Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Dia Memiliki Bee Smile Yang Sama Denganku


__ADS_3

Suasana kamar VVIP nomor 619 tempat dimana Arfin terbaring lemah yang awalnya sepi dan hening, kini berubah menjadi ramai gara- gara ulah Evan dan Dandy yang kini duduk di sofa dan terus saling mengolok- olok, belum lagi Naz yang duduk di kursi dekat ranjang Arfin menjadi sasaran empuk mereka karena menjadi penyebab Arfin masuk rumah sakit, sedangkan Arini yang juga duduk di sofa hanya senyam- senyum melihat interaksi mereka dan sesekali ikut tertawa bersama mereka. Arfin pun hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil memperhatikan Naz yang berubah- ubah mimik wajahnya, kadang celingukan karena malu, cemberut karena kesal, cengar- cengir, tertawa puas saat kakaknya di olok- olok.


“ Mohon maaf tolong jangan membuat kegaduhan, ini rumah sakit bukan pasar !!,, pasien yang lain sedang beristirahat”, seorang suster datang tiba- tiba menegur mereka dan mereka pun langsung terdiam bagaikan gaang katincak.


“Kasian deh lo, wle”, Naz menggoyang kan telunjuknya dari atas ke bawah melihat ke arah Dandy dan Evan, sambil menjulurkan lidahnya mengejek kedua orang itu, Arfin pun tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya merasa sangat gemas melihat kelakuan Naz itu.


“Yasudah kalau begitu, saya permisi dulu mau lanjut visit ke pasien yang lain”, Dokter Arini bangkit dari duduknya dan pamit undur diri kemudian meninggalkan ruangan.


“Jiahh,,,ditinggalin deh si Mas nya”, Evan kembali menggoda Dandy, sedangkan dia hanya memutar jengah kedua bola matanya.


Tok tok ,,,terdengar suara ketukan pintu,, ceklek


“Permisi “, Datang seseorang yang membawa nampan makanan untuk pasien dan ia meletakkannya di meja khusus untuk menyimpan makanan, kemudian orang itu pamit undur diri, ”Silahkan Pak makan siangnya, saya permisi”, ucapnya dengan ramah.


“Ar, mau makan sekarang?”, Evan mendadak jadi perhatian.


“Nanti saja, belum lapar”, Jawabnya.


“Kak Arfin makannya gimana?,, itu kan tangan kanan nya di infus? Masa makan pakai tangan kiri”,Naz bertanya dengan polosnya.


“Ya disuapin lah sama kamu Dek, kan kamu yang bikin Arfin kayak gitu”, Dandy kembali menjahili adiknya.


“Gak usah kali Naz, tuh disuapin Bi Darmih aja”, Evan mengajukan keberatannya.


“Mana,,,? orang Bi Darmih nya juga gak ada”, Dandy mengejek Evan, ”Udah Dek, sana gih suapin, itung- itung penebusan dosa”, Dandy benar- benar mengerjai Naz.


“Iya iya, ya ampuun dibahas mulu “, Naz menghembuskan nafas kasar dan ia pun mengikuti perintah Dandy, ia bangkit dari duduknya mendekat ke meja tempat nampannya di simpan, lalu ia mulai membuka plastik wrapping yang membungkus piring beserta makanan yang telah ditata di dalamnya, begitupun dengan mangkuk sup, piring buah, gelas berisi air minum, beserta garpu dan sendok pun dibuka plastik wrapping nya. Naz menarik mejanya yang beroda itu dan di posisikan di sampingnya yang duduk di kursi sebelah Arfin yang tengah duduk mengikuti kasurnya yang dinaikan bagian atasnya sehingga seperti sofa bed, Naz pun duduk menghadap ke arah Arfin.


“Mau makan apa dulu Kak, nasi atau buah dulu?”, Naz memberikan pilihan.


“Gak usah Naz, aku makan sendiri saja”, Arfin menolak untuk disuapi oleh Naz. Suka malu- malu singa aa Arfin mah ih.


“Gak apa- apa Kak, aku suapin aja,,,lagian kan tangan kanan Kakak di infus masa iya mau makan pakai tangan kiri, emangnya mau nanti berkah makanannya diambil setan loh, yang makan dengan tangan kiri kalau bukan setan berarti ia menyerupai setan kan,,”, Jurus mamah Dedeh keluar,, "Tapi kalau setannya ganteng macam Kak Arfin mah gak apa-apa juga sih,,,hihihi”, Naz bergumam dalam hati lalu dia cekikikan sendiri membekap mulut dengan tangannya.


