Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Mual Muntah Berjama'ah


__ADS_3

Kehamilan seorang istri merupakan berita yang membahagiakan bagi setiap pasangan yang sudah menikah, apalagi bagi yang cukup lama menantikan kehadiran sang buah hati. Karena hal itu merupakan salah satu tujuan pernikahan, selain untuk mempersatukan hubungan dua insan yang saling mencintai juga untuk memperoleh keturunan. Dan inilah yang tengah dirasakan Arfin setelah melihat dua garis merah pada tespack yang ditunjukkan Naz kepada semua orang, terutama kepada Felisha yang telah membongkar rahasia yang selama ini disimpan oleh Arfin tentang penyakit impoten yang pernah dideritanya, di depan keluarga istrinya.


Saking bahagianya, Arfin langsung memeluk istrinya di depan semua orang yang sedang berkumpul di ruang tengah rumah Bunda. Ia tak hentinya terus mengucap terimakasih pada sang istri serta mengucap syukur hingga meneteskan air mata haru bahagia, karena usahanya siang malam menggauli istrinya akhirnya membuahkan hasil, dan ketakutannya selama ini akan tidak bisa memberikan keturunan sirna lah sudah.


“Terimakasih sayang,, terimakasih,,,,”, ucapnya kemudian mencium pucuk kepala istri yang tengah di peluknya itu.


“Alhamdulilah,,, Ya Allah… ternyata aku masih bisa memiliki keturunan”, ucapnya bersyukur dalam hati.


Naz hanya diam membisu dengan pikiran yang berkecamuk di kepalanya, entah karena bingung entah karena terkejut entah karena merasa tak percaya, bahkan ia tak membalas pelukan suaminya. Namun saat ia teringat Felisha masih berdiri di belakangnya ia segera memeluk erat suaminya. Naz melirikkan matanya pada keluarganya yang nampak terlihat memberinya senyum bahagia terutama orang tua Naz.


Arfin perlahan melepaskan pelukannya, senyum bahagia terus terukir di bibir manisnya, tangannya membelai rambut Naz kemudian ia mencium kening istrinya,


“Terimakasih sayang,,”, entah ini ucapan yang ke berapa kalinya yang dilontarkan oleh Arfin.


“Arfin,,, udah dong,, Mama juga pengen meluk bumil cantik ini”, Bu Rahmi yang ikut bahagia mendengar kehamilan Naz ingin memeluk putrinya, Arfin pun melepaskan Naz dan ia segera berpindah ke pelukan sang Mama.


“Selamat ya sayang,,, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu”, ucap beliau tersenyum bahagia sambil mengusap- usap punggung putri yang sedang dipeluknya itu.


Saat melihat Felisha yang berdiri di belakang Naz, Bu Rahmi melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap tajam pada Felisha,


“Kamu itu sebenarnya siapa? Kenapa tiba- tiba memfitnah menantu saya?”, Bu Rahmi bicara dengan ada ketus.


“Felisha,,, !!”, terdengar seseorang yang memanggil lalu berjalan menghampiri Felisha yang membuat semua orang heran dan bingung, kecuali Tante Ina.


“Kamu kok lama banget ke toilet nya?”, ucapnya lagi.


“Ina,,,”, Pak Rizal memberikan isyarat pada adik iparnya untuk membawa Mimih ke kamar atas agar beliau tidak melihat kejadian yang kurang mengenakan. Keempat kakak iparnya pun seolah paham dan menyadari bawasannya mereka tidak mungkin duduk manis menonton permasalahan yang terjadi di ruang tengah tersebut, sehingga mereka pamit meninggalkan ruangan itu. Ada yang pergi ke lantai dua, ada pula yang pergi ke halaman samping bersama anak- anak.


“Loh,, Arfin kok ada di sini?”, tanya beliau kaget saat Arfin yang membalikan tubuhnya dan melihat ke arahnya.


“Tante Priska ??”, Arfin pun sama terkejutnya.


