Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Tante Gembel


__ADS_3

Demi terciptanya rumah tangga yang harmonis, diperlukan kerja sama antar suami dan istri. Semua peran harus melakukan tugasnya masing – masing agar seimbang dan demi kebahagiaan serta keutuhan rumah tangga.


Dalam sebuah pernikahan, suami bertanggung jawab atas hidup pasangannya, selain sebagai imam atau kepala keluarga, suami juga bertugas untuk mencari nafkah. Sedangkan sorang istri memiliki peran untuk melayani suami, salah satu diantaranya menyenangkan suami, taat dan patuh pada suami, selalu menjaga nama baik suami, bisa meredakan amarah suami, dan melayani urusan ranjang.


Naz yang baru saja terpisah dari suaminya selama tiga hari dua malam, ternyata membuatnya merasakan kerinduan yang begitu besar, walau sebenarnya ia merasa gengsi entah itu malu untuk mengakuinya. Padahal suaminya sudah terang- terangan mengungkapkan kerinduannya hingga rindu setengah mati malahan, entahlah bagaimana rasa yang dinamakan setengah mati itu, othor tahunya masih hidup.


Saat ia tahu suaminya akan datang, hatinya serasa berbunga- bunga dan bahagia yang tak terhingga. Rasa kesal karena suaminya tak menghubunginya semalaman pun sirna tatkala ia bertemu dengan suaminya, namun justru malah sang suami yang masih nampak kesal karena merasa diabaikan, juga perintahnya sebelum Naz berangkat agar ponselnya on terus malah dilanggar oleh Naz.


Bukan Naz namanya jika ia tak memilik 1001 cara untuk membujuk suaminya itu, hingga ia sampai menangis demi mendapatkan perhatian suaminya kembali yang terus mengacuhkannya, dan sebagai ucapan terimakasihnya serta menjalankan kewajibannya, Naz pun memberikan service ranjang yang membuat suaminya bahagia karena Naz benar- benar memanjakan suaminya yang tentunya sudah sangat merindukannya serta rindu belaiannya.


Setelah pergulatan panas persembahan dari Naz sang wanita gagah perkosa, kini keduanya tengah berbaring di tempat tidur dengan Naz yang menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


“Terimakasih, sayangku,,,,”, ini ucapan yang kesekian kalinya yang dilontarkan Arfin yang merasa bahagia karena sang istri yang tiba- tiba menjadi agresif itu benar- benar melayaninya dengan luar biasa.


“He em,,,,”, Naz yang sejak tadi terus memejamkan matanya entah karena malu, entah ngantuk atau entah karena ia masih merasa melayang di atas langi ketujuh dan belum kembali pada raganya yang sudah nampak lemas karena kecapek-an.


“Sayang,, jangan tidur,,, nanggung sebentar lagi magrib,,, kita mandi dulu yuk,,,”, ajak Arfin.


“Nanti ah,,, masih lemes,,, di kepala ku rasanya masih banyak kunang- kunang,,, Aa kok bisa kuat sampe dua atau dua ronde setengah sih?? Aku aja satu ronde sampai terkulai lemas gini”, Naz bicara dengan nada lemas masih dalam mode merem.


Arfin terkekeh mendengar nya, “Kalau laki- laki emang tugasnya gitu sayang,, lagi pula tenaga laki- laki lebih besar dibanding perempuan,, belum lagi kalau pakai obat kuat,,”.


“Jangan ahh,,, jangan minum obat gituan,, kan kata Pak Haji Budi juga obat gitu bisa bahaya untuk kesehatan jantung dan ginjal,,, yang alami aja ramuan susu, kunyit, madu, telur ayam kampung,,,”, ucap Naz mengingatkan.


“Sayang,, jangan bilang kamu tadi sebelum jemput Aa minum ramuan itu?”, Arfin menebak-nebak.


“Enggak ihh,,, orang pulang facial sama ng’mall langsung jemput Aa,,, mana sempat bikin ramuan gitu, mana aku lagi sebel sama Aa”, Naz pun membuka matanya.


“Maaf sayang,,, setelah kamu berangkat kesini, Aa lembur kerja terus, karena pengen cepat selesai kerjaannya jadi di sini juga bisa nyantei gak kepikiran kerjaan,, dan semalam saat Aa lgi lembur sama Lutfi,, ada teman kuliah Aa juga teman Bang Evan nelpon, padahal udah lama gak kontekan,, katanya dia mau balik juga dari Amerika”, Arfin memberi penjelasan.


