Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ternyata Goreng Patut Kebalikan Dari Cantik


__ADS_3

Pagi ini udaranya terasa dingin seakan masuk ke tulang- tulang, rerumputan dan dedaunan pun masih terlihat basah oleh titik air embun serta sisa- sisa air hujan semalam. Dua insan yang tengah bercanda di pinggir kolam secara tidak sengaja saling berpelukan karena menyelamatkan sang gadis yang hampir terjatuh ke kolam. Lumayan menghangatkan pagi yang dingin yaa, ampe gak mau lepas gitu ih.


Seseorang menepuk pundak Arfin dan membuatnya melepaskan pelukan lalu membalikan badannya.


Bughh,,,satu pukulan mendarat di pipi kanan Arfin yang membuatnya terdorong hampir jatuh, lalu orang itu kembali menghampiri Arfin menarik kerah bajunya “Jangan pernah berani menyentuh Naz”, ucapnya dengan penuh penegasan dan raut emosi di wajahnya, sedangkan Arfin menatap orang itu tanpa memberi perlawanan.


“Kak Arfin,,,” Naz berteriak karena terkejut melihat Arfin yang tiba- tiba dipukul.


Bugh ,,,dia kembali melayangkan pukulannya kepada Arfin hingga Arfin jatuh tersungkur.


“Hentikan,,,,,jangan memukulnya lagi,,,”,Naz membentak pria yang telah memukul Arfin dan mendorong pria itu yang hendak menarik Arfin kembali seperti belum puas memukulnya, dan Naz menghampiri Arfin yang tersungkur lalu berjongkok untuk membantunya bangun.”Kak Arfin”, Naz membulatkan matanya saat Arfin memperlihatkan wajahnya pada Naz, “Ya ampun Kak,, kakak berdarah,,, ayo bangun kita masuk ke dalam aku bantu obati”, Naz membantu Arfin membangunkan dirinya lalu mereka berjalan sambil memegang lengan Arfin masuk ke dalam rumah. Naz hanya memberi tatapan kesal dan marah tanpa bicara satu kata pun pada pria yang telah memukul Arfin saat melewatinya.


Naz dan Arfin pun telah memasuki rumah dimana dari pintu samping itu langsung terhubung ke ruang tengah yang merupakan ruang keluarga biasanya berkumpul untuk ngobrol santai atau sambil nonton TV, di sana terdapat sofa yang membentuk leter L dan Arfin pun duduk di sana, sedangkan Naz langsung mengambil tisu di meja lalu membantu Arfin membersihkan darah yang keluar dari hidung dan tepi bibir Arfin,, ”Hsss,, aw”, Arfin meringis merasakan sakit saat tepian bibirnya yang terluka disentuh oleh Naz.


“Maaf Kak,, sakit ya,,“, Naz menghentikan tangannya dan menatap sendu pria di hadapannya yang wajahnya babak belur,, ”Sebentar ya Kak aku ambilkan kotak P3K dulu”, Naz pun bergegas pergi ke ruang makan..”Bunda, kotak P3K disimpan dimana?”, Naz langsung bertanya pada Bunda yang baru saja selesai sarapan bersama Ayah, Mimih dan Dandy.


“Bunda manggil kamu kesini teh buat sarapan bersama, eh ini mah malah nanyain kotak P3K, buat apaan Dek, kamu sakit lagi?”, Bunda merasa heran.


“Bukan aku, emm itu Bunda, Kak Arfin mulut sama hidungnya berdarah”, Ucap Naz.


“Hah, kok bisa? Kenapa itu anak? Dimana dia sekarang Dek??”, Dandy mewakili suara Bunda yang sudah membuka mulut hendak bicara.


“Kak Arfin ada di ruang tengah Kak, tadi habis dihajar sama Kak Arsen”. Naz menjawab rentetan pertanyaan dari Dandy.


“Apa??” semua orang yang di meja makan bertanya serentak karena terkejut. Dandy langsung bangkit dari duduknya dan bergegas menghampiri Arfin diikuti Naz dari belakangnya, sedangkan Bunda pergi mengambil kotak P3K terlebih dahulu sebelum menyusul ke sana.


“Ar, lo gak apa- apa?”, Dandy menghampiri Arfin dan duduk di sebelahnya.


“Menurut pengelihatan lo?”, Arfin yang tengah meringis kesakitan malah balik bertanya.


