
“Happy Anniversary, sayangku … muach,” Bisik Arfin di telinga kanan isterinya yang duduk di jok sebelahnya lalu mencium pipi sang istri.
Naz yang merasa aneh dengan tempat mereka berada, mengarahkan pandangan pada suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya dan bingung.
“Hah? Emang sekarang tanggal berapa?” tanya Naz dengan raut wajah bingung.
“Tanggal empat juni, sayang … Masa kamu lupa dengan tanggal ulang tahun pernikahan kita?”
“Hehehe, aku pikir besok.”
“Sekarang sudah jam dua belas lebih tiga menit, jadi sudah masuk tanggal empat.” Arfin memperlihatkan jam tangannya.
Naz melihat ke arah jam tangan tersebut. ” Eh iya, happy anniversary juga, suamiku sayang,” ucap Naz.
“Ah telat,” cicit Arfin merasa sedikit kesal.
“Maaf, lelembutan ku belum terkumpul semua. Tadi kan kita lagi ada di hotel, eh pas bangun kok ada di sini … Eh tunggu, ini kita lagi dimana sih?”
“Di tempat yang sangat berarti untuk kita,” ucapnya kembali tersenyum.
Naz masih merasa bingung dengan apa yang dikatakan suaminya, karena ia benar- benar tak mengenal tempat itu.
“Kamu masih bingung ya, nih kado untuk kamu.” Arfin memberikan sebuah kado berbentuk kotak persegi panjang.
“A apa ini?” tanya Naz sembari menerima kado tersebut.
“Buka saja,” titahnya.
Naz merobek bungkusan kado itu dengan perlahan. Setelah semua kertas yang menutupi kotak tersebut dirobek, Naz membuka tutup kotak tersebut. Ditemukannya sebuah dokumen berwarna hijau muda dengan lambang garuda dan di bawahnya terdapat tulisan SERTIFIKAT (tanda bukti hak).
“Aa ini _____?” Naz kembali terkejut.
“Buka saja sayang.”
Naz mengambil dokumen tersebut, kemudian membuka isiannya yang menyatakan kepemilikan tanah dan bangunan atas nama Rheanazwa Eleanoor Harfi. Betapa terkejutnya ia saat membaca alamat tempat yang tertera di dalam sertifikat tersebut.
“Aa … ini ... sertifikat rumah di____” Naz tak kuasa melanjutkan perkataannya.
“Iya, sayang … Itu kado ulang tahun pernikahan untuk mu. Rumah sesuai keinginan mu dan Cahaya yang ingin rumah tangga itu, hehehe ... Dan rumah itu ada di depan kita sekarang.“
“Apa? Jadi rumah itu____ “ Naz yang masih terkejut membuka pintu, kemudian keluar dari dalam mobil. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dan benar saja, kini ia berada di tempat yang begitu berarti untuk mereka.
Arfin pun keluar dan menghampiri Naz sehingga ia berdiri tepat disamping istrinya yang tengah membekap mulutnya karena merasa tidak percaya.
“Aa ini____ Bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa, sayang … apa pun untukmu.”
Grep …
Naz memeluk suaminya tanpa aba- aba. “Terimakasih … terimakasih Aa … Aku sangat mencintaimu, suamiku ….” Ucapnya dengan perasaan bahagia bercampur haru, hingga air mata pun jatuh membasahi pipinya.
“Aa juga sangat mencintai mu, istriku sayang ….”
Arfin mencium pucuk kepala sang istri. Perlahan ia melepaskan pelukannya dari sang istri saat ia mendengar suara isak tangis. “Loh, kok nangis sih sayang?” ucapnya heran, kemudian ia menghapus jejak air mata di pipi Naz dengan jemari tangannya.
“Aku benar- benar gak nyangka, Aa bisa memberiku hadiah sebesar ini, hiks hiks … aku gak tahu musti bilang apa … Bahkan aku belum menyiapkan hadiah anniversary untuk Aa, maaf ….” Lirihnya.
