
“Ternyata kamu masih doyan makan seperti dulu ya, Buntelan Kentut”, ucap orang itu terkekeh.
Naz langsung membulatkan kedua bola matanya, “Kurang ajar ngatain gue buntelan kentut, perasaan gue gak segendut itu deh….”, Naz menggerutu kesal dalam hatinya, ia hendak mengarahkan pandangan pada orang itu yang suaranya berasal dari arah belakang tempat ia duduk.
“Hai,,, anak baru juga ya”, seseorang yang memakai pakaian hitam putih seperti dirinya, menyapa Naz lalu duduk di sebelahnya.
Naz pun mengurungkan niatnya untuk melihat orang yang tadi mengatainya buntelan kentut dan malah melihat orang yang duduk di sebelahnya. “Iya,,, kamu juga baru ya”, Naz menjawab dengan ramah.
“Iya,, kenalkan,, namaku Kristina kamu bisa memanggil ku Kris”, ia mengulurkan tangannya.
Naz pun membalas uluran tangan Kris dan mereka pun bersalaman, “Aku Rheanazwa, kamu bisa memanggilku Naz atau Nanaz”, keduanya kemudian saling melepaskan tangannya.
“Bukan asli Jawa ya,, kelihatan dari logat nya gak medok”, ia asal tebak.
“Iya,, aku dari Jakarta,, kamu juga gak medok,, pasti bukan asli Jawa juga ya?”.
“Aku asli Garut, cuman sudah 10 tahun di Surabaya, karena orang tua ku kerja di sini,,”, rupanya Kris orang yang cepat akrab.
“Wahh,, akhirnya bisa ketemu orang Sunda di sini”, Naz merasa senang.
“Oh,, kamu asli Sunda juga? Ngambil jurusan apa di sini?”, Kris terus mengakrabkan diri dengan Naz.
“Iya,, Bunda ku asli orang Sunda, jadi nurun lah sama aku,, hehehe,,, aku ngambil Manajemen Bisnis”.
“Wah kebetulan banget,, sama dong,, aku juga Manajemen Bisnis,, semoga kita bisa satu kelas ya,,”, harap nya.
“Emm,,, aku mau shalat dulu ya,, “, Naz melihat orang-orang sudah pada keluar.
“Oh iya silahkan,,, “, Ia pun mempersilahkan.
Naz beranjak ke tempat wudhu kemudian ia masuk ke dalam masjid dan melaksanakan shalat.
Seusai melipat kembali mukenanya dan memasukannya kembali ke dalam tas, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
“Kok tumben dia gak nelpon atau mengirim pesan”, Naz merasa heran lalu ia menelpon suaminya yang ternyata nomornya tidak aktif dan setelah beberapa kali pun tetap sama. Akhirnya ia menghubungi sekertaris suaminya, Dilara.
“Hallo selamat siang, Bu Bos”, sapanya.
“Hallo juga,, jangan panggil Ibu ihh,, apalagi Bu Bos”, Naz memprotes.
“Hahaha,,, maaf lupa,, kenapa Bumil? mau nanyain Papa nya si utun ya? si obos tadi abis meeting langsung pergi ke tempat proyek sama Pak Lutfi”. Dilara sudah tidak canggung karena keduanya sering bertemu setiap Naz mengantarkan makan siang ke kantor.
“Oh,, gitu ya,, kok nomornya gak aktif ya? gak biasanya,?", Naz mengorek informasi.
“Mungkin disana susah sinyal atau baterai ponselnya lowbat”, Dilara memberi pemikiran positif.
“Pantesan gak bisa dihubungin”.
“Oh iya gimana hari pertama ospek, kata si bos kesiangan ya? soalnya dia juga datang ke kantor kesiangan”.
“Ya gitu deh,,, udah mah kesiangan dompet pula ketinggalan,, mana di tas gak ada uang sepeser pun”,Naz malah keceplosan curhat.
“Waduh,, kok bisa? Pasti belum makan siang ya… aku segera ke sana ya.. bhay”, Dilara langsung mematikan sambungan teleponnya.
