Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Zonkkk !!!!!


__ADS_3

Setelah menikah, pasangan suami istri yang sah akan mengalami momen malam pertama, yang merupakan momen yang amat dinantikan bagi kebanyakan pengantin baru, dan tentunya para pengantin baru ingin malam pertama meninggalkan kesan yang begitu spesial, namun tak sedikit pula yang enggan berekspektasi terlalu tinggi. Malam pertama identik dengan hubungan intim.


Sayangnya, tidak jarang pasangan pengantin baru merasa kebingungan untuk melewati malam ini, sebab banyaknya mitos yang beredar seputar malam pertama. Mempersiapkan malam pertama juga menjadi hal yang susah-susah gampang dilakukan. Nyatanya, melakukan persiapan sebelum memasuki momen ini adalah hal yang sebaiknya dilakukan. Namun, tidak jarang pasangan pengantin baru malah tidak bisa mempersiapkannya dengan baik, karena terlalu lelah, bersemangat, bahkan terpapar informasi yang salah seputar malam pertama. Alhasil, momen bersejarah ini bisa terlewat begitu saja tanpa satu kenangan indah.


Sepertinya hal ini pun di rasakan oleh pasangan pengantin baru Arfin dan Naz, entah apa yang akan mereka lakukan di malam pertama mereka, karena belum apa- apa bibir Naz sudah jontor gara- gara memakai tisu basah khusus untuk kejantanan pria, sampai ia tidak bisa bicara karena bibirnya yang terasa kebas dan mengeras.


Arfin yang baru kembali dari restoran hotel yang ada di lantai bawah, kemudian membuka jas kemeja, dasi dan celananya, kini tinggal memakai boxer serta kaos oblong menghampiri istrinya yang baru keluar dari kamar mandi lalu menggodanya, namun Naz malah bertingkah layaknya orang gagu.



“Sayang kamu kenapa? Jangan becanda,,gak lucu !”. Arfin yang terkejut malah mengomel karena ia tahu istrinya itu suka iseng, lalu Naz memegang bibirnya yang terasa kebas dan mengeras sambil menggelengkan kepalanya. Karena Naz tidak bisa mengeluarkan suara, kemudian Naz mengambil ponsel dari tangan Arfin, lalu mengetik di kolom pesan.


“Bibir aku kebas, mengeras seakan jontor dan aku gak bisa ngomong”.


“Hah,,, masa sih,,,? kamu abis ngapain,, ? masa iya abis ciuman jadi gitu?”, tanya Arfin heran setelah membaca pesan yang diketik dan Naz menggelengkan kepalanya.


“Tadi aku menghapus lipstick pakai tisu yang ada di meja”


Arfin lalu melihat tisu yang ada di meja tepat di sebelah ia berdiri, kotak tisu berwarna hitam dan bergambarkan wanita memakai baju merah itu bertuliskan Magic Power Tissue,


“Astagfirullah,,, ini bukan tisu basah biasa, sayang,,, pantes aja bibir kamu sampai mengeras “, ucap Arfin terkejut.


“Maksudnya gimana? Itu kan cuman tisu biasa, tadi juga bisa menghapus lipstick mate di bibir ku”.


“Itu tisu khusus untuk laki- laki, sayang,,, dan bukan untuk menghapus makeup, tapi untuk organ vital laki- laki”, Arfin menjelaskan fungsi tisu tersebut.


Naz merasa terkejut dan ia membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangannya,“Yassalam,, gimana ini,,, ?bibir ku jadi mengeras begini”, jerit Naz dalam hatinya.


“Siapa sih yang naruh tisu ini di sini?”, Arfin bertanya- tanya sambil memegang kotak tisu tersebut, kemudian ia teringat pada orang yang memberinya kartu akses kamar pengantin tersebut, “Kurang ajar kau Hardi,, awas kau “, gumam Arfin merasa kesal, kemudian ia menoleh pada Naz yang ternyata sudah mulai menangis, ia langsung mendekat pada istrinya, “Sayang,,,, ssstttt,,,, jangan menangis ya,, kita cari cara ya untuk menghilangkan efek tisu itu, sini Aa pinjam ponselnya”, Arfin meminta kembali ponselnya kemudian ia mencari cara menghilangkan efek tisu magic di mbah gugel.


Namun setelah melakukan pencarian berkali- kali ia tidak menemukan caranya sama sekali, malah menemukan cara menggunakannya.


