
Suasana lapangan sekolah siang ini nampak ramai dikerumuni para siswi yang kepo ingin melihat seorang siswi yang tadinya sedang berlari mengelilingi lapangan kini tengah tergeletak pingsan. Mereka nampak bertanya- tanya sambil berbisik pada teman lainya mengenai alasan siswi itu lari di lapangan, ada yang mengira mencari sensasi lah, cari perhatian lah, ada yang mengira sedang dihukum, ada yang mengira stress karena kebanyakan masalah dan sebagainya.
“Naz,,, Naz ,,, bangun Naz,,,”, Ruby yang sudah meletakan kepala Naz di lahunan nya mencoba menyadarkan Naz dengan menepuk- nepuk pipinya.
Kiara mengedarkan pandangannya pada murid- murid yang berkerumun yang ternyata perempuan semua, “By, Des, ayo kita angkat Naz dan membawanya ke UKS, kasihan kalo terus dibiarkan tergeletak di sini, nanti kepanasan”, ucap Kiara yang merasa khawatir pada Naz.
“Iya ,, ayok kita gotong,,,”, Andes menyetujui saran Kiara.
“Ada apa ini ? kenapa kalian berkerumun?”, terdengar suara bariton seorang pria yang kemudian menerobos kerumunan bersama seorang wanita yang terlihat lebih tua dari pria itu dan saat melihat Naz yang tergeletak pingsan mereka berdua pun nampak terkejut, “Rheanazwa,,, ?”, ucapnya lalu berjongkok.
“Pak Chandra, cepat tolong anak itu dan bawa dia ke UKS,,,”, titah wanita itu pada pria yang ternyata bernama Chandra guru yang masih muda itu dan ia pun langsung menggendong Naz ala bridal style dan membawa Naz ke UKS dengan melewati kerumunan paa siswi yang masih berbisik- bisik itu. Kiara, Ruby, Andes dan Bu Riyanti pun mengikuti dari belakang.
Sesampainya di ruang UKS Naz dibaringkan di tempat tidur pasien yang tersedia di sana, lalu Naz diperiksa oleh petugas kesehatan yang ada di UKS, “Mohon semuanya tunggu di luar dulu ya, saya akan memeriksa siswi ini”, ucap petugas kesehatan itu, dan keenam orang itu pun keluar dari ruang UKS.
Setelah beberapa saat petugas kesehatan tersebut telah selesai memeriksa Naz dan memperbolehkan para penunggu masuk kembali, “Bagaimana kondisinya Bu?”, tanya Pak Chandra.
“Kondisinya cukup lemah, dia mengalami dehidrasi Pak”, jawab petugas kesehatan tersebut.
“Dehidrasi? Kok bisa?”, Pak Chandra bertanya- tanya.
“Gimana gak dehidrasi Pak, panas benderang gini disuruh lari mengelilingi lapangan sampai 50 putaran”, Kiara menjawab sambil melirik ke arah Bu Riyanti yang nampak gelagapan.
“Apa,,,??”, Petugas kesehatan, Pak Chandra dan wanita yang bersamanya tadi bertanya serentak karena terkejut.
“Yang benar saja dia harus mengelilingi lapangan yang lumayan besar itu,,, siapa yang menyuruhnya?”, tanya Pak Chandra.
“Emmmhhhh,,,, “, Naz mulai sadar menggerakkan kepalanya lalu ia membuka matanya perlahan. Terlihat jelas ia sangat lemah seolah bicara pun terasa berat dan hanya mengedipkan kedua matanya perlahan.
“Sepertinya dia harus di infus, tapi disini tidak ada alat- alatnya,, sebaiknya dia dibawa ke klinik terdekat”, Ucap Petugas kesehatan itu.
