
Duo sejoli yang tengah dimabuk asmara karena jalinan cintanya yang sempat putus dan kini telah terjalin kembali terus saja menempel bagaikan terkena lem alteko. Arfin tak mau melepaskan Naz yang terus di peluknya dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Naz yang duduk bersebelahan dengannya di atas ranjang rumah sakit tempat ia dirawat, seolah takut gadis yang sangat dicintainya itu akan melarikan diri. Walaupun Naz sudah mengetahui sakit yang diderita Arfin, ia tetap menerima pria yang sangat dicintainya itu dalam keadaan apa pun, mungkin inilah yang dinamakan cinta sejati versi mereka, walau sudah terpisah oleh jarak dan waktu, namun tetap kembali bersatu. Karena bersatu teguh, bercerai,,,, rujuk lagi.
Naz telah menceritakan dari mana asal muasalnya ia mengetahui tentang penyakit Arfin, beserta rencana Mami-nya Arfin untuk mempersatukan mereka kembali yang membuat mereka kini berbahagia. Akan tetapi, Arfin malah merasa kesal dan marah mengetahui bahwa kedekatan Naz dan Lutfi sudah di setting oleh Mami-nya sendiri, yang membuatnya sempat kebakaran jenggot dan merasakan cemburu yang luar biasa sampai tingkat dewa. Namun apalah daya karena sejak awal ia sudah berjanji tidak akan marah sehingga ia pun hanya bisa merajuk dan menahan kekesalannya...
gendok nya Aa,.. puass...
Naz terus membujuk dan merayunya agar berhenti merajuk, sampai ia akhirnya pura- pura menyerah dan mengatakan akan pulang bersama Lutfi. Arfin yang mendengar nama Lufti disebutkan oleh Naz, langsung membuatnya menahan Naz yang hendak turun dari tempat tidurnya. Saking kesalnya, Arfin mengatakan kalau ia akan memberikan hukuman pada Naz, yang ternyata itu hanya modusnya saja untuk berusaha mencium Naz, namun baru saja bibirnya akan mengenai bibir Naz, mereka dikejutkan dengan suara seseorang yang sudah sangat mereka kenali.... jeng jeng....
“Sedang apa kalian??”, seseorang berteriak dan sontak Naz dan Arfin pun saling menjauhkan diri sampai Naz pun turun dari ranjang dan berdiri tegak lalu pura- pura membereskan rambutnya sambil melempar senyuman pada orang tersebut. (asli ya pemirsa turun dari ranjang bukan turun ranjang).
“Ma Mami,,, Bunda,,, kenapa kalian ada di sini?”, tanya Naz yang merasa heran dan terkejut, mereka berdua lalu menghampiri Naz dan Arfin.
“Memangnya kalian teh gak dengar tadi kami membuka pintu dan masuk ke sini??”, Bunda malah balik bertanya.
Mungkin karena saking menghayati dan terbawa suasana yang membuat mereka tenggelam dalam buai asmara, sehingga keduanya tak menyadari ada yang masuk melalui pintu yang sudah sedikit terbuka juga tidak mendengar langkah kedua wanita yang merupakan ibu dari masing- masing pasangan tersebut, hanya suara teriakan Maminya Arfin yang mampu membuyarkan konsentrasi mereka dan menghentikan adegan hip hip hore twewewew yang hampir terjadi.
“It,,, itu,,, emmm,,,, enggak ngapa- ngapain ko Mi, Bunda,,,”, Arfin pun menjawab dengan gugup karena merasa malu aksi nyosor- menyosornya ketahuan alias terciduk oleh sang Mami dan Bunda dari kekasihnya juga.
“Naz,,, apa yang sudah Arfin lakukan sama kamu?”, tanya Bu Hinda seolah tak percaya dengan omongan anaknya.
“Enggak kok Mami,,, tadi itu aku udah menceritakan semuanya termasuk soal rencana Mami itu,, hehehe,,, terus Kak Arfin ngambek dan mau menghukum aku?”, ucap Naz bicara yang sebenarnya.
“Di hukum?? Di hukum bagaimana?”, tanya Bunda.
“Berani- beraninya ya Al,,, kamu menghukum Naz?”, ucap Bu Hinda sambil melotot pada anaknya, lalu beliau beralih pada Naz, “Kamu dihukum apa sayang sama dia?”, tanya beliau menyelidiki.