“Etdah ni orang maen matiin aja, orang belum selesai ngomong juga”, Naz memasukan ponselnya kembali ke dalam tasnya, ia bangkit dan beranjak keluar dari masjid.
“Udah selesai, Naz…” Tanya Kris yang masih duduk di tempat yang sama.
“Eh kamu masih di sini Kris?”, Naz merasa heran.
“Iya, nungguin kamu biar kita barengan ke Aula nya,,, “, ucapnya, Naz pun kembali memakai sepatunya, “Eh tapi masih setengah jam lagi deh,, gimana kalau kita lihat- lihat kampus ini dlu”, ajaknya.
“Emm,, boleh,, “, keduanya pun beranjak meninggalkan masjid, mereka berjalan santai sambil melihat- lihat kampus yang akan menjadi tempat belajar mereka selama empat tahun ke depan. Tak lama ponsel Naz berdering dan ternyata itu dari Dilara yang mengatakan ia sudah ada di parkiran kampus.
“Kris,, parkiran kampus dimana ya?”, Naz belum tahu letaknya.
“Oh,, deket kok dari sini, mobilku juga parkir di sana,, kamu mau ke sana?”.
“Iya,,, soalnya ada seseorang yang menunggu ku di sana”.
“Siapa? Pacar ya?”, Kris malah menggoda Naz.
“Bukan,,, orang perempuan juga”. Mereka pun berjalan menuju parkiran, Naz kembali menghubungi Dilara dan akhirnya mereka bertemu.
“Ini makan siangnya dan ini uang jajannya”, Dilara memberikan satu Katong kresek dan amplop berisi uang.
“Ya ampun,,, maaf ya Kak jadi ngerepotin…”, Naz merasa tidak enak.
“Gak apa- apa ,, ini udah bagian dari tugas ku sebagai sekertaris yang multiguna,, hahaha,, aku permisi dulu ya,,, makan yang banyak ya bumil, biar baby nya sehat”, Dilara pun pamit untuk kembali ke kantor.
“Makasih onty”, Naz menirukan gaya anak kecil.
“Hah,, bumil?? Kamu lagi hamil, Naz?”, Kris terkejut mendengar nya.
“Iya,,, udah delapan minggu”, Naz mengelus perutnya, “Dan yang tadi itu sekertaris nya suami ku”,
“Eh,, kita makan yuk,, ini dua lunch box,, tapi minumannya susu sama jus ibu hamil,, hehehe”, Naz menawarkan Kris makan.
“Aku udah makan tadi kantin,, kamu makan aja semuanya, biar bayi mu sehat,, kita duduk di sana aja yu,, kalau ke kantin kejauhan,,,”, Kris menunjuk ke arah bangku kosong.
Keduanya duduk di bangku yang terdapat di luar ruangan kelas, Naz pun memakan makan siangnya. Ia hanya menghabiskan satu box saja, dan yang satu lagi ia berikan kepada seorang bapak- bapak yang sedang menyapu dedaunan halaman kampus.
Seusai itu mereka kembali ke Aula, arena jam istirahat telah usai.
**
Sementara di tempat lain, Arfin dan Lutfi yang sedang meninjau lapangan, pergi ke sebuah restoran untuk makan siang. Mereka pun masuk dan duduk lalu memesan makanan.
Arfin mengambil ponsel dari dalam saku celananya yang ternyata dalam keadaan mati.
“Kok ponsel ku mati ya?”, Arfin merasa heran.
“Mana gue tahu”, Lutfi mengedikkan bahunya.
“Gue gak nanya sama lo, orang ngomong sendiri juga”, ucapnya tanpa menoleh, “Bawa powerbank gak?”, kini ia bertanya pada Lutfi, namun yang bersangkutan tidak menjawabnya, “Lutfi, lo tuli apa? bawa powerbank gak?", tanya nya sekali lagi
“Oh , ngomong sama gue? Kirain masih ngomong sendiri,”, Lutfi mengambil powerbank dari dalam tas nya dan memberikannya pada Arfin, “Nih…”..
