Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Terbongkar Juga


__ADS_3

Ceklek ,,,, terdengar suara pintu terbuka, yakni pintu kamar tamu yang sedang digunakan Naz untuk beristirahat. Derap langkah kaki seseorang terdengar mendekat ke arah tempat tidur dimana Naz tengah tertidur lelap. Ia semakin mendekat dan kini tengah berdiri di samping tempat tidur itu. Ia melihat tas Naz yang sudah berada di ujung ranjang dan hampir terjatuh, ia pun segera mengambilnya kemudian meletakkannya di atas meja samping tempat tidur tersebut.


Ia pun kembali menghampiri Naz, ia menatap lekat Naz dengan jarak yang begitu dekat. Tangannya membelai rambut Naz dengan perlahan, kemudian beralih membelai pipinya. Naz yang merasakan ada sentuhan, menggeliat dan membuka matanya perlahan. Dan saat melihat seseorang tepat di depan wajahnya yang begitu dekat, ia terperanjat dan membuka matanya lebar- lebar.


“Ciluk baaa,,,, “, ucapnya sambil tersenyum.


“Astagfirullah… Nala,,, kamu kok bisa ada di sini,,, ?kenapa lagi itu wajah kamu cemong gitu??”, Naz terkejut melihat keberadaan keponakannya itu.


“Nala abis dandan pakai lispik, bial cantik kayak Kak Nanas…”, Nala senyam senyum .


Naz bangun lalu duduk dan Nala pun naik ke tempat tidur untuk duduk bersama Naz, “Ya ampun Nala,, lipstik itu untuk di bibir bukan untuk di corat coret ke wajah,,, Nala kok bisa ada di sini? Sama siapa ke sini nya?”.


“Sama Mami,,,, “, Bu Hinda tiba- tiba masuk dan menghampiri Naz yang tengah duduk di tempat tidur bersama Nala.


“Loh,,, kok Mami juga ada di sini?”, Naz kembali dikejutkan lalu mencium tangan Mertuanya.


“Ini karena ulah suami mu yang mulai gila itu,,, dia bilang sangat khawatir sama kamu dan Mami disuruh ke sini untuk menjemput mu,,, Mami juga merasa heran kenapa dia sampai panik kayak gitu coba,, padahal kan kamu lagi di rumah orang tua mu,, dasar gila memang”, Bu Hinda menggerutu karena masih kesal pada anaknya,


"Dan yang lebih parah,, karena Mami menolak kesini dia minta tolong sama Nala, jadi kan dia terus merengek minta ketemu Kak Nanaz sampai nangis kejer”, tambahnya lalu mendengus kesal.


Naz yang kesadarannya kini sudah kumpul sepenuhnya hanya tersenyum sekaligus bernafas lega mendengar keluhan mertuanya tentang Arfin, karena sepertinya suaminya itu tidak mengatakan soal Arsen yang menjadi alasan kekhawatirannya pada Mami,


“Saat jauh dari mu pun kamu selalu ingin menjagaku,,, terimakasih suamiku sayang, “Gumamnya dalam hati.


Flashback


Arfin yang baru saja selesai meeting terus menghubungi istrinya, namun nomornya tidak aktif,, ia menghubungi Bunda pun tidak mendapat jawaban, mungkin ia sedang menyetir pikirnya.


Sebenarnya saat semalam Naz meminta izin padanya untuk pergi ke rumah Bunda, ia ingin melarangnya, namun saat bilang Naz pergi bersama Hardi, ia merasa tenang, karena Hardi mengetahui persoalan Naz dengan Arsen yang pastinya ia bisa diandalkan untuk menjaga Naz. Namun perasaannya merasa tidak tenang setelah ia mendapat kabar dari Bunda dan Hardi bahwa Hardi pergi ke kampus dan meninggalkan Naz di rumah Bunda, malah semakin menambah kekhawatirannya.


“Kemana dia,,,?? Gak biasanya nomornya tidak aktif seperti ini?”, Arfin terus mondar mandir di dalam ruangannya sambil terus menelpon.


Tok tok tok ….


“Masuk”, teriaknya.


“Pak,, ini ada berkas yang harus ditanda tangani,, sekalian saya mengingatkan, nanti setelah makan siang kita ada meeting”, Ucap Dilara.


