
Cemburu adalah sebuah emosi yang biasanya merujuk pada pikiran negatif, takut, dan khawatir kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintai dan disayanginya. Cemburu gak jauh berbeda dengan keposesif-an dan ketakutan bahwa sesuatu yang berharga bagi seseorang dapat direbut kapan saja darinya. Dan inilah yang kini dirasakan oleh Arfin yang merasa sangat kesal karena partner kerja sekaligus orang kepercayaannya mencoba mendekati Naz. Hatinya panas dan darahnya serasa mendidih, seolah ada bara api yang membakar dirinya melihat Naz yang bersikap manis pada partner kerjanya dan terkesan membuka diri untuk didekati oleh pria bernama Lutfi itu. Ditambah Naz memperkenalkan dirinya sebagai Eleanoor yang merupakan nama tengahnya, dan sebelumnya itu adalah nama yang mempersatukan Naz dan Arfin di dunia maya. ‘Teu ridho’ mungkin itulah kata yang ingin diungkapkan Arfin.
Cinta terkadang tak ada logika jika cemburu sudah melanda, padahal ia tahu pasti bahwa Naz dan dirinya sudah tidak ada hubungan apa- apa lagi alias sudah putus. Bahkan Arfin sendiri terus mencoba menjauhkan Naz darinya dan membuat Naz membenci dirinya dengan berpura- pura tidak mencintainya lagi serta berpura- pura sudah punya pacar baru. Tapi giliran Naz didekati pria lain, ia malah marah dan tak rela.... Anda sehat aa Arfin???
Arfin merasa sangat kesal karena sikap Naz yang sudah menganggapnya bagai butiran debu yang sudah dihempaskan dengan kemoceng dan pergi begitu saja meninggalkannya yang tengah dibakar api cemburu seorang diri di ruang tamu, padahal ia masih ingin berbicara dengan Naz untuk meluapkan kekesalannya karena Naz dengan begitu mudahnya memberikan nomor ponselnya pada Lutfi, karena selama ini ia tahu kalau Naz orang yang sulit didekati oleh pria mana pun.
“Argh,,,,”, Arfin memukul sandaran kursi dengan kepalan tangannya karena merasa marah dan kesal, kemudian ia beranjak pergi ke kamarnya. Ia terus menggerutu kesal, mengeluarkan makian sambil mengusap kasar kepalanya. Ia merasa tak habis pikir, Naz mantan kekasih yang masih sangat dicintainya didekati oleh orang kepercayaannya sendiri.
“Awas saja kalau kau benar- benar mendekati Naz,,, kau akan menerima akibatnya, Lutfi”, ucapnya kesal sambil meremas kepalan tangan kanannya menggunakan telapak tangan kirinya.”Kreket,,, kreket”. Begitulah kira- kira suaranya pemirsa..
Arfin beberapa kali menghela nafas panjang untuk menstabilkan emosinya, dan setelah merasa agak tenang namun pikirannya masih kacau, ia pergi keluar kamarnya, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Naz yang terletak di seberang kamarnya dengan menyebrangi ruang tengah sebagai pembatas kamar mereka. Entah apa yang dipikirkan Arfin, malam- malam begini hendak menemui Naz di kamarnya. Mungkinkah ingin selimutan berdua lagi? ..... Yassalam dedeuieun alias ketagihan…
Arfin mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu kamar Naz, namun ia mengurungkan niatnya saat mendengar suara deringan ponsel di dalam kamar Naz. Terdengar Naz menerima panggilan telepon, Arfin pun tidak jadi menemui Naz dan beranjak pergi, namun langkahnya terhenti saat mendengar Naz tertawa
“Hahahaha,,, oh ya,,masa sih sampe keinget terus gitu,,,?”
************
“Ternyata aku bisa bikin orang penasaran ya”
****************
“Hahaaha,,, apa iya aku bisa membuat seorang pria sampai tergila- gila padaku seperti itu…ngarang itu mah ah,,, hahaha”.
“Sial,,,si Lutfi breng*sek benar- benar langsung menghubungi Naz, dan bilang tergila- gila pada Naz segala lagi,,, awas kau ya”, Arfin menggerutu dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya. Ia kembali dan berdiri depan pintu kamar Naz hendak menguping Naz yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Rasa cemburu yang sudah meracuni pikirannya mampu membuat Arfin melakukan hal di luar kebiasaanya yang sebelumnya selalu cuek bebek terhadap urusan orang lain, namun sekarang ia sedang menguping bahkan sampai menempelkan telinganya pada pintu kamar Naz.