“Yasudah kalau begitu, ayok Pak Chandra kita bawa dia ke Klinik terdekat,,”, ucap wanita yang bersama Pak Chandra itu mengajak langsung gerak cepat dan Pak Chandra pun kembali menggendong Naz membawanya ke parkiran khusus untuk kendaraan guru sedangkan Ruby dan Kiara bergegas ke parkiran kendaraan murid untuk mengikuti Naz yang dibawa ke klinik dengan menggunakan motor Kiara.
“Pakai mobil saya aja Pak”, ucap wanita itu sambil menunjukan letak mobilnya diparkirkan lalu mereka pun berangkat ke klinik terdekat yang letaknya hanya 500 meter dari sekolah.
Setelah Naz di baringkan di brangkar pasien, ia langsung diperiksa dan kemudian perawatnya menyediakan alat untuk memasangkan infus pada Naz, dan wanita itu yang menunggu Naz di ruang UGD klinik tersebut.
Naz yang sudah sadar sepenuhnya mencoba berbicara walau terasa lemas, “Aku gak mau di infus Tante”, ucap Naz dengan nada lemah.
“Rheanazwa, kamu terkena dehidrasi dan harus diinfus supaya kamu cepat sembuh ya”, ucapnya membujuk Naz.
“Tapi aku takut sama jarum suntik,, aku gak mau di suntik, aku gak mau diinfus”, Naz merengek masih dengan suara lemas.
“Loh,,, masa melawan jambret aja kamu gak takut, tapi sama jarum suntik takut,, tenang aja sakitnya sebentar kok cuman serasa digigit semut”, ternyata beliau orang yang pernah Naz tolong tempo hari dari aksi jambret.
“Gak mau Tante,, aku mau minum aja satu galon gak apa- apa daripada disuntik jarum infusan”, Naz terus- terusan merengek.
“Hahaha,,,, jangan lah minum satu galon, nanti perutmu bisa kembung, mending satu infusan cuma 500 ml ya, soalnya kamu dehidrasi kalo gak segera diinfus tambah parah nanti dehidrasi nya,, kalo kamu takut nanti Tante pegangin ya”, Tante itu terus membujuk Naz, kemudian perawat pun datang dengan membawa peralatan untuk menginfus. “Tuh, perawatnya udah dateng,,, mau ya diinfus biar gak lemas lagi”, bujuknya.
“Tapi aku takut Tante,,, “, rengek Naz.
“Yasudah sini, kamu duduk dulu ya…”, Tante itu membantu Naz yang masih lemas untuk bangun dan duduk, lalu meletakan bantal di samping kanan Naz sebagai bantalan tangannya, “Nah tangan kamu letakan di atas bantal, kamu sini peluk tante ya,,, tapi tangannya jangan tegang ya di lemasin aja dan jangan melihat ke sana ya”, Naz pun mengikuti apa yang dikatakan Tante yang berdiri disebelah kiri Naz, ”Silahkan suster”, Tante itu mempersilahkan sang perawat untuk memulai prosedur pemasangan infusan.
“Adek tangannya dikepalkan dulu ya”, ucap perawat itu dan Naz pun menurutinya tanpa menoleh sedikit pun ke sebelah kanannya karena memeluk Tante itu dan tangan kirinya memegang erat pinggang beliau.
“Tangannya boleh dibuka lagi,,, dilemaskan aja ya jangan tegang,,, Tarik nafas”, Perawat kemudian mulai menusukan jarum ke tangan Naz.
“Bundaaaa,,, sakiiitt”, Naz meringis sampai mengeluarkan air mata.
“Gak apa- apa,, sebentar kok sakitnya,,,itu udah selesai kok, tinggal pasang selang infusan nya supaya cairan infusan bisa masuk ke dalam tubuhmu,, sudah- sudah ya jangan menangis,,, ”, Tante itu menenangkan Naz dan mengusap- usap kelapanya, “Sekarang kamu tiduran lagi ya”, Beliau mengambilkan bantal lalu Naz pun kembali berbaring sambil menghapus air matanya dengan tangan kirinya.