“Iya,, simpan saja di Meja”, Arfin yang masih sibuk menelpon tak menoleh sedikitpun pada sekertaris nya.


“Eng... Maaf Pak,,, tapi berkasnya sudah di tunggu oleh Pak Lutfi, karena ia akan segera ke kantor klien untuk mempresentasikannya”, Dilara bicara dengan hati- hati.


Arfin mendengus kesal, kemudian ia pun menghampiri sekertaris nya yang tengah berdiri di depan meja kerjanya itu, “Dimana saya harus tanda tangan?”, tanyanya dengan nada kesal.


Dilara menaruh berkasnya di atas meja dan membuka lembaran berkas tersebut serta menunjukan beberapa halaman yang harus ditanda tangani. Arfin pun menandatanganinya tanpa membacanya terlebih dahulu seperti biasanya.


“Tumben Pak gak di tela’ah dulu?”, Dilara merasa heran.


Arfin yang sudah selesai tanda tangan menatap tajam pada Dilara, “Kamu ngomong lagi saya lempar berkasnya ke mulut kamu”.


“Maaf maaf Pak,,, saya permisi,, Pak Lutfi sudah menunggu,,“, Dilara tak berkata apa- apa lagi kemudian membawa berkasnya dan bergegas keluar dari ruangan bosnya itu. ia lupa jika Arfin sedang murka, maka siapa saja bisa jadi sasaran pelampiasan kemarahannya.


Arfin kembali menghubungi Naz, namun tetap masih tidak aktif, kemudian ia menghubungi Bunda lagi dan akhirnya diangkat juga.


“Hallo,, Assalamu’alaikum, Ar,, maaf tadi ponsel Bunda teh di dalam tas dan di silent”.


“Wa’alaikumsalam Bunda,,, Naz lagi sama Bunda gak?”, Arfin langsung menanyakan istrinya.


“Enggak Ar,, Naz mah di rumah,, ini Bunda baru jalan mau ke toko kue”.


“Apa?? Naz ditinggal sendiri di rumah, Bund?”, Arfin terkejut mendengarnya.


“Ya enggak atuh Ar,, di rumah teh kan ada Mbak Iyem,, dan Arsen juga barusan berpapasan sama Bunda baru pulang dari rumah Opa”.


“Aku sudah menghubungi Naz berkali- kali, tapi gak aktif Bunda”.


“Itu hape nya teh habis baterai tadi pas kita makan dimsum di dekat sekolah Naz,, tapi tadi teh langsung di charger kok pas dia mau tidur”, Bunda memberitahukan.


“Naz lagi tidur, Bunda?”, Arfin pikirannya semakin kacau.


“Iya Ar,, tadi teh bilangnya ngantuk jadi mau boci katanya teh, padahal baru jam setengah sebelas,, udah dulu ya Ar, Bunda lagi nyetir nih,,, Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikumsalam”, Arfin lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


Bukannya merasa tenang setelah berbicara dengan Bunda, ia malah semakin gelisah, rasa khawatir semakin menyelubungi pikirannya,


”Bagaimana ini? Jika Naz sedang tidur pulas tiba- tiba Arsen masuk lagi ke kamarnya,,, arghh,,, aku harus bagaimana ini? Aku harus segera ke Jakarta?”, Arfin merasa frustasi memikirkan takut terjadi hal buruk pada istrinya, kemudian ia menekan intercom menghubungi sekertaris nya,


"Dilara,, pesankan saya tiket untuk ke Jakarta yang tercepat, untuk hari ini”.


“Baik, Pak”, Dilara segera melaksanakan titah atasannya.


Tak lama Dilara kembali menghubunginya, “Maaf Pak,,, untuk hari ini tiketnya sudah habis, paling besok pagi Pak”, Dilara memberitahukan.


Arfin mengusap kasar kepalanya, "Argh,,,, bagaimana ini,,,? aku harus berbuat apa,, aku benar- benar takut terjadi sesuatu dengan Naz”.


