
Naz yang tak kunjung menemukan keberadaan ponselnya mulai panik karena takut kekasihnya marah, karena baru saja dibeli 2 hari yang lalu sudah hilang,, mungkin ia takutnya dikira menjual ponselnya untuk jajan. Akhirnya ia berinisiatif meminjam telepon rumah untuk menghubungi nomornya, kebetulan letaknya tidak jauh karena berada di atas bufet pendek yang menempel ke didinding dan masih di ruang tengah yang cukup luas tersebut.
Setelah meminta izin pada Bi Darmi, Naz mendial nomornya untuk menghubungi nomor ponselnya, namun ternyata nomornya tidak aktif, berkali- kali masih tidak aktif.
“Haduh,,, gimana ini,,,, fix ini mah hilang,, jangan- jangan pas ke toko buku tadi jatuh,,, aduhhh,,, ini mah ngegantinya musti nguras tabungan atuhh,,, si Aa sih beli hape pake yang mahal segala,,,, apes banget sih hari ini”, gumamnya dalam hati, lalu ia kembali menghampiri Nala.
“Kaka,,, Nala lapal ”, ucapnya sambil mengusap perutnya.
“Uluh- uluh,,, cucu Nena lapar ya,, ayok kita makan ,, Bi Darmi udah selesai masak”, Mami yang baru saja kembali setelah selesai menelpon mendengar keluhan sang cucu, langsung mengajak mereka berdua ke ruang makan walaupun baru setengah 12 siang.
Nala yang belum bisa makan sendiri, tadinya hendak disuapi oleh Mami, tapi ia menolak dan minta disuapi oleh Naz, dan ia pun menyuapi Nala dengan telaten, Naz udah dapat nilai plus lagi dari camer nya ini mah.
Selesai makan mereka shalat bersama lalu melanjutkan kegiatan mereka di ruang tengah. Naz membantu Nala memoleskan pensil warna pada gambar princess yang masih polos pada buku mewarnai, dan tentunya berakhir dengan corat- coret gak jelas belepotan dari gambarnya. Setelah beberapa lama bermain, Nala mendadak rewel dan ternyata ia sudah mengantuk, kemudian Naz membereskan buku- buku gambar dan yang lainnya lalu menyoren tas nya. Mami pun mengajak Naz yang menggendong Nala ke kamar Nervan yang terletak di lantai dua untuk menidurkan Nala, karena jika dibawa ke kamar Arfin, sang pemilik akan marah jika kamarnya berantakan. Mereka pun menaiki tangga yang dekat dengan ruang tengah tersebut.
“Mami,,, Nala kalau tidur harus memegang selimut atau kain yang bahannya lembut”, Naz memberitahukan Mami.
“Hmmm,,, udah wajahnya mirip si Abang, takut petir kayak si Abang waktu kecil dulu, tidur pun sama harus ada selimut bahannya lembut, kalo dia gak percaya ini anaknya, itu sangat keterlaluan, tanpa tes DNA juga sudah ketahuan,,,”, ucap Mami terkekeh, lalu mengambilkan selimut dari lemari pakaian Nervan, kemudian memberikannya pada Naz dan ia pun langsung membaringkan Nala di tempat tidur.
“Naz, kamu juga tidur aja temenin Nala, Mami mau ke bawah dulu ya mau boci juga,, hehehe,,,nanti Mami minta Bi Darmi nganterin handuk sama alat solat ya, mungkin kamu mau shalat ashar dsini nanti, kasihan Nala kalau ditinggal sendiri “, ucap Mami panjang lebar.
“Iya, Mi,,, terimakasih ya,, maaf jadi merepotkan”, ucap Naz.
“Justru Mami yang minta maaf sudah merepotkan mu”,ucap Mami, kemudian beliau beranjak keluar dari kamar danmenuruni tangga, lalu masuk ke kamarnya setelah memberi instruksi kepada Bi Darmi.