“Aduh,, gimana ini?? Aku aja bingung musti ngapain,, orang gak pernah pakai tisu kayak gitu,,, menurut yang ku baca di google itu bisa membuat organ vital mengeras lebih lama,,, gimana ini,? kalau terlalu lama seperti ini Naz pasti akan tersiksa,, mending dipakai pada organ vital makin keras makin bagus,, lah ini di bibir”, gumam Arfin dalam hati.


Naz malah semakin menangis sampai sesenggukan karena ikut membaca apa yang tertera di layar ponsel Arfin, lalu ia membenamban wajahnya pada dada Arfin,“Gimana ini ,, kenapa gak ad acara mengatasi ini?”, jerit Naz dalam hati.


“Ssstttt,,, sayang udah jangan nangis ya,,, “, Arfin mengusap- usap kepala Naz lalu mengecup pucuk kepala istrinya itu, kemudian terlintas di pikirannya untuk menghubungi dokter karena tak tega melihat istrinya menangis dan pastinya bibirnya terasa sakit,


“Sayang,, Aa telpon Dandy ya,,, mungkin saja dia tahu cara mengatasi hal ini,, dia kan seorang dokter”, ucapnya lalu diangguki Naz, kemudian ia pun mendial nomor kontak Dandy.


“Hallo,, ada apa pengantin baru?? “, sapa Dandy.


“Dan,,, lo ke kamar gue sekarang!”


“Ihh,,, ngapain,,, ogah banget musti ngintipin kalian bermesraan,, lagian gue lagi meriksa pasien”.


“Pasien dari hongkong,, orang gue tahu lo masih di hotel ini,,, Cepat lo ke sini,, Naz sakit”.


“Apa,,,?? Kok bisa?? Jangan- jangan udah dianu sama lo ya”.


“Mana ada,,, kan tadi gue dibawah sama lo bertiga,,, Udah jangan banyak tanya cepetan ke sini,, kasian bini gue kesakitan nih”, Arfin langsung mematikan sabungan telponnya.


“Udah ya sayang,, jangan nangis lagi,,, ayo kita duduk ya”, Arfin mengajak Naz berjalan menuju tempat tidur, lalu mereka duduk di tempat tidur sambil menunggu kedatangan Dandy dengan posisi Naz masih menangis dipelukan suaminya dan Arfin terus mencoba menenangkannya.


Tok tok tok,,,, terdengar suara ketukan pintu,, “Nah itu Dandy udah datang,,, lepas dulu pelukannya ya,, Aa mau buka pintu”, ucapnya yang diangguki oleh Naz dan ia pun melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Arfin bangkit dari duduknya lalu beranjak berjalan menuju pintu, dan saat ia membuka pintu, betapa terkejutnya melihat orang yang berdiri di hadapannya, “Mama,,,?".


“Naz sakit apa Ar?”, Bu Rahmi langsung melemparkan pertanyaan lalu menerobos masuk dan melewati Arfin begitu saja untuk menghampiri putrinya di dalam.


Arfin menatap tajam pada sahabat sekaligus kakak iparnya yang masih berdiri di luar, “Maksud lo apa bawa mertua gue ke sini?”.


“Kan tadi gue udah bilang, kalau gue lagi meriksa pasien dan pasiennya itu Raline yang terkena demam tinggi,, pas lo abis nelpon, gue langsung pamit dan bilang mau meriksa Naz yang lo bilang sakit, eh Tante Rahmi yang ada di kamar Raline langsung minta ikut sama gue karena beliau khawatir kalau Naz sakit karena kelelahan”..


Arfin menghela nafas kasar, “Yaudah cepetan masuk”, Arfin pun masuk bersama sahabatnya, ternyata di dalam Naz masih menangis bahkan sambil dipeluk oleh Mama-nya.


“Ssssttt,,, udah sayang,, jangan nangis gini dong,,, kan Mama semalam udah bilang, kalau baru pertama kali memang sakit,, tapi lama- lama enggak kok,, nanti juga bikin kamu nyaman”.


“Njir,,, lo beneran udah nganu, Ar?? Itu mah gak usah diperiksa atuh euy,,, kalo pertama kali nganu emang sakit bahkan sampai berdarah,, tapi lama- lama juga dia bakalan merasakan kenikmatan”, bisik Dandy pada Arfin.


“Gue juga tahu kalau masalah itu,,, ini bukan sakit karena itu,, gue belum apa- apain bini gue,, baru icip- icip dikit”, Arfin membalas bisikan Dandy.