“Priska,, Arfin itu teh menantu ku, yang menikah dengan putri bontot ku yang dulu sering kamu cubit pipinya kalau bertemu itu loh”, Bunda menjelaskan, kemudian beralih pada Arfin, “Loh kok kamu tahu ini teh Priska?”, tanya beliau.


“Oh,, jadi Rheanazwa sudah menikah? Dan menikahnya dengan Arfin??”, Bu Priska baru mengetahuinya.


“Iya,,,”, Bunda mengangguk.


“Ya jelas Arfin kenal sama aku, orang Hindayanti itu sahabatku semenjak kami SMP dulu, Mbak", Bu Priska menjelaskan.


“Oh pantesan atuh”, Bunda melihat situasi di ruang tengah itu nampak berbeda saat Bunda meninggalkannya tadi,


“Ini teh ada apa ya?”, Bunda merasa heran. “Oh iya,, kenalkan ini teh teman seperjuangan ku saat kami merintis butik bersama dulu, namanya Priska”, Bunda memperkenalkan temannya itu.


“Ini anak teman kamu tadi bikin ulah di sini, Nita”, ucap Bu Rahmi yang masih kesal.


“Bikin ulah apa Mbak?”, Bunda terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Bu Priska.


Naz mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Mama nya, saat beliau menoleh, Naz menggelengkan kepalanya. ”Udah Ma,, jangan memperpanjang masalah ini,,, ”, bisik Naz pada Mama nya, namun beliau kepalang kesal.


“Tadi dia menuduh menantu saya yang enggak- enggak,, maaf ya tadi anda bilang bersahabat dengan Hinda, tapi kok anak anda malah menuduh dan mempermalukan menantu saya yang merupakan anaknya Hinda di depan kami?”, Bu Rahmi melapor pada Bu Priska selaku ibu dari pembuat onar.


“Felisha,,,!! ”, Bu Priska menatap tajam pada putrinya yang kembali menganggu Arfin, “Kemarin kita sudah membicarakan hal ini dengan Hinda, kenapa kamu masih saja bandel,, ? ayok kita pulang”, beliau menarik tangan Felisha yang wajahnya masih nampak kesal dan marah.


“Saya benar- benar minta maaf karena anak saya sudah membuat keributan dan menganggu acara kalian,, sekali lagi mohon maaf,, kami permisi,,,, “, ucapnya merasa tidak enak hati dan malu, kemudian membawa Felisha pergi. “Mari Mbak Nita, Arfin, kami permisi, lain waktu saya main ke sini lagi,,,”, ucapnya lalu pergi.


“Iy iya Priska,,, “, Bunda hanya diam mematung mengedarkan padangan pada semua orang yang masih ada di ruangan itu,


“Sebenarnya ini teh ada apa sih?”.


“Naz hamil ,Nita…”, Bu Rahmi memberitakan.


“Apa,,,???”, Bunda terkejut mendengarnya.


“Iya,,,, tuh hasil tespack nya positif”, Bu Rahmi menunjuk tespack yang masih dipegang oleh Arfin, Bunda membekap mulutnya karena merasa terkejut dan tidak menyangka kalau putri bontotnya itu akan segera menjadi seorang ibu. Bunda langsung menghampiri Naz,


“Dek,, kamu teh beneran hamil?? Udah berapa minggu usia kandungannya?”, Bunda langsung melontarkan pertanyaan sedangkan yang bersangkutan nampak bingung.


“Dia belum tau Nita,, orang baru di tespack,,, dari tadi dia diam aja kayak orang bingung,, kayaknya masih shock…”, Bu Rahmi menjelaskan.


“Sini atuh,, ayok duduk dulu, Dek,, kamu jangan berdiri aja atuh nanti teh bisa pegal loh”, Bunda merangkul Naz dan membawanya melangkah untuk duduk di karpet. Bu Rahmi, Arfin, Pak Syarief dan Pak Rizal pun kembali duduk. Mereka seolah melupakan keributan yang dibuat oleh Felisha karena mendapat kabar gembira tentang kehamilan Naz.


