Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ternyata Mereka Kakak Beradik


__ADS_3

Cuaca begitu cerah, panas terik seolah hendak membakar bumi karena suhu panasnya lebih panas dari biasanya. Dua sejoli yang tengah makan berdua sambil lesehan di gazebo sebuah restoran, nampak begitu menikmati makanan mereka yang pedas- pedas gimana gitu rasanya, ditambah sensasi sambel Pete, beuh itu nasi sebakul bisa habis oleh mereka berdua. Sesekali Naz menertawakan Arfin yang nampak kepedasan, tapi dia masih lahap memakannya. Sudah mah gerah ditambah makan yang pedas dan minum dengan teh panas, mantul. Naz sampai meminta pelayan restoran menyediakan kipas angin untuk mereka, awalnya permintaan mereka ditolak, lalu Arfin memberikan tips kepada pelayan tersebut, dan terkabul lah keinginan mereka. money talking


Setelah selesai makan, mereka istirahat sejenak, seolah mereka habis lari marathon saja. "Ternyata makan pakai sambel begini enak ya, gak bisa berhenti", ucap Arfin yang baru saja menyeruput air kelapa muda dengan sedotan.


"Iya,, makanya kalo makan begini harus jarang- jarang, karena bisa bikin melar,,, ", ucap Naz sambil mengelus perutnya karena merasa kekenyangan. " Habis ini kita mau kemana? ", tanyanya.


" Emangnya mau kemana lagi hem?? ", Arfin malah balik bertanya.


" Emmm.... terserah,,, kemana saja kau membawa ku ", ucapnya ngasal.


" Ke KUA mau? ", Arfin langsung menjurus.


"Ih apaan sih,,, aku gak mau, orang masih sekolah juga", Naz pun langsung menolak ajakan Arfin.


"Haha,,, kamu tuh suka gak konsisten dengan yang kamu bilang ih,,, katanya kemana saja aku membawa mu", Arfin terkekeh.


" Iya,, tapi kan gak ke KUA juga kali.... wle", Naz malah mengejek.


"Haha,,, ke KUA juga mau ngapain dulu,,,, ya, siapa tahu mau numpang ke toiletnya saja...", Arfin malah ngelantur.


"Hahaha,,, terniat,,,,, ", Naz pun menertawakan ulah kekasihnya itu.


"Yasudah yuk,,, Aa ajak kamu ke suatu tempat,, nanti Aa kenalin kamu sama seseorang"


Seusai membayar tagihan makanan, mereka langsung pergi meninggalkan restoran tersebut menuju tempat yang dikatakan Arfin.


Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit, akhirnya mobil yang dikendarai Arfin parkir di sebuah parkiran dekat pasar tradisional.


"Ayo kita turun", ajak Arfin pada Naz dan ia turun duluan.


" Kok kesini? ", tanya Naz heran lalu ia pun turun dari mobil yang ternyata Arfin sedang membeli sesuatu di warung dekat mobilnya terparkir.


" Nih,, makan ini,, untuk menyamarkan bau Pete", Arfin menyodorkan satu bungkus permen hexos pada Naz dan ia pun menerimanya.


"Aa tahu aja ", ucapnya sambil membuka permen tersebut lalu memakannya.


" Iya dong,, masa cantik- cantik wangi Pete,,, kan gak lucu hahaha,, sudah ah,, yuk kita masuk ", mereka pun masuk ke sebuah tempat yang berada, di sebelah pasar tradisional itu.


" Hai, Bang Anas,,, apa kabar? lama tak pernah kemari,,, sombong ya sekarang ", tanya salah seorang yang gondrong dan bertato yang membuat Naz takut dan mengeratkan pegangan tangannya pada lengan Arfin.


" Halo, Bang Zul,,, kabar baik lah,,, masih sibuk sama kerjaan jadi belum sempat mampir,, Bang Tigor mana?? ", ucapnya menyalami Zul gondrong itu.


" Ada, Bang,,,, di markas,, ayo ", ucapnya.


Semua orang yang berpapasan memanggil Arfin dengan sapaan Bang Anas, hingga sampailah mereka di markas yang dituju.