“It itu Mami,,, dia memelukku,, terus mendekatkan wajahnya pada wajahku dan semakin dekat sampai ia memiringkan wajahnya lalu……..”, Naz bicara dengan polosnya lalu ia tidak menyelesaikan kalimatnya karena melihat sang kekasih yang bermain mata seolah menyuruhnya untuk diam.
“Lalu apa??”,tanya Bu Hinda.
“Ya ampun Naz,,, kamu tuh jadi orang polos amat,,, sampai bilang segala lagi soal kejadian barusan,,, mampus deh gue bakalan kena semprot duo satpol PP ini lagi,,, kenapa juga gue tadi gak bisa nahan diri,,, sial”, Arfin mengumpat dalam hati.
“Lalu Mami berteriak….”, jawab Naz dengan polosnya.
“Astagfirullah,,, itu mah kamu bukan mau dihukum namanya, Dek, tapi kamu teh mau dicium,,,”, ucap Bunda yang terkejut mendengar perkataan polos putrinya.
“Kurang asem kamu ya,, lagi sakit gini malah mau mesum-in anak orang,,,”, ucap Bu Hinda kesal sambil menjitak kepala putranya itu.
“Awww… sakit Mi”, arfin meringis lalu mengusap- usap kepala bekas jitakan Mami nya itu.
“Eh,, kok Ada Bunda sama Tante Hinda di sini?”, tanya Ruby yang baru saja masuk melewati pintu yang masih terbuka dan ia pun menghampiri mereka dengan membawa tentengan di tangannya dengan ekspresi terheran- heran.
“Kamu teh dari mana saja Ruby?? Kan Bunda teh udah meminta kamu menemani Naz ,, ehh ini malah meninggalkan Naz bersama Arfin di ruangan ini,, kan kamu teh tahu kalau laki- laki sama perempuan dibiarkan berdua- duan, maka orang ketiganya setan”, Bunda langsung nyerocos ngomel pada Ruby.
“Maka dari itu Bunda,,, aku gak mau jadi setannya,, jadi mendingan aku keluar deh,,, “, Ruby menjawab dengan santainya.
“Justru itu,, kalau kamu teh ada di sini , jadi setannya teh malah takut sama kamu,,, dan mereka berdua gak mungkin akan berbuat yang aneh- aneh kalo ada kamu di sini”, ucap Bunda yang tak mau kalah.
“Yassalam Bunda,,, emangnya aku semenyeramkan itu, sampai setan takut sama aku,,,?? Tadi tuh aku gak enak ganggu mereka yang lagi pelukan terus aku keluar dan pergi membeli minuman dan cemilan dari mini market di sebrang rumah sakit”, Ruby malah melapor .
“Apa,,, ?mereka juga peluk- pelukan,,,,?? astagfirullah,,, kalian teh belum muhrim atuh ngapain pakai peluk- pelikan segala,,, untung Bunda sama Hinda datang tepat waktu,, kalau engga kalian bisa sampai kiss kiss an,,,”, Bunda kembali mengomel pada dua sejoli yang sama- sama menundukkan kepalanya karena merasa malu sudah terciduk.
“O em ji,,, seriusan Bunda,,,? Mereka mau cip*kan? Yassalam,,, ini berita heboh yang bisa menggemparkan jagat raya,,,, ckckckckckck…. Naz,,, Naz,,, gak nyangka gue“, ucap Ruby menggelengkan kepalanya.
“Sudah- sudah ,,, ayok kita ke mushola,, udah adzan magrib tuh,,, Ayo Na... sekalian kamu teh nanti abis shalat banyakin istighfar”, ucap Bunda yang kemudian memegang tangan Naz dan mengajaknya pergi ke mushola yang ada di rumah sakit tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju mushola Naz terus mendapat ceramahan dari sang Bunda yang masih kesal dengan kelakuan putrinya itu. Tak sampai di situ, setelah selesai shalat, Bunda langsung mengajak Naz beserta Ruby pulang, walau Naz sudah menolak, namun bukan Bunda namanya kalau perintahnya belum dilaksanakan, maka ia akan terus bersikeras, dan akhirnya dari pada terus berdebat Naz pun mengikuti keinginan Bunda nya itu. Bunda pun memesan taksi online dari aplikasi di ponselnya, kemudian mereka pun beranjak meninggalkan mushola.
“Bunda,,sebaiknya kita pamit dulu sama Mami dan Kak Arfin”, ucap Naz memberi saran.