Setelah beberapa saat tidur, Naz pun terbangun karena Nala yang tidurnya muter kayak kincir angin menendang wajah Naz dengan kaki mungilnya, “Aduh,,, sakit juga kena tendangan si madun”. Ucapnya meringis lalu membuka matanya, “Yasalam,,, kirain mimpi,, ternyata beneran ditendang muka ku yang cantik ini,,, Nala tidurnya gitu amat ya,, jangan- jangan nurun lagi dari bapaknya… malang banget nasibmu Nala,, yang nurun dari Bang Evan kebiasaan aneh semua”, ucapnya dengan nada serak lalu terkekeh.
Naz melihat jam tangannya, “Ya ampun udah jam empat lebih,, aku belum shalat”, Naz bangun lalu ke kamar mandi untuk berwudhu, kemudian ia melaksanakan shalat ashar dengan mukena yang dikirim Bi Darmi sebelumnya.
Seusai shalat ia melihat Nala yang masih lelap, lalu ia memutuskan untuk pergi mandi karena badannya terasa lengket, dan ia pun mandi walaupun setelahnya tidak berganti pakaian dan hanya memakai pakaian itu lagi. Baru saja selesai berpakaian kembali, ia mendengar suara klakson mobil, lalu mengintipnya dari jendela, “Itu kan mobil Kak Arfin,,, “, ucap Naz saat memperhatikan dari balik jendela kaca.
“Mama…… “, ucap Nala dengan nada serak, Naz yang mendengar suara Nala , langsung menghampirinya.
“Ehh,, Nala cantik udah bangun,,, pipis dulu yuk terus cuci muka,, itu ada Om Apin Ipin sudah datang,, nanti kita diantar pulang sama dia ya”, ucap Naz yang diangguki Nala walau kesadarannya belum 100%. Naz membantu Nala bangun, lalu membukakan celananya, kemudian menggendongnya dibawa ke kamar mandi.
__ADS_1
Setelah selesai, Naz menyoren kembali tas nya dan mengajak Nala turun ke bawah, tapi dia tidak mau digendong karena ingin berjalan menuruni tangga, saat berjalan Naz mendengar suara Arfin yang nampak sedang bicara serius dengan Mami, karena suaranya terdengar agak keras seolah sedang cekcok. Dan saat selesai menuruni tangga Naz mendengar jelas perkataan Arfin.
“Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak akan menikah, dan aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun, termasuk dengan Naz”, ucap Arfin setengah berteriak sambil berdiri berhadapan dengan Mami.
Naz yang mendengar itu sangat terkejut bagaikan tersambar petir di siang bolong, ia terdiam mematung, dadanya terasa sesak, bernafas pun serasa berat, ia membekap mulutnya sendiri merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya itu lalu tangannya beralih memegang dadanya seolah menahan rasa sakit.
“Om Apin Ipin”, Nala berteriak memanggil Arfin, dan saat Arfin membalikan badannya ia sangat terkejut melihat keberadaan Naz.
“Naz,,, “, Lirihnya dengan raut wajah terkejut, tubuhnya serasa bergetar menatap Naz dengan rasa takut dan rasa bersalah, bibirnya tiba- tiba membisu dan serasa berat saat ingin mengeluarkan kata- kata.
Naz memalingkan wajahnya lalu berlari menuju menyusuri ruang depan lalu keluar rumah, ia berlari sekencang- kencangnya, dan saat ia tiba di pintu gerbang ia menoleh ke belakang. Kemudian ia pergi keluar gerbang dengan dibukakan pintu oleh penjaga, air matanya terus bercucuran membanjiri pipinya, ia terus berlari di atas trotoar seolah tak tentu arah. Ia berhenti berlari lalu menoleh ke belakang, dan kebetulan ada sebuah taksi, ia pun menghentikannya kemudian segera menaikinya dan mengatakan alamat rumahnya.
“Kenapa dia bicara seperti itu,,,,? lalu untuk apa dia menjalin hubungan dengan ku? Apa semua kata cinta yang pernah ia ucapkan itu hanya kepalsuan ? apa dia hanya ingin mempermainkan perasanku saja?,,, apa aku ini hanya sebuah mainan saja baginya ? bahkan dia tidak berusaha mengejar ku,,, tega kamu Kak,,, tega teganya kamu mempermainkan ku seperti ini”, Naz berbicara dalam hatinya sambil menangis karena mulutnya sudah tak sanggup berkata- kata dan hanya suara isakan saja yeng keluar dari mulutnya ,,,, “hiks hiks hiks”, Naz terus terisak hingga ia sampai di rumahnya pun, ia melewati Mbak Iyem yang membukakan pintunya lalu berlari ke kamar.
