
Saat Arfin mengambil dokumen penting perusahaannya, yang ia simpan bersama surat- surat berharga di berangkas yang ada di dalam lemari kamar nya, ia menyadari ada satu barang yang hilang dari sana.
“Loh,, kenapa bisa tidak ada di sini?”, Arfin kembali memeriksanya dan benar benda itu tidak ada di sana,
“Siapa yang mengambilnya ya?? brankas ini kan menggunakan kode dan yang tahu hanya aku dan _____ “, Arfin bergumam dan tak melanjutkan perkataanya.
“Naz,,,?? apa dia yang mengambilnya??”, ucapnya dengan raut wajah terkejut yang kemudian tersenyum sumringah.
Ia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, kemudian membuka aplikasi WhatsApp yang ada pada benda pipih miliknya itu. Dicarinya nama kontak yang dulu pernah disimpannya, namun sayang nomor WhatsApp itu sudah tidak aktif dan saat ia menghubungi lewat sambungan telpon biasa pun tidak aktif. Ia kemudian menghubungi Lutfi.
“Halo,, selamat pagi, obos?? Jangan lupa hari ini bawa dokumennya ke kantor”. sapanya lalu mengingatkan.
“Iya,,, ini juga sudah diambil,, Lutfi,, gimana cara melacak ponsel yang hilang?”.
“Tinggal lacak menggunakan nomor IMEI ponsel tersebut, asalkan ponselnya dalam keadaan nyala dan internet serta GPS nya aktif”, Lutfi menjelaskan.
“Kalau kartu SIM nya sudah sudah diganti gimana?”, tanya Arfin lagi.
“Gampang,,, ada aplikasinya, jadi bisa dilacak lewat GPS,, tahu email ponselnya gak?”.
“Iya,, iya tahu,, yasudah lo cepat ke rumah, sekarang...".
“Ehh,, tapi kan kita______”.
“Sekarang …. !!”, Arfin langsung mengakhiri sambungan telepon nya.
Arfin kini bisa bernafas lega, “Akhirnya aku akan segera menemukan mu dengan petunjuk ini, sayang”, ucapnya penuh harap dengan raut wajah berbinar.
Ia pun menutup kembali brankas nya dan mengunci lemarinya. Ia beranjak keluar dari kamarnya menuju ruang makan, dan kali ini ia nampak bersemangat tak seperti biasanya yang lesu seolah tak memiliki gairah hidup.
Setelah Arfin selesai sarapan, Lutfi pun datang dan langsung masuk ke dalam rumah menghampiri atasannya yang masih duduk di ruang makan, Lutfi pun duduk disana.
“Ngapain duduk disini? Ayok kita berangkat”, Arfin lalu bangkit.
“Bentaran napa,,, belum sempat sarapan nih hamba”, Lutfi ternyata mau numpang sarapan.
“Mbak,, tolong ambilkan piring “, titahnya pada Mbak Retno, ia pun segera melaksanakan,
“Nih,, download aplikasi yang dimaksud tadi”, Arfin memberikan ponselnya, dan Lutfi pun segera melaksanakan tugas nya.
Tak lama Mbak Retno pun datang membawa piring lengkap dengan sendok dan garpu nya serta gelas kosong.
“Ini, Den”, ucapnya menyerahkan alay makan pada Lutfi.
“Makasih Mbak,,”, Lutfi yang sudah selesai men-download aplikasi pelacak di ponsel Arfin, kemudian mengembalikan ponsel tersebut. Ia pun segera mengisi piring kosong di depannya dengan hidangan yang tersaji di meja makan kemudian menyantapnya.
Lutfi yang telah menyelesaikan sarapannya pun segera diajak pergi oleh Arfin.
“Sebenarnya kita mau pergi kemana sih?”, Lutfi yang baru saja keluar dari pintu depan mempertanyakan tujuan Arfin memanggilnya datang ke rumahnya itu.
“Nyari bini gue lah”, Arfin memberitahukan tujuannya.
“Emangnya mau cari kemana lagi? Apa sudah dapat bisikan tentang keberadaannya dimana?”,Lutfi yang sangat tahu kelimpungan nya Arfin mencari sang istri pun kembali bertanya.