“Gak usah,, gampang itu mah, nanti Bunda nelpon atau mengirim pesan pada Hinda,, sudah ayo kita ke bawah saja, di aplikasi taksi pesanan Bunda sudah dekat ke rumah sakit ini”, ucap Bunda menolak saran Naz.
Sebenarnya terasa berat bagi Naz harus meninggalkan Arfin seperti ini, ia masih merindukan kekasih hatinya itu, namun apa daya ia tak kuasa melawan perintah sang Bunda yang sudah sangat marah padanya. Setelah mereka keluar dari pintu utama rumah sakit, taksi pesanan Bunda pun sampai, dan setelah memastikan itu pesanan beliau, mereka pun masuk ke dalam taksi tersebut dengan formasi Ruby duduk di depan sedangkan Naz dan Bunda duduk di belakang. Sang sopir pun melajukan mobilnya menuju alamat tujuan sesuai di aplikasi.
“Dek, kamu teh kan udah mulai dewasa harus bisa menjaga diri atuh, menjaga kehormatan kamu sebagai seorang wanita, kamu teh tidak sepantasnya peluk- pelukan gitu apalagi sampai mau ciuman,,,, kalian teh belum muhrim belum sah jadi suami istri jadi belum waktunya melakukan itu,, Bunda juga dulu berani seperti itu setelah menikah sama ayah kamu, pokoknya mah mulai sekarang kamu gak boleh berdua- duaan lagi sama Arfin, lagian kan kalian teh udah putus,,,, Bunda mah gak mau yah kamu terjerumus kedalam pergaulan bebas,,,”, Bunda kembali melanjutkan ceramahnya pada Naz.
__ADS_1
“Tapi kita udah pacaran lagi kok Bunda”, ucap Naz sekalian memberitahukan Bundanya.
“Apa?? Pacaran lagi?? Jadi karena kalian sudah pacaran lagi kamu mau- mau aja dipeluk dan dicium sama dia? Memalukan,,, ngapain coba kayak gitu,,, dia kan sudah bilang gak akan mau menikah sama siapa pun termasuk sama kamu, emangnya kamu teh mau cuman jadi mainannya saja, hah,,,??,,, Bunda mah gak rela ya kamu digituin,,, enak aja anak yang sudah susah payah Bunda rawat dan besarkan dengan penuh kasih sayang malah mau dipermainkan sama seorang laki- laki macam itu,,, pokoknya Bunda gak akan ngizinin kamu pacaran lagi sama Arfin,, apaan pacaran gak ada tujuan untuk menikah sama sekali,,, pokoknya mah besok kita pulang ke Jakarta,, dan malam ini kita menginap di rumah Tante Ina”, Bunda semakin murka mengetahui Naz yang kembali berpacaran dengan Arfin.
“Tapi Bunda,,,,”, ucap Naz hendak menyanggah.
“Gak ada tapi- tapian,,,”, ucap Bunda dengan tegas, “Tunggu,,, jangan- jangan alasan kamu gak mau ikut pulang dengan orang tuamu karena kamu mau ngejar- ngejar Arfin yaa??.... Astagfirullah,,, dimana harga diri kamu sebagai seorang perempuan dek?? ,,, bikin malu tahu gak…”, Bunda terus mengomel tiada henti dan tidak memperdulikan Naz yang menunduk sambil menangis dan sesekali menghapus air matanya dengan telapak tangannya.
Bunda menghela nafas kasar, “Pokoknya mah besok kita kembali ke Jakarta,, kita ambil penerbangan pagi,,, lagian hari senin depan walaupun kamu masih libur, kamu tetap harus bimbel kan, kamu fokus saja sama sekolah kamu,,, tiga bulan lagi kamu teh UN,,, jangan mikirin pacaran- pacaran,, nanti Bunda juga bakalan bilang ke Mama mu soal ini,,, ”,ucap Bunda yang menghentikan ceramahnya karena walau bagaimanapun pun ia tetap tidak tega terus mengomeli anaknya yang sedang menangis itu. Kemudian beliau pun mengirim pesan kepada Bu Hinda.