Arfin menghubungi Hardi, namun tidak dijawab malah ia mengirimkan pesan dan bilang masih meeting di kampus. Arfin menelpon ke telpon rumah Bunda, tidak ada yang mengangkat,,, Arfin yang frustasi merasa bingung harus minta tolong pada siapa. Otaknya mendadak bleng, padahal banyak orang terdekat Naz yang bisa ia mintai tolong, namun pikiran waras nya masih mempertimbangkan jika orang lain tak boleh ada yang mengetahui kasus Naz dan Arsen.


Akhirnya ia teringat dengan seseorang yang selalu ada dan selalu membantunya dalam hal apa pun. ”Mami,,,, “. Nama itulah yang kini muncul di pikirannya.


**


Sementara di kediaman orang tua Arfin, Nala yang sudah merasa bosan bermain dan mewarnai gambar, merengek meminta untuk pulang.


“Nena,,, Nala mau ke Mama,,,”.


“Nanti ya sayang,, Mama kan lagi ke rumah sakit nganterin neneknya Nala berobat ke Pak Dokter,, emangnya Nala mau ketemu sama Pak Dokter lagi?”, Bu Hinda berusaha membujuk.


“Ndak mahu,,, Nala tatut disuntik lagi,,,, “, bujukan berhasil.


“Tuh kan,, jadi mending disini aja ya,, kita main apa lagi ya?”.


“Aaaahh,, ndak mahu,, Nala mau ke Papa aja”, eitdah bujukan ternyata belum sukses.


“Papa kamu kan lagi di kantor masih kerja, sayang,,, nanti Nala malah ganggu kerjaan Papa”, Bu Hinda kembali membujuk.

__ADS_1


“Tapi kan Nala pelnah ke kantol Papa juga,,, Nala mahu ke kantol Papa sekalang”, Nala terus merengek.


“Engak bisa sayang,, kata Papa, Nala gak boleh ke kantor lagi, karena dulu aja waktu dibawa ke kantor sama Om Apin Ipin, Nala malah hilang,, jadi Papa tidak memperbolehkan Nala ke kantor Papa lagi,, lagian kan kantor itu tempat untuk bekerja bukan untuk bermain, mending main lagi aja ya sama Nena”, beliau memberi penjelasan.


“Ndak mahu,, Nala mau pulang,,,, huaaaaaaaaa”, Nala malah menangis.


“Aduh kok malah nangis sih cucu Nena yang cantik ini,,, cup cup cup sayang,,, jangan nangis ya kita makan es krim yuk,, kan di kulkas ada es krim kesukaan Nala,,,”.


“Ndak mahu,,, huaaaaaaa,,, Nala mahu pulang,,,, huaaaaa”.


“Aduh gimana ini,,, Nala kalau sudah begini susah berhenti nangisnya,,,”, gumamnya pelan, “Oh,, iya,, diakan suka banget spiderman”, Bu Hinda teringat kesukaan cucunya itu, kemudian membuka youtube dan mencari video yang pastinya disukai Nala,


“Nala sayang,,, udah ya nangis nya,, nih Nena punya film spiderman kartun di hape Nena,,, Nala mau lihat gak?”, beliau menunjukan layar ponselnya, dan itu berhasil, Nala pun langsung berhenti menangis.


“Itu sepilipemen?”, tanya Nala sambil sesenggukan.


“Iya,,, nih Nala pilih mau nonton yang mana?”, beliau memberi pilihan.


“Nala mahu ini,, ada ilonmen sama capten melika juga jadi sepilipemen nya ndak sendilian lawan mostelnya”, Nala pun memilih salah satu diantara list yang diperlihatkan Bu Hinda.


“Oke,,, “, Bu Hinda membuka video yang dipilih Nala, namun saat akan memberikan ponselnya tiba- tiba Arfin menelpon.


“Aduh,, bentar ya sayang,, ini Om Apin ipin nelpon,, Nena angkat dulu ya,, baru setelah itu Nala boleh nonton sepilipemen nya”, ucap beliau dan Nala pun mengangguk.


“Halo,, asalamu’alaikum Mi”, sapanya.


“Iya halo Al,, wa’alaikumsalam”.


“Mi,, Al minta tolong Mami jemput Naz ya”, Arfin langsung to the poin.


“Jemput kemana? Kalian bertengkar lagi?”, Bu Hinda malah curiga.


“Enggak Mi,,, jemput ke rumah Bunda”. Arfin memperjelas.