Naz melempar semua barang- barang pemberian Arfin, mulai dari pakaian yang pernah ia berikan bahkan semua pakaiannya sendiri juga, kedua boneka yang selalu menemaninya tidur, dan be smile pun semua di lempar- lemparkan ke lantai sambil menangis,
”Huwaaaaaaaaaaa,,,,,,, huaaaaaaaaa”, Naz menangis sekencang kencangnya untuk menumpahkan rasa sakitnya yang menyesakan dada nya dan tidak peduli walau akan didengar semua orang, ia menjatuhkan dirinya ke lantai dan menggeletakan dirinya sambil memukul- mukul lantai dengan kepalan tangannya.
”Aku benci sama kamu,,, aku benci….huaaaaaa,,,, huaaaaa”.
Tok toko tok…. “Neng ,,, Neng Nanaz kenapa,,, “, Mbak Iyem mengetuk pintu dan terdengar panik. ”Neng,,, buka pintunya Neng,,,”, Mbak Iyem terus berusaha.
“Pergiiiii,,,,, tinggalkan aku sendiri !!,,,, huaaaaaaaaa,,,,, ”, Teriak Naz yang kembali menangis kencang.
Sepertinya kali ini rasa sakit yang dirasakan Naz jauh lebih sakit dari sebelum- sebelumnya. Bagaimana tidak, orang yang sangat ia cintai, orang yang selalu menghapus air matanya dikala menangis, orang yang selalu menghiburnya dikala sedih, orang yang selalu membuatnya bahagia dan tertawa, juga orang yang selalu menjadi pelindungnya, kini orang itulah yang memberinya rasa sakit yang begitu dalam di hatinya. Hingga ia sampai menangis histeris diluar kebiasaannya yang jika sedih ia akan menyembunyikan kesedihan dan tangisannya dari orang lain, termasuk dari orang tuanya sendiri.
Perkataan itu seolah memberi tahunya bahwa Arfin tidak ada niatan serius dengannya dan hanya mempermainkan perasaannya saja, juga secara tidak langsung Arfin sudah menolak dirinya. Sehingga Naz berprasangka semua hal indah dan semua kata- kata cinta serta kata- kata manis yang keluar dari mulut Arfin hanya palsu belaka, semuanya hanya kebohongan.
Naz terus menangis dan mengurung diri di kamarnya, dan tak lama ada yang mengetuk kamarnya lagi, namun kali ini Bunda lah yang datang, tok tok tok,,, “Naz,,, sayang,,, buka pintunya, nak…”, Bunda berteriak dari balik pintu karena merasa khawatir setelah menerima laporan dari Mbak Iyem.
"Huaaaaaa..,... huaaaaaa ", Naz malah kembali menangis kencang, “Sayang,,, kamu teh kenapa atuh nak,, jangan bikin Bunda panik gini,, ayo buka pintunya Nak,,, “, Bunda semakin khwatir lalu menggedor- gedor pintu, namun tetap tak ada respon dari Naz,, “, Sayang,, ayok buka pintunya Nak,,, Bunda mohon atuh sayang, apa perlu Bunda panggil satpam kompleks buat dobrak pintu ini?”, Bunda terus menggedor- gedor pintu, dan akhirnya Naz pun membuka pintu nya,,, saat pintu terbuka Bunda yang sejak tadi khawatir langsung memeluk Naz yang wajahnya sudah sangat kusut dan berantakan.
“Huaaaaaaaa,,,,, hiks hiks hiks,,,”,Naz kembali menangis dipelukan Bundanya.
__ADS_1
“Kamu teh kenapa sayang,, kok bisa sampai gini,,, Bunda baru nyampe, Mbak Iyem bilang kamu teh menangis sampai jerit- jerit”, Tanya Bunda sambil mengusap- usap punggung Naz, kemudian beliau melepaskan pelukannya secara perlahan, lalu mengajak Naz masuk ke dalam kamar dan duduk di tempat tidurnya.