“Ya Allah,,, malang banget sih nasibku ini,,, baru saja jadian lagi masa iya harus putus lagi,,, baru aja aku bahagia satu setengah jam yang lalu,,,, aku harus ngomong apa sama Kak Arfin,,,? kenapa jadi seperti ini,,, ? aku harus bagaimana ini?”. Lirih Naz dalam hati, lalu ia bersandar pada sandaran jok sambil memandang ke arah jendela mobil dengan tatapan kosong, seolah meratapi nasib percintaannya yang begitu rumit.
***
Sementara di ruangan tempat Arfin dirawat, ia pun sama halnya seusai menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, ia juga mendapat omelan dari Mami nya.
“Kamu itu rajin ibadah rajin solat,,, malah mau berbuat yang gak senonoh sama anak gadis orang,,, kamu tuh ya,,, jangan disamakan pergaulan di sini dengan di Amerika,,, kita ini orang timur, Al,,,, memang kamu sudah dewasa, tapi bukan berarti kamu bisa seperti itu, apalagi Naz itu masih anak sekolah dan masih sangat polos dalam hal 21 tahun++ ”, cerocos Bu Hinda.
“Maaf Mi,, Al tadi khilaf,,, tiba- tiba aja seperti itu”, ucapnya menyesali perbuatannya.
“Mami udah susah- susah cari cara untuk mempersatukan kalian,, bukannya berhasil malah begini,, Sekarang kalau sudah begini gimana? ,,”, tanya Bu Hinda, yang kemudian mengambil ponsel dari dalam tas nya karena terdengar bunyi dan juga bergetar. Beliau membuka kunci layar ponselnya dan ternyata beliau mendapatkan pesan di aplikasi whatsapp-nya, kemudian beliau membacanya,
“ Nih Mbak Anita barusan ngirim pesan kalau mereka pulang duluan,,, berarti dia masih marah tentang kejadian tadi,,, Mami juga gak mau lah kalo anak perempuan Mami diperlakukan seperti itu oleh laki- laki,,, apalagi oleh mantan kekasihnya,, pastinya Mbak Anita mengira kamu melecehkan anaknya”, ucap Bu Hinda lalu menghela nafas kasar.
“Al benar- benar minta maaf, AL benar- benar khilaf,, dan lagi kami sudah pacaran lagi”, ucap Arfin lagi.
“Apa,,,?? Kalian sudah pacaran lagi??”,tanya Bu Hinda kaget.
“Iya Mi”.
“Dasar semprul… walaupun kalian sudah pacaran lagi, bukan berarti kamu bisa seperti itu sama dia… Mami aja kayak gitu setelah menikah sama Papi mu… walaupun ini terdengar kolot dan gak modern,, kamu tetap harus menjaga diri dan menjaga kehormatan kekasihmu, apalagi kalau kamu tidak berniat menikahinya,,, “, ucap Bu Hinda seolah menyindir.
Arfin hanya menundukkan kepalanya tanpa berkata apa pun lagi, seolah ia tengah merenungkan perkataan Mami-nya. Tak lama seorang perawat datang untuk membawa Arfin melakukan pemeriksaan yang dimintanya tadi pada dokter saat di UGD.
Seusai melakukan beberapa pemeriksaan, kemudian menunggu beberapa saat, hasilnya Arfin dinyatakan dalam kondisi baik- baik saja tidak ada yang serius dan cairan infusan nya sudah habis lalu jarum infusan nya pun dicabut oleh perawat, kemudian ia pun diperbolehkan pulang dan tidak perlu dirawat inap.
“Al,,, Kamu ngapain sih pakai pesan kamar rawat inap segala,, ternyata kamu gak usah dirawat?”, ucapan Maminya langsung membuyarkan lamuna Arfin.
“Tadinya kan Al pengen diperiksa menyeluruh Mi,, karena trauma takut kayak dulu lagi, aku ketahuan ada kelainan akibat kecelakaan setelah empat bulan kemudian,,, jadi aku pesan kamar aja daripada harus berbaring di ruang UGD”, ucapnya memberi penjelasan, “Mi,,, ponsel aku dimana ya?”, tanyanya.
“Ada di dalam tas Mami,, tadi saat di luar Lutfi memberikannya pada Mami”, ucap beliau yang kemudian mengambil ponsel dari dalan tasnya dan menyerahkannya pada Arfin.
Arfin langsung menghubungi Naz untuk mengabari kalau dia sudah bisa pulang, tapi sayang sekali ternyata nomornya tidak aktif.