“Pantesan aja telponnya sibuk terus, yaudah aku matiin aja terus aku ke kamar Raline dan tidur di sana”, ucap Naz.


“Jangan seperti ini lagi ya sayang,,, Aa tuh tersiksa kalau jauh- jauh dari kamu,,, “, Pintanya.


“Ah,,, Aa mah ingetnya sama si imut doang,,,", Naz mencebikkan bibirnya.


“Ya enggak lah sayang,, inget sama si imut tuh kalau si ujang mendadak bangun,, tapi kemarin sering bangun sih, apalagi pas lihat cd kamu di lemari saat Aa ngambil baju,,, hehehe,,, Aa tuh kangen banget sama kamu, sayang,,, bangun tidur gak lihat kamu, gak dimasakin sama kamu, makan siang gak ditemenin kamu itu hambar rasanya, apalagi lihat si Lutfi yang menyebalkan itu, bikin gak selera,,, pas pulang ke rumah gak ada yang nyambut, di tambah tidur sendirian,,,”, Arfin menghela nafas sejenak,


“ Mulai sekarang kalau nginap ke mana- mana harus sama Aa ya,, Aa gak mau jauh- jauh dari kamu lagi,,,”, Arfin kemudian mengecup kening istrinya.


“Mama bilang kamu abis perawatan sama belanja ke mall ya?? apa si imut juga abis perawatan?”, Arfin masih penasaran pada si imut.


“Iya, tadinya nganter Raline tapi aku ikutan pengen di facial, hehehe,,, mana ada perawatan si imut,, emangnya Aa rela si imut dilihat oleh orang lain?”. Naz malah balik bertanya.


“Ya enggak lah sayang,, cuman Aa yang boleh lihat,,”


“Lagian aku juga malu kali, walaupun yang membantu perawatannya sama- sama perempuan”, ucap Naz.


“Udah yuk ah kita mandi,,, bentar lagi magrib”, ajaknya, kemudian ia melepaskan istrinya perlahan dari pelukannya, ia menyingkirkan selimut yang tadi menutupi tubuh polosnya dan bangun dari tempat tidur. Keduanya pun mandi bersama, dan setelah selesai mereka berpakaian dan shalat magrib berjama’ah. Seusai melipat kembali mukenanya, Naz yang sudah ngantuk berat kembali berbaring di tempat tidur.


Arfin menghampiri Naz, “Sayang ,, jangan tidur dulu,, makan dulu yuk,, nanti sakit maag mu bisa kambuh loh kalau telat makan,,, itu juga rambut mu masih belum kering,, kalau dibawa tidur nanti kepala mu bisa pusing sayang”, Arfin melihat rambut Naz yang masih agak basah karena tadi hanya dikeringkan oleh handuk saja tidak menggunakan hairdryer.


“Emhhh… Aa makan duluan aja aku ngantuk banget…”, ucapnya yang sudah memejamkan matanya, Arfin pun tak tega jika harus memaksanya bangun, ia mengecup kening istrinya dan beranjak pergi keluar kamar.


Arfin bergabung dengan Papi dan Mami nya di ruang makan untuk makan malam.


“Istrimu mana Al? kok kalian gak barengan ke sini nya? Bukannya tadi masuk kamar aja sampai di gendong”, Bu Hinda mempertanyakan keberadaan menantunya.


“Naz tidur Mi,, mungkin dia kecapek-an tadi seharian abis nemenin Raline nyalon sama jalan ke mall”, jelas Arfin.


“Dan habis kamu makan juga ya,, makanya sampai tepar”, Pak Latief menggoda putranya, sedangkan Arfin hanya tersenyum saja.

__ADS_1


“Loh,,, bukannya calon pengantin harus dipingit?? Kenapa kamu tidak membangunkan Naz, Al ?,, dia kan punya penyakit maag”, tanya Bu Hinda lagi.


Arfin mengedikkan bahu soal pengantin yang dipingit, “Nanti Al bawa makanan ke kamar aja untuk Naz, Mi,,,”, ucapnya kemudian mereka bertiga pun makan bersama.


“Oh iya Al,,, teman kuliah mu sama Abang dulu, katanya mau pulang dari Amerika ya?”, Bu Hinda yang sudah selesai makan membuka topik pembicaraan.


“Iya katanya sih gitu,, tumben anak itu pulang,, “, Arfin menjawab sambil mengisi piring kosong dengan makanan untuk istrinya. “Bi itu nampannya jangan di bawa ke dapur, saya mau pakai”, ucapnya pada Bi Darmih yang baru saja menyajikan disert.