“Dek,, kamu teh ngerasa pusing gak? Mual atau ngidam sesuatu gitu?”, Bunda kembali melontarkan pertanyaan.


“Eng,,, agak pusing Bunda”, Akhirnya Naz buka suara.


“Gimana kalau kita langsung ke rumah sakit aja menemui dokter kandungan untuk memeriksakan kandungan Naz”, Bu Rahmi memberi saran.


“Iya atuh Mbak,,, setuju pisan”, Bunda menyetujuinya.


“Tapi Bunda,, kepala ku rasanya pusing,, aku pengen istrahat aja”, Naz yang masih nampak bingung malah menolak.


“Yasudah,, atuh nanti saja kalau sudah gak pusing,, ayok Bunda antar ke kamar mu untuk beristirahat”, ajak Bunda.


Deg ,,,Naz tiba- tiba tertegun, semenjak kejadian itu Naz merasa trauma dengan kamarnya dan tak pernah menginjakan kakinya di kamar yang sejak kecil ia tempati itu. Arfin yang melihat raut wajah Naz paham betul apa yang dirasakannya.


“Bunda,,, lebih baik Naz istirahatnya di kamar tamu saja, biar aku yang antar..”, Arfin mengusulkan.


“Loh kenapa emang?? Semenjak kalian menikah Naz teh gak pernah tidur di kamarnya lagi, dia teh pasti kangen dengan kamarnya itu”, Bunda mempertanyakan.


”Iya Bunda,, tapi kan kamarnya di lantai dua, kasihan Naz kalau harus berjalan menaiki tangga”, Arfin memberi alasan.

__ADS_1


“Iya Nita,, orang yang sedang hamil muda kan gak boleh kecapek an”, Bu Rahmi mendukung usulan Arfin.


“Eh iya aduh kok saya teh bisa lupa,, hayu atuh Bunda antar ke kamar tamu ya”, Bunda mengajak Naz yang baru saja duduk beberapa menit yang lalu untuk bangkit lagi, beliau dan Bu Rahmi hendak mengantarkan Naz ke kamar. Namun saat Bu Rahmi melihat ke arah Raline yang nampak sedih lalu menundukkan kepalanya, sehingga Bu Rahmi mengurungkan niatnya untuk mengantarkan Naz.


“Al,, kamu mau nganter Naz ke kamar kan?”, Bu Rahmi seolah memberi perintah, padahal dia yang tak ingin ikut.


“Iya Ma…”, Arfin mengangguk kemudian ia pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Naz yang sebelumnya diapit oleh Mama dan Bunda nya. Ia tak tega melihat istrinya yang nampak pucat dan terus memijat kepalanya, ia pun menghampiri dan langsung menggendongnya ala bridal style.


“Eh,,, aku jalan aja A,, gak usah digendong gini,,, malu dilihatin semua orang ih... ”, Naz merasa tidak enak dilihat banyak orang.


“Udah gak apa- apa atuh Dek,, suami mu khawatir mungkin takutnya kamu pingsan sebelum sampai kamar,, udah yuk kita bawa bumil ini ke kamar, Ar”, mereka pun beranjak menuju kamar tamu yang dekat dengan ruang tamu.


Arfin menurunkan Naz dengan perlahan di atas tempat tidur, ia tak hentinya mengulas senyum pada istrinya yang kini duduk di atas tempat tidur sambil terus memijat kepalanya, ia pun duduk di samping kanan Naz.


“Sayang,, kepala mu masih pusing, hem?”, tanyanya penuh perhatian.


Naz mengangguk, “Aku belum makan apa- apa dari pagi", jawabnya.


“Astagfirullah,, Dek,, kamu teh kan tahu kalu kamu punya penyakit maag, kenapa atuh sampai melewatkan sarapan,, mana ini sudah jam setegah sebelas siang,,,”, Bunda yang duduk di samping kiri malah mengomel, lalu beralih pada Arfin,


“Kamu lagi Arfin,, seharusnya kamu teh sebagai suami memperhatikan istrimu, bukan dia aja yang harus menyiapkan sarapan atau makan siang ataupun makan malam untuk kamu,, tuh lihat istri kamu teh sampai pucat gitu, kan kasihan atuh anak Bunda sampai dibiarkan kelaparan begitu ”, Bunda pun mengomel pada menantunya.


