
Naz dan Arfin yang baru keluar dari rumah Bunda, kemudian berjalan melewati pintu gerbang, karena mobil Arfin diparkirkan di pinggir jalan saat ia datang tadi, keduanya pun masuk ke dalam mobil.
“Sayang,, kita mau kemana?”, Arfin menanyakan arah tujuan mereka, sedangkan Naz hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya saja.
“Apa kamu mau pulang saja?”, Arfin kembali bertanya, Naz pun kembali menggelengkan kepalanya dan itu malah membuat Arfin bingung dan suasana pun hening sejenak.
“Aku lapar…”, ucap Naz memecah keheningan dan Arfin pun tersenyum karena ia baru ingat kalau Naz habis menangis pasti akan merasa lapar, lalu ia melajukan mobilnya menuju tempat makan.
Setelah mereka sampai di sebuah kafe, mereka pun masuk ke dalam, Arfin mencari tempat duduk, sedangkan Naz pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya yang kusut setelah nangis bombay. Seusai itu Naz kembali dengan membawa sebuah plastik yang berisi es batu sebesar kepalan tangan orang dewasa yang ia minta dari pelayan kafe saat selesai dari toilet.
“Sayang,, kamu bawa apa itu?”, tanya Arfin heran sambil mengalihkan pandangan dari ponselnya.
“Ini es batu,,, “, jawabnya lalu mengambil kursi yang kemudian diletakkannya di sebelah kursi yang di duduki Arfin, dan Naz pun duduk di kursi tersebut, ”Aa bawa sapu tangan kan?”, tanyanya.
“Iya , bawa,,, “, ucapnya mengangguk.
“Aku pinjam boleh?”, tanyanya lagi.
“Tentu saja sayang,, sapu tangannya juga belum Aa pakai”, ucapnya lalu mengambil sapu tangan dari dalam saku celananya, kemudian memberikannya pada Naz. “Nih,,, buat apa sayang?”, tanya Arfin heran.
Naz membungkus es batu itu dengan sapu tangan, kemudian ia mengompreskan nya ke pipi Arfin yang memar akibat perkelahiannya tadi dengan Arsen, “Maaf ya Aa,,, gara- gara aku wajah Aa jadi memar begini”, lirihnya dengan tatapan sendu.
Arfin lalu mengusap tangan Naz yang sedang mengompresnya, “Sayang,,, jangankan hanya memar seperti ini,, mati pun aku rela demi kamu”, ucapnya tersenyum.
“Jangan bicara seperti itu”, raut wajah Naz semakin sedih.
Arfin terkekeh melihat perubahan raut wajah Naz, “Memang nya kenapa,,,, ? beneran kok aku gak bercanda sayang,,, aku rela mati demi kamu”.
“Gombal,,, “.
“Beneran sayang,,,”.
“Tapi aku gak mau itu terjadi”, ucap Naz dengan nada manja.
“Kenapa emang? Kamu tidak bisa hidup tanpaku ya?”, tanya Arfin sotoy.
“Dih,, kepedean,,,”.
“Terus kenapa?”, tanya Arfin lagi.
“Karena aku gak mau jadi janda sebelum menikah”, Naz menjawab ngasal.
“Apa??,, mana ada janda sebelum menikah?? Terus kalau sudah menikah emangnya kamu mau jadi janda?”, Arfin malah menimpal candaan Naz.
“Ya gak mau juga,,, aku pengen sama- sama Aa terus”, ucapnya manja.
“Gombal”. Kini Arfin yang merasa digombali.
“Ihh,, apaan sih,, hahaha”, Naz malah menertawakan Arfin, “Oh iya,, Aa kok bisa kembali ke rumah Bunda? Bukannya Aa tadi udah pulang?”, tanya Naz penasaran.
Arfin menyimpan ponselnya di atas meja lalu mengambil sesuatu dari saku celana nya, dan menyodorkannya pada Naz, “Nih,,, ponsel mu ketinggalan di mobil”.