“Kenapa kamu malah cekikikan, mau ngerjain aku lagi ya?”, Arfin menatap curiga.


”Ya enggak lah Kak, mana berani aku tuh ngerjain Kak Arfin, nanti makin lama lagi dirawatnya,, bisa- bisa aku disuruh tinggal disini oleh Kak Dandy sebagai penebusan dosa lagi, dosa aku udah banyak atuh yasalam”, Naz malah curhat lalu mengambil sendok dan garpu,,“Tenang saja Kak,, nih ukuran sendok nya normal kok gak pakai sendok semen, jadi masih muat masuk ke mulut Kak Arfin”, Naz malah menggoda Arfin yang nampak kikuk karena diperhatikan oleh kedua sahabatnya itu, “Jadi mau nasi atau buah dulu nih?”,Naz mengulang kembali pertanyaannya.


“Buah saja dulu”, Jawab Arfin dan Naz pun mengambilkan buah melon yang sudah dipotong- potong dari piringnya menggunakan garpu.


“Aaak buka mulutnya”, Naz menyodorkan satu potongan melon ke mulut Arfin seolah- olah sedang menyuapi anak kecil saja,,,Arfin pun membuka mulutnya mengambil melon yang disodorkan Naz dan melahapnya, lalu mengunyahnya dengan pelan sambil melihat Naz yang tengah menusukan garpu ke potongan melon berikutnya dan begitulah seterusnya hingga melon nya habis. Senangnya dalam hati…..syalalala.


Sementara Evan menunjukan raut muka kesalnya karena gadis yang ia sukai malah menyuapi Arfin, dan ia juga merasa ada yang janggal,, “ Aneh,,, kenapa Arfin yang biasanya selalu dingin dan cuek pada perempuan kok bisa memperlakukan Naz berbeda, apa karena dia adiknya Dandy dan dia juga yang menyebabkan Arfin sakit, atau dia menyukai Naz,,aahhh tidak mungkin ” , Evan bergumam dalam hati sambil terus memperhatikan Naz yang masih menyuapi Arfin, namun sayang ia tidak bisa melihat ekspresi keduanya, karena Naz membelakanginya dan menghalangi pandangannya pada wajah Arfin yang hanya kelihatan dahi sampai rambutnya saja.


Akhirnya Naz selesai menyuapi Arfin yang dengan susah payah terus memaksa Arfin menghabiskan makan siangnya itu agar bisa cepat sembuh, dan Arfin pun tak berdaya menolaknya sampai menunjukan raut wajah kesal sambil terus mengunyah makanan yang disuap kan Naz padanya, dan Naz terus memberikannya senyuman karena merasa senang bayi gede dihadapannya ini bisa menghabiskan makanannya. “Makanannya sudah habis, nih minum dulu”, Naz menyodorkan gelas berisi air minum yang sudah dipasangin nya sedotan dan Arfin pun meminumnya. “Bagus,,, anak pintar”, Naz memuji Arfin sambil tersenyum lebar, sedangkan orangnya hanya memberi tatapan sinis.


“Udah selesai baby sitter nyuapin bayi gede nya?”, Evan yang sejak tadi merasa kesal pun buka suara.


“Udah Bang, tinggal dimandiin ”, Naz tersenyum usil.


Arfin, Dandy dan Evan langsung membulatkan matanya karena terkejut mendengar perkataan Naz itu ,” Yang bener aja Naz,,kamu mau mandiin Arfin?”, Evan bertanya dengan nada seolah habis minum soda, nyereng guys.


“Hahaha,, ya enggak lah Bang, jangan gila dong,, abisnya Bang Evan ngatain aku baby sitter sih, kan biasanya baby sitter abis nyuapin anak asuhnya terus memandikannya, wle”, Naz menjulurkan lidahnya mengejek Evan. Bukan Naz namanya kalo tidak membuat keusilan.


Karena telah masuk waktu dzuhur untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, Dandy dan Evan membantu Arfin untuk mengambil air wudhu ke toilet dan sebelumnya menggeser kan stopper infus agar cairannya terhenti sementara dan tidak menyebabkan darah naik ke selang infusan akibat pergerakan yang dilakukan Arfin, kemudian Arfin melaksanakan shalat di atas tempat tidur sembari duduk karena masih merasa lemas, sedangkan Dandy dan Evan pergi ke mushola yang berada di lantai dasar di rumah sakit. Naz menekan tombol pemanggil perawat untuk membetulkan kembali jalannya infusan yang tadi sempat ditutup sementara.


“Kak Arfin sekarang istrahat ya”, Ucap Naz setelah perawat selesai mengatur jalannya infusan Arfin.


