- sama lulus kuliah,,, dan saat dia kembali setelah wisuda nya,, aku malah pergi meninggalkan nya,,, karena aku sadar aku tak pantas untuk nya dengan kekurangan ku ini,,,”, ucap Maira dengan raut wajah yang seolah menyesali sesuatu di masa lalu nya hingga tak terasa air mata nya pun jatuh membasahi pipi nya, dan ia pun segera menghapusnya dengan jemari tangannya.


“Gak apa- apa kok,,, aku senang bisa bercerita seperti ini kepada orang lain,,, seakan beban di hati ini berkurang,,, selama ini aku selalu dihantui rasa bersalah padanya,, aku ingin sekali meminta maaf padanya,,, tapi itu mustahil,,, dia tidak mau betemu dengan ku lagi dan sangat membenciku,,, “, Maira kembali terisak, “Maaf ya Naz ,, aku ngomongnya jadi ngelantur kemana- mana,, selama ini aku tak punya teman untuk berbagi kesedihan ku,,, aku tak sanggup jika harus bercerita pada Ibu,,, takut malah menambah beban pikiran beliau,,, terimakasih ya Naz,,, sudah bersedia mendengarkan unek- unek ku…. “, ucap Maira sambil terus menghapus air mata nya, ia bercerita pada Naz seolah bisa membaca pikiran Naz yang ingin mencari tahu soal Maira dan Arfin.


Naz menatap sendu pada Maira dan ada rasa bersalah di hatinya karena telah mengorek luka lama Maira, “Gimana ini,,, ? gara- gara rasa penasaran ku malah membuka luka lama Kak Maira dan membuat nya sedih seperti ini,,, aku jadi gak enak,,, arghhh,,, bodoh banget sih aku,,, ngapain juga nanya- nanya kayak gini,,, lagian kan itu bukan urusan ku dan hanya masa lalu mereka,,,, ”, Gumam Naz dalam hati.


“Kak,,, jangan bersedih lagi ya,,, aku jadi merasa gak enak malah bikin Kak Maira sedih seperti ini, aku benar- benar minta maaf Kak,,, “, ucap Naz menyesal.


Tin tin tin,,,, terdengar suara kakson mobil yang dibunyikan sebanyak tiga kali, “Ngapain Pak Udin nyalain klakson segala?”, tanya Naz heran.


Ting Ting ,,, drtt drttt,,,, Ponsel Naz yang masih di pegang nya kembali berbunyi dan bergetar.


Aa


“Sayang,,, ayo kita pulang”


“Aku sudah di depan untuk menjemput mu”


Naz terkejut membaca pesan dari Arfin,,,


“Apa,,,? dia ada di sini,,,? yasalam,,, kapan pulangnya orang ini, kenapa tiba- tiba sudah ada di depan aja,,,, ?”, Naz menggerutu dalam hati.


“Kak,, maaf ya aku sudah di jemput,,, aku pulang dulu ya, lagian ini sudah sore, bisa- bisa Bunda ku murka nanti kalo aku pulang telat ,,, hehehe”, Naz berpamitan pada Maira lalu ia berdiri.


“Iya Naz,,, hati- hati ya,,, terimakasih banyak untuk segalanya”, ucap Maira yang ikut berdiri.


“Sama- sama Kak,,, aku pulang ya,,, Assalam’alaikum ”, ucap Naz.


“Wa’alaikumsalam,,, hati- hati dijalan Naz”, ucap Maira, Naz tersenyum lalu beranjak pergi dari ruang tamu tersebut menuju keluar setelah Maira menjawab salamnya itu. Dan ternyata benar saja mobil Arfin sudah terparkir di pinggir jalan depan pintu pagar besi panti. Naz pun segera menghampiri dan masuk ke dalam mobil Arfin duduk di jok depan sebelah kekasihnya itu yang hanya memakai kaos dan celana pendek saja.



“Aa kapan pulang?? Katanya hari minggu pulang nya?”, Naz yang baru duduk dan menutup kembali pintu mobil langsung bertanya.

