
Cemburu muncul ketika seseorang merasa takut jika sesuatu yang sudah menjadi miliknya atau orang yang di cintai nya akan di rebut oleh orang lain. Rasa cemburu memang terkadang bisa membuat seseorang lupa diri, bukan hanya bisa melampiaskan kemarahan pada seseorang yang berusaha mendekati atau merebut orang yang dicintainya, justru orang yang cemburu pun tak jarang melampiaskan kemarahan serta menyalahkan orang yang dicintainya, walau sebenarnya ia tak bersalah yang bisa berujung pada penyesalan.
Dan itu lah kini yang tengah dirasakan oleh Arfin, biasanya ia yang selalu bersikap baik dan selalu memanjakan istri yang sangat dicintainya, namun saat ia merasa cemburu karena ada lelaki yang mendekati istrinya, tak jarang ia melampiaskan kemarahannya pada sang istri. Padahal ia tahu betul jika istrinya begitu mencintai dan setia padanya. Entah logikanya ditaruh dimana hingga ia bisa melakukan hal sebodoh itu.
Naz yang merasa ketakutan akan amarah sang suami sekaligus merasa bersalah karena tak berterus terang sejak awal tentang lelaki dari masa kecilnya yang tiba- tiba datang, memutuskan untuk pergi dari rumah setelah menerima kemarahan suami nya yang terbakar api cemburu.
Mungkin Arfin lupa akan perkataan istrinya yang pernah dibentak olehnya saat Felisha menyalahkan Naz yang membuatnya sampai masuk rumah sakit, bahwa jika sekali lagi Arfin membentaknya, maka ia akan menghilang. Dan kini Naz pun membuktikan perkataannya, pergi dan menghilang.
Arfin yang setelah melampiaskan kemarahan pada istrinya lalu pergi dan kembali tengah malam. Ia malah tidur di ruang tengah, dan pagi ini baru menyadari jika istrinya tidak ada di rumah setelah melihat lemari pakaiannya, dimana koper dan sebagian pakaian istrinya sudah tidak ada di dalamnya.
Arfin mengusap kasar kepalanya, tubuhnya mendadak terasa lemas, ia menjatuhkan dirinya ke lantai.
“Dia pergi,,,..”. lirihnya yang kini tengah duduk di atas lantai, rasa penyesalan yang begitu dalam kini dirasakannya, ia baru menyadari jika semalam ia telah lepas kendali memarahi istrinya karena terbakar api cemburu.
“Aku memang bodoh, aku sudah sangat menyakitinya, dia benar- benar membuktikan perkataannya, dia pergi meninggalkan ku,,, maafkan aku,,, maafkan aku, Naz”, lirihnya penuh penyesalan, tersirat di kepalanya raut wajah ketakutan Naz yang kemudian menangis sambil memegang perutnya saat ia memarahinya.
Air mata penyesalan pun mengalir begitu saja membasahi pipinya, ia terus mengerutuki kebodohannya yang bukan hanya menyakiti istri yang sangat dicintainya, tapi juga calon anak mereka. Rasa takut pun tiba- tiba datang saat ia teringat bahwa istrinya yang sedang mengandung, menurut dokter tidak boleh banyak pikiran, ia takut terjadi sesuatu dengan istri dan calon anak mereka.
Arfin segera menghapus air matanya, ia pun bangkit lalu mengganti bajunya dengan kemeja, lalu membawa jaket dan kunci mobilnya, saat menoleh ke tempat tidur, ia melihat ponsel Naz yang masih tergeletak di sana, ia pun membawa ponsel tersebut. Ia beranjak pergi meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju keluar.
"Mbak,,, tolong bawakan sepatu sport saya yang orange !!", teriaknya pada Mbak Retno.
Baru saja ia membuka pintu, ternyata di luar sudah ada orang yang hendak mengetuk pintu rumahnya.
“Assalamu'alaikum, Pak”, sapa nya memberi salam.