“Kenapa Naz ada di rumah Mbak Anita, bukannya Naz lagi nginep di rumah Jeng Rahmi? Jangan- jangan kalian beneran bertengkar ya?”, Beliau semakin curiga.


“Enggak Mi,, kami gak bertengkar,, Al cuma khawatir aja Naz sekarang sendirian di rumah, sedangkan Bunda lagi pergi ke toko kue”, Arfin memberi alasan.


“Jangan keterlaluan kamu Al,, Naz itu bukan anak kecil yang akan ketakutan saat sendirian di rumah,, lagipula dia sedang di rumah orang tuanya, tempat tinggalnya sejak kecil,,, pasti sudah biasa ditinggal kerja orang tuanya".


“Nena,, mana sepilipemen nya?”, Nala merengek menagih janji.


“Al udah dulu ya,, ini Nala mau nonton video di hape Mami,,, assalamu’alaikum”, Bu Hinda langsung mengakhiri sambungan telponnya.


“Maaf ya sayang,, tadi ada sedikit gangguan… nih videonya sudah bisa diputar”, beliau memberikan ponsel nya pada Nala.


Nala kemudian duduk di sofa sambil menonton video spiderman kesukaannya.


Tiba- tiba salah satu ART datang." Maaf Nyonya,, ada telpon dari Bu Tania,, katanya nelpon ke hape Nyonya sibuk terus".


“Oh iya,, terimakasih Bi,,, Bibi tunggu disini aja jagain Nala ya”, Bu Hinda pun beranjak pergi untuk mengangkat telpon dari temannya itu.


Saat Nala sedang asyik- asyik menonton, tiba- tiba ada panggilan video call


“Iiiihhh,, ganggu aja,,,Bibi ini apa?”, Nala memperlihatkan laya ponselnya pada salah satu ART di rumah itu.


“Om Apin Ipin?”, tanya Nala heran


“Iya Non”.


“Telus gimana calanya, Nala mahu ngomong sama Om Apin Ipin,, mahu malahin dia udah ganggu Nala nonton".


“Carangya begini, Non”, ia menggeser tombol berwarna biru ke atas,, "silahkan Non”..


“Telimakacih, bibi baik”.


“Hallo Om Apin Ipin,, calamamalaikum”, Nala menempelkan ponsel ke telinganya.


“Halo Nala,, wa’alaikumsalam,, hapenya jangan ditempelin di telinga, dilihat aja kayak Nala nonton video tadi”, Arfin memberi penjelasan cara ngobrol di sambungan video call, Nala pun mengikuti perintahnya.


“Om Apin Ipin kenapa ganggu Nala lagi nonton sepilipimen”, ucapnya ketus.


“Oh,, maaf sayang,, Om gak tahu,,, tapi Om mau ngasih tugas sama Nala dan sepilipemennya”, Arfin memulai aksinya.


“Tugas apa?”, tanya Nala.


“Tugas untuk menyelamatkan Ka Nanaz dari mostel jahat”, Arfin teringat dengan kejadian di Surabaya yang mana Nala menganggapnya monster dan ia ingin melindungi Naz.


“Kan Om Mostel nya”, Nala masih ingat rupanya.


“Bukan,, ini beneran monster jahat, sekarang Kak Nanaz lagi tidur di rumah monsternya,, dan Nala harus menyelamatkannya sebelum monsternya menyakiti Kak Nanaz”


“Hah,,, mostelnya mau nyakitin Kak Nanas?”, Nala terkejut.


“Iya,, jadi Nala harus selamatkan Kak Nanaz,, karna Om masih di Surabaya jadi jauh untuk ke sana nya,, Nala mau kan?”, Arfin memanfaatkan kepolosan Nala yang sangat menyayangi Naz dan ingin melindunginya.


“Iya,,Nala mahu,,, Nala akan selamatkan Kak Nanas”, Nala antusias.


“Kalau gitu Nala minta diantar Nena ya untuk menjemput dan menyelamatkan Kak Nanaz”, Arfin benar-benar licin.


“Iya,, Nala cali Nena dulu ,, dadah Om,, calamalaikum”, Nala menaruh ponsel di atas sofa,


“Nena,,,,,,,!!!”, Nala langsung berlari sambil berteriak mencari neneknya.