Arfin pun mengangguk “ Terimakasih ya Naz”.


“Untuk apa Kak?”, Naz mengerutkan dahinya.


“Terimakasih karena sudah bersedia menyuapi ku tadi, maaf ya jadi merepotkan?”. Arfin merasa tidak enak hati.


“Gak apa- apa kok Kak, gak usah formal kayak gitu ihh geli dengernya”, Ujar Naz.


“Ngapain geli orang aku gak gelitikin kamu”, Eh ko pembicaraan mulai belok.


“Yasalam gak ngerti banget sih bahasa kiasan”, Naz menjawab kesal.


Ceklek …. Terdengar suara pintu dibuka “Maaf Den, ditinggal lama sama bibi, tadi waktu mengantar Bude keluar Ibu telepon bilang Pak Yusuf mau nganterin pakaian Den Arfin dan sudah dekat rumah sakit, jadi bibi langsung ke bawah bersama Bude, eh ternyata lama nunggunya, katanya kejebak macet jadi bibi nunggu aja di warteg depan sambil makan,”, Bi Darmih menjelaskan panjang lebar karena sempat menghilang kemudian ia menyimpan pakaian Arfin ke dalam lemari yang tersedia di sana. "Oh iya,,ini hapenya Den Arfin”, Bi Darmih menyerahkan ponsel Arfin, dan ia pun menerimanya, Bi Darmih kemudian kembali duduk di sofa seperti sebelum kedatangan para tamu tadi.


“Terimakasih ya, Bi”. Arfin menerima ponselnya yang dalam keadaan mati, lalu ia menekan tombol di samping kanan atas ponselnya untuk menyalakannya kembali.


“Hmmm,,, pantesan dari semalam sampai tadi pagi di telepon gak akif- aktif, ternyata mati toh hape nya”, Ucap Naz.

__ADS_1


“Oh,,, jadi dari semalam ada yang kangen ya sama aku, tenang yang mati itu hanya ponselnya saja bukan orangnya”, Ucap Arfin sambil memainkan ponselnya tanpa memandang Naz yang sudah diduga akan kikuk.


“Dihh,, siapa juga yang kangen, lagi sakit aja masih suka ge-er ih,,", Naz menyangkal.


“Terus kalau gak kangen apa namanya neleponin dari malam sampai pagi, kayak gak ada kerjaan aja”, Arfin malah semakin menyudutkan Naz.


“Gak gitu juga kali Kak, maksud aku tuh semalam nelpon terus tadi pagi juga nelpon, bukannya dari semalam sampai pagi gak berhenti neleponin ih,,,,”, Naz mencebikan bibirnya memasuki mode cemberut. “Udah ah, aku mau pulang dulu, Pak Udin udah jemput tuh barusan dia mengirim pesan”. Naz langsung bangkit dari duduknya.


“Ya sudah, terimakasih ya sudah menyempatkan jenguk dan menyuapiku makan tadi, hati- hati”, ucapnya sambil tersenyum lebar karena gemas melihat Naz yang menampakan wajah cemberut.


“Iya,,,”, Naz menjawab singkat dengan nada jutek lalu membalikan badannya berjalan untuk keluar dari kamar. "Bu Darmih, aku permisi pulang dulu ya”, Naz menyalami Bi Darmih dan pamit pulang, .”Assalamu’alaikum”, Naz pun bergegas keluar kamar setelah salamnya dijawab oleh Bi Darmih dan Arfin secara bersamaan.


Naz berjalan menuju lift, kemudian menekan tombol navigasi yang menandakan turun, tak lama pintu lift pun terbuka dan ia masuk ke dalamnya untuk menuju lantai dasar. Ting,,, menandakan telah sampai di tempat tujuan dan pintu lift pun terbuka secara otomatis. Naz berjalan ke arah pintu utama yang sebelumnya ia lewati sambil menelpon Pak Udin, sampai Naz sudah berada diluar rumah sakit pun Pak Udin belum muncul juga.


“Kemana sih Pak Udin lama banget, katanya tadi sudah hampir sampai”, Akhirnya Naz berjalan menuju pintu gerbang Rumah sakit dan menunggu Pak Udin di pinggir jalan. Saat baru sampai, Naz melihat ada seorang wanita yang terjatuh tersungkur di trotoar yang tak jauh dari tempatnya berdiri, Naz pun langsung menghampirinya.


“Ibu kenapa”, Naz yang berjongkok menyetarakan diri dengan ibu- ibu yang terjatuh itu dan kini ia duduk dengan sebelah kakinya dilipat kedalam dan yang sebelahnya lagi diluruskan kesamping sambil diusap-usap.