"Kanapa nomor Naz tidak aktif ya,,? apa kehabisan baterai,,,,? Atau dia marah padaku?,,, ahhh sudahlah,, nanti juga aku bisa bertemu dengannya di rumah”, gumamya dalam hati sambil senyam- senyum sendiri membayangkan Naz yang kan menyambutnya nanti di rumahnya.
“Kesambet ya Bos,,, “, ucap Lufti yang duduk di ranjang yang juga di duduki oleh Arfin.
“Sialan lo,, ngagetin gue aja,,, heh urusan kita belum selesai…”, ucap Arfin yang teringat cerita Naz.
“Apa? Urusan apa? Harusnya gue yang masih punya urusan sama lo yang udah nonjok gue secara- tiba- tiba?”,ucap Lutfi menatap sinis dan mendekatkan dirinya dengan Arfin.
Arfin menoleh padanya, "Lo berani deketin cewek gue sih,, itu sama aja nyari mati”, jawab Arfin .
“Cewek lo,,, dari hongkong,, mantan cewek,,,”, Lutfi memperjelas status Arfin dan Naz yang ia ketahui.
“Cihh,, gue udah tahu semuanya,, dan sekarang dia cewek gue,, lo jangan berani deketin dia lagi,, awas aja lo”.
“Alhmandulillah,, Gustii,,, akhirnya selesai juga tugasku,, dan tahun depan aku bisa menikah dengan tenang dan bahagia”, Lutfi mengucap syukur karena merasa lega.
“Hei,, sudah sudah,, ayok kita pulang,,, mungpung baru setengah sembilan”, ucap Mami- nya lalu mereka pun pulang diantar oleh Lufti.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah Arfin, dan ia pun langsung turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Mami dan Lutfi. Ia berjalan menuju kamar sang kekasih yang sangat dirindukannya padahal baru saja dua jam berpisah.
Ceklek ,,,, ia membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu, kemuduian masuk “Chaya sayang,,,, “, ucapnya sambil tersenyum bahagia, namun senyumnya sirna seketika saat melihat kamarnya kosong. “Hah,, kok gak ada? Tempat tidurnya juga masih rapi,,, kemana dia?”, ucapnya bertanya- tanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar itu. Arfin kemudian keluar, dan bertemu dengan Mbak Retno di ruang tengah.
"Mbak Retno,,,, Naz dimana?”, tanya Arfin.
“Anu Den,,, emm,, Non Nanaz sudah pergi tadi sama Bu Anita dengan membawa semua barang- barangnya,,, katanya mau menginap di rumah Pak Aji”, jawab Mbak Retno.
“Apa,,,?? Ke rumah Pa Aji?”, tanya nya lagi.
“Iya, Den,,,”, Mbak Retno mengangguk.
“Kenapa Naz tidak memberitahuku kalau dia akan menginap di rumah Om Aji?.... Ahh,, lebih baik aku menghubungi nya saja”, ucap Arfin dalam hatinya lalu ia pun mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan mendial nomor kontak kekasihnya itu, namun yang ia dengar hanyalah suara operator
‘Maaf, nomor yang yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi’.
“Kenapa nomornya sejak tadi tidak aktif,, ada apa ini?? Apa Bunda memarahinya gara- gara kejadian tadi sehingga Naz marah padaku? .... Ahh,,sebaiknya aku segera menemuinya ke rumah Om Aji”, gumamnya dalam hati, kemudian beranjak pergi.
“Al,,, mau kemana malam- malam begini?”, tanya sang Mami dari depan pintu kamarnya dan Arfin pun menghentikan langkahnya.
“Mau ke rumah Om Aji”, jawabnya.
“Ya ampun,, kamu baru aja pulang dari rumah sakit,,, lebih baik istrirahat,, nanti sajalah kalau mau ngomongin pekerjaan kan bisa besok,,, gak enak juga kan kamu ganggu waktu istirahatnya Pak Aji”,ucap Bu Hinda mencegah.
“Ini bukan soal pekerjaan, Mi,,, tapi soal Naz,,, dia gak ada di sini dan sekarang sedang di rumahnya Om Aji,, aku mau menemuinya dan Bunda untuk meminta maaf”, Arfin mengutarakan tujuannya.
“Ini sudah malam,,, kan bisa besok pagi”, Bu Hinda terus mencegahnya.
“Gak Mi,,, aku harus ke sana sekarang juga,, kalo enggak,, aku gak akan bisa tidur semalaman”, ucapnya lalu beranjak pergi.