“Ada apa Nala”, Bu Hinda sudah selesai menelpon.


“Ayok kita jemput Kak Nanas”. ajak Nala.


“Hah,, jemput Kak Nanaz?? “, Bu Hinda merasa heran.


“Iya,,, kita jemput dan selamatkan Kak Nanas dali mostel jahat”.


“Nala,,, kamu ini kok aneh sih,, mana ada Monster di dunia ini,, itu cuman di film spiderman aja”.


“Benelan Nena,, ayo sekalang kita ke Kak Nanaz,, ayok”, Nala menarik- narik tangan neneknya.

__ADS_1


“Kenapa tiba- tiba Nala jadi seperti ini,,, hadeuh jangan- jangan ini ulah Arfin,,, yang bener saja dia nyuruh anak kecil kayak gini,,, bener- bener gak beres dia tuh”, Bu Hinda menggerutu kesal dalam hatinya karena kelakuan putranya yang memanfaatkan anak kecil.


Nala terus merengek sampai menangis kejer meminta diantarkan bertemu dengan Naz, sedangkan Bu Hinda terus membujuknya agar jangan ke sana, karena ia merasa tidak enak pada besan nya jika harus menjemput Naz yang sedang di rumah orang tua nya tanpa alasan yang jelas atau hanya karena kekhawatiran Arfin yang tak masuk akal. Namun Bu Hinda pun merasa tak tega melihat cucu nya menangis seperti itu dan akhirnya beliau mengikuti keinginan Nala untuk menjemput Naz ke rumah orang tuanya, Nala pun berhenti menangis dan diajak mandi agar bisa segera berangkat ke rumah Bunda.


Sesampainya di rumah Bunda, mobil yang mereka tumpangi datang bersamaan dengan mobil Bunda yang baru pulang dari toko kue, setelah turun dari mobil, Bunda pun menyambut kedatangan besannya itu dan mengajak keduanya masuk.


“Maaf ya Mbak,, jadi mengganggu waktunya,, ini Nala tahu kalau Naz ada di Jakarta, makanya dia merengek pengen ketemu sama Kak Nanaz katanya”, Ucap Bu Hinda menjelaskan soal kedatangannya.


“Ah kamu mah kayak sama siap aja Nda, meni sungkan gitu,,, kita ini kan keluarga,, nyantei aja kali”, ucapnya yang kemudian mempersilahkan kedua tamu nya itu duduk.


“Kak Nanas nya mana? Nala mahu ketemu Kak Nanas”, Tanya Nala yang tidak melihat keberadaan Naz.


“Kak Nanaz nya lagi bobo di kamar,,,”, jawab Bunda.


“Nala mahu ke Kak Nanas”, pintanya.


“Jangan Nala,, nanti saja kita tunggu Kak Nanaz nya bangun ya,,, jangan ganggu Kak Nanaz yang lagi istirahat,, nanti kepalanya bisa pusing loh”, bujuk Bu Hinda.


“Ndak mahu,,, Nala mahu ke Kak Nanas sekalang”, Nala Mulu merengek.


“Nala gak boleh gitu ah,,, katanya mau bersikap baik kalau ketemu sama Kak Nanaz”, Bu Hinda mengingatkan.


“Nena,,,, Nala mahu ke kak Nanaz”, Nala terus merengek.


“Sudah gak apa- apa Nda,, mungkin Nala kangen sama Naz,,,”, Bunda tak tega melihat Nala yang sangat ingin bertemu dengan Naz, ia beralih pada Nala, “ ayok Nala nenek antar ke kamar Kak Nanaz”, ajak beliau dengan mengulurkan tangannya, dan Nala pun mengikuti.


Bunda membukakan pintu kamar, kemudian Nala masuk sendirian sambil membawa boneka kesayangannya. Ia masuk perlahan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh arah di kamar itu, sepertinya mencari keberadaan monster jahat yang dikatakan Om nya. Nala mendekat ke ranjang tempat Naz tidur, ia melihat tas milik Naz hampir terjatuh, ia pun segera mengambilnya. Tas itu nampak terbuka dan Nala melihat lipstik lalu mengambilnya. Tasnya disimpan di meja, sedangkan lipstiknya ia buka kemudian dipoleskannya ke bibirnya sampai penuh,, dibulat- bulat kan di pipi nya kemudian di coretkan ke alis nya, sambil mengingat- ingat yang dilakukan tante nya saat berdandan lalu memperagakannya.