“Hei, siapa bilang kamu belum memberiku hadiah. Lalu Cahaya, Keanu dan Kenan itu apa, hem? Hadiah yang Aa berikan ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kamu berikan pada Aa. Bahkan ini nilainya tak sampai seujung kuku pun.” Arfin menyentuh dagu sang istri lalu sedikit mengangkatnya, hingga keduanya saling bertatapan.
“Kamu sudah membuat Aa menjadi orang yang paling beruntung di dunia ini, karena memilikimu dan menjadi suami mu. Kamu sudah menjadikan ku seorang ayah dari tiga orang anak, dan itu adalah hadiah yang tidak ada bandingannya di dunia ini."
"Kamu mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan mereka dan mengurus mereka tanpa kenal lelah … Aa yang minta maaf, karena hanya bisa memberimu hadiah kecil ini untuk istri yang luar bisa seperti mu.”
“Aaaahhhh, Aa bikin aku meleleh tau gak,” ucapnya terisak kemudian kembali memeluk suaminya.
Tiba- tiba terdengar suara deringan ponsel yang bergetar di saku jaket Naz. Ia melepaskan pelukannya, lalu mengambil ponsel dari dalam saku jaketnya. Dan ternyata si pemanggil adalah pengasuh si kembar.
Digesernya ke atas gambar telepon di layar ponsel yang berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut. Ia berbicara sebentar dengan si pengasuh, kemudian mengakhiri sambungan telponnya.
“Aa, kita harus segera pulang. Adik bangun dan nangis terus, soalnya stok ASI yang di botol sudah habis. Ini juga dadaku sudah membengkak, sudah waktunya ngasih ASI.”
“Yasudah, ayok kita pulang.” Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil, dan Arfin segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Padahal tadinya ia berniat mengajak Naz masuk ke dalam rumah tersebut. Namun bayi mereka lebih membutuhkan Magu-nya sekarang ini.
**
Keesokan harinya, pagi- pagi sekali semua orang yang berada di kediaman Bu Hinda tengah bersiap untuk mengantarkan Arfin bersama istri dan anak- anaknya pindah ke rumah baru mereka. Dan keempat orang tua Naz bersama Oma dan Opa nya turut hadir, mereka pun berangkat menuju rumah baru tersebut. Sedangkan kakak- kakaknya Naz akan menyusul.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, mereka pun tiba di depan pintu gerbang rumah baru tersebut. Mereka memarkirkan empat mobil di parkiran taman yang dekat rumahnya, karena jumlah mobil yang tak muat jika parkir di halaman rumah baru Naz dan Arfin itu.
Naz yang diajak turun dari mobil, diperkenankan untuk menggunting pita yang dibentangkan di depan pintu gerbang tersebut. Kemudian mereka pun masuk ke halaman rumah dua lantai yang cukup besar diikuti tiga mobil di belakangnya.
Dan saat mereka masuk ke dalam rumah, ternyata disana sudah dilengkapi dengan berbagai jenis furniture, dan beberapa pelayan sudah menyiapkan makanan, minuman, camilan, serta kue- kue untuk menyambut kedatangan Arfin- Naz dan seluruh keluarga besar mereka.
Si kembar yang tertidur pulas dibawa ke kamarnya oleh pengasuh dan juga Mbak Retno. Kamar tersebut ukurannya lebih besar dari kamar sebelumnya yang di rumah Surabaya, dan sudah didekorasi sedemikian rupa serta dilengkapi dengan karpet tebal dan beberapa mainan untuk bayi. Sehingga bisa digunakan untuk tidur juga nyaman untuk bermain mereka juga.
Tentunya tak ketinggalan kamar untuk si anak sulung, Cahaya yang sebelumnya sudah mengajukan permintaan ingin kamar yang seperti ini itu, begini begitu, gambar ini, warna itu dan sebagainya pada Pagunya. Ia pun sangat senang memiliki kamar yang dekorasinya sesuai dengan keinginannnya.