Arfin tertegun, ia baru teringat jika tadi ia hanya makan sendiri dan seolah tidak memperdulikan Naz sudah sarapan atau belum, malah langsung menerkamnya begitu saja, padahal tadi ia sadar kalau istrinya menyiapkan dua buah sandwich, yang berarti untuknya dan untuk Naz juga.


“Dek kamu mau makan apa, sayang,,, biar Bunda masakin ya”, Bunda menawarkan.


“Kayaknya enak makan mie instan pakai telur, potongan timun, tomat dan cabe rawit,,, minumnya teh botol sosro “, ucap Naz yang masih memijat kepalanya sambil memejamkan matanya seolah ia tidak menyadari apa yang dikatakannya.


“Apa? Mie instan??”, Arfin dan Bunda terkejut mendengarnya,


“Sayang,, kamu kan gak suka makan mie instan dan gak pernah makan makanan gak sehat itu,,, jangan makan itu ya sayang,,, itu gak baik buat kesehatan mu dan calon anak kita”, Arfin langsung menentang keinginan Naz.


“Aku maunya itu,, kalau gak ada itu aku gak mau makan,, kepala ku pusing banget,, pengen makan yang pedas,,,”, ucap Naz yang masih memijat kepalanya.


Lain halnya dengan Arfin, Bunda yang awalnya terkejut, namun ia tersadar jika keinginan Naz itu merupakan ngidam nya orang hamil, “Yasudah kalau gitu mah Bunda bikinin ya,,, ”.


“Bunda,,, jangan lah itu kan makanan gak sehat”, Arfin tetap melarang.


“Afin,, kamu teh harus tahu kalau keinginan ibu hamil itu teh harus dituruti, apa pun itu meskipun itu teh hal gila sekalipun,,, itu teh namanya ngidam alias keinginan bawaan janin yang ada dalam kandungan istri mu“, Bunda memberitahukan Arfin.


“Tapi Bunda, itu kan gak bagus buat kesehatan”, Arfin tetap tidak menyetujuinya.


“Pilih mana,,,?? Nurutin keinginan istrimu atau nanti anak kamu ileran gara- gara keinginannya gak terlaksana??? Ihh amit- amit Bunda mah nya, masa punya cucu ganteng atau cantik tapi ileran, aduhhh,,, gelay atuh ihh” , Bunda bergidik.


“iihhh,,, kalian berisik banget sih,,, kepala aku pusing nih,,, ”, Naz nampak kesal.


"Sayang,, kamu boleh makan apapun,, tapi jangan itu ya", ucap Arfin.


“Tuh kan Ar,, Naz teh jadi nangis,, kamu sih melarang terus,, ibu hamil itu teh gak boleh sedih gak boleh stress,, nanti bisa berpengaruh sama janin nya,,,”, Bunda kembali nyerocos pada Arfin, kemudian beralih pada Naz,


“Udah atuh jangan nangis ya sayang,,, kalau kepala mu masih pusing Bunda minta ayah periksa kamu dulu atuh ya?”.


“Gak mau Bunda,, aku lapar,,,, huaaaaaaaaa”, Naz malah menangis semakin kencang layaknya anak kecil yang minta jajan terus gak dikasih- kasih uangnya.


“Iya,,,iya,,, atuh Bunda ke dapur sekarang ya,,, Arfin kamu mah temani Naz aja ya di sini”, Bunda bangkit dari tempat tidur.


“Sayang udah jangan nangis yaa,,, Kamu boleh kok makan mie instan,, udah jangan nangis ya”, Akhirnya Arfin mengizinkan.