" Bang,, ada tamu istimewa datang", ucap Bang Zul pada Bang Tigor.


"Wah wah,,, masih ingat jalan kemari kau Anas,,, apa kabar?? sudah lama tak berjumpa,,, ternyata Sang Anas ini masih hidup rupanya", ucapnya berjabat tangan lalu berpelukan layaknya seorang sahabat yang lama tak berdua.


" Alhamdulillah masih hidup Bang,,, perasaan Abang tambah awet muda saja, dari dulu masih fresh,,, ", ucap Arfin basa- basi.


"Jangan menggoda lo... udah tuir begini dibilang awet muda,,, oh... ternyata sekarang sudah suka sama perempuan lo ya", Bang Tigor balik menggoda.


"Haha,,, kenalin Bang, cewek gue", Arfin memperkenalkan Naz pada Bang Tigor , "Sayang kenalin, ini Bang Tigor rajanya preman ", Arfin menoleh ke arah Naz yang berdiri di sebelahnya dan ia pun menyodorkan tangannya untuk berkenalan.


"Rheanazwa,,, ", ucapnya sambil tersenyum


"Panggil aja Bang Tigor,,, hei perhatikan betul- betul nona Rheanazwa ini,,, kalo ke pasar beri pengawalan, kalo dijalan ada yang gangguin, beri perlindungan ", ucap Bang Tigor pada anak buahnya.


Arfin dan Bang Tigor berbincang- bincang hingga beberapa saat mengenai berbagai macam hal, ya biasalah layaknya dua sahabat yang sedang temu kangen karena bertahun-tahun tak berjumpa. Karena melihat Naz terlihat kurang nyaman berada di sana, Arfin pun mengakhiri percakapan mereka dan berpamitan dengan beralasan akan mengantarkan kekasihnya itu pulang. Mereka kembali berpelukan untuk kembali berpisah, Arfin pun pamit pergi bersama Naz dan kembali menyusuri jalan yang sebelumnya mereka lewati.


"Aa,,, kok mereka semua memanggil Bang Anas? ", Tanya Naz penasaran saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.


" Jadi, dulu itu pas Aa suka ikut balapan gak pakai nama asli, tapi menggunakan nama Sang Anas karena takut ketahuan sama Papi dan Mami,,, ya bisa dibilang itu nama panggung kalo artis mah, jadi mereka tahunya namaku Anas bukan Arfin. Makanya kalo teman- teman dari SMP, teman balapan, bahkan para preman Bang Tigor memanggil ku dengan sebutan Anas", ucapnya menjelaskan sambil melajukan mobilnya.


"Oh,,, gitu ya ",


"Iya sayang.... oh iya, gimana kamu suka dengan kado ulang tahunnya? ", tanya Arfin.


"Hah... suka,,, kan semalam aku bilang suka sama kucingnya", Naz menjawab dengan semua heran.


"Bukan sayang,,, itu loh hadiahnya ada dalam paperbag di kamar mu", Arfin memperjelas.


"Hah... aku belum lihat,, semalam aku sama ibu dan Elsa tidur di kamar tamu,, jadi gak tahu kalo Aa nyimpen hadiah di kamarku... hehehe".


"Yasudah,, nanti bukanya kalo sudah di kamar mu,,, ", ucapnya tersenyum, lalu Naz menggeser duduknya dan menyenderkan diri pada lengan kiri Arfin.


" Sayang,,, terimakasih telah hadir dalam kehidupanku,memberikan ku cinta dan kasih sayang, memberiku perhatian, memberiku kebahagiaan dan keceriaan, juga selalu sabar menghadapi tingkahku,,,, kau membuat hidupku semakin berwarna,,, sayang,,, jangan pernah tinggalkan aku", ucap Naz.


Arfin menghela nafas sejenak lalu ia mengusap kepala Naz yang ternyata ia tertidur, kebetulan lampu merah menyala sehingga Arfin melepaskan lengannya perlahan lalu membenarkan posisi duduk Naz, " Maafkan aku sayang, entah sampai kapan aku bisa terus bersamamu,,, maafkan aku", lirihnya dalam hati dengan menatap sendu pada kekasih hatinya itu.