“Kabelnya mana dodol? Gimana caranya bisa di charger ponsel gue”, tanya Arfin yang merasa kesal.
“Hahaha,, sorry lupa,, “, Lutfi kembali mengambil kabel dari dalam tasnya, “oh iya, Dilara bilang tadi ibu negara nelpon dia”, ia melapor.
__ADS_1
“Ibu negara siapa?”, Arfin mencharger ponselnya.
“Negara kehidupan lo,,, ya bini lo lah,, kan gue udah batal nikah,, ”, Lutfi malah curhat.
“Oh ,, mungkin karena nomor gue gak aktif, makanya dia menghubungi Dilara “, Arfin menghidupkan ponselnya.
“Iya karena itu salah satunya, alasan lainnya karena dompetnya ketinggalan di rumah dan bini lo gak bawa uang sepeser pun”.
“Apa??,, terus gimana dia bisa makan atau minum kalau gak bawa duit” Arfin terkejut mendengarnya.
“Tenang,, sekertaris lo baru aja pulang dari kampus bini lo nganterin makan siang sama uang”, Ucapnya dengan santai.
Arfin bernafas lega, “Syukurlah,, Dilara memang bisa diandalkan,,,”.
Tak lama pesanan mereka pun datang, dan keduanya langsung menyantapnya. Baru saja dua suap makan, Arfin tiba- tiba merasa mual, kemudian ia bergegas pergi mencari toilet, ia pun muntah- muntah di sana. Setelah merasa lebih baik ia kembali ke meja nya.
“Kenapa Ar?”. Lutfi merasa heran.
“Enggak apa- apa”, Arfin kembali duduk, ia minum orange jus kemudian melanjutkan makannya lagi, namun setelah dua suapan makanan ia kembali mual dan pergi ke toilet memntahkan isi perutnya lagi, dan itu terjadi setiap ia memakan makanannya.
Setelah keempat kalinya ia muntah, ia mengganti memesan makanan yang berbeda, namun hal yang sama terus terjadi, akhirnya ia memutuskan untuk tidak melanjutkan makan, dan hanya minum jus saja.
“Lo kenapa sih Ar,, dari tadi bolak balik toilet? Lo sakit perut”, Lufti mengkhawatirkan bos nya.
“Kepala gue pusing banget”, Arfin memijat kepalanya
“Hah?? Pusing kok ke toilet? Lo minum air kran?”, Lutfi merasa heran.
“Jsnhan gila lo,,,, Mungkin makanannya gak cocok sama perut gue”.
“Perasaan nih makanan enak banget,, kita udah biasa kali makan di sini, ahh lo aja yang aneh,,”.
Arfin terus memijat kepalanya karena merasa pusing, lalu ia teringat dengan perkataan mertuanya, “Ya ampun,, gue bener- bener terkena syndrom kehamilan simpatik”,gumamnya.
“Hah?? Syndrom apaan tuh? “, Lutfi merasa aneh mendengarnya.
“Kan bini gue lagi hamil,, dan selama ini dia gak ada mual muntah,, ehh sekarang malah gue yang nalangin, ,”, kemas Arfin.
“Gila,,, saking cintanya sama bini lo,,, sampai mual muntah aja lo yang nanggung,,”,
“Jangan banyak ngomong lo,, kepala gue pusing banget nih,,, kita balik aja ke proyek", Afrin memijat kepalanya.
“Lo yakin mo balik ke sana? Mending lo pulang aja deh kalo masih pusing,,, kerjaan biar gue yang handel”, ucapnya menyarankan.
“Enggak,,, ntar tinggal beli balsem aja,, pusingnya juga hilang kalau dioles balsam”, ucapnya yakin.
“Yasudah ,,, bentar gue bayar dulu”, Lutfi bangkit dan beranjak ke kasir.