"Iya betul juga sih.. harus bertahap... perlahan tapi pasti ... ternyata menyenangkan juga ya... heheh"
*********
Wah seriusan,, yang bener ahh,, aku gak percaya ah,,, hahaha”.
Arfin kembali mendengar Naz tertawa bahagia, dan itu membuat darahnya semakin mendidih dan amarahnya seolah sudah mencapai ubun- ubun. Memang gila sih kalau dipikir- pikir, udah tahu bakalan menyakitkan malah sengaja menguping terus, Wayahna Aa.... haha
Ceklek,,, tiba- tiba Naz membuka pintu kamarnya dan sontak membuat Arfin terjatuh ke dalam kamar Naz karena tubuhnya yang menempel ke pintu ikut terdorong bersamaan dengan dibukanya pintu.
“Loh,,, Kak Arfin ngapain di sini? Mau ngintip ya? atau mau nyelinap masuk lagi ke kamar ku?”, tanya Naz kaget.
Arfin langsung bangkit dan berdiri, “Eng,,, enggak,,, tadi aku mau ke dapur kebetulan aja lewat, terus kesini eh itu eng…. anu euh...”, ucapnya tidak jelas.
“Apaan sih ngomong gak jelas banget,,, ngaku aja deh tadi Kak Arfin punya niat terselubung kan?,,, jangan- jangan kemarin malam juga sengaja ya masuk ke kamarku untuk berbuat macam- macam padaku? ”, tanya Naz curiga.
“Enggaklah,,, ngapain juga aku berbuat macam- macam padamu di rumahku sendiri?, aku tidak segila itu ”, Arfin tak rela mendapat tuduhan.
“Terus mau apa dong? mau nguping?”, tanya Naz sewot.
“Enggak,,, ngapain juga nguping pembicaraan mu yang sedang teleponan dengan si Lutfi ? gak ada kerjaan banget”, ucap Arfin keceplosan.
“Lah,,, itu kok tahu kalo aku lagi teleponan?”, Naz terus nyerongot.
“Ya itu,,, itu ,,, tadi suara tertawa mu kencang sekali,, jadi aku pikir kamu kesurupan gara- gara kemarin malam nyamar jadi kuntilanak”. Arfin tiba- tiba teringat kejadian kemarin dan menjadikan alasan.
“Kalian ada apa lagi sih,,, malam- malam gini ribut?”, tanya Bu Hinda yang tiba- tiba muncul.
“Ini nih anak Mami ngintipin aku dari balik pintu kamar,, pakai nguping segala lagi”, ucap Naz mengadu.
“Arfin,,, bener itu?? gak ada kerjaan banget kamu…. Awas ya kalau berani macam- macam sama Naz,,, Mami akan ngasih kamu pelajaran,,,, enak aja udah diputusin, ditinggalin sekarang mau macam- macam”, cerocos Bu Hinda sambil menunjuk- nunjuk ke arah Arfin.
Arfin mendengus kesal lalu beranjak pergi meninggalkan kedua wanita yang seolah membuat dirinya terpojok. Ia masuk ke kamarnya dengan membanting pintu,,, jebreddd,,, sedangkan Naz dan Bu Hinda nampak saling beradu pandang sambil tersenyum, kemudian keduanya kembali ke kamar masing- masing.
***
Keesokan harinya Naz melakukan kegiatan yang sudah rutin ia lakukan selama dua hari kemarin, ia memasak lalu beres- beres kemudian mandi. Setelah ia berpakaian rapi ia keluar dari kamarnya, dan kali ini ia ikut sarapan bersama. Ia berjalan menuju ruang makan sambil memainkan ponselnya, nampak sedang berkirim pesan yang disertai senyum bahagia dari bibir manisnya, dan tanpa ia sadari ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikannya dengan tatapan kesal....
saha deui ... si eta tea...😂😂
Naz tiba di ruang makan dan menduduki salah satu kursi di sana.
“Selamat pagi Nona cantik,,, ini jus alpukat nya,, tanpa es tanpa gula hanya pakai susu fullcream dan susu kental manis”, ucap Bu Hinda yang datang dari arah dapur membawakan jus kesukaan Naz yang sudah dibuatkannya.
“Pagi juga,,,, Wahh... makasih Mami,,, tahu aja minuman kesukaan aku”, ucap Naz sambil tersenyum.
__ADS_1
“Loh,, Bunda mu mana? kok belum ke sini tumben?”, tanya beliau
“Bunda tadi pergi duluan ke rumah Tante Ina,, katanya mau ke pasar lalu nyiapin acara tahlilan pengajian besok untuk tujuh hariannya almarhumah Ayunda”, ucap Naz menjelaskan lalu meminum jus nya.