Setelah beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Naz, Arfin pun membangunkannya pelan- pelan, dan setelah kesadarannya penuh Naz pun turun dari mobil kemudian Arfin berpamitan pulang tanpa mampir terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah, ternyata sang Mami sudah menantikan kedatangan Arfin, bahkan beliau lah yang membukakan pintu untuk Arfin.


"Assalamu'alaikum... loh Mami kapan pulang? ".


"Wa'alaikumsalam ,,, ayo cepat masuk,, kita harus bicara,, gak usah basa- basi", Mami langsung menyeret tangan Arfin.


"Loh,,, ada apa ini Mi,,, kok main tarik- tarik gini sih,, aku kan bukan anak kucing", Arfin protes.

__ADS_1


"Duduk sini sama Mami,,, ", ajak Mami nya, " Tadi Jeng Rahmi telpon Mami, katanya kamu melaporkan putrinya ke kantor polisi, dan minta supaya kamu menarik tuntutannya.... kok bisa sih?? kamu kan tahu kalo Papi mu dan Mas Syarief itu bersahabat,,, ", Mami langsung to the poin.


"Wow,,, sudah sampai ke telinga Mami rupanya beritanya... biarin aja Mih,, tu anak kali- kali harus, dikasih pelajaran,,,, yang minta Tante Rahmi kan bukan Om Syarief? ", Arfin memastikan.


"Iya,, tapi nanti kamu bisa menimbulkan masalah antara Papi mu dan Mas Syarief,,, ada masalahnya apa sih sebenarnya kamu bisa sampai menggugat anak itu ?? ", Mami terus bertanya karena penasaran.


"Ceritanya panjang Mih ", Arfin hanya menjawab singkat.


"Terus Jeng Rahmi juga bilang kalo kamu pacaran sama anaknya Mas Syarief dari perempuan lain,, apa itu benar? ", Mami semakin kepo.


Arfin menghela nafas sejenak, "Iya Mih".


"Apa?? jadi gadis yang sebelumnya sedang kamu dekati itu adalah anaknya Mas Syarief ?? ", Mami kembali bertanya.


" Iya,, ", Arfin menjawab dengan singkat.


" Al... kamu tahu kan, anak itu hasil... ", belum selesai Mami bicara, Arfin langsung memotong.


" Al cinta nya cuma sama dia dan Al cuma mau sama dia Mi, bukan sama perempuan mana pun,, dia saja bisa menerima Al dengan segala kekurangan Al,, lalu kenapa Al harus keberatan dengan identitasnya, bukannya tadi Mami juga bilang kan kalo Papi sama Om Syarief itu bersahabat, jadi gak ada masalah kan Mi...", ucapnya panjang lebar.


" Al,,, ", Mami masih belum puas dengan jawaban Arfin.


" Udah ah,,, Al mau mandi dulu Mi, gerah,,,, ", Arfin langsung bergegas pergi ke kamarnya. Ya seperti yang dia bilang tadi, ia langsung membuka pakaiannya dan membersihkan diri di kamar mandi selama beberapa saat, lalu ia berganti pakaian dengan kaos santai.



Ting Ting.... ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk...


MyNaz


" Udah nyampe rumah belum?"


Arfin


"Udah tadi dua puluh menit yang lalu"


"udah mandi, udah cuci muka, udah gosok gigi, udah ganti baju lagi "


My Naz


"Haha..."


"Lengkap banget sih keterangannya,, sekalian aja udah pipis juga laporan"


Arfin


"Hahaha, jangan ah nanti minta difoto lagi"


My Naz


Arfin


"Difoto lagi pipis "


My Naz


"Ih jijay banget sih"


"Makasihh sayang,,, aku suka banget hadiahnyaπŸ€—"



Arfin


"Syukurlah kalau kamu suka


MyNaz


" Tapi, ini terlalu mahal sayang,,, apa gk berlebihan? "


Arfin


" Kata siapa mahal ah,, orang itu kawe"


MyNaz


"Emangnya aku gak bisa bedain apa barang kawe sama ori"


Arfin


"Hahaha "


"Iya iya deh kaum wanita lebih tahu sama barang gituan"


"Yang penting kamu suka,, harus dipakai ya"


MyNaz


"Iya,,, makasih banyak sayangku"


"I love u so much "

__ADS_1


"😘😘😘😘😘😘😘"


Arfin


"Hmmm,,, beda ya kalo dikasih hadiah, emotikon nya kiss, banyak lagi "


MyNaz


Pesan ini telah dihapus


"Dasar anak itu,, ", Arfin terkekeh melihat pesan terakhir yang dihapus oleh Naz.