Keduanya kembali ke tempat proyek, dan saat di perjalanan mereka mampir ke apotek membeli balsem. Setelah kepalanya dioles balsem, rasa pusingnya berangsur menghilang dan bisa kembali bekerja.
Sorenya, Arfin pulang ke rumah dan disambut hangat oleh sang istri yang sangat merindukannya karena seharian tidak bertukar kabar. Naz terus menempel dengan dirinya sampai ia mandi pun Naz ikut mandi, padahal sebelumnya Naz sudah mandi.
Setelah shalat isya berjama’ah keduanya ke ruang makan untuk makan malam. Naz melayani suaminya dengan mengambilkan nasi dan lauk pauknya sesuai yang diinginkan suaminya. Keduanya pun makan bersama. Dan sama seperti saat makan siang tadi, baru saja dua suapan, Arfin merasa mual dan segera pergi ke kamar mandi.
Setelah beberapa saat ia pun kembali ke meja makan.
“Aa kenapa?”, tanya Naz heran.
“Enggak apa- apa,, ayok lanjut lagi makannya”, ucapnya tersenyum lalu melanjutkan makannya, dan setelah dua suapan ia kembali mual lagi dan bergegas ke kamar mandi.
“Hoek,,, hoek,,,”, terdengar suara Arfin yang tengah muntah- muntah.
Tok tok tok,,, Naz mengetuk pintu kamar mandi.
“Sayang,,, kamu kenapa?”.
“Hoek,, hoek,,, “, Arfin tak menjawab, karena masih muntah- muntah, dan setelah berhenti ia pun keluar.
“Aa kenapa kok muntah- muntah gitu? Apa Aa sakit?”, tanyanya khawatir.
Arfin menggelengkan kepalanya, kemudian ia mengusap perut Naz, “Sepertinya anaking lagi menghukum Aa, karena seharian tidak menanyakan kabarnya”, Arfin membungkukkan tubuhnya lalu mencium perut Naz, “Maaf ya anaking sayang,, Pagu nya tadi lagi banyak kerjaan dan ponselnya mati, jadi gak sempat menanyakan kabar mu”, ia pun kembali menegakkan tubuhnya lalu memijat kepalanya.
Naz tersenyum lebar melihat apa yang dilakukan suaminya, “Makanya, besok ponselnya di charger sampai penuh dulu sebelum berangkat kerja”.
“Kamu lanjutin aja makannya ya, Aa mau ke kamar,, kepala Aa pusing banget”.
“Tapi Aa belum makan, kita ke meja makan bareng ya,”, ajak Naz.
“Tadi kan Aa udah makan empat suapan”.
“Tapi kan keluar lagi barusan”, Ucap Naz.
“Nanti aja kalau kepala nya udah enakan Aa makan lagi,, maaf ya sayang,, kamu harus makan sendirian”, Arfin mengecup kening Naz kemudian ia pergi ke kamar untuk beristirahat.
Naz kembali ke meja makan dan melanjutkan makannya hingga selesai, walau sebenarnya sudah tak berselera karena terus mengkhawatirkan suaminya, namun ia harus tetap makan demi anaking- nya. Kini ia harus menyeduh sendiri susu yang biasanya selalu dikerjakan oleh Arfin.
Seusai minum susu, ia kembali menyiapkan makan untuk suaminya dengan segelas teh hangat juga satu gelas air putih untuknya, dan semuanya ditaruh diatas nampan. Mbak Retno yang melihat Naz hendak membawa nampan tersebut langsung mengambil alih karena seperti kata Arfin, mereka tak boleh membiarkan Naz melakukan pekerjaan rumah apalagi yang berat- berat.
Saat masuk ke kamar ia melihat suaminya sudah tertidur, ia meminum vitamin nya, lalu membangunkan Arfin untuk makan, dan ia pun bangun.
“Aa makan dulu ya?”, Naz duduk di pinggir dengan piring di tangannya.
“Kamu yang bawa nampan itu , sayang?”, Fokusnya malah pada nampan yang diletakan di atas meja kerja nya.