Setelah selesai dandan ia mendekat kembali pada Naz yang masih tertidur pulas. Ia memperhatikan wajah orang yang dirindukannya itu. Tangan mungilnya membelai rambut Naz dan merapihkan rambut yang menutupi matanya, kemudian ia mengusap pipi Naz.


“Kak Nanas,,, Nala sudah di sini dan akan menjalankan tugas dali Om Apin Ipin untuk melindungi Kak Nanas dali mostel jahat yang ada di lumah ini”, ucapnya yang mampu mengusik tidurnya Naz sehingga membuatnya bangun.


Flashback off


“Ya ampuun Nala… itu wajah mu cemong banget mirip badut tahu gak?”, ejek Bu Hinda.


“Iiiihh,,, Nala syantik milip Onty Fatma,, kan Onty kalo dandan bibil nya di melahin, pipi nya juga di melahin kayak gini, telus alisnya juga di gambal pakai clayon”. Nala tak terima.


“Iya,,, tapi semua itu memakai alat yang berbeda, bukan pakai lipstik semua,, apaan itu alis mu jadi warna magenta gitu mana berantakan banget,, jadi lebih mirip badut ulang tahun,,”, Bu Hinda terus mengejek.


“Iiiihh Nala syantik, Nena,,,, Nena yang jelek, milip maliciven wle”, Nala merasa kesal dan balik mengejek.


“Oh,, Ya ampun,,,, Naz,, nanti kalau kamu sama Arfin punya anak mudah- mudahan anak kalian perempuan,,, biar Nala tidak merajarela,, mentang- mentang cucu perempuan satu- satunya,, anak Atikah dan anaknya Fatma laki semua”, Bu Hinda geleng- geleng kepala melihat tingkah Nala.


“Mana bisa milih Mami,,, ya sedikasihnya aja,,,”, ucap Naz tersenyum.


“Eh,, gimana gimana,, Arfin bilang waktu itu sudah sembuh,, beneran apa cuma alasannya aja karena gak mau di pijat lagi?”, Bu Hinda nampaknya penasaran sedangkan Naz malah mengedarkan pandangan seolah ia takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. Bu Hinda pun paham dengan gerak- gerik Naz, “Tenang,, Bunda mu barusan mendapat telpon, dan ia tadi pamit ke kemarnya, mau ngambil desain gambar baju katanya,,,, jadi gimana? Arfin beneran udah sembuh ?”, beliau kembali bertanya.


“Iya Mi,, alhamdulillah udah sembuh”, Naz tersipu malu.


“Alhamdulillah,,,, “, Bu Hinda mengucap syukur dan merasa bahagia, “Berarti kalian udah,,, eng ing eng dong?”.


“Mami apaan sih,,, ”, Naz semakin merasa malu.


“Cie,,,, yang udah dibobol gawang nya,,, Eh tapi,,, gak seperti sebelumnya lagi kan? Setelah menikah penyakitnya kambuh lagi?”, Bu Hinda kembali bertanya.


“Eng,,,, enggak sih Mi,,, “, Naz menjawab dengan ragu, karena ia belum tahu kondisi si Ujang bisa bangun lagi atau tidak setelah ditinggalkan olehnya.


“Itu dulu kambuh lagi karena gak kuat kali ya nahan dan harus nungguin kamu selesai mens,,, pasti sekarang digenjot terus ya tiap malam,,,, hahahaha”, Bu Hinda menggoda Naz.


“Nena sama Kak Nanas mau main sepak bola ya? Nala ikutan ya”, Nala tiba-tiba nimbrung.


“Ya ampun,, Mami kok sampai lupa di sini ada bocah cilik”, Bu Hinda menepok jidat.


“Mami sih,,, ngomongin kayak gitu di depan anak kecil”,Naz protes.


“Iiiiihhh,,, kok ndak dijawab??”, Nala si kepo .


“Enggak sayang,,, yang mau main sepak bola itu Om Apin Ipin,,, kami kan perempuan, mana bisa main sepak bola”,jawab Bu Hinda .