" Ngapain kamu senyam-senyum sendiri kayak gitu Al? ", Tanya Mami nya dari depan pintu.


" Mami,,,? sejak kapan ada disitu", Arfin kaget melihat keberadaan Mami nya yang tiba- tiba.


"Sejak beberapa menit yang lalu", jawabnya sambil melangkah menghampiri Arfin yang tengah duduk di tempat tidurnya. " Mami masih butuh penjelasan dari kamu Al".


"Penjelasan soal apa, Mi?", tanya Arfin.


" Soal yang tadi kita bahas dan belum selesai ", Mami ternyata masih penasaran.


"Oke,, Mi,, kalo soal Naz,, Al menyukainya sejak Al pulang dari Amerika, awalnya Al gak tahu kalo dia anaknya Om Syarief, yang Al tahu dia anak Bunda, dan Om Rizal, tapi setelah mengetahui itu pun tidak menggoyahkan perasaan Al padanya, Al sangat mencintainya Mi dan kami saling mencintai, tolong jangan minta Al untuk menjauhinya, untuk saat ini Al gak bisa Mi,,", Arfin bicara dengan menundukkan pandangannya.


" Al... Mami senang akhirnya kamu punya pasangan, kenapa gak pernah dikenalkan pada Mami hem? ", ucapnya sambil mengusap punggung tangan putra bungsunya itu. " Al, Mami memang kaget saat tahu kalo siapa tadi namanya, Naz ya,,, kalo dia anak Mas Syarief dari wanita lain, karena takut jika Kakek mengetahui hal itu akan berakibat buruk pada hubungan kalian", ucap Mami nya.


"Tapi kan dia kakeknya Abang, bukan kakek ku,, jadi tidak berhak ikut campur dalam hubungan ku", ucap Arfin.


" Iya,, Mami paham,,, Mami janji,, tidak akan ada yang menganggu kebahagiaan mu, baik itu kakek atau pun Papi mu sendiri", Maminya langsung memeluk Arfin.


"Terimakasih Mi", Arfin pun membalas pelukan Maminya.


"Terus kapan kamu mau kenalin dia sama Mami?", tanya Mami saat melepas pelukannya.


" Minggu depan deh, Mi,,, ", jawab Arfin.


"Kok minggu depan lama amat nunggunya, kenapa gak besok saja? ", Mami protes.


"Besok dia sekolah Mi, liburnya cuma hari minggu", Arfin mengingatkan kembali kalau pacarnya itu masih anak sekolah.


" Ya baiklah,, terus kenapa itu anaknya Jeng Rahmi bisa ditahan?", Mami masih penasaran rupanya.


"Raline itu sering berbuat semena- mena pada Naz sejak masih SD dan puncaknya beberapa waktu lalu Raline menyuruh orang untuk mencelakai Naz di sekolah dan Naz sampe masuk rumah sakit,,, malah dia pernah ngatain Al si pincang, dan Mami tahu,,, Naz nampar dia", ucap Arfin dengan bangganya.


"Apa?? yasudah biarkan saja dia dipenjara, gak usah dicabut tuntutannya anak kejam begitu, berani- beraninya lagi ngatain anak Mami", ucap Mami kesal dan tidak sampai di situ, Mami terus bertanya bagaimana soal hubungan Arfi dengan Naz dan bagaimana sifat- sifat Naz. Obrolan ibu dan anak itu pun semakin panjang karena Mami yang super kepo segala macamnya ingin tahu.