“Bikinnya dua mangkuk,,, teh botol sosro nya yang dingin,,, hiks hiks”, ucap Naz lagi


“Sayang,,, satu mangkuk aja udah banyak kalorinya itu,,,, jangan dua mangkuk segala ah”, Arfin kembali melarang.


“Huaaaaaa,,,,,,, huaaaaaa”, Naz semakin menangis kencang.


“Iya iya iya,,, dua mangkuk sayang,,,, Arfin udah kamu tuh ih jangan banyak protes terus, itu teh maunya anak kamu,,, masih di dalam perut aja udah dilarang ini itu atuh aampuun,, apalagi kalau udah brojol,, jangan suka terlalu apik sama anak teh nantinya suka ririwit,,, udah ah bunda ke dapur dulu”, setelah nyerocos Bunda pun beranjak pergi.


Baru saja keluar kamar, Bunda sudah ditodong dengan berbagai pertanyaan oleh Bu Rahmi, Pak Rizal dan Pak Syarief yang mendengar suara tangisan Naz. Bunda pun menjelaskan penyebab Naz menangis, dan mereka juga tekejut tiba- tiba Naz minta mie instan, karena mereka tahu Naz tidak suka makan itu. Bunda lalu pergi ke dapur untuk membuatkan makanan yang diinginkan Naz.


Hardi yang baru datang justru malah diberi tugas oleh Mama nya untuk membeli teh botol sosro yang dingin ke mini market dan mengatakan kalau Naz sedang ngidam, maka ia pun segera melaksanakan titah sang Mama.


Bu Rahmi kemudian pergi ke dapur untuk membantu Bunda, sedangkan Pak Rizal dan Pak Syarief masuk ke kamar tempat Naz beristirahat.


Keduanya langsung menghampiri Naz yang sedang menangis di pelukan suaminya sambil duduk di tepat tidur, Arfin terus mengusap kepala istrinya untuk menenangkannya.


“Sayang,,, kamu kok nangis gitu,, Bunda dan Mama mu sedang membuat makanan yang kamu inginkan kok,,, “, ucap Pak Syarif.


“Kepala nya masih pusing katanya, Pa”, ucap Arfin memberitahukan.


“Pusing??,“ tanya Pak Syarief.


“Iya,, Pa”, Arfin mengangguk.


“Zal,, coba kamu periksa Naz,,, Mas takut dia kenapa- kenapa”, titah Pak Syarief yang nampak mengkhawatirkan Naz yang sejak di ruang tengah tadi terus memijat kepalanya.


Pak Rizal tersenyum mendengarnya, “Mas ini kan udah empat kali punya anak,, masa gak tahu sih,,, hal seperti ini tuh biasa terjadi pada wanita yang hamil muda,, pusing, mual , muntah,, itu normal kok Mas,,, tenang saja jangan khawatir,,,”, Psk Rizal memberi penjelasan.


Tak lama Bunda datang membawa nampan berisi semangkuk mie instan yang sesuai dengan pesanan Naz,, memakai telur, potongan timun dan cabe rawit. Bunda seera menghampiri Naz,


“Dek ,,, kok masih nangis sih?? Nih Bunda udah bikinin mie pesanan kamu, dimakan atuh ya”, Bunda kemudian duduk di pinggir tempat tidur sambil menyodorkan nampan yang ia bawa. Naz melepaskan diri dari pelukan suaminya dan merapi kan rambutnya yang berantakan.


“Kok satu mangkuk sih,, kan aku mintnya dua mangkuk,,,, teh botol sosro nya mana??”, tanya Naz sambil sesenggukan.

__ADS_1



“Ini teh baru satu sayang,, Mbak Rahmi lagi bikin yang satu lagi, ceunah pengen masakin juga buat kamu katanya,, kalau teh manis nya mah lagi di belii sama Hardi ke mini market”, Bunda menjelaskan.


“Mas,, sebaiknya kita keluar,,, mungkin setelah makan Naz mau istirahat,, gak baik juga buat mood nya kalau terlalu banyak orang di ruangan ini”, Ajak Pak Rizal pada sang kakak,, mereka pun kembali keluar dari kamar tersebut, dan tak lama Hardi pun datang dengan membawa kantong kresek putih yang berlabelkan nama sebuah mini market, berisi beberapa minuman. Ia langsung masuk ke dalam kamar, lalu memberikan kantong kesek itu pada Bunda.