“Arfin, kenapa Arsen sampai memukul kamu, memangnya ada masalah apa diantara kalian, bukannya tidak pernah bertemu sebelumnya?”, Ayah yang baru sampai ruang tengah langsung menanyai Arfin.


“Dia udah kurang ajar Yah, berani- beraninya memeluk Naz tadi, makanya aku hajar dia”, Arsen yang baru masuk langsung menjawab pertanyaan Ayah.


“Apa ?? Apa benar yang dibilang Arsen itu Arfin?”. Ayah kembali memberi pertanyaan kepada Arfin dengan tatapan heran. Serasa lagi main kuis rebutan pertanyaan, yang nanya ke siapa yang jawab siapa, hadeuh.


“Itu cuma kesalahpahaman Ayah, Kak Arfin gak bermaksud begitu, tapi tadi tuh…”, Naz mencoba menjelaskan tapi belum selesai langsung dipotong oleh Arsen.


“Kamu gak usah belain dia Dek, jangan karena dia temannya Kak Dandy bukan berarti dia bisa seenak jidatnya aja nyentuh- nyentuh dan kurang ajar sama kamu, pelecehan itu namanya”, Arsen masih terlihat marah.


“Arsen, jaga bicara lo”, Dandy tidak terima tudingan Arsen pada sahabatnya.


“Makanya dengerin dulu kalo orang lagi ngomong !”, Seru Naz pada Arsen dengan nada ketus lalu melanjutkan penjelasannya.”Tadi tuh kaki aku terpeleset terus aku hampir jatuh ke kolam ikan, untungnya Kak Arfin berhasil menarik tangan aku, karena kehilangan keseimbangan jadi aku tertarik ke badannya Kak Arfin seolah- olah kami berpelukan,,,tiba- tiba Kak Arsen menepuk pundak Kak Arfin dan langsung memukulnya tanpa aba- aba,, lalu kembali memukulnya, kalo aku gak mendorong Kak Arsen dia hampir menghajar Kak Arfin yang udah terkapar”, Naz menatap tajam kepada Arsen.


“Saya minta maaf Om, saya tidak bermaksud kurang ajar atau pun melecehkan puteri Om, tadi itu saya tidak sengaja “, Arfin pun angkat bicara sambil memegang pipinya yang dekat dengan tepian bibirnya yang terasa perih.


“Arsen, kamu teh udah denger penjelasannya Naz tadi, sekarang kamu minta maaf sama Arfin”, Bunda yang baru datang bersama Mimih membawa kotak P3K dan segelas air minum langsung menodong Arsen.


“Tapi Bunda, aku hanya ingin melindungi Naz aja”, Arsen enggan untuk meminta maaf dan merasa dirinya sudah melakukan hal yang benar.


Bunda menyerahkan kotak P3K pada Dandy yang tengah duduk di sebelah Arfin, sedangkan Mimih duduk disebelah satunya lagi yang dihadapannya Bunda tengah berdiri, “Iya, tapi cara kamu teh salah pake mukul orang sagala tanpa tahu hal yang sebenarnya terjadi, sama saja atuh itu Arfin teh niatnya mau melindungi Naz supaya tidak jatuh ke kolam,, coba geura bayangkeun kalo Naz teh sampe jatuh ke kolam dan kepalanya kejeduk batu air mancur, bisa geger otak ituh,,,”, Bunda jadi esmosi kalo perintahnya itu dibantah. Harap maklum sudah jadi sekutunya Arfin si calon menantu idaman.


“Nita, udah”,Mimih memegang tangan Bunda dan menatapnya.


Arsen menghela nafas kasar, “Sorry Bang”, ucapnya singkat dan langsung pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


“Arsen……!!”, Bunda memanggil sedangkan Arsen tidak mengindahkan panggilannya.


“Udahlah Bund, biarkan saja dulu, beri dia ruang untuk merenungi kesalahannya”, Ayah menenangkan Bunda yang masih terlihat kesal pada Arsen dan Bunda pun duduk disamping Mimih.


“Dedeuh teuing si kasep meuni jadi barengeup kieu”, Mimih memperhatikan wajah Arfin yang sudah terlihat bekas pukulan tadi, sedangkan Arfin hanya tersenyum sambil sedikit meringis.


“Kasihan sekali si ganteng jadi babak belur begini”.