“Wa’alaikumsalam, siapa kamu?”, Arfin menjawab salam dan menanyakan orang tersebut.
“Pak Bos teh sudah lupa sama wajah ganteng ini,, saya teh Ujang,, ehh maaf Uje maksudnya,, sopir sekaligus pengawal baru untuk istri Pak bos,, kan saya teh sudah diterima kerja dan tanda tangan kontrak sampai nama panggilan saya diganti oleh Pak Bos,, dan Bu Dilara memberikan alamat rumah ini pada saya, karena kata Pak Bos teh mulai hari ini saya kerjanya”, ucapnya panjang lebar.
Arfin pun baru teringat pada Uje itu, “Yasudah,, ayok ikut saya”.
“Mau kemana atuh Pak?”, Tanya Uje.
“Cari istri saya”, Arfin menjawab singkat.
“Astagfirullah,,, Pak Bos teh kan udah punya istri yang cantik,, masa mau cari istri lagi,, kasihan atuh Pak Bos, mana istrinya lagi hamil”, Uje berpikiran lain.
“Kamu pikir saya ini laki- laki serakah,,?,,, Istri saya pergi, dan saya harus segera mencarinya,, sudah cepat ikut,, jangan banyak cingcong, nihh”, Arfin lalu melemparkan kunci mobil pada Uje, yang kemudian langsung ditangkapnya.
"Ini Den, sepatunya", Mbak Retno datang membawakan sepatu, Arfin pun segera memakainya.
"Mbak, tolong bukakan pintu gerbang", titahnya lagi.
"Nggih , Den", Mbak Retno segera melaksanakan.
"Ayok,,, tunggu apalagi,,, ", Arfin dan Uje pun segera menaiki mobil, setelah pintu gerbang dibukakan oleh Mbak Retno, Uje pun langsung melajukan mobil.
“Mau kemana kita Pak Bos?”, Uje menanyakan arah tujuan mereka.
“Ke rumah Om Aji dulu, di depan belok kiri”, ucapnya menunjukan arah.
“Eleuh ieuh, deket begini mah atuh gak usah naik mobil, Pak bos,, naik sandal juga cepet nyampe”, ucapnya saat sampai di depan rumah tersebut.
“Tidak usah banyak komentar”, Arfin kemudian turun dan masuk melewati pintu gerbang yang terlihat terbuka, dan ternyata Dinda baru saja keluar dari pintu rumahnya.
“Eh,, Om Arfin,,, kok tumben pagi- pagi udah ke sini,,, “,Sapa nya merasa heran.
“Iya Dinda,,, eng,, apa Naz datang ke sini?”, Arfin to the poin.
“Kak Nanaz… ?? enggak ada tuh Om,,, soalnya kami sekeluarga baru pulang jam dua pagi tadi, kemarin siang sepulang sekolah kita abis nengok Eyang Uti,, emangnya kenapa Om?”.
“Oh iya kalau gitu,,, mungkin dia lagi ke pasar sama Mbak Retno,,”, Arfin terpaksa berbohong agar Dinda tidak banyak bertanya lagi, “Om pergi dulu ya, Dinda”, ia pun segera pamit.
“Oh,, iya Om,,, “, ucapnya merasa aneh.
Arfin pun kembali masuk ke dalam mobil, ia merasa bingung harus mencari Naz kemana, karena sepengetahuannya Naz tidak kenal dengan siapa pun kecuali dengan Tante Ina dan anak- anaknya.
“Kita mau kemana lagi, Pak Bos?”, tanya Uje lagi.
“Ke kampus”.
“Kampus mana atuh Pak,,, kan di Surabaya teh ada banyak kampus”, Uje minta diperjelas.
“ITS,, tahu kan”.
“Siap 86…”, Uje pun kembali melajukan mobil nya.