Setelah berjalan sejauh 300 meter, Arfin sampai di teras depan rumah Pak Aji, kemudian ia langsung menekan bel pintu rumah tersebut karena di dalam masih terdengar rame orang- orang yang berbicara.
Ceklek ,,,, seseorang membukakan pintu, ”Arfin,,, mau apa kamu malam- malam datang ke sini?”, tanya beliau heran.
“Bunda,,, kenapa tiba- tiba Bunda sama Naz pergi dari rumahku dan menginap di sini?”, tanya Arfin.
“Bunda mah cuman jaga- jaga aja,, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di sana”, jawab Bunda sedikit jutek.
“Bunda, aku minta maaf soal yang terjadi di rumah sakit tadi,,, aku benar- benar khilaf,,, aku janji itu tidak akan terjadi lagi,,, tolong izinkan aku bertemu dengan Naz”.
“Bagus ,,kalau kamu teh sudah menyadari kesalahan kamu,,, Untuk apa kamu menemuinya? mau membicarakan soal hubungan kalian? Asa gak usah kata Bunda mah,, gak ada yang perlu dibicarakan lagi,,, bukannya kalian teh sudah putus kan semenjak setahun yang lalu”, Bunda jadi bicara ketus.
“Iya,, tapi kami sudah balikan lagi, Bunda”, Arfin memberitakan.
“Balikan lagi? Pacaran lagi maksud kamu?”, tanya Bunda memastikan.
“Iya, Bunda”, jawab Arfin lagi.
“Kamu tahu gak,,,? Dulu teh Bunda mendukung kamu 100% malahan mah 1000% untuk menjalin hunbungan dengan Naz,, karena kamu teh sudah membuat perubahan besar dalam diri Naz yang menjadi lebih periang dan selalu bahagia, ditambah Bunda juga sudah mengenal kamu dengan sangat baik dan berpikir bisa menjaga, melindungi Naz dan membahagiakannya. Tapi semenjak kamu mempermainkan perasaan Naz, Bunda sudah tidak menaruh harapan lagi sama kamu teh,,, Coba kamu teh pikir, orang tua mana yang rela melihat anak gadisnya yang sudah susah payah dididik dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang tiba- tiba disakiti dan dipermainkan oleh seorang laki- laki,,, sakit hati Bunda Ar,, menjeriiit,,,, tapi Bunda hanya bisa menyembunyikan hal itu demi bisa menenangkan Naz,, rasanya saat itu Bunda teh ingin sekali menghajar kamu, membejek- bejek kamu, sambil bawa golok sekalian,,, tapi sayang saat itu kamu teh sedang terbaring lemah di ruang ICU,,, dan sekarang Bunda mah tidak mau melihat Naz kecewa dan terluka lagi,,,”, Bunda mengutarakan isi hatinya saat melihat Naz tersakiti.
“Aku minta maaf Bunda,,, aku benar- benar minta maaf,,, izinkan aku menebus semua kesalahan ku pada Naz”, Arfin memohon sambil memegang kedua tangan Bunda.
"Sekarang Bunda mau tanya sama kamu,, apa tujuan kamu pacaran lagi dengan Naz? Niat mau serius sampai menikah ?,, atau hanya untuk main- main saja?”, Bunda mengajukan pertanyaan dengan raut wajah serius.
Mendengar kata ‘menikah’ membuat Arfin terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya dan melepaskan kedua tangannya dari tangan Bunda, ia terlihat sedang berpikir karena ia tidak tahu harus menjawab apa tentang sesuatu yang sempat membuatnya tidak akan pernah melakukannya, yakni tidak akan menikah, dan tidak akan pernah menikah dengan siapa pun.
------------------ TBC --------------------
******************************
Apa kira- kira jawaban Arfin,, apakah ia akan menyerah atau memaksa dirinya untuk tidak takut menikah?
Entahlah ,,, hanya Aa Arfin yang tahu,,, Othor spesialis gantungan juga tahu sih,,, tapi nanti aja deh di episode selanjtnya,, hahaha,,,😂
Happy Reading😉👌
__ADS_1
Jangan luva tinggalkan jejakmu, Like, komen, rate bintang 5 dan vote, Hadiah seikhlasnya , kalau bisa mah sebanyak- banyaknya sih,, hihihihi (maaf maruk),,,😉😍👌
Tilimikicih ,,,aylapyu oll… 😘😘