Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Kiara Sekutu Arfin


__ADS_3

Cuaca hari ini begitu cerah seolah menggambarkan perasaan Naz yang tengah diliputi rasa bahagia, sepanjang perjalanan Naz nampak memancarkan aura bahagianya terlihat sedang membayangkan sesuatu sambil senyam- senyum sendiri. Dandy yang sesekali melirik adiknya itu pun merasa ada yang salah dengannya, “Dek, kamu baik- baik saja kan?? Ngeri Kakak lihatnya..”.


“Aku baik- baik saja kok,,”, jawab Naz sambil tersenyum sumringah. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, Dandy langsung memarkirkan mobilnya lalu mereka pun memasuki mall dan menuju tempat janjian Dandy bersama teman- temannya.


“ Nih bukunya,, kampret dah gara- gara tuh buku gue musti balik lagi ke rumah”, Ucap Dandy kesal sambil menyodorkan buku itu pada temannya.


“Hahaha salah lo sendiri pakai ketinggalan segala, udah mulai pikun ya lo”, Nadine mengejek dengan santainya,,” Eh siapa itu di belakang lo?? Kita kan minta lo bawa buku kenangan, lah kok bawa cewek juga,, cewek baru lo ya,,gue bilangin Arini loh”, Nadine malah menggoda Dandy deman menakutinya.


“Sembarangan lo,, ini tuh adik bontot gue, Rheanazwa,”, Dandy langsung nyolot. “Dek sini kenalin ini teman- teman SMA Kakak dulu”, Dandy memperkenalkan Naz pada ketiga temannya dan Naz pun bersalaman dengan mereka sambil memperkenalkan diri.


“Eh,, ada si cantik,,, tumben ngintilin Dandy”, Evan yang baru kembali dari toilet langsung menyambut Naz, “Ayo kita duduk di kursi sana aja yuk, di sini lagi pada meeting berisik”, Evan mengajak Naz ke meja yang berlainan dan agak jauh dengan meja teman- temannya.


“Udah Dek, kamu duduk di sana aja sama Evan, dia mah variasi doang disini juga, malesan meeting kayak gini, takutnya kamu juga malah bete di sini”, ucapan Dandy seolah memberikan angin segar pada keduanya,,”Awas ya Van, lo jangan macem- macem”, Dandy mengancam dengan menunjukan bogem nya, dan ia pun kembali membicarakan soal rencana reuni bersama ketiga temannya itu, sedangkan Naz bejalan bersama Evan melewati beberapa meja dan duduk di bagian pojok. Mau mojok nih yee.


“Emm,, Bang An,,, ehh Bang Evan,, apa kabar?”. Tanya Naz sambil tersenyum.


“Ya seperti yang kamu lihat Naz, aku masih baik- baik saja tanpa kekurangan suatu apa pun, apalagi ada kamu di sini “, Selalu memberi jawaban nyeleneh ujung-ujungnya.


“Hehehe,,, “ Naz menunjukkan senyum yang terpaksa, “Gombal banget sih dia, masa iya Bang Anas kayak gini, sabar- sabar,,, mari coba test dia”, Naz menggerutu dalam hati.” Oh iya Bang, waktu itu kan kita ketemu di danau ya,, em Abang sejak kapan suka ke danau itu”, Naz memulai penyelidikannya.


“ Buat apa sih bahas itu cantik, mendingan bahas soal kita aja”, Ucap Evan mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Ih jawab dulu kenapa sih”, Naz memaksa.


Evan menghela nafas kasar, ”Iya iya baiklah,, sejak SMA “, Evan menjawab dengan malas.


“Oh gitu,, emm katanya Bang Evan pernah kuliah di Amerika ya,, di kampus apa??”, Penyelidikan tahap kedua.


“Harvard Univercity”, Jawabnya singkat.


“Oh di sana ya,,,”, ucap Naz sambil tersenyum,,” Emm,, kalo foto ini Abang kenal?”, Naz menunjukkan foto saat dia masih SD yang gendut dan chubby.