“Astagfirullah Hardi,, ari kamu teh mau jualan? Ngapain ini teh beli teh dengan merek yang sama tapi beda- beda kemasan,,?? Orang yang mau minum nya aja Naz doang”, Bunda protes saat melihat isi kantong kresek tersebut.


“Antisipasi Bunda,, takutnya salah,, yasudah mending beli beberapa biar gak bolak- balik,,, hehehe”, ucapnya memberi alasan.



“Yasudah,,, atuh sok makan ya Dek,, nih minumnya sudah datang,, kamu mau yang mana?”, Bunda menyimpan minumnnya di atas meja dan minta Naz memilihnya, dan ternyata Naz memilih yang kemasan satu liter, Bunda pun membawakannya untuk Naz, akhirnya ia pun makan mie instan karena minumannya juga sudah ada.


Hardi menghampiri Arfin lalu menepuk pundaknya karena bangga, “Keren … udah mau jadi Papa Arfin nih,, selamat ya…”, ucapnya menyalami Arfin dan mereka berpelukan.


“Thanks kakak ipar tersayang,,, ", ucap Arfin dengan raut wajah bahagia.


“Pantesan aja semalam lo makan durian,, gue pikir lo ngelindur atau kerasukan setan mana gitu,,, ternyata karena adek gue hamil toh", Hardi seolah mendapat jawaban dari rasa herannya semalam.


“Gue aja aneh,, kenapa gue bisa makan durian segitu banyak, biasanya nyium baunya aja gue gak suka,,, padahal tiga hari yang lalu Naz yang merengek pengen durian”, Arfin pun merasa dirinya aneh.


“Itu teh tandanya kamu kena syndrome kehamilan simpatik, seperti yang dialami Arsen”, ucap Bunda yang ternyata memperhatikan percakapan dua sahabat itu.


Uuhukk uhukk…. Naz tersedak, Bunda kemudian memberikan Naz minum,


“Hati- hati atuh dek,, pelan- pelan makannya,,, tenang aja Bunda gak bakalan minta kok”, Bunda malah meledek.


Bu Rahmi datang tepat di saat Naz sudah menghabiskan semangkuk mie yang pertama, tentu saja Naz langsung masuk season dua makan mie nya.


Seusai makan, Naz mengajak Arfin untuk bersiap karena sebelumnya mereka sudah memesan tiket untuk kepulangannya ke Surabaya siang ini, barang- barangnya pun sudah dibawa di dalam mobil sebelum berangkat tadi. Awalnya Arfin menolak dan hendak menunda kepulangan mereka karena ingin memeriksakan kehamilan Naz terlebih dahulu, begitupun orang tua Naz. Namun Naz bersikeras ingin pulang hari ini juga.


“Dek,,, nanti atuh pulangnya besok saja,, lagian kan kamu teh belum cek ke dokter kandungan diperbolehkan apa enggknya lagi hamil muda naik pesawat”, Bunda terus mencegah.


Naz nampak berpikir, “Eng... Ke dokternya nanti aja di Surabaya Bunda,, aku pengen cepet pulang, pengen makan masakan Mbak Juminten, lagian semakin cepat aku pergi dari sini semakin baik”, ucapnya tersenyum kaku.


“Apa?? Memangnya kenapa?”, Bunda kaget.


“It,, itu kan Bunda,, eng,, aku gak mau kalau Tante Felisha mengganggu ku terus”, Naz kembali memberi alasan.


“Emangnya kenapa Naz,,,? Apa sebelumnya dia pernah mengganggu mu sebelum kejadian tadi?”, Bu Rahmi jadi penasaran.


“Eng,,, ceritanya panjang Bunda, Mama,, intinyaa dia itu ngejar- ngejar suamiku terus padahal udah tahu Aa udah punya istri,, jadi demi keamanan rumah tangga kami,, sebaiknya kami cepat pulang”, Ucap Naz.