“Makanya nyuruh lo kesini tuh supaya bantuin gue nyari dengan aplikasi yang udah lo download ini,, gue kan gak tahu caranya, onta”. Arfin memperlihatkan layar ponselnya pada Lutfi.
“Tapi kan lo bilang bini lo kabur gak bawa ponsel,,, lah lo mau lacak ponsel siapa? Ponsel mertua lo?”.
“Iya memang dia pergi meninggalkan ponselnya,, tapi dia membawa ponsel lamanya yang dulu pernah gue beliin persis seperti ponsel gue waktu kita masih pacaran,, karena gak pernah dipakai lagi, jadi disimpan di brankas siapa tahu dia mau pakai lagi suatu saat dan gue baru tahu tadi pas ngambil dokumen di brankas, tuh ponsel hilang sama dus nya”, Arfin menjelaskan.
“Oh gitu toh,, kok lo baru nyadar sekarang?”, Lutfi merasa heran.
“Justru itu yang gue sesalkan,,, ayok,, sekarang kita cari dia ,,”, ajaknya yang kemudian masuk ke dalam mobil, Lutfi pun sama.
“ Iya iya,, gue bantu cari,, tapi jangan sekarang”, Lutfi kemudian memasang sabuk pengaman.
“Lo gimana sih,,, udah satu setengah bulan gue gak ketemu sama bini gue,, giliran udah ada petunjuk, lo malah nyuruh gue nunda- nunda”, Arfin menggerutu kesal.
“Bukan gitu obos,, pagi ini kita ada meeting dengan para pemegang saham,, makanya lo harus bawa dokumen penting itu,,, lupa apa amnesia sih?”, Lutfi mengingatkan.
“Hah,,,? kok gue bisa lupa ya”, Arfin malah terkejut.
“Kelamaan gak dikelonin kali, Bos,,, hahaha”, Lutfi malah mengejek.
“Sialan lo,,, gue sumpahin gak kawin- kawin lo”, Arfin yang merasa kesal mengeluarkan sumpah serapah.
“Jangan dong bos,,, udah cukup sekali aja batal kawin mah, jangan keterusan… perih tahu gak”, Lutfi malah curhat.
“Yasudah,, ayok kita ke kantor dulu saja,, nanti selesai meeting baru nyari bini gue”, Arfin pun mengutamakan pekerjaannya.
Keduanya berangkat ke kantor dengan menggunakan mobil Lutfi yang diparkir di pinggir jalan depan pintu gerbang rumah Arfin, karena hari ini Uje izin tidak masuk kerja dan Arfin sedang malas menyetir.
**
Meeting yang tadinya hanya direncanakan sampai dua jam saja, ternyata berlangsung lama hingga dzuhur, tentunya itu membuat Arfin sangat kesal. Karena hal itu sudah memperlambat jalannya yang ingin segera bertemu dengan istrinya. Seusai shalat dan makan siang, barulah ia pergi bersama Lutfi yang bisa menjalankan aplikasi pencarian ponsel tersebut.
Betapa terkejutnya Arfin yang duduk di jok sebelah Lutfi yang hendak mengemudikan mobil, saat melihat titik lokasi GPS yang ditunjukan Lutfi, tempat dimana ponsel yang disinyalir ada pada Naz itu.
“Ehh tunggu,, daerah ini kayaknya gue kenal deh,,,, “, Lutfi mengingat- ingat, lalu peta lokasi di ponsel Arfin hasil pencariannya itu di zoom.
__ADS_1
“Itu alamat rumah milik orang tua gue,,,, “, Arfin tidak menyangka ternyata Naz selama satu setengah bulan ini bersembunyi di rumah kedua orang tuanya.
“Hahahaha,,,, ternyata bini lo ada di rumah orang tua lo, bos,,,, yaelah,, 15 menitan doang nyampe kali ke sana dari rumah lo, Bos,, apalagi kalau pake Jinny oh Jinny,, sekali tring langsung nyampe,, hahahahaha”. Lutfi terus menertawakan betapa bodohnya bosnya itu yang sudah dikerjai oleh istrinya sendiri, hinga membuatnya kelimpungan selama satu setengah bulan ini.