Evan memperhatikan baik- baik foto di layar ponsel Naz itu mengerutkan dahinya seolah- olah sedang mengingat sesuatu “ Itu kan,,,,,”, belum selesai Evan menjawab terdengar suara teriakan Nadine memanggil nama seseorang dan membuat Naz beserta Evan memandang ke arah orang itu.


“Arfin sini,,,”, teriak Nadine sambil melambaikan tangannya dan Arfin pun menghampiri meja mereka yang tengah meeting dan disambut hangat oleh Nadine, mereka pun bersalaman dan Nadine langsung nyosor cipika- cipiki sedangkan Arfin tidak sempat mengelak.


“Iiihh,, apaan sih tuh orang maen nyosor- nyosor aja”, Naz yang melihat pemandangan itu nampak kesal dan mengumpat dalam hatinya.


“Hmmm,,ckck...si Nadine masih aja berusaha deketin Arfin dari semenjak SMA”, Evan bicara dengan santainya sementara Naz yang mendengar Evan bicara seperti itu membuatnya semakin kesal apalagi Arfin duduk di kursi sebelahnya Nadine beuh panas membara. “Oh ya Naz balik lagi ke pembahasan tadi,, tadi itu kan foto….”.


“ Gak usah dibahas Bang, lupakan saja”, Naz kembali bicara dengan nada juteknya, “Aku haus mau pesan minuman dulu”, Naz berdiri hendak beranjak pergi untuk memesan minuman kembali di tarik oleh Evan.


“Mau kemana cantik ?? kalau mau pesan tinggal angkat tangan aja panggil pelayannya, gak usah repot- repot ke sana deh, ini kan bukan warteg ,,ayo duduk lagi”, ucap Evan lalu mengangkat tangannya memanggil pelayan dan Naz pun duduk kembali, saat pelayan datang Naz pun memesan kentang goreng, dua botol air mineral beserta jus alpukat sedangkan Evan memesan frozen cappuccino.


Karena Naz duduk menghadap ke arah meja meeting tersebut, Naz bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di sana, termasuk Nadine yang mepet terus pada Arfin yang nampak dari samping walaupun Arfin terus mengelak, dan teman- temannya yang lain pun sesekali menggoda Arfin dan Nadine. Tak lama pesanan Naz dan Evan pun datang, Naz langsung membuka tutup botol air mineralnya lalu meminumnya hingga habis satu botol dalam sekali teguk,, ” Astaga Naz,, kamu ko cantik- cantik barbar gitu minumnya kayak unta ihh “, Evan kaget melihatnya malah mengejek dan tertawa gemas melihatnya.


“Kan tadi aku udah bilang haus banget”, Naz menjawab dengan penuh rasa soda dari mulutnya padahal yang ia minum hanyalah air mineral.

__ADS_1


“ Kamu kenapa lihat ke sana terus? Mau gabung sama mereka?”, Evan rupanya benar- benar memperhatikan Naz sedari tadi yang terus memandang ke meja teman- temannya itu.


“ Eng,,, enggak siapa juga yang melihat ke sana, orang aku lagi memikirkan sesuatu”, Naz nampak gelagapan menjawab pertanyaan Evan dan malah menyangkal nya.


“Mikirin apa sih,, Abang kan ada di sini,, katanya kan belum punya pacar,, gimana kalau Abang daftar jadi calon pacar nya kamu?”, Evan lebih gentle ini mah di banding Arfin hadeuh gaswat.


“Busyet ni orang pede banget,,, masa iya Bang Anas kayak begini ??,, Astaga kan aku lagi menyelidiki hal itu kenapa fokus jadi teralihkan begini, dasar ogeb kau Naz,,,”, Naz menggerutu dalam hati lalu menepuk jidatnya.


“Hei,, kok bukannya jawab malah bengong sih?”, Evan protes.


“Ap apa?? , Jawab apaan Bang ? Emang Abang ngomong apa tadi aku gak denger?..”, ucap Naz pura-pura.