“Gimana Bu,, Apa Rheanazwa sudah baikan?”, Tanya Pak Chandra yang baru masuk ke ruang UGD tempat Naz sedang mendapatkan perawatan tersebut.
“Baru dipasang infusan ini,,, dia masih lemas”,jawabnya.
“Kok bisa sampai dehidrasi gitu, apa kamu belum makan?”, Pak Chandra bertanya pada Naz.
“Saya lagi puasa Pak, dari semalam gak sempat minum dan tadi subuh keburu azan jadi gak sempat sahur juga, makanya tadi setelah lari beberapa putaran saya merasa lemas dan pusing, kebetulan saya punya penyakit maag juga”, Naz menjelaskan dengan suara yang masih lemas.
“Permisi,,, “, ucap Ruby yang baru masuk lalu merengkuh pada Pak Chandra dan wanita yang bersamanya itu, kemudian menghampiri Naz dengan membawa kantong kresek, “Ini obat maag yang biasa lo minum,,, setelah itu baru makan ya”,ucapnya lalu membuka bungkusan obat tersebut dan memberikannya pada Naz, kemudian Ruby menyodorkan air mineral yang telah dibuka tutupnya dan diberi sedotan agar Naz lebih mudah meminumnya tanpa harus bangun, Naz pun minum obat maag nya. “Minum yang banyak ya biar gak lemas lagi”, ucap Ruby.
“Ruby apa kamu sudah menghubungi keluarga Rheanazwa?”, Tanya Pak Chandra.
__ADS_1
“Sudah Pak,, Bunda lagi diperjalanan menuju kesini”, Jawab Ruby.
“Syukurlah kalo begitu,,, Rheanazwa, maaf ya Tante pamit dulu karena harus menjemput suami Tante ke bandara, semoga kamu lekas sembuh ya”, ucap Tante itu yang masih berdiri di tempat sebelumnya sambil mengusap kepala Naz.
“Terimakasih banyak Tante,,”,ucap Naz.
“Sama- sama,,, Tante pergi dulu ya”, ucapnya pamit undur diri, “Pak Chandra mau bareng saya lagi atau masih mau disini?”, tanyanya pada Pak Chandra.
“Saya disini saja Bu, sambil menunggu kedatangan orang tua Rheanazwa”.
“Yasudah kalo begitu,, saya permisi duluan ya”, ucap Tante itu lalu bergegas pergi meninggalkan klinik tersebut.
“By,,, Kiara sama Andes mana?”,tanya Naz.
"Kiara lagi nyari bubur ayam buat, kalo Andes tadi dipanggil untuk rapat OSIS katanya,, dia kan bendahara OSIS jadi terpaksa ikut dan gak bisa kesini,, tapi katanya nanti kalau rapatnya selesai dia mau langsung nyemperin kesini kok”.
“Maaf ya jadi ngerepotin kalian,,,”, ucap Naz.
“Lo ini kayak sama siapa aja ngomong gitu,,, eh by the way kok lo bisa sampe pingsan, lo gak sarapan tadi pagi?”,tanya Ruby penasaran
“Gue puasa By, dan gak sempet sahur karena pas bangun keburu azan,, dan semalam setelah pulang jalan, gue gak makan apa- apa lagi ataupun minum,,,”, Naz menjelaskan.
“Kenapa lo gak bilang kalo lo lagi puasa tadi, kan hukumannya bisa dipending,,, lagian ya itu si Bu Riyanti kejam banget ngasih hukuman sama lo,, beuh kalo Kak Arfin tahu, langsung dipecat dia dari sekolahan”. Ruby menggerutu kesal.
“Gue juga tadinya mau bilang kalo gue lagi puasa, eh Bu Riyanti maen motong aja omongan gue, yaudah deh gue jalanin aja,,, lo jangan ngasih tahu Kak Arfin soal ini ya, nanti masalahnya malah tambah runyam lagi,,”.