Ia langsung memeluk dan menciumi wajah Pagu-nya sebagai ucapan terimaksih nya. Setelah menyimpan barang- barangnya, ia pun diajak kembali bergabung untuk berkumpul bersama keluarganya.
Semuanya berkumpul di ruang tengah yang telah digelar karpet permadani. Ada pun yang duduk di ruang tamu dan anak- anak bermain di halaman depan yang nampak jelas pemandangan indah dari sana, yang hanya terhalang oleh pagar besi.
__ADS_1
Adapun tempat khusus yang sengaja dibuat untuk bersantai dan menikmati pemandangan indah, dengan lantai papan yang mengarah ke danau berada di halaman samping rumah itu. Ya, karena rumah mereka berada di tepi danau. Tempat yang begitu banyak menyimpan kenangan di sana.
Sementara Arfin mengajak Naz pergi ke lantai dua meninggalkan keramaian dengan menuntunnya berjalan, karena ia menutup mata sang istri dengan kain syal.
“Aa … mau ngasih aku kejutan apalagi sih? Dari semalam aku udah dapat banyak kejutan loh. Jangan bilang Aa mau ngajak aku wikwik ya,” ucap Naz menebak.
“Hahaha, ya enggak lah sayang … masa iya dibawah lagi banyak orang, kita malah bercinta. Udah kamu ikut aja, dijamin pasti senang.”
Arfin memapah istrinya berjalan menuju suatu ruangan. Ia membuka pintu ruangan tersebut dan mengajak istrinya masuk ke dalam.
“Aku udah boleh buka penutup matanya belum?”
“Belum sayangku, sebentar lagi,” ucapnya masih terus melangkah perlahan, hingga sampai di suatu titik. Kemudian ia membuka kain penutup mata sang istri.
“Sekarang buka matamu, sayang,” bisik nya di telinga kanan sang istri.
Naz pun perlahan membuka matanya, dan ternyata ia tengah berdiri di depan dinding kaca yang dapat melihat jelas pemandangan diluar sana. Naz kembali terkejut, karena hal pertama yang ia lihat adalah kursi besi agak panjang yang menghadap ke danau, dan merupakan tempat ia duduk jika sedang datang ke danau itu.
“Aa … itu____”
Arfin memeluk sang istri dari arah belakangnya. “Iya sayang, itu tempat pertama kali kita bertemu dan setelah sekian lama kita dipertemukan kembali di sana. Sekarang menjadi halaman samping rumah kita, agar setiap saat kita bisa melihatnya dari sini. Apa kamu menyukainya, sayang.”
“Sangat ….” Ucapnya melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Naz membalikan tubuhnya lalu memeluk suaminya. ”Terimakasih Aa … ini kado terindah yang gak akan bisa aku lupakan seumur hidupku.”
“Aa minta maaf, selama ini kita tidak pernah merayakan ulang tahun pernikahan. Hanya sekedar bertukar kado dan makan malam berdua saja.”
Naz melepaskan pelukannya perlahan, ia menatap mata suaminya sembari tersenyum. “Gak apa- apa A … Orang selama ini aku yang selalu menolak untuk mengadakan pesta, karena menurutku yang terpentingkan kualitas hubungan kita. Aa dan aku saling mencintai dan menyayangi, itu semua sudah cukup bagiku.”
Arfin mencium kening istri yang sangat dicintainya itu, kemudian memeluknya dengan penuh cinta dan perasaan membuncah di dalam dadanya.
“I love you so much,” ucapnya lalu mencium pucuk kepla sang istri.
“I love you much more.”
Naz mengeratkan pelukannya pada sang suami, yang merupakan tempat ternyamannya dan selalu membuatnya merasa tenang juga bahagia bersamanya. Keduanya terhanyut dalam buaian asmara, seolah tak ingin salin melepas satu sama lain. Senyuman bahagia pun terpancar dari keduanya.
Betapa tidak, kedua insan yang saling mencintai yang dipersatukan dengan ikatan suci itu tengah berjanji satu sama lain, jika cinta mereka tak akan lekang oleh waktu, sekarang esok dan selamanya.