Tiba- tiba Bu Rahmi yang masih duduk di tempat tidur sambil memeluk Naz mengarahkan pandangannya pada Arfin, “Arfin, kamu gimana sih Naz sampai nangis kayak gini ? jangan- jangan kamu mainnya kasar ya?,, Naz ini masih perawan dan masih sangat polos,, harusnya kamu tuh mainnya lembut,, kalau Naz nantinya trauma gimana??”, cerca Bu Rahmi sambil menatap tajam pada menantunya itu.


Arfin tercengang mendengar perkataan mertuanya, ia hanya diam mematung merasa tidak menyangka ternyata mertuanya berpikiran seperti itu.


“Ya ampun Ar,,, ini kan masih sore,, gak bisa nahan apa sampai ntar malam?”, Dandy lalu menertawakan sahabatnya yang hanya mendelik saja padanya yang berdiri disampingnya itu.

__ADS_1


Arfin menghela nafas sejenak, lalu ia berjalan mendekat ke arah meja dan membawa sesuatu, kemudian kembali ke samping ranjang ke tempat ia berdiri sebelumnya, ”Mama salah faham,, Naz menangis bukan karena hal itu,, tapi,,,, gara- gara tisu basah ini”, ucapnya sambil memperlihatkan dus kecil berbentuk kotak berwarna hitam tersebut.


Bu Rahmi dan Dandy memperhatikan kotak tersebut , “Apa????”, tanya keduanya serentak karena terkejut melihat kemasan tisu basah itu.


“Astaga,, Arfin,,,,, kebangetan banget lo ya,, baru aja nikah belum nyampe ke malam pertama dan masih sore begini,, lo udah main spongebobs,,, sejak akad tadi emang otak lo udah geser ya”, omel Dandy .


“Astagfirullah,,, pantesan Naz sampe nangis begini,, pastinya di kaget banget,, orang Mama belum ngajarin bagian itu,,, kalau mau begitu kamu gak usah pakai tisu Ar,,, jadinya gini kan,, bibir Naz ikutan membengkak”,


Bu Rahmi melepaskan pelukannya dari Naz, “Sayang,, bibir mu sakit ya karena mengeras?, kamu kok mau- maunya aja sih disuruh begitu,,,?? Apa tadi kamu muntah- muntah? Pasti eneg ya kalau pertama kali gitu tuh” , Naz hanya menggelengkan kepala merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bahas.


“Oh Ya Tuhan,,, ini punya mertua sama kakak ipar otaknya mesum semua,,, ngomongnya makin kesini makin melantur lagi”, Arfin menggerutu dalam hati.


Arfin menghela nafas panjang untuk menstabilkan emosinya, karena tidak mungin ia marah pada mertuanya, bisa- bisa langsung dipecat dari jabatan menantu yang baru disandangnya beberapa jam yang lalu.


“Bukan gitu Ma,,, tadi tuh Naz mengunakan ini untuk menghapus lipstik dari bibirnya,,, dan aku juga gak tahu bagaimana benda ini bisa ada di sini,,, saat Naz keluar dari kamar mandi udah kayak gitu gak bisa ngomong,, makanya aku menghubungi Dandy untuk minta tolong, mungkin saja Dandy tahu cara menghilangkan efek tisu itu”, Arfin menjelaskan kejadian sebenarnya.


“Dek,, apa tadi setelah kamu memakai tisu itu tekena air hangat??”, tanya Dandy lalu Naz mengangguki nya, “Oh,, pantesan aja efeknya cepat,, sebenarnya ini bisa terjadi sampai satu jam sih,, cuman Naz pasti sangat tersiksa, mungkin nyoba dikompres menggunakan es batu Ar,, mudah- mudahan aja bisa mengurangi rasa bengkaknya”, ucap Dandy memberi saran.


“Yasudah kalau begitu aku ke bawah dulu nyari es batu,, di bawah kan ada resto,, sekalian pesan makan untuk Naz”, Arfin kemudian mengambil dompet dan jaket dari dalam koper miliknya, “Ma,, titip Naz sebentar, aku ke bawah dulu”, ucapnya pada sang mertua dan setelah beliau mengangguki nya, Arfin pun beranjak pergi, Dandy pun ikut serta.


“Mau kemana lo?”, tanya Arfin ketus saat mereka berjalan menuju lift.


“Mau ke bawah lah,, noh udah adzan magrib,, sekalian ke mushola yang di bawah”, jawab Dandy.


“Eh,, iya,,, tapi gue pakai boxer,, gak pakai celana panjang,,, gue balik lagi ke kamar”, Arfin hendak memutar arah.