“Bukan,, tadi dibawakan Mbak Retno,,, aku suapin ya”, Naz menyendok makanan dari piring tersebut.
“Enggak ah sayang,, nanti Aa mual lagi,,,”, tolak Arfin.
“Mungkin tadi anaking masih kesal sama Aa,, tapi kan udah minta maaf,, siapa tahu sekarang Aa udah gak mual lagi kalau makan,,, lagian wajah Aa pucat gitu,, aku gak mau kalau Aa sampai sakit,,,”, Bujuk Naz.
Akhirnya Arfin pun bersedia makan dengan disuapi oleh istrinya, dan kini ia bisa makan hingga makanannya habis tanpa mual muntah,
“Alhamdulillah,,, “, ucapnya setelah selesai makan lalu meminum teh hangat nya.
“Tuh kan benar,,, anaking udah gak marah sama Pagu nya”.
“Iya kamu benar sayang,,, “,Arfin kembali mengelus perut Naz, “kamu udah minum susu?”.
“Udah tadi abis makan langsung minum susu, dan saat masuk kamar tadi langsung minum vitamin”, Naz melapor.
“Maaf ya sayang,,, kamu jadi harus nyeduh sendiri susu nya".
__ADS_1
“Enggak apa- apa,, mudah ini kok gak harus meras dari induk sapi dulu”, ucapnya tersenyum, lalu ia memanggil Mbak Retno yang ada di luar kamar untuk membawa kembali nampannya.
Seusai itu Naz ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi, Arfin pun melakukan hal yang sama setelah Naz keluar dari kamar mandi.
Keduanya kini tengah duduk selonjoran di atas tempat tidur, dengan Naz menyandarkan tubuhnya pada Arfin yang memeluknya dari samping.
“Gimana aja tadi di kampus? Dilara bilang dompet mu ketinggalan ya?”, Arfin memulai percakapan.
“Ya gitu deh mendengarkan pengenalan kampus dan segala macam tentang isinya,, Iya dan aku tahu nya pas udah pesan jus dan ngambil roti, pas mau bayar gak ada uang sama sekali,, padahal cuman 26 ribu,, eh ada senior yang bayarin, katanya gak mau kalau sampai panitia kerepotan kalau aku pingsan”, Naz menceritakan kejadian yang ia alami di kampus, namun ia tak mengadukan soal Ochi senior rese.
“Siapa yang bayarin kamu? Laki- laki apa perempuan?”, Selidik Arfin.
“Haduhh,, kenapa musti ngomong segala ada yang bayarin, mana cowok lagi, ini mulut kok bisa keceplosan ini” gumam Naz dalam hati.
“Hei,, kok gak jawab sih?”, Arfin rupanya menunggu jawaban istrinya.
“Eng,,, itu,, eng anu,,, dia cowok,, tapi aku mau balikin uangnya kok biar gak punya hutang,,, aku juga udah punya teman baru namanya Kristina, dia orangnya ramah dan cepat akrab, sifatnya mirip kayak Ruby, cerewet,”, Naz mencoba mengalihkan pembahasan senior yang sudah membayar jajanannya tadi dengan menceritakan teman baru nya.
“Modus itu,, dia pasti cuman mau deketin kamu… jangan berurusan lagi dengan laki- laki itu.. besok Aa akan carikan bodyguard yang akan ngawal kamu ke kampus biar gak ada laki- laki lain yang dekatin kamu”, Arfin tetap fokus pada pembahasan si lelaki itu malah akan memperketat penjagaan Naz.
“Aduh,, ngapain sih sayang,, lagian kan aku udah menikah dan lagi hamil,, mana ada cowok berani deketin aku,, gak usah ada pengawal- pengawal deh,, nanti aku malah gak nyaman sayang”, Naz menolah dikawal.
“Enggak,, pokoknya Aa akan tetap mencari bodyguard buat kamu,, sekalian buat menjaga mu dan anak kita saat kamu di kampus, karena Aa gak bisa menjaga kamu setiap saat”, Arfin tetap kekeuh.