“Hah,, kok bisa?”, tanya Naz heran.
“Mana ku tahu… “, Arfin mengedikan bahunya,”, Itu Aa temukan di dekat rem tangan”, ucapnya lagi.
“Oh,,, iya,, aku baru ingat,, setelah aku menghubungi Pak Udin, aku langsung menguncir rambut ku, dan menyimpan ponsel di jok ,, kayaknya jatuh deh ke dekat rem”, ucap Naz yang baru ingat, “Jadi Aa balik lagi mau ngenterin ponselku ini?”, Tanya nya lagi.
"Bukan cuma itu,,", ucap Arfin.
Flashback
__ADS_1
Arfin yang tengah melajukan mobil menuju ke rumah orang tua nya tiba- tiba mendengar suara deringan ponsel,
“Hah,,, suara ponsel siapa itu? perasaan bukan nada dering dari ponselku?”, tanya nya heran, lalu menoleh ke asal suara yang ternyata berasal dari sebelah rem tangannya,
”Ya ampun,, itu kan ponsel Naz”, kemudian Arfin mengambilnya, dan di layar ponselnya terlihat nama ‘Ayah’, beruntung lampu merah menyala sehingga ia tak perlu menghentikan mobilnya ke pinggir jalan.
Arfin menggeser gambar telpon berwarna hijau untuk mengangkat telponnya,
“Hallo asalamu’alaikum, Om”, sapanya mengucap salam.
“Wa'alaikumsalam,,, loh kok Arfin yang ngangkat,,,? Kamu lagi bersama Naz, Ar?” , tanya beliau.
“Enggak Om,, aku lagi di perjalanan pulang,, tadi habis mendaftarkan pernikahan ke KUA,, terus Naz minta diantar ke rumah Om untuk mengambil barang katanya, dan ini ponselnya ketinggalan di mobil Om”, Arfin menjelaskan.
“Apa?? Naz ke rumah Om,,,? Dan sekarang kamu dalam perjalanan pulang? Kenapa kamu gak nungguin dia, Ar?”, tanya beliau lagi namun kini dengan nada yang terdengar panik dan khawatir.
“Iya Om,, Naz lagi di rumah Om,, tadinya aku juga udah nawarin untuk nungguin dia,,, tapi katanya dia akan di jemput oleh Pak Udin yang sedang menjemput Raline ke sekolahnya”, Arfin kembali menjelaskan.
“Jadi Naz,, sendirian ke rumah Om?”,tanya beliau lagi.
“Iya Om,,”, jawab Arfin singkat.
“Arfin,, tolong sekarang juga kamu ke rumah Om, jangan biarkan dia ke rumah sendirian”, ucap Pak Rizal dengan nada panik.
“Loh,, memangnya kenapa Om?”, tanya Arfin heran.
“Pokoknya sekarang kamu ke sana cepat”, Pak Rizal bicara dengan nada tegas setengah berteriak.
“Iy iya Om,, aku akan segera ke sana,, memangnya ada apa, Om?”, Arfin masih penasaran.
“It,, itu ,,kamu kan harus mengembalikan ponsel Naz,, soalnya ada yang mau Om bicarakan dengannya,, tolong segera ya”, Ucap Pak Rizal memberi alasan.
“Oh, iya Om,,,”, ucapnya yang kemudian Pak Rizal menutup sambungan telponnya begitu saja. “Eh,, kok udah di tutup?? Kok Om Rizal kayak panik gitu ya?? kenapa ya?? biasanya Bunda gak memperbolehkan aku hanya berduaan dengan Naz,, tapi kok ini Om Rizal malah seperti memintaku untuk berduaan dengan Naz”, Ucap Arfin berdialog sendiri dengan perasaan heran dan aneh.
