
Gebrukk…. Terdengar suara dobrakan pintu, dan betapa terkejutnya ia melihat Naz yang hampir diperkosa oleh seorang pria di atas tempat tidurnya, ia langsung menghampiri lalu menarik tubuh pria itu dan langsung menghajarnya tanpa aba- aba,, bugh,,,,
“Dasar breng*sek,,,, “, umpatnya geram dan kembali menghajar pria itu.
“Kurang ajar kau, berani sekali memukul ku”, teriaknya lalu pria itu membalas dan balik menghajar, hingga keduanya saling menghajar.
Sedangkan Naz yang masih shock dan ketakutan dengan rambutnya yang nampak berantakan dan baju yang ia pakai sudah robek sebagian hingga pakaian dalamnya pun terlihat, ia bangun dari tempat tidur lalu menjatuhkan dirinya hingga duduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir deras sambil memeluk kedua lutut yang di tekuk nya,. Ia terus menangis tanpa memperdulikan dua orang pria yang sedang berkelahi di hadapannya, hingga salah satu dari mereka jatuh tersungkur dengan wajah yang sudah babak belur.
“Bangun lo,, sialan”, teriak pria itu, namun orang itu nampak sudah tak punya tenaga untuk bangun.
“Naz,,,, “, Arfin yang baru datang langsung menghampiri Naz yang tengah menangis sambil memeluk lututnya itu, tanpa memperdulikan dua orang pria yang ada di dalam kamar itu, Arfin yang merasa sangat terkejut melihat keadaan Naz langsung duduk berhadapan dengan Naz di lantai, ia menyentuh lengan Naz dengan tangannya yang bergetar “Sayang,,,kamu kenapa?”, lirihnya dengan raut wajah yan terkejut bercampur panik.
“Dia berusaha memperkosa Naz”, ucap Arsen yang menunjuk pada Bagas yang sudah terkapar lemas.
Mendengar perkataan itu, Arfin langsung naik pitam, ia menolehkan pandangannya pada Bagas dengan tatapan kemarahan, darah nya seakan mendidih dan seketika amarahnya langsung membakar dirinya, ia mengepalkan tangannya dan hendak berdiri seolah tak sabar ingin menghajar orang itu, namun Naz menarik tangannya. Bagas yang ketakutan melihat amarah Arfin berusaha bangun dengan sekuat tenaga, ia langsung mendorong Arsen kemudian melarikan diri, Arsen pun bangkit lalu mengejar orang itu.
Bagas berhasil lari sampai ke bawah, namun ia yang sudah merasa lemas kembali terjatuh tepat di teras depan setelah ia keluar dari pintu. Arsen mengejarnya kemudian melangkah mendekati Bagas, ia berjongkok dan menarik kerah bajunya Bagas hingga membawanya berdiri.
“Ada apa ini Arsen?”, tanya Hardi yang baru saja datang bersama Raline.
“Orang ini sudah berusaha menodai Naz,,”, ucap Arsen yang masih mencengkram kerah baju Bagas, sedangkan ia hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah ketakutan.
“Apa,,,??”,tanya Hardi dan Raline serentak karena merasa terkejut, lalu mereka melihat Arfin yang baru keluar melewati pintu dengan raut wajah penuh amarah.
Bugh… Arfin langsung melayangkan bogeman yang sangat keras hingga orang yang ia pukul jatuh tersungkur, dan tentunya itu mengejutkan semua orang, kemudian ia bangun dan Arfin langsung menghajarnya dengan membabi buta, dan orang itu pun melawan sehingga kembali terjadi perkelahian.
Hardi berusaha melerai, namun Arfin yang sudah dipenuhi amarah sudah tidak bisa di hentikan dan malah mendorong Hardi hingga terjatuh. Sementara Raline pergi keluar gerbang dan berteriak meminta bantuan, kemudian beberapa tetangga menghampiri, dua diantaranya seorang pria.