“Katanya kamu belum punya pacar, boleh gak Abang daftar jadi calon pacar Naz yang cantik ini?”, Evan mengulang kembali pertanyaannya.


“Hah,,, hehe,, Bang aku kan masih sekolah, kata Bunda belum boleh pacaran sebelum lulus sekolah”, Naz mencari alasan.


“Ya kan Abang bilang jadi calon pacar bukan jadi pacar jadi bisa PDKT dulu gitu, yak kan”, Evan tidak mudah menyerah begitu saja, Naz hanya bisa nyengir karena salah tingkah di tatap oleh Evan.


Saat Naz membuang pandangan ke arah orang- orang yang sedang meeting, matanya beradu pandang dengan Arfin yang nampak terkejut melihat keberadaan Naz yang sedang duduk satu meja dengan Evan. Arfin pun bangkit dari duduknya dan Nadine yang melihatnya langsung ikut berdiri, saat Arfin akan melangkah Nadine memegang lengan Arfin dan bergelayut manja, Naz pun langsung berdiri, " Maaf Bang aku permisi “, Naz langsung melangkahkan kakinya dan berjalan dengan cepat bahkan melewati Arfin dan Nadine, lalu ia keluar dari tempat tersebut dengan perasaan kesal yang tengah memuncak di kepalanya. “Dasar menyebalkan, aku benci aku benci”, hingga tak terasa Naz sudah berada di luar mall dan ia pun menyegat sebuah taksi dan menaikinya kemudian mengatakan alamat tujuannya.


Setelah beberapa saat Naz pun sampai di depan pintu gerbang, dan ia pun turun dari taksi tersebut setelah membayar argonya, kemudian Naz membuka gerbangnya dan masuk ke halaman rumah tersebut. Ting nung ,,,,Naz menekan bel yang berada di samping pintu rumah tersebut dan setelah dua kali menekan bel kemudian ada yang membuka pintu, Naz langsung memeluknya. “Kiara,,,huaaaaa”, Akhirnya tangisan Naz tumpah setelah menahan kekesalannya sejak tadi.


“Kenapa lo Naz,, ada yang nyakitin lo,, bilang sama gue siapa orangnya?”, Kiara yang kaget langsung bertanya, tapi bukannya menjawab Naz malah semakin kencang nangisnya, “Aduhh gimana inih”, Kiara nampak bingung,,”Udah yuk masuk,, jangan nangis di sini malu di lihatin orang”, Kiara melepaskan pelukan Naz dan mengajaknya masuk ke kamar. Sesampainya di kamar Naz langsung tengkurap di kasur Kiara dan melanjutkan tangisannya membenamkan wajah ke bantal.


Kiara menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu, lalu ia keluar kamar untuk beberapa saat lalu ia kembali dengan membawa nampan berisi cemilan dan air minum dan disimpan lah di atas meja belajarnya. “Naz, udah dong,, itu bantal gue kayaknya udah basah sama air mata dan ingus lo ih,, jijay tau nggak,,”, Begitulah cara Kiara untuk menghentikan tangisan Naz. Lalu Naz pun bangun dengan menampakkan wajah yang sangat berantakan tentunya dan membuat Kiara menertawakannya, “Anjayy,, puteri buruk rupa bangkit dari hiatus,, hahaha”.


“Nih minum dulu biar tenang”, Kiara menyodorkan segelas air minum pada Naz dan langsung di terima lalu diminumnya hingga habis dan yang tersisa hanya gelasnya saja. “Dasar onta kesurupan lo, hahaha”, Kiara menyimpan kembali gelasnya ke atas meja lalu duduk di sebelah Naz. “Lo kenapa sih bisa sampe kayak gini, Naz,,??”, Kiara mulai bertanya karena melihat Naz yang sudah tenang.


“Ternyata Ruby bener Ra, kalo gue suka sama Kak Arfin,,,,”, Naz memulai curhatannya dengan nada manja di sela sesenggukan nya.