“Heh,, gak usah,,, di mobil gue ada sarung, musholanya kan dekat parkiran”, Dandy mencegah Arfin yang kemudian mengajak mereka melanjutkan tujuan mereka.


Setelah selesai shalat Arfin pergi ke resto untuk memesan makanan agar di kirim ke kamarnya, dan ia pun membeli es balok untuk mengompres Naz dan membeli air mineral lengkap dengan sedotannya. Arfin pun kembali ke kamarnya, dan saat sudah sampai, Naz yang sudah mengenakan baju tidur long dress dengan tangan pendek membukakan pintu untuk Arfin, ia pun lega melihat istrinya sudah berhenti menangis. Bu Rahmi yang baru selesai shalat pun berpamitan dan menyimpan mukenanya ke lemari, Arfin tersenyum melihatnya.


Arfin mengambil sapu tangan dari dalam kopernya, lalu membungkus es balok yang dibawanya kemudian dibungkus dengan sapu tangan. Kini keduanya sedang duduk di sofa bersama. “Ini minum dulu, sayang”,Arfin menyodorkan air mineral yang sudah ia beri sedotan agar memudahkan Naz untuk minum.


“Masih belum bisa bicara?”, tanya Arfin yang dijawab hanya dengan gelengan kepala Naz, ia pun mulai mengompres bibir Naz, sedangkan Naz memijat- mijat pahanya sendiri, “Kenapa?? Kakinya pegal ya?”, tanya nya lagi dan Naz pun mengangguk. “Kalau gitu, kamu kompres sendiri ya,, biar kakinya Aa pijatin”, ucapnya sambil menyerahkan kompresan es pada Naz.


Arfin menggeserkan duduknya menjauh dari Naz sehingga keduanya berada di ujung- ujung sofa, ia meletakan kedua kaki Naz di pangkuannya, dan memijat kedua kaki Naz dengan pijatan lembut. Awalnya pijatan di area kaki sampai betis saja,, namun lama kelamaan pijatan tangan Arfin mulai naik ke paha mulus Naz masuk ke dalam dress-nya, dan itu membuat Naz terkesiap. Ia pun menggelengkan kepalanya seolah minta berhenti, lalu menurunkan kedua kakinya dari pangkuan Arfin. Naz pun menghentikan kompresannya, dan ia beranjak pergi ke atas tempat tidur, ia mengambil ponsel lalu mengirimkan pesan pada suaminya.


My_Naz


“Sayang,, aku lelah dan ngantuk banget,, aku tidur duluan ya,, I love you”.


Tak lama ia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian kemudian shalat. Ia tak tega membangunkan istrinya yang sudah tertidur lelap, dan malah ikut menemaninya, ia pun tidur dengan memeluk istri yang sangat dicintainya itu. Malam pertama pun dilalui dengan biasa saja, hanya sebagai malam dimana mereka tidur bersama untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri dan tanpa melakukan adegan iya iya. Arfin pun melupakan pesanan makanannya.


***


Naz yang tidur menyamping perlahan membuka matanya saat ia merasa ada sesuatu yang menimpa pinggangnya, dan saat ia membuka matanya dengan sempurna, wajah suaminya lah yang pertama ia lihat, dan ternyata suaminya tidur dengan tangan yang melingkar pada pinggangnya. Naz tersenyum bahagia sambil terus memandangi wajah tampan suaminya itu, “Ini serasa mimpi,, namun kau begitu nyata Suamiku,,, wajahmu begitu tampan dan membuatku tak akan pernah bosan terus memandang mu”, Naz membelai wajah suaminya dengan sentuhan lembut sambil tersenyum bahagia.




“Sudah selesai memandangi ku sampai terkagum- kagum seperti itu?”, Arfin berbicara namun matanya masih tertutup, sontak itu mengagetkan Naz dan membuatnya malu, kemudian Arfin membuka matanya. “Kau sudah lama memandangiku, dan kau harus membayarnya istriku sayang”.




“Oh,,, yaa??”, ucap Naz menantang, kemudian Arfin mendekatkan wajahnya pada wajah Naz hingga hidung keduanya saling beradu, dan Arfin pun menggesekkan hidung mereka dengan gemas, kemudian ia mengecup kening Naz, “Morning kiss”.


.



Naz pun tertawa maja karena merasa geli dengan apa yang dilakukan suaminya, “No,,, but Subuh kiss,,,”, ucapnya terkekeh, lalu Arfin memeluk istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


“Sejak kapan Aa bangun”, tanya Naz berbisik.