Ruby tiba- tiba nyengir cengengesan, “Hehehe”.
“Kenapa lo By,,, jangan bilang Kak Arfin udah tahu hal ini?”,tanya Naz curiga.
“Hehe,,, iya,,, Kak Arfin udah tahu,,, sorry banget,, tadi dia nelpon ke ponsel lo dan gue yang ngangkat, otomatis dia nanyain keberadaan lo, ya gue bilang deh kalo lo pingsan di sekolah dan sekarang lagi di klinik,,,, “, ucap Ruby.
“Hah,,, terus lo bilang alasan gue pingsan kenapa?”, tanya Naz lagi.
“Enggak lah,, orang pas gue bilang lo dibawa ke klinik yang deket sekolah dia langsung matiin teleponnya, kayaknya dia langsung meluncur kesini deh".
“Woah,,, lo mau juga diinfus,, bukannya tadi lo masih sadar,, udah gak takut ya sama jarum suntik?”, Tanya Kiara yang baru saja datang dengan membawa kantong kresek, “Nih bubur nya,, langsung dimakan ya mumpung masih anget”, Kiara menyodorkan bungkusan yang ia bawa pada Naz yang tengah duduk dengan bantuan ranjangnya yang dinaikan.
“Makasih Ya Ra,, maaf jadi ngerepotin kalian…”, ucap Naz merasa tidak enak .
“Nanti aja Ra,, soalnya gue baru minum obat maag,, nunggu dulu 15 menit”.
“Oh,,, oke deh,,,gue simpan di atas kursi aja ya,, disini gak ada lemari kecil ,,,,”, ucap Kiara.
“Namanya juga di UGD Ra,,, oh iya, kalian nyadar gak sih, si Pak Chandra perhatian banget sama Naz,, kalo di kelas juga suka ngeliatin Naz aja,,, jangan- jangan dia naksir sama lo Naz,,”, Ruby mengira- ngira.
“Gak usah ngarang deh lo,,, dia nolong gue karena gue anak didiknya, lagian dia juga kan wali kelas kita,,,”, ucap Naz. "udah ah gue mau tidur".
“Ya semoga aja itu cuma dugaan gue aja bukan beneran,,, jangan tidur dulu, mending lo makan baru tidur biar gak lemas lagi, lagian kalo udah dingin nanti buburnya gak enak".
Ruby kemudian menyuapi Naz karena tangan kanannya di infus dan terlihat masih lemas, ia terus memaksa Naz sampai menghabiskan bubur ayam komplit yang dibelikan Kiara. Setelah selesai makan Naz pun dibiarkan beristirahat agar cepat pulih, dan mereka berdua pun keluar lalu menutup tirai pembatas dengan brangkar lain yang ada di sana.
Sesaat setelah Naz tertidur, Bunda datang dengan raut wajah panik dan khawatir, karena ia tahu kalo anaknya sedang menjalankan puasa senin/kamis padahal ia sudah melarangnya karena Naz tidak sempat sahur, namun Naz tetap bersih keras. Pak Chandra pun pamit kembali ke sekolah setelah kedatangan Bunda dan berbincang sebentar dengan beliau.
Setelah kepergian Pak Chandra, Bunda bertanya kronologi yang menyebabkan Naz bisa sampai pingsan, dan Ruby pun menceritakan semuanya beserta akar permasalahannya yang berawal dari Bu Riyanti yang meminta nomor Arfin sedangkan Naz malah memberikan nomor Mang Ipin tukang cendol sampai Bu Riyanti memberikan hukuman pada Naz. Dan Ruby pun mengatakan pesan Naz kalau Arfin jangan diberitahu soal penyebab Naz pingsan karena hukuman tersebut.