“Iya,, terserah Aa aja deh”, Naz hanya bisa pasrah daripada harus berdebat lagi.
“Sayang”, panggil nya.
“Hem,,,,”, sahut Naz.
“Puasanya udahan ya,,, kasihan si ujang jadi jablay nih", Arfin mulai belok.
“Hah ,,,?? Jablay”, tanya Naz heran.
“Iya,,, jarang dibelai”, Arfi memperjelas.
“Tapi kan kata dokter_____ “, Naz hendak mengingatkan.
“Aa nanya ke Dandy boleh kok, asal pelan- pelan katanya, jangan lincah seperti biasanya”, Arfin terus membujuk.
“Tapi_____”, Naz merasa ragu, Arfin malah tiduran dan menjadikan paha Naz sebagai bantalan, ia menghadap ke perut Naz .
“Anaking sayang,,, kamu mau ditengokin gak? Pagu janji akan hati- hati”, Ia malah melakukan hal konyol.
Naz tertawa melihat kelakuan suaminya, yang ditolak olehnya malah minta izin pada anaknya.
“Tuh yank,, boleh katanya”, Arfin ngelantur.
“Ngarang,,,, “, Naz tak mempercayainya.
“Yank,, boleh ya,, kepala Aa pusing nih”, Arfin memelas karena sudah tidak bisa menahan setelah sebulan libur, akhirnya Naz mengabulkan permintaannya karena merasa tak tega, padahal sebenarnya ia juga menginginkannya.
Arfin pun memulai aksinya, namun selama pergulatan berlangsung bukan desahan yang terdengar dari mulut Naz, tapi segala aturan bagaikan guru les private yang terus mengingatkan Arfin, jangan terlalu lama, jangan kencang- kencang, jangan terlalu dalam, jangan terlalu aktif gitu, yang membuat keduanya tidak bisa menikmatinya, dan malah menambah sakit kepala Arfin. Akhirnya agar tidak banyak cingcong, Arfin melahap bibir Naz dengan bibirnya sampai pergulatan yang hanya beberapa menit saja itu berakhir. Keduanya pun terkapar lemas yang kemudian mengantarkan mereka berkelana ke alam mimpi, tentunya dengan tangan Arfin yang menempel di perut Naz, karena sudah menjadi kebiasaannya sebelum tidur minta dielus- elus perutnya.
**
Keesokan harinya, setelah mandi dan shalat subuh Naz tidak tidur lagi karena takut bangun kesiangan, ia pun tidak merasakan ada hal yang aneh pada dirinya atau pun kandungannya setelah pergulatan semalam. Ia memeriksa perlengkapan yang akan dibawa nya di dalam tas, agar tidak ada yang tertinggal lagi.
Saat sarapan Arfin kembali mual muntah, sehingga ia hanya meminum jus saja tak melanjutkan makan nya. Ia kembali meminta maaf kepada anaking-nya, karena ia berpikir anaking- nya itu marah padanya gara- gara sudah menengoknya semalam. Naz hanya tertawa geli melihat kelakuan suaminya, kemudian menyiapkan kotak bekal makan untuk suaminya karena tadi hanya minum jus saja.
Keduanya pun berangkat untuk mengantarkan Naz ke kampus, dan selama di perjalanan Arfin terus mewanti- wanti agar tidak berurusan lagi dengan lelaki kemarin atau pun dengan laki- kali lainnya lagi, dan juga ia melarang Naz agar tidak mengikuti kegiatan yang akan membuatnya kecapek-an.
Sesampainya di kampus, Naz bertemu dengan Kristina dan mereka masuk barengan.
“Itu tadi suami mu ya? ganteng euy”, ucapnya memuji.
“Iya dong, suami siapa dulu.,, hahaha”, Naz malah membanggakan dirinya. Mereka pun ikut bergabung dengan barisan mahasiswa baru lainnya yang sudah berkumpul di lapangan sebelum memasuki Aula.