“Arfin hentikan,, lo salah mukul orang!!”, teriak Hardi yang kemudian bangun dan kembali berusaha melerai perkelahian mereka dibantu oleh dua Bapak- bapak yang datang bersama Raline. Mereka menarik Arfin yang hendak menghajar lagi saat orang yang dihajarnya sudah jatuh terkapar tak berdaya.
“Hentikan Arfin,, lo bisa membunuhnya”, ucap Hardi yang memeluk tubuh Arfin dari belakang untuk menahannya agar tidak menyerang lagi, sedangkan kedua bapak- bapak tadi masing- masing memegang kedua tangan Arfin.
“Diam lo,,, gue emang mau bunuh bajingan yang tidak bermoral itu”, teriak Arfin yang berontak, ia menginjak kaki Hardi hingga dia melepaskan cengkraman nya, dan Arfin pun berhasil mendorong kedua bapak- bapak itu hingga melepaskan dirinya, kemudian ia melangkahkan kakinya dengan amarah yang masih memuncak untuk kembali menghajar orang yang sudah terkapar lemah dengan wajah yang babak belur itu. Namun langkahnya terhenti saat Naz yang memakai sweater tiba- tiba datang berlari menghampiri dan memeluknya.
“Cukup,, sudah cukup,,,, hiks hiks”, ucap Naz sambil menangis.
“Jangan hentikan aku, Naz”, Arfin berusaha melepaskan pelukan Naz darinya.
“Cukup,,, hentikan,, kamu bisa membunuhnya,,, hentikan,,, hiks hiks”, Naz terus mengeratkan pelukannya pada Arfin yang masih tersulut emosi dengan dada yang bergemuruh.
“Aku memang ingin membunuh bajingan yang tidak bermoral itu“, ucap Arfin sambil melemparkan tatapan tajam pada orang yang tergeletak dan tengah berusaha untuk bangun itu.
“Cukup ,,,,sudah,,, aku tidak ingin ada hal buruk yang menimpa mu,, aku mohon,, hentikan,,, hiks hiks,,, walau bagaimana pun dia tetap kakak ku,,, aku mohon,, hiks hiks”, Naz terus mengeratkan pelukannya dan terus menangis sambil membenamkan wajahnya di dada Arfin. Amarahnya pun perlahan melebur karena tak tega melihat Naz yang terus menangis yang seolah membutuhkannya sebagai penenang. Ia pun membuka kepalan tangannya dan digunakannya untuk mengusap- usap kepala Naz untuk menenangkannya.
“Arsen,,,,!!”, teriak Pak Rizal yang baru datang dan langsung menghampiri Arsen yang duduk di atas rerumputan halaman depan rumahnya dengan wajah babak belur dan darah yang keluar dari hidung serta sudut bibirnya. “Ada apa ini?”, tanya beliau merasa terkejut dan bingung.
“Bapak- bapak,, terimakasih atas bantuannya,,, saya rasa perkelahiannya sudah selesai,,, terimakasih banyak Pak”. Ucap Hardi kepada dua Bapak- bapak yang menolong tadi, kemudian mereka pun pamit undur diri, sementara di pintu gerbang ada beberapa orang ibu- ibu yang nampak sedang menonton pertunjukan. Hardi lalu menghampiri Arsen dan Pak Rizal,
“Om,, sebaiknya kita bicarakan di dalam,,, gak enak di luar banyak orang yang melihat kita”, ucap Hardi yang kemudian diangguki oleh Pak Rizal, dan beliau pun membantu Arsen bangun lalu memapahnya masuk ke dalam bersama Hardi. Hardi menoleh ke arah Arfin, “Ar,, ayo kita masuk”, ajaknya lalu mereka pun masuk ke dalam rumah.
“Ayo sayang kita masuk,,, “, Arfin mengajak Naz masuk tanpa melepaskan pelukannya dengan berjalan perlahan.
__ADS_1
“Heh,,, lo juga ayo masuk,, karena lo juga terlibat”, ucap Raline pada Bagas, dan mereka pun masuk.