“Diam lo !!! Jangan ketawa mulu, ayok cepetan jalan,,,”, Arfin yang merasa kesal menyuruhnya segera melajukan mobil.
“Iya iya iya,,, hahahhaa”, Lutfi pun langsung melajukan mobilnya menuju alamat yang sudah tidak asing lagi baginya, karena sebelum Arfin memiliki rumah sendiri, ia pun kadang sering menginap di sana menemani Arfin.
Suasana di dalam mobil mendadak hening, Arfin yang masih shock terus larut dalam pemikirannya sendiri, seolah banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada istrinya saat bertemu nanti. Ia pun terus mengerutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya ia yang tak mencarinya lagi ke sana setelah hari itu ia tak menemukannya.
Lutfi yang sejak tadi sesekali melirikkan matanya, melihat Arfin yang nampak melamun, kemudian ia pun membuka suara, “Ar,,,, “, panggilnya , namun yang bersangkutan tidak menyahut,
“Al Arifin Naufal Akbarsyah…!!”, serunya dengan nada setengah berteriak, dan itu mampu membuyarkan Arfin dari lamunannya.
“Apa sih lo,, ngagetin aja”, Arfin malah menggerutu kesal.
“Lagian dari tadi melamun mulu,,, bukannya senang mau ketemu bini,,,”, ucapnya seolah meledek
"Emangnya selama ini lo gak kepikiran nyari bini lo ke sana, Ar ?,, heran gue”, Lutfi pun tak habis pikir.
“Gue udah pernah nyari ke sana di hari dia menghilang tuh,,, tapi dia gak ada di sana, udah dicari di seluruh ruangan juga,, pas ke sana aja gerbang nya masih digembok”, Arfin menjelaskan.
“Lo udah cari ke tiap kamar mandi yang ada di semua kamarnya belum?”, Lutfi ternyata sampai bertanya sedetail itu.
“Ya enggak lah,,, ngapain juga nyari ke kamar mandi, orang seluruh ruangan aja masih rapi, gak menandakan ada orang yang tinggal di sana”, Arfin memberi alasan.
“Dasar oon lo,,, Ya siapa tahu aja pas ada lo ke sana, bini lo ngumpet di kamar mandi biar gak ketahuan,, hahaha”, Lutfi yang sedang menyetir tak hentinya mengejek dan menertawakan Arfin,
"Apa jangan- jangan orang tua lo terlibat juga, Ar“, Lutfi asal tebak, karena selama satu setengah bulan ini, keberadaan istrinya di sana bisa sampai tidak diketahui oleh Arfin.
“Gak mungkin,,, orang mereka marah dan panik banget pas tahu Naz hilang,,, “, ucapnya merasa yakin,
“Eh tapi,, udah sebulan ini mereka gak pernah menanyakan Naz lagi,,, padahal selama dua minggu sejak kepergian Naz, mereka terus menanyakan apa Naz sudah pulang atau belum,,, Apa mereka memang sudah tahu,, atau memang mereka yang menyembunyikan Naz dari ku?”, Arfin malah terpengaruh dengan pemikiran rekan kerjanya itu.
“Bisa jadi,,, Atau,, mungkin mereka mencari tahu sendiri keberadaan bini lo yang ternyata ada di rumah mereka,,,”, Lutfi kembali mengira- ngira, “Emang yang megang kunci rumah itu selain lo sama nyokap lo siapa lagi?”,Lutfi kembali bertanya.
Arfin mengingat- ingat, “Mbak Juminten,,, soalnya seminggu dua kali Mami menugaskannya membersihkan rumah itu”.
“Hahahahaha,,, berarti pembokat lo juga terlibat, Ar,,”, Lutfi terus menebak,
“Gila,,, ini benar- benar gila tahu gak,,, seorang Arfin dikerjain habis- habisan oleh istri dan pembokatnya,,hahahaha” , ia pun tak hentinya menertawakan nasib sial yang menimpa Arfin itu.
“Eh tapi,, lo yakin ponsel itu dibawa sama bini lo, bukan sama pembokat lo gitu”, pikiran Lutfi semakin kemana- mana.