Bunda masuk ke tempat Naz terbaring, beliau duduk di kursi samping brangkar sambil memandangi Naz yang tengah tertidur pulas dengan tatapan sendu. Ini kali kedua nya Naz sampai di infus dalam beberapa bulan terakhir, beliau membayangkan bagaimana takutnya Naz saat disuntikan dengan jarum infusan, sedangkan beliau taka da di samping Naz.
Tak lama Arfin pun datang dan langsung menghampiri Naz yang sedang tertidur, saat ia menanyakan Naz kenapa pingsan, Bunda hanya menjawab soal Naz yang puasa tanpa sahur dan sakit maag nya kambuh. Kemudian Bunda, Ruby dan Kiara keluar membiarkan Arfin yang menunggui Naz di sana, mereka tidak mau kalau Arfin sampai terus- terusan bertanya lagi dan takut keceplosan.
Arfin duduk di kursi pkastik bekas Bunda duduk sebelumnya, ia memandangi Naz yang masih tertidur dengan wajah polosnya, sambil ia bersender di kursinya hingga beberapa saat. Naz kemudian bangun dan membuka matanya perlahan, saat matanya terbuka sempurna ia langsung tersenyum.
“Aa sejak kapan disini?”, tanya nya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Sejak setengah jam yang lalu”, jawabnya.
“Kenapa gak bangunin aku…?”,tanya Naz.
“Kamu kan lagi istirahat, masa iya Aa ganggu,, nanti kalo tidur mu keganggu kamu bisa rewel “, ucap Arfin terkekeh.
“Hehehe,,, emangnya aku anak bayi apa, pakai rewel segala”, Jawab Naz terkekeh. “Infusan nya udah habis belum? Tadi kata perawatnya paling sampai dua jam aja,,, aku pengen pulang gak mau disini,, bau obat,, aku gak suka”, Naz merengek minta pulang.
__ADS_1
“Iya ,,, sebentar lagi juga habis, tuh infusan nya tinggal sedikit lagi,,, kamu mau minum hem…?”, tanya Arfin menawarkan minum dan Naz pun mengangguk, kemudian ia mengambil botol mineral yang disimpan di kantong kresek putih dengan label mini market yang diletakan di kursi plastik yang satunya lagi. Arfin membukakan tutup botolnya yang ternyata di dalamnya sudah ada sedotannya bekas minum Naz sebelumnya, ia pun menyodorkan botol tersebut pada Naz yang sudah bangun dan duduk.
“Makasih ,,,”, ucap Naz sambil menerima botol tersebut lalu meminumnya.
“Habiskan ya, kamu harus banyak minum,,,”, Titah Arfin dan Naz pun menghabiskan minumnya yang sebelumnya baru diminum sepertiga botol tersebut. ”Bagus,,, anak pintar,,”, Arfin tersenyum dan mengusap- usap ke pucuk kepala Naz. Ia pun megambil botol air mineral yang sudah kosong itu, kemudian ia berjalan keluar tirai dan membuangnya ke tempat sampah, lalu kembali lagi ke dalam dan duduk di kursi yang tadi.
“Sayang,, kamu kok bisa sampai pingsan dan kena dehidrasi segala? Gak mungkin kan kalo karena kamu puasa tanpa sahur aja”, tanya Arfin yang merasa janggal dengan jawaban Bunda dan kedua sahabat Naz sebelumnya, namun ia malah terdiam dan menundukkan pandangannya karena merasa bingung harus bicara apa supaya tidak menimbulkan masalah baru lagi, “Hei,,,, pertanyaan Aa kok gak jawab sih? Inget ya kita udah saling janji untuk tidak saling menyembunyikan apapun”, Arfin mengingatkan Naz.
Naz menghela nafas sejenak, “ Sebenarnya aku pingsan saat menjalani hukuman mengelilingi lapangan sekitar jam setengah sepuluh pagi tadi”, Naz mulai menceritakan dengan hati- hati.
“Hukuman? Kenapa kamu dihukum? Siapa yang menghukum mu mengelilingi lapangan dalam keadaan puasa seperti itu ?”, Arfin langsung melontarkan beberapa pertanyaan.