Kini keenam orang itu tengah duduk di ruang tamu, Hardi duduk besama Naz dan Arfin di kursi panjang, Arsen duduk di kursi yang kedua, Bagas duduk di kursi yang muat hanya satu orang, dan Raline yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa nampan berisi lima gelas air minum serta kotak P3K hanya diam berdiri di belakang kursi yang Naz duduki, karena tidak kebagian tempat duduk, setelah ia meletakan nampan di atas meja.
Arfin mengambilkan air minum untuk Naz yang sudah mulai berhenti menangis, begitu juga Pak Rizal yang memberikan minum pada Arsen, lalu beliau mengobati dan membersihkan darah di wajah Arsen dengan kasa dari kotak P3K yang dibawakan oleh Raline tadi, sedangkan Bagas melakukannya sendiri.
“Sebenarnya ini ada apa?”, tanya Pak Rizal yang sudah selesai mengobati Arsen.
“Dia sudah berusaha memperkosa Naz”, Bagas menjawab sambil menunjuk ke arah Arsen, karena ia takut kembali dituduh.
“Apa?”, ucap Pak Rizal, Raline, dan Hardi terkejut, lalu beliau memegang dada nya yang mendadak terasa sesak mendengar perkataan Bagas.
“Iya Om,,, itu benar “. Ucap Bagas lagi.
“Bagaimana bisa,,, Arsen itu kakak nya Naz,, dan dia bilang kamu yang berusaha memperkosa Naz?”, Hardi merasa tidak percaya dengan perkataan Bagas.
“Saya tidak bohong,,,, tadi saat saya hendak menutup jendela kamar, saya melihat Naz baru turun dari mobil lalu memasuki gerbang, dan setelah itu ada Mbak Iyem keluar,, Saya berniat menghampiri Naz untuk menanyakan tentang kabar pernikahan yang saya dengar dari teman saya,, tapi saat saya akan menekan bel, saya mendengar ada teriakan minta tolong,, lalu saya masuk ke dalam rumah yang ternyata tidak dikunci,, dan teriakan itu terdengar lagi yang ternyata dari lantai atas,, lalu saya berlari menaiki tangga, dan teriakan itu terdengar dari salah satu kamar di atas,,, saya mencoba membuka pintunya,, tapi ternyata dikunci, lalu saya mendobraknya,,, dan saya sangat terkejut melihat Naz yang hampir diperkosa, lalu saya menarik orang itu dan menghajarnya,, tapi saya kalah telak karena dia lebih kuat,, dan setelah Mas itu datang saya malah dituduh hendak memperkosa Naz,,,”, Bagas menjelaskan kronologis kejadian yang ia ketahui, dan itu membuat Naz kembali menangis dan Arfin kembali memeluknya, walau sebenarnya ia ingin sekali kembali menghajar Arsen.
“Astagfirullah,,, Arsen, apa yang sudah kau lakukan…?? keterlaluan kamu”, ucap Pak Rizal sambil menahan amarah dan terus memegang dada nya.
“Maaf Om,, saya sudah menjelaskan semuanya,,,, saya rasa ini pembicaraan mengenai keluarga kalian,, tidak seharusnya saya ikut campur,, saya permisi …”, Bagas pun beranjak pergi setelah Pak Rizal mengangguki nya.
“Kenapa kau lakukan ini Arsen? Kau benar- benar sudah tidak waras,,, “, Hardi kembali berkomentar.
“Kau sudah keterlaluan Kak Arsen,, kenapa kau bisa sampai sebejat ini?”, Raline pun ikut meneriaki Arsen dengan penuh rasa marah, kemudian ia duduk di kursi bekas Bagas tadi.
“Karena aku mencintainya,,, aku sangat mencintai Naz,,, tapi bukan sebagai adik melainkan sebagai lawan jenis pada umumnya”, Arsen pun berkata dengan lantang sambil memandang ke arah Naz.
Keempat orang itu nampak sangat terkejut dengan perkataan yang dilontarkan Arsen, lain halnya dengan Pak Rizal yang ternyata sudah mengetahuinya.