“Whatt….?? Seriusan lo, seorang Naz jatuh cinta??”, Kiara terkejut dengan apa yang ia dengar.


“Apaan sih lo,, gue bilang suka bukan cinta ihh”, Naz memprotes.


“ Yaelah sama aja kali beda- beda tipis,, suka itu kan menuju cinta Naz,,,eh tapi kok bisa sih lo suka sama Kak Arfin”, Kiara mulai menyelidik.


“Gue juga gak tau awalnya gimana, dia tuh baik orangnya, perhatian, dan gue ngerasa nyaman aja gitu sama dia, bahkan gue udah beberapa kali nangis di depannya yang gak pernah gue lakuin depan orang lain dan dia pun selalu mampu menenangkan gue, dia selalu ada buat gue pas gue sedih pas gue disakitin orang dan saat gue ngerasa ketakutan, bahkan dia rela makan makanan yang udah gue buat sampe dia masuk rumah sakit gara- gara alergi nya kambuh akibat makanan itu. Awalnya sih gue nganggep dia sama aja kayak gue ke Kak Dandy gitu, karena dia pernah bilang alasan dia perhatian dan baik ke gue karena gue ini adiknya Kak Dandy sahabatnya,, tapi lama kelamaan perasaan aneh itu muncul Ra,, dan gue gak suka kalo Kak Arfin deket- deket sama cewek lain, gue marah lihat itu Ra,, gue gak rela”, Naz menjelaskan panjang lebar sampai mengeluarkan rengekan manja.


“Cemburu itu namanya Naz”, Kiara menyimpulkan dengan santainya.


“Iya gue tahu gak usah di perjelas juga kali”, Naz bicara ketus karena sempat malu mengakuinya.


“Terus kenapa lo tadi nangis gitu ?? apa jangan- jangan lo udah nyatain cinta lo sama Kak Arfin terus dia nolak cinta lo gitu?”, Kiara menebak- nebak.


Bughh,, Naz memukul Kiara dengan bantal “ Lo pikir gue cewek apaan nyatain cinta duluan ke cowok, gue masih punya harga diri kali “, Naz pun menjadi sewot .


“Santuy atuh neng,,,hahaha…terus apa dong yang menyebabkan lo nangis kaya tadi?”, Kiara kembali mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


“Gue kesel Ra, lihat Kak Arfin deket sama temen sekolahnya tadi di mall yang katanya tuh cewek ngejar- ngejar Kak Arfin saat masih SMA dulu,, dan tadi tuh cewek mepet- mepet terus,, eh Kak Arfin malah diem bae”. Naz menggerutu lalu memonyongkon bibirnya.


“Hahaha,,, sumpah ya muka lo lucu banget kalo lagi diliputi rasa cemburu gitu, sayang banget Ruby sama Andes gak ada di sini melihat secara live streaming,, bisa abis lo diledekin mereka”, Kiara malah semakin menertawakannya.


“Lo tuh ya, malah ngetawain gue mulu bukannya menghibur”, ucap Naz protes.


“Iya iya deh,,, sory sory,, uluh cup cup cup Naz cantik jangan bersedih nanti dibeliin permen sama coklat sekarung goni ya”, Kiara malah menggoda Naz.


“Gak lucu lo,,, dan lo tahu gak Ra, gue udah nemuin Kak Anas yang selama ini gue tunggu kedatangannya”, Naz pun menceritakan soal penemuan Anas.


“Apa,,,?? Makhluk itu beneran ada Naz?”, Kiara kembali dikejutkan.


“Iya,, dan yang lebih parah ternyata Kak Anas itu adalah Bang Evan…”, ucap Naz.


“What,,,? Bang Evan yang waktu itu nganterin kita makan di Korean food yang lo bilang playboy itu?”, Terkejut kesekian kalinya, “ Kebanyakan terkejut lama- lama bisa jantungan gue Naz”.


“Iya”, Naz menjawab dengan singkat.


