Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Tolong........ !!!


__ADS_3

Mempersiapkan pernikahan memang bukanlah hal yang mudah, padahal sebenarnya asalkan ada pasangan calon mempelai, wali dari mempelai wanita, dua orang saksi laki- laki, ijab qabul, dan mahar pun sudah bisa menikah, hanya saja menurut adat dan kebiasaan selalu diadakan syukuran atau berupa pesta. Ada pesta yang sederhana, ada pula pesta yang megah alias besar- besaran tergantung pada kemampuan masing- masing.


Hal ini juga lah yang kini sedang menjadi beban pikiran Naz, yang tadinya hanya ingin pesta yang sederhana, namun keluarganya ingin pesta megah dan besar- besaran. Tidak hanya itu, meskipun akad nikah dan resepsinya sudah sepakat diselenggarakan di gedung supaya aman terkendali tanpa ada perebutan tempat lagi diantara keempat orang tua Naz, tapi kali ini terjadi perdebatan lagi karena memperebutkan tempat untuk pengajian dan siraman sebelum acara pernikahan.


Naz bukannya melerai atau memberi jalan tengah untuk mengatasi perebutan tempat tersebut malah marah atas sikap keempat orangtuanya yang tidak mau saling mengalah. Akhirnya Arfin pun turun tangan, kini Arfin dan Naz sedang duduk di ruang tamu bersama keempat orang tua Naz untuk mendiskusikan hal tersebut. Naz duduk diapit oleh Bunda dan Mama-nya, sedangkan Pa Syarief, Pak Rizal, dan Arfin duduk di kursi yang berbeda.


“Sebelumnya saya minta maaf, bukannya ingin ikut- ikutan mengatur, hanya saja saya mendengar dari Naz bahwasannya sudah terjadi perebutan tempat lagi seperti saat akan bertunangan dulu,, jadi saya ingin mengemukakan pendapat saya dan semoga bisa menjadi solusi dan jalan tengah untuk kedua belah pihak”, ucapnya membuka percakapan, “Begini Om, kalau menurut saya, mungkin acara pengajian yang akan mengundang para tetangga dan sanak saudara pelaksanaanya bisa di sini”.


“Tuh kan,, Arfin juga setuju”, ucap Pak Syarief merasa mendapat dukungan.


“Ya ,,, gak bisa gitu lah,,, pokoknya saya tetap pada pendirian saya,, acaranya di rumah saya”, Pak Rizal tak terima.


“Maaf Om Syarief, Om Rizal,, saya belum selesai bicara,,, “, ucap Arfin.


“Dengerin dulu Arfin nya atuh hei,, jangan pada motong pembicaraan gitu atuh,, ayok lanjutkan Ar”, Bunda ikut berkomentar.


“Jadi begini,, kalau menurut saya untuk acara pengajian sebaiknya dilaksanakan di sini, juga di rumah Bunda, karena kedua nya adalah orang tua Naz dan pasti ingin mendapatkan banyak doa dari semua orang untuk kelancaran pernikahan dan kebahagiaan kami kelak,,, ”, Arfin pun melanjutkan perkataannya.


“Maksudnya gimana Ar? Mana mungkin diadakan di dua tempat sekaligus?”, Tanya Pak Syarief bingung.


“Maksud saya pengajiannya diadakan di hari yang berbeda,, misalkan di sini hari jum’at dan di rumah Bunda hari sabtu, jadi keduanya sama- sama kebagian, lagi pula kan tempat tinggal kalian terpaut agak jauh ya, beda kecamatan pula, tapi mungkin kalau untuk acara siraman sebaiknya di satu tempat saja,, jika dari keduanya tidak ada yang mau mengalah, sudah saja sekalian siraman nya di gedung yang akan dipakai akad nikah dan resepsi nanti, bagaimana Om?”, ucap Arfin menjelaskan.


“Saya rasa itu ide bagus,, hanya saja kalau untuk siraman, biasanya di rumah pengantin wanita, bukan di gedung, Ar”, Bu Rahmi pun ikut bicara.


“Kalau begitu, mungkin ada baiknya kita mendengar pendapat dari Naz, dia mau nya seperti apa “, Arfin kembali memberi saran.


“Iya, Arfin benar,,, kamu mau nya gimana, Dek?”, tanya Pak Rizal.


“Sebenarnya untuk ku pelaksanaan siraman dimana pun sama saja, baik itu di rumah ini atau di rumah Bunda, tapi menurutku tidak usah diadakan acara siraman rasanya itu lebih baik”, Naz mengemukakan pendapatnya.


“Tapi Naz,,, gak apdol kalau sebelum pernikahan tidak diadakan acara siraman,,, kami ingin kamu merasakan setiap rinci dari proses menuju pernikahan mu sama seperti orang- orang pada umumnya”, ucap Bu Rahmi.