“Eh iya,, Mami lupa,, kan semalam sudah bilang ya,,, nanti kita bikin kue lagi ya buat suguhan besok,,, soalnya semalam cuman bikin buat makanan kita aja coba- coba resep baru,,,”.
“Oke,,, makasih ya Mami”, ucap Naz tersenyum.
“Ngapain kamu manggil Mamiku dengan sebutan Mami?”, tanya Arfin yang baru datang kemudian duduk dan menyimpan tas kerjanya di kursi sebelahnya.
“Hei,,, dia itu putus hubungan dengan mu bukan berarti putus hubungan dengan Mami juga,,, Mami udah anggap dia sebagai anak Mami sendiri kok,,, yak kan sayang”, ucap Bu Hinda yang kemudian menoleh ke arah Naz yang duduk di kursi sebelahnya sambil tersenyum dan Naz pun membalas senyumannya.
Arfin hanya mendengus kesal tanpa membalas perkataan Mami nya demi menghindari perdebatan di meja makan tersebut. Ia meminum jus buah yang sudah disediakan untuknya, kemudian mengisi piring kosongnya dengan nasi beserta lauk nya.
“Al… kok ada lingkar hitam gitu di bawah matamu? Apa kamu habis bergadang? Jangan bilang kamu takut didatengin kuntilanak cantik lagi,,hahhaa”..
“Gimana bisa tidur,, semalaman aku gelisah memikirkan Naz dan si Lutfi sialan itu”, ucap Arfin dalam hati.
“Berkas yang diserahkan Lutfi semalam ada banyak yang salah jadi semalaman aku memperbaikinya”, ucap Arfin berbohong, lalu mulai makan.
“Kamu tuh baru sembuh beberapa hari yang lalu Al,, jangan kerja sampai begadang gitu lah,,, gak baik buat kesehatan mu,,”, ucap Mami sambil makan.
“Iya, Mi,,,, “, ucapnya lalu melanjutkan makannya dengan lahap.
“Beberapa hari ini Mami perhatikan kamu makannya selalu lahap, gak seperti biasanya,,, apalagi kalau sarapan, paling kamu makan dua atau tiga suap saja, atau cuman makan buah dan sayur aja”, ucap Mami seolah menyindir.
“Beberapa hari ini masakan Mami enak, aku suka”, jawab Arfin yang sudah hampir selesai makan.
“Oh... jadi selama ini gak pernah enak,,,??”, tanya Mami kesal.
“Bukan gitu,, beda aja dari biasanya, akhir- akhir lebih enak”, ucapnya sambil terus makan, sedangkan Naz nampak tersenyum.
“Ya iyalah beda,, orang yang masaknya juga beda,,,”, jawab Mami.
“Emangnya siapa yang masak? “, tanyanya lalu memakan suapan terakhir.
“Nih orang yang duduk di di sebelah Mami”, Mami menunjuk ke arah Naz.
Uhuk uhuk uhuk ,,,,, Arfi langsung tersedak karena terkejut mendengar perkataan Mami nya.
Bu Hinda tersenyum bahagia dengan apa yang sedang dilihatnya,
“Naz ternyata masih perhatian pada Arfin,, seandainya kalian bisa bersatu lagi,, alangkah bahagia dan beruntungnya kamu Al mendapatkan gadis secantik dan sebaik Naz, walaupun sudah kamu sakiti, tapi dia masih tetap bisa bersikap baik padamu”, gumamnya dalam hati
“Kamu kaget ya kalau Naz udah pinter masak,,, Mami juga awalnya kaget,, karena sebelumnya dia hanya bisa motong sayuran aja”, ucap Bu Hinda seolah mengingatkan Arfin pada saat ia pertamakali membawa Naz ke rumahnya dulu.
Arfin hanya diam dan pura- pura memainkan ponselnya yang ia ambil dari saku celananya karena bergetar dan tidak menanggapi perkataan Mami nya,
“Jadi beberapa hari ini dia yang memasak untukku?”, gumamnya dalam hati merasa senang, senyuman pun terukir dari bibir manisnya dengan berpura- pura membaca pesan, padahal ia sedang memandangi foto Naz di layar ponselnya.
Mami hanya tersenyum melihatnya, lalu beralih pada Naz, “Naz,, kamu mau kemana sih udah rapi gitu?”, tanya Bu Hinda yang sudah selesai makan.
“Seperti biasa, aku mau ke rumah Tante Ina,,, emmm tapi nanti agak siangan aku janjian ketemuan sama temenku”, ucap Naz menjawab pertanyaan Bu Hinda, dan seketika senyum di bibir Arfin sirna.