“Naz bukan adikku,, dia bukan adik kandungku,,, Ayah dan Bunda sudah berjanji padaku jika aku bersedia tinggal di Bandung menemani Mimih sepeninggalnya Abah, kalian akan menjaga Naz untukku,, lalu apa?? Kenapa dia malah akan menikah dengan laki- laki lain?”, Ucap Arsen dengan nada marah. Mendengar pengakuan Arsen membuat darah Arfin seolah kembali mendidih, ia sudah benar- benar ingin menghajar Arsen lagi, namun Naz yang masih menangis terus menggenggam tangannya karena takut Arfin akan meluapkan amarahnya lagi.
Pak Rizal mengangkat kepalanya lalu menoleh pada Arsen, “Kami memang berjanji menjaga Naz untuk mu, tapi sebagai adik mu, bukan sebagai pasangan mu,,, kami harus bagaimana lagi menjelaskannya pada mu,, ? dia itu adik mu, meski bukan anak kandung ku tapi dia anaknya kakak ku,, kalian tidak akan pernah bisa dipersatukan dalam hubungan asmara,, lagipula Naz juga sudah menemukan pendamping hidupnya,,, Ayah dan Bunda sering bilang padamu untuk melupakan perasaan mu pada Naz,,, ”, Pak Rizal menjelaskan pada Arsen yang duduk di sebelahnya, yang hanya berjarak 30 cm.
“Ini semua gara- gara kalian yang menjauhkan ku dari Naz,, kalian juga memutuskan komunikasi ku dengannya, aku sangat menyayanginya dan dia juga menyayangiku,, aku tidak akan pernah membiarkan dia menikah dengan siapa pun selain dengan ku”, Arsen menatap tajam pada Ayahnya yang kemudian kembali memegang dadanya setelah mendengar perkataan Arsen.
Arfin langsung berdiri mendengar perkataanya, “Diam kau bajingan,!! aku tidak akan mengampuni mu!”, teriak Arfin dan hendak melangkahkan kakinya untuk menghampiri Arsen yang hanya terhalang oleh meja, namun Hardi dan Naz segera menahan Arfin.
“Ar,,, lo tenang dong,, jangan emosi kayak gini,,, lo lihat kasihan Om Rizal udah sangat shock gitu “, Hardi memperingatkan Arfin.
“Aa udah,,,, aku mohon udah jangan menghajarnya lagi”, ucap Naz yang kemudian mengajak Arfin untuk duduk kembali. Naz menatap tajam pada Arsen yang juga melihat ke arah nya, “Aku memang menyayangi mu,, tapi hanya sebatas rasa sayang pada seorang kakak,,, tidak lebih,,, sama halnya seperti rasa sayangku pada kak Dandy, Kak Rezki, dan Kak Hardi,,, bahkan aku menyayangimu lebih dari mereka, karena sejak kecil kau selalu menjaga dan melindungi ku,,, tapi,,,,”, Naz tidak sanggup melanjutkan perkataannya karena air matanya terus mengalir.
“Dia tidak pernah melindungi mu Naz,,, “, Raline tiba- tiba ikut bicara.
“Apa maksud mu, Raline?”, tanya Naz merasa heran.
“Diam kau!!”, Arsen meneriaki Raline.
“Selama ini aku sudah diam,,, dan aku tidak akan tinggal diam lagi,,,”, ucap Raline menatap tajam pada Arsen, lalu beralih pada Naz,
“Setelah kejadian di ulang tahun kita dulu, sikap ku berubah padamu, dan itu karena dia”, ucapnya menunjuk pada Arsen,
__ADS_1
“Dia lah yang menghasut ku untuk memusuhi mu, dengan mengatakan kalau kamu akan mengambil semua perhatian dan kasih sayang kedua orang tua ku dan Opa dari ku,,, dialah yang mengatakan bahwa kau dan ibu adalah musuh keluarga ku yang menghancurkan kebahagiaan kedua orang tua ku,, dan dia juga yang meminta ku agar membuat mu dijauhi oleh teman- teman sekolah kita dengan mengatakan kau anak haram dari perempuan murahan, supaya kamu hanya bisa bergantung padanya dan hanya bersamanya, dia juga yang meminta ku untuk menjauhkan mu dari setiap laki- laki yang mendekati mu saat kita masih satu sekolah, termasuk saat aku tahu kalau Bang Evan mendekati mu, tapi saat aku tahu kamu berhubungan dengan Kak Arfin, aku tak pernah memberitahukan Kak Arsen ,, karena aku menginginkan Bang Evan,, Kak Arsen selalu meminta ku mengawasi mu karena dia sulit berkomunikasi dengan mu yang hanya bisa seminggu sekali menelpon mu,,, dan aku selalu mengorek informasi dari Pak Udin dengan mengancam akan memecatnya kalau dia tidak bersedia”, Raline menjelaskan panjang lebar.