Arfin mengambil ponselnya lalu menghubungi Lutfi untuk minta tolong melacak kartu ATM Naz, siapa tahu ia menggunakannya untuk membeli sesuatu di luar sana. Ia pun meminta Lutfi mencari tahu data keberangkatan di bandara dan di stasiun kereta api, mungkin Naz berniat pulang ke Jakarta pikirnya.
Ia kembali memasukan ponselnya ke dalam tas, dan ia melihat ponsel milik Naz, lalu diambilnya dari dalam tas. Ia membuka file galeri untuk melihat- lihat foto istrinya, ada dua foto yang mencampakkannya begitu cantik dengan senyuman manis di bibirnya, yang ia kira foto itu diambil saat di kampus.
Ia memandangi foto itu dengan tatapan sendu,
“Kamu dimana , sayang?,,, apa kamu baik- baik saja?? maafkan aku,,,”, lirihnya dalam hati.
Saat ia menggeser untuk melihat foto yang lain, di sana ada foto Naz yang sedang berdua dengan temannya, yang ia yakini itu adalah teman baru nya. Tiba- tiba ia teringat dengan teman baru yang pernah diceritakan oleh Naz, yang bernama Kristina. Ia pun segera mencari nomor kontak temannya itu.
__ADS_1
Arfin yang sudah menemukan nomor kontak Kristina, kemudian menghubungi nomor tersebut.
Tuuut ,,, Tuuuut,,,, itulah nada sambung yang terdengar, namun setelah ia berpikir lagi, ia langsung membatalkan sambungan telponnya.
“Bisa saja dia berbohong kalau aku langsung menanyakan Naz”, gumam nya dalam hati.
Ia pun memutuskan untuk mengirim pesan saja dan berpura- pura menjadi Naz, namun baru saja ia membuka aplikasi WhatsApp yang ada di ponsel Naz, tiba- tiba ada yang mengirimi nya pesan, yang tidak lain dari nomor kontak yang tadi di miscall- nya. Arfin langsung membuka pesan itu.
Kristina
“Kok cumi ?”
“Ada apa bumil?”
“Kangen ya sama akyu?”
“Baru juga gak ketemu sehari,,, hahaha”
Naz
“Dimana?”
Kristina
“Di rumah lah,,, “
“kan kegiatan ospek udah selesai jumat kemarin”
“Perkuliahan mulainya minggu depan ya jangan salah”
“Kalau hari senin lusa mulai kontrak sks dulu”
Naz
“Shareloc , sekarang !!”
Kristina
“Hah,, mau ke rumah ku?”
Naz
“Iya”
Kristina
“Eh busyet sepagi ini?”
Naz
“Ada yang mau dibicarakan”
Kristina
“Oke deh”
“Ternyata benar ya,, bumil itu suka aneh- anaeh,,, hahaha”
Kristina pun mengirimkan lokasi tempat tinggalnya.
“Kita ke tempat ini”, Arfin menunjukan peta lokasi yang dikirimkan oleh Kristina pada Uje,, dan ia pun meletakan ponsel Naz pada tempat khusus ponsel yang ia pasang di dashboard mobilnya.
“Siap Pak…”, Uje pun mendengarkan arahan dari suara penunjuk jalan dari google maps tersebut.
Arfin yang menyadari dari percakapan Kristina bahwa Naz tidak sedang bersamanya, tetap saja berniat mendatangi Kristina di kediamannya, dengan berharap mungkin ia bisa mengetahui informasi tentang keberadaan Naz.
Sepanjang perjalanan ia hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk antara mengkhawatirkan istrinya, bingung harus mencarinya kemana karena ia masih baru tinggal di Surabaya dan belum memiliki banyak kenalan, ditambah Naz meninggalkan ponselnya sehingga menyulitkannya untuk melacak keberadaan Naz. Ia terus mengerutuki kebodohannya yang membuatnya sampai hati menyakiti perasaan istri yang sangat dicintainya itu.
“Anda telah sampai di tempat tujuan anda yang berada di sebelah kiri”, begitulah suara sang petunjuk arah dari google maps.