Sebesar apapun badai menghantam, kekuatan cinta diantara keduanya selalu mampu membuat mereka kembali dan tetap bersatu.
“Ayok kita ke bawah, bahaya kalau terlalu lama berduaan disini.” Arfin perlahan melepaskan pelukannya.
Naz terkekeh mendengar ucapan suaminya, ia pun melepaskan pelukannya. Keduanya beranjak pergi keluar dari kamar dengan saling bergandengan tangan.
Mereka pun menghampiri keluarganya yang sebagian sedang berada di halaman rumah mereka. Ada yang berkeliling, ada pula yang menikmati pemandangan tepi danau yang terasa sejuk. Karena hari masih terbilang masih pagi.
Arfin menggendong Keanu yang ternyata sudah bangun, sedangkan kembarannya masih tidur nyenyak dijaga oleh pengasuhnya.
Naz berjalan seorang diri menuju tempat yang tadi dilihatnya dari jendela kaca kamar. Ia duduk di kursi besi yang merupakan tempat favoritnya jika ia datang ke danau itu.
Pandangannya lurus ke arah danau dengan perasaan takjub dan masih tidak percaya, jika tempat yang begitu penuh kenangan itu kini telah menjadi halaman rumahnya.
Air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya. Namun itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru saking bahagianya.
“Dek, kamu kenapa? kok nangis sendirian disini?” ucap Arfin yang kemudian duduk di sebelah istrinya.
Naz langsung mengalihkan pandangannya pada sang suami. Ia tersenyum disertai air mata haru.
“Dek, kamu kenapa? Seharusnya jam segini kamu masih di sekolah, kan?” Afin kembali bertanya.
“Dek, kalau nanti Adek berhenti menangis, kakak akan memberimu sesuatu deh, nih coba lihat.” Arfin memperlihatkan kedua tangannya yang ditelungkupkan dan menyembunyikan sesuatu didalamnya.
“Aa … hiks hiks hiks.” Naz terus berderai air mata, ia tak percaya jika suaminya masih sangat hafal kalimat yang ia lontarkan saat mereka pertama kali bertemu di tepi danau itu.
“Ini sulap loh … Kalau kamu berhenti menangis, maka saat kamu ketuk akan mengeluarkan hadiah. Tapi jika kamu masih menangis ____ “ belum selesai Arfin bicara, jemari Naz mengetuk telungkup tangan Arfin.
“Tara ….” Arfin membuka telungkup tanagannya, nampaklah si ‘be smile’. Naz megambil be smile kemudian langsung memeluk suaminya.
“Aa masih mengingatnya?”
“Tentu saja … Setiap hal dan kejadian, bahkan ucapanku saat pertamakali bertemu dengan mu, , sampai kapanpun itu semua akan selalu ada dalam ingatanku.”
“Aa … aku sangat mencintaimu … hiks hiks.”
“Aku lebih lebih mencintaimu melebihi apapun yang di dunia ini, bahkan melebihi nyawaku sendiri,” ucapnya dengan nada lemah lembut tapi penuh keyakinan.
“Terimakasih … terimakasih … hiks- hiks.”
Arfin perlahan melepaskan pelukannya, ia menatap wajah istrinya yang berlinang air mata. “Sssssttt, berhentilah menangis, sayangku … Aku bisa mengutuk diriku sendiri, karena menjadi penyebab air mata ini keluar dari manik indah mu.” Arfin menghapus dengan lembut jejak air mata Naz dengan jemarinya.
“Bukankah Aa mengizinkan mataku mengeluarkan air mata bahagia. Dan kini itulah yang kurasakan, bahagia sebahagia bahagianya. Hingga aku tak tahu harus berkata apa hiks hiks,” ucapnya lalu meletakan be smile di tepi bangku sebelah ia duduk. Tangannya beralih menggenggam kedua tangan suaminya.
Ia sedikit mengangkat kepalanya, sehingga membuat matanya saling bertatapan dengan mata suaminya. Tatapan yang penuh cinta, walau disertai derai air mata bahagia yang tak hentinya terus mengalir.