Arfin berjalan memasuki pintu gerbang, dan saat di teras ia merasa heran melihat pintu yang sedikit terbuka, “Loh,, kok pintunya sedikit terbuka gitu,, tumben gak di kunci”, ucapnya lalu masuk, dan saat di dekat tangga ia mendengar suara laki- laki dari lantai atas,
“Siapa itu?? kok kayak ada yang sedang marah di atas,, oh ya ampun,, kamar Naz kan ada di atas,, siapa laki- laki itu?”, Arfin bergegas menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Naz, ia semakin panik tatkala melihat pintu kamat Naz terbuka dan terdengar suara laki- laki yang saling memaki. Dan saat ia sampai di depan pintu, betapa terkejutnya ia melihat Naz sedang menangis sambil duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya dengan rambut yang nampak berantakan, ia melangkah perlahan tanpa memperdulikan dua orang yang sedang berkelahi di dalam kamar itu, “Naz,,,,”, lirihnya.
Flashback off
“Jadi begitulah ceritanya, kenapa Aa bisa kembali lain ke rumah Bunda,,, dan sekarang terjawab sudah kenapa Ayah mu begitu panik saat tahu kamu ke rumah beliau sendirian”, ucap Arfin setelah menceritakan alasannya datang kembali ke rumah Bunda.
“Iya,,, dan untung ada Kak Bagas datang disaat yang tepat, kalau tidak, mungkin aku…”, Naz tak kuasa melanjutkan kalimatnya.
“Sssttttt,,, sayang jangan dilanjutkan lagi,,, sudah jangan diingat- ingat lagi kejadian tadi,,, itu membuat hati Aa sangat sakit dan bernafsu ingin membunuh kakak mu yang biadab itu”, Arfin menempelkan jari telunjuknya pada bibir Naz.
“Aa,,,, apa setelah ini Aa akan meninggalkan ku?”, tanya Naz yang berhenti mengompres dan meletakan kompresannya di atas meja dengan tilam plastik tadi.
“Kamu ini ngomong apa sih sayang,,,? Ya enggak lah,,, Aa sangat mencintai mu dan sebentar lagi kita akan menikah,, jangan bicara yang aneh- aneh gitu ah sayang”.
“Jika tadi Kak Bagas tidak menyelamatkan ku dan sesuatu yang buruk terjadi padaku,, apa Aa akan meninggalkan ku,,, hiks hiks?”, Naz kembali bertanya sambil menundukkan kepalanya dan kembali terisak.
Arfin menghela nafas, lalu menggeserkan kursi yang didudukinya kemudian duduk menghadap ke arah Naz, ia menyentuh dagu Naz dan menegakkan kepalanya, sehingga kedua mata mereka saling bertatapan, “Jangan katakan hal itu lagi sayang,,, jangan membayangkan hal- hal buruk seperti itu, hatiku benar- benar sakit mendengarnya,,, apa pun yang terjadi padamu, aku akan tetap selalu bersama mu, akan selalu mencintaimu dalam keadaan apa pun, aku tidak akan pernah meninggalkan mu,, aku ingin selalu hidup bersama mu dalam suka maupun duka dan hanya maut yang bisa memisahkan kita” , ucapnya lalu tersenyum dan Naz pun membalas senyumannya, Arfin menghapus air mata Naz dengan jemari tangannya,
“Sudah,,, jangan menangis lagi,, nanti kamu minta nambah lagi makanya”, ucapnya terkekeh, sedangkan Naz langsung manyun,
“Jangan cemberut gitu,, apa kau ingin Aa mencium mu sekarang juga, hem?”, Arfin malah menggodanya, sedangkan Naz mencebikan bibirnya dan melepaskan tangan Arfin dari wajahnya.
Sebelumnya Arfin sudah memesankan makanan, dan tak lama pesanan pun datang lalu mereka memakan makanannya dan setelah selesai, Arfin mengantarkan Naz pulang ke rumah Pak Syarief.