“Pak,, kata neng google kita teh sudah sampai ini, rumah yang sebelah kiri katanya teh”, Uje memberitahukan sang majikannya yang nampak tersentak membuyarkan lamunannya.
Arfin kemudian turun dari mobilnya, sedangkan Uje seperti sebelumnya, berdiam diri di dalam mobil layaknya sopir pada umumnya. Arfin memasuki pintu pagar besi yang nampak tidak di kunci itu, ia bejalan menuju teras depan rumah temannya Naz.
Sesampainya di depan pintu, ia langsung memencet bel rumah tersebut.
Ting nong,,,, ting nong,,,,,
Tak lama ada yang membukakan pintu, yang tak lain adalah Kristina sendiri.
Ceklek …..
Kristina nampak terkejut melihat pria tampan yang berdiri di hadapannya,
“Ebusyet,,, ganteng amat ya”, gumamnya dalam hati dengan ekspresi wajah kagum tanpa mengedipkan matanya.
“Selamat pagi, Nona Kristina”, Arfin menyapa.
“Eh,,, se selamat pagi,,, maaf dengan siapa ya? kok tahu nama saya?”, ia nampak salah tingkah.
__ADS_1
“Saya Arfin, suaminya Rheanazwa teman kampus anda”, Arfin memperkenalkan diri.
Kristina kembali terkejut, karena sebelumnya ia hanya melihat Arfin sepintas saat mengantarkan Naz ke kampus, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke luar,
“Naz nya mana? tadi dia bilang mau ke sini?”, ia mempertanyakan keberadaan teman barunya itu.
“Justru saya ke sini untuk mencai Naz…”, Arfin mengutarakan maksud kedatangannya.
“Apa?? Memangnya Naz kemana? Ehh,,, tapi tadi dia bilang mau ke sini kok,, udah aku shareloc malah,,, Mas nya tunggu saja,, mungkin sebentar lagi Naz datang,,,”, ia mengira yang chating dengan nya adalah Naz.
“Maaf Krisrtina,, tadi yang menghubungi itu saya dengan menggunakan nomor Naz, karena dia pergi tanpa membawa ponselnya, makanya saya tidak bisa melacak keberadaannya”, Arfin menjelaskan.
“Apa??”, Kristina kembali terkejut.
“Jika dia tidak ke sini,,?? apa dia memiliki teman lain selain kamu di kampus?", tanya Arfin.
“Emmm,,, enggak deh kayaknya,, soalnya saat di kampus, kalau kemana-mana kita selalu berdua,,, “, ucapnya sambil mengingat- ingat, “Lagian gak mungkin kan kalau dia menemui Kak Bisma”, ucapnya ragu.
“Apa?? Siapa tadi? Bisma?”, Arfin terkejut mendengar nama lelaki yang membuatnya cemburu itu.
“Iya,,, Kak Bisma,,, Mas kenal?”.
“Apa di kampus Naz akrab dengan si Bisma itu?”,Arfin pun bukannya menjawab, malah balik bertanya.
“Akrab dari hongkong, Mas,, orang Naz menghindar terus dari Kak Bisma, bukan hanya itu sih,, Naz sangat menjaga jarak dengan teman laki- laki, walaupun kemarin kita sempat dibagi grup, dia gak begitu suka berinteraksi dengan laki- laki dan lebih memilih diam saja, kalau dimintai pendapat baru dia bicara, dan itu pun tanpa bertatapan dengan lawan bicaranya. Saya pikir Mas ini suami yang galak, yang melarangnya ini itu ,,hehehe,,, tapi Naz bilang memang sejak SMP dia membatasi dirinya untuk tidak begaul dengan laki- laki, kecuali sama yang namanya Andes sama Kambing,,, ehh siapa ya,,,? Embe kalau gak salah”, Kristina menjelaskan panjang lebar tentang apa yang ia ketahui tentang Naz yang selama 5 hari ini sering bersamanya di kampus.