“Sejak istriku yang cantik ini memuji ketampanan ku”.


“Iiiiiiihhh,, dasar,,, kirain belum bangun”.


“Udah dong,,, malahan yang di bawah juga udah bangun tuh sayang”, ucapnya sambil melirik ke area bawahnya, Naz terkesiap dan langsung membulatkan matanya, kemudian ia melepaskan diri dari pelukan suaminya dan bangkit untuk duduk.


Ia melihat ke lantai samping tempat tidur, lalu mengedarkannya pandangannya ke bawah.


“Mana,,,??”, tanya nya heran .


Arfin kemudian duduk, “Mana apanya sayang?”.

__ADS_1


“Kata Aa tadi yang di bawah udah bangun,,, emangnya ada yang tidur di kamar ini selain kita berdua?? Aku gak lihat ada orang dibawah sana kok”, Naz bicara dengan polosnya, sedangkan Arfin malah menepuk jidatnya.


“Udah ah Aa ke kamar mandi dulu, mau wudhu…”, ucapnya lalu beranjak pergi ke kamar mandi.


“Dih dasar aneh,,, apa dia sedang mengigau kali ya bilang di bawah ada orang,,, hufh,,,”, Naz pun bangkit kemudian membereskan tempat tidurnya sampai rapi, dan setelah suaminya keluar iapun segera masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk kimono beserta pakaian ganti lengkap dengan sebuah kantong kresek.


Saat Naz keluar kamar mandi, ia sudah tak melihat suaminya di dalam kamar, mungkin karena Naz kelamaan mandi jadi suaminya pergi keluar. Setelah Naz selesai berdandan alakadarnya, ia duduk santai di sofa.



Tiba-tiba sang suami datang dengan membawa troli makanan.


"Selamat pagi bidadari ku yang cantik,, ini pesanan breakfast untuk anda”, ucapnya dengan meniru suara super Mario dan membuat Naz terkekeh.


“Wow,,, setengah enam pagi udah ada breakfast,,, ini sih kalau sahur kesiangan kalau sarapan kesubuhan”, Naz malah meledek.


“Semalam kamu gak makan malam dan terakhir makan siang saja saat di pernikahan,, jadi sekarang kita makan ya,, biar tenaganya pool”, Arfin menyiapkan makan untuk Naz.


“Kayak mau lari maraton aja sampe diisi tenaga segala”, ucap Naz yang kemudian mulai memakan makanannya.


“Tentu saja sayang,,, kita akan melakukan olahraga lebih dari lari maraton”, ucapnya tersenyum lebar, sedangkan Naz hanya mengedikkan bahunya saja seolah menganggap yang dikatakan situ hanyalah sebuah gurauan saja.


Setelah mereka selesai makan, Arfin mendorong troli tersebut dan menyimpannya di luar kamar. Kemudian ia masuk dan mencari sesuatu dari dalam kopernya, lalu menghampiri Naz yang duduk di sofa sambil memakan jeruk.


“Nih buat kamu sayang”, Arfin menyodorkan dua buah kado dengan riasan pita pada masing- masing kado yang berbentuk persegi panjang tersebut.


“Apa ini?”, tanya Naz heran saat menerima kado tersebut.


“Itu kado pernikahan spesial untuk istriku tercinta”, ucapnya lalu Naz membuka satu persatu kado nya.


“Hah,,, ini kan…. Perhiasan yang aku pilih untuk maskawin itu kan sayang?”, tanya Naz saat melihat perhiasan lengkap mulai dari anting, kalung beserta liontin nya, gelang, cincin, serta gelang kaki ada di dalam kotak perhiasan itu dan Arfin pun mengangguk, “Emm,,, bukannya maskawin nya udah pakai emas batang ya?”, Naz kembali bertanya.


“Iya,, ini hadiah pernikahan untuk mu sayang,, kalau emas batang itu maskawin buat kamu, dan gak mungkin kan kamu pakai di tangan atau di leher mu, gimana cara menempelkannya coba? Pakai solatip atau pakai tali? Kan gak lucu sayang,,,", ucapnya terkekeh, " lagian itu merupakan tabungan hasil dari gaji dari tempatku pertama kali kerja dulu saat selesai kuliah di Amerika,,, aku ingin mempersembahkannya untuk wanita yang menjadi pendamping hidup ku,, dan itu terserah mau kamu pergunakan untuk apa pun, karena itu sudah mutlak menjadi milikmu”.