“Iya Den,,”, ucapnya memberikan nampan tersebut yang hendak ia bawa ke dapur.


“Bukannya Mami bilang dia sudah betah di sana karena ibunya yang sahabat Mami itu sudah menikah sama bule dan menetap di sana?”, Pak Latief ikut berkomentar mengenai teman Arfin sambil memakan pudding buah yang dibawakan Bi Darmih.


“Mungkin rindu sama tanah kelahirannya,,, “, Bu Hinda menjawab pertanyaan suaminya, lalu beralih pada Arfin, “Al,,apa Naz tahu ?”, selidik beliau.


“Tadi Al sudah bilang kok kalau temen kuliah Al menghubungi dan bilang mau pulang dari Amerika”.


“Syukurlah,, Mami harap kamu jangan menyembunyikan apa pun dari istri mu”, Bu Hinda bernafas lega mendengarnya, namun Arfin malah tertegun seolah memikirkan sesuatu.


“Mi,, Pi,, Al duluan ya”, Arfin pun pamit dengan membawa nampan berisi makanan dan minum untuk istrinya.


Arfin masuk kembali ke kamarnya dan menaruh nampan di atas meja di samping tempat tidurnya. Ia duduk di tempat tidur mendekati istrinya, dibelainya rambut istrinya yang sudah mulai mengering, tangannya beralih mengusap lembut pipi Naz kemudian ia menggoyangkan pipi istrinya itu.


“Sayang,,, bangun yuk,, makan dulu,,, setelah itu kamu bisa tidur lagi”, Arfin berusaha membangunkan Naz, namun orangnya tak bergeming, sepertinya tidurnya sudah sangat lelap seperti bayi. Arfin pun tak tega membangunkannya, ia membawa kembali makanannya ke dapur.


Seusai shalat ia pun menemani istrinya tidur, karena sebenarnya ia pun merasa ngantuk setelah pergulatan tadi tidak langsung tidur seperti biasanya, ia tidur sambil memeluk istrinya yang tidur membelakanginya.


“Emhhh,,,, “, Naz yang merasa tidurnya terusik karena kantung kemihnya terasa penuh, kemudian menggerakkan kepalanya dan membuka matanya perlahan. Naz melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya dengan perlahan, namun Arfin yang menyadari itu malah kembali memeluknya.


“Jangan dilepas, biarkan seperti ini, sayang”, ucapnya dengan nada serak dengan mata terpejam.


“Aku mau ke kamar mandi, kebelet”, Ucapnya kembali memegang tangan suaminya untuk melepaskan diri dari pelukannya, dan Arfin pun melepaskannya. Naz segera bangun kemudian menyalakan lampu dan bergegas ke kamar mandi, setelah itu ia shalat.


Naz melipat mukena dan sajadahnya lalu di simpan lagi ke dalam lemari, ia pun kembali ke atas ranjang untuk melanjutkan tidurnya. Ia berbaring menyamping sehingga saling berhadapan dengan suaminya. Ia terus memandangi wajah suaminya yang sedang tertidur lelap sembari memberi nya senyum mengembang dari bibirnya seolah mengagumi makhluk ciptaan sang Maha Kuasa yang sudah membuatnya tergila- gila itu. Ia tak berpaling sama sekali, memperhatikan setiap inci wajah suaminya yang selama dua malam kemarin tak nampak nyata di hadapannya.


Krukk,,, krukk,,, tiba- tiba terdengar suara yang ternyata berasal dari perutnya, dan hal itu mampu mengusik tidur suaminya. Arfin membuka matanya perlahan.


“Kamu kenapa sayang?”, tanya nya dengan nada serak.


“Aku lapar,,, hehehe “, Naz hanya nyengir.


Arfin tersenyum, “Jam berapa ini?”,tanyanya.


Naz melihat ke arah jam dinding"Jam satu kurang”, Naz kemudian bangkit dan hendak turun dari tempat tidur, namun Arfin menahannya dengan memegang tangan istrinya itu.


“Kamu mau kemana, sayang?”.tsnya nya.


“Mau ke dapur”.


“Udah kamu tunggu disini aja, biar Aa yang ngambil makanan ke dapur”, Arfin melepaskan tangannya dari Naz dan ia pun bangun dan saat kesadarannya sudah terkumpul, ia lalu beranjak pergi ke dapur.


Setelah beberapa saat ia kembali ke kamarnya dengan membawa sebuah nampan berisi makanan, segelas susu hangat dan satu cup selai coklat untuk Naz. Ia menghampiri Naz yang sedang duduk selonjoran di atas ranjang sambil menonton televisi. Arfin menyimpan nampan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, kemudian mengambil piring dan selai coklat dalam kemasan toples kecil.