“Iya Dek,, Mama mu benar”, Bunda pun setuju.


“Tapi,, aku gak mau cuma gara- gara perebutan tempat, menyebabkan percekcokan lagi diantara kalian,,, aku ingin hari bahagia ku disertai kebahagiaan kalian juga, tanpa ada perselisihan apa- pun dalam persiapan pernikahanku ini”, ucap Naz.


“Jadi bagaimana ini?”, tanya Pak Syarief.


“Naz,, mau ya ada acara siraman,,,”, bujuk Bu Rahmi .


“Iya Dek,,, kan itu teh momen langka, terserah kamu aja deh maunya di mana.. kita mah ngikutin aja, ya Mbak?”, Bunda pun memberi kebebasan memilih pada Naz.


“Iya Naz,, terserah kamu aja maunya di mana,, yang penting acara sirman tetap dilaksanakan”, Bu Rahmi pun menjadi luluh.


“Bener ya terserah aku?”, tanya Naz memastikan.


“Iya,,,”, ucap Bunda dan Bu Rahmi berbarengan.


Naz terdiam sambil melirikkan matanya kepada keempat orang tuanya secara bergantian, kemudian ia menghela nafas panjang, “Sejak aku masih bayi, aku tinggal, tumbuh dan dibesarkan di rumah Ayah, rumah itu menyimpan begitu banyak kenangan indah bagiku yang tak akan pernah ku lupakan seumur hidupku, jadi aku memilih rumah Ayah untuk acara siraman nanti,, Kalau untuk acara pengajian sama seperti yang dibilang Kak Arfin tadi,, aku harap kalian bisa menerima keputusanku ini,, walau sebenarnya berat untuk ku memilih, dan aku harap tidak ada perselisihan lagi di antara kalian, karena kalian tetaplah orang tua ku dan aku pun tak ingin kalau salah satu dari kalian ada yang merasa tersakiti…. Satu hal lagi, aku memilih ini dengan penuh pertimbangan,, karena aku tahu saat menikah nanti Papa lah yang akan menjadi wali ku, bukan Ayah,, sehingga untuk acara siraman aku memilih di rumah Ayah,, aku harap Papa dan Mama bisa menerima ini,, aku ingin bersikap adil pada kalian,, karena aku sangat menyayangi kalian”, ucap Naz sambil menundukkan kepalanya.


“Sayang,,, kami juga sangat menyayangimu”, ucap Bu Rahmi sambil mengusap kepala Naz.


“Iya, Naz,,, Jujur Ayah merasa malu karena kami sudah bersikap kekak- kanakan, dan Ayah bangga ternyata kamu sudah bisa bersikap dewasa seperti ini,,”, ucap Pak Rizal yang merasa senang dengan keputusan Naz.

__ADS_1


“Jadi,, sekarang sudah dapat jalan keluarnya kan?? Fix ya tidak akan ada perdebatan lagi, dan semoga semuanya bisa berjalan dengan lancar sampai hari H tanpa suatu hambatan apa pun”, ucap Bu Rahmi.


“Amiin,,,”, semuanya pun mengamini perkataan Bu Rahmi.


Setelah acara diskusi selesai, Arfin berpamitan untuk pulang, begitu pula dengan Bunda dan suaminya juga pamit pulang ke rumah mereka.


***


Keesokan harinya, sejak pagi Naz sudah bersiap untuk menunggu Arfin yang akan mengajaknya pergi ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Naz sudah menyediakan fotokopi KK dan KTP nya beserta yang aslinya untuk kelengkapan pendaftaran, ia pun sengaja izin tidak masuk sekolah, karena memang sudah tidak belajar lagi alias hari bebas dan tinggal menunggu pelulusan. Arfin baru datang jam 9 pagi, karena ia pergi ke penghulu tempat ia berdomisili untuk membuat surat NA (pengantar nikah dari pihak laki-laki), dan saat sampai ia langsung mengajak Naz pergi ke studio foto terdekat untuk difoto dan mencetaknya sesuai instruksi yang ia dapat dari penghulu saat ia membuat NA tadi. Stelah selesai Arfin bersama Naz lalu pergi ke KUA tempat Naz berdomisili untuk daftar nikah dengan membawa persyaratan yang sudah mereka siapkan tadi.


Sesampainya di KUA mereka langsung masuk dan menemui petugas untuk pendaftaran. Setelah dilihat kelengkapannya, ternyata masih ada yang kurang.


“Ini seharusnya mendaftar ke penghulu di kelurahan atau desa mempelai wanita, karena harus ada tanda tangan dari kepala dusun dan kepala desa/ lurah setempat, dan ini juga masih ada kelengkapan yang kurang”, ucap petugas itu.