__ADS_1


“Tadi pagi pekerjaannya sudah selesai dan Aa ngambil penerbangan jam setengah sepuluh pagi tadi, jadi masih sempet jumatan di masjid dekat bandara”, ucapnya menjelaskan, “Mau langsung pulang atau kemana dulu Nona?”, tanya nya.


“Pulang aja ah,, kita ngobrol di rumah aja ya,,, “, Jawab Naz sambil tersenyum.


“Oke ,,, pasang sabuk pengaman nya dulu anak manis,,, ”, ucap Arfin tersenyum pada kekasih yang sangat dirindukannya itu, lalu ia menolehkan wajahnya ke arah panti dan betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang berdiri di depan pintu panti itu dan ia terus memandang ke sana, “Humaira……”, lirihnya dalam hati.


“Hai,,, ayok berangkat,,, aku udah pasang sabuk pengaman nih”, ucap Naz namun tidak digubris oleh Arfin yang masih memandang ke arah panti lewat kaca pintu mobilnya, kemudian Naz pun melihat ke arah sana dan langsung membekap mulutnya dengan telapak tangannya.


“Astaga,,, jadi dia sedang melihat Kak Maira,,, kenapa sampai segitunya sih,, aku ngomong aja gak dia dengar”, gumam Naz dalam hati lalu ia pun kembali duduk bersandar pada jok.


“Kok nyesek gini ya rasanya mlihat Kak Arfin memandangi Kak Maira dengan segitunya, seolah melupakan aku yang ada di sebelahnya”, lirih Naz dalam hati.


Naz nampak kesal dan cemburu melihat Arfin yang masih melihat ke arah panti itu, “Kak Arfin,,, jadi nganter aku pulang gak sih,,, kalo enggak aku pulang sama Pak Udin saja”, ucap Naz dengan nada kesal dan itu mampu menyadarkan Arfin dari lamunan nya.


“Ah,,, iya sayang,,, udah dipasang ya sabuk pengamannya,,, kita berangkat sekarang ya”, Arfin terlihat gugup.


“Lagi lihat apa sih? Khusyu banget, sampai aku ngomong dari tadi gak digubris”, ucap Naz masih dengan nada kesal.


“Maaf sayang,,, aku cuma agak capek aja kok,,, “, ucap Arfin berbohong dan ia pun menyalakan mobilnya lalu melajukannya. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka. Keduanya seolah larut dalam pikiran masing- masing, Naz yang memikirkan sikap Arfin tadi saat melihat Maira, sedangkan Arfin memikirkan keberadaan Maira di panti tersebut.


Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Naz, “Sayang,,, maaf aku gak mampir ya,, tadi udah ngobrol banyak sama Bunda dan oleh- oleh untukmu udah aku titip ke Bunda”.


“Kok gitu,,, kan kita mau ngobrol, Aa kan baru pulang dari Singapura,,, emangnya gak kangen gitu sama aku? Lagian tanggung ini sudah setengah enam sebentar lagi magrib”, Naz merasa keberatan.


“Kangen dong,,, kangen banget malah,,, makanya jemput kamu karena pengen ketemu,, tapi ngobrolnya besok aja ya,,, rasanya aku capek banget,, kayaknya butuh istirahat,, nanti kalo kemagriban di jalan tinggal cari masjid aja”, ucap Arfin beralasan.


“Yudah deh kalau gitu,,, hati- hati ya,,, nanti kalau sudah sampai rumah kabarin aku ya,,,”, ucap Naz lalu membuka pintu dan keluar dari mobil, kemudian Arfin pun langsung melajukan mobilnya kembali, sedangkan Naz berjalan memasuki pintu gerbang rumahnya, “Kok perasaan ku gak enak gini ya,,, ahh,,, sudahlah,, sepertinya aku juga butuh istirahat setelah melewati hari yang melelahkan dan menyesakkan ini”, ucap Naz sambil berjalan di teras rumahnya lalu membuka pintu yang ternyata tidak dikunci dan masuk ke dalam rumahnya.