“ Ah gak mungkin Naz,, kok kayaknya orangnya berbanding terbalik dengan Kak Anas yang pernah lo ceritain ke kita,, dari ngomongnya aja nyeleneh gitu gak ada bijak- bijaknya ahh,, masa iya sih dia,,??,,ahh ga percaya gue”, Kiara yang mengetahui cerita soal Anas pun merasa tidak percaya.


“Gue juga awalnya gak percaya Ra,, tapi gue nemuin beberapa bukti, bahkan dia juga memiliki be smile yang persis sama punya gue dan dia pun bilang kalau itu hanya ada dua buah saja dibuat khusus oleh bokapnya untuk dia dan saudaranya. Terus dia kuliah di Amerika di Harvard University, bahkan beberapa hari sebelum berangkat ia pun mengalami kecelakaan, di tambah lagi Anas itu adalah nama singkatan dari nama aslinya Arsyad Nervan Akbar Syah”, Naz menjelaskan secara rinci tentang penemuannya dan itu membuat mulut Kiara menganga karena tidak percaya.


“Oh My Lord,,, jadi itu beneran dia?? Terus gimana dong,, bukannya lo punya perasaan juga sama Kak Anas lo itu, makanya lo suka nolak semua cowok yang deketin lo, ya kan,, jangan lo pikir gue gak tahu”, Kiara orang yang cuek bebek dan tomboy ternyata sangat memahami Naz rupanya.


“Gue juga bingung Ra harus gimana,, di satu sisi gue sayang sama Kak Anas,, tapi di sisi lain gue suka sama Kak Arfin,, mereka suka neleponin gue lagi,,mana mereka bersahabat ,, argh,,,pusiing gue Ra ”, Naz mengacak- acak rambutnya.


“Menurut gue lo harus ambil keputusan memilih salah satu Naz, jangan lo ladenin dua- dua nya ntar dikira lo cewek apapun lagi”, Kiara memberi saran.


“Makanya gue pusing,,dan ada yang lebih parah lagi Ra,, tadi bang Evan bilang dia mau daftar jadi calon pacar gue”, curhat besar- besaran ini mah judulnya.


“Anjayy,, gercep banget tuh orang,, masa baru ketahuan dia Kak Anas langsung nembak lo gitu aja?”, Kiara menggeleng- gelengkan kepalanya, “Tapi Naz, kalo menurut gue ya Kak Arfin tuh lebih terpampang nyata buat lo, maksudnya dia ngasih perhatian dan baik sama lo bahkan bisa memberi rasa nyaman buat lo dalam kehidupan nyata, sedangkan Kak Anas lo itu cuman sahabat pena di dunia maya aja yang sekarang tiba- tiba muncul setelah ada orang yang mampu mengisi kekosongan hati lo. Rasanya tuh gak adil gitu, Kak Arfin orang yang beberapa bulan ini selalu deket dan ada buat lo, tiba- tiba Kak Anas yang baru datang dengan selonong boy nya minta lo jadi ceweknya. Naz lebih baik lo berfikir secara jernih dan dengerin apa kata hati lo, jangan sampai lo salah memilih, gue sebagai sahabat akan selalu mendukung apapun keputusan terbaik yang lo ambil, yang penting itu bisa buat lo bahagia”. Kiara bicara panjang lebar dengan tatapan seriusnya.


“Lo bener Ra,, makasih banyak ya,, lo emang sahabat terbaik gue”, Naz langsung memeluk sahabatnya itu.


" Tapi Naz,, kok gue lebih iyess ke Kak Arfin yaa", Ucap Kiara saat melepas pelukan Naz.


------------ TBC ------------


**********************


Wow,, Kiara yang cuek dan tomboy ternyata bisa bijak juga ya…


Siapa kiranya yang akan dipilih Naz yang terjebak diantara dua pilihan…???


Happy Reading😘😉


Jangan lupa tinggalkan jejakmu 😉🥰

__ADS_1


Like, komen, rate bintang 5 dan vote....


__ADS_2