“Maaf sayang,, Aa cuman menemukan makanan siap makan ini di kulkas, makanan di meja makan sudah pada dingin”, Arfin memberikan piring yang berisi enam potong buah melon dan beberapa buah strawberry utuh, Naz pun yang sudah mengubah duduknya menerimanya, kemudian Arfin duduk di sisi tempat tidurnya dan menghadap ke arah Naz, ia membuka tutup kemasan selai tersebut.


“Iya gak apa- apa,, lagian kan ini udah tengah malam, aku juga gak mau makan makanan berat”, Naz mengulas senyum bahagia di bibirnya melihat suaminya yang begitu perhatian padanya, padahal ia tahu pasti suaminya itu sangat mengantuk setelah seharian kerja, menempuh perjalanan jauh, dan setelah pergulatan mereka tadi sore.


Naz duduk bersila sambil memegang piring di tangan kirinya, sedangkan selai di simpan di depannya, ia mengambil potongan melon yang dipotong memanjang lalu memakannya dengan pandangan yang lurus ke depan pada layar televisi. Sedangkan Arfin memperhatikan Naz yang tengah mengunyah makanannya itu, tatapannya jatuh pada bibir ranum istrinya yang nampak basah akibat air dari buah yang ia makan.


Setelah makan melon tiga potong, Naz menyimpan piring di depannya dan mengambil selai coklat dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengambil buah strawberry yang kemudian mencelupkan ujungnya ke selai coklat dalam kemasan toples kecil, lalu menggigitnya, ia mencelupkan sisa strawberry itu ke selai kemudian ia menoleh pada suaminya, dan ia baru sadar sejak tadi ia diperhatikan oleh suaminya.


“Aa mau?”, Naz mengulurkan sepotong strawberry berlumur coklat yang telah ia gigit setengahnya, namun Arfin hanya diam saja sambil terus menatapnya dan membuatnya gugup. Ia hendak menarik lagi tangannya, namun Arfin segera melahap strawberry tersebut dan membuat Naz syock karena jemarinya ikut masuk ke mulut suaminya itu.

__ADS_1


Tangan Arfin menggenggam lengan Naz dan membantunya menarik jemarinya untuk keluar dari dalam mulutnya. Namun setelah keluar ia tak langsung melepaskannya melainkan bibirnya menjilati sisa selai coklat yang ada di jemari Naz dengan mata yang terus menatap istrinya, dan membuatnya terkesiap merasa ada desiran kuat menjalar ke tubuhnya, jantungnya langsung berdetak semakin tidak karuan.


Arfin melepaskan tangannya, ia mengambil strawberry dari atas piring dan mencelupkannya pada selai yang ada di genggaman Naz, namun bukannya dimakan olehnya, justru ia malah menyuapkannya pada Naz. Naz pun memakannya dengan mengikuti cara yang dilakukan suaminya, strawberry nya dimakan dan jemari suaminya yang berlumuran coklat dijilatinya hingga menggulumnya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah suaminya yang nampak sangat bergairah.


Udara disekitar mereka pun semakin terasa panas seiring dengan suasana yang semakin intim.


Glekk…. Arfin menelan saliva nya sendiri kala melihat istrinya yang mengunyah strawberry dengan selai yang mencemari bawah hingga sudut bibirnya dan membuatnya terlihat seksi. Ia mengambil selai dan piring buah lalu menyimpannya kembali ke atas nampan. Ia membaringkan tubuh istrinya dengan tidak sabaran, lalu melahap mulut nya dan menciumnya dengan penuh gairah, keduanya digerakkan oleh insting yang menggebu- gebu. Hingga kembali terjadi pergulatan panas antara keduanya.


**


Keesokan harinya keduanya bangun subuh dan setelah mandi besar melaksanakan kegiatan subuhannya. Naz yang memakai daster rumahan dengan panjang sampai betis, baru saja selesai mengeringkan rambut. Ia melakukan rutinitasnya setiap pagi seperti saat di rumahnya di Surabaya, yakni membereskan dan membersihan tempat tidurnya kemudian beranjak ke dapur untuk memasak dan menyiapkan sarapan, sedangkan Arfin diajak Papi nya ke ruang fitness untuk berolahraga.


Ia menggunakan celemek dan mengikat rambutnya dengan sembarang tanpa disisir, lalu mulai memasak bersama Mami dan ART rekan kerjanya Bi Darmih, sedangkan Bi Darmih sendiri bersama satu ART lagi sedang membersihkan rumah.