“Terimakasih sudah hadir dalam hidupku … Terimakasih sudah menjadi pendamping hidupku … Terimakasih sudah menjadi imam untukku dan anak-anak kita … Terimaksih telah mencintaiku dengan sepenuh hatimu … Terimakasih karena selalu memberiku kebahagian yang luar biasa, hiks hiks . Aku sangat mencintaimu, Sang ANAS ku.” Naz mengangkat tangan suaminya, ia menunduk lalu mencium kedua punggung tangan suaminya secara bergantian.
“Cahayaku, sayang ….” Lirihnya dengan perasaan bahagia, air mata pun menetes begitu saja dari kedua matanya.
Arfin merasa sangat tersentuh dengan ucapan sang istri yang ia yakini itu semua keluar dari lubuk hati istrinya yang paling dalam. Ia balik menggenggam tangan sang istri, kemudian menciumi punggung tangan istri yang sangat dicintainya itu.
Keduanya saling memandang dan saling melempar senyum bahagia diiringi air mata haru. Mereka kembali berpelukan dengan perasaan bahagia penuh haru.
__ADS_1
Arfin tak menyangka, usahanya dengan berbagai kesulitan untuk mendapatkan tanah di tepi danau itu, ternyata berbuah manis dan mampu membuat istrinya sangat bahagia. Bahkan ia tak pernah memberitahukan istrinya mengenai letak tempatnya membangun rumah. Yang diketahui Naz hanyalah suaminya tengah membangun rumah baru untuk keluarga kecilnya tinggal dengan bentuk dan tata letak sesuai keinginannya dan sang putri sulung, Cahaya.
Dan itu membuat Arfin berhasil memberi kejutan pada istrinya, tepat di ulang tahun pernikahan mereka yang ke- enam, sebagai hadiah untuk istrinya yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dirinya dan anak- anak mereka.
“Tersenyumlah … tersenyumlah … hehe hehe.” Suara itu berhasil mengejutkan mereka dan membuat keduanya saling melepas pelukannya.
Masing- masing menghapus jejak air mata mereka menggunakan telapak tangan.
“Pagu ini mainan siapa? Kok ada suaranya setelah talinya ditarik?”
Arfin dan Naz mengarahkan pandangannya pada orang yang suaranya sudah sangat mereka hafal.
“Akha sayang … sejak kapan kamu ada di sini?” tanya Naz yang merasa kaget dan heran.
“Sejak Pagu dan Magu berpelukan,” jawabnya dengan polos.
“Sini sayang ….” Naz menarik pelan tangan Cahaya dan mengajaknya duduk di bangku tepat di tengah- tengah antara dirinya dan suaminya duduk.
“Magu ini mainan siapa?” Cahaya menunjukan mainan yang dipegangnya.
“Itu punya Pagu,” jawab Arfin.
“Kok Pagu sudah besar punya mainan anak kecil?” tanya Cahaya heran.
“Itu bukan mainan biasa, tapi mainan yang membuat Pagu dan Magu bersatu.” Arfin memberitahukan keistimewaan mainan itu baginya sang sang istri.
“Kok mainan ini bisa ngomong? Apa dia bisa memanggil nama Akha juga?”
“Enggak sayang, mainan ini namanya be smile. Kita bisa memainkannya saat merasa sedih, dan dia akan menyuruh kita tersenyum, agar melupakan kesedihan kita.” Naz menjelaskan fungsi mainan tersebut yang dulu sempat dijelaskan sang suami saat memberikan be smile itu padanya.
“Oh, pantesan tadi Akha menarik talinya lalu mainan ini bicara dan membuat Magu sama Pagu jadi berhenti menangis … Ih, Pagu sama Magu cengeng, katanya Akha gak boleh cengeng.” Cahaya malah mengatai kedua orang tuanya.
“Kami menangis karena bahagia, bukan karena cengeng.” Arfin tak terima diejek sang anak.