“Astagfirullah,,, ini teh kenapa lagi, kamarmu kayak kapal pecah begini”, Bunda melihat sekeliling kamar Naz yang berantakan.”Kamu teh kenapa sayang hem?”, tanya Bunda sambil membenarkan rambut Naz yang menutupi sebagian wajahnya yang menunduk.
“Kak Afin,,, hiks,,, hiks,, hiks…. “, ucap Naz di sela tangisannya.
“Arfin kenapa? Kalian bertengkar? Bukannya kemarin teh baik- baik saja?”, tanya Bunda heran.
“Kak Arfin pembohong,,, hiks hiks hiks,,, semuanya bohong,,,,hiks hiks,,, semua yang dikatakannya bohong,,, hiks hiks hiks”, ucapnya sambil sesenggukan dan air mata yang terus mengalir.
“Apa? Sejak kapan dia teh jadi pembohong? Dia bohong apa atuh sama kamu?”, tanya Bunda lagi, Naz bukannya menjawab malah terus menangis. “Yaudah atuh kamu teh nagis aja sampai kenyang dulu, baru nanti ngomong ke Bunda, mana itu air mata udah bercampur sama ingus mu,, lap dulu gih”, si Bunda lagi genting sempet- sempetnya meledek anaknya.
Naz mengambil baju dibawah kakinya yang ia lempar tadi, lalu digunakannya untuk mengelap air mata dan ingusnya, “Astgfirullah,,, kebiasaan da kamu mah, kalo nangis dilapnya suka pakai baju, itu ada tisu di meja belajar”, Bunda malah mengomel sambil menunjuk ke arah meja belajar Naz.
“Jauh Bunda,,,, hiks hiks”, ucap Naz sambil terisak.
Bunda pun menunggu sejenak membiarkan Naz tenang dulu baru ia akan melanjutkan interogasinya, dan setelah Naz terlihat tenang Bunda langsung melempar pertanyaan, “Kamu teh kenapa sih? Ada masalah apa dengan Arfin? Padahal ya, tadi siang itu Bunda sudah membicarakan soal pertunangan kalian dengan Hinda di telpon, beuh dia bersemangat sekali dan sangat setuju”.
“Huaaaaaaa,,,,,,, huaaaaaaaaa”, Naz kembali menangis kencang dan membuat Bunda kaget.
“Ya Ampun,,, kenapa kamu malah nangis kencang lagi atuh, Dek?, kan tadi udah tenang,,, sebenarnya kamu teh kenapa atuh, Dek ?, bilang atuh sama Bunda,,,biar Bunda bantu masalah kamu”, Bunda terus bertanya karena merasa aneh dan bingung.
“Percuma Bunda ngomongin pertunangan, Kak Arfin nya sendiri gak mau bertunangan, bahkan gak mau manikah dengan siapa pun termasuk gak mau nikah sama aku juga,,, huaaaaaaaaaa”, Naz menjelaskan di sela tangisannya.
“Apa?? Kenapa begitu ? apa alasannya, bukannya teh kalian saling mencintai ? jangan bercanda kamu dek,, kamu mau ng prank Bunda ya,, gak lucu ahh hal penting begini dijadikan lelucon”, Bunda malah gak percaya.
“Aku dengar sendiri Bunda, saat Kak Arfin bicara dengan Mami tadi,,, huaaaaaa…..”, Naz mengadu.
“Apa ? ini teh pasti ada yang gak beres,,, bentar Bunda nelpon Hinda dulu,,, kamu diem dulu ya,, di rem dulu nangisnya”, ucapnya lalu memngambil ponsel dari dalam tasnya dan langsung menghubungi Bu Hinda,,, namun setelah berkali- kali dihubungi tidak mendapatkan jawaban sama sekali. “Dek,,, ini sudah panggilan yang ke lima, tapi kok gak diangkat angkat ya? Ada apa ini? Kenapa ya? “, ucap Bunda bertanya- tanya.
“Sepertinya Bunda harus menemui Hinda secara langsung ini, masa iya kamu ditolak begitu ahh”, ucapnya lagi.
------------- TBC -----------------
__ADS_1
************************