“Oh gitu ya Pak,, mohon maaf kami belum tahu,, kami pikir langsung daftar kesini,,, maaf Pak kelengkapan apa yang kurang?”, tanya Arfin.


“Ini seharusnya ada surat keterangan dari Bidan Pak”, ucap petugas itu.


“Apa?? Dari Bidan? Untuk apa ya? apakah surat keterangan sehat?”, tanya Arfin lagi.


“Kalian temui saja Bidan desa atau kelurahan tempat calon mempelai wanita, nanti akan dijelaskan oleh Bidan tersebut,, setelah itu kalian mendaftar dengan membawa surat keterangan dari bidan nya”, ucap petugas itu kembali menjelaskan.


“Oh,, gitu ya Pak,, kalau begitu kami permisi ”, ucap Arfin, kemudian mereka pun pergi mengikuti arahan dari petugas KUA tersebut.


“Aa,,, kok kita musti ke Bidan segala,, kayak mau cek kandungan saja,,,”, ucap Naz yang sudah berada di dalam mobil bersama Arfin.


“Enggak tahu,, aku juga aneh,,, ternyata ada persyaratan semacam itu”, ucapnya kemudian melajukan mobinya menuju tempat praktek Bidan terdekat dengan kediaman Naz. dan setelah sampai, mereka pun nampak celingukan karena bertemu dengan beberapa pasien, bahkan ada pasien yang sedang melahirkan di dalam ruang bersalin di sana.


“Iya ih serem gitu,,, kamu nanti jangan kayak gitu sayang,,, harus banyak berdoa”, ucap Arfin, sedangkan Naz malah terkekeh. Lalu mereka mendaftarkan diri untuk berkonsultasi dengan Bidan di sana, dan setelah menunggu dua antrian, kini giliran mereka masuk.


“Silahkan duduk,,, ada yang bisa saya bantu?”, tanya Bidan tersebut.


“Emm,,, begini Bu,,, kami akan mendaftarkan pernikahan kami ke KUA, tapi katanya kami memerlukan surat keterangan dari Bidan untuk kelengkapan persyaratannya”, Arfin menjelaskan maksud kedatangan mereka.


“Oh,, iya ,,, saya mengerti,, sebentar ya”, ucapnya lalu mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya, “Ini,,, silahkan Mbak nya ke toilet untuk buang air kecil dan isi cup plastik ini dengan air seni Mbak,, dan nanti bawa ke sini hasilnya", ucapnya menjelaskan.


Naz bangkit dari duduknya lalu mengikuti apa yang dikatakan Bidan tersebut, dan setelah beberapa saat ia pun datang dengan membawa cup plastim berisi air seni nya.”Ini Bu…”, ucapnya menyerahkan cup plastic tersebut.


“Ya ampun Mbak,, kok sampai penuh gini,, padahal seperempatnya juga cukup”, kata Budan itu sambil menerimanya, lalu ia mengeluarkan sebuah alat dan memasukannya ke dalam air seni itu bagian ujungnya saja.


“Hehehe,,, Bu Bidan gak bilang sih tadi,, aku kan takut salah,, jadi ya udah sampai penuh saja”, ucapnya yang kemudian memakai handsanitizer yang tersedia di atas meja Bidan tersebut.


“Loh,, kok itu kayak di tespack sih Bu? Saya kan gak hamil dan kesini bukan untuk periksa kehamilan juga”, tanya Naz yang merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Bidan itu.


“Ini memang untuk memastikan Mbak nya ini hamil atau tidaknya, dan ini merupakan prosedurnya dalam pembuatan laporan surat keterangan nya,, coba saya pinjam KTP dan KK beserta fotokopinya”, ucapnya kemudian Naz pun menyerahkan yang beliau minta, lalu dibuatkan lah surat keterangan berdasarkan data diri dan hasil cek urine barusan.


Tak lama Bidan itu pun menyerahkan surat keterangannya yang dimasukan ke dalam sebuah amplop, kemudian memberikannya kepada Naz beserta KK dan KTP aslinya Naz, dan setelah menyelesaikan administrasi, mereka pun pergi meninggalkan klinik praktek Bidan tersebut dan pergi menuju rumah Penghulu untuk mendaftar dan menyerahkan semua persyaratannya.


Setelah semuanya beres, Naz meminta Arfin mengantrakannya ke rumah Bunda, sekalian Arfin pulang, karena ada beberapa barang yang hendak diambilnya dari rumah Bunda. Kemudian Naz menghubungi Pak Udin untuk menjemputnya ke rumah Bunda, karena Arfin akan bersiap untuk kembali ke Surabaya.