“Sepertinya kaki saya terkilir, tadi pas lagi jalan tersandung batu itu”, Jawabnya sambil meringis memegang kakinya yang sakit.


“Maaf Bu, bolehkah saya bantu?...Kebetulan saat saya latihan taekwondo diajarkan cara mengatasi kaki yang terkilir”, Naz menawarkan bantuan, dan ibu itu pun mengiyakannya, “Tahan ya Bu, agak sakit soalnya”, Naz memberi aba- aba, membukakan sepatu ibu itu lalu meluruskan kakinya, dipijat- pijat lalu kakinya dipelintir sedikit seperti akan diputar. “Bagaimana Bu, sakitnya sudah berkurang?”, tanyanya.


“Iya, tidak sesakit tadi, terimakasih ya Nak, kamu baik sekali mau menolong saya “,.


“Sama- sama Bu, mari saya bantu berdiri”, Naz memegang tangan ibu itu untuk bangun.


Tin tin …Suara kelakson mobil yang berhenti tepat di hadapan Naz .


“Maaf, kalau boleh tahu ibu mau kemana ya biar saya antar, takutnya masih sulit untuk berjalan”.


“Saya mau ke rumah sakit tinggal masuk inih, tadi saya naik taksi dan turun di sini karena gerbangnya sudah terlewat, insha Allah saya bisa jalan sudah tidak apa- apa kok, itu mobil jemputan kamu ya, sudah sana nanti bisa menyebabkan macet loh,, terimakasih banyak ya cantik sudah menolong saya“, Ibu itu sangat ramah dan tidak ingin merepotkan lagi gadis yang menolongnya itu.


“Beneran ya bu gak apa- apa?”, Naz kembali bertanya.


“Iya sudah sana, terimakasih ya”, ucap Ibu itu.


“Sama- sama,,, Ibu hati- hati ya jalannya pelan- pelan,,saya pamit dulu ya”, Naz menyalami ibu itu ,”Assalamu’alaikum”. Naz bergegas masuk ke dalam mobil.


“Wa'alaikumsalam”, jawab ibu itu,,,”Sepertinya pernah melihat anak itu,,, tapi dimana ya”, Ucapnya mengingat- ingat. Kemudian ibu itu pun berjalan perlahan masuk ke rumah sakit.


“Kok berhenti disini, ada apa Pak?”, tanya Naz heran.


“Ini Neng, rasanya ada yang aneh dengan mobilnya, sebentar ya saya periksa dulu”, Pak Udin pun keluar dari mobilnya dan memeriksa bagian ban nya, saat di bagian ban belakang ternyata bannya melempem, Pak Udin mengetuk kaca mobil jok penumpang, dan Naz pun menurunkan kacanya ”Neng, ternyata ban belakang bocor, harus ditambal”.


Naz kemudian keluar dari mobil dan melihat ban yang dikatakan bocor oleh Pak Udin dengan menundukkan badannya ,“Wah, iya bocor nih Pak,, emmm,,,di sekitaran sini ada tempat tambal ban gak ya?”


“ Tadi sih waktu mengantar Bude pulang sekilas sepertinya saya melihat ada bengkel sekitaran sini,,Sebentar ya Neng, saya cari dulu ke sebelah sana siapa tahu ada bengkel tambal ban nya”, Pak Udin bergegas menyusuri jalan trotoar hendak mencari keberadaan bengkel.


Tiba- tiba ada mobil yang berhenti di belakang mobil yang Naz tumpangi dan sang pengemudi pun keluar dari mobilnya, “Cantik, lagi ngapain disini nungging- nungging gitu, mending kalo bahenol, Abang sampe gak konsen nyetir tadi”, orang itu menghampiri dan menyapa Naz.


“Hadeuh,, kenapa hamba harus ketemu lagi sama makhluk yang menyebalkan ini” Naz menggerutu dalam hati,”Gk bahenol aja bikin gak konsen nyetir apalagi kalo bahenol, mungkin Bang Evan udah menemani mobilnya nyungseb ke jurang”, bukannya menjawab pertanyaan Evan, Naz malah mengutuknya. Angger da kalau ketemu udah kayak kucing sama beurit, ribut wae. Hati- hati Naz biasanya itu indikator calon jodoh loh.


“Astagfirullahaladziim Naz, kok ngedoain Abang yang gak bener sih, ngedoain tuh yang baik- baik dong cantik, kan kata- kata itu adalah doa,,,ko belum jawab sih pertanyaan Abang tadi, kamu lagi ngapain dipinggir jalan gini?”, Evan mengulang pertanyaannya.