Arfin tertegun mendengar pemaparan Kristina tentang Naz yang begitu menjaga dirinya dari laki- laki lain, sedangkan ia sempat mengira Naz berselingkuh dan kecentilan pada laki- laki lain, yang pastinya tuduhan itu sangat menyakitkkan bagi Naz. Dan itu semakin menambah rasa berslahnya pada istrinya.
“Terimakasih Kristina,,, maaf sudah mengganggu waktu nya,, saya permisi”, Arfin kemudian beranjak pergi dengan melangkah gontai menuju tempat Uje memarkirkan mobilnya.
Kristina yang nampak bingung hanya diam dengan mulut yang ternganga saat Arfin melangkah pergi begitu saja setelah pamit.
Arfin kini tengah berada di dalam mobil, saat ia mengedarkan pandangannya, ia baru sadar jika tempet itu tidak asing baginya, yang ternyata di sana merupakan komplek perumahan tempat tinggal nya dulu sebelum memiliki rumah sendiri.
Ia pun teringat dengan rumah milik orang tuanya itu. Ia membuka laci dashboard mobilnya, dan beruntung ia menemukan kunci rumah lengkap dengan kunci gembok gerbangnya yang dulu biasa ia letakan di laci tersebut, selain Mami nya ia pun memiliki kunci tersebut, juga Mbak Jumin yang selalu ditugaskan memberihkan rumah itu setiap dua hari sekali oleh Mami nya.
“Uje,, jalankan mobilnya, lurus, dan di bunderan sana belok ke kanan”, ia memberi petunjuk jalan untuk ke tempat pencarian selanjutnya.
“Semoga Naz ada di sana,, “,gumamnya dalam hati penuh harap.
Sesampainya di depan pintu gerbang, Arfin melihat gerbangnya masih di gembok dan itu membuatnya berpikir tak ada seorang pun disana. Namun ia masih tetap berharap bisa menemukan Naz di dalam rumah itu. Ia pun membuka kunci gemboknya, ia berjalan dengan penuh harap sambil memegang kunci di tangannya.
Dibukalah pintu utama rumah itu, ia pun langsung masuk.
“Naz,,, sayang,,, “, Arfin memanggil nama istrinya sambil terus berjalan dan mengedarkan pandangan ke setiap penjuru bagian dalam rumah itu. Ia berjalan hingga ke dapur, namun tak menemukan orang yang dia cari. Ia pun naik ke lantai dua dan masuk ke setiap kamar yang ada di sana, namun tetap tak menemukannya.
Arfin kembali turun ke lantai bawah, ia mencari di kamar Mami nya, kamar tamu, dan yang terakhir ia masuk ke kamar yang dulu pernah ditempatinya. Ia masih tak menemukan keberadaan istrinya itu, kamarnya masih terlihat rapi, namun terasa sejuk, mungkin karena masih pagi dan di luar pun terasa sangat dingin.
Arfin menerima panggilan dari Lutfi yang memberitahukan bahwa ATM yang Naz miliki terakhir digunakan dua hari yang lalu, dan dari data penumpang bandara maupun stasiun kereta api yang informasinya didapatkan dari temannya, tidak menemukan nama Rheanazwa, baik di jadwal keberangkatan kemarin sampai hari ini.
Arfin menutup panggilan telponya, ia duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya pada ranjang yang ada di kamar tersebut, ia benar- benar merasa putus asa dan tidak tahu lagi harus mencari Naz kemana.
“Kamu dimana, sayang,,,?? Kamu pergi kemana??.. dimana aku bisa menemukan mu?,, maafkan aku,,, maafkan aku ,, aku benar- benar menyesal,,,”, lirihnya penuh penyesalan.