Selama dalam perjalanan mereka terus bercanda gurau sambil ketawa- ketiwi seolah melupakan kejadian tadi, namun itu tak berlangsung lama setelah Naz menerima pesan dari Raline kalau Bunda nya masuk rumah sakit, ia pun meminta Arfin mengantarkannya ke tempat Bunda di rawat. Naz mengirim pesan pada Ayah, Raline dan Hardi agar kejadian yang dialaminya tidak diberitahukan kepada siapapn termasuk pada Bunda dan kedua orang tua Naz, ia pun mengatakan hal yang sama pada Arfin.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit , Arfin dan Naz langsung menuju kamar tempat Bunda nya di rawat dan di sana sudah ada Arsen yang tengah menangis sambil memegang tangan sang Bunda. Naz sangat terkejut melihatnya karena takut terjadi hal yang buruk dengan Bundanya, dan Ayahnya menjelaskan kejadian yang membuat Bunda nya itu sampai sakit dan terkena stroke. Tangis Naz seketika pecah dan ia pun menghampiri bunda nya yang terbaring lemah, Ayahnya pun mengatakan bahwa Bunda sementara ini tidak bisa berbicara dan tangan kiri beserta kaki kanannya mengalami kelumpuhan, namun bisa sembuh dengan berobat dan terapi secara rutin.
Naz berjalan menghampiri Bunda nya yang terbaring lemah, lalu ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang, "Bunda,,,, huaaaaaaaaaa”, Naz memeluk Bundanya dengan berlinang air mata, Bunda pun ikut meneteskan air mata, ia mengelengkan kepalanya dengan perlahan, karena tidak dak bisa berbicara akibat dari srtoke yang menyerangnya.
”Maafin aku Bunda,,, huhuhuhu”.
“Sudah sayang,,, jangan seperti ini,, Bunda mu nanti malah akan semakin sedih melihat mu begini”, Pak Rizal menenangkan Naz sambil mengusap kepalanya.
Naz melepaskan pelukannya perlahan,,, ia menatap lekat wajah Bunda yang sangat ia sayangi itu, lalu ia bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari ruangan itu, dan Arfin pun mengejarnya, dan ternyata ia sedang duduk dikursi yang terdapat di luar ruangan itu untuk melanjutkan tangisanya. Arfin pun ikut duduk di sebelahnya, lalu memeluk Naz dan membiarkan Naz menumpahkan air mata di pelukannya. Tangisnya terhenti saat ia melihat Arsen keluar dari ruangan tersebut , Naz langsung berdiri lalu menghampiri Arsen.
“Puas kau sekarang ,,,puas hah?? “, ucapnya dengan penuh amarah, “Lihat sekarang karna ulah mu, Bunda jadi seperti ini”, bentak Naz dengan nada yang ditekankan.
Arsen melangkah mendekat pada Naz kemudian ia berlutut dan memeluk kedua kaki Naz,
“Maafkan aku,,, maafkan aku Naz,,, maafkan aku atas semua yang sudah ku lakukan pada mu,, maafkan aku atas kekhilafan ku,, aku benar benar minta maaf,,,”, ucapnya menangis dengan penuh penyesalan, “Kau boleh menghukumku dengan apa pun,, bahkan jika kau ingin menjebloskan ku ke dalam penjara, aku siap menerima semua itu,,,aku benar- benar menyesal,,, maafkan aku Naz”.
Naz yang merasa terkejut dan tidak menyangka Arsen yang tadi saat di rumah masih bicara dengan angkuhnya, sekarang tengah bersujud meminta maaf padanya, dan itu membuat hatinya tersentuh, karena walau bagaimana pun baginya Arsen tetaplah kakaknya, yang sejak kecil dibesarkan bersama oleh Ayah dan Bunda nya,, Meskipun sebenarnya hatinya benar- benar sudah sangat tersakiti, tapi melihat kesungguhan Arsen, ia pun luluh. Sepertinya apa yang menimpa Bunda membuat Arsen terguncang dan menyadari kesalahannya selama ini.
“Maafkan aku Naz,,, aku janji akan memperbaiki semua kesalahanku,, aku akan menebus semua dosa- dosa ku pada mu dan pada kedua orang tua kita,, aku juga akan merawat Bunda sampai ia sembuh”, ucapnya lagi disela tangisannya.