Hari semakin petang, di langit pun sudah nampak mega menguning menandakan sang mentari telah menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Lantunan shalawatan mulai terdengar sebagai pertanda magrib akan tiba, dan tak lama azan pun berkumandang.


Seperti biasa di keluarga Naz melaksanakan ritual magriban hingga shalat isya, namun kali ini Naz tidak ikut serta karena sedang berhalangan. Setelah selesai isya barulah Naz turun dari kamarnya dan berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama. Seusai itu mereka duduk santai di ruang tengah dengan ngobrol- ngobrol ringan, mereka pun membicarakan keseruan pesta tadi pagi tapi mereka belum mengetahui soal penangkapan Raline.


" Dek, kok kamu ngilang sih waktu pesta? padahal abis dzuhur makin seru loh banyak games dan dorprize", ucap Dandy.


"Tadi siang aku pengen makan seafood jadi aku sama Kak Arfin pulang duluan deh nyari restoran seafood yang ada menu pete nya", jawab Naz.


" Emh..pantesan kamu bau pete ihh,,,, dasar pacaran mulu kalian", Dandy mengejek.


" Biarin,,, kan dia mau balik lagi ke Surabaya ", ucapnya tak mau kalah, " Loh, ini kan buku kenang- kenangan SMA alumni kakak kan? ", tanya Naz lalu mengambil buku itu.


"Iya,, tadi kakak nyari alamat teman- teman buat ngirim undangan pernikahan nanti", jawab Dandy.


"Kak Arfin dulunya kelas apa sih? penasaran pengen lihat foto masa SMA nya", tanya Naz, sambil membuka halaman demi halaman buku tersebut.


" Emm...Kelas 3IPA3 kalo gak salah", jawab Dandy ragu.


Naz membuka nya dan saat melihat satu nama ia merasa ada yang aneh, " Kak, nama lengkap Kak Arfin itu Al Arifin Naufal Akbarsyah?", tanya Naz.


"Iya,,, ", jawab Dandy.


"Eh, tunggu", Naz kembali membuka lembaran sebelumnya mencari nama seseorang, " Hah,,, kok nama belakang mereka sama? ", Naz kembali bertanya.


" Nama siapa? ", Dandy malah balik bertanya.


" Kak Arfin sama Bang Evan kok nama belakangnya sama, Akbarsyah? ", tanya Naz.


"Ya iyalah sama, orang bapaknya aja sama Mas Ahmad Latief Akbarsyah,,, ", Ayah tiba- tiba ikut menjawab.


" Apa,,,,?? maksudnya,, maksud Ayah mereka itu bersaudara? ", tanya Naz yang masih merasa terkejut.


"Loh, emangnya kamu teh gak tahu kalo Arfin sama Nervan itu kakak beradik? ", Bunda ikut berkomentar.


"Hah... mereka kakak beradik? kok bisa? tapi mereka satu angkatan? Ayah sama Bunda pasti bercanda ya? Mana mungkin, mereka gak ada mirip- miripnya,,, paling cuma matanya aja yang mirip", ucap Naz masih tidak percaya.


" Ya ampun,, kamu teh beneran gak tahu Naz,,,? Mereka itu teh kakak beradik, tapi lain ibu,,, setelah melahirkan Nervan, ibunya teh meninggal dan berwasiat agar Mas Latief menikah sama Hinda, lalu mereka punya Arfin, dan usia Nervan dan Arfin hanya terpaut satu tahun. Karena Arfin teh suka ngikut kemana aja Nervan pergi, saat sekolah pun sama pengen satu kelas, jadi mereka mah udah kayak anak kembar aja", Bunda menjelaskan.


"Apa...?? jadi mereka kakak beradik,,, yasalam,,, bagaimana bisa kedua kakak beradik itu suka sama gue, dan gara- gara gue juga mereka pernah berkelahi,,,, gila,,,, ini benar- benar gilaaa", Naz menggerutu dalam hati.



----------- TBC -----------


******************

__ADS_1


Mohon maaf baru up lagi,, πŸ™lagi disayang terus, sama Allah,,, πŸ˜‡


Happy Reading.....


__ADS_2