“Maksud lo dia nyuri ponsel itu?? Gak mungkin lah,, selama ini dia orangnya jujur,, duit kembalian seribu rupiah aja dia balikin ke gue, nemu duit di saku celana pas mau dicuci juga suka dibalikin ke gue,, mana mungkin dia nyuri ponsel dari dalam brangkas,,, lagian yang tahu kodenya cuman gue sama bini gue”, Arfin tidak setuju dengan pemikiran Lutfi yang seolah menuduh pembantunya.
“Ya bisa aja kan bini lo ngeluarin tuh ponsel dari brankas,, terus saat pembokat lo beresin kamar lo, dia khilaf ngambil tuh ponsel, karena ponselnya bagus dan mahal…”, tuduhan semakin melebar.
“Coba deh lo telpon pembokat lo,, sekarang dia ada di rumah itu gak,,, kalo iya,, berarti emang dia yang ngambil ponsel lo,,”, Lutfi memberi saran untuk membuktikan dugaannya.
“Masa iya gue nanyain dia lagi ada dimana,,, gak ada kerjaan banget.. emangnya gue lakinya apa?”,Arfin merasa keberatan.
“Yaelah,,, makanya kalo bego tuh jangan dipelihara dong Bos,,, lo pura- pura kek cariin apa gitu di kamar lo, ada barang ketinggalan gitu apalah gitu,,, gak usah nanya kamu lagi dimana, sama siapa, semalam berbuat apa,,, hahahha”, Lutfi menertawakan Arfin yang terkadang suka memperlihatkan sisi kebodohannya.
Arfin pun mengikuti saran Lutfi, ia menghubungi Mbak Juminten sang asisten rumah tangganya, walau sebenarnya ia merasa tak yakin dengan dugaan Lutfi, karena jika hal itu benar, berarti sirna sudah harapannya bisa segera bertemu dengan istri yang sudah sangat dirindukannya.
“Hallo,,, assalamu’alaikum, Den”, sapa Mbak Juminten.
“Wa’alaikumsalam,, Mbak Jum,, tolong carikan powerbank di kamar saya ”, Arfin pura- pura ketinggalan powerbank nya.
“Maaf Den,,, si Mbak nya lagi bersihin rumah Nyonya,, coba Den Arfin tanyain ke Retno”, ternyata benar dugaan Lutfi, Mbak Jumin ada di kediaman orang tua Arfin.
“Oh,, iya kalau gitu,,makasih ya Mbak”, Arfin yang nampak terkejut, lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
“Gimana?? “, tanya Lutfi yang merasa penasaran.
“Mbak Jum lagi di rumah Mami”, Arfin
memberitahukan Lutfi tentang keberadaan Mak Jumin.
“Tuh kan bener dugaan gue,,, “.Lutfi merasa dugaannya tepat.
Arfin menghela nafas berat, kekecewaan nampak jelas pada raut wajahnya. Ia tidak peduli dengan ponsel yang menurut Lutfi diambil oleh Mbak Jum, yang ia sesali harapannya untuk segera bertemu dengan istrinya, pupuslah sudah.
“Jangan sedih gitu Ar,,, itu kan baru pendapat gue,, ada baiknya lo cek aja langsung ke sana ada Naz atau tidak nya”, Lutfi merasa tidak enak karena membuat Arfin kembali bersedih.
“Gak usahlah,,, nanti gue malah tambah kecewa lagi,,”, Arfin pun mengurungkan niatnya.
“Tapi bentar lagi nyampe nih”, Ternyata mobil yang dikendarai Lutfi sudah memasuki komplek perumahan yang dituju.
Tak lama mobilnya pun sampai di depan pintu gerbang rumah milik orang tua Arfin, mereka, melihat ada Mbak Jumin yang sedang membersihkan jendela kaca sambil sedang menelpon.
“Gimana Ar,,, lo mau turun gak? Tuh kayaknya pembokat lo lagi nelpon di teras depan”.
“Kita balik aja ke kantor,,,”, Arfin kekeuh tak mau turun.
“Mending lo coba masuk aja deh,, kita udah jauh- jauh ke sini juga”, Lutfi terus membujuk.
“Ngapain gue masuk,,,? Orang bini gue gak ada di sini?”
__ADS_1
“Kan lo belum ngecek ke dalam,,, siapa tahu ada…”, Lutfi terus membujuk.