“Kembalilah,,, jangan menghukum ku seperti ini,,, kamu boleh memukulku, atau pun menghajar ku,,, tapi jangan seperti ini,,, aku benar- benar minta maaf,,, sayang,,,, aku benar- benar menyesal…“, Arfin tak kuasa menahan air matanya yang sudah tak terbendung lagi.
Ia duduk memeluk kedua lututnya dan menundukkan kepalanya, tangisnya pun tumpah seketika,, rasa sesal, sakit, dan takut kini tengah menerpa dirinya. Ia marah pada dirinya sendiri yang tak mampu mengendalikan amarahnya, raut wajah sedih Naz terus terbayang di benaknya.
Setelah beberapa saat, Arfin menghapus air matanya, ia pun bangkit dan beranjak pergi untuk melanjutkan pencarian istrinya lagi.
Ia masih penasaran lalu mengajak Uje pergi ke kampus. Sesampainya di sana ia memperlihatkan foto Naz pada setiap orang yang ditemuinya yang mungkin pernah melihatnya, namun hasilnya nihil.
Ia pergi ke kantornya, mungkin saja Naz bersembunyi di kantornya, namun ia pun tetap tak membuahkan hasil. Ia pergi ke rumah Dilara, juga Lutfi, sama hal nya tak menemukan keberadaan Naz. Ia sudah sangat putus asa, karena tak kunjung menemukan Naz, satu hal yang disadari nya, ternyata ia tak secerdik istrinya.
Ia teringat dengan tempat tinggal kakak ipar nya Ruby yang dulu pernah disinggahi Naz, yang lokasinya dekat dengan pembangunan proyeknya dulu. Ia pun pergi ke sana siapa tahu bisa menemukan Naz, namun ternyata tetap nihil.
Ia tidak tahu lagi harus mecari Naz kemana, ia semakin mengkhawatirkan keadaan istrinya.
“Pak Bos,, makan dulu atuh,,, ini teh udah sore,,, dari pagi kelihatannya Pak Bos belum makan ya? saya aja udah 3x makan”, Uje prihatin melihat majikannya.
“Bagaimana aku bisa makan,, sedangkan aku tidak tahu apakah istriku yang entah dimana keberadaannya itu sudah makan atau belum,,”, ucapnya sedih.
“Nanti teh Pak Bos bisa sakit,, atuh gimana mau nyari Bu Bos,, kalau sakit mah,,, ini tadi saya teh beli roti sama air mineral,, Pak Bos makan ini saja dulu lumayan buat ganjal,,, atau kita teh mau ke warteg atau restoran gitu, atau gimana?”, Uje terus membujuk Arfin.
Arfin akhirnya mengambil roti yang diberikan Uje, “Terimakasih, ini saja cukup”, ucapnya lalu membuka bungkusan roti dan memakannya.
"Jadi sekarang kita teh mau kemana lagi?”, tanya Uje.
“Kita pulang saja,, siapa tahu Naz sudah pulang ke rumah,,, “, Ucapnya penuh harap.
“Siap”. Uje kemudian melajukan kembali mobilnya menuju arah pulang.
Sesampainya di depan pintu gerbang, Uje menyalakan klakson, tak lama Mbak Retno datang dan membukakan pintu gerbang, setelah memasukan mobil, Uje pun pamit pulang.
Arfin turun dari mobil.
"Mbak, Naz sudah pulang? ", tanyanya penuh harap.
"Belum, Den ...tapi _____", belum selesai Mbak Retno bicara, Arfin langsung masuk ke dalam rumah dengan raut wajah lesu sambil berjalan dengan langkah gontai dan menundukkan kepalanya.
Saat ia sampai di ruang tengah, ia tak menyadari ada orang disana yang menyambut kedatangannya.
"Dimana Naz ??", terdengar suara bariton yang mengejutkan Arfin, sontak membuatnya menghentikan langkahnya lalu menegakkan kepalanya menatap orang yang suaranya tidak asing lagi baginya, yang ternyata orang itu memberinya tatapan tajam.
__ADS_1
-------------- TBC -----------------
****************************