Setelah mendengar beberapa pengumuman dan penuturan dari paintia yang tergabung dalam organisasi BEM, lalu barisan pun dibubarkan dan semua dipersilahkan memasuki Aula.
“Eh tunggu,, itu kan senior yang kemarin bayarin makanan ku,, antar ke sana yuk,, aku mau balikin uangnya”, sebenarnya Naz tidak mau melanggar perintah suaminya, tapi ia hanya tidak ingin punya hutang dan setelah membayar, urusannya dengan orang itu akan selesai, pikirnya.
“Oke,,,”, keduanya pun menghampiri orang tersebut. yang tengah duduk di meja panitia depan pintu Aula.
“Permisi Kak,,, ini saya mau balikin hutang saya yang kemarin”, Naz menyodorkan uang pecahan 50 ribu.
Orang itu menatap Naz dengan tatapan sulit diartikan, “Tidak usah,, saya ikhlas kok”.
“Maaf Kak,, saya cuman gak mau punya hutang pada siapa pun, supaya saya bisa merasa tenang, tolong Kakak ambil uang ini”, Orang itu masih tak bergeming, akhirnya Naz menaruh uangnya di atas meja dan ia pamit pergi bersama teman barunya, Kris untuk masuk ke Aula.
“Naz,,, apa tadi kamu gak kelihatan menghina dia?”, Kris takut Naz mendapat masalah.
“Masa sih? Ah aku udah jelasin ini alasan ku mengembalikan uangnya, jadi ya terserah dia mau berpikir apa pun tentang aku, yang penting aku udah gak ada urusan lagi dengannya”, Naz merasa sudah mengatasi masalahnya dengan orang itu.
Saat jam istirahat tiba, Naz dan Kristina pergi ke kantin bersama dan setelah membeli makanan serta minumannya, mereka pun duduk di salah satu meja yang tersedia di sana untuk makan.
Keduanya yang sudah selesai makan hendak beranjak dari meja tersebut, namun tiba- tiba ada yang datang menghampiri mereka.
“Nih,, kembaliannya,,, 24 ribu,, “, orang itu memberikan uang kembalian pada Naz dan menaruhnya di atas meja yang membuat Naz merasa heran, “Kemarin kan utang kamu 26 ribu dan tadi kamu bayar 50 ribu, itu uang kembaliannya,, jadi kita impas ya ,, buntelan kentut”, ucapnya lagi.
“Whatt,,,?? jadi kemarin dia yang ngatain gue buntelan kentut”, gumam Naz dalam hati lalu ia mendengus kesal.
“Nama saya itu Rheanazwa, bukan buntelan kentut,, “, Naz menegaskan karena tidak suka dipanggil seperti itu.
“Saya juga tahu,,, kamu benar- benar lupa sama saya Naz?”, ucap nya yang seolah sudah mengenal Naz sebelumnya.
Naz yang tadinya hanya melihat sepintas wajah orang itu, kini ia menatap jelas orang itu sambil mengingat- ingat,
"Kris, ayok kita kembali ke Aula", Naz malah mengajak Kris pergi meninggalkan orang itu yang masih berdiri diantara ia dan Kris. Keduanya pun beranjak pergi.
"Siapa dia, ? apa iya gue kenal dia sebelumnya??", Naz yang tengah berjalan bertanya-tanya dalam hatinya.
"Eh.. tunggu,,, dia manggil gue buntelan kentut,, ?? ya ampun jangan- jangan dia___ ?? gak- gak mungkin,, masa iya dia ngikutin gue ke sini coba,, gak ada kerjaan banget ",Naz kembali bergumam dalam hati.
Naz membuyarkan lamunannya saat merasakan ponsel dalam tas nya bergetar, ia pun segera mengambil ponsel dsn langsung melihat layarnya.
Di sana tertera ada dua panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk.
Betapa terkejutnya Naz saat membaca pesan tersebut.
-------------- TBC ----------------
__ADS_1
*************************
Happy Reading......