“Nala bisa,,,, kan tinggal tendang bolanya saja pakai kaki,,, pukkk,,, aww,,,satitt,, ”, Nala memperagakan ala- ala menendang bola, tapi kakinya malah tidak sengaja menendang kaki ranjang. Naz dan mertuanya itu tertawa melihat tingkah Nala.


“Oh iya,, ponselmu sebaiknya di aktifkan deh,, suami mu itu terus mengirim pesan ke Mami nihh,,,,”, Bu Hinda mengingatkan Naz. Kemudian beliau membersihkan wajah Nala dengan tisu basah yang diambil dari dalam tas nya.


“Oh iya aku lupa,, tadi kehabisan baterai, pas mau tidur dicharger,,”, Naz kemudian mengambil ponselnya yang baterainya sudah terisi penuh. Ia menghidupkannya, dan benar saja banyak pesan dan pangilan tak terjawab di aplikasi whatsap nya. Siapa lagi kalau bukan suaminya. Ia pun segera mengabari suaminya kalau ia baik- baik saja dan sudah ada Mami dan Nala yang telah di utus untuk menjemputnya itu.


Ketiganya beranjak keluar dari kamar, dan Bunda pun ternyata baru turun dari kamar nya di lantai dua yang kemudian mengajak ketiganya untuk makan siang bersama, namun Naz pergi ke mushola dulu dan setelah itu ia pun ikut bergabung di ruang makan bersama Mami, Bunda, Nala dan Arsen.


“Loh,, kalian kok belum mulai makannya?”,tanya Naz heran.


“Ini kita habis menggoda calon pengantin dulu sambil nungguin kamu, gak nyangka ya Mas Syarief akan besanan dengan adiknya sendiri,,”, ucap Bu Hinda.


“Iya, Nda,, tapi kan Raline teh bukan anaknya Mas Syarief,, jadi mereka teh diperbolehkan untuk menikah”, Bunda menjelaskan.


“Yasudah ayok kita makan”, Bunda mengajak untuk segera menyantap makan siang mereka sebelum makanannya dingin dan juga mengantisipasi takutnya Bu Hinda banyak bertanya tentang pernikahan Arsen dan Raline yang mendadak.


Seusai makan, Bunda dan Mami serta Nala kembali ke ruang tamu, sedangkan Naz membereskan bekas makan mereka dan membawa piring serta gelas kotor ke dapur, kemudian mencucinya, walau Mbak Iyem sudah mencegahnya, namun Naz tetap melakukannya.


Setelah selesai, Naz pun hendak pergi ke ruang tamu untuk pulang bersama mertuanya.


Tiba- tiba Arsen menarik tangan Naz, “Dek,, Kakak mau bicara sebentar sama kamu”.


Naz langsung melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Arsen, “Kalau mau bicara ya bicara saja, gak usah pakai pegang-pegang”, Naz bicara jutek.


“Iya baiklah,,, Kakak minta maaf soal tadi pagi,, Kakak gak bermaksud berbuat macam- macam sama kamu”, Arsen terlihat menyesal.


“Iya,, aku udah maafin,, aku permisi mau pulang”


Arsen kembali menarik tangan Naz, dan Naz pun melepaskannya dengan kasar, “Dek,, kapan kamu bisa memafkan Kakak,, Kakak benar- benar menyesal dengan apa yang pernah Kakak lakukan sama kamu,, tolong jangan bersikap seperti ini,, ”, pintanya dengan tatapan sendu.


“Aku sudah berusaha memaafkan Kakak,, setelah dulu Kakak berusaha melecehkan ku di rumah ini,,, tapi Kakak malah mengulanginya lagi,, kalau saat itu aku yang ada di kamar hotel itu,, pasti aku yang Kakak perkosa bukan Raline, iya kan?”, ucap Naz terisak mengingat kelakuan Arsen.


“Apa,,,,?? Jadi Arsen pernah berusaha memperkosa kamu, Naz?”, ucap orang itu sambil membekap mulutnya karena merasa terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengar nya. Naz dan Arsen pun sama halnya, mereka lebih terkejut lagi.


-------------------- TBC ------------------

__ADS_1


*********************************


Happy Reading….


__ADS_2