Setelah selesai memasak, Naz diminta Mami untuk memanggil suami dan mertuanya ke ruang fitness. Ia pun beranjak pergi.


Saat tiba di ruang fitness ia melihat Papi mertuanya yang nampak menahan tawa sambil mengambil foto Arfin yang duduk sambil tidur di lantai di atas matras. Bukannya berolahraga malah tidur. Dan itu membuat Naz ikut menertawakan kelakuan suami dan mertua nya itu.



Setelah puas mengabadikannya, Pak Latief menepuk pundak Arfin, “Al,, ayok bangun,, kita sarapan”, Namun ia tak bergeming, Pak Latief berbisik di telinga Arfin, “Al,,, istrimu barusan diajak pergi oleh Nervan ke rumahnya”, sontak Arfin langsung membuka matanya dan langsung berdiri.


“Apa?? Pergi kemana Pi”, Arfin langung membalikan badannya dan hendak berlari keluar, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat istrinya yang masih memakai celemek berdiri di depan pintu. Arfin mendengus kesal dan menatap kesal pada Papi nya”, Gak lucu Papi !!”.Ucapnya geram sedangkan Papi malah menertawakannya bersama istrinya pun.


Ting nong….. Tiba- tiba terdengar suara bel pintu


“Sarapan nya sudah siap,, ayok kita makan bersama,, “, ajak Naz pada kedua lelaki beda generasi itu. Kemudian suara bel terus terdengar yang sepertinya ditekan berkali- kali, menandakan belum ada yang membukakan pintu. Naz pun pamit lalu keluar dari ruang fitness bergegas pergi ke depan untuk membukakan pintu karena bunyi bel yang terus menjerit.


Ceklek ,,, ia membuka pintu dan terlihat seseorang di luar yang memakai pakaian dres selutut, sebelahnya tanpa lengan sebelahnya lagi lengan panjang dengan rambut terurai serta menggunakan kacamata coklat tua bentuk kotak yang ukurannya cukup besar dari biasanya.



“Hello,,, Is Mommy at home?”, wanita itu menyapa dan menanyakan Mami, sedangkan Naz hanya diam mematung memperhatikan orang yang tidak dikenalnya itu. Orang itu menghela nafas kasar, mungkin ia merasa kesal karena menunggu lama di depan pintu sedangkan Naz malah cengo. Ia memperhatikan penampilan Naz dari atas hingga ke bawah.


“Oh,, ya ampun gak bisa bahasa inggris ya,, Mami ada di rumah ??”, ia kembali bertanya, namun Naz tak bergeming,”Hei ,, pembantu,,, kamu gak tuli kan ?”, ucapnya merasa kesal.


Naz langsung tersadar dari lamunannya,


“Apa,, dia manggil gue apa?? Pembantu?? Kurang ajar banget nih orang, cantik- cantik mulutnya pedes,, kalo gue pembantu berarti lo gembel,, apaan itu pakai baju tangannya cuman sebelah,,”, gumam Naz dalam hati sambil tersenyum sinis.


“Hello,,, kamu pembantu di sini ya? kok cantik- cantik tuli”, wanita itu kembali bertanya.


“Eh,, Maaf Nona,, ada kok,,, silahkan masuk”, Naz mempersilahkan orang itu masuk dan duduk di ruang tamu.


“Mbak,,, saya minta lemon tea hangat pakai madu not sugar,, ok”, pintanya langsung memesan minuman pada Naz.


“Baik Nona,,, saya permisi ke belakang,,,”, Naz tersenyum dengan menggretakan gigi nya, kemudian ia beranjak pergi,


“Kurang ajar tuh orang, udah ngatain gue pembantu, pake nyuruh- nyuruh bikinin minum lagi,,, dasar tante gembel”, Naz menggerutu dalam hati, kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang tamu berbarengan dengan munculnya Arfin dan Pak latief yang sudah keluar dari ruang fitness.


“Arfin…. !!”, seru wanita itu dan suaranya terdengar oleh Naz sehingga membuatnya menghentikan langkahnya, ia membalikan tubuhnya dan bersembunyi di balik dinding, betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di depannya itu.


“Kurang ajar itu Tante gembel,,, “, ucap Naz merasa geram melihatnya.


----------------- TBC -------------------


*****************************


Happy Reading..🤩😍


jangan luva tinggalkan jejakmu....🤩🤗🤭

__ADS_1


Tilimikicih ...aylapyu oll....😍😘😘


__ADS_2