“Apa,,,?? Baru saja semalam berkenalan sekarang Mereka sampai janjian ketemu segala,,, benar- benar kau mencari masalah denganku Lutfi,,, awas kau”, Arfin menggerutu kesal dalam hatinya.
“Maaf Den,,, itu Pak Tejo sudah datang”, ucap Mbak Retno.
“Mami,,, aku berangkat dulu,,, sopirku sudah datang”, ucap Arfin bangkit dari duduknya lalu mencium tangan Maminya dan beranjak pergi setelah mengucap salam dan dibalas oleh ketiga wanita yang ada di ruang makan itu.
Selama dalam perjalanan menuju kantor, Arfin tak bisa berhenti memikirkan Naz dan Lutfi. Gelisah, marah, kesal, takut, bercampur aduk menjadi satu. Rasa cemburu sudah benar- benar merusak mood nya sejak semalam, sampai ia tidak bisa tidur dan sekarang hatinya pun merasa tidak tenang, padahal dia sudah kenal baik dan tahu karakter Lutfi yang sejak satu tahun lalu menjadi orang keparcayaa nya itu.
“Bagaimana bisa dia secepat itu dekat dengan laki- laki yang baru dikenalnya? Pasti si Lutfi terus merayunya,, dasar brengs*ek,, awas saja aku tidak akan membiarkan pertemuan kalian terjadi,,, lihat saja nanti”, Arfin terus menggerutu dalam hati kemudian memukul jok dengan kepalan tangannya beberapa kali, tentunya itu mengagetkan sang sopir.
“Wah,, bahaya,, kalau Pak Arfin sedang marah begini, suasana kantor pasti jadi mencekam”, gumam Pak Tejo dalam hati yang merupakan sopir kantor dan sudah tahu tabiat Arfin kalau sedang marah, dari kaca spion terlihat wajah majikannya yang sedang bermuram durja itu.
Setelah beberapa saat Arfin pun sampai di kantor dengan raut wajah yang tidak bersahabat, sehingga para karyawan kantor yang berpapasan dengannya pun tidak berani menyapa, karena sudah pada tahu kalau Arfin sedang badmood maka siapa saja bisa kena sasaran pelampiasan kemarahannya.
Arfin memasuki ruangannya dengan melewati dua pegawainya yang sedang duduk di meja sekertaris.
“Aduh,,, bagaimana ini,,, sebentar lagi ada meeting,,, itu si Bos kalau sudah badmood gitu bisa ngamuk- ngamuk gak jelas di ruang meeting”, ucap Dilara yang memperhatikan raut wajah bosnya tadi. “Tri,,, bilang sama semua yang ikut meeting nanti, jangan ada kesalahan sekecil apa- pun,,, bisa panjang urusannya nanti,, meeting satu jam bisa sampai berjam- jam lamanya cuman mendengarkan amukan si Bos”, ucap Dilara.
__ADS_1
“Siap Bu,,, tapi Bu,, apa mending di reschedule aja meeting-nya jangan sekarang,,, terlalu beresiko”, ucap Tri memberi saran.
“Dia sendiri yang minta meeting hari ini,,, kalau aku menyarankan menundanya, maka akulah yang akan jadi sasaran empuk kemarahannya,,, tidak layaww,,, sudah sana kabari yanga lain”, ucap Dilara lagi.
“Hemm,,,, serasa makan buah simalakama kalau begini caranya,, di tunda kena marah, nanti meeting bakalan kena marah lagi,, semoga tidak ada yang membuat masalah”, ucap Tri yang kemudian beranjak.
“Dilara,,, !!”. Teriak Arfin dari dalam ruangannya, dan Dilara pun segera masuk ke ruangan bos nya itu setelah mengetuk pintu terlebih dahulu dan diizinkan masuk.
“Selamat pagi Pak?”, ucapnya tersenyum manis.
“Hari ini ada meeting kan,,, ?“, tanyanya.
“Iya Pak,,, membahas revisi laporan pembukuan dua hari yang lalu”, jawabnya.
“Pastikan Lutfi tidak ikut meeting,, aku sedang malas melihat wajahnya hari ini”, ucapnya memberi perintah.
“Ya ampuun,, dua sejoli ini sedang bertengkar lagi rupanya”, gumam Dilara dalam hati.
“Kamu dengar gak apa yang saya bilang?”, sentak Arfin.
“Iy,, iya Pak,, saya akan suruh Pak Lutfi diam di ruangannya saja”, Dilara menjawab terbata- bata.