“Sama aja nangis, wle ....” Cahaya menjulurkan lidahnya tanda mengejek Pagunya. “Mainan ini buat Akha, ya” pintanya.
“Tentu saja boleh, tapi Akha harus menjaganya baik- baik dan jangan sampai rusak atau hilang ya.” Arfin mewariskan mainan itu pada putri sulungnya.
“Hore … terimakasih Pagu.” Cahaya langsung memeluk Arfin dan mencium pipi Pagu-nya itu.
“Kok Pagu aja sih yang disun, Magu enggak nih.” Naz memprotes putrinya, kemudian sang anak pun beralih memeluk Naz lalu mencium pipi Magu-nya, suapaya tidak merasa cemburu.
Cahaya turun dari bangku, dan langsung beranjak pergi sambil berlari. Nampaknya ia sudah tak sabar ingin meamerkan mainan barunya itu pada para sepupunya. Naz dan Arfin pun tersenyum gemas melihat kelakuan putri sulung mereka.
Naz bangkit dari duduknya, ia melangkah ke depan dan berdiri tepat di tepi danau. Pandangannya lurus ke depan.
“Di sinilah kisahku berawal … Dengan membawa kesedihan dan rasa sakit, aku berlari ke tempat ini. Hingga tak ku sangka, takdir mempertemukan ku dengan pengobat luka hatiku, pelipur kesedihanku, sekaligus pemberi kebahagiaan untukku.” Ucapnya dalam hati.
Ia menoleh ke arah samping, tepat dimana suaminya tengah berdiri yang kemudian mengenggam tangannya. Keduanya pun saling bertatapan.
“Dialah Sang ANAS … suamiku, belahan jiwaku, pengobat laraku, sumber kebahagianku,cinta pertama dan terakhirku ….” Ia kembali berdialog dalam hati.
Naz mengulas senyum di bibir manisnya, ia kembali mengarahkan pandangannya kedepan.
“Dulu … di tempat ini aku menantikan kedatangan mu untuk memenuhi janjimu padaku. Dan Kini … tempat ini akan selalu menjadi bagian dari hidupku, hidup kita ... Aku, kamu, dan anak- anak kita.” Naz kembali mengarahkan pandangan pada suaminya. “Terimakasih sang ANAS- ku ….” Ucapnya ternsenyum bahagia.
“Terimakasih, Cahayaku ….” Arfin pun tersenyum bahagia.
Keduanya mengarahkan pandangan ke depan, dengan tangan saling merangkul. Mata mereka terus memandangi danau yang menjadi saksi bisu awal mula pertemuan hingga perjuangan cinta mereka, sampai mereka bisa bersatu dan menjadi pasangan yang dipenuhi kebahagiaan.
Dan mulai saat ini, mereka bisa melihatnya bahkan berdiri di tempat itu setiap saat. Tempat yang sangat berarti untuk keduanya.
-
-
...------ Cahaya Sang ANAS -------...
...---------- THE END ---------...
*
*
*
Inilah akhir cerita ini yang sesungguhnya, akhir dari extra part, akhir yang bahagia di tempat kisah ini bermula.
Padahal awalnya othor hanya berniat memberikan dua episode extra part saja. Namun apalah daya jemari dan pikiran halu ini terus mengembang biakan episodenya, seolah belum rela mengakhiri kisah Aa dan Naz ini. Hamba susah move on ternyata …
Terimakasih banyak kepada para reader yang selalu setia menantikan setiap episode kisah Cahaya Sang ANAS … Terimakasih juga atas segala dukungan nya, semoga cerita ini berkenan di hati dan berhasil menghibur para reader semua ….
I Love you All ….😘😘😘😘😘
Sekalian pemberitahuan nih … Ada story baru yang menceritakan awal mulanya kisah perjuangan Raline untuk mendapatkan cinta Arsen yang ternyata cintanya malah salah sasaran. Sebelumnya beberapa cuplikan sering lewat di CSA ini sih …
Mari mampir …
Borlin Untuk KaChen
__ADS_1