“Apa,,, ??”, Naz langsung membekap mulutnya karena merasa terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, Arfin, Hardi dan Pak Rizal pun ikut terkejut mendengar pengakuan Raline.
“Aku minta maaf Naz,,, aku sudah membuat hidup mu menderita hanya karena hasutan dan rasa takut ku akan kehilangan kasih sayang kedua orang tuaku, Opa dan Oma yang selama ini sangat menyayangi ku dan kamu,,, aku terlalu serakah dan jahat,, hingga aku mau saja diperalat oleh Kak Arsen,,, aku minta maaf Naz... hiks hiks”, ucapnya terisak.
Naz yang masih berdiri kemudian menatap tajam pada Arsen, “Itu yang kau bilang menyayangiku hah?? Kau selalu mengingatkan ku akan status ku saat itu yang seorang anak haram dari hasil hubungan gelap Papa dan Ibu, sehingga aku selalu meratapinya,, Aku selalu mendapat hinaan dan ejekan dari teman- teman sekolah ku, dan kau juga menyuruhku untuk berpenampilan culun agar tidak ada lelaki yang mendekati ku,,, dan ternyata itu semua karena mu,,, Apa itu yang kau bilang sayang dan ingin melindungi ku hah??”, ucap Naz meluapkan kemarahan dan kekecewaannya dengan terus berlinang air mata.
“Apa kau tahu bagaimana rasanya selalu mendapat ejekan dan hinaan dari semua orang yang ada di sekeliling mu??? … Apa kau tahu bagaimana rasanya menjadi seorang yang direndahkan sehingga aku selalu berjalan dengan menundukkan kepalaku karena merasa malu?? …. ".
"Tujuh tahun Kak,,, selama itu aku harus menderita karena hal itu dan aku hanya memendamnya seorang diri,,, beruntung aku masih jadi orang waras, dan lebih beruntung lagi aku tak mengakhiri hidupku”, Ucapan Naz terhenti karena tak kuasa berkata lagi karena hatinya terasa sangat sakit.
“Sudah cukup Naz,,, jangan diteruskan lagi,, ayok kita pergi dari sini,, sebelum kesabaran ku benar- benar habis…”, Arfin mengenggam tangan Naz dan mengajaknya beranjak pergi, namun Naz menahan tangannya.
“Dan kau tahu Kak Arsen,,, Orang ini,, orang yang kau minta supaya aku menjauhinya,, Orang ini lah yang selalu menguatkan ku,, Orang ini lah yang selalu ada untukku disaat aku membutuhkannya, Orang ini lah yang selalu melindungi ku tanpa aku minta,, Orang ini lah yang selalu menghapus air mataku di saat aku bersedih, bahkan orang ini lah yang membuatku bisa berjalan dengan menegakan kepala ku tanpa harus memikirkan orang- orang yang memandang rendah padaku, Orang ini tidak akan membiarkan orang lain menyakitiku walau hanya seujung kuku pun,,, dan satu hal yang harus kau tahu,,, Dia benar- benar mencintaiku dengan setulus hatinya, tidak sepertimu yang hanya memanipulasi ku supaya bergantung pada mu dan supaya bisa menyayangi mu…”, ucapnya yang masih berlinang air mata.