“Apa kamu tuli? Tadi saya bilang kirim dia ke lapangan untuk melihat proyek pembangunan yang di daerah Gayungan.. diajak ngomong malah ngelamun”,
“Iy iya Pak siap,, laksanakan,,, saya permisi Pak”. Ucapnya lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan Arfin, “Ya ampun,, kenapa gue bisa gak dengar tadi dia ngomong gitu,,, kualat deh gue gara- gara mengumpat ngegibahin dia dalam hati jadi kena semprot”, ucap Dilara sambil berjalan menuju ruangan Lutfi.
Setelah beberapa saat kemudian meeting pun dimulai, dari awal sampai tengah berjalan dengan lancar tanpa ada kesalahan karena mereka sebelumnya sudah diperingatkan oleh bagian sekretariat. Namun saat Arfin membaca laporan total pengeluaran tidak memakai simbol Rp alias rupiah ia langsung mendapat alasan untuk meluapkan kemarahannya yang sudah ia pendam sejak semalam.
“Apa ini?”, ucapnya dengan nada tinggi sambil melempar berkas laporan keuangan.
“A ada apa Pak? Apa ada kesalahan?”, tanya staf bagian keuangan.
“Lihat itu pada total pengeluaran,,, dari atas jenis pengeluaran memakai simbol rupiah yang ditulis sebelum angka, kenapa pada total akhirnya tidak menggunakan simbol rupiah? Kenapa gak sekalian saja anda ganti pakai simbol dollar!”.ucapnya ketus.
“Ma maaf Pak,, tadi saya kurang teliti saat mengeprint nya”, orang itu nampak ketakutan dan menunduk.
“Maaf maaf saja,,, saya sudah bilang setelah direvisi jangan ada kesalahan lagi,, masa seperti ini saja anda tidak becus !”, intonasi suara sudah mulai naik.
“Ya ampuun,,, udah pada dibilangin jangan bikin kesalahan sekecil apapun,, gara- gara masalah sepele gini aja bisa jadi runyam dan menghambat pekerjaan nantinya”, gerutu Dilara dalam hati.
“Anda tahu kan didalam pekerjaan ketelitian itu sangat penting, apalagi dalam laporan keuangan seperti ini yang akan diserahkan ke kantor pusat,, anda ingin merusak reputasi kantor cabang ini hah?”, Arfin semakin marah.
Tok tok tok… ada suara orang mengetuk pintu,, ceklek pintu pun dibuka oleh seorang wanita.
“Sejak kapan ada karyawan yang diperbolehkan mengganggu jalannya meeting?”, sindir Arfin dengan suara tinggi.
“Saya minta maaf sebelumnya Pak, tapi di luar ada tamu yang mencari Bapak”, ucap staff seorang wanita.
“Suruh tunggu sampai saya selesai meeting,,”, jawab Arfin tanpa menoleh.
“Baik Pak,, saya akan menyuruh Nona Rheanazwa menunggu Bapak selesai meeting”, ucap staf itu dan membuat Arfin terkejut.
“Siapa? Siapa kamu bilang tadi nama orang yang mencari saya?”, tanyanya sambil melihat ke arah staf itu..
“Nona Rheanazwa, Pak”, jawabnya dan Arfin pun langsung bangkit kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan meeting.
“Alhamdulillah,,,,,”, semua yang ada di ruangan meeting mengucap syukur.
“Saya kan sudah bilang jangan melakukan kesalahan sekecil apa pun,,, cepat sekarang perbaiki dan print ulang berkas laporannya sebelum si Bos balik ke sini lagi”, ucap Dilara pada staf divisi keuangan itu, dan ia pun bergegas pergi untuk memperbaikinya.
Sementara Arfin tengah berjalan menuju ruang kerjanya karena staf yang tadi memberitahunya bahwa Naz menunggu di ruangannya. Arfin merasa heran dan bertanya- tanya atas kedatangan Naz ke kantornya itu, " Untuk apa dia kemari... apa untuk menemui si Lutfi sialan itu... mereka benar- benar kelewatan janjian di kantor ku sendiri... apa mereka ingin membuat ku cemburu sampai ke ubun- ubun ? ", gerutu nya dalam hati merasa kesal.
-------------- TBC --------------
************************
Monmaap hamba nulis part nya kepanjangan efek kemarin sibuk dan ngak sempat nulis jadi isi kepala murudul inih .... jadi dibagi dua bagian.... 🙏🙏
Happy Reading😉
__ADS_1
jangan luva tinggalkan jejak mu... like komen rate bintang 5 vote hadiah seikhlasnya ...🤭😘
Tilimikicih ...alapyu oll...😍😘