“Sudah Kak,,, ayok berdiri,,, jangan seperti ini,,”, ucap Naz menyentuh kedua bahu Arsen, kemudian Arsen pun melepaskan pelukannya lalu berdiri.
“Apa kau bersedia memaafkan ku?”, tanya Arsen dengan tatapan sendu.
Naz mengangguk, “Iya,, Kak,,, asalkan kau janji akan berubah dan menyayangi Ayah Bunda seperti dulu lagi,, jangan pernah bertengkar dengan mereka lagi”.
“Kaka Janji,,,”, ucapnya mengangguk dan tersenyum, “Boleh kah Kakak memeluk mu?”, pintannya.
“Gak boleh”, Arfin langsung nyamber.
“Aa,,,, “, Naz langsung memberi Arfin tatapan tajam.
“Iya,, iya boleh,, tapi cuma sebentar saja”, ucapnya memberi izin, kemudian Arsen pun memeluk Naz dan Naz membalas pelukannya.
“Terimakasih,,, terimakasih adik kecilku”, ucapnya merasa bahagia karena Naz telah memaafkannya.
“Arfin lalu menarik tangan Naz agar melepaskan pelukannya dari Arsen, “Heh sudah,, sudah jangan lama- lama,,,”, ucapnya kesal,,,
Belum nyaho aja Arsen tuh ya ,, Arfin mah sama kakaknya sendiri aja cemburuan, apalagi ini sama Arsen yang sebelumnya jelas- jelas terobsesi pada Naz.
“Tapi,, aku belum memaafkan Kakak sepenuhnya, sebelum Kakak membuktikan semua ucapan Kakak tadi”, ucap Naz.
“Iya,, Kakak janji akan membuktikan perkataan Kakak tadi,,, “, ucapnya meyakinkan.
Pak Rizal yang ternyata dari tadi melihat kejadian itu dengan mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka merasa bahagia, akhirnya Arsen bisa menyadari kesalahannya, dan beliau sangat berharap dia bersungguh- sungguh dengan ucapannya. Kemudian beliau beranjak dan kembali duduk di sofa yang ada di ruangan itu, seolah takut ketahuan karena sudah mengintip, beliau duduk dan berpura- pura memainkan ponselnya.
Naz menghapus air matanya dan mengelapnya wajahnya dengan tisu basah yang diambil dari dalam tas nya, “Ayok kita masuk dan menemui Bunda,,, Bunda pasti senang mendengar hal ini”, ajak Naz pada Arsen dan Arfin, mereka pun ikut masuk bersama Naz.
“Oh,, iya,, Kak Hardi sama Raline dimana? Tadi kan yang ngabarin aku Raline”, tanya nya sambil mengedarkan pandangan di dalam ruangan tersebut.
“Mereka baru saja pulang setelah menjenguk Bunda, ayah pikir kamu berpapasan dengan mereka,, katanya Raline mau menjemput Elsa, sedangkan Hardi ada kelas mengajar”, ucap Pak Rizal menjelaskan.
Naz menghampiri Bunda dan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang tempat Bunda berbaring, Naz memegang tangan Bundanya sambil menciumi nya, “Bunda,,, Bunda cepat sembuh ya,,, kan aku sebentar lagi menikah,,, ”, ucapnya tersenyum dengan senyum yang nampak dipaksakan agar tidak terlihat sedih di depan Bunda-nya dan Bunda pun tersenyum sambil mengedipkan matanya seolah ingin mengatakannya.
“Sebaiknya kami menunda pernikahan kami sampai Bunda benar- benar sembuh, Om… ”, ucap Arfin mengusulkan pada Pak Rizal yang sama- sama berdiri di samping ranjang Bunda. Sontak ucapan Arfin mengagetkan semua orang yang ada di sana, termasuk Bunda.
--------------- TBC -----------------
***************************
Monmaaf part nya kepanjangan jadi dibagi 2 episode🙏
__ADS_1
Heppi Reading... 😘😍