“Emmm,,, sebelumnya aku pernah ngerjain guru,, emmm,,, namanya Bu Riyanti,, terus aku minta maaf dan mengakui kesalahanku, kemudian beliau memberi ku hukuman itu dan beliau tidak tahu kalau aku lagi puasa”,Naz menjawab semua pertanyaan Arfin.
“Ya ampun sayang,, kenapa kamu gak bilang kalau kamu lagi puasa, pasti kan dia gak akan menyuruhmu lari mengelilingi lapangan seperti itu,, dan kamu juga ngapain musti ngerjain guru segala,, kamu tuh ya jahilnya minta ampun ”, Arfin malah mengomeli Naz dan Naz pun merasa sedikit kesal.
“Abisnya dia minta nomor telpon Aa, keganjenan banget dikiranya Aa itu kakaknya aku saat mengambil raport waktu itu, yaudah aku kasih nomor Mang Ipin tukang cendol,, eh mereka malah keterusan sering telponan dan berkirim pesan karena Bu Riyanti nyangkanya itu Aa,,, dan ternyata pas mereka ketemuan, zonk deh”, Naz menjelaskan dengan nada kesal.
“Hahaha,,, astaga Naz,,, ya iyalah dia marah, kamu jahilnya kebangetan,,, terus kenapa kamu gak bilang aja kalo Aa ini pacar mu? Dia pasti tidak akan berani meminta nomorku padamu”, Arfin menertawakan ulah Naz.
“Waktu itu kan kita baru deket aja belum jadian, masa iya aku ngaku- ngaku,,,”, ucap Naz
“Hahaha,,, ternyata dulu kamu takut juga ya Aa diembat orang,,, sebegitu sayangnya kamu sama Aa”, Arfin melemparkan senyum bahagianya pada Naz yang nampak malu karena secara tidak langsung itulah yang ia rasakan, takut Arfin direbut orang karena sangat mencintainya.
“Eh infusan nya sudah habis, Aa panggil perawatnya dulu ya”, ucapnya bangkit dari duduknya dan keluar menemui perawat dan kembali bersama perawat tersebut yang membawa peralatan untuk membuka infusan. Bunda yang mengetahui hal itu langsung ikut masuk.
Naz kembali ketakutan saat akan dicabut jarum infusan nya, kemudian Arfin dengan sigap berdiri di sisi kiri Naz untuk menenangkannya, Bunda langsung mendekati Naz dan memeluknya sambil menenangkannya sampai perawat itu selesai membuka jarum infusan nya dan menutup bekasnya dengan plester.
Setelah dilakukan pemeriksaan Naz pun diperbolehkan pulang dan administrasinya sudah diselesaikan oleh Pak Chandra sebelumnya dari pihak sekolah. Naz pun pulang diantarkan oleh Arfin sedangkan Bunda mengikuti mobil Arfin dari belakang karena Bunda menyetir sendiri. Kiara dan Ruby pun kembali ke sekolahnya.
***
Setelah beristirahat di rumah keesokan harinya Naz pun kembali ke sekolah karena sudah merasa sehat kembali padahal belajar sudah tidak efektif, pikirnya akan bosan jika diam di rumah sendirian jadi lebih baik pergi ke sekolah bisa bertemu ketiga sahabatnya, dan ternyata Bu Riyanti sudah mendapat peringatan dari Kepsek.
Benar saja apa yang dikatakan Ruby, Pak Chandra beberapa hari ini suka menghampiri Naz dan mengajaknya bicara yang awalnya menanyakan kondisi kesehatannya paska kejadian pingsan, lalu menanyakan soal taekwondo, dan ada saja hal yang ia jadikan alasan untuk mengajak Naz ngobrol, dan seolah dia memberikan perhatian pada Naz yang membuatnya tidak nyaman. Meski begitu Naz hanya menjawab seperlunya saja pertanyaan Pak Chandra karena menghargai beliau sebagai guru wali kelasnya, padahal biasanya Naz tidak pernah ngobrol dengan murid laki-laki di sekolahannya selain Andes, kecuali jika ada menanyakan soal mata pelajaran dan itu pun hanya pada teman sekelasnya saja.