“Sekarang aja gue udah kecewa banget, apalagi kalau masuk ke sana,,,”, Arfin tak ingin terluka lagi.
“Udah yuk,,, seenggaknya lo bisa negur pemokat lo yang ngambil ponsel lo”, Lutfi melepaskan sabuk pengamannya.
Arfin menghela nafas panjang berkali- kali untuk menenangkan dirinya sendiri, seolah tengah bersiap jika ia akan merasakan kekecewaan yang lebih dari sebelumnya, “Baiklah,,, kita masuk ke sana,, tapi mobilnya taruh disini saja,,,”.
“Oke,,, itung- itung kita lagi sidak memergoki pembokat lo yang ketahuan nyolong ponsel lo”,
Keduanya pun turun dari mobil, mereka memasuki pintu gerbang yang kebetulan tidak digembok itu. Meeka terus berjalan menghampiri Mbak Jumin yang belum menyadari kehadiran dua lelaki itu karena saking seriusnya bicara di telpon sambil mengelap kaca.
“Mbak, Jum”, Arfin langsung menyapa ART nya itu.
“Iyo,,, kok suara mu mirip majikan ku toh, le”, Mbak Jum malah sibuk bicara di telpon.
“Mbak Juminten…”, Lutfi menepuk pundak Mabak Jumin dari arah belakangnya, ia pun langsung membalikan badannya, Betapa terkejutnya Mbak Jumin melihat majikannya berdiri di hadapannya.
“Den Den Arfin,,,”, ucapnya gelagapan.
“Kenapa Mbak melihat saya seperti melihat hantu gitu?”, Arfin lalu melihat ponsel yang dipegang Mbak Jumin yang ternyata benar itu ponsel lama Naz yang disimpannya di dalam brankas.
“An anu,, anu, Den…. bak Jum gelagapan.
“Mbsk Jum dapat ponsel itu dari mana?”, selidik Arfin.
“An anu,, anu Den,,, iki ,, iki,,, ha hape iki eng eng”,
“Mbak Jum,, majikan mu itu sedang bertanya, kok jawabnya gak jelas gitu? Mbak nyolong ponsel itu ya?”, Lutfi ikut nimbrung.
“Ndak,,, ndak,,, saya ndak nyolong hape iki,,,”, Mbak Jum menyangkal tuduhan itu.
“Kalau gak nyolong,,, kenapa hape itu yang tadinya ada di dalam brankas tiba- tiba ada di tangan Mbak Jum,,,?? Udah ngaku aja deh Kalau Mbak Jum nyolong,, iya kan? Kalau gak ngaku saya laporkan ke polisi loh…”, Lutfi pun mengeluarkan ancaman.
“Aduh Gusti,,, jangan Den Lutfi,,,jangan laporkan si Mba ke polisi,, iki bukan hape si Mbak,,, tapi hape milik Non Nanaz”.
“Iya,,, kami tahu kalau ponsel itu milik Naz,,, tapi kenapa bisa ada di tangan Mbak Jum,, itu artinya Mbak Jum nyolong dong”, Lutfi kekeuh.
“Ndak,,, si Mbak berani sumpah,,, si Mbak ndak nyolong hape iki toh,, wong Non Nanaz sendiri tadi meminjamkannya pada si Mba,, karena pulsa hape si Mbak habis, mau nelpon bocah lanang nya si Mbak” , Mbak Jum menjelaskan.
“Apa??”, Tanya Lutfi dan Arfin serentak, Mbak Jumin langsung membekap mulutnya karena tanpa sengaja sudah keceplosan bicara.
“Jadi Naz ada disni?”, Arfin masih terkejut merasa tak percaya jika istrinya benar- benar ada di rumah orang tuanya itu,
“Mbak,, dimana dia sekarang”.
“Eng,,, anu,,, anu Den,, Non Nanaz lagi tidur di kamar”, ucapnya terbata- bata, Arfin pun langsung masuk ke dalam rumah dan bergegas mencari istri yang sangat dirindukannya. Hingga ia tak menyadari jika ia belum menanyakan Naz tidur dikamar yang mana,, akhirnya ia pun mencari Naz di tiap kamar yang ada di sana.