“Sekarang kau tahu kan betapa jauhnya perbedaan mu dengan orang ini,,, kau sudah memberikan ku luka yang sangat dalam,, tapi orang ini lah yang menutup luka itu rapat- rapat dengan kebahagian dari cinta dan kasih sayang yang begitu besar yang diberikannya padaku, dan asal kau tahu bahwa aku sangat mencintainya lebih dari apa pun bahkan lebih dari diriku sendiri, aku sangat mencintainya,, aku sangat mencintai calon suami ku, calon pendamping hidupku ini”, ucap nya dengan penuh keyakinan sambil terus menghapus air matanya dengan tangan yang sebelahnya lagi, kemudian ia menoleh pada Pak Rizal, “Maaf Ayah,, aku pamit pergi,,, ayok A”, ucap Naz yang kemudian beranjak pergi bersama Arfin meninggalkan kediaman Pak Rizal.
“Ayah tidak menyangka kamu mampu berbuat seperti itu,,, dengan teganya kamu sudah memanipulasi Naz… Itu bukan cinta, Arsen, tapi hanya sebuah obsesi yang bisa menghancurkan dirimu sendiri,,,, Kau dengar sendiri kan,,, Naz hanya menganggap mu sebagai kakaknya saja,, cintanya sudah ia berikan pada calon suaminya,,, Lupakan perasaan terkutuk mu itu dan biarkan Naz bahagia dengan pilihannya,, jangan pernah mengganggu kebahagiannya lagi”, ucap beliau menasehati.
“Bunda sudah berjanji padaku, jika aku tak pernah pulang dan tetap di Bandung, kalian akan menjaga Naz untuk ku, kenapa kalian mengingkarinya”, Arsen masih tak mau menyerah.
“Kau juga mengingkarinya bukan,,?? selama setahun belakangan kau sering pulang dan menemui Naz, dan Bunda mu bilang jika kau mengingkarinya, maka dia akan menikahkan Naz dengan seseorang bukan? Dan sekarang itu sudah terlaksana,,, Ayah tegaskan pada mu agar jangan menganggu kebahagiaan Naz lagi...", ucapnya dengan nada tegas.
“Gak,,, pernikahan itu tidak akan terjadi,, aku akan menggagalkannya dengan segala cara”, Arsen tetap bersikukuh.
“Cukup Arsen,,,!! hentikan kebodohan mu,,,!!... apa kau ingin membunuh Ayah dan Bunda mu, hah?? Belum cukup Bunda mu masuk rumah sakit?”, bentak Pak Rizal yang sudah mulai hilang kesabarannya.
“Apa?? Bunda masuk rumah sakit?”, Arsen merasa terkejut.
“Ya,,, setelah semalam kau datang dan marah- marah karena kau tahu tentang pernikahan Naz, lalu kau pergi begitu saja,,,, Bunda mu pingsan, tensi darahnya tinggi, dan Ayah membawanya ke rumah sakit,, dan kau tahu,, Bunda mu terkena stroke”, Ucapnya dengan geram.
“APA,,,??”, tanya Arsen, Hardi dan Raline terkejut.
“Bunda kena stroke, Om?”, tanya Hardi memastikan.
“Iya,,, dan sekarang Anita masih dirawat di rumah sakit”, Pak Rizal menjawab pertanyaan Hardi lalu beralih pada Arsen, “Puas sekarang kamu Arsen,,, puass,, hah?Apa perlu Ayah dan Bunda mu ini mati baru kamu akan sadar??”, bentaknya lalu beliau berdiri dan beranjak pergi untuk kembali ke rumah sakit.
“Bunda,,,, Bunda,,,, maafkan aku Bunda,,, ”,lirihnya, kemudian menjatuhkan dirinya ke lantai dengan raut wajah penuh penyesalan, kemudian Hardi menghampirinya.
“Arsen,, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Bunda,,, ayok bangun”, ucap Hardi memegang bahu Arsen yang masih shock.
-------------------- TBC -------------------
*******************************
Nih special untuk yang suka nanyain Arsen,,, hihihihihi,,,
Biar udah nikah nanti gak ada yang gangguin Al Naz,,,
Happy Reading…. 😉
__ADS_1
Jangan luva tinggalkan jejak mu,, like komen rate bintang 5, vote , hadiah,, ,,😉😘😍
Tilimikicih,,, Aylapyu oll….😘😘😘