“Om minta maaf ya Ar, atas apa yang dilakukan Arsen, apa perlu dibawa ke rumah sakit, takutnya ada luka dalam atau tulang hidung kamu patah, pastinya Arsen memukul kamu dengan keras”, Ayah tahu benar anak pangais bungsunya itu jago karate.


“Gak apa- apa Om, diobatin sama Pak Dokter Dandy aja cukup kok, ini cuman memar sedikit kok Om”, ucap Arfin sambil tersenyum.


“Yasudah kalo begitu”, Ayah tersenyum dan memandang ke arah Dandy. "Dan, nanti kompres aja pakai es batu untuk meredakan memarnya lalu oleskan trombophob”, ucapnya mengingatkan.


“Iya Ayah, aku juga tahu gak perlu diingatkan”, Dandy merasa kredibilitasnya sebagai dokter diremehkan sang Ayah.


“Ya siapa tahu aja kamu lupa, hahaha,,,yasudah kalau begitu Ayah permisi dulu mau nganter Mimih terapi”, Ayah pamit undur diri.


“Ayo Mih,, kita kan janjian sama terapis nya jam delapan, gak enak kalau telat”, Bunda mengajak Mimih untuk segera berangkat dan mengambil tas terlebih dahulu dari kamar masing- masing.


Setelah kepergian Ayah, Bunda dan Mimih, Dandy mulai mengobati Arfin dimulai dengan membersihan lukanya yang berdarah menggunakan kapas yang diberi cairan alkohol. “Aw,,hsssss,,bisa pelan- pelan gak sih Dan, sakit tahu”, Arfin meringis kesakitan dan memprotes Dandy.


“Halah lo ini kan preman, baru dibersihin luka gini aja udah merengek kayak anak kecil, tahan dikit kenapa sih lo gak usah banyak protes”, Dandy malah meledek Arfin lalu mengarahkan pandangan pada Naz. ”Dek, tolong ambilin es batu sama sapu tangan ya”, Naz meminta bantuan Naz, dan ia pun segera pergi ke dapur untuk mengambil es batu yang berbentuk balok dari dalam kulkas dan dimasukan ke dalam mangkuk melamin.


Namun saat di dapur Naz sudah mencari- cari tidak menemukan sapu tangan, malah menemukan lap tipis kotak- kotak, ”Masa iya pakai ini sih?,, gimana kalo ini bekas mengelap meja atau bahkan bekas mengelap kompor ,, bisa infeksi nanti lukanya Kak Arfin, aduh nyari dimana lagi ya”, Naz bicara sendiri sambil membuka laci- laci di kitchen set tapi tidak menemukannya juga, “Ah,, aku ingat,,aku kan membawa sapu tangan Kak Anas di koperku”, Naz langsung bergegas pergi ke kamarnya dan membuka kopernya untuk mengambil sapu tangan, kemudian ia kembali ke dapur karena teringat kalau Arfin dan dirinya belum sarapan.


Naz ingat kalau Arfin pagi- pagi tidak makan nasi tapi sarapan roti, untunglah di sana ada roti tawar, keju, mentega, selai dan susu, lalu Naz mengoleskan mentega pada roti kemudian ditaburi parutan keju dan di beri susu SKM putih sebagai pemanis dibuat tiga lapisan dan dibikin dua porsi, mungkin pikirnya biar kenyang ya. Naz menaruhnya di atas nampan, sepiring roti lapis doble ,dua gelas susu hangat dan semangkuk es batu dan membawanya ke ruang tengah kembali menemui Dandy yang sedang mengobati Arfin. “Inih Kak”, Naz menyodorkan mangkuk berisi es batu dan sebuah sapu tangan kepada Dandy yang sudah selesai mengobati luka Arfin.


“Dek, kamu bungkus es batu itu pakai sapu tangan, terus kasih ke Arfin, Kakak pergi dulu mau membeli Trombophob ke apotek diujung jalan sana, di kotak P3K nya gak ada soalnya”, Dandy kemudian bangkit dari duduknya dan hendak pergi.”Cie,,dibawain sarapan juga nih yee”. Dandy menggoda Naz.


"Kan tadi belum sempat sarapan Kak,, nanti pingsan lagi kayak aku kemaren, aku juga lapar sih, heheh", Naz menjawab sambil cengengesan dan meletakan nampan di atas meja, Dandy pun berangkat dan meninggalkan mereka berdua.