***


Setelah kejadian itu Naz dan Arfin belum bertemu lagi dan mereka hanya berkomunikasi lewat chat atau video call saja. Arfin berjanji pada Naz untuk mengajaknya jalan di hari minggu ini, namun subuh nya Arfin membatalkannya secara tiba- tiba dengan alasan Mami nya secara mendadak meminta Arfin mengantarkannya ke Depok untuk menjenguk sanak sodaranya yang sakit, akhirnya Naz tidak pergi kemana- mana dan hanya diam di rumah saja, padahal dia sudah sangat rindu pada kekasihnya itu, mungkin karena efek virus malarindu yang membuatnya malas melakukan apa pun termasuk malas mandi dan hanya tiduran saja di kasurnya.


Seusai shalat dzuhur Naz mendapat pesan dari Mina bahwa Bude sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit hari ini dan ia merasa senang sekali. Naz pun langsung mandi kemudian dandan alakadarnya untuk pergi ke panti menjenguk Bude.



Karena saking senangnya, Naz lupa belum menghubungi Pak Udin, akhirnya ia memesan ojek online untuk pergi ke panti. Setelah menunggu 15 menit ojek pesanannya pun tiba dan Naz yang sejak tadi menunggu di kursi teras rumah langsung menghampiri ojek pesanannya itu dan menaikinya, mereka pun berangkat.


Saat ojek yang ditumpanginya baru sampai di depan SD tempat sekolah Naz dulu, ia melihat Mina baru masuk ke sebuah warung dan Naz pun meminta sang driver untuk berhenti di sana saja.


Setelah Naz membayar, ia menghampiri Mina.


“Kak Mina,,, kok ada di sini?”, tanya Naz.


“Eh Naz... Iya nih lagi beli gula, tadi saat mau bikin teh ternyata gula nya habis”, ucapnya lalu membayar pada pemilik warung yang sudah menyodorkan kantong kresek berisi 1kg gula pasir, “terimakasih ya Bu,,, ayok Naz “, Mina mengajak Naz berjalan bersamanya menuju panti.


“Kak Mina kok gak bilang kalo Bude mau pulang dari rumah sakit? Kan aku bisa menjemputnya”, tanya Naz sambil berjalan.


“Tadinya aku juga mau bilang,,, eh ternyata ada Arfin menjenguk Bude dan pas banget Bude diperbolehkan pulang,, jadi sekalian aja diantarkan oleh Arfin”, ucap Mina.


“Hah,,, Kak Arfin,,,??”, tanya Naz heran karena setahu nya Arfin sedang ke Depok.


“Iya,,, Arfin yang sering main ke panti,,, dia dan keluarganya kan donatur tetap di panti ini”, ucap Mina yang belum tahu kalau Naz adalah pacarnya Arfin, “Tadinya belakangan ini ia jarang kesini, sibuk dengan perkerjaannya katanya,, tapi semenjak jumat malam kemarin dia ke panti terus setiap hari sampai hari ini,,, dan ternyata dia dan Maira itu dulunya…..”, Mina belum selesai bicara Naz yang merasa terkejut tanpa sengaja memotong pembicaraan Mina.


“Kak Arfin……??”, Naz terkejut melihat Arfin sedang bermain di teras depan panti sambil berlari- lari dengan Nala dan saat Nala berteriak memanggil Arfin, Naz lebih terkejut lagi,,, ia langsung membekap mulutnya.


“Papa,,,, Papa,,,,”, teriak Nala yang berlari kecil mengejar- ngejar Arfin.


“Kak Mina,,, sepertinya aku ketinggalan sesuatu,,, aku pergi dulu ya”, Naz yang sudah sampai pintu pagar pun pamit, lalu ia pun pergi berlari sekencang- kencangnya menyusuri jalan dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya dan perasaan yang hancur." Ternyata dia ayahnya Syanala", lirihnya di sela tangisannya.


------- TBC --------


************************


Happy Reading ……

__ADS_1


__ADS_2