“Kamu yakin gak usah ditungguin?”, tanya Arfin memastikan.


“Enggak usah,, lagian aku udah nelpon Pak Udin kan barusan,, dia lagi jemput Raline ke sekolah nya, terus jemput aku ke rumah Bunda”, ucap Naz sambil mengikat rambutnya yang sebelumnya terurai.

__ADS_1


“Udah sampai nih,, aku turun ya,, Aa hati- hati di jalan,, jangan ngebut- ngebut loh”, Naz kemudian turun dari mobilnya dan setelah Arfin melajukan mobilnya, Naz pun memasuki pintu gerbang, dan tanpa ia sadari dari seberang sana ada yang memperhatikan Naz.


“Mbak Iyem mau kemana?”, tanya Naz yang berpapasan dengan Mbak Iyem di teras.


“Mbak mau ke toko buah, diminta beli buah- buahan, Neng", jawab Mbak Iyem."Nang kok.... ",,


“Oh,, yaudah kalau gitu,, aku masuk dulu ya,, kebelet nih,,, hehehe”, Naz pun kemudian masuk ke rumah dan naik ke lantai dua, lalu ia langsung ke kamar mandi.


“Ahh,, lega rasanya,,, perasaan tadi udah pipis di tempat bidan,, kok udah kebelet lagi”, ucapnya berdialog sendiri lalu keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamarnya. Naz mengambil barang- barang dari dalam lemarinya, termasuk be smile yang sempat ia tinggalkan dulu.


Ceklek ,,,terdengar suara pintu dibuka, kemudian Naz mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang kini sudah ditutup kembali serta dikunci.


“Kenapa kamu gak bilang kalau kamu akan menikah?”, tanya orang itu.


“Nga ngapain masuk ke kamar ku?”, tanya Naz terkejut melihat kedatangannya yang tiba- tiba.


memasuki kamarnya, lalu ia menghampiri orang itu.


“Kenapa kau tega melakukan ini pada ku, Naz”, tanya nya lagi sambil memainkan kunci pintu kamar Naz dengan jari tangannya.


“Apa maksud mu?”, Naz malah balik bertanya sambil membulatkan matanya.


“Apa kau tahu,,, sejak masih sekolah aku sudah jatuh cinta pada mu,,, tapi kenapa kamu malah akan menikah dengan orang yang tadi mengantarmu itu, hah”, ucapnya berteriak.


“Keluar dari kamar ku sekarang juga !!”, ucap Naz yang mulai merasa takut.


“Aku akan tetap di sini bersama mu”, Orang itu malah mendekat ke arah Naz, dan Naz pun melangkah mundur.


“Pergi…!!!”, teriak Naz sambil menunjuk ke arah pintu.


“Enggak,,, aku gak akan pergi,, aku gak akan melepaskan mu lagi”, ucapnya yang kemudian hendak memegang tangan Naz, namun segera di tempas oleh Naz.


“Baik,, jika tak ingin pergi, maka aku yang akan pergi,, berikan kuncinya padaku”, ucap Naz kesal.


“Ambil saja kalau kamu bisa”, ucapnya tersenyum licik, kemudian Naz hendak merebut kuci itu, namun orang itu malah memasukannny ke dalam kantong celananya, lalu Naz menyerangnya namun orang itu mampu menepis serangan Naz, Naz terus menyerang tapi tetap tenaga dan keahlian bela diri orang itu lebih kuat dibanding Naz, sehingga Naz tidak berkutik, dan orang itu malah menyeret Naz ke atas tempat tidur. Naz yang sudah dalam posisi terbaring terus berontak, lalu kedua tangan Naz dicengkram diatas kepalanya dan ditempelkan di ranjang, Kaki nya terus menendang namun orang itu masih bisa menahannya.


“Lepasin breng*ek,,,”,teriak Naz,, namun orang itu malah semakin kuat mencengkram tangan Naz.


“Diam,,, sebaiknya kau diam,,, jika aku tidak bisa memilikimu secara baik- baik,, maka hanya dengan cara ini lah kau bisa menjadi milikku”, ucapnya lalu menarik kemeja yang dipakai Naz hingga robek sebagian.


Cuih …. Naz meludahi wajah orang itu, “Lepasin gue,,breng*sek.. lepasin,,, tolong,,, tolong,,,!!!”, Naz terus berteriak- teriak.


Plak ,,, orang itu menampar Naz


“Huaaaaaaaa,,,,,,, tolong jangan lakukan ini ,,, jangan,, aku mohon,,,, tolong,,, tolong…!!!”, Naz terus berteriak sekencang mungkin.


Gebrakkk ….. terdengar suara pintu di dobrak.


--------------- TBC -----------------


***************************


Happy Reading….

__ADS_1


__ADS_2