“Tolong kompresin dong”, Arfin tersenyum pada Naz.


Karena Naz merasa bersalah dia pun bersedia membantu mengompres kan es batu itu ke pipi kanannya Arfin dengan hati- hati, “Maafin Kak Arsen ya Kak,, aku yakin dia pasti gak berniat jahatin Kak Arfin”, Lirihnya sambil menatap mata Arfin sejenak, “Sejak kecil Kak Arsen memang sangat over protektif sama aku, kalo ada yang gangguin aku mau itu laki-laki atau perempuan pasti dikasih pelajaran sama dia, dan tadi dia sudah salah faham sama Kak Arfin,, maaf ya gara- gara aku Kaka jadi babak belur gini “, Lanjutnya menyesal.


“Gak apa- apa Naz,, sudah sewajarnya seorang kakak melindungi adiknya”, ucapnya tersenyum pada Naz.


“Kenapa Kak Arfin tadi dipukul kok malah diam saja?,, bukannya menghindar atau melawan gitu,, katanya preman”, Naz mengingat kejadian yang ia lihat tadi, Arfin yang tidak melawan sama sekali.


“Preman dari hongkong,, mana ada preman cacat kayak aku Naz,, lagian kan Arsen itu adiknya Dandy, mana mungkin aku balik menghajarnya, apalagi saat dia bilang jangan berani menyentuh kamu, aku merasa heran padahal kan kamu tadi yang memeluk ku, seharusnya kan aku yang bilang sama kamu jangan menyentuhku”, Arfin tersenyum melihat Naz yang nampak salah tingkah dan menundukkan wajahnya,”Naz, yang memar itu pipiku loh, ko ngompresnya ke dahi sih”, Naz langsung mengangkat kepalanya dan kembali membenarkan kompresan nya ke tempat yang seharusnya.“Oh iya, sapu tangan ini punya kamu?”.


“Bukan”,Naz menjawab dengan singkat sambil menggelengkan kepalanya sepertinya masih malu- malu meong.


“Kok bisa ada sama kamu?”, Arfin kembali bertanya lagi.


“Ya aku nemuin itu,,, kenapa ?? Kakak kenal sama sapu tangan itu??, oh iya aku juga pernah lihat itu di jok mobilnya Bang Evan”.


“Hah, di jok mobil Bang Evan? Kamu pernah jalan sama dia?”, Arfin merasa curiga.


“Ya enggak jalan lah Kak, kan naik mobil”, Naz yang nampak serius mengompres pipi Arfin menjawab dengan seenaknya.


“Iya maksudnya jalan tuh pergi- pergi sama dia gitu naik kendaran lah pastinya”, Arfin memperjelas pertanyaannya. Dasar Naz lemot.


“Oh ngomong dong dari tadi,,,Itu kan waktu abis acara pembagian raport Andes, Kiara sama Ruby minta di traktir makan diluar katanya sih karena aku dapet juara umum, eh ternyata ada Bang Evan di sekolahan dan menghampiri kita, katanya sih diundang Kepsek di acara perpisahan kelas tiga gitu,, karena Pak Udin belum datang menjemput jadinya kita minta diantar Bang Evan ke tempat makan pilihan Andes, dan setelah itu aku diantar pulang sama Bang Evan,, nah saat aku mau turun dari mobilnya melihat sapu tangan yang sama kayak gitu”, Naz menjelaskan panjang kali lebar, seperti memberi penjelasan kepada pacarnya saja karena ketahuan jalan dengan lelaki lain.

__ADS_1


“Oh gitu, kok aku gak diajak sih,,padahal kan aku yang udh ngambilin raport kamu”, merasa iri.


“Yee salah siapa pulang duluan,,, kan aku juga udah chat nanyain keberadaan Kakak, malah udah di kantor”.


“Oh yang chat bilang i love you much more itu ya dan pakai emoticon kiss lagi “, Arfin masih ingat itu.


“Hadeuh kenapa itu dibahas sih, yasalam bikin malu saja dasar tukang cilok keparat ”, Naz bergumam dalam hati dan menghentikan kompresan nya sejenak.


“Hei, ko ngelamun sih”, Perkataan Arfin membuyarkan lamunan Naz.


“Enggak siapa yang ngelamun, wle”, Naz menyangkal dan menjulurkan lidahnya kemudian melanjutkan kompresan nya lagi ,”oh iya,, itu Bu Riyanti wali kelas aku minta nomer Kak Arfin” Ucapnya mengalihkan perhatian dari pembahasan pesan cinta itu.