“Ban mobilnya bocor, sedangkan Pak Udin lagi nyari bengkel ke sebalah sana, katanya tadi saat mengantar Bude pulang melihat sekilas ada bengkel sekitaran sini”, jawab Naz.


“Yasudah ayok Abang antar kamu pulang, dari pada panas- panasan di pinggir jalan gini, bisa- bisa kamu nanti dikira warga papua lagi “, Tetep aja suka ngisengin.


“Gak gitu juga kali, masa iya panas- panasan sebentar bisa sampe angus”. Naz mendengus kesal.


“Udah ayo Abang anatar pulang, jangan banyak cingcong”, Evan memegang tangan Naz dan menariknya untuk ikut bersamanya, Naz pun tidak punya pilihan lain, karena sudah terbayangkan pasti akan lama lagi menunggu ban nya ditambal. Akhirnya Naz masuk ke dalam mobil Evan setelah dibukakan pintunya oleh Evan, kemudian Naz mengirim pesan pada Pak Udin meminta maaf kalau dia pulang duluan. Evan pun melajukan mobilnya untuk mengantar Naz pulang.


Ting Ting ,,, terdengar suara pemberitahuan yang keluar dari ponsel yang ada di dalam tas Naz, ia pun segera mengambil ponselnya kemudian membuka pesannya.


Kak Arfin


“Sudah sampai rumah belum?”


Naz


“Belum Kak, tadi sempet berhenti dulu karena ban mobilnya ada yang bocor, sekarang udah jalan lagi”


“Kak Arfin kok belum istirahat? ”


Kak Arfin

__ADS_1


“Oh gitu”


“Gak bisa tidur, abisnya kamu pulang ☹️”


Naz


“Dih emangnya aku pawang tidur apa?”


Kak Arfin


“Kan kamu baby sitter”


“Harusnya abis nyuapin, lanjut meninabobokan juga 🤭 "


Naz


“Apan sih geuleuh da 🤮”


“Aku harus bacain dongeng gitu sampe Kak Arfin tidur?”


“Yassalam, asa moal”


Kak Arfin


“Geleuh itu artinya jijik kan”


“Kamu kok jijik sama aku sih?”


Naz


“Bukan gitu maksudnya ih, aneh aja masa udah om- om minta di ninabobokan 😜”


Kak Arfin


“Aku masih muda Naz belum jadi om- om 😎”


Naz


“Iya iya deh”


“Oh iya aku lupa”


“makasih banyak ya tedy bear jumbonya 😍”


“Kok ngasih yang besar sih, kan yang dulu kecil”


Kak Arfin


“Biar gak ada anak kecil yang minta bonekanya lagi”


Naz langsung tertawa membaca pesan dari Arfin itu,”Yah, baterainya abis”, tiba- tiba saja ponselnya mati.


“Chating sama siapa sih, kayaknya seneng banget, sama pacarnya ya”, Evan yang sejak tadi merasa diacuhkan sesekali memperhatikan Naz yang cekikikan terus sambil chatingan akhirnya buka suara.


“Hahh,, bukanlah Bang, aku belum punya pacar kali”, Nah loh keceplosan,,,”Eh Bang, pinjam powerbank dong, ponsel ku habis baterai nih”.


Evan langsung tersenyum mengetahui kalau Naz masih jomblo,”Powerbank,,? Coba deh kamu ambil tas yang ada di belakang”, Evan menunjuk ke jok belakang, dan Naz pun mengambil tas itu, kemudian ia membuka nya dan mencari keberadaan powerbank yang ia butuhkan, namun ia malah menemukan sesuatu yang sangat mengejutkannya.


“Bang ini apa?”, Naz menanyakan benda yang ia pegang dan memperlihatkannya pada Evan.


“Oh, itu boneka Be Smile”, Evan melirik sekilas dan menjawab dengan santai sambil terus melajukan mobilnya.


" Bagaimana bisa Bang Evan ,,,dia memiliki bee smile yang sama dengan punyaku?? ", gumamnya dalam hati.


--------------- TBC -----------------


**************************


O em ji hello,,, kok Evan punya Be Smile yang sama persis dengan yang dimiliki Naz..???


gaang katincak \= perubahan yang tiba-tiba dari sangat berisik menjadi hening.


Happy Reading... 😉🥰


Jangan lupa tinggalkan jejakmu... like, koment, rate bintang 5, dan vote 🥰

__ADS_1


__ADS_2