“Apa?? Astagfirullah,, jadi Felisha teh mau jadi pelakor?”, Bunda merasa terkejut dan tidak menyangka bahwa anak dari temannya seperti itu.


Akhirnya Bunda dan orang tua Naz yang lainnya pun mengizinkan Naz pulang ke Surabaya, ia dan suaminya berpamitan pada semua orang yang ada di rumah Bunda. Bu Rahmi, Bunda dan Mimih terus memberinya wejangan ini itu yang harus dilakaukan dan tidak boleh dilakukan oleh wanita hamil, serta mewanti- wanti tentang segala macam kepada Arfin agar menjadi suami siaga bagi Naz yang tengah hamil muda. Mereka pergi ke bandara diantarkan oleh Hardi.


Sepenjang perjalanan Naz terus tidur, mungkin efek capek setelah menangis, entah ia merasa kekenyangan setelah melahap dua mangkuk mie instan.


Di pesawat pun Naz tidur, sang suami tak hentinya mengulas senyum dan terus mengusap kepala istrinya, sesekali ia mengusap perut Naz yang masih rata itu.


Setelah satu setengah jam melanglang buana di udara, mereka pun tiba di Surabaya dan mereka di jemput oleh sopir ke bandara, Naz pun kembali melanjutkan tidurnya di dalam mobil.


“Sayang, kamu kok kebo banget dari Jakarta tidur terus saat naik kendaraan?”, Arfin terkekeh mengejek istrinya.


“Hmmmmmm…..”, Naz menjawab sambil merem seolah sedang malas berbicara, Arfin hanya tersenyum gemas melihatnya,lalu mencium kening istri yang tidur di pelukannya itu.


Sesampainya di rumah, Arfin menggendong Naz saat turun dari mobil, karena ia tak tega jika harus membangunkan istrinya yang masih nyenyak tidur.


Ia membaringkan Naz di atas tempat tidur. Arfin menciumi setiap bagian wajah istrinya yang membuat tidur Naz terusik apalagi saat Arfin mengusap lalu mencium perut Naz, membuatnya langsung terbangun.


“Sayang,,, kamu sudah bangun?? “, Arfin kembali mengulas senyum.


“He em,,, “, Naz mengggeliat lalu bangun dan duduk.


“Aku menghubungi Dilara dulu untuk mencarikan dokter kandungan terbaik di kota ini,, dan tentunya dokter itu harus perempuan”, Arfin hendak bangkit dari tempat tidur,namun Naz menahannya.


“Emmmm,,, gak usah A”, Ucap Naz menggelengkan kepala.


“Loh kenapa?? Kamu kan baru di tespack aja dan kita belum memeriksakannya ke dokter kandungan”, Arfin merasa heran.


“Emmm,,,, “, Naz nampak bingung dan takut, lalu ia menundukkan kepalanya sambil memainkan jemarinya karena nampak tegang,


“Aa,, sebenanrnya aku____ “, Naz belum selesai bicara tiba- tiba ia menutup mulutnya karena merasa mual, ia segera bangkit dari tempat tidur lalu beranjak ke kam mandi.


Hoek,, hoek,,,


Terdengar suara Naz muntah- muntah dari dalam kamar mandi, Arfin yang merasa kaget dan khawatir terjadi sesuatu pada Naz, ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Arfin menghampiri Naz yang sedang muntah- muntah, ia berniat menenangkan Naz dengan mengusap kepala lalu memijat puduk Naz, tapi justru dia malah ikut- ikutan muntah


Hoek,,, hoek,,,,


“Iiihh,,, Aa jorok banget sih kenapa muntah ke kaki aku??”, Naz menggerutu kesal.


-------------- TBC----------


********************


Happy Reading🤩


Jangan luva tinggalkan jejak mu...😉🤩

__ADS_1


Tilimikicih ...aylapyu oll😘😘😘


__ADS_2