***
Hari ini sudah dijadwalkan untuk acara pembagian raport bagi seluruh murid SMA Dharma Bangsa, para murid berdatangan dengan salah satu dari orang tua mereka untuk pengambilan raport. Dan kali pun ini baik Ayah atau pun Bundanya Naz tidak bisa hadir karena sibuk dengan pekerjaan masing- masing.
Saat semua orang tua murid dipersilahkan memasuki masing- masing kelas anak mereka , Naz hendak masuk ke dalam kelasnya dimana sudah berkumpul para orang tua murid dari teman- teman sekelasnya, Pak Chandra datang dengan membawa tumpukan raport di tangannya.
“Rheanazwa,,, kenapa kamu mau masuk? Apa orang tua mu tidak ada yang hadir?”, tanyanya.
“Enggak Pak,, mereka sedang berhalangan jadi tidak datang”, jawabnya dengan nada sedih.
“Naz,,, acara pembagian raportnya belum dimulai kan?”, tanya seseorang dari arah belakang Pak Chandra yang baru datang.
“Kak Arfin,,,, “, ucap Naz yang terkejut lalu tersenyum bahagia.
“Maaf Pak,, saya yang akan mengambilkan raport Rheanazwa, tadi Bunda sudah menghubungi saya kalau beliau sedang berhalangan hadir, jadi diwakilkan oleh saya”, ucap Arfin.
“Oh iya, silahkan masuk”, ucapnya mempersilahkan dan Arfin pun masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi yang masih kosong disana, Pak Chandra pun masuk.
Setelah semua rentetan acara pembagian raport selesai, semua para orang tua murid keluar dari kelas dengan membawa raport anak mereka masing- masing, kecuali Arfin ya dia membawa raport pacarnya.
“Selamat ya nona Rheanazwa Eleanoor Harfi,, kamu dapat peringkat satu lagi,,, ayok kita pergi merayakannya”, Arfin mengucapkan selamat pada Naz lalu mereka pun berjalan meninggalkan kelas Naz hendak melewati taman untuk memotong jalan.
“Rheanazwa tunggu,,,,”, teriak Pak Chandra dan menghentikan langkan Naz dan Arfin, lalu menghampiri mereka.
“Ada apa ya Pak?”, tanya Naz heran.
“Selamat ya kamu sudah menjadi peringkat satu di kelas”, ucapnya menyodorkan tangan untuk bersalaman, Naz lalu menatap mata Arfin seolah meminta izin dan Arfin pun menganggukinya, Naz pun menyalami Pak Chandra.
“Oh iya,, tadi siapa nama Anda, Mas Arfin ya,,, anda ini Kakaknya Rheanazwa ya?”, tanyanya yang membuat Arfin mengerutkan dahinya, ”Oh iya Mas,, saya sudah beberapa bulan ini memperhatikan Rheanazwa dan saya mau meminta izin untuk mendekati Naz adik Mas Arfin ini”, ucapnya tersenyum.
Arfin dan Naz yang terkejut dengan perkataan Pak Chandra langsung membuka matanya lebar- lebar, dan Arfin langsung memberi tatapan tajam pada Pak Chandra dengan urat leher yang sudah mengeras dan mengepalkan kedua tangannya, sedangkan Naz nampak ketakutan.
“Yasalam,,, ini mah alamat perang dunia III ,,, “, ucap Naz dalam hati yang sudah melihat tatapan kemarahan Arfin itu.
------------ TBC --------------
__ADS_1
**************************
Happy Reading🤩😘