Arfin membuka pintu kamar tamu dengan perasaan bahagia yang membuncah di dalam dadanya, namun setelah masuk ia tak menemukan keberadaan istrinya, ia pun keluar dari kamar itu. Arfin berjalan menuju kamar yang biasa ditempati oleh Mami nya, sama halnya ia tak menemukan keberadaan Naz.
Akhirnya ia pun memutuskan untuk naik ke lantai dua mencarinya di kamar atas, namun baru saja menaiki tangga kedua,langkahnya terhenti, pandangannya tertuju pada kamar yang dulu ditempatinya, yang berada di dekat ruang tengah dan pintunya terlihat jelas dari tempat ia berdiri. Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar itu dengan penuh harap istrinya berada di sana.
Ceklek ,,,
Arfin membuka pintu kamar yang dulu pernah ditempatinya itu, hatinya terenyuh melihat sosok yang sangat dirindukannya tengah berbaring dengan mata terpejam diatas tempat tidur. Bahagia bercampur haru merasuk dalam dadanya.
Perlahan ia melangkahkan kakinya memasuki kamar tersebut tanpa melepaskan pandangan dari sosok wanita cantik belahan jiwa nya itu. Semakin dekat pada sosok wanita yang kini tengah mengandung anaknya itu, perasaan di dadanya semakin membuncah, dan kini ia berdiri tepat di samping ranjang yang menampakan sang istri tengah anteng berkelana divalam mimpi. Ditatapnya dengan lekat wajah cantik yang selama satu setengah bulan ini sangat dirindukannya, seolah ia masih tidak percaya bahwa istrinya kini sedang berada di depan matanya. Pandangannya beralih pada setiap inci bagian tubuh sang putri tidur yang berbaring terlentang, mulai dari ujung rambut hingga ujung kakinya, sampai berkali- kali ia melakukannya.
Matanya tertuju pada perut istrinya yang sudah mulai terlihat menonjol, membuatnya semakin bahagia dan terharu. Ia berlutut lalu tangannya memberanikan diri membelai pelan kepala Naz.
" Sayang ku.... Aa sangat merindukan mu,,,", lirih ya dengan mata yang berkaca-kaca. Tangannya beralih pada perut Naz, kemudian ia mencium perut istrinya itu. Dan hal itu mampu mengusik tidur Naz.
" Emhhhh,,,,,, ", Naz menggerakkan kepalanya perlahan lalu membuka matanya. Beberapa kali iya mengedipkan matanya, seolah tak percaya suaminya berada di depannya yang tersenyum namun matanya mengeluarkan air mata.
"Aa.....", Lirihnya terkejut seolah ia merasa mimpi melihat suaminya berada di kamar tersebut.
" Iya,,,, sayang,,,, ", Arfin menyahut sambil tersenyum haru.
"Naz,,, Ayok bangun,,,, ini rujak jeruk Bali ya sudah ja _______ ", tiba-tiba ada yang masuk ke kamar Naz yang pintunya masih terbuka itu, dan mengagetkan keduanya yang kemudian melihat ke arah orang tersebut.
Orang itu nampak terkejut dengan kehadiran Arfin di rumah itu, sehingga tak melanjutkan perkataannya, dan Arfin pun tak kalah terkejutnya melihat orang yang berdiri tak jauh dari tempatnya berlutut.
"Hkk... hkkkk.... uokk", Naz merasakan mual lalu ia bangkit dan segera beranjak ke kamar mandi.
Saat Arfin hendak menghampiri Naz, kemudian orang itu langsung menghentikan langkah Arfin,
"Tunggu..... !!! Pergilah,,, menjauh dari Naz !!", ucap orang itu dengan nada tegas, seolah mengusir Arfin dan melarangnya mendekati Naz lagi.
Deg...
Mendengar hal itu, rasa bahagia yang dirasakannya seketika sirna, seolah ia baru tersadar jika Naz belum bisa memaafkan kesalahannya. Itulah sebabnya Naz belum juga kembali, karena belum memaafkannya, pikirnya.
------------------ TBC --------------------
********************************
Happy Reading.... 😉
Jangan luva tinggalkan jejak mu,,, 🤩😉
__ADS_1
Tilimikicih ..... aylapyu oll.....😘😘