Arfin menatap Naz yang nampak serius mengompresnya dan tersenyum jahil, “Oh yang genit itu ya, kasih aja nomerku”. Arfin bicara dengan santainya.


“Hah, maksudnya apa, Kakak suka sama dia”, Naz tanpa sengaja menekan kompresan nya dan mengenai tepian bibir Arfin yang sudah diobati.


“Aw,,,sakit Naz,, ngompresnya jangan keras gitu dong, nanti malah tambah bengkak”, Arfin meringis kesakitan dan Naz pun menghentikan kompresan nya dan menaruhnya di mangkuk.


“Nih kompres aja sendiri”, Naz menyodorkan mangkuknya sambil pasang muka cemberut lalu membalikan badannya membelakangi Arfin, cie merajuk.


“Dih, kok jadi ngambek sih,,, nanti goreng patut nya hilang loh”, Arfin merayu memakai petikan bahasa Sunda hasil les nya tadi dan mencolek pinggang Naz.


“Ih apaan sih, malah ngatain aku jelek lagi”, Naz malah tambah ngambek.


“Lah kan kamu bilang goreng patut itu artinya cantik, Naz”.


Naz membalikan badan kembali menghadap ke arah Arfin “Goreng patut itu artinya jelek, kalo cantik mah geulis”, Naz pun keceplosan mengatakan yang sebenarnya lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya " Opss".


“Astaga, pantesan aja tadi Bunda marah pas aku bilang goreng patut, ternyata jadi artinya itu jelek,, udah gitu aku bilang goreng patut banget lagi ”, sekarang Arfin tahu alasan Bunda marah- marah tadi. Udah mah dikatain setan dibilang jelek pula, yassalam gagal maning ini mah,, lampu hijau alamat berubah jadi lampu disko, gak karuan.


" Hadeuh,, triple malu ini mah jadinya" gumam Naz dalam hati, lalu ia teringat dengan roti dan susu yang di nampan, " Ah iya, kita kan belum sarapan, makan ini dulu yu ", Naz mengambil piring roti dari nampan yang diletakkan di atas meja dan menyodorkan nya pada Arfin.


" Apa itu? ", tanya Arfin.


" Kak Arfin yang ditonjok itu pipi kan bukan mata,, emang gak bisa lihat ini roti? " Naz nyerocos sebal.


"Iya aku juga tahu kalau itu roti,,maksudnya isinya apa Naz,, siapa tahu isinya bom", Arfin malah bercanda melihat mimik kesalnya Naz.


" Beuh kalo isi bom mah sama aja bunuh diri atuh, aku juga mau makan ini,,orang ini isinya keju mentega sama susu,,nih makan punya Kakak", Naz mengambil satu dan satu lagi yang masih di piring disodorkan pada Arfin dan disimpan di lahunan nya.


" Emmm,,, kamu aja deh yang makan", Arfin menolak memakannya.


" Kok gitu sih Kak, aku udah capek-capek buatin tau,, sampe jari aku luka tadi kena parutan keju,, gak ngehargain banget sih Kak", Naz merasa kecewa dan menundukkan kepalanya,,,aduh pundungan san.


Arfin yang tidak tega melihat Naz melihat Naz sedih dia mengambil ponsel dari sakunya lalu mengirim pesan pada seseorang, kemudian ia pun mengambil roti dari piringnya, " Yasudah aku makan rotinya,, terimakasih ya geulis", ucapnya tersenyum lalu perlahan memakan rotinya dengan ragu-ragu. Naz juga memakan rotinya dengan perasaan senang karena hasil jeri payahnya dimakan oleh Arfin.


uhuk uhuk uhuk ,,, Arfin tiba- tiba tersedak, kemudian Naz mengambil susu dari nampan lalu memberikannya pada Arfin, dan ia pun meminumnya. Arfin kemudian memberikan kembali gelas susunya pada Naz.


" Astaghfirullah.....Kak Arfin kenapa??? " Naz terkejut melihat keadaan Arfin.


------------------ TBC -----------------


*******************************


Arfin kenapa lagi yaa,, dianiaya terus sama Naz ihh....

__ADS_1


Happy Reading..... 😉🥰


Jangan lupa tinggalkan jejakmu.... 😉


__ADS_2