“Unchhh,,, sayang,,, makasih banyak,,, kamu so sweet banget sih”, Naz bicara manja lalu memeluk suaminya yang duduk di sebelahnya itu dengan tersenyum bahagia.


“Buka dong yang satu lagi”, titahnya dan Naz pun segera membuka kotak yang satu lagi, dan ternyata isinya satu set berlian anting, kalung berliontin, serta cincin.


“Sayang,, apa ini gak berlebihan?? Yang tadi kan udah satu set”, tanya Naz.


“Beda sayang,, kalau yang tadi bisa kamu pakai sehari- hari dan merupakan perhiasan emas 24 karat, kalau yang berlian ini, mungkin kamu akan memakainya hanya untuk menghadiri suatu acara atau pesta misalnya,, apa kamu senang sayang??”.


“Tanpa kamu memberikan ini semua, menjadi istrimu saja sudah membuat ku menjadi wanita paling bahagia di dunia ini”, ucapnya tersenyum dan menyimpan kadonya diatas meja.


“Oh ya”, tanya Arfin seolah tak percaya.


“He em”, Naz mengangguk dengan yakin.


“Pintar gombal sekarang ya”, ucapnya sambil menjembel kedua pipi Naz dengan gemasnya, Naz berusaha menjauhkan duduknya dari Arfin, namun Arfin segera melingkarkan tangannya pada pinggang Naz, dan kedua mata mereka saling bertatapan, Arfin mengecup bibir Naz, lalu memagut bibir ranum istrinya yang seolah sudah mulai menjadi candunya, ia melepaskan sebentar.


“Bernafas lah sayang dengan hidungmu”,ucapnya dan kembali mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan dan gelenyar panas mulai menjalar ke seluruh tubuh hingga sampai ke otaknya. Arfin kembali melepaskan pagutan nya.


“Buka mulutmu”, ucapnya dan Naz pun membuka mulutnya lebar- lebar, dan itu malah membuat Arfin tertawa, “Hahaha,,, Buka saja sayang, gak usah mangap gitu,, apa kau sudah ingin memakan ku hem”, tanya nya dengan deru nafas yang sudah tidak karuan, lalu ia mengajak Naz untuk bangkit dari duduknya, dan kembali berciuman dengannya.


Arfin menggendongnya ala bridal style dengan bibir yang masih saling berpagutan, lalu membaringkan Naz di atas tempat tidur dengan perlahan, kemudian ia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Naz yang terbuka dan ditekuk olehnya. Naz hanya pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya padanya. Arfin lalu merengkuhkan tubuhnya dengan menggunakan kedua lutut sebagai tumpuan, dan kedua tangan yang di tempelkan pada kasur di kiri dan kanan untuk menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh istrinya.


Arfin telah melepaskan pakaian Naz, dan tinggal bagian bawahnya yang belum di lepas, namun saat Arfin berusaha melepasnya, Naz menahannya,


”Jangan digeser,,, nanti tembus”, Arfin tak menghiraukannya dan tetap meraba ke bagian itu, Naz kembali mengeluarkan suaranya,” Jangan di geser pembalutnya, nanti bisa tembus”, tiba- tiba ucapan Naz menghentikan tangan Arfin dari kegiatannya.


“Pembalut,,? tembus,,?”, Arfin mengulang perkataan Naz, “Sayang untuk apa kamu memakai pembalut?”, tanyanya dengan perasaan bingung dan heran.


“Karena aku lagi datang bulan…”, ucapnya yang mengejutkan Arfin, kepalanya mendadak merasakan pusing yang luar biasa seolah ia ingin sekali membenturkan kepalanya itu ke tembok.


“Apa?? Datang bulan??”, tanyanya memastikan masih dengan raut wajah terkejut dan berharap kalau tadi ia hanya salah dengar.


“Iya”, jawab Naz dengan nada mendesah sambil mengangguk dan menutup kedua gunung kembarnya dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu.


Dan kini kepala Arfin benar- benar terasa pusing, ia pun segera beranjak pergi ke kamar mandi untuk meredam gairah yang telah membakar dirinya sampai ke ubun- ubun dengan mengguyurnya menggunakan air dingin.


“Semalam bibir jontor gara- gara tisu basah, sekarang dia malah datang bulan,,, shittt,,,, Ini sih namanya benar- benar zonkk…!!”, gerutunya sambil terus mengguyur dirinya dengan air dari shower.


------------ TBC ---------------


*************************


Happy Reading....